• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V PENUTUP

B. Saran

Penulis berharap studi tentang naskah Lontara Sukkuna Wajo (LSW) dapat disempurnakan dengan mengadakan penelitian lebih lanjut terkait nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Kerajaan ini memberikan gambaran secara lebih lengkap terhadap kandungan naskah LSW. Berdasarkan pengamatan penulis selama melakukan penelitian, naskah LSW masih banyak yang perlu diungkap di antaranya

adalah konsep demokrasi, sistem pemerintahan dan hukum adat yang diterapkan di Kerajaan Wajo.

Kajian-kajian tentang naskah lontara, perlu terus dilakukan dalam rangka studi kearifan lokal yang berlangsung pada masa silam dan dapat direlevansikan dalam kehidupan sekarang. Hal ini seharusnya dapat menjadi perhatian khusus oleh pemerintah dengan membentuk program-program dalam rangka studi tentang kearifan lokal tersebut. Sebab naskah-naskah lontara di Sulawesi Selatan masih banyak yang perlu dikaji, salah satunya naskah Lontara Sukkuna Wajo (LSW).

105

DAFTAR PUSTAKA

Abidin, Andi Zainal. 1985. Wajo pada Abad XV-XVI “Suatu Penggalian Sejarah Terpendam Sulawesi Selatan Dari Lontara”. Bandung: Alumni

.

---. 1999. Capita Selecta Sejarah Sulawesi Selatan. Makassar:

Hasanuddin University Press.

AKW, Bernadeta dan Hasanuddin. 2016. Lembah Walennae Lingkungan Purba dan Jejak Arkeologi Peradaban Soppeng. Makassar: Ombak.

Baroroh Baried, Siti dkk. 1985. Pengantar Teori Filologi. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Bulbeck, David dan Budianto Hakim. 2005. The Earthenware From Allangkanangnge ri Latanete Excavated in 1999. Walennae, volume 11, No. 2. Juni 2005. 99-106.

Danandjaja, James. 1994. Folklor Indonesia: Ilmu Gosip, Dongeng dan Lain-Lain.

Jakarta Utara: PT. Pustaka Utama Grafity.

Djamaris, Edwar. 2002. Metode Penelitian Filologi. Jakarta: CV Manasco.

Duli, Akin. 2010. Peranan Tosora Sebagai Pusat Pemerintahan Kerajaan Wajo Abad XVI-XIX. Walennae, volume 12, No. 2. Juni 2010. 143- 157.

Hadrawi, Muhlis. 2016. Jejak Awal Wanua-Wanua Soppeng dan Pertumbuhannya:

Kajian Berdasarkan Manuskrip. Makassar: Balai Arkeologi Sulawesi Selatan.

---. 2009. Assikalaibineng Kitab Persetubuhan Bugis. Makassar:

Ininnawa.

---. 2016. Otoritas Wanua: Kedudukan Sosial-Politik Wanua-Wanua Hingga Terbentuknya Kerajaan Soppeng. Makassar: Balai Arkeologi Sulawesi Selatan.

---. 2017. Bangkala dan Binamu: Suatu Kajian Naskah Lontara Dalam Sosial-Politik Jeneponto Kuno. Etnografi Indonesia, volume 2 No. 2.

Desember 2017. 116-132.

Ilyas, Husnul Fahimah. 2011. Lontara Sukkuna Wajo: Telaah Ulang Awal Islamisasi di Wajo. Tesis. Fakultas adab dan Humaniora. (UIN) Syarif Hidayatullah.

Jakarta: Tidak terbit.

Kaharuddin, 1994. Pemukiman Kuno Allangkanangnge ri La tanete, Kecamatan Pammana, Kabupaten Wajo: Suatu Analisis Arkeologi terhadap kompleks permukiman kuno yang terletak di tiga desa dalam wilayah Kecamatan Pammana, Kabupaten Wajo. Fakultas Ilmu Budaya. Universitas Hasanuddin.

Makassar: Tidak terbit.

Lamallongeng, Asmat Riady dkk. 2011. Kamus Lengkap Bahasa Bugis-Indonesia.

Makassar: De la Macca.

Mahmud, Irfan. 2001. Awal Mula Wajo dan Aspek Ruang Situs Inti Wajo Abad XV-XIX Masehi. Walennae, volume 4, No. 7. November 2001. 47-58.

Mallombasi, Syuaib. 2009. Sejarah Kerajaan-Kerajaan Sulawesi Selatan. Makassar:

Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Sulawesi Selatan.

Rais, Jacub, dkk. 2008. Toponimi Indonesia: Sejarah Budaya yang Panjang dari Pemukiman Manusia dan Tertib Administrasi. Jakarta: Paradnya Paramita.

Rustan dan Adi Mulyadi. 2001. Tinggalan Menhir di Bekas Kerajaan Wajo dan Pendahulunya. Walennae, volume 5, No. 2. Juni 2001.47-54.

Yusuf, Andi Muhammad. 2012. Reproduksi Status Tradisional Dalam Praktik Politik di Kabupaten Wajo. Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Universitas Hasanuddin. Makassar: Tidak terbit.

108 Glosari

1. Adat

Adat adalah gagasan kebudayaan yang terdiri dari nilai-nilai kebudayaan, norma, kebiasaan, kelembagaan dan hukum adat yang lazim dilakukan di suatu daerah dengan kata lain aturan-aturan yang berciri tradisional.

2. Batara

Batara adalah gelar yang diberikan kepada seseorang yang menjadi raja pada Kerajaan Wajo.

