HASIL PENELITIAN
4.2 Analisa Bivariat
4.2.4 Hubungan Persepsi Rasa Manis dengan BMI
Berdasarkan Tabel 13, anak dengan persepsi rasa manis kategori super taster paling banyak terdapat dalam kategori BMI yaitu normal 18 anak (58,1%) diikuti dengan kategori BMI gemuk 10 anak (32,3%) dan kategori BMI obesitas 3 anak (9,7%). Anak dengan persepsi rasa manis kategori medium taster paling banyak terdapat dalam kategori BMI yaitu normal 52 anak (74,3%) diikuti dengan kategori BMI gemuk 9 anak (12,9%) dan kategori BMI obesitas 9 anak (12,9%).
Anak dengan persepsi rasa manis kategori non taster paling banyak terdapat dalam kategori BMI yaitu normal 29 anak (56,9%) diikuti dengan kategori BMI gemuk 14 anak (27,5%) dan kategori BMI obesitas 8 anak (15,7%). Hubungan antara persepsi rasa manis tidak dijumpai, dengan nilai (p = 0,131).
Tabel 13. Hubungan Persepsi Rasa Manis dengan BMI
Kategori Manis
BAB 5 PEMBAHASAN
Berdasarkan hasil penelitian diperoleh persepsi rasa pengecapan, pengalaman karies, dan BMI anak usia 12-13 tahun di Kecamatan Medan Petisah dan Medan Tuntungan. Jumlah sampel pada penelitian ini yaitu 152 orang dengan distribusi berdasarkan usia dan jenis kelamin di dua kecamatan. Sebanyak 86(56,6%) anak berusia 12 tahun dan 66(43,4%) anak berusia 13 tahun. Penelitian ini dilakukan pada anak SMP dengan rata-rata berusia 12-13 tahun karena menurut WHO usia tersebut dapat memantau kondisi kesehatan anak secara global. Secara epidemiologis menunjukkan terjadinya peningkatan prevalensi karies seiring bertambahnya usia khususnya usia 12-13 tahun saat gigi permanen molar kedua rahang atas dan rahang bawah akan erupsi. Menurut hasil penelitian sebelumnya menunjukkan peningkatan rerata indeks DMFT usia 12 tahun lebih tinggi dibandingkan pada usia 13 dan 14 tahun.
Banyak faktor yang dapat memengaruhi keadaan tersebut diantaranya jenis kelamin dengan keadaan hormonal, tingkat kesadaran tentang kesehatan gigi dan mulut pada usia yang lebih dewasa, maupun keadaan sosial ekonomi yang meliputi pekerjaan serta pendidikan orang tua anak.
Pemilihan dua kecamatan yaitu Kecamatan Medan Petisah dan Medan Tuntungan merupakan kecamatan lingkar dalam dan lingkar luar yang dipilih berdasarkan random sampling. Pemilihan SMP Swasta Kalam Kudus di Kecamaan Medan Petisah dan SMP Negeri 21 di Kecamatan Medan Tuntungan dipilih berdasarkan purposive sampling. Distribusi anak perempuan 90(59,2%) lebih banyak dibandingkan dengan anak laki-laki 61(40,8%) karena disekolah tersebut murid berjenis kelamin perempuan jumlahnya lebih banyak dibandingkan dengan laki-laki (Tabel 3).
