• Tidak ada hasil yang ditemukan

HUBUNGAN ANTARA STRATEGI BELAJAR DAN PRESTASI BELAJAR MAHASISWA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2019

Membagikan "HUBUNGAN ANTARA STRATEGI BELAJAR DAN PRESTASI BELAJAR MAHASISWA"

Copied!
87
0
0

Teks penuh

(1)

HUBUNGAN ANTARA STRATEGI BELAJAR DAN

PRESTASI BELAJAR MAHASISWA

SKRIPSI

Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat

Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi

Program Studi Psikologi

Oleh:

Rosiana Indah Purnomo NIM: 079114088

PROGRAM STUDI PSIKOLOGI JURUSAN PSIKOLOGI

FAKULTAS PSIKOLOGI

UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA

(2)

i

HUBUNGAN ANTARA STRATEGI BELAJAR DAN

PRESTASI BELAJAR MAHASISWA

SKRIPSI

Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat

Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi

Program Studi Psikologi

Oleh:

Rosiana Indah Purnomo NIM: 079114088

PROGRAM STUDI PSIKOLOGI JURUSAN PSIKOLOGI

FAKULTAS PSIKOLOGI

UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA

(3)
(4)
(5)

iv

Karya ini aku persembahkan untuk:

Jesus Christ, my Almighty God,

for guiding me so that I can stand right here, right now..

it’s all about You..

and it’s only by Your grace..

My beloved dad, mom, and brothers,

for your pray and support..

for raising me up when I was down..

for loving me the way I am..

My friends, students, and partners-in-crime,

(6)

v

MOTTO

“Sukacita Surga”

(True Worshippers - Captivated)

T’rima sukacita surga, itulah kekuatan bagi jiwa

Kudapat rasakan kasih-Nya di tengah badai yang bergelora

T’rima sukacita surga, itulah kekuatan bagi jiwa

Kudapat saksikan kuasa-Nya taklukkan badai yang bergelora

Haleluya! Kau ada dalam hatiku

Tak kan patah semangatku, tak kan hilang kekuatanku

Haleluya! Ku mau bersorak bagi-Mu

Sukacita surga nyata penuhiku

...tetapi orang-orang yang menanti-nantikan Tuhan mendapat kekuatan baru: mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya; mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah (yes.40:31)

(7)
(8)

vii

HUBUNGAN ANTARA STRATEGI BELAJAR DAN

PRESTASI BELAJAR MAHASISWA

Rosiana Indah Purnomo

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara strategi belajar dan prestasi belajar mahasiswa. Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah ada hubungan positif antara strategi belajar dan prestasi belajar. Subyek penelitian ini adalah mahasiswa S1 Universitas Sanata Dharma Yogyakarta yang berasal dari dua puluh tiga program studi dari angkatan 2007, 2008, dan 2009. Proses pengumpulan data strategi belajar dilakukan dengan menggunakan skala

Goal Orientation and Learning Strategies Survey (GOALS-S) sedangkan prestasi belajar dengan

metode dokumentasi berupa IPK. Reliabilitas skala GOALS-S diuji dengan menggunakan metode koefisien reliabilitas Alpha Cronbach dan diperoleh hasil sebesar 0.733 dari 53 aitem. Data dianalisis dengan teknik korelasiSpearman’s rho. Hasil analisis menunjukkan besarnya koefisien

korelasi yang dicapai adalah 0.091 dengan taraf signifikansi 0.010 (p<0.025). Berdasarkan hasil tersebut, hipotesis yang menyatakan bahwa ada hubungan positif antara strategi belajar dan prestasi belajar diterima.

(9)

viii

THE RELATION BETWEEN LEARNING STRATEGIES AND

STUDENTS’ LEARNING ACHIEVEMENT

Rosiana Indah Purnomo

ABSTRACT

This research is aimed to know the relation between learning strategies and students’ learning achievement. The hypothesis proposed in this research is that there was a positive relation between learning strategies and achievement. The research subjects were twenty three S1 study programs students of Sanata Dharma University Yogyakarta from 2007, 2008, and 2009 academic year. Learning strategies data collection process was done using Goal Orientation and Learning Strategies Survey (GOALS-S), while the learning achievement was done using documentation method of GPA. The reliability of GOALS-S was tested using Alpha Cronbach co-efficient reliability method, and was obtained the result 0.733 of 53 items. The data was analyzed using Spearman’s rho correlation technique. The result shows that the co-efficient was 0.091 with 0.010 (p<0.025) level of significance. Based on it, hypothesis states that there was a positive relation between learning strategies and learning achievement was accepted.

(10)
(11)

x

KATA PENGANTAR

Segala puji, hormat, syukur, dan kemuliaan penulis naikkan pada

Tuhan karena atas penyertaan, pimpinan, dan berkat-Nya sehingga penulis mampu

menyelesaikan tulisan ini. Penulis menyadari bahwa penulis mendapat banyak

bantuan yang tulus dari berbagai pihak selama penulis mengerjakan tulisan ini.

Oleh karena itu, penulis menyampaikan rasa terima kasih pada mereka yang telah

membantu penulis baik selama masa studi terlebih dalam hidup penulis:

1. Tuhan Yesus Kristus, sang Alfa, atas kasih dan anugrah-Nya sampai saat ini.

Bab tentang kuliah sudah selesai di tangan-Mu, bab-bab berikutnya pun

kuserahkan dalam tangan-Mu.

2. Papa, Mama, dek Hans dan Joy, terima kasih untuk kesempatan yang

diberikan sehingga penulis bisa kuliah dan menyelesaikan studi. Terima kasih

untuk semangat yang diberikan dalam bentuk apapun juga.

3. Ibu Christina Siwi H. selaku Dekan fakultas Psikologi USD atas fasilitas yang

diberikan selama penulis studi di fakultas ini.

4. Ibu Titik Kristiyani selaku kepala program studi sekaligus dosen pembimbing

skripsi atas masukan, kritikan, dan bimbingan selama proses pengerjaan

skripsi ini.

5. Bapak Y. Heri Widodo selaku dosen pembimbing akademik yang setiap

(12)

xi

6. Segenap dosen pengajar serta staf yang ada di lingkungan fakultas Psikologi

atas berbagai ilmu dan pelajaran hidup yang diberikan, bantuan, informasi,

serta pelayanan.

7. Pdt. Jairus Hasugian, M. Th dan Pdm. Linawati Santoso selaku Gembala

Jemaat GIA Klaten yang selalu mendukung dalam doa dan semangat;

anak-anak dan teman-teman Kebaktian Anak-anak-anak (KAA) yang pernah jadi subyek

salah satu tugas kuliah; teman-teman sie Musik Pujian, terkhusus untuk ko

Hanny+cik Lan+Tasya, Linda, Jo, Kia, Ronel, Jerkun; dan semua jemaat atas

dukungan doanya. Tidak lupa untuk kak Marlon dan jemaat GBI Tiberias

Klaten atas dukungan doanya.

8. Sahabat-sahabatku: Gabey, sukses buat skripsi, karir, hidup, dan cintamu

juga. BFF; Alm. Aristarkhus Daely, terima kasih untuk bantuanmu di

awal-awal kuliahku yang tidak akan pernah aku lupakan. Sampai ketemu di surga

sana.

9. Teman-teman seperjuangan: Linda, Dewi, Silvy, dan Ratih. Dari kalianlah

aku memaknai kata ‘seperjuangan’. Teman-teman autis: Hellen, Nadya,

Cangang, Ratih lagi, Wening, dan Nana cabe yang memberi penghiburan di

kala penat dan bosan melanda. Guru statistikku Ateng. Keluarga Cemara:

Kieky, Tisa, Kiky ‘umi’, Putra ‘Abah’, dan Ganis. Teman-teman ruZuhErs:

mb’Githa, mb’Wiera, mb’Nurma, ko’Ucuph untuk kebersamaan, kenangan,

dan doa-doa kalian. Teman-teman PMK Eben-haezer: mas Ari, Yoga,

k’Chris, k’Dima, Noni, Dicky, Alvi, Rea, Fiona, Raisa, Gloria, Waldi, Erick

(13)

xii

10. Rekan di Bambini Montessori School: Ms. Vanda selaku direktur, Mr. Slamet

selaku kepala sekolah, and Ms. Anna selaku wakil kepala sekolah untuk

toleransi yang diberikan. Secara khusus untuk partner guru di kelas Sun, Ms.

Wida, maaf karena sering meninggalkanmu di siang hari. Untuk anak-anak

kelas Sun yang menjadi sumber energiku, terima kasih banyak karena telah

mengajariku banyak hal.

11. Semua teman yang menjadi subyek penelitian ini, serta kalian yang

membantu tersebarnya skala ini. Terima kasih banyak.

12. Sekali lagi buat Tuhan Yesus, sang Omega, terima kasih untuk

malaikat-malaikat yang Kau berikan untukku. Aku memulai bersama Engkau dan aku

mengakhirinya bersama-Mu juga, dan kumasuki bab baru dalam hidup

bersama-Mu.Soli Deo Gloria.

Dengan segala kerendahan hati, penulis menyadari bahwa karya ini

masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu, penulis menerima segala bentuk

masukan, usulan, perbaikan, maupun kritik yang bersifat membangun untuk

penyempurnaan tulisan ini.

Akhirnya, penulis harap tulisan ini dapat memberi manfaat bagi semua

pihak.

