BAB 4. HASIL PENELITIAN
4.2 Distribusi Karakteristik Responden
4.4.3 Hubungan Persepsi Penyakit dengan Keterlambatan Mencari
Tabel 4.10 Hubungan Akses dengan Keterlambatan Mencari Pengobatan pada Penderita Kanker Serviks
Variabel
4.4.3 Hubungan Persepsi Penyakit dengan Keterlambatan Mencari Pengobatan
Tabel silang antara persepsi terhadap penyakit dengan keterlambatan mencari pengobatan menunjukkan bahwa dari 45 responden yang persepsi negatif ada 37 orang (82,2 %) terlambat mencari pengobatan sedangkan dari 15 orang yang persepsi positif ada 2 orang (13,3 %) terlambat mencari pengobatan. Hasil uji Chi Square diperoleh nilai p = 0,001. Dengan demikian terdapat hubungan antara persepsi terhadap penyakit dengan keterlambatan mencari pengobatan.
Tabel 4.11Hubungan Persepsi Penyakit dengan Keterlambatan Mencari Pengobatan pada Penderita Kanker Serviks
Variabel
4.5 Analisis Multivariat
Untuk mengetahui determinan keterlambatan penderita kanker serviks mencari pengobatan ke RSUZA Banda Aceh dilakukan analisis multivariat dengan menggunakan regresi logistik berganda.
Analisis multivariat dalam penelitian ini menggunakan uji logistik berganda yaitu salah satu pendekatan model statistik untuk menganalisis pengaruh beberapa variabel independen (lebih dari satu) terhadap variabel dependen kategori yang bersifat dikotomi atau binary.Variabel yang dimasukkan dalam uji regresi logistik berganda adalah variabel dengan p< 0,25 pada hasil uji Chi Square yaitu pengetahuan, akses, persepsi terhadap penyakit, dengan metode enter. Variabel yang terpilih dalam model akhir regresi logistik dengan metode enter seperti diujikan pada Tabel 4.12 berikut :
54
Universitas Sumatera Utara
Tabel 4.12 Hasil Akhir Uji Regresi Logistik Berganda
Variabel B Sig. Exp (B) 95% CI
Lower Upper
Pengetahuan 2,526 0,008 12,500 1,948 80,205
Akses 2,835 0,043 17,027 1,099 263,870
Persepsi Terhadap Penyakit
3,865 0,000 47,680 5,762 394,511
Constant -3,186 0,000 0,041
Setelah dilakukan analisis multivariat, didapat hasil bahwa pengetahuan, akses, persepsi terhadap penyakit berpengaruh terhadap keterlambatan mencari pengobatan pada penderita kanker serviks ke RSUZA Banda Aceh tahun 2013.
Variabel yang paling dominan pengaruhnya terhadap keterlambatan mencari pengobatan adalah variabel persepsi terhadap penyakit dengan nilai koefisien regresi B = 3,865
Hasil uji statistik juga menunjukkan juga nilai percentage correct = 90%artinya pengetahuan, akses dan persepsi terhadap penyakit menjelaskan kemungkinan keterlambatan mencari pengobatan di RSUZA Banda Aceh tahun 2013 sebesar 90%. Selebihnya 10% dipengaruhi seperti pendidikan dan lingkungan yang tidak termasuk dalam penelitian ini.