Penelitian ini melakukan penilaian terhadap persepsi rasa pengecapan, pengalaman karies, dan BMI. Persepsi rasa pengecapan meliputi persepsi rasa pahit dan persepsi rasa manis. Penilaian persepsi rasa pahit menggunakan bahan PROP yang
sudah tervalidasi dan digunakan sebagai bahan untuk test persepsi rasa pahit. PROP sudah digunakan pada berbagai penelitian termasuk penelitian Karmakar yang menyatakan bahwa PROP dapat digunakan untuk menentukan threshold rasa pahit.36 Berdasarkan hal tersebut maka diputuskan penelitian ini juga menggunakan PROP sebagai test persepsi rasa pahit. Selain dapat digunakan untuk menentukan threshold rasa pahit, PROP juga mudah dibawa, tidak memerlukan bahan yang spesifik, tidak memerlukan tempat penyimpanan yang khusus, dan bisa diaplikasikan pada anak berusia 12-13 tahun. Namun, pada sampel penelitian ini dikesimpulankan bahwa PROP hanya bisa untuk menilai persepsi rasa pahit bukan threshold karena rata-rata sampel menyatakan bahwa PROP itu pahit dan rasanya seperti minum obat. Penilaian persepsi rasa pahit dibagi menjadi lima berdasarkan Linkert Scale yaitu sangat pahit, pahit, ragu-ragu, biasa saja, dan tidak berasa. Kemudian dikategorikan menjadi tiga kategori yaitu super taster, medium taster, dan non taster. Reaksi anak kategori super taster merasakan PROP sangat pahit karena rasanya membuat mual, reaksi anak kategori medium taster merasakan PROP pahit dan biasa saja karena menyebut rasanya sama seperti minum obat, sedangkan reaksi anak kategori non taster merasakan PROP tidak berasa karena anak ragu-ragu atau tidak dapat mendeteksi rasa PROP tersebut.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa persepsi rasa pahit kategori medium taster merupakan kategori yang paling banyak dengan jumlah 72 anak (50%), diikuti dengan super taster sebanyak 47 anak (30,9%) dan kategori non taster sebanyak 29 anak (19,1%). Anak paling banyak tergolong dalam kategori medium taster karena anak mengatakan PROP berasa pahit dengan ekspresi wajah tidak menyukai rasa tersebut tetapi tidak ada reaksi membuang atau memuntahkan PROP secara spontan (Tabel 4). Hasil penelitian ini hampir sama dengan penelitian menurut Rupes dan Nayak di India dengan jumlah kategori medium taster 109(32%) lebih banyak dibanding dengan kategori super taster 109(32%) dan non taster 63(19%). Kategori super taster berjumlah sekitar sepertiga dari populasi sampel dan kategori medium taster berjumlah sekitar setengah dari populasi sampel.37 Hasil penelitian menurut Lin di New York City menunjukkan hal yang sama bahwa kategori medium taster adalah kategori paling banyak dengan jumlah anak 87(58%), diikuti dengan kategori super
taster dengan jumlah anak 47(31%) dan kategori non taster dengan jumlah anak 16(11%).38
Penilaian persepsi rasa manis menggunakan kertas Whatman dengan ukuran 2x2 cm menggunakan berbagai konsentrasi yaitu 5%, 10%, 20%, dan 40%. Penilaian persepsi rasa manis awalnya menggunakan konsentrasi terendah yaitu 5% berdasarkan Laboratorium Biologi Oral FKG USU yang biasa digunakan untuk orang dewasa.
Setelah melakukan uji coba di beberapa sekolah, didapatkan hasil bahwa konsentrasi manis 5% sudah bisa dirasakan oleh anak sehingga konsentrasi tersebut diubah menjadi tiga konsentrasi baru yang berasal dari pembagian kelipatan dua konsentrasi terendah yaitu 2,5%; 1,25%; dan 0,625%. Pada akhirnya konsentrasi manis yang digunakan yaitu 0,625; 1,25; 2,5; 5; 10; 20; dan 40%. Konsentrasi tersebut dikategorikan menjadi tiga kategori yaitu super taster dengan konsentrasi 0,625% dan 1,25%, kategori medium taster dengan konsentrasi 2,5% dan 5%, dan kategori non taster dengan konsentrasi 10% - 40%. Konsentrasi 0,625% belum dapat dirasakan anak oleh sebab itu test threshold persepsi rasa adalah 1,25% karena pada konsentrasi tersebut anak dapat merasakan ambang rasa manis. Hasilnya hampir sama dengan penelitian Firquim et al. menggunakan konsentrasi paling encer yaitu (3,91 mmol/l) atau sama dengan konsentrasi 1,6%.28 Kategori manis medium taster merupakan kategori paling banyak dengan jumlah 70 anak (46,1%) diikuti dengan kategori non taster dengan jumlah 51 anak (33,6%) dan kategori super taster dengan jumlah yaitu 31 anak (20,4%) (Tabel 5). Hasil penelitian menurut Borazon et al. di Filipina menunjukkan hal yang sama bahwa kategori medium taster adalah kategori paling banyak dengan jumlah anak (n = 71) diikuti dengan kategori super taster dengan jumlah anak (n = 41) dan kategori non taster taster dengan jumlah anak (n = 8). Penelitian persepsi rasa manis tersebut mayoritas non taster adalah anak yang menyukai rasa manis dengan konsentrasi tinggi pada produk makanan cemilan sementara mayoritas super taster kurang menyukai makanan manis dengan konsentrasi tinggi.39
Penilaian pengalaman karies diperoleh berdasarkan pemeriksaan subyek dengan menggunakan alat yaitu tiga serangkai (pinset, sonde, dan kaca mulut), senter penerangan, dan lembar pemeriksaan dengan menggunakan kriteria menurut Klein.