Yogyakarta, 29 November 2011

(14)

xiii DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL……… i

HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING……… ii

HALAMAN PENGESAHAN……….. iii

HALAMAN PERSEMBAHAN……….. iv

HALAMAN MOTTO………... v

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA……….. vi

ABSTRAK……… vii

ABSTRACT……….. viii

PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI……….. ix

KATA PENGANTAR……….. x

DAFTAR ISI………... xiii

DAFTAR TABEL………... xvi

BAB I. PENDAHULUAN……… 1

A. Latar Belakang ……….... 1

B. Rumusan Masalah ………... 5

C. Tujuan Penelitian ……… 5

D. Manfaat Penelitian ……….. 5

BAB II. DASAR TEORI………... 6

A. Strategi Belajar ……….... 6

1. Pengertian Strategi Belajar ……….. 6

(15)

xiv

3. Faktor yang Mempengaruhi Penggunaan Strategi Belajar ….. 11

B. Prestasi Belajar ……… 13

1. Pengertian Prestasi Belajar ……….. 13

2. Pengukuran Prestasi Belajar ……… 14

3. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Prestasi Belajar …………15

C. Mahasiswa ………... 19

D. Hubungan Strategi Belajar dan Prestasi Belajar ………. 20

E. Hipotesis ……….. 27

BAB III. METODOLOGI PENELITIAN……….. 28

A. Tujuan Penelitian ………. 28

B. Jenis Penelitian ……… 28

C. Variabel Penelitian ……….. 28

D. Definisi Operasional ……….... 28

E. Subyek Penelitian ……… 29

F. Metode dan Alat Pengumpulan Data ……….. 30

G. Validitas dan Reliabilitas Alat Ukur ………33

H. Hasil Uji Coba ………. 34

I. Metode Analisis Data ……….. 36

BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN………. 38

A. Pelaksanaan Penelitian ……… 38

B. Deskripsi Subyek Penelitian ……… 39

C. Deskripsi Data ………. 39

(16)

xv

E. Pembahasan ……… 42

BAB V. PENUTUP……….. 46

A. Kesimpulan ……….. 46

B. Saran ……… 46

DAFTAR PUSTAKA……… 47

(17)

xvi

DAFTAR TABEL

Tabel 1. Ekuivalensi Huruf Mutu ……… 15

Tabel 2.Blue PrintSkala Sebelum Uji Coba ……….. 32

Tabel 3. Bobot Nilai Aitem ………. 33

Tabel 4.Blue PrintSkala Setelah Uji Coba ……… 36

Tabel 5.Blue PrintSkala Setelah Uji Coba dengan Penyesuaian Nomor ….. 37

Tabel 6. Data Demografi Subyek ……… 40

Tabel 7. Deskripsi Data Penelitian ……….. 40

Tabel 8. Hasil Uji Normalitas ………. 41

Tabel 9. Hasil Uji Linieritas ……… 42

(18)

1 BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Mahasiswa adalah orang yang belajar di perguruan tinggi (Kamus

Besar Bahasa Indonesia) atau peserta didik yang terdaftar dan belajar pada

universitas (Peraturan Akademik Universitas Sanata Dharma, 2010). Dari

segi usia, mahasiswa pada umumnya berusia 17 tahun sampai 24 tahun.

Menurut Hurlock (1990), pada usia tersebut seseorang berada pada tahap

remaja akhir (16 atau 17 sampai 18 tahun) menuju dewasa awal (18 – 40

tahun). Mahasiswa juga dapat dikategorikan sebagai pembelajar dewasa

(Supratiknya, 2006).

Tugas utama mahasiswa adalah menyelesaikan pendidikan tinggi

yang sedang ditempuh. Dalam menyelesaikan tugas tersebut, mahasiswa

dihadapkan pada berbagai tuntutan akademik dalam setiap mata kuliah

yang diambil. Pada akhirnya, kemampuan mahasiswa dalam

menyelesaikan tuntutan tersebut tampak dalam prestasi belajar yang

dilambangkan dengan nilai akhir yang diakumulasi menjadi suatu indeks

prestasi akademik (IPK).

Tinggi rendahnya prestasi belajar seorang mahasiswa menunjukkan

bagaimana dia berproses selama masih menjadi mahasiswa di bangku

(19)

dilakukan mahasiswa tersebut. Jika prestasi belajar mahasiswa itu baik,

maka dia tentunya melewati suatu proses belajar yang mendukung pula.

Meskipun demikian, berdasarkan pengalaman peneliti mengikuti

proses belajar di sebuah universitas di Yogyakarta, peneliti mendapati

bahwa terkadang cukup sulit untuk memperoleh prestasi belajar yang

tinggi di suatu bidang atau mata kuliah sekalipun telah berusaha atau

belajar keras. Hal ini juga dirasakan oleh beberapa teman peneliti. Oleh

karena itu, prestasi belajar atau IPK yang diperoleh terkadang kurang

sesuai dengan apa yang diharapkan hanya karena prestasi di salah satu

mata kuliah kurang maksimal.

Tinggi rendahnya prestasi akademik ini dapat dipengaruhi oleh

beberapa faktor. Sebuah survey dilakukan terhadap 39 mahasiswa fakultas

Psikologi pada hari Rabu, 17 Februari 2011 untuk mengetahui

faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi prestasi belajar mereka. Jawaban yang

diberikan bermacam-macam, namun secara umum didapat adanya faktor

motivasi (dinyatakan oleh 19 dari 39 mahasiswa), suasana hati (13 dari 39

mahasiswa), strategi atau cara belajar (13 dari 39 mahasiswa), lingkungan

(12 dari 39 mahasiswa), dukungan sosial (11 dari 39 mahasiswa), dan

beberapa faktor lain, seperti intelegensi, kondisi fisik, cara mengajar

dosen, serta keberuntungan.

Dari beberapa faktor tersebut, pada penelitian ini peneliti memilih

untuk mengkaji cara atau strategi belajar. Peneliti tidak meneliti

(20)

yang masih dapat berubah ataupun ditingkatkan. Selain itu, penelitian

mengenai strategi belajar masih jarang dijumpai, tidak seperti motivasi

belajar seperti yang dilakukan oleh Aplugi (2010), Pratiwi (2010),

Noviastuti (2009) maupun dukungan sosial sebagaimana penelitian

Apriliya (2007) dan Chusna (2009).

Strategi berarti prosedur mental yang berbentuk tahapan yang

memerlukan alokasi upaya-upaya yang bersifat kognitif dan selalu

dipengaruhi oleh pilihan-pilihan kognitif atau pilihan-pilihan kebiasaan

belajar (Syah, 2008:51). Ormrod (2008) menyimpulkan strategi belajar

sebagai satu atau lebih proses-proses kognitif yang digunakan secara

sengaja untuk tugas-tugas belajar tertentu.

Menurut teori tahap perkembangan kognitif Piaget, mahasiswa

seharusnya sudah melampaui tahap operasional formal sehingga mampu

berpikir secara abstrak dan lebih logis. Oleh karena itu, mahasiswa

seharusnya semakin mampu menemukan manfaat dari proses-proses

kognitif dan menggunakannya lebih sering lagi (Ormrod, 2008). Selain itu,

hasil beberapa penelitian yang dikutip oleh Dowson dan McInerney (2004)

menyatakan bahwa cara murid menyusun dan menyelaraskan strategi dan

tujuan mereka yang beragam terkait erat dengan hasil akademik mereka.

Di samping itu, berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Watson,

McSorley, Foxcroft, dan Watson (2004) didapat bahwa ada hubungan

antara performansi akademik dan motivasi, strategi belajar, dan

(21)

umum, prestasi akademik memiliki hubungan positif dengan strategi

belajar yang mendalam dan negatif dengan strategi belajar permukaan

(Al-Harthy & Was, 2010; Diseth, Pallesen, Brunborg, & Larsen, 2010).

Weinstein dan Mayer (dalam Pintrich & De Groot, 1990) menemukan

bahwa strategi kognitif (rehearsal, elaborasi, dan organisasi) dapat

mendukung adanya keterlibatkan kognitif dalam proses belajar dan

menghasilkan tingkat prestasi yang lebih tinggi. Duncan dan McKeachie

(2005) juga menyatakan bahwa murid yang menggunakan strategi

pemrosesan yang mendalam, seperti elaborasi dan organisasi, dan

mencoba untuk mengontrol kognisi dan perilaku mereka melalui

penggunaan strategi metakognitif, yaitu perencanaan, pemantauan, dan

pengaturan atau regulasi, pada umumnya memiliki hasil yang lebih baik

dalam pengerjaan tugas, ujian, makalah, dan nilai akhir.

Strategi belajar ada bermacam-macam, namun strategi-strategi

belajar tersebut dapat digolongkan menjadi dua kelompok besar yaitu

strategi kognitif dan metakognitif (Dowson dan McInerney, 2004).

Berdasarkan pengamatan informal peneliti, diketahui bahwa mahasiswa

menerapkan cara atau strategi belajar yang berbeda satu dengan yang lain.

Ada mahasiswa yang menggunakan strategi mendalam, yang meliputi

operasionalisasi dari kedua strategi tersebut. Di akhir semester, mahasiswa

tersebut memperoleh nilai akhir yang baik sehingga IPK-nya pun tinggi.

Di sisi lain, ada pula mahasiswa yang menggunakan strategi level

(22)

dalam waktu yang relatif singkat. Meskipun demikian prestasi yang

diperoleh pun tidak jauh berbeda dengan mahasiswa dengan level

pemrosesan mendalam.

Temuan tersebut semakin menguatkan peneliti untuk melakukan

penelitian guna mengetahui ada tidaknya hubungan antara strategi belajar

dan prestasi belajar mahasiswa

B. RUMUSAN MASALAH

Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah apakah ada

hubungan antara strategi belajar dan prestasi belajar mahasiswa?

C. TUJUAN PENELITIAN

Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui ada tidaknya

hubungan antara strategi belajar dan prestasi belajar pada mahasiswa.