Model persamaan regresi logistik berganda yang dapat memprediksi kemungkinan keterlambatan mencari pengobatan penderita kanker serviks ke RSUZA Banda Aceh adalah sebagai berikut:
𝑝𝑝 = 1
1 + 𝑒𝑒−(𝑎𝑎+𝑏𝑏1𝑥𝑥1+𝑏𝑏2𝑥𝑥2+⋯𝑏𝑏𝑖𝑖𝑥𝑥𝑖𝑖)
𝑝𝑝 = 1
1 + 𝑒𝑒− (−3,186)+(2,526)𝑥𝑥1+(2,835)𝑥𝑥2+(3,865)𝑥𝑥3
Keterangan:
P : Probabilitas peluang tidak terlambat X1 : Pengetahuan, koefisien regresi 2,526 X2 : Akses, koefisien regresi 2,835
X3 : Persepsi terhadap penyakit, koefisien regresi 3,865 a : Konstanta -3,186
e : 2,71828
Persamaan diatas menyatakan bahwa responden yang memiliki pengetahuan yang kurang, akses yang sulit dijangkau dan persepsi yang negatif memiliki probabilitas sebesar 99,8% untuk peluang terlambat dalam mencari pengobatan.
Responden yang memiliki pengetahuan yang baik, akses yang mudah dijangkau dan persepsi yang positif memiliki probabilitas 4,0% untuk terlambat mencari pengobatan.
56
Universitas Sumatera Utara
5.1 Pengaruh Pengetahuan terhadap Keterlambatan Penderita Kanker Serviks Mencari Pengobatan ke RSUZA Banda Aceh tahun 2013
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan pada 60 responden dengan menanyakan pengetahuan responden tentang keterlambatan dalam mencari pengobatan, menunjukkan bahwa yang paling banyak responden mengerti kanker leher rahim (kanker serviks) adalah penyakit yang mematikan sebanyak 86,7%, sedangkan yang paling banyak tidak mengetahui oleh responden adalah dengan teratur minum obat anti kanker dan menjalani terapi di rumah sakit akan memberi kesembuhan terhadap penyakit kanker yaitu sebanyak 13,3%.
Hasil analisis statistik dengan menggunakan uji Chi square diperoleh nilai p
= 0,001 (p < 0,05) artinya ada pengaruh antara pengetahuan dengan keterlambatan mencari pengobatan yaitu orang yang memiliki pengetahuan kurang tentang kanker serviks berisiko untuk terlambat mencari pengobatan. Penderita yang berpengetahuan kurang baik sebanyak 63,3%, sedangkan berpengetahuan baik sebanyak 36,7%. Pada umumnya orang yang berpengetahuan baik akan berperilaku baik pula sesuai dengan apa yang diketahuinya dan tahu apa manfaat yang diperoleh dari perilaku tersebut, sebaliknya orang yang berpengetahuan kurang akan berperilaku kurang pula karena tidak mengetahui tentang tujuan, manfaat dari pemeriksaan dini atau deteksi dini tentang penyakitnya agar tidak terjadi keterlambatan dalam mencari pengobatan.
Menurut Notoatmodjo (2007) pengetahuan merupakan domain yang sangat penting dalam membentuk tindakan seseorang. Pendapat yang sama dinyatakan oleh Green (1980) dalam Notoatmodjo (2007) bahwa pengetahuan menjadi salah satu faktor predisposisi yang memengaruhi perilaku seseorang atau masyarakat terhadap kesehatan. Secara umum pengetahuan responden kurang baik dimana, pengetahuan responden tentang kanker serviks yang kurang, bisa disebabkan karena pendidikan responden yang rendah, atau bisa juga karena responden hanya menyerap informasi yang berhubungan dengan kondisi dirinya sehingga informasi lain tentang kanker serviks yang tidak berhubungan dengan dirinya dianggap tidak penting. Pemilihan informasi yang diterima membuat responden tidak mengingat seluruh informasi. Uji statistik menunjukkan untuk variabel pengetahuan didapat nilai Exp B sebesar 12,500, artinya responden yang berpengetahuan kurang baik memiliki kemungkinan peluang 12 kali lebih besar untuk terlambat mencari pengobatan dibandingkan responden yang berpengetahuan baik. Pengetahuan individu terhadap banyak hal khususnya tentang keterlambatan mencari pengobatan terhadap penyakit kanker serviks dan yang utama siapkah seseorang menerima risiko yang akan ditimbulkan jika sudah terlambat berobat maka terlambat pula diagnosisnya mengakibatkan penyakitnya sudah semakin tinggi stadiumnya sehingga sudah menyebar dan pengobatannya semakin sulit untuk disembuhkan.