Tingkat pengalaman seseorang mengenai karies gigi dapat diketahui dengan menggunakan indeks DMFT pada gigi permanen. Pada pemeriksaan rata-rata anak memiliki jumlah (D = decayed) yang lebih banyak dari pada jumlah kehilangan gigi (M = missing) dan adanya tambalan (F = filling). Penilaian pengalaman karies menurut Klein, decayed ditunjukkan untuk seluruh gigi yang mengalami karies, adanya karies sekunder pada tumpatan permanen, gigi dengan tumpatan sementara, kavitas dalam dengan kemungkinan keterlibatan pulpa kemudian missing ditunjukkan untuk adanya kehilangan gigi yang disebabkan oleh karies serta filling ditunjukkan untuk gigi yang sudah dilakukan perawatan penambalan karena karies gigi. Indeks DMFT memiliki kelebihan dibandingkan dengan indeks karies lainnya yaitu lebih sederhana, mudah, dan akurat digunakan dalam penelitian. Indeks karies dibagi menjadi enam kelompok yaitu bebas karies, sangat rendah, rendah, sedang, tinggi, dan sangat tinggi. Hasil pengalaman karies memiliki nilai mean sebesar (2,35 ± 2,58), yang artinya klasifikasi tingkat indeks karies gigi menurut WHO pada anak tergolong rendah. Jumlah subjek yang bebas karies sebanyak 44 anak (28,9%) sedangkan jumlah subjek yang memiliki riwayat karies sebanyak 108 anak (71,1%) (Tabel 6). Indeks karies pada penelitian sama dengan penelitian Subendi et al. pada anak usia 12-13 tahun di wilayah Lalitpur dan Kritipur, Nepal tetapi memiliki nilai mean karies yang lebih rendah yaitu (1,6 ± 0,14) yang tergolong dalam kategori rendah.40
Penilaian BMI didapat dari hasil perhitungan berat badan (kilogram) dibagi kuadrat tinggi badan (meter), yang kemudian dibandingkan dengan tabel Indeks Massa Tubuh atau BMI menurut RISKESDAS tahun 2013 sesuai dengan jenis kelamin dan usia anak. Pengukuran tinggi badan anak menggunakan stadiometer dan pengukuran berat berat badan anak menggunakan timbangan manual. Sama halnya dengan penelitian Vanda M et al. penelitian ini membagi BMI menjadi empat kategori dan dilakukan penilaian sesuai dengan tabel IMT/BMI RISKESDAS tahun 2013 sehingga pembagian kategori BMI yang diteliti yaitu kurus (BMI < -2 SD), normal (BMI -2 s.d 1 SD), gemuk (BMI ≥ 1 – 2 SD), dan obesitas (BMI ≥ 2 SD).3 Hasil penelitian ini mendapatkan nilai mean BMI sebesar 21,53 ± 5,06 kg. Nilai minimum sebesar 15,13 kg dan nilai maksimum sebesar 34,97 kg. Kategori BMI dengan frekuensi terbanyak
yaitu kategori normal 99 anak (65,1%) diikuti kategori gemuk 33 anak (21,7%) dan kategori obesitas 20 anak (13,2%). Jumlah anak kategori obesitas cukup banyak kemungkin karena pola makan dan aktivitas anak yang belum seimbang, akses aktivitas anak bermain diluar rumah kurang dan terbatas sehingga anak cenderung melakukan aktivitas didalam rumah contohnya menonton TV dan bermain games (Tabel 7). Hasil penelitian menurut Ashi et al. di tiga negara yaitu Italia, Meksiko, dan Arab Saudi menunjukkan hasil yang sama bahwa kategori BMI terbanyak adalah normal. Anak di Italia paling banyak terdapat dalam kategori BMI yaitu normal 168 (76,4%) diikuti oleh anak kategori gemuk sebanyak 31 (14,1%) dan anak kategori obesitas sebanyak 15 (16,8%). Di Meksiko anak anak paling banyak terdapat dalam kategori BMI yaitu normal 131 (58,5%) diikuti oleh anak kategori gemuk sebanyak 47 (21%) dan anak kategori obesitas sebanyak 46 (20,5%). Di Arab Saudi anak paling banyak terdapat dalam kategori BMI yaitu normal 113(50,2%) diikuti oleh anak kategori obesitas sebanyak 73 (32,4%) dan anak kategori gemuk sebanyak 31(13,8%).41
Hasil penelitian ini menunjukkan ada hubungan antara persepsi rasa pahit dengan pengalaman karies. Hasil uji statistik Kruskal-Wallis memperoleh nilai p sebesar 0,003 < 0,05 sehingga terdapat perbedaan yang signifikan antara kategori pahit dengan pengalaman karies. Hasil menunjukkan bahwa kategori super taster berada pada rata-rata indeks karies rendah (1,51 ± 1,89) sama halnya dengan kategori medium taster (2,50 ± 2,78). Berbeda halnya dengan kategori non taster yang berada pada indeks karies sedang (3,31 ± 2,66) (Tabel 8). Hasil uji lanjutan (post hoc) antara ketiga kelompok kategori pahit menggunakan Mann-Whitney test dengan derajat α= 0,05 untuk menentukan perbedaan signifikan antara ketiga kelompok kategori pahit.