3. Boli

Boli adalah salah satu daerah kekuasaan Wajo yang menjadi pusat pemerintahan Kerajaan Wajo.

4. Bugis

Bugis adalah salah satu suku yang berada di Sulawesi Selatan.

5. Cinnotabi

Cinnotabi adalah salah satu kerajaan kecil yang pernah ada sebelum terbentuknya Wajo sebagai sebuah kerajaan federasi (kesatuan). Kerajaan Cinnotabil inilah yang kemudian bertransformasi menjadi Kerajaan Wajo.

6. Federasi

Federasi adalah sebuah bentuk pemerintahan di mana beberapa negara bagian bekerja sama dengan membentuk kesatuan yang disebut negara federal.

Masing-masing daerah bagian memiliki beberapa otonomi khusus dan pemerintahan pusat mengatur beberapa urusan yang dianggap nasional.

7. Filologi

Filologi adalah ilmu yang mempelajari tentang naskah-naskah lama (kuno) atau ilmu yang berhubungan dengan karya masa lampau dalam bentuk tulisan.

8. Folklor

Folklor merupakan sebagian kebudayaan suatu kolektif, yang tersebar dan diwariskan turun-temurun, di antara kolektif macam apa saja, secara tradisional dalam versi yang berbeda, baik dalam bentuk lisan maupun contoh yang disertai dengan gerak isyarat atau alat pembantu gerak isyarat atau alat pembantu pengingat (mnemonic device).

9. Hubungan

Hubungan adalah kesinambungan interaksi antara dua orang atau lebih yang memudahkan proses pengenalan satu dengan yang lain.

10. Kerajaan

Kerajaan adalah tempat atau wilayah seorang raja memerintah atau tempat dimana seorang raja memiliki kekuasaan.

11. Konsep

Konsep adalah sesuatu yang umum atau representasi intelektual yang abstrak dari situasi, objek atau peristiwa dengan kata lain suatu ide (akal pikiran) atau gambaran mental.

12. Legenda Setempat

Legenda merupakan cerita yang berhubungan dengan suatu tempat, nama tempat, dan bentuk topografi, yakni bentuk permukaan suatu daerah seperti berbukit bukit, berjurang dan sebagainya.

13. Limpo

Limpo secara khusus merujuk pada arti kampung yang menjadi pemukiman, namun pada konteksnya merujuk arti kampung atau unit pemukiman berskala kecil.

14. Lipu’

Lipu’ memiliki arti yang kurang lebih sama dengan kata wanua yakni merujuk pada

‘wilayah pemukiman’ atau perkampungan manusia.

15. Lontara

Lontara adalah aksara tradisional masyarakat Bugis-Makassar.

16. Lontara Sukkuna Wajo

Lontara Sukkuna Wajo atau disingkat LSW adalah histografi yang menceritakan sejarah panjang Kerajaan Wajo, kumpulan catatan atau silsilah keturunan raja-raja Wajo, keluarga bangsawan Kerajaan Wajo dan sejarah yang dialami oleh orang Wajo dahulu. Lontara Sukkuna Wajo merupakan buku sejarah resmi yang ditetapkan oleh Pemerintah Kabupaten Wajo.

17. Mitos

Mitos merupakan suatu cerita yang memberikan pedoman atau arahan tertentu kepada sekelompok orang.

18. Naskah

Naskah merupakan semua bahan tulisan tangan peninggalan nenek moyang kita pada kertas, lontar, kulit kayu dan rotan.

19. Paddanreng

Paddanreng merupakan jabatan dalam Kerajaan Wajo yang berarti pendamping raja yang bertugas di pemerintahan atau Dewan Pemerintah Pusat.

20. Penyuntingan Teks

Penyuntingan teks adalah metode dalam penelitian filologi dengan tujuan melahirkan atau menyajikan edisi teks dalam bentuk terbaca.

21. Perjanjian

Perjanjian adalah suatu peristiwa dimana seseorang atau satu pihak berjanji kepada pihak lain atau dimana dua orang atau dua pihak itu saling berjanji untuk melaksanakan suatu hal.

22. Politik

Politik adalah seni dan ilmu untuk meraih kekuasaan secara konstitusional maupun nonkonstituonal.

23. Tellu Lipu’ Kajurué

Tellu Lipu’ Kajurué adalah tiga daerah yang bersepakat untuk bersatu, terdiri dari (Majauleng, Sabbamparu dan Tekkalalla). Ketiga daerah tersebut mempunyai wewenang yang sama untuk melaksanakan pemerintahan dalam arti luas di tingkat pusat kerajaan, sedang di daerah masing-masing mereka memerintah tanpa campur tangan kepala persekutuan yang lain.

24. Toponimi

Toponimi secara harfiah artinya nama tempat di muka bumi sedangkan secara etimologi adalah gambaran tentang permukaan atau tempat-tempat di bumi.

25. Wanua

Wanua dalam bahasa Bugis memiliki varian kata banuwa yang artinya sama dengan kata wanua, konteksnya adalah pemukiman manusia. Konteks wanua dalam skala kecil berupa kampung yang mungkin dihuni minimal 60 kepala, namun pada skala yang lebih besar wanua dapat berarti kampung besar dan berpenduduk banyak.

Ket: Naskah Lontara Sukkuna Wajo (LSW) koleksi H. Ahmad Saransi (Kabid Pembinaan dan Pengembangan Kearsipan pada Kantor Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan).

Ket: Naskah Lontara Sukkuna Wajo (LSW) koleksi H. Ahmad Saransi (Kabid Pembinaan dan Pengembangan Kearsipan pada Kantor Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan).

Dokumen terkait