• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hubungan Strategi Belajar dan Prestasi Belajar

BAB II. DASAR TEORI

D. Hubungan Strategi Belajar dan Prestasi Belajar

Strategi belajar secara umum ada dua yaitu strategi kognitif dan metakognitif. Strategi kognitif memiliki tiga konstrak, yaitu: rehearsal, elaborasi, dan organisasi, sedangkan strategi metakognitif juga memiliki tiga konstrak, yaitu:monitoring,planning, dan regulasi.

Rehearsal yaitu mengulang informasi secara sadar untuk meningkatkan lamanya informasi tinggal dalam memori. Ada beberapa proses yang terdapat dalam memori, seperti: pengodean, penyimpanan, dan pemanggilan kembali. Untuk menghasilkan memori yang baik, maka pemrosesan informasi dilakukan secara semantik atau dalam hal makna. Hal ini disebabkan analisis makna yang mendalam memungkinkan seseorang untuk mengingat informasi dengan lebih baik karena informasi tersebut disimpan dalam memori jangka panjang (long term memory) dengan lebih efisien (Craik dan Lockhart, dalam Huffman, Vernoy, & Vernoy, 2000). Hal ini juga disebabkan kemampuan memori mengalami peningkatan selama masa anak-anak dan remaja (Lorsbach & Reimer, 1997; Richards (1997) dalam Huffman et al.). Oleh karena itu, mahasiswa diasumsikan sudah memiliki kemampuan memori yang baik. Dengan kemampuan memori yang baik, mahasiswa diasumsikan mampu mengingat dan memanggil kembali memori tersebut dengan lebih lancar jika suatu saat memori tersebut dibutuhkan, misalnya ketika

menyelesaikan tugas belajar, sehingga tugas tersebut dapat diselesaikan dengan baik.

Informasi-informasi yang disimpan terlebih dahulu suatu ketika dapat mengalami penggabungan dengan informasi baru melalui proses elaborasi. Elaborasi merupakan proses memikirkan cara yang akan digunakan untuk mempelajari materi supaya materi tersebut memiliki koneksi atau hubungan dengan informasi atau ide yang sudah ada dalam pikiran pembelajar. Dengan kata lain, elaborasi merupakan proses kognitif di mana pembelajar menggunakan pengetahuan atau informasi awal untuk mengembangkan ide baru dengan cara tertentu (Ormrod, 2011). Di sisi lain, Santrock (2009) mendefinisikan elaborasi sebagai suatu keluasan pemrosesan informasi yang terlibat dalam pengodean informasi. Elaborasi memiliki fungsi yang baik dalam pengodean karena elaborasi menambah kekhususan kode memori. Ormrod menambahkan bahwa semakin sering pembelajar menggunakan apa yang telah diketahui untuk membantu dalam memahami dan menginterpretasi materi baru, maka akan semakin efektif pula dia menyimpan dan mengingatnya. Selain itu, ketika seseorang mengelaborasi informasi, ada lebih banyak informasi yang disimpan. Ketika ada lebih banyak informasi yang disimpan, maka akan semakin mudah pula untuk membedakan suatu informasi dengan informasi yang lain (Santrock, 2009:361). Oleh karena itu, seorang pembelajar akan mampu membuat suatu pemahaman baru yang relevan dengan situasi sekarang (Sárvári et al., 2010). Dengan adanya pemahaman yang terus

menerus diperbarui, maka seorang pembelajar akan mampu meningkatkan penguasaannya terhadap suatu materi sehingga dia mampu mengatasi setiap tugas yang diberikan berkenaan dengan materi tersebut.

Proses kognitif di mana seorang pembelajar membuat hubungan antara berbagai potongan informasi yang dibutuhkan untuk belajar yang kemudian dibentuk menjadi suatu struktur yang kohesif disebut organisasi (Ormrod, 2011:194). Ketika seorang pembelajar melakukan organisasi, dia mengelompokkan informasi-informasi yang ada berdasarkan tatanan tertentu. Dalam mengelompokkan berbagai informasi tersebut diperlukan adanya suatu pemahaman terhadap materi supaya pembelajar mampu memilih tatanan yang tepat untuk pengelompokan tersebut. Informasi atau materi yang terorganisasi dengan baik akan lebih mudah dipelajari dan diingat daripada informasi yang tidak atau kurang diorganisasi (Durso & Coggins dalam Slavin, 2009). Pengelompokan ini juga akan memudahkan dalam memahami dan memanggil informasi. Dengan demikian, jika suatu ketika seorang pembelajar mengalami kesulitan dengan tugas belajarnya maka dia dapat lebih mudah menggali informasi dan pengetahuan yang dimilikinya karena informasi-informasi tersebut sudah disimpan secara teratur dan tidak saling bercampur dengan informasi-informasi yang lain yang kurang relevan.