Didapatkan hasil bahwa kelompok kategori super taster dan medium taster memiliki perbedaan yang bermakna secara statistik (p = 0,044) sama halnya dengan kelompok kategori super taster dan non taster juga menunjukkan perbedaan yang signifikan (p = 0,000). Berbeda halnya dengan kelompok kategori medium taster dan non taster diperoleh hasil yang tidak signifikan (p = 0,078). Perbedaan yang signifikan terlihat pada pada kelompok kategori super taster dengan medium taster dan non taster tetapi antara kelompok kategori medium taster dengan non taster tidak terlihat perbedaan
yang bermakna. Hasil uji statistik Kruskal-Wallis memperoleh nilai p sebesar 0,003 <
0,05 sehingga terdapat perbedaan yang signifikan antara persepsi rasa pahit dengan indeks karies. Hasil menunjukkan bahwa kelompok kategori super taster dengan medium taster dan non taster terlihat signifikan dilihat dari kategori super taster memiliki banyak anak bebas karies yaitu 19 anak (40,4%) sedangkan pada kategori non taster sedikit anak yang mempunyai bebas karies yaitu 2 anak (6,9%). Walaupun kategori medium taster terlihat kurang signifikan pada jumlah anak bebas karies yang lebih banyak dari super taster yaitu 23 anak (30,3%) tetapi terlihat signifikan pada indeks karies kategori tinggi dimana medium taster memiliki jumlah 11 anak (14,5%) sedangkan super taster hanya memiliki 2 anak (4,3%) (Tabel 9). Sama halnya dengan penelitian menurut Firquim et al. di Brazil menunjukkan bahwa hasil penelitiannya distribusi anak yang tinggal didaerah pedalaman dan perkotaan memiliki perbedaan hubungan sensitivitas pahit terhadap karies. Pada daerah perkotaan menunjukkan adanya hubungan yang signifikan (p = 0.005) sedangkan pada daerah pedalaman menunjukkan tidak adanya hubungan persepsi rasa pahit dengan karies (p = 0,180).28 Sama halnya dengan penelitian Rupesh dan Nayak secara umum menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara pengalaman karies yang lebih tinggi pada non taster dibanding dengan medium taster dan medium taster dibanding dengan super taster.37 Penelitian menurut Lin pada kelompok 150 anak (6 – 12 tahun) hasil keseluruhannya juga menunjukkan pengalaman karies yang secara signifikan lebih tinggi pada non taster dibanding dengan tasters.38
Hasil penelitian ini menunjukkan hubungan antara persepsi rasa manis dengan pengalaman karies. Hasil penelitian ini menunjukkan ada hubungan antara persepsi rasa manis dengan pengalaman karies. Hasil uji statistik Kruskal-Wallis memperoleh nilai p sebesar 0,001 < 0,05 sehingga terdapat perbedaan yang signifikan antara kategori manis dengan pengalaman karies. Hasil menunjukkan bahwa kategori super taster berada pada rata-rata indeks karies sangat rendah (1,13 ± 1,45). Berbeda halnya dengan kategori medium taster yang berada pada indeks karies sedang (3,06 ± 2,85) dan kategori non taster yang berada pada indeks karies rendah (2,12 ± 2,43) (Tabel 10). Hasil menunjukkan Hasil uji lanjutan (post hoc) antara ketiga kelompok kategori
manis menggunakan Mann-Whitney test dengan derajat α= 0,05 untuk menentukan perbedaan signifikan antara ketiga kelompok kategori manis. Didapatkan hasil bahwa kelompok kategori super taster dan medium taster memiliki perbedaan yang bermakna secara statistik (p = 0,000) sama halnya dengan kelompok kategori super taster dan non taster juga menunjukkan perbedaan yang signifikan (p = 0,048) dan kelompok kategori medium taster dan non taster diperoleh hasil yang signifikan (p = 0,039). Pada kategori super taster, medium taster, dan non taster terlihat perbedaan yang signifikan walaupun pada ketiga kategori jumlah anak bebas