BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
2. Hubungan Politik Antara Wanua Satu Dengan Wanua Lainnya
Hubungan politik atau kekuasaan yang dilakukan Boli dengan Pénrang terjadi pada saat Kerajaan Cinnotabi sedang mengalami kekosongan pemimpin yang disebabkan rajanya sedang dalam posisi bersitegang atau bertentangan pandangan.
Raja Cinnotabi pada saat itu adalah La Tenribali dan La Tenritippe’ (Arung Cinnotabi V) yang menurut Abidin, (1985:391) menjadi raja secara bersamaan yang disebut
“Napabbali salo’i ia dua” atau secara harfiah diseberangsungaikan mereka berdua.
Hal ini terjadi oleh karena La Patiroi sebelum meninggal tidak menunjuk calon penggantinya yang sesuai dengan sistem kooptasi yang pernah berlaku di Kerajaan Romawi pada masa pemerintahan raja-raja Antonius. La Tenribali dan La Tenritippe’
menjadi raja setelah rakyat Cinnotabi bersepakat untuk mengangkat mereka berdua, dengan alasan mereka mampu menggantikan bapaknya sebagai raja. Hal ini sebagaimana tertulis pada kutipan teks berikut ini.
Transliterasi:
Tessiagato ittana arung mabbali salo’ mappadaoroané Petta La Tenribali sibawa Petta La Tenritippe’’ napada lainna élo’na. Naia Petta La Tenritippe’’
naésai’i ammaradékangenna to Cinnotabi’é, naddarinna pabbanuaé (sumber:
naskah LSW:h.67) Terjemahan:
Tiada berapa lamanya memerintah dan berkedudukan sama dua bersaudara Tuan kita La Tenribali dan Tuan kita La Tenritippe’, maka keduanya berbeda
pendapat. Adapun tuan kita La Tenritippe’ dilanggarnya hak kebebasan orang-orang Cinnotabi maka menderitalah penduduk (terj. Abidin, 1985)
Seperti yang telah disinggung sebelumnya bahwa musibah keruntuhan Kerajaan Cinnotabi disebabkan pertentangan antara La Tenribali dan La Tenritippe’. Ceritanya bermula pada peristiwa perampasan wewenang Matoa Pabbicara yang dilakukan oleh La Tenritippe’. Dampak peristiwa tersebut membuat seorang warga yang menjadi korban datang menghadap La Tenribali untuk menggugat perbuatan La Tenritippe’, kemudian La Tenribali menyerahkan perkara assilellungeng (gugatan sipil) tersebut kepada Matoa Pabbicara, sebab ini menjadi kewenanangannya sebagai pendamping raja yang bertugas di bidang peradilan. Sementara orang itu diperiksa oleh sang hakim, maka tiba-tiba La Tenritippe’ memerintahkan seorang warga agar penggugat itu datang menghadap kepadanya, sebab lawannya sedang diperiksa oleh dia dan demikian pula saksi-saksinya. Cara mengadili La Tenritippe’ adalah langsung memutuskan bahwa tergugatlah yang menang tanpa penggugat diberikan pertanyaan sekali pun dan saksi-saksinya pun demikian. Akhirnya keputusan telah bulat bahwa tergugatlah yang menang dan penggugat diperintahkan untuk membayar ganti kerugian biaya perkara.
Adapun Orang yang dirugikan itu pergilah mengadu kepada La Tenritau sepupu sekali raja.
Hingga pada akhirnya La Tenritau pun mengetahui hal ini, oleh karena itu dia mengajak saudaranya bernama La Tenripekka dan sepupunya bernama La Matareng untuk mengadukan hal ini kepada La Tenribali dan memohon supaya dia menasehati saudaranya. Peristiwa ini menjadi beban bagi La Tenribali, sebab nasehatnya sama
sekali tidak diindahkan oleh La Tenritippe’. Akibat peristiwa ini rakyat Cinnotabi berkumpul untuk membicarakan perbuatan Arung Cinnotabi muda La Tenritippe’, dan memutuskan bahwa perbuatan mengadili tanpa memeriksa kedua belah pihak dan saksi-saksinya adalah sebuah pelanggaran berat yang dilakukan oleh seorang raja, yang secara aturan kerajaan tidak memiliki wewenang untuk mengadili, sebab hal itu secara tidak langsung merampas wewenang Matoa Pabbicara sebagai hakim. Selain bertentangan dengan bicara (Hukum Acara Peradilan), juga tidak memiliki keabsahan serta melanggar hak-hak asasi rakyat, caranya mengadili adalah hanya mendengarkan satu pihak saja yang disebut riémpékeng bicara (dilempari keputusan). Mereka juga menyatakan bahwa La Tenritippe’ sering melanggar perjanjian pemerintahan di Cinnotabi yang diadakan oleh Rajallangi (Arung Babauaé) yang mewakili istrinya, Wé Tenrisui (Arung Cinnotabi III) dan juga rakyat. Hal ini sebagaimana tertulis pada kutipan teks berikut ini.