Dari sisi metakognitif, menurut Ormrod, monitoring adalah proses pengecekan terhadap diri sendiri untuk memverifikasi pemahaman dan memori tentang informasi yang baru saja diperoleh. Seorang

pembelajar yang melakukan mekanisme monitoring mampu mengecek tingkat kognitifnya sendiri karena pembelajar tahu ketika dia tidak mengerti dan bagaimana membetulkan diri sendiri (Loizidou & Koutselini, 2007; Schunk & Zimmerman dalam Slavin, 2009). Hal ini menuntut adanya kesadaran akan pemahaman dan hasil tugas yang dilakukan pembelajar (Al-Harthy & Was, 2010; Lv & Chen, 2010). Kemampuan metakognitif untuk memonitor prestasi siswa sendiri dengan menggunakan strategi yang berbeda dalam belajar dan mengingat dapat berkembang bersamaan dengan umur (Djiwandono, 2006:168). Oleh karena itu, mahasiswa diasumsikan memiliki kemampuan monitoring yang lebih baik sehingga dia semakin efektif dalam belajar karena sudah mengetahui di bagian mana saja dia mengalami kesulitan. Hal ini membuat mahasiswa menjadi lebih fokus dalam mempelajari materi yang belum dikuasai supaya pemahamannya terhadap materi tersebut semakin baik dan mendalam. Dengan pemahaman yang baik dia akan mampu menunjukkan performansi akademik yang lebih baik pula.

Seorang pembelajar memilih strategi yang sesuai dan manajemen sumber daya melalui proses planning dan regulasi. Planning

mengindikasikan pengaturan siswa terhadap tujuan maupun subtujuan belajarnya serta bagaimana dia berencana menyusun, mengatur waktu, dan melengkapi kegiatan untuk mencapai tujuan-tujuannya tersebut (Zimmerman, 1989). Hal tersebut memampukan pembelajar untuk mengatur prioritas dalam belajar. Dengan adanya prioritas, pembelajar

dapat mengatur dirinya sendiri dengan lebih baik dan lebih efisien karena sudah ada pedoman langkah-langkah yang ditempuh. Oleh karena itu, proses belajar akan menjadi lebih terarah. Di samping itu, pembelajar juga dapat memodifikasi kondisi lingkungan tempat belajarnya sehingga dapat diperoleh lingkungan yang kondusif dan mendukung proses belajar.

Regulasi adalah strategi yang digunakan untuk membetulkan atau melengkapi hal-hal yang kurang yang diketahui ketika monitoring

(Dowson & McInerney, 2004:298). Dengan demikian, informasi atau materi yang diterima pembelajar akan semakin lengkap. Di samping itu, pembelajar tidak hanya akan menguasai apa yang sudah dimengerti, namun dia juga akan dapat menguasai hal-hal lain yang sebelumnya belum dimengerti. Hal ini akan membantu pembelajar mengerjakan tugas maupun ujian karena dia menjadi semakin kaya dalam pengetahuan dan pemahaman.

Kedua strategi tersebut digunakan secara bersamaan karena masing-masing strategi memiliki kekhasan masing-masing yang akan saling melengkapi. Strategi kognitif berperan dalam keterlibatan (engagement) pembelajar pada proses belajar, sedangkan strategi metakognitif pada kesadaran pembelajar terhadap proses belajar yang sedang dijalani. Keterlibatan akan membangun dasar-dasar penguasaan dan kesadaran membangun efektifitas serta efisiensi. Ketika pembelajar menguasai materi, maka dia akan mampu menjawab berbagai tantangan yang muncul selama proses belajar berlangsung. Kesadaran akan memacu

efektivitas dan efisiensi karena ketika pembelajar menyadari di mana letak kesulitan ataupun kekurangannya, dia akan fokus pada penyelesaian masalahnya tersebut. Kemampuan pembelajar untuk mengaktifkan informasi lama, dan secara tepat menggunakan berbagai strategi kognitif dan metakognitif dengan tujuan untuk mendapat ataupun mengintegrasikan pengetahuan baru, akan mempengaruhi kualitas keterlibatannya dalam proses belajar itu sendiri serta keberhasilan akademiknya secara keseluruhan (Dowson & McInerney).

Strategi belajar Kognitif Elaborasi Rehearsal Organisasi Menyimpan informasi ke dalam memori Menggabungkan informasi yang lama dengan informasi baru

Mengelompokkan informasi

Memudahkan dalam memahami dan memanggil Membuat suatu

pemahaman baru yang relevan dengan situasi baru

Secara aktif memproses informasi Terlibat dengan materi Metakognitif Monitoring Planning Regulasi Mampu mengecek tingkat kognitifnya sendiri Menyadari tingkat pemahaman dan hasil kerja

Memilih strategi yang sesuai dan manajemen sumber daya Efektivitas dan efisiensi dalam belajar Prestasi belajar yang baik Penguasaan materi

Dokumen terkait