karies sama. Hasil uji statistik Kruskal-Wallis memperoleh nilai p sebesar 0,001 < 0,05 sehingga terdapat perbedaan yang signifikan antara persepsi rasa manis dengan indeks karies. Hasil menunjukkan bahwa kategori super taster sedikit anak yang memiliki indeks karies sedang sampai tinggi (9,7% - 3,2%) dan tidak ada anak yang mempunyai indeks karies sangat tinggi, sedangkan kategori medium taster dan non taster memiliki jumlah anak yang lebih banyak (Tabel 11). Sama halnya dengan penelitian Ahmed et al. di Baghdad, Irak menyatakan bahwa ada hubungan yang signifikan antara konsumsi asupan gula dengan pengalaman karies dengan nilai (p = 0,001). Setelah lima tahun ketersediaan gula yang rendah pada negara tersebut, DMFT berkurang secara signifikan pada anak sekolah yang berusia 12 tahun.42 Hal yang sama juga terlihat pada penelitian Ceylan et al. di Turki menyatakan bahwa ada ada hubungan positif yang kuat antara konsumsi makan dan minuman yang mengandung gula atau preferensi manis dengan nilai DMFT (r = 0.565, p = < 0.01).43
Hasil penelitian ini menunjukkan tidak ada hubungan persepsi rasa pahit dengan BMI. Hasil uji statistik Chi-Square memperoleh nilai p sebesar 0,757 > 0,05 sehingga tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara kategori pahit dengan BMI.
Pada penelitian ini terlihat bahwa anak dengan persepsi rasa pahit kategori super taster paling banyak terdapat dalam kategori BMI yaitu normal 31 (66,0%) diikuti dengan kategori BMI gemuk 10 (21,3%) dan kategori BMI obesitas 6 (12,8%). Anak dengan persepsi rasa pahit kategori medium taster paling banyak terdapat dalam kategori BMI yaitu normal 49 (64,8%) diikuti dengan kategori BMI gemuk 15 (20,5%) dan kategori BMI obesitas 12 (14,8%). Anak dengan persepsi rasa pahit kategori non taster paling
banyak terdapat dalam kategori BMI yaitu normal 19 (64,7%) diikuti dengan kategori BMI gemuk 8 (29,4%) dan kategori BMI obesitas 2 (5,9%) (Tabel 12). Sama halnya dengan penelitian menurut Borazon, Campos, dan Pinto menunjukkan hal yang sama bahwa secara statistik tidak ada perbedaan signifikan yang ditemukan antara status PROP taster dengan BMI.39,44
Hasil penelitian ini menunjukkan tidak ada hubungan persepsi rasa manis dengan BMI. Hasil uji statistik Chi-Square memperoleh nilai p sebesar 0,131 > 0,05 sehingga tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara kategori manis dengan BMI. Anak dengan persepsi rasa manis kategori super taster paling banyak terdapat dalam kategori BMI yaitu normal 18 (58,1%) diikuti dengan kategori BMI gemuk 10 (32,3%) dan kategori BMI obesitas 3 (9,7%). Anak dengan persepsi rasa manis kategori medium taster paling banyak terdapat dalam kategori BMI yaitu normal 52 (74,3%) diikuti dengan kategori BMI gemuk 9 (12,9%) dan kategori BMI obesitas 9 (12,9%). Anak dengan persepsi rasa manis kategori non taster paling banyak terdapat dalam kategori BMI yaitu normal 29 (56,9%) diikuti dengan kategori BMI gemuk 14 (27,5%) dan kategori BMI obesitas 8 (15.7%) (Tabel 13). Sama halnya dengan dua penelitian menurut Ashi et al. di Swedia, Arab Saudi, dan Italia menunjukkan bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antara BMI dengan ambang rasa manis atau preferensi manis dan karies gigi. Data untuk masing-masing negara diuji secara terpisah. Korelasi terkuat ditemukan pada preferensi rasa untuk anak di Italia (p = 0,322).41 Selain itu, penelitian menurut Ashi et al. di Arab Saudi tentang pengaruh persepsi rasa manis pada diet dalam hubungan dengan karies gigi dan BMI anak usia 12-15 tahun menunjukkan bahwa tidak ada hubungan yang signifikan dengan BMI (p = > 0,05).10
BAB 6