Transliterasi:
Ia assabarenna engka to Cinnotabi’ mappangéwang naénré’ ri Arung Cinnotabi La Tenribali parape’i bicaranna. Naia Arung Cinnotabi’ La Tenribali nasorongngi lao ri Matoa Pabbicaraé, naia riolo nasuro tangnga’i. Naia tosi seddié ménré’i ri Arung Cinnotabi’ La Tenritippe’’ parape’i. Naia Arung Cinnotabi’ La Tenritippe’’ naissenna makkedaé engkani palé’ to mappangéwangngé risuro ri daékku no’ ri Matoa Pabbicaraé, nasuro tampaiwi.
Makkedai suroé: “Nasuro tampaiko Petta ri Cinnotabi’ maloloé. Engkairo ri asé’ balimmu parape’i bicaranna”. Makkedai to risuroé tampai: “Petta ri Cinnotabi’ macoaé suroakka’ no’ ri Matoa Pabbicaraé”. Makkedai to risuroé:
“Madécéngngi’ ménré’”. Jaji ménré’i natterru’ tudang ri olona Arung Cinnotabi’ La Tenritippe’’. Naia Arung Cinnotabi’ La Tenritippe’’ iamaniro tabbulu’é engka ri olona tudang naéwa mappau. Naia balinna nasuroé molli’
dé’na naéwai ada. Mau nakkutanangngé pangewanna de’tona. Oncoppisa nakkutanangnge sabbinna, naluru nasalang iaro tau nasuroé mobbi’ nasuroi massulu’ (sumber: naskah LSW:h.68)
Terjemahan:
Adapun sebabnya ada orang Cinnotabi berselisih dan menghadap Arung Cinnotabi La Tenribali untuk melaporkan perkaranya. Adapun Arung Cinnotabi La Tenribali melimpahkannya ke Matoa Pabbicara dan mereka disuruh dahulu memeriksanya, sedangkan yang lain pergi ke Arung Cinnotabi La Tenritippe’
melapor. Adapun Arung Cinnotabi La Tenritippe’ setelah mengetahui bahwa orang yang berselisih itu disuruh oleh kakaknya pergi ke Matoa Pabbicara, maka disuruh panggillah orang itu. Berkata pesuruh itu: “Disuruh panggil engkau oleh Tuan kita yang muda di Cinnotabi, sebab lawanmu telah ada di istana menyampaikan perkaranya”. Berkata orang yang disuruh panggil: “Tuan kita di Cinnotabi yang tua menyuruh aku untuk menghadap Matoa Pabbicara”. Berkata orang yang disuruh: “Lebih baik engkau menghadap”. Akhirnya orang yang disuruh panggil itu jadilah naik di istana dan terus duduk di hadapan Arung Cinnotabi La Tenritippe’. Adapun Arung Cinnotabi La Tenritippe’ hanya berbicara dengan orang yang lebih dahulu ada di hadapannya, sedangkan lawannya yang disuruh panggil tidak diajak berbicara, bahkan perselisihannya pun tidak ditanyakan dan lebih-lebih saksi-saksinya tidak ditanyakan pula, La Tenritippe’ langsung menyalahkan orang yang disuruh panggil itu dan diberi hukuman untuk membayar ganti rugi (terj. Abidin, 1985)
Setelah mengetahui hasil musyawarah yang sangat merugikan rakyat, maka sepupu sekali Arung Cinnotabi V yang bernama La Tenritau, La Tenripekka dan La Matareng memutuskan untuk meninggalkan Cinnotabi bersama keluarga mereka dan diikuti oleh tiga orang kepala persekutuan hukum adat yaitu Matoa Majauleng, Matoa Sabbamparu, Matoa Tekkalalla, para bangsawan dan sebagian besar rakyat (Abidin, 1985:393). Adapun yang menjadi alasan utama mereka meninggalkan Cinnotabi karena nasehatnya tidak disetujui oleh La Tenritippe’ terkait masalah yang dihadapinya dan mereka berpandangan bahwa hal itu seharusnya tidak dilakukan oleh raja sebagai pemimpin kerajaan, sebab sangat merugikan rakyat. Protes rakyat dengan cara meninggalkan raja adalah alat untuk mengakibatkan raja masiri (aib besar), sebab raja tanpa rakyat tidak mempunyai siri yang utuh. Dengan cara seperti itu juga dapat
memberikan pelajaran bagi pemimpin yang melakukan kesalahan karena peristiwa ini dianggap memperkosa hak kebebasan rakyat. Hal ini sebagaimana tertulis pada kutipan teks berikut ini.