D. MANFAAT PENELITIAN

1. Manfaat Teoretis

 Menambah atau menguatkan hasil-hasil penelitian sebelumnya

di bidang psikologi pendidikan, khususnya mengenai hubungan

antara strategi belajar dan prestasi belajar mahasiswa.

2. Manfaat Praktis

 Apabila penelitian ini memberikan hasil yang positif,

diharapkan mahasiswa dapat menerapkan strategi belajar yang

(23)

6 BAB II

LANDASAN TEORI

A. STRATEGI BELAJAR

1. Pengertian Strategi Belajar

McKeachie et al. (1985) menyatakan bahwa strategi belajar

merupakan suatu proses yang mempengaruhi masuk dan bertahannya

suatu informasi dimana proses tersebut melibatkan fungsi kognisi dan

perilaku seseorang. Ormrod (2008) menambahkan bahwa strategi

belajar merupakan suatu proses yang digunakan secara sengaja untuk

menghadapi tugas-tugas belajar. Lawson (dalam Syah, 2008) juga

menambahkan bahwa strategi tersebut tidak hanya digunakan untuk

memecahkan masalah tetapi juga untuk mencapai tujuan belajar yang

telah ditetapkan. Hal yang serupa diungkapkan oleh Schumaker dan

Deshler (dalam Sárvári, Lavicza & Klincsik, 2010) yang menyatakan

bahwa strategi belajar merupakan pendekatan pribadi yang

berbeda-beda yang digunakan untuk mengatasi tugas yang bermacam-macam.

Strategi belajar juga menunjukkan bagaimana murid mengatur dan

menggunakan kemampuan untuk mempelajari isi pelajaran tertentu

secara efektif dan efisien baik saat di kelas maupun di luar kelas.

Berdasarkan definisi-definisi tersebut, peneliti menyimpulkan

strategi belajar adalah berbagai proses kognitif yang meliputi teknik,

(24)

memasukkan dan mempertahankan berbagai informasi yang berguna

dalam penyelesaian tugas belajar maupun pemecahan masalah yang

timbul selama belajar.

2. Konstrak Strategi Belajar

Dowson dan McInerney (2004) membagi strategi belajar

menjadi dua konstrak, yaitu strategi kognitif dan metakognitif.

a) Strategi kognitif

Strategi kognitif mengacu pada kemampuan kognitif

seseorang. Strategi kognitif untuk belajar yang diterapkan oleh

seorang pembelajar dikontrol oleh fungsi kognisinya (Pintrich,

1995; Vrugt & Oort, 2008 dalam Al-Harthy & Was, 2010). Strategi

kognitif ini melibatkan penggunaan strategi yang mendasar dan

kompleks untuk memproses informasi dari buku ataupun dosen

(Duncan & McKeachie, 2005).

Strategi kognitif memiliki beberapa konstrak (Pintrich et

al., 1991, Paulsen & Gentry, 1995 dalam Al-Harthy & Was, 2010;

Dowson & McInerney, 2004), yaitu:

1) Rehearsal

Merupakan strategi level terendah atau mendasar yang

digunakan untuk mengingat dan memanggil pengetahuan yang

(25)

rehearsal misalnya: mendaftar, mengingat, mengulang, atau

menyebutkan hal-hal yang dipelajari.

2) Elaborasi

Ormrod (2011) mendefinisikan elaborasi sebagai penggunaan

pengetahuan yang sudah ada untuk mengembangkan atau

memperkaya gagasan baru dengan cara tertentu, misalnya

dengan mengkritisi, mencari contoh, atau dengan

menerapkannya. Elaborasi merupakan strategi yang aktif dan

levelnya lebih tinggi atau kompleks yang membantu

pembelajar membuat koneksi internal antara informasi baru

dengan sebelumnya. Ormrod (2008) juga menyatakan bahwa

elabprasi merupakan salah satu strategi belajar yang efektif.

Bentuk elaborasi misalnya: mengekstrak makna,

memparafrase, menganalogi, mereview pekerjaan sebelumnya,

dan lain-lain.

3) Organisasi

Mengorganisasikan informasi merupakan salah satu bentuk

strategi belajar yang efektif (Ormrod, 2008). Sama seperti

elaborasi, organisasi juga merupakan strategi dengan level

yang lebih tinggi atau kompleks dan membantu dalam

membuat koneksi atau hubungan antaride. Bentuk organisasi

misalnya: menyeleksi, membuat urutan, menggarisbawahi,

(26)

Rehearsal, elaborasi, dan organisasi mencerminkan

penggunaan kognitif dasar dan strategi belajar untuk memahami

materi di kelas (Pintrich, 2004:393).

b) Strategi metakognitif

Strategi metakognitif mengacu pada kemampuan

metakognitif seseorang. Metakognisi adalah pengetahuan tentang

pembelajaran diri sendiri atau pemikiran tentang pemikiran (Slavin,

2009). Schunk dan Zimmerman (dalam Slavin, 2009)

menambahkan bahwa metakognisi juga berarti mengetahui ketika

tidak mengerti dan tahu bagaimana membetulkan diri sendiri. Salah

satu fungsi penting dari metakognisi adalah mengawasi cara

seseorang memilih dan menggunakan strategi untuk mengingat

sehingga dapat dikatakan bahwa metakognisi merupakan suatu

proses yang sangat aktif (Matlin, 2009:182). Duncan dan

McKeachie menggunakan istilah strategi kontrol metakognitif,

yang memiliki arti adanya penggunaan strategi yang membantu

siswa mengontrol dan meregulasi kognisi mereka. Senada dengan

pernyataan tersebut, Lv dan Chen (2010) mengemukakan bahwa

strategi metakognitif merupakan kemampuan, pendekatan, proses

berpikir, dan tindakan pembelajar untuk mengontrol kognisi dan

proses belajarnya. Lynch (2010) menambahkan bahwa regulasi

(27)

dilakukan pembelajar terhadap proses belajar dan strategi

belajarnya. Dengan demikian, dapat dipahami bahwa strategi

metakognitif merupakan proses berpikir secara sadar mengenai

pendekatan belajar seseorang (Pintrich & Smith, 1993 dalam

Watson et al., 2004).

Metakognisi dioperasionalisasikan dalam berbagai cara.

Menurut Dowson dan McInerney, cara-cara tersebut adalah:

1) Monitoring, yaitu pemeriksaan terhadap pemahaman diri,

pengujian diri, dan menyebutkan kembali materi-materi yang

telah dipelajari. Monitoring mengimplikasikan suatu usaha

yang sistematis dalam mengevaluasi asimilasi dan organisasi

hal-hal yang dipelajari. Dalam memonitoring, seorang

pembelajar akan menyadari apa yang sedang dia lakukan (Lv

& Chen, 2010). Di samping itu, Ormrod (2008) menegaskan

bahwa tindakan memonitoring pemahaman merupakan salah

satu strategi belajar yang efektif.

2) Perencanaan, yaitu membuat prioritas, manajemen waktu,

penjadwalan, menetapkan tujuan yang realistis, dan menyusun

lingkungan kerja secara tepat. Perencanaan mengimplikasikan

persiapan yang matang untuk menyelesaikan pekerjaan.

3) Regulasi, yaitu mengusahakan cara yang berbeda untuk

mempelajari materi, meminta penjelasan dari pengajar, dan

(28)

Watson et al. mengemukakan bahwa regulasi ini dapat muncul

sebagai respon terhadap perubahan permintaan atau tuntutan di

kelas.

Jacobs dan Paris (1987), Veenman at al. (2006) dan Winne

(1996) (dalam Al-Harthy & Was, 2010) menambahkan satu

variabel dalam strategi metakognitif yaitu evaluasi, yang

merupakan penilaian (judgment) personal tentang hasil dan efikasi

pembelajaran seseorang, misalnya mengevaluasi tujuan seseorang.

O’Malley dan Chamot (dalam Lv & Chen, 2010) disimpulkan

bahwa strategi metakognitif melibatkan pemikiran terhadap proses

belajar, perencanaan belajar, pemonitoran tugas belajar, dan

pengevaluasian terhadap materi yang telah dipelajari.

3. Faktor yang Mempengaruhi Penggunaan Strategi Belajar

Beberapa peneliti telah mengemukakan bahwa penggunaan

suatu strategi belajar dipengaruhi oleh beberapa hal. Hal ini

disebabkan strategi belajar bukanlah sifat dasar (traits) sehingga bisa

bervariasi serta memiliki sifat dapat dipelajari dan dikontrol oleh

pembelajar yang bersangkutan (Duncan & McKeachie, 2005). Oleh

karena itu, penggunaan strategi belajar bisa berubah selama proses

(29)

Ormrod (2008) mengemukakan bahwa ada beberapa hal yang

mempengaruhi digunakannya suatu strategi belajar oleh pembelajar,

yaitu:

a) Strategi belajar tergantung pada tugas yang diberikan.