Hasil ini sama dengan penelitian yang dilakukan Dewi (2008) di RSU Soetomo di Surabaya yang menyimpulkan ada pengaruh pengetahuan terhadap keterlambatan penderita kanker serviks dalam memeriksakan diri ke pelayanan
58
Universitas Sumatera Utara
kesehatan dimana pemahaman penderita mengenai penyakit kanker serviks yang meliputi pengertian, tanda bahaya, faktor risiko, cara deteksi dan pencegahan tentang kanker serviks masih kurang memahami.
Pengetahuan kurang baik responden mengenai penyakit yang dirasakannya dapat mengakibatkan terjadi keterlambatan dalam mencari pengobatan dikarenakan menganggap bahwa tanda dan gejala penyakit merupakan hal yang tidak perlu dikhawatirkan selama masih bisa menjalani kehidupan sehari-hari tidak terganggu.Hasil penelitian ini sesuai dengan pendapat Sarwono (1997) yang menyatakan kadang-kadang orang tidak pergi berobat atau menggunakan sarana kesehatan karena dia merasa tidak mengidap penyakit.Soekardja (2000) dalam penelitiannya juga menyatakan bahwa salah satu keterlambatan penderita mencari penggobatan adalah karena penderita tidak mengerti atau kurang menyadari bahaya kanker.Hawari (2004) juga menyatakan ketidaktahuan/ignorancymenjadi salah satu faktor yang menyebabkan keterlambatan pengobatan kanker serviks. Asumsi dari penelitian ini adalah bahwa pendidikan seseorang tidak menjamin suatu pengetahuan yang dimilikinya, dimana dengan lebih mengetahui tentang keadaan yang dialami pada dirinya akan melahirkan suatu motivasi untuk melakukan suatu tindakan, tetapi tindakan yang dilakukan oleh para penderita kanker serviks di RSUZA Banda Aceh berkisar 65% dinyatakan sudah terlambat mencari pengobatan.
Menurut Green (1980) perilaku adalah suatu tindakan yang mempunyai frekuensi, lama dan tujuan khusus, baik yang dilakukan secara sadar maupun tidak sadar. Perilaku manusia yang sesuai dengan norma kesehatan merupakan hasil dari
proses pendidikan kesehatan. Namun, perubahan perilaku tidak hanya dapat dicapai dengan pendidikan saja. Perilaku kesehatan dipengaruhi oleh berbagai faktor yang sangat kompleks yakni faktor sosial, budaya, ekonomi dan perilaku merupakan refleksi dari berbagai kejiwaan, seperti pengetahuan, persepsi, sikap, keiginan, kehendak, motivasi, niat dan sebagainya.
Untuk itu sangat diharapkan kepada Dinas Kesehatan perlu bekerjasama dengan Yayasan Kanker Indonesia untuk memberikan promosi kesehatan dalam bentuk pengetahuan dengan penyuluhan tentang kanker serviks dan pengobatannya serta pentingnya melakukan Papsmear untuk mendeteksi sejak dini penyakit kanker serviks pada wanita yang sudah menikah dan aktif seksualnya.Petugas kesehatan di RSUZA Banda Aceh juga perlu memberikan pengetahuan berupa penyuluhan tentang kanker serviks dan pengobatannya kepada keluarga responden yang wanita agar keluarga responden dapat mendeteksi kanker serviks sejak dini karena salah satu faktor risiko kanker serviks adalah adanya riwayat keluarga.