Transliterasi:
Naia Petta La Tenritau’, La Tenripekka, La Matareng naitana mapeddi’ to Cinnotabi’é massituru’ni tellu mallékké’ dapureng natiwi’i ana’na pattarona ri Boli, naccoé’ Matoaé ri Cinnotabi’, Matoaé ri Majauleng, Matoaé ri Sabbamparu, Matoaé ri Tekkalalla’ sibawa anakkarungngé, tau tongekkarajaé.
Nakkuna ri Boli siratté-ratté nakkotana pada mébbu’ pallaong (sumber: naskah LSW:h.72)
Terjemahan:
Adapun Tuan kita La Tenritau, La Tenripekka dan La Matareng setelah dilihatnya orang-orang Cinnotabi menderita, maka bersepaktlah ketiganya untuk pindah bersama hartanya, lalu membawa anak dan istrinya ke Boli, maka mengikutlah Matoa Cinnotabi, Matoa Majauleng, Matoa Sabbamparu, Matoa Tekkalalla, orang-orang bangsawan dan orang baik. Maka di Bolilah mereka saling bertemu, dan di sana pula mereka bersama-sama membuat lapangan kerja (terj. Abidin, 1985)
Pada saat tiba di Boli, mereka membangun tiga perkampungan dan membuka sawah. Daerah dimana La Tenritau tinggal bersama para pengikutnya dinamakan Majauleng, daerah La Tenripekka dinamakan Sabbamparu dan daerah La Matareng dinamakan Tekkalalla. Ketiga daerah tersebut berfederasi (membentuk kesatuan) dan menyebut kesatuan itu Lipu’ Tellu Kajurué, yaitu negeri yang terdiri atas tiga bagian yang tak terpisahkan bagaikan buah kemiri. Ketiga triumviratus tersebut mempunyai wewenang yang sama untuk melaksanakan pemerintahan dalam arti luas di tingkat pusat kerajaan, sedangkan di daerah masing-masing mereka memerintah tanpa campur tangan kepala persekutuan yang lain. Di tiap-tiap daerah yang disebut limpo, raja
berdampingan dengan matoa sebagai wakil rakyat limpo. Ketiga orang matoa juga merangkap menjadi wakil rakyat di pusat pemerintahan Lipu’ Tellu Kajurué di Boli, dalam artian rakyat Boli mempunyai dua kewargaan yaitu warga limpo dan sekaligus warga Lipu’ Tellu Kajurué. Hal ini sebagaimana yang tertulis pada kutipan teks berikut ini.
Transliterasi:
Naia pada kuanna ri Boli, engkana maggalung, maddare’, massari, makkaja, nrengngeng mala bua-bua rianré ale’é. Napattellu konrottoi aléna. Petta La Tenritau’ masengngi wanuana Majauleng, Petta La Tenripekka masengngi wanuanna Sabbamparu, Petta La Matareng masengngi wanuanna Tekkalalla’.