Senada dengan Ormrod, Duncan dan McKeachie (2005)

mengutarakan bahwa perubahan strategi belajar dapat

dipengaruhi oleh sifat tugas akademik yang dihadapi oleh

pembelajar. Sifat tugas tersebut misalnya pilihan ganda atau

esai.

b) Siswa akan menguasai dan menggunakan strategi belajar

yang baru dan lebih efektif jika dia menyadari bahwa

strategi yang sebelumnya tidak efektif.

c) Keyakinan siswa pada ilmu dan pembelajaran berpengaruh

pada pilihan strategi belajarnya.

d) Motif dan tujuan yang berbeda akan menghasilkan strategi

yang berbeda pula. Hal ini sejalan dengan pernyataan

Schutz (1997) yang menyatakan bahwa salah satu yang bisa

mempengaruhi penggunaan strategi belajar yang efektif

adalah adanya orientasi tujuan belajar dan sub tujuan itu

sendiri.

e) Instruksi dan pedoman yang ada tentang strategi yang

(30)

B. PRESTASI BELAJAR

1. Pengertian Prestasi Belajar

Winkel (1996) mengungkapkan bahwa prestasi belajar

menunjukkan apakah hasil belajar seorang pembelajar telah mencapai

tujuan yang ditetapkan atau tidak. Selain itu, prestasi belajar

menunjukkan sejauh mana kemajuan mahasiswa dalam belajar

(Suryabrata, 2005). Senada dengan pernyataan tersebut,

Poerwadarminta (dalam Tanaya, Hartanti dan Kartika, 1999) juga

menyatakan bahwa prestasi belajar adalah hasil yang telah dicapai,

dilakukan, atau dikerjakan seseorang sebagai hasil dari belajar. Kamus

Besar Bahasa Indonesia mendefinisikan prestasi belajar sebagai

penguasaan pengetahuan atau keterampilan yang dikembangkan

melalui mata pelajaran, lazimnya ditunjukkan dengan nilai tes atau

angka nilai yang diberikan guru. Syah (2006) mengungkapkan bahwa

prestasi belajar menggambarkan tingkat keberhasilan siswa untuk

mencapai tujuan yang telah ditetapkan dalam suatu program

pendidikan. Berdasarkan pernyataan-pernyataan tersebut, dapat

disimpulkan bahwa prestasi belajar merupakan keberhasilan seorang

pembelajar dalam menguasai pengetahuan atau keterampilan yang

diperoleh melalui proses belajar dan pencapaian tujuan belajar yang

(31)

2. Pengukuran Prestasi Belajar

Winkel (1996) dan Suryabrata (2005) berpendapat bahwa

pendidikan merupakan usaha manusia, dalam hal ini pendidik, untuk

dengan penuh tanggung jawab membimbing anak-anak didik ke

kedewasaan. Suatu kegiatan untuk menilai hasil usaha tersebut

dilakukan untuk mengetahui sejauh mana tujuan yang telah ditetapkan

sebelumnya telah terwujud atau terlaksana. Penilaian tersebut

dilakukan dengan beberapa cara. Cara yang paling umum dilakukan

adalah dengan menguji anak didik.

Prestasi belajar mahasiswa berasal dari nilai-nilai tugas,

performansi di kelas atau keaktifan, dan ujian-ujian baik ujian tengah

semester maupun ujian akhir semester. Nilai akhir suatu mata kuliah

dinyatakan dengan huruf yang mengandung bobot kuantitatif tertentu.

Tabel 1 : Ekuivalensi Huruf Mutu

Huruf Mutu Ekuivalensi kuantitatif (Angka Mutu)

Indeks Prestasi (IP) merupakan ukuran tingkat keberhasilan

mahasiswa yang dinyatakan dengan bilangan dengan dua angka di

belakang koma. Besarnya IP adalah jumlah hasil kali antara besar

(32)

= Σ

ΣK

Pada akhir suatu semester, besarnya IP akan mempengaruhi

jumlah kredit yang dapat diambil di semester berikutnya. Mahasiswa

dengan IP lebih besar atau sama dengan 3,00 boleh mengambil sampai

maksimal 26 satuan kredit, namun mahasiswa dengan IP kurang dari

2,5 hanya boleh mengambil 20 satuan kredit. Mahasiswa dengan besar

IP di antaranya boleh mengambil maksimal 23 satuan kredit.

Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) merupakan akumulasi IP dari

semester awal hingga semester terakhir yang ditempuh. Besarnya IPK

menentukan predikat kelulusan seorang mahasiswa. Predikat

‘Memuaskan’ diberikan pada mahasiswa dengan IPK antara 2,00 –

2,75, sedangkan predikat ‘Sangat Memuaskan’ diberikan pada

mahasiswa dengan IPK antara 2,76 – 3,50. Mahasiswa dengan IPK

3,51 – 4,00 dan dengan masa studi maksimal menurut kurikulum akan

mendapat predikat ‘Dengan Pujian’.

3. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Prestasi Belajar

Secara umum, ada dua faktor yang mempengaruhi prestasi

belajar seseorang yaitu faktor internal dan eksternal (Syah, 2006).

a) Faktor internal

Merupakan faktor yang berasal dari dalam diri siswa sendiri, yang

(33)

1) Aspek fisiologis

Kondisi tubuh, kesehatan, dan keberfungsian organ berperan

dalam proses belajar siswa. Hal ini dikarenakan siswa

menggunakan sebagian besar organ maupun anggota tubuh

saat belajar. Gangguan pada suatu bagian akan mempengaruhi

penerimaan materi oleh siswa sehingga bisa terjadi materi

tersebut tidak diterima secara utuh atau tidak berbekas.

2) Aspek psikologis

i. Tingkat kecerdasan atau intelegensi

Intelegensi merupakan kemampuan psiko-fisik untuk

mereaksi rangsangan atau menyesuaikan diri dengan

lingkungan dengan cara yang tepat (Reber dalam Syah,

2008). Semakin tinggi tingkat intelegensi seorang siswa,

maka semakin tinggi kemampuannya untuk beradaptasi

dan semakin mampu dalam belajar, terutama dalam belajar

hal-hal baru.

ii. Sikap siswa

Sikap siswa yang positif membari efek yang positif, baik

terhadap guru maupun materi sehingga tidak banyak

menimbulkan kesulitan belajar.

iii. Bakat siswa

Pada dasarnya, setiap siswa memiliki bakat atau potensi

(34)

masing-masing. Oleh karena itu, prestasi seorang siswa

akan lebih menonjol pada bidang-bidang tertentu yang

menjadi bakatnya.

iv. Minat siswa

Minat seorang siswa juga terkait dengan pemusatan

perhatian, keingintahuan, motivasi, dan kebutuhan.

Seorang siswa yang berminat pada sesuatu akan menaruh

perhatian lebih pada hal tersebut dan kemudian menggali

banyak hal tentangnya.

v. Motivasi siswa

Hal yang mendorong siswa untuk melakukan sesuatu,

dalam hal ini belajar, dibedakan menjadi dua berdasarkan

sumbernya, yaitu berasal dari dalam diri siswa atau

intrinsik dan berasal dari luar diri siswa atau ekstrinsik.

Motivasi intrinsik lebih berpengaruh terhadap proses

belajar dan prestasi siswa karena berasal dari siswa sendiri

tanpa adanya paksaan atau tekanan dari pihak luar.

b) Faktor eksternal

Merupakan faktor yang berasal dari luar siswa, yang meliputi

faktor lingkungan sosial dan nonsosial.

1) Faktor lingkungan sosial

Dukungan dari orang tua, keluarga, teman sebaya, guru, dan

(35)

mempengaruhi proses belajar siswa. Di samping itu, seorang

siswa juga belajar dari lingkungannya. Jika lingkungannhya

memberi stimulus yang baik, maka siswa juga akan

mempelajari sesuatu yang baik.

2) Faktor lingkungan nonsosial

Lingkungan nonsosial meliputi kondisi dan lokasi bangunan

rumah dan sekolah, fasilitas belajar, suasana kelas, keadaan

cuaca, serta hal-hal fisik lainnya yang tidak berhubungan

dengan personal.

c) Faktor pendekatan belajar

Cara seorang pembelajar belajar, baik itu mempelajari materi lama

maupun materi baru, berpengaruh pada proses belajar dan tingkat

keberhasilan belajarnya. Hal ini dipengaruhi oleh tingkat

pemrosesan yang dilakukan si pembelajar. Craik dan Lockhart

(dalam Santrock, 2009:360) menyatakan bahwa pemrosesan

memori terjadi pada kontinum dari dangkal ke mendalam.

Semakin mendalam prosesnya, semakin baik pula memori yang

dihasilkan.

1) Pemrosesan tingkat dangkal terjadi ketika seorang pembelajar

menganalisis ciri-ciri atau fitur-fitur fisik dari suatu materi.

2) Pemrosesan tingkat menengah berarti menenali stimulus dan

(36)

Pada tingkat yang mendalam, seorang pembelajar akan

memproses makna dari suatu informasi secara semantis. Entwistle

(dalam Elliot et. al. 1999) mengemukakan bahwa pemrosesan pada

tingkat ini melibatkan pembuktian kebenaran informasi yang didapat

dan suatu percobaan untuk mengintegrasikan informasi baru dengan

pengetahuan dan pengalaman yang lalu.

Schutz mengemukakan bahwa prestasi belajar yang baik

merupakan hasil interaksi antara pengetahuan tentang strategi belajar,

motivasi, dan tujuan.

C. MAHASISWA

Mahasiswa khususnya pada semester atas dapat dikategorikan

sebagai pembelajar dewasa (Supratiknya, 2006:94). Daines, Daines, dan

Graham (dalam Supratiknya, 2006) mengungkapkan bahwa ada beberapa

ciri penting pembelajar dewasa, antara lain:

1. Memiliki cukup banyak pengetahuan dan pengalaman yang

relevan dengan apa yang mereka pelajari sekarang dan

mampu mentransfer pengetahuan dan pengalamannya itu

pada proses belajarnya kini.

2. Memiliki sikap, gaya berpikir, dan cara-cara menjalankan

tugas yang relatif menetap sebagai ciri khas masing-masing

serta yang akan memudahkan mereka menghadapi situasi

(37)

3. Dapat dan senang diberi kesempatan untuk bertanggung

jawab.