5.2 Pengaruh Akses terhadap Keterlambatan Penderita Kanker Serviks Mencari Pengobatan ke RSUZA Banda Aceh Tahun 2013
Penelitian yang dilakukan terhadap 60 orang responden diperoleh hasil bahwa mayoritas akses untuk sulit dijangkau sebanyak 88,3% sedangkan untuk akses yang mudah dijangkau hanya 11,7%. Terdapat pengaruh antara akses dengan keterlambatan mencari pengobatan pada nilai p = 0,006 (P<0,05). Mengacu pada analisis tersebut bahwa semakin sulit dijangkau akses menuju ke RSUZA maka
60
Universitas Sumatera Utara
semakin besar terjadi keterlambatan dalam mencari pengobatan tentang kanker serviks. Dari hasil penelitian mengenai akses ke RSUZA yang meliputi jarak, waktu, dana dan yang menemani responden merasakan kesulitan untuk ke RSUZA Banda Aceh. Hal ini dapat terlihat berdasarkan hasil penelitian dari jawaban yang diberikan responden atas beberapa pertanyaan yang berhubungan dengan akses menuju ke RSUZA Banda Aceh, dalam hal waktu responden merasa keberatan menuju ke RSUZA sebesar 76,7%, dan jarak tempat tinggal responden menuju ke RSUZA sangat menyulitkan responden sebanyak 75%. Uji statistik menunjukkan untuk variabel akses didapatkan nilai Exp B sebesar 17,027, artinya respoden dengan akses yang sulit dijangkau menuju ke RSUZA memiliki kemungkinan 17 kali lebih besar terlambat mencari pengobatan dibandingkan dengan akses yang mudah dijangkau.
Seluruh responden dirujuk ke rumah sakit umum di daerahnya setelah responden dinyatakan menderita penyakit kanker serviks di puskesmas. Fasilitas pengobatan kanker serviks yang tidak lengkap di rumah sakit umum di daerah membuat responden harus berobat ke RSUZA Banda Aceh yang memiliki peralatan lebih lengkap.Berdasarkan hasil penelitian peneliti bahwa responden berasal dari luar daerah Kota Banda Aceh, dimana berawal dari keluhan yang terjadi memeriksakan diri ke pelayanan terdekat dengan mengunakan fasilitas yang terbatas di puskesmas maka rujukkan menjadi prioritas agar memudahkan dalam akses untuk menuju ke RSUZA. Selain itu tindakan lain yang dilakukan responden sebelum berobat ke RSUZA Banda responden menyempatkan diri untuk berobat ke pengobatan tradisional didaerah tempat tinggalnya. Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian
Soekardja (2002) yang menyatakan bahwa salah satu faktor yang membuat keterlambatan adalah faktor rumah sakit yang kurang memiliki perlengkapan untuk berobat.
Dengan adanya kemudahan akses pelayanan menjadikan dasar sebagai alternatif pemilihan tempat mencari pengobatan kanker serviks disamping itu kualitas pelayanan yang diberikan kepada penguna pelayanan.Kota Banda Aceh dengan wilayah geografis berupa dataran tinggi dengan tingkat akses kesulitan pelayanan pada masyarakat terpencil menjadikan balai pengobatan swasta menjadi alternatif pemilihan untuk tempat pengobatan. Disamping itu program pemerataan pelayanan kesehatan yang belum merata keseluruh pelosok Daerah Nanggroe Aceh Darusalam.
Keadaan ini dapat disebabkan oleh subjek yang bertempat tinggal didaerah perkotaan lebih mudah mendapatkan akses informasi mengenai kesehatan khususnya tentang pemeriksaan dini kanker serviks, disamping itu adanya interaksi antar kelompok sosial mempermudah transfer informasi dari satu orang ke orang lain. Pada subjek yang tinggal didaerah pedesaan lebih cenderung terisolir sehingga kurang mendapatkan informasi khususnya mengenai penyakit kanker serviks, disamping itu kurang berjalanya program kesehatan yang mencapai pelosok desa menyebabkan informasi tentang papsmear tidak didapatkan oleh subjek yang tingal didaerah pedesaan.