Naia aseng parujunna Lipu’’ Tellu Kajuru’é ri Boli. Naia naonroié makkarung La Tenritau’, nasengngi Majauleng. Naia naonroié makkarung La Tenripekka, nasengngi Sabbamparu. Naia naonroié makkarung La Matareng, nasengngi Tekkalalla’. Natella’ni Lipu’ Tellu Kajuru’é, ia parujungasenna Boli (sumber:
naskah LSW:h.73-77) Terjemahan:
Adapun ketika semua berada di Boli, ada yang bersawah, berkebun, menyadap tuak, menangkap ikan, berburu dan mengambil buah-buahan yang dapat dimakan di hutan. Maka mereka mengelompokkan diri menjadi tiga untuk mendiami perkampungan masing-masing. Tuan kita La Tenritau menamakan negerinya Majauleng, Tuan kita La Tenripekka menamakan negerinya Sabbamparu, Tuan kita La Matareng menamakan negerinya Tekkalalla. Adapun nama pengikatnya, Lipu’ Tellu Kajurué. Adapun tempat memerintah La Tenritau dinamakannya Majauleng. Adapun tempat memerintah La Tenripekka dinamakannya Sabbamparu. Adapun tempat memerintah La Matareng dinamakannya Tekkalalla. Digelarnya Lipu’ Tellu Kajurué, dan adapun nama pengikatnya Boli (terj. Abidin, 1985)
Adapun La Tenribali dan La Tenritippe’ setelah melihat perpindahan rakyat Cinnotabi, akhirnya pindah juga ke suatu daerah bersama pemuka-pemuka masyarakat yang masih menetap di Cinnotabi, untuk membuka negeri baru bernama Kerajaan Pénrang yang terdiri dari Pénrang, Saébawi, dan Sarinyameng. Setelah mereka
meninggalkan Cinnotabi, maka sepupu sekalinya yang bernama Wé Tenrigau membongkar istana di Cinnotabi dan dibawa menyeberang ke Mampu dan menetap di Mampu, sejak saat itu kosonglah Cinnotabi. Dengan melihat kondisi Cinnotabi yang kosong dan mengalami kehancuran, maka pemimpin ketiga limpo yang tergabung dalam Lipu’ Tellu Kajurué melakukan musyawarah dengan rakyat Boli, dan memutuskan untuk membesarkan kembali negeri mereka seperti apa yang telah dilakukan La Patiroi (Arung Cinnotabi V) dahulu dimasa pemerintahannya, dengan kata lain ingin membentuk kembali Kerajaan Cinnotabi yang telah hancur.
Oleh karena itu, La Tenritau, La Tenripekka dan La Matareng mengumpulkan orang-orang Lipu’ Tellu Kajurué menuju Kerajaan Pénrang untuk menghadap La Tenribali yang menjadi raja di sana, dengan tujuan untuk membicarakan hasil musyawarahnya dengan rakyat Boli, dalam hal ini maksud kedatangannya adalah ingin menjadikan La Tenribali sebagai Arung Mataesso (raja matahari) pada kerajaan federasi (kesatuan) yang nantinya akan dibentuk. Setelah mereka itu sampai di Pénrang, berkata La Tenribali kepada ketiga Arung yang tergabung dalam Lipu’ Tellu Kajurué (Majauleng, Sabbamparu dan Tekkalalla) bahwa “Apa gerangan maksud kalian datang ke sini?, karena saya juga memang telah rindu untuk bertemu dengan kalian”. Menjawablah ketiga Arung bahwa “Hasil keputusan musyawarah kami orang-orang Lipu’ Tellu Kajurué di Boli, mengatakan “Engkaulah yang hendak kami angkat sebagai Arung Mataesso dan kami akan mendampingi kemuliaanmu, kita akan bekerja sama dengan baik berdasarkan kejujuran, kebenaran dan kewajaran kita sekalian.
Engkau memelihara kami, menyelimuti kami agar tidak hampa dan menghindarkan
kami dari malapetaka”. Berkata lagi La Tenribali “Memang itulah juga maksudku bertemu dengan kalian, sebab aku ingin membukakan kalian adat dahulu di Cinnotabi pada masa pemerintahan Tuan kita La Patiroi (Arung Cinnotabi IV) yang diwariskan oleh Tuan kita La Rajallangi dan kita mencari adat pemupakatan yang dapat membesarkan negeri kita”. Hal ini sebagaimana tertulis pada kutipan teks berikut ini.
Transliterasi:
Naia Arung Cinnotabi’ La Tenribali naitana maru’-sa’ Cinnotabi’ massu’ taué, nasalaitoni Cinnotabi’ nassu’ lao ri Pénrang, ri Saébawi, ri Sarinyameng mpukke’ wanua sibawa padaoroanéna riasengngé La Tenritippe’’, naccoé’si ina taué engkaé monro tellao ri Boli. Naia sappo sisenna Arung Cinnotabi’
riasengngé Wé Tenrigau’, nalukaitoni salassa’é ri Cinnotabi natiwi’i mattékka ri Mampu, naonrona Petta Wé Tenrigau’ ri Mampu. Nalobbanna Cinnotabi’.