D. HUBUNGAN STRATEGI BELAJAR DAN PRESTASI BELAJAR

Strategi belajar secara umum ada dua yaitu strategi kognitif dan

metakognitif. Strategi kognitif memiliki tiga konstrak, yaitu: rehearsal,

elaborasi, dan organisasi, sedangkan strategi metakognitif juga memiliki

tiga konstrak, yaitu:monitoring,planning, dan regulasi.

Rehearsal yaitu mengulang informasi secara sadar untuk

meningkatkan lamanya informasi tinggal dalam memori. Ada beberapa

proses yang terdapat dalam memori, seperti: pengodean, penyimpanan,

dan pemanggilan kembali. Untuk menghasilkan memori yang baik, maka

pemrosesan informasi dilakukan secara semantik atau dalam hal makna.

Hal ini disebabkan analisis makna yang mendalam memungkinkan

seseorang untuk mengingat informasi dengan lebih baik karena informasi

tersebut disimpan dalam memori jangka panjang (long term memory)

dengan lebih efisien (Craik dan Lockhart, dalam Huffman, Vernoy, &

Vernoy, 2000). Hal ini juga disebabkan kemampuan memori mengalami

peningkatan selama masa anak-anak dan remaja (Lorsbach & Reimer,

1997; Richards (1997) dalam Huffman et al.). Oleh karena itu, mahasiswa

diasumsikan sudah memiliki kemampuan memori yang baik. Dengan

kemampuan memori yang baik, mahasiswa diasumsikan mampu

mengingat dan memanggil kembali memori tersebut dengan lebih lancar

(38)

menyelesaikan tugas belajar, sehingga tugas tersebut dapat diselesaikan

dengan baik.

Informasi-informasi yang disimpan terlebih dahulu suatu ketika

dapat mengalami penggabungan dengan informasi baru melalui proses

elaborasi. Elaborasi merupakan proses memikirkan cara yang akan

digunakan untuk mempelajari materi supaya materi tersebut memiliki

koneksi atau hubungan dengan informasi atau ide yang sudah ada dalam

pikiran pembelajar. Dengan kata lain, elaborasi merupakan proses kognitif

di mana pembelajar menggunakan pengetahuan atau informasi awal untuk

mengembangkan ide baru dengan cara tertentu (Ormrod, 2011). Di sisi

lain, Santrock (2009) mendefinisikan elaborasi sebagai suatu keluasan

pemrosesan informasi yang terlibat dalam pengodean informasi. Elaborasi

memiliki fungsi yang baik dalam pengodean karena elaborasi menambah

kekhususan kode memori. Ormrod menambahkan bahwa semakin sering

pembelajar menggunakan apa yang telah diketahui untuk membantu dalam

memahami dan menginterpretasi materi baru, maka akan semakin efektif

pula dia menyimpan dan mengingatnya. Selain itu, ketika seseorang

mengelaborasi informasi, ada lebih banyak informasi yang disimpan.

Ketika ada lebih banyak informasi yang disimpan, maka akan semakin

mudah pula untuk membedakan suatu informasi dengan informasi yang

lain (Santrock, 2009:361). Oleh karena itu, seorang pembelajar akan

mampu membuat suatu pemahaman baru yang relevan dengan situasi

(39)

menerus diperbarui, maka seorang pembelajar akan mampu meningkatkan

penguasaannya terhadap suatu materi sehingga dia mampu mengatasi

setiap tugas yang diberikan berkenaan dengan materi tersebut.

Proses kognitif di mana seorang pembelajar membuat hubungan

antara berbagai potongan informasi yang dibutuhkan untuk belajar yang

kemudian dibentuk menjadi suatu struktur yang kohesif disebut organisasi

(Ormrod, 2011:194). Ketika seorang pembelajar melakukan organisasi, dia

mengelompokkan informasi-informasi yang ada berdasarkan tatanan

tertentu. Dalam mengelompokkan berbagai informasi tersebut diperlukan

adanya suatu pemahaman terhadap materi supaya pembelajar mampu

memilih tatanan yang tepat untuk pengelompokan tersebut. Informasi atau

materi yang terorganisasi dengan baik akan lebih mudah dipelajari dan

diingat daripada informasi yang tidak atau kurang diorganisasi (Durso &

Coggins dalam Slavin, 2009). Pengelompokan ini juga akan memudahkan

dalam memahami dan memanggil informasi. Dengan demikian, jika suatu

ketika seorang pembelajar mengalami kesulitan dengan tugas belajarnya

maka dia dapat lebih mudah menggali informasi dan pengetahuan yang

dimilikinya karena informasi-informasi tersebut sudah disimpan secara

teratur dan tidak saling bercampur dengan informasi-informasi yang lain

yang kurang relevan.

Dari sisi metakognitif, menurut Ormrod, monitoring adalah

proses pengecekan terhadap diri sendiri untuk memverifikasi pemahaman

(40)

pembelajar yang melakukan mekanisme monitoring mampu mengecek

tingkat kognitifnya sendiri karena pembelajar tahu ketika dia tidak

mengerti dan bagaimana membetulkan diri sendiri (Loizidou & Koutselini,

2007; Schunk & Zimmerman dalam Slavin, 2009). Hal ini menuntut

adanya kesadaran akan pemahaman dan hasil tugas yang dilakukan

pembelajar (Al-Harthy & Was, 2010; Lv & Chen, 2010). Kemampuan

metakognitif untuk memonitor prestasi siswa sendiri dengan menggunakan

strategi yang berbeda dalam belajar dan mengingat dapat berkembang

bersamaan dengan umur (Djiwandono, 2006:168). Oleh karena itu,

mahasiswa diasumsikan memiliki kemampuan monitoring yang lebih baik

sehingga dia semakin efektif dalam belajar karena sudah mengetahui di

bagian mana saja dia mengalami kesulitan. Hal ini membuat mahasiswa

menjadi lebih fokus dalam mempelajari materi yang belum dikuasai

supaya pemahamannya terhadap materi tersebut semakin baik dan

mendalam. Dengan pemahaman yang baik dia akan mampu menunjukkan

performansi akademik yang lebih baik pula.

Seorang pembelajar memilih strategi yang sesuai dan

manajemen sumber daya melalui proses planning dan regulasi. Planning

mengindikasikan pengaturan siswa terhadap tujuan maupun subtujuan

belajarnya serta bagaimana dia berencana menyusun, mengatur waktu, dan

melengkapi kegiatan untuk mencapai tujuan-tujuannya tersebut

(Zimmerman, 1989). Hal tersebut memampukan pembelajar untuk

(41)

dapat mengatur dirinya sendiri dengan lebih baik dan lebih efisien karena

sudah ada pedoman langkah-langkah yang ditempuh. Oleh karena itu,

proses belajar akan menjadi lebih terarah. Di samping itu, pembelajar juga

dapat memodifikasi kondisi lingkungan tempat belajarnya sehingga dapat

diperoleh lingkungan yang kondusif dan mendukung proses belajar.

Regulasi adalah strategi yang digunakan untuk membetulkan

atau melengkapi hal-hal yang kurang yang diketahui ketika monitoring

(Dowson & McInerney, 2004:298). Dengan demikian, informasi atau

materi yang diterima pembelajar akan semakin lengkap. Di samping itu,

pembelajar tidak hanya akan menguasai apa yang sudah dimengerti,

namun dia juga akan dapat menguasai hal-hal lain yang sebelumnya belum

dimengerti. Hal ini akan membantu pembelajar mengerjakan tugas

maupun ujian karena dia menjadi semakin kaya dalam pengetahuan dan

pemahaman.

Kedua strategi tersebut digunakan secara bersamaan karena

masing-masing strategi memiliki kekhasan masing-masing yang akan

saling melengkapi. Strategi kognitif berperan dalam keterlibatan

(engagement) pembelajar pada proses belajar, sedangkan strategi

metakognitif pada kesadaran pembelajar terhadap proses belajar yang

sedang dijalani. Keterlibatan akan membangun dasar-dasar penguasaan

dan kesadaran membangun efektifitas serta efisiensi. Ketika pembelajar

menguasai materi, maka dia akan mampu menjawab berbagai tantangan

(42)

efektivitas dan efisiensi karena ketika pembelajar menyadari di mana letak

kesulitan ataupun kekurangannya, dia akan fokus pada penyelesaian

masalahnya tersebut. Kemampuan pembelajar untuk mengaktifkan

informasi lama, dan secara tepat menggunakan berbagai strategi kognitif

dan metakognitif dengan tujuan untuk mendapat ataupun

mengintegrasikan pengetahuan baru, akan mempengaruhi kualitas

keterlibatannya dalam proses belajar itu sendiri serta keberhasilan

(43)

Strategi

relevan dengan situasi baru

(44)

E. HIPOTESIS

Berdasarkan uraian di atas, maka peneliti merumuskan suatu

hipotesis penelitian yaitu ada hubungan positif antara strategi belajar dan

prestasi belajar. Jika subyek menggunakan strategi belajar maka prestasi

belajar subyek tinggi, namun jika subyek tidak menggunakan strategi

(45)

28

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

A. TUJUAN PENELITIAN

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui ada tidaknya

hubungan antara strategi belajar dan prestasi belajar.

B. JENIS PENELITIAN

Penelitian ini merupakan penelitian survei dengan pendekatan

korelasional. Pendekatan korelasi merupakan teknik analisis yang melihat

kecenderungan pola dalam satu variabel berdasarkan kecenderungan pola

dalam variabel yang lain (Santoso, 2010:121).

C. VARIABEL PENELITIAN

Variabel bebas (x) pada penelitian ini adalah strategi belajar.

Variabel tergantung (y) pada penelitian ini adalah prestasi belajar.