Menurut Anderson (1995) pemanfaatan pelayanan kesehatan dipengaruhi oleh beberapa faktor yang dikenal dengan Andersen Behavioral Model of Health Service Utilization yang meliputi 3 komponen yaitu: 1). Komponen predisposing terdiri dari 62
Universitas Sumatera Utara
faktor demografi antara lain umur, jenis kelamin, status perkawinan, besarnya keluarga dan struktur sosial termasuk ras, pendidikan dan pekerjaan serta faktor keyakinan antara lain pengetahuan, sikap dan persepsi, ini menggambarkan individu dapat menggunakan pelayanan kesehatan. 2). Komponen enabling adalah kemampuan individu, untuk menggunakan pelayanan kesehatan yang memengaruhi sumber keluarga, kemampuan membayar pelayanan, keikutsertaan dalam asuransi, informasi pelayanan kesehatan yang dibutuhkan dan sumber daya masyarakat meliputi sarana pelayanan, lokasi/jarak transportasi dan sebagainya. 3). Komponen need merupakan faktor yang mendasari dan merupakan stimulus langsung bagi individu untuk menggunakan pelayanan kesehatan.Adanya kemudahan akses pelayanan menjadikan dasar sebagai alternatif pemilihan tempat mencari pengobatan
.
5.3 Pengaruh PersepsiPenyakit terhadap Keterlambatan Penderita Kanker Serviks Mencari Pengobatan ke RSUZA Banda Aceh Tahun 2013
Variabel persepsi penyakit pada penderita kanker serviks untuk mencari pengobatan ke RSUZA Banda Aceh persepsi negatif sebesar 75% karena banyak penderita kanker yang beranggapan merasa takut bahwa penyakitnya akan semakin parah apabila tidak segera mendapatkan pengobatan, sedangkan responden yang beranggapan persepsi positif mengenai kanker serviks sebanyak 25%.
Hasil analisis statistik dengan menggunakan uji Chi square diperoleh nilai p
= 0,001 < 0,05. Artinya dapat disimpulkan terdapat pengaruh persepsi penyakit terhadap keterlambatan mencari pengobatan pada penderita kanker serviks. Hasil uji
regresi logistik menunjukkan bahwa, diperoleh nilai Exp B 47,680 artinya orang yang memiliki persepsi negatif terhadap penyakit kanker serviks memiliki peluang untuk terlambat dalam mencari pengobatan sebesar 47 kali lebih besar dibandingkan dengan orang dengan persepsi positif terhadap penyakitnya. Hal ini didukung dari jawaban responden terhadap persepsi penyakit tentang kanker serviks terhadap keterlambatan mencari pengobatan ke RSUZA Banda Aceh. Sebanyak 61,7% responden beranggapan bahwa sakit yang dideritanya tidak perlu diobati karena tidak akan sembuh, sedang responden mengetahui karena merasa takut bahwa penyakitnya akan semakin parah apabila tidak segera mendapatkan pengobatan sebesar 88,3%.
Ketakutan responden membuat responden ingin berobat agar cepat mendapatkan kesembuhan sehingga responden terhindar dari kematian yang disebabkan penyakitnya,responden ingin tetap hidup berkumpul dengan keluarganya.Rasa sayang responden kepada keluarganya mengalahkan ketakutan responden atas penyakitnya.
Mitchell (1998) dalam Hawari (2004) menyatakan bahwa salah satu faktor yang menghambat datangnya pasien untuk berobat adalah karena rasa takut bahwa ia menderita kanker dan takut dioperasi. Namun, dalam penelitian ini sebanyak 55%respondentidak mengalami ketakutan terhadap operasi kanker serviks, dan kematian yang akan dialami jika terlambat berobat. Dalam hal ini responden menganggap bahwa apabila penyakit sudah parah atau sudah menyebar kebagian tubuh yang lain maka untuk apa lagi diobati karena tidak akan dapat sembuh hanya tinggal menunggu kematian saja.