Naia Petta La Tenritau’, La Tenripekka, La Matareng napasipulungngi to Lipu’’
Tellu Kajuru’é ri Boli. Naia nassiturusi laoé ri Pénrang suddingngi Petta La Tenribali natiwi’i ri Boli napakkarungngi, nalai Arung Mataesso, naranrengngi alebbirenna, nasipauju’ madécéng ri alempurenna ri assitinajanna iamaneng.
Napada laona to matoaé ri Boli madduppa. Naia lettu’na ri Pénrang napoadanni assiturusenna Lipu’’ Tellu Kajuru’é ri Boli. Naengkana Petta La Tenribali tama ri Boli sitinro’ ina taué ri Pénrang sibawa to Bolié laoé madduppa. Naia lettu’nana ri Boli nasitudangeng Petta La Tenribali massappo siseng Petta La Tenritau’, La Tenripekka, La Matareng sibawa to Bolié. Makkedai Petta La Tenribali ri sappo sisenna: “Angngaré’ga muollirengnga’ apa’ ia’ muddani mémettona maélo’ sitako” Makkedai Petta La Tenritau’, La Tenripekka, La Matareng: “Assiturusenna ikkeng to Lipu’’ Kajuru’é ri Boli: iko maélo’ riala Arung Mataesso, kiranrengngi alebbiremmu, tasipauju’ madécéng ri alempuretta ri atongengetta’ ri assitinajatta idi’ maneng. Namuarupekkeng, musaLipu’ri temmacekké’, mudongiri temmatippa’keng mupanini’keng ri maja’é, tasilettukeng ri majéngngé muabbicarangngi’ bicara malempu’, tamana’é ri Puatta La Patiroi, namana’é ri Puatta La Rajallangi’, namaraja Cinnotabi’, naengkamani nrusa’i bicara malempu’é namarusa’na Cinnotabi’”.
Makkedai Puatta La Tenribali: “Ia mémenna maélo’ usitakko”. Naia maélo’
bukkarekko ade’ rioloé ri Cinnotabi’ ri wettunna Puatta La Patiroi, namana’e ri Puatta La Rajjallangi’, kuae topa tasappa’ ade’ assituruseng maka perajaiengngi wanuatta, naccolli’ naddaung, nattakké nappaleppang napparanga-ranga nalorong lao alau’ lao orai’, lao maniang lao manorang.
Namacekké’ raunna riannaungngi, taébburengngi janci, tappésabbiangngi ri Déwata Séuaé. Namadécénni tositudangeng sangadi ri Majauleng, aja’ naengka
dé’, nalamuni pangali’ engkamuni, rirupa engkaé, risappa’ dé’é” (sumber:
naskah LSW:h.78-81) Terjemahan:
Adapun Arung Cinnotabi La Tenribali setelah dilihatnya rusak Cinnotabi dan orang-orang bersama-sama keluar, ditinggalkannya pula Cinnotabi dan pergi ke Pénrang, Saébawi dan Sarinyameng untuk membuka negeri baru bersama saudaranya yang bernama La Tenritippe’ dan mengikut pula pemuka-pemuka masyarakat yang masih tinggal yang tidak pergi ke Boli. Adapun sepupu sekalinya Arung Cinnotabi yang bernama We Tenrigau membongkar pula Istana di Cinnotabi dan dibawanya menyeberang ke Mampu dan tinggallah Tuan kita We Tenrigau di Mampu. Kosonglah Cinnotabi. Adapun Tuan kita La Tenritau, La Tenripekka dan La Matareng dikumpulkannya orang-orang Lipu’ Tellu Kajurué di Boli. Yang dimupakati ialah mereka akan pergi ke Pénrang untuk mengundang Tuan kita La Tenribali dan dibawanya ke Boli untuk memerintah dan diangkat menjadi Arung Mataesso (Raja Matahari) dan didampingi (diperkuat) kemuliaannya dan bekerja sama dengan baik berdasarkan kejujuran dan kewajaran mereka semuanya. Maka, pergi semualah orang-orang tua di Boli untuk menjemput. Setelah mereka sampai di Pénrang, diberitahukanlah hasil kesepakatan orang-orang Lipu’ Tellu Kajurué di Boli. Maka datanglah Tuan kita La Tenribali dan masuk ke Boli untuk menjemput. Setelah tiba di Boli, maka Tuan kita La Tenribali duduklah secara bersama (bermusyawarah) dengan para sepupu sekalinya yaitu Tuan kita La Tenritau, La Tenripekka dan La Matareng serta