D. DEFINISI OPERASIONAL

1. Strategi Belajar

Strategi belajar adalah berbagai proses kognitif yang meliputi

teknik, kemampuan dan perilaku yang digunakan secara sengaja untuk

memasukkan dan mempertahankan berbagai informasi yang berguna

(46)

timbul selama belajar. Strategi belajar akan diukur dengan skala strategi

belajar yang disusun berdasarkan aspek-aspek yang dipaparkan oleh

Dawson dan McInerney (2004). Aspek-aspek tersebut adalah kognitif

dan metakognitif, dengan konstrak masing-masing. Skor yang tinggi

pada skala ini menunjukkan bahwa subyek menggunakan strategi belajar

kognitif dan metakognitif, sedangkan skor yang rendah menunjukkan

bahwa subyek tidak menggunakan strategi belajar tersebut.

2. Prestasi Belajar

Prestasi belajar adalah bukti keberhasilan seorang pembelajar

dalam menguasai pengetahuan atau keterampilan yang diperoleh melalui

proses belajar dan pancapaian target belajar yang ditunjukkan dengan

angka nilai. Prestasi belajar akan diukur dengan dokumentasi IPK. Skor

yang tinggi menunjukkan bahwa prestasi belajar subyek tinggi,

sedangkan skor yang rendah menunjukkan prestasi belajar subyek

rendah.

E. SUBYEK PENELITIAN

Penelitian ini merupakan penelitian payung yang bertujuan untuk

mengetahui kondisi psikologis-akademis mahasiswa di Universitas Sanata

Dharma Yogyakarta terutama dalam hal orientasi tujuan dan strategi belajar.

Subyek dalam penelitian ini adalah mahasiswa Universitas Sanata Dharma

dari 23 program studi yang berasal dari angkatan 2007, 2008, dan 2009. Dari

(47)

jumlah mahasiswa per angkatan. Prosentase tersebut diambil karena dianggap

sudah mewakili populasi mahasiswa USD secara keseluruhan. Kemudian

peneliti melakukan analisis korelasi terhadap variabel strategi belajar dan

prestasi belajar berdasarkan data yang telah diperoleh.

F. METODE DAN ALAT PENGUMPULAN DATA

Data dikumpulkan dengan dua metode yaitu metode skala dan

dokumentasi. Metode skala digunakan untuk memperoleh data mengenai

strategi belajar, sedangkan metode dokumentasi yang berupa IPK digunakan

untuk memperoleh data prestasi belajar.

1. Strategi Belajar

Dalam penelitian ini, strategi belajar diukur dengan menggunakan

skala. Metode skala dipilih karena stimulusnya berupa pertanyaan atau

pernyataan yang secara tidak langsung mengungkap atribut yang hendak

diukur, tetapi mengungkap indikator perilaku dari atribut yang dimaksud

(Azwar, 2009). Respon subyek pada setiap aitem pada skala diberi angka

kemudian dijumlahkan. Dengan kata lain, skala strategi belajar

menggunakan metode rating yang dijumlahkan (method of summated rating). Akumulasi nilai respon tersebut menjadi skor subyek pada skala

tersebut (Azwar, 2005).

Dalam penelitian ini, orientasi tujuan dan strategi belajar diukur

(48)

dikembangkan oleh Dowson dan McInerney (2004). Survei ini memuat

84 aitem yang disusun untuk mengukur orientasi tujuan motivasional dan

strategi kognitif maupun metakognitif seorang pembelajar.

Pada penelitian payung ini, peneliti hanya mengambil bagian

strategi belajar saja untuk menjadi fokus analisis. Aitem tujuan belajar

tetap diperhatikan dalam penghitungan statistik karena skala GOALS-S

merupakan skala yang secara komprehensif mengukur keempat konstrak

pada tujuan dan strategi belajar dalam satu instrument.

Tabel 2.Blue PrintSkala Sebelum Uji Coba

Aspek Konstruk Nomor aitem Total

Tujuan Akademik

Mastery 1, 4, 10, 22, 27 5

Performance 5, 6, 7, 9, 17 5

Work avoidance 36, 37, 38, 39, 40 5 Tujuan Sosial Social affiliation 8, 12, 24, 26, 35 5 Social approval 2, 11, 20, 29, 33 5 Social concern 3, 14, 16, 18, 31 5 Social

responsibility 19, 21, 23, 28, 32 5 Social status 13, 15, 25, 30, 34 5 Strategi

Kognitif

Elaborasi 41, 42, 55 3

Organisasi 45, 50 2

Rehearsal 46, 47, 48 3

Strategi

Metakognitif MonitoringPlanning 44, 4951, 52, 53 23

Regulating 43, 54 2

Total 55

Setiap pernyataan pada skala diberi 4 pilihan jawaban, yaitu Setiap

Kali (SK), Sering (S) jika responden melakukan tindakan dalam

pernyataan dengan frekuensi yang lebih sedikit daripada setiap kali,

(49)

daripada sering, dan Tidak Pernah (TP). Aitem-aitem dalam skala

bersifatfavorable, dengan pembobotan berkisar antara 1 sampai 4.

Tabel 3. Bobot Nilai Aitem

Jawaban Bobot Nilai

Setiap Kali (SK) 4

Sering (S) 3

Jarang (J) 2

Tidak Pernah (TP) 1

Semakin tinggi skor subyek pada skala ini menunjukkan bahwa

subyek memiliki dan menggunakan strategi belajar kognitif dan

metakognitif. Sebaliknya, semakin rendah skor menunjukkan bahwa

subyek kurang memiliki dan menggunakan strategi belajar.

2. Prestasi Belajar

Prestasi belajar subyek diketahui dengan metode dokumentasi yaitu

melalui IPK karena IPK menunjukkan prestasi belajar mahasiswa. Pada

penelitian ini, dokumentasi IPK dilakukan dengan meminta responden

(50)

G. VALIDITAS DAN RELIABILITAS ALAT UKUR

1. Validitas

Validitas digunakan untuk mengetahui apakah skala mampu

menghasilkan data yang akurat sesuai dengan tujuan ukurnya. Metode

validasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah validitas isi yang

menunjukkan sejauh mana aitem-aitem dalam alat ukur mencakup

keseluruhan isi objek yang hendak diukur (Azwar, 2003). Pada dasarnya,

validitas isi merupakan sesuatu yang bersifat judgmental (Kerlinger,

1973:459; Tull & Albaum, 1973:92) yang dilakukan denganprofessional judgment oleh dosen pembimbing. Professional judgment merupakan

suatu pendekatan untuk mengukur validitas isi yang melibatkan individu

yang dianggap ahli dalam bidang yang menjadi perminatan peneliti. Para

ahli bertindak sebagai juri dari pendapat ahli dan validitas diberikan

berdasarkan penilaian mereka (Tull & Albaum, 1973).

2. Reliabilitas

Reliabilitas mengacu pada konsistensi atau keterpercayaan hasil

ukur, yang mengandung makna kecermatan pengukuran. Konsistensi ini

tampak apabila diperoleh hasil yang relatif sama dalam beberapa kali

pelaksanaan pengukuran terhadap kelompok subyek yang sama, selama

aspek yang diukur dalam diri subyek memang belum berubah. Reliabilitas

(51)

rentang dari 0 sampai dengan 1,00 (Azwar, 1999). Metode yang

digunakan untuk mengestimasi reliabilitas adalah metode alpha Cronbach.

H. HASIL UJI COBA

Uji coba dilakukan pada sekelompok subyek yang memiliki

karakteristik yang relatif sama dengan subyek penelitian. Subyek yang

menjadi subyek uji coba adalah mahasiswa fakultas Psikologi USD angkatan

2007, 2008, dan 2009 sebanyak 117 orang. Responden diminta untuk

mengisi skala kuesioner yang diberikan oleh peneliti. Pelaksanaan uji coba

yaitu pada bulan April 2010.

Setelah uji coba dilakukan, langkah selanjutnya adalah mengolah

data uji coba. Langkah pertama adalah menyeleksi aitem. Seleksi aitem

dilakukan untuk melihat aitem-aitem mana saja yang mampu membedakan

subyek yang memiliki atribut dan yang tidak memiliki atribut yang hendak

diukur. Aitem yang dipilih adalah aitem dengan nilai alpha lebih kecil

daripada nilai alpha aitem total sehingga diperoleh korelasi aitem total

tertinggi. Bila korelasi aitem total yang diperoleh semakin mendekati angka

1.00, dapat dikatakan bahwa aitem memiliki daya beda aitem yang semakin

baik (Azwar, 1999).

Peneliti melakukan seleksi aitem berdasarkan koefisien alpha yang

digunakan untuk melihat konsistensi internal secara keseluruhan, yaitu

dengan analisis reliabilitas dengan menggunakan SPSS for Windows.

(52)

if aitem deleted, jika koefisien alpha pada kolom tersebut lebih kecil daripada

koefisien alpha secara keseluruhan maka aitem tersebut dipakai (sahih).

Berdasarkan analisis aitem pada skala strategi belajar diperoleh aitem yang

sahih sebanyak 53 dengan koefisien internal alpha 0.733. Koefisien ini juga

menunjukkan bahwa skala strategi belajar tersebut reliabel.

Tabel 4.Blue PrintSkala Setelah Uji Coba

Aspek Konstruk Aitem

responsibility - 19, 21, 23, 28, 32 5

Social status - 13, 15, 25, 30, 34 5

Strategi Kognitif

Elaborasi - 41, 42, 55 3

Organisasi - 45, 50 2

Rehearsal - 46, 47, 48 3

Strategi

Metakognitif MonitoringPlanning -- 44, 4951, 52, 53 23

Regulating - 43, 54 2

Total 2 53

Berdasarkan tabel tersebut diketahui ada dua aitem yang tidak

sahih. Pada skala penelitian, perubahan nomor dilakukan supaya ada

(53)

Tabel 5.Blue PrintSkala Setelah Uji Coba dengan Penyesuaian Nomor

Aspek Konstruk Nomor aitem

(sahih)

Work avoidance 37, 43, 49 3

Tujuan Sosial Social affiliation 8, 12, 24, 26, 35 5 Social approval 2, 11, 20, 29, 33 5 Social concern 3, 14, 16, 18, 31 5 Social responsibility 19, 21, 23, 28, 32 5 Social status 13, 15, 25, 30, 34 5 Strategi

Kognitif ElaborasiOrganisasi 36, 38, 5341, 47 32

Rehearsal 42, 44, 45 3

Strategi Metakognitif

Monitoring 40, 46 2

Planning 48, 50, 51 3

Regulating 39, 52 2

Total 53

I. METODE ANALISIS DATA

1. Uji Asumsi Data Penelitian

a. Uji Normalitas

Uji normalitas data digunakan untuk mengetahui apakah data yang

akan dianalisis dalam penelitian ini berada dalam distribusi normal

atau tidak (Sugiyono, 2008). Uji normalitas dilakukan dengan

menggunakan program SPSSfor Windows versi 16.

b. Uji Linieritas

Uji linieritas digunakan untuk mengetahui apakah hubungan antara

variabel bebas dan variabel tergantung membentuk garis lurus atau

tidak (Sugiyono, 2008). Uji linieritas dilakukan dengan menggunakan

(54)

2. Uji Hipotesis Penelitian

Pengujian terhadap hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini

dilakukan dengan menggunakan teknik korelasi Pearson product moment

dengan menggunakan SPSS for Windows versi 16. Alasan penggunaan

teknik tersebut adalah penelitian ini mencoba menguji hubungan antara

variabel bebas dan variabel tergantung tanpa adanya variabel sertaan lain.

Di samping itu, juga dikarenakan data yang dihasilkan merupakana data

(55)

38

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. PELAKSANAAN PENELITIAN

Penelitian payung ini dimulai dengan mendata program studi dan

jumlah mahasiswa yang terdaftar di setiap program studi yang ada di USD.

Ada beberapa asisten peneliti yang terlibat dalam penelitian ini.

Masing-masing asisten bertanggung jawab untuk membagikan skala pada kelompok

subyek tertentu yang dibagi berdasarkan program studi dan angkatan.

Kemudian, masing-masing asisten peneliti mulai membagikan skala pada

sekelompok mahasiswa yang menjadi subyek penelitian. Saat menemui

mahasiswa, peneliti menanyakan program studi dan angkatan. Jika memenuhi

syarat, maka mahasiswa tersebut diminta untuk mengisi skala dengan

ditunggu oleh asisten. Ada pula asisten yang menitipkan skala pada seorang

mahasiswa untuk dibagikan pada teman-temannya dan dalam beberapa hari

berikutnya asisten mengambil skala yang telah diisi. Proses pengambilan data

dilakukan pada bulan 11 Mei – 5 Juni 2010.

Pada penelitian ini, peneliti tidak mengambil semua data yang

berkenaan dengan orientasi tujuan dan strategi belajar, melainkan hanya

(56)

B. DESKRIPSI SUBYEK PENELITIAN

Tabel 6. Data Demografi Subyek

Program Studi 2007 2008 2009 Jumlah

Pend. Fisika 4 10 10 24

Pend. Sejarah 1 4 11 16

Pend. Matematika 17 11 14 42

Pend. Ekonomi 1 0 7 8

Pend. Biologi 0 4 11 15

Pend. Akuntansi 13 7 16 36

Pend. Bahasa Inggris 22 27 23 72

Pend. Bahasa & Sastra Indonesia & Daerah 11 12 16 39

Pend. Guru Sekolah Dasar 17 37 40 94

Sastra Indonesia 1 4 2 7

Sastra Inggris 14 16 3 33

Ilmu Sejarah 5 2 2 9

Manajemen 18 13 15 46

Akuntansi 18 28 21 67

Teknik Informatika 16 19 15 50

Teknik Elektro 4 4 3 11

Teknik Mesin 8 8 13 29

Mekatronika 9 6 8 23

Bimbingan Konseling 5 10 10 25

Psikologi 27 26 24 77

Matematika Murni 1 6 4 11

Fisika Murni 3 2 2 7

Farmasi 9 34 22 65

Jumlah 224 290 292 806

C. DESKRIPSI DATA

Tabel 7. Deskripsi Data Penelitian

N

806 37.5 41.96 6.64 2.00 3.00 0.46

Dari tabel 7 di atas, diketahui bahwa mean teoretis pada skala

(57)

hasil penjumlahan dari nilai minimum dengan jumlah soal dan hasil kali

nilai maksimum dengan jumlah soal.

=(1 15) + (4 15) 2

= 15 + 60 2 = 75

2 = 37.5

D. ANALISIS HASIL PENELITIAN

1. Uji Asumsi

a. Uji Normalitas

Tabel 8. Hasil Uji Normalitas

total IPK

Kolmogorov-Smirnov Z 2.626 1.895

Asymp. Sig. (2-tailed) .000 .002

Berdasarkan tabel 7 tersebut, diketahui bahwa distribusi sebaran

baik pada variabel strategi belajar maupun IPK bersifat tidak normal

(58)

b. Uji Linieritas

Tabel 9. Hasil Uji Linieritas

F Sig.

IPK * total Between Groups (Combined) .993 .483

Linearity 8.946 .003

Deviation from Linearity .772 .831

Berdasarkan tabel di atas, diketahui bahwa hubungan antara

strategi belajar dan IPK membentuk garis lurus. Hal ini terlihat dari

koefisien signifikansilinearitylebih kecil daripada 0.05 (p˂0.05).

2. Uji Hipotesis

Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah ada hubungan

antara strategi belajar dan prestasi belajar dalam populasi mahasiswa

USD. Karena hasil uji normalitas menunjukkan bahwa data tidak berada

pada distribusi normal, maka pengujian terhadap hipotesis ini dilakukan

dengan menggunakan teknik korelasi Spearman’s rho dengan hasil

(59)

Tabel 10. Hasil KorelasiSpearman’s rho

total IPK

Spearman's rho Total Correlation Coefficient 1.000 .091**

Sig. (2-tailed) . .010

N 806 806

IPK Correlation Coefficient .091** 1.000

Sig. (2-tailed) .010 .

N 806 806

Berdasarkan tabel tersebut, dapat disimpulkan bahwa ada hubungan

yang signifikan antara strategi belajar dan prestasi belajar yang diketahui

dari nilai signifikansi yang diperoleh adalah sebesar 0.010 (p<0.025)

sehingga Ho ditolak. Kriteria 0.025 digunakan karena uji dilakukan dua

sisi.

E. PEMBAHASAN

Hasil penelitian yang dilakukan menunjukkan bahwa ada hubungan

positif yang signifikan antara strategi belajar dan prestasi belajar. Dengan

demikian, hipotesis penelitian yang diajukan yang mengatakan bahwa ada

hubungan positif antara strategi belajar dan prestasi belajar teruji

kebenarannya. Semakin subyek memiliki dan menggunakan strategi belajar,

baik strategi kognitif dan metakognitif, maka semakin baik pula prestasi

belajarnya. Sebaliknya, semakin subyek tidak memiliki dan menggunakan

strategi belajar, maka prestasi belajar subyek, dalam hal ini mahasiswa, akan

(60)

Hasil temuan tentang adanya hubungan positif yang signifikan

tersebut mengukuhkan hasil penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh

Watson et al. (2004) yang mengungkapkan bahwa penggunaan strategi

belajar mempengaruhi prestasi akademik pembelajar karena pembelajar dapat

secara aktif memproses informasi sehingga mempengaruhi penguasaannya

terhadap materi belajar. Di samping itu, Duncan dan McKeachie (2005)

menemukan bahwa siswa yang menggunakan strategi pemrosesan mendalam

seperti elaborasi dan organisasi serta mencoba mengontrol kognisi dan

perilaku belajar melalui penggunaan strategi metakognitif perencanaan,

monitoring, dan regulasi pada umumnya memiliki hasil belajar yang lebih

baik.

Strategi belajar merupakan berbagai proses kognitif yang meliputi

teknik, kemampuan dan perilaku yang digunakan secara sengaja untuk

memasukkan dan mempertahankan berbagai informasi yang berguna dalam

penyelesaian tugas belajar maupun pemecahan masalah yang timbul selama

belajar. Berbagai proses kognitif yang ada dalam strategi belajar dapat

digolongkan menjadi dua konstrak yaitu strategi yang mengandalkan fungsi

kognisi dan metakognisi. Masing-masing konstrak memiliki peran tersendiri

yang saling melengkapi satu dengan yang lain. Strategi kognitif lebih

berperan dalam penggunaan strategi-strategi mendasar untuk mengingat

materi dan strategi yang lebih kompleks untuk memahami materi, sementara

(61)

berpikir dan belajar (Al-Harthy & Was, Duncan & McKeachie, Lv & Chen,

Lynch, Pintrich).

Baik strategi kognitif maupun metakognitif membutuhkan suatu

pemrosesan informasi secara mendalam. Penelitian Duncan dan McKeachie

serta Diseth at al. menunjukkan bahwa pemrosesan mendalam membawa

pada hasil belajar yang lebih baik. Hal ini dikarenakan mahasiswa terlibat dan

bersinggungan langsung dengan materi, baik itu dengan mengidentifikasi

informasi penting, memanggil informasi, membuat catatan dan

mengorganisasikannya, mengelaborasi informasi yang dimiliki, maupun

dengan memonitoring tingkat pemahamannya (Ormrod).

Penggunaan strategi belajar ini dipengaruhi oleh sifat tugas yang

dihadapi pembelajar sehingga strategi yang digunakan pembelajar di suatu

waktu dapat berbeda di lain waktu (Duncan & McKeachie, Ormrod). Hal ini

didukung dengan karakteristik pembelajar, dalam penelitian ini mahasiswa,

yang memiliki cukup banyak pengetahuan dan pengalaman yang relevan

dengan materi yang sedang dipelajari sehingga mampu mentransfer untuk

mendukung proses belajarnya. Dengan kata lain, melalui pengetahuan dan

pengalaman yang dimiliki, mahasiswa akan lebih mudah menentukan strategi

apa yang dipakai ketika menghadapi suatu tugas ataupun kesulitan belajar:

apakah akan menggunakan strategi kognitif atau metakognitif agar

memperoleh hasil yang lebih optimal. Seiring berjalannya waktu, hal tersebut

akan membentuk suatu pola yang teratur dan menjadi suatu sikap, gaya

(62)

yang menjadi ciri penting pembelajar dewasa (Daines, et al., dalam

Supratiknya).

Untuk mengetahui efektif tidaknya strategi yang diterapkan,

pembelajar membutuhkan adanya kesadaran diri untuk mengevaluasi baik

strategi maupun hasil belajar yang dicapai dengan menerapkan strategi

tersebut. Hal ini sejalan dengan konsep strategi metakognitif yang merupakan

proses berpikir secara sadar mengenai pendekatan belajar (Pintrich & Smith,

dalam Watson, et al.). Di sinilah dapat ditemukan peran pengalaman.

Pengalaman akan menjadi suatu pengingat bagi mahasiswa bahwa suatu

strategi kurang efektif untuk diterapkan dan mahasiswa diajak untuk

memikirkan strategi lain yang mungkin akan lebih efektif. Strategi yang baru

ini akan lebih efektif untuk dikuasai dan digunakan jika mahasiswa

menyadari ketidakefektifan strategi yang lama (Ormrod). Dengan

menggunakan strategi yang lebih sesuai, mahasiswa dapat memperoleh hasil

(63)

46 BAB IV

PENUTUP

A. KESIMPULAN

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan diperoleh kesimpulan

bahwa ada hubungan yang signifikan antara strategi belajar dan prestasi

belajar yang ditunjukkan dengan nilai signifikansi sebesar 0.010. Hal ini

berarti bahwa semakin mahasiswa menggunakan strategi belajar maka

semakin baik prestasi belajarnya. Sebaliknya, jika mahasiswa semakin tidak

menggunakan strategi belajar maka prestasi belajarnya akan semakin rendah.

B. SARAN

1. Bagi Mahasiswa

Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan antara strategi

belajar dan prestasi belajar. Oleh karena itu, diharapkan mahasiswa

menggunakan strategi belajar, baik strategi kognitif maupun

metakognitif, sehingga dapat mengoptimalkan prestasi belajarnya.

2. Bagi Penelitian Selanjutnya

Bagi peneliti yang berminat meneliti dalam bidang yang sama,

hendaknya pengisian data prestasi belajar atau IPK dilakukan dengan

melakukan kroscek ke bagian sekretariat program studi. Hal ini untuk

(64)

47

DAFTAR PUSTAKA

Al-Harthy, I. S., & Was, C. A. (2010). Goals, Efficacy and Metacognitive Self-Regulation: A Path Analysis.International Journal of Education, 2,1-20.

Aplugi, RDR. (2010). Hubungan Tingkat Percaya Diri dan Motivasi Berprestasi dengan Prestasi Belajar Siswa Kelas XI Program Studi Keahlian Restoran SMK Negeri 7 Malang. Skripsi yang Tidak Diterbitkan. Malang: Universitas

Negeri Malang, Fakultas Teknik Industri.

Apriliya, Chihita Maya. (2007). Pengaruh Hubungan Interpersonal terhadap Motivasi Belajar Mahasiswa (Studi Kasus Pada Mahasiswa Fakultas Tarbiyah Semester II Angkatan Tahun 2006/2007 di Universitas Islam Negeri Malang). Skripsi yang Tidak Diterbitkan. Malang: Universitas Islam

Negeri Malang.

Azwar, Saifuddin. (1999). Penyusunan Skala Psikologi. Yogyakarta: Pustaka

Pelajar.

_______________ (2003). Reliabilitas dan Validitas. Yogyakarta: Pustaka

Pelajar.

_______________ (2005). Sikap Manusia: Teori dan Pengukurannya edisi ke-2.

Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Chusna, Esti M. (2009). Pengaruh Tingkat Pendidikan dan Dorongan Orangtua terhadap Prestasi Belajar Mata Pelajaran Ekonomi Siswa Kleas XI SMUN 1 Sutojayan Blitar. Skripsi yang Tidak Diterbitkan. Malang: Universitas

Islam Negeri Malang.

Diseth, Å., Pallesen, S., Brunborg, G. S., & Larsen, S. (2009). Academic Achievement among First Semester Undergraduate Psychology Students: the Role of Course Experience, Effort, Motives and Learning Strategies.

High Education, 59,335-352.

Djiwandono, S.E. (2006). Psikologi Pendidikan Edisi Revisi. Jakarta: PT.

Grasindo.

Dowson, M., & McInerney, D. M. (2004). The Development and Validation of the Goal Orientation and Learning Strategies Survey (GOALS-S).

Educational and Psychological Measurement, 64,290-310.

Duncan, T. G., & McKeachie, W. J. (2005). The Making of the Motivational Strategies for Learning Questionnaire. Educational Psychologist, 40,

(65)

Huffman, K., Vernoy, M., & Vernoy, J. (2000).Psychology in Action 5th Edition.

John Wiley & Sons, Inc.

Hurlock, E. B. (1980). Psikologi Perkembangan: Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan.Jakarta: Erlangga.

Kerlinger, F. N. (1973).Foundations of Behavioral Research 2ndEdition. Quezon

City: Phoenix Press, Inc.

Loizidou, Andri, & Koutselini, Mary. (2007). Metacognitive Monitoring: An Obstacle and a Key to Effective Teaching and Learning. Teachers and Teaching: theory and practice, 13,499-519.

Lv, F., & Chen, H. (2010). A Study of Metacognitive-Strategies-Based Writing Instruction for Vocational College Students.English Language Teaching, 3,

136-144.

Lynch, D. J. (2010). Motivational Beliefs and Learning Strategies as Predictors of Academic Performance in College Physics.College Student Journal 44.

Matlin, M. W. (2009).Cognition 7thEdition. John Wiley & Sons, Inc.

McKeachie, W.J., Pintrich, P. R., & Lin, Y. (1985). Teaching Learning Strategies.

Educational Psychologist, 20,153-160.

Noviastuti, Roswita Indra. (2009). Hubungan antara Minat Terhadap Profesi Guru, Motivasi Belajar, dan Prestasi Belajar Mahasiswa Keguruan (Studi Pada Mahasiswa Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Sanata Dharma Yogyakarta). Skripsi yang Tidak Diterbirkan. Yogyakarta: Universitas

Sanata Dharma.

Ormrod, J.E. (2008). Educational Psychology Developing Learners 6th Edition.

New Jersey: Pearson Education.

___________ (2011). Educational Psychology Developing Learners 7th Edition.

Boston: Pearson.

Pintrich, P. R., & Groot. E. D. (1990). Motivational and Self-Regulated Learning Components of Classroom Academic Performance.Journal of Educational Psychology, 82,33-40.

Pintrich, P. R. (2004). A Conceptual Framework for Assessing Motivation and Self-Regulated Leaarning in College Students. Educational Psychology Review, 16,385-406.

Gambar

Tabel 1 : Ekuivalensi Huruf Mutu
Tabel 2. Blue Print Skala Sebelum Uji Coba
Tabel 3. Bobot Nilai Aitem
Tabel 4. Blue Print Skala Setelah Uji Coba
+6

Referensi

Dokumen terkait

Ketika sedang kesulitan memahami bahasa Jawa, saya mudah tersinggung terhadap teman yang mengejek saya.. SS S TS

Beberapa hal yang dapat mempengaruhi semangat belajar para siswa seperti guru, staf administrasi, teman-teman sekelas, dan keluarga. Ketika guru dapat memberikan

Komunikasi interpersonal yang terjadi dalam hubungan interpersonal yang baik dapat meningkatkan motivasi siswa ketika di kelas contohnya seperti guru memberikan pujian kepada

Nilai tertinggi diperoleh pada variabel pertanyaan OB/Cleaning Service selalu merapikan dan membersihkan ruangan ketika perkuliahan selesai mendapat nilai terbaik

7 Saya belajar dengan rajin sampai nilai yang saya targetkan tercapai.. Saya selalu berusaha membaca setiap materi pelajaran yang diberikan guru supaya memahami isi

Nilai tertinggi diperoleh pada variabel pertanyaan OB/Cleaning Service selalu merapikan dan membersihkan ruangan ketika perkuliahan selesai mendapat nilai terbaik

Sebagai contoh ketika murid menjawab soalan yang diberikan oleh guru dengan betul maka guru boleh memberikan pujian kepadanya atau dengan memberikannya hadiah supaya

khusus di rumah 17 Saya lebih suka membaca buku teks biologi sendiri daripada mendengar penjelasan dari teman atau guru 18 Ketika pelajaran daring dimulai, mudah bagi saya untuk