64
Universitas Sumatera Utara
Tidak dapat dipungkiri bahwa persepsi masyarakat terhadap sehat-sakit erat hubungannya dengan perilaku mencari pengobatan. Pikiran tersebut akan memengaruhi dipakai atau tidak dipakainya fasilitas kesehatan yang disediakan.
Apabila persepsi seseorang masih tidak memperdulikan tentang penyakitnya maka niat untuk memeriksakan diri kepelayanan kesehatan di nomor dua kan apalagi penyakit yang diderita dirasakan tidak mengganggu dalam melakukan aktivitas sehari-hari.
Gejala-gejala kanker serviks sudah dialami respondentetap membuatresponden tidak segera mengobati penyakitnya karena pengetahuannya tentang kanker serviks tidak ada.Respondenmendiamkan penyakitnya karena responden menganggap penyakitnya tidak parah dan tidak mengganggu kegiatan responden sehari-hari. responden memiliki sikap yang tidak baik dan persepsi yang negative terhadap penyakitnya karena responden tidak mengobati penyakitnya yang disebabkan pengetahuan responden tentang kanker serviks tidak ada. Hasil penelitian ini sejalan dengan pendapat Muzaham (1995) yang menyatakan bahwa salah satu alasan mengapa beberapa penderita gejala penyakit yang cukup berat namun tidak meminta pertolongan dokter ialah karena mereka dapat bertoleransi pada rasa sakit dan meragukan bahwa rasa sakit itu akan membawa akibat negatif bagi kehidupannya.
BAB 6
KESIMPULAN DAN SARAN
6.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan hasil penelitian mengenai determinan keterlambatan penderita kanker serviks mencari pengobatan ke RSUZA Banda Aceh tahun 2013, dapat disimpulkan:
1. Responden yang memiliki persepsi negatif terhadap penyakit kanker serviks memiliki peluang untuk terlambat dalam mencari pengobatan sebesar 47 kali lebih besar dibandingkan orang dengan persepsi positif terhadap penyakitnya.
2. Responden dengan akses yang sulit dijangkau menuju ke RSUZA memiliki kemungkinan 17 kali besar besar terlambat mencari pengobatan dibandingkan dengan akses yang mudah dijangkau.
3. Responden yang memiliki pengetahuan kurang baik, memiliki kemungkinan peluang 12 kali lebih besar untuk terlambat mencari pengobatan terhadap penyakit kanker serviks dibandingkan dengan pengetahuan baik.
6.2 Saran
1. Bagi pemerintah, Dinas Kesehatan dan Yayasan Kanker Indonesia Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam hendaknya membantu memberikan kemudahan dalam akses pelayanan ke rumah sakit
Universitas Sumatera Utara66
2. Memberikan penyuluhan kepada masyarakat mengenai penyakit kanker serviks baik dari tanda, gejala, tindakan pengobatan, serta memberikan dukungan moril yang positif yang diharapkan dapat membentuk persepsi positif terhadap penyakit agar dapat segera memeriksakan diri ke pelayanan kesehatan guna mencegah terjadinya keterlambatan dalam mencari pengobatan
3. Program yang dilakukan oleh pemerintahan Kota Banda Aceh dalam gerakan pemeriksaan deteksi dini (Papsmear) terhadap kanker hendaknya lebih ditingkatkan lagi dengan cara mengikutsertakan para bidan desa, kader dan tokoh agama untuk dapat membantu dalam program tersebut diseluruh Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, agar para wanita yang sudah menikah atau sudah aktif dalam seksualitasnya untuk mau memeriksakan diri, supaya tidak terjadi keterlambatan dalam mencari pengobatan.
