HUBUNGAN ANTARA STRATEGI BELAJAR DAN
PRESTASI BELAJAR MAHASISWA
SKRIPSI
Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat
Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi
Program Studi Psikologi
Oleh:
Rosiana Indah Purnomo NIM: 079114088
PROGRAM STUDI PSIKOLOGI JURUSAN PSIKOLOGI
FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS SANATA DHARMA
YOGYAKARTA
i
HUBUNGAN ANTARA STRATEGI BELAJAR DAN
PRESTASI BELAJAR MAHASISWA
SKRIPSI
Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat
Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi
Program Studi Psikologi
Oleh:
Rosiana Indah Purnomo NIM: 079114088
PROGRAM STUDI PSIKOLOGI JURUSAN PSIKOLOGI
FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA
iv
Karya ini aku persembahkan untuk:
Jesus Christ, my Almighty God,
for guiding me so that I can stand right here, right now..
it’s all about You..
and it’s only by Your grace..
My beloved dad, mom, and brothers,
for your pray and support..
for raising me up when I was down..
for loving me the way I am..
My friends, students, and partners-in-crime,
v
MOTTO
“Sukacita Surga”
(True Worshippers - Captivated)
T’rima sukacita surga, itulah kekuatan bagi jiwa
Kudapat rasakan kasih-Nya di tengah badai yang bergelora
T’rima sukacita surga, itulah kekuatan bagi jiwa
Kudapat saksikan kuasa-Nya taklukkan badai yang bergelora
Haleluya! Kau ada dalam hatiku
Tak kan patah semangatku, tak kan hilang kekuatanku
Haleluya! Ku mau bersorak bagi-Mu
Sukacita surga nyata penuhiku
...tetapi orang-orang yang menanti-nantikan Tuhan mendapat kekuatan baru: mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya; mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah (yes.40:31)
vii
HUBUNGAN ANTARA STRATEGI BELAJAR DAN
PRESTASI BELAJAR MAHASISWA
Rosiana Indah Purnomo
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara strategi belajar dan prestasi belajar mahasiswa. Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah ada hubungan positif antara strategi belajar dan prestasi belajar. Subyek penelitian ini adalah mahasiswa S1 Universitas Sanata Dharma Yogyakarta yang berasal dari dua puluh tiga program studi dari angkatan 2007, 2008, dan 2009. Proses pengumpulan data strategi belajar dilakukan dengan menggunakan skala
Goal Orientation and Learning Strategies Survey (GOALS-S) sedangkan prestasi belajar dengan
metode dokumentasi berupa IPK. Reliabilitas skala GOALS-S diuji dengan menggunakan metode koefisien reliabilitas Alpha Cronbach dan diperoleh hasil sebesar 0.733 dari 53 aitem. Data dianalisis dengan teknik korelasiSpearman’s rho. Hasil analisis menunjukkan besarnya koefisien
korelasi yang dicapai adalah 0.091 dengan taraf signifikansi 0.010 (p<0.025). Berdasarkan hasil tersebut, hipotesis yang menyatakan bahwa ada hubungan positif antara strategi belajar dan prestasi belajar diterima.
viii
THE RELATION BETWEEN LEARNING STRATEGIES AND
STUDENTS’ LEARNING ACHIEVEMENT
Rosiana Indah Purnomo
ABSTRACT
This research is aimed to know the relation between learning strategies and students’ learning achievement. The hypothesis proposed in this research is that there was a positive relation between learning strategies and achievement. The research subjects were twenty three S1 study programs students of Sanata Dharma University Yogyakarta from 2007, 2008, and 2009 academic year. Learning strategies data collection process was done using Goal Orientation and Learning Strategies Survey (GOALS-S), while the learning achievement was done using documentation method of GPA. The reliability of GOALS-S was tested using Alpha Cronbach co-efficient reliability method, and was obtained the result 0.733 of 53 items. The data was analyzed using Spearman’s rho correlation technique. The result shows that the co-efficient was 0.091 with 0.010 (p<0.025) level of significance. Based on it, hypothesis states that there was a positive relation between learning strategies and learning achievement was accepted.
x
KATA PENGANTAR
Segala puji, hormat, syukur, dan kemuliaan penulis naikkan pada
Tuhan karena atas penyertaan, pimpinan, dan berkat-Nya sehingga penulis mampu
menyelesaikan tulisan ini. Penulis menyadari bahwa penulis mendapat banyak
bantuan yang tulus dari berbagai pihak selama penulis mengerjakan tulisan ini.
Oleh karena itu, penulis menyampaikan rasa terima kasih pada mereka yang telah
membantu penulis baik selama masa studi terlebih dalam hidup penulis:
1. Tuhan Yesus Kristus, sang Alfa, atas kasih dan anugrah-Nya sampai saat ini.
Bab tentang kuliah sudah selesai di tangan-Mu, bab-bab berikutnya pun
kuserahkan dalam tangan-Mu.
2. Papa, Mama, dek Hans dan Joy, terima kasih untuk kesempatan yang
diberikan sehingga penulis bisa kuliah dan menyelesaikan studi. Terima kasih
untuk semangat yang diberikan dalam bentuk apapun juga.
3. Ibu Christina Siwi H. selaku Dekan fakultas Psikologi USD atas fasilitas yang
diberikan selama penulis studi di fakultas ini.
4. Ibu Titik Kristiyani selaku kepala program studi sekaligus dosen pembimbing
skripsi atas masukan, kritikan, dan bimbingan selama proses pengerjaan
skripsi ini.
5. Bapak Y. Heri Widodo selaku dosen pembimbing akademik yang setiap
xi
6. Segenap dosen pengajar serta staf yang ada di lingkungan fakultas Psikologi
atas berbagai ilmu dan pelajaran hidup yang diberikan, bantuan, informasi,
serta pelayanan.
7. Pdt. Jairus Hasugian, M. Th dan Pdm. Linawati Santoso selaku Gembala
Jemaat GIA Klaten yang selalu mendukung dalam doa dan semangat;
anak-anak dan teman-teman Kebaktian Anak-anak-anak (KAA) yang pernah jadi subyek
salah satu tugas kuliah; teman-teman sie Musik Pujian, terkhusus untuk ko
Hanny+cik Lan+Tasya, Linda, Jo, Kia, Ronel, Jerkun; dan semua jemaat atas
dukungan doanya. Tidak lupa untuk kak Marlon dan jemaat GBI Tiberias
Klaten atas dukungan doanya.
8. Sahabat-sahabatku: Gabey, sukses buat skripsi, karir, hidup, dan cintamu
juga. BFF; Alm. Aristarkhus Daely, terima kasih untuk bantuanmu di
awal-awal kuliahku yang tidak akan pernah aku lupakan. Sampai ketemu di surga
sana.
9. Teman-teman seperjuangan: Linda, Dewi, Silvy, dan Ratih. Dari kalianlah
aku memaknai kata ‘seperjuangan’. Teman-teman autis: Hellen, Nadya,
Cangang, Ratih lagi, Wening, dan Nana cabe yang memberi penghiburan di
kala penat dan bosan melanda. Guru statistikku Ateng. Keluarga Cemara:
Kieky, Tisa, Kiky ‘umi’, Putra ‘Abah’, dan Ganis. Teman-teman ruZuhErs:
mb’Githa, mb’Wiera, mb’Nurma, ko’Ucuph untuk kebersamaan, kenangan,
dan doa-doa kalian. Teman-teman PMK Eben-haezer: mas Ari, Yoga,
k’Chris, k’Dima, Noni, Dicky, Alvi, Rea, Fiona, Raisa, Gloria, Waldi, Erick
xii
10. Rekan di Bambini Montessori School: Ms. Vanda selaku direktur, Mr. Slamet
selaku kepala sekolah, and Ms. Anna selaku wakil kepala sekolah untuk
toleransi yang diberikan. Secara khusus untuk partner guru di kelas Sun, Ms.
Wida, maaf karena sering meninggalkanmu di siang hari. Untuk anak-anak
kelas Sun yang menjadi sumber energiku, terima kasih banyak karena telah
mengajariku banyak hal.
11. Semua teman yang menjadi subyek penelitian ini, serta kalian yang
membantu tersebarnya skala ini. Terima kasih banyak.
12. Sekali lagi buat Tuhan Yesus, sang Omega, terima kasih untuk
malaikat-malaikat yang Kau berikan untukku. Aku memulai bersama Engkau dan aku
mengakhirinya bersama-Mu juga, dan kumasuki bab baru dalam hidup
bersama-Mu.Soli Deo Gloria.
Dengan segala kerendahan hati, penulis menyadari bahwa karya ini
masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu, penulis menerima segala bentuk
masukan, usulan, perbaikan, maupun kritik yang bersifat membangun untuk
penyempurnaan tulisan ini.
Akhirnya, penulis harap tulisan ini dapat memberi manfaat bagi semua
pihak.
Yogyakarta, 29 November 2011
xiii DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL……… i
HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING……… ii
HALAMAN PENGESAHAN……….. iii
HALAMAN PERSEMBAHAN……….. iv
HALAMAN MOTTO………... v
PERNYATAAN KEASLIAN KARYA……….. vi
ABSTRAK……… vii
ABSTRACT……….. viii
PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI……….. ix
KATA PENGANTAR……….. x
DAFTAR ISI………... xiii
DAFTAR TABEL………... xvi
BAB I. PENDAHULUAN……… 1
A. Latar Belakang ……….... 1
B. Rumusan Masalah ………... 5
C. Tujuan Penelitian ……… 5
D. Manfaat Penelitian ……….. 5
BAB II. DASAR TEORI………... 6
A. Strategi Belajar ……….... 6
1. Pengertian Strategi Belajar ……….. 6
xiv
3. Faktor yang Mempengaruhi Penggunaan Strategi Belajar ….. 11
B. Prestasi Belajar ……… 13
1. Pengertian Prestasi Belajar ……….. 13
2. Pengukuran Prestasi Belajar ……… 14
3. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Prestasi Belajar …………15
C. Mahasiswa ………... 19
D. Hubungan Strategi Belajar dan Prestasi Belajar ………. 20
E. Hipotesis ……….. 27
BAB III. METODOLOGI PENELITIAN……….. 28
A. Tujuan Penelitian ………. 28
B. Jenis Penelitian ……… 28
C. Variabel Penelitian ……….. 28
D. Definisi Operasional ……….... 28
E. Subyek Penelitian ……… 29
F. Metode dan Alat Pengumpulan Data ……….. 30
G. Validitas dan Reliabilitas Alat Ukur ………33
H. Hasil Uji Coba ………. 34