orang-orang Boli. Berkata Tuan kita La Tenribali kepada sepupu-sepupu sekalinya: “Apa gerangan maksud kalian memanggilku, karena saya juga memang telah rindu untuk bertemu dengan kalian”. Menjawab Tuan kita La Tenripekka dan La Matareng: “Hasil keputusan musyawarah kami orang-orang Lipu’ Tellu Kajurué di Boli, engkaulah hendak kami akan angkat sebagai Arung Mataesso (Raja Matahari) dan kami akan mendampingi kemuliaanmu, kita bekerja sama dengan baik berdasarkan kejujuran, kebenaran, dan kewajaran kita sekalian. Engkau memelihara kami, menyelimuti agar kami tidak keinginan, engkau lengkapi kami agar tidak hampa, engkau menghindarkan kami dari malapetaka, kita sama-sama sampai pada kebaikan dan kau laksanakan peradilan yang berdasarkan kejujuran yang engkau pusakai dari Tuan kita La Patiroi, yang dipusakainya dari Tuan kita La Rajallangi, sehingga besar Cinnotabi dan barulah bubar Cinnotabi setelah ada orang yang merusak peradilan berdasarkan kejujuran”. Berkata Tuan kita La Tenribali: “Memang itulah maksudku bertemu dengan kalian, sebab aku ingin membukakan kalian adat dahulu di Cinnotabi pada masa Tuan kita La Patiroi yang dipusakainya dari Tuan kita La Rajallangi dan kita mencari adat permupakatan yang dapat membesarkan negeri kita, agar berpucuk, berdaun, bertangkai dan berpelepah, melebar serta menjalar ke timur, ke barat, ke selatan dan ke utara. Dingin daunnya tempat kita bernaung, kita
membuatkannya janji dan dipersaksikan kepada Dewata Yang Esa. Baiklah, kita akan bermusyawarah lusa di Majauleng dan jangan ada yang tidak hadir, semua orang yang telah dewasa hadir semua, akan dicatat yang hadir dan dicari yang tidak hadir” (terj.Abidin, 1985)
Setelah mereka melakukan musyawarah dengan La Tenribali, maka ketiga orang kepala limpo di Boli dan para matoa memutuskan untuk memilih La Tenribali menjadi Arung Mataesso (raja matahari) di Boli, untuk memerintah ketiga limpo mengayomi rakyat serta melaksanakan hukum adat seperti yang telah ditetapkan pada masa pemerintahan La Patiroi (Arung Cinnotabi IV), yang dasarnya diletakkan oleh La Rajallangi (perjanjian Cinnotabi). La Tenribali menyetujui putusan itu dengan syarat bahwa sebelum diangkat menjadi raja, maka harus dibuat perjanjian pemerintahan yang antara lain menetapkan hubungan kekuasaan raja dengan kepala limpo, hubungan hak dan kewajiban antara raja dan matoa dan menetapkan bahwa semua hukum adat yang telah ditetapkan di Cinnotabi diberlakukan, termasuk hak-hak asasi manusia.
Dalam menjalankan pemerintahannya Arung Mataesso harus menghormati hak-hak otonomi daerah-daerah (limpo), semua pejabat kerajaan baik di tingkat pusat maupun di tingkat daerah harus saling menghormati wewenangnya masing-masing tanpa campur tangan pihak lain, para matoa harus menjadi anggota Dewan Pemerintah Pusat dan Daerah dan Matoa Pabbicara memiliki kewenangan mengadili perkara sipil dan kejahatan di limpo masing-masing. Hak-hak rakyat seperti ade’ ammaradékangeng (adat kebebasan rakyat) harus dihormati oleh para pejabat, termasuk hak milik rakyat.
Pejabat limpo yang satu tidak boleh langsung memasuki limpo lain untuk menangkap orang sebelum meminta izin pejabat limpo lain dan sebaliknya mereka hanya meminta
kepada limpo lain supaya menyerahkan penjahat yang dicari, termasuk saksi-saksi yang diminta memberikan keterangan di limpo pemohon (Abidin, 1999:125).
La Tenribali juga mengusulkan bahwa di samping ade’ pura onro (hukum adat yang telah ditetapkan lebih dahulu dan ternyata dalam praktek terbukti telah bermanfaat bagi seluruh rakyat) diakui sebagai hukum yang tak boleh diubah lagi, sedangkan ade’ assimémengenna wanuaé (hukum adat yang tidak dibentuk oleh pemerintah, tetapi lahir dan berkembang di antara rakyat) juga harus dihormati.
Diusulkannya pula supaya dibentuk ade’ assituruseng, yaitu hukum adat yang lahir dari hasil assipetangngareng (musyawarah) antara pejabat-pejabat kerajaan dan wakil-wakil rakyat (para matoa dan ulu anang) untuk mengatur hal-hal yang tidak diatur oleh ade’ maraja (adat besar bagi raja-raja), ade’ abiasang (adat kebiasaan bagi rakyat), tuppu’ (aturang yang mengatur tingkat-tingkat adat dan hubungan hukum antara seorang ayah dan anaknya), wari’ (aturan untuk membedakan hal-hal yang patut dibedakan, misalnya kelas-kelas masyarakat) dan rapang (sistem pengambilan keputusan atau yurisprudensi). Semua aturan tersebut diberlakukan baik di tingkat pemerintah pusat, maupun di daerah-daerah. Hukum Adat demikian setiap waktu dapat diubah berdasarkan kehendak bersama pemerintah dan yang diperintah, jikalau ternyata tidak bermanfaat dan merugikan rakyat (Abidin, 1985:405). Hal ini sebagaimana tertulis pada kutipan teks berikut ini.
Transliterasi:
Aga nadapi’ni esso nassijancingié, pada engka manenni to Bolié sipulung ri Majauleng arumpanua, matoa malolo dé’ gaga dé’, nakkunaro sipetangngareng mengngorangiwi ade’ rioloé ri Cinnotabi’. Naia napada mengngerang
nassiturusi: tessiésa’-ésa’é ri asé’ ri awa arumpanua natettongiwi ammaradekangeng, malélu sipakainge’ siala painge’ namadécéng napoccapa’, nasitajeng batacella’. Nakkona rilanti’ arung mataesso Petta La Tenribali ri Lipu’’ Tellu Kajuru’é. Natettonna maddanreng sappo sisenna iatellu, naranrengngi alebbirenna La Tenribali. Nasipauju’ madécéng ri alempurenna ri atongengenna ri assitinajangenna napoasenni ade’ marajana arungngé ri Lipu’’ Tellu Kajuru’é (sumber: naskah LSW:h.83)
Terjemahan:
Tibalah hari yang telah disepakati, maka datanglah semua orang-orang Boli untuk berkumpul di Majauleng, pemerintah dan rakyat, tua dan muda, tidak ada yang tidak hadir, semua hadir untuk bermusyawarah dan mengingat adat dahulu di Cinnotabi. Yang sama diingat dan disetujui ialah: tidak saling merampas hak lapisan atas dan bawah, pemerintah dan rakyat harus berdasarkan hak-hak kebebasan, saling memperingati jika ada yang khilaf, saling menerima nasehat yang berakhir pada kebaikan sampai pada turunan masing-masing. Di sanalah dilantik Arung Mataesso Tuan kita La Tenribali, di Lipu’ Tellu Kajurué. Maka menjadilah pendamping raja sepupu sekalinya ketiga-tiganya, yang akan mendampingi kemuliaan La Tenribali. Saling mengatur dengan baik berdasarkan kejujuran, kebenaran, kepatutan yang diistilahkan sebagai “adat besar raja-raja”
di Lipu’ Tellu Kajurué (terj. Abidin, 1985)
Setelah para kepala limpo dan para matoa menyetujui usulan La Tenribali, maka tiada berapa lama kemudian diadakanlah perjanjian antara calon Arung Mataesso, yaitu La Tenribali dan rakyat ketiga limpo di bawah pohon bajo, di Boli. Sebelum janji diucapkan, maka ketiga orang Arung Limpo (raja), dengan sukarela melepas gelarnya masing-masing dan menyatakan diri adalah paddanreng yaitu anggota Dewan Pemerintah Pusat. Adapun La Tenritau menjadi Paddanreng Bettempola, La Tenripekka menjadi Paddanreng Taloténreng dan La Matareng menjadi Paddanreng Tuwa. Tiap paddanreng mengepalai sebuah limpo dan masing-masing limpo terdiri dari empat anak limpo. Limpo Bettempola membawahi anak limpo yakni Bettempola, Ujung Kalokkong, Lowa-lowa dan Botto. Limpo Taloténreng membawahi anak limpo
yakni Taloténreng, Ciung, Palékkoreng dan Ta’. Limpo Tuwa membawahi anak limpo yakni Aka’, Ménge’, Limpo dan Kampiri. Mereka menamakan wilayahnya Lipu’ Tellu Kajurué. Tiap anak limpo dibawahi oleh Arung Mabbicara (pendamping raja yang bertugas di bidang peradilan) yang sejenis dengan lembaga yang merumuskan undang-undang dalam Kerajaan Wajo (Abidin, 1999:125).
Perubahan yang terjadi seperti diutarakan di atas dalam pendekatan evolusi diistilahkan oleh Fried, (1968:102) sebagai perubahan ke arah masyarakat berlapis (stratified societies) yang disebabkan oleh meluasnya daerah teritorial, jumlah penduduk dengan ragam dan ciri-ciri penduduk yang beraneka ragam yang tidak dapat lagi diatur dalam sistem kekerabatan sehingga bentuk organisasi lainnya sebagai tambahan yang disempurnakan dalam berbagai aturan, adat istiadat, struktur organisasi dan lain sebagainya.
Menurut LSW, La Tenribali memperoleh gelar Batara Wajo berdasarkan ucapan rakyat Boli kepada La Tenribali sesudah dia dilantik s.b.b.: “Bataraé manitu ri méné’na jancita, tanaémani ri awana”, yang artinya hanya langit yang berada di atas janji kita dan hanya tanah yang ada di bawahnya. Mungkin karena batara itu merupakan perlambang keagungan dan pohon bajo merupakan pohon yang rindang daunnya yang memberikan wajo-wajo (bayang-bayang) yang menyejukkan bagi orang yang berteduh di bawahnya, maka negeri Boli diibaratkan sebagai pohon pengayom bagi rakyatnya, sehingga La Tenribali serta para paddanreng mengubah nama Boli menjadi Wajo.
Adapun nama penghimpunnya Tellu Kajurué dan diubah menjadi Tellué Turungeng Lakka (tiga negeri yang tak terpisahkan) (Abidin, 1985:402).
La Tenribali dan paddanreng beserta rakyatnya merumuskan suatu perjanjian mengenai hubungan-hubungan kekuasaan, tata pelaksanaan kebijakan kerajaan maupun dalam pemutusan suatu perkara yang antara lain:
a. Pemerintah pusat terdiri dari Batara Wajo sebagai pejabat yang dituakan dan ketiga paddanreng yang menguasai ketiga limpo.
b. Segala ketentuan hukum adat yang telah ada di daerah-daerah limpo tetap berlaku dan harus dihormati oleh raja. Hanya hal-hal baru yang belum diatur boleh dibuatkan peraturan adat yang setiap saat boleh diubah yang menyangkut kepentingan ketiga daerah dan pemerintah pusat. Adat tersebut harus ditetapkan melalui musyawarah (assipetangngareng).
c. Tiap limpo diakui hak-haknya dalam pengaturan hukum adat istiadat, pemutusan perkara, dan mengawasi jalannya pemerintahan Batara Wajo.
Dalam transkripsi dan transliterasi LSW yang dibukukan Andi Makkaraka Arung Bettempola No.128 juga menceritakan tentang kedudukan Paddanreng dan hubungannya dengan Batara Wajo selaku pemimpin di Wajo yang terkesan adanya pengaruh ikatan kekeluargaan dengan masih memegang beberapa tata aturan yang diatur sebelumnya oleh pemimpin sebelumnya yang mewariskan tahtanya, termasuk kecenderungan penegasan mengenai pemantapan antara kelompok kerabatnya sendiri maupun dengan lapisan masyarakat yang diperintah, coraknya tidak jauh dari sifat pengokohan struktur kekuasaan kelompok kerabat di tingkat internal yang diorganisasi dalam sebuah pranata kekerabatan. Pengaturan kekuasaan diantara ketiganya tetap berpegang pada tata aturan yang sudah disepakati sebelumnya. Dalam pengokohan