4. Diharapkan dalam pembuatan rujukan dari daerah sekitar Nanggroe Aceh Darusalam hendaknya dipermudah dengan sistem yang lebih baik lagi seperti setiap puskesmas yang berada didaerah sudah melakukan pemeriksaan awal pada penderita kanker serviks agar menuju ke RSUZA Banda Aceh segera dilakukan tindakkan langkah lebih lanjut dalam pengobatan.
DAFTAR PUSTAKA
Alan, 2002.Obstetric and Gynecology Diagnosis and Treatment. Los Angeles California: David Gaffen School of Medicine
Anderson, 2006. Antropologi Kesehatan. Jakarta: Universitas Indonesia Press.
Anderson, 1995. Revisiting the Behavioral Model and Access to Medical Care: Does it Matter? J Health Soc Behavior, 36: 1-10
Andrijono, 2003. Sinopsis Kanker Genekologi. Jakarta : FKUI
Arikunto,2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek Edisi Revisi VI.
Jakarta: PT Rineka Cipta
Benson, 2001.Obstetrics and Gynecology. Singapore: Medical Publishing Division Carol, 2006.Menyingkap Tabir yang Selama Ini Tersembunyi tentang Vagina.
Jakarta: Penerbit PT Indeks
Dahlan, 2008.Statistik untuk Kedokteran dan Kesehatan Edisi III. Jakarta: Salemba Medika
Darlimarta, 2004.Deteksi Dini Kanker dan Simplisia Anti Kanker. Jakarta: Penebar Swadaya
Depkes RI. 2007. Pencegahan Kanker Leher Rahim dan Kanker Payudara. Direktorat Pengendalian Penyakit Tidak Menular, Direktorat Jenderal PP & PL
Dewi, 2008.Keterlambatan Penderita Kanker Serviks dalam Memeriksakan Diri ke Pelayanan Kesehatan. Buletin Penelitian RSU. Dr. Soetomo 10(3) : 97-100 Dewi, W, 2010. Teori dan Pengukuran Pengetahuan, Sikap, Perilaku Manusia.
Jakarta: Medica Book
Elizabeth, 2001. Cegah Kanker Pada Wanita. Jakarta: EGC
Green, 1980. Health Education Planning A Diagnostic Approach.California: Mayfield Publishing Company.
Universitas Sumatera Utara68
Hastono, S.P., 2007. Analisis Data Kesehatan. Jakarta: Fakultas Kesehatan Masyarakat. Universitas Indonesia
Hawari, 2004. Kanker Dimensi Psikoreligi. Jakarta : Balai Penerbit FKUI Jakarta.
Ida, 2001. Kapita Selekta Penatalaksanaan Rutin Obstetri Genekologi Sosial Indonesia. Jakarta: EGC
Indra, 2007.Pengalaman Hidup Klien kanker Serviks di Bandung.http://id.pdfsb.Kanker Serviks.com/2007/pengalaman-hidup-klien-kanker-serviks.Diperoleh tanggal 17 Desember 2011
Louis, 2002.Obstetric and Gynecology. Washington: University of Washington School of Medicine Seattle
Mahesa, 2009.Bersahabat dengan Kanker; Panduan Mengelola dan Mengobati Kanker.Yogyakarta. Araska
Manuaba, 2001.Ilmu Kebidanan dan Penyakit Kandungan Dalam Upaya Meningkatkan Kualitas Kehidupan. FK UNUD
Mardiana, 2004. Kanker Pada Wanita, Pencegahan dan Pengobatan dengan Tanaman.Jakarta: Penebar Swadaya
Muzaham, 1995. Sosiologi Kesehatan. Jakarta: UI Press Notoatmodjo, S.2003. Ilmu Kesehatan Masyarakat. Jakarta: Rineka Cipta __________, S. 2005.Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta
__________, S. 2007. Kesehatan Masyarakat Ilmu dan Seni. Cetakan I. Jakarta:
Rineka Cipta
__________, S. 2011. Kesehatan Masyarakat Ilmu dan Seni. Cetakan II. Jakarta:
Rineka Cipta
Nuranna, 2012. Kanker rahim Penyebab Kematian Nomor Satu Wanitahttp://www.Republika.co.id.BandaAceh/2012kanker-rahimDiperoleh 4 Maret 2013
Nursalam, 2008.Konsep dan Penerapan Metode Penelitian Ilmu Keperawatan Pedoman Skripsi, Tesis dan Instrumen Penelitian Keperawatan.Edisi 2.
Jakarta: Salemba Medika
Nurcahyo, 2010.Awas !!!Bahaya Kanker Rahim dan Kanker Payudara; Mengenal, Mencegah, dan Mengobati Sejak Dini Dua Kanker Pembunuh Paling Ditakuti Wanita. Yogyakarta: PT Buku Kita
Rasjidi, 2007. Panduan Pelaksanaan Kanker Genekologi, Berdasarkan Evidence Base.
Jakarta: EGC
Riska, A., 2010. Tentang Kankerhttp://www.tentangkanker.com/2011 mengenal-kanker-serviks-kanker-leher-rahim/” Diperoleh 10 Desember 2011.
Sabareta, N,.2011. Gambaran Pengetahuan Ibu Tentang Pencegahan Kanker Serviks.http://www.penelitianmatoh.blogspot.com/2011/12/gambaran
pengetahuan-ibu-tentang.htm1?m=1 Diperoleh 24 Desember 2011
Samadi, P., 2010 .Kanker Serviks, Solo: Metagra
Satmoko, 2009. Buku Pintar Kanker, Yogyakarta: Powerbooks
Sarwono, S., 1997. Sosiologi Kesehatan Beberapa Konsep dan AplikasinyaYogyakarta: Universitas Gadjah Mada
Setiati, 2009.Waspadai 4 Kanker Ganas Pembunuh Wanita.Yogyakarta : CV Andi Offset
Smet, B., 1994. Psikologi Kesehatan.Jakarta : PT Gramedia Widiasarana Indonesia Soekardja, I 2000. Onkologi Klinik Edisi 2. Surabaya : Airlangga University Press Sukaca, 2009. Cara Cerdas Menghadapi Kanker Serviks. Yogyakarta: Genius
Syafrudin, 2011.Menejemen Mutu Pelayanan Kesehatan untuk Bidan. Jakarta: Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo
Tjokronegoro, A.2002. Deteksi Dini Kanker. Jakarta : FKUI Undang-Undang Nomor 44 tahun 2009 tentang Rumah Sakit
Verralls, S. 2003. Anatomi dan Fisiologi Terapan dalam Kebidanan.Edisi 3.Jakarta : FKUI
70
Universitas Sumatera Utara
Yatim, F., 2005. Penyakit Kandungan, Myoma, Kanker Rahim/Leher Rahim dan Indung Telur, Kista, serta gangguan lain. Jakarta: Pustaka Populer Obor
WHO.2012. Cervical Cancer, Human Papiloma Virus (HPV) and GPV Vaccineshttp://who.int/healthinfo/boprojections2030/en/cervical-cencer-hpv-human- papiloma-virus-vaccines.html Diperoleh 2 April 2013
Wiknjosastro, H., 2005. Ilmu Kebidanan. Cetakan Pertama. Jakarta: Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo
Lampiran 1
KUESIONER PENELITIAN
Determinan Keterlambatan Penderita Kanker Serviks Mencari Pengobatan ke RSUZA Banda Aceh
Tahun 2013
1. Kanker leher rahim (kanker serviks) adalah penyakit yang mematikan
2. Penyakit kanker leher rahim salah satu penyebabnya adalah Human Papiloma Virus
3. Penyakit kanker leher rahim dapat menyebar keorgan-organ tubuh yang lain
4. Tanda penyakit kanker leher rahim salah satunya
4. Tanda penyakit kanker leher rahim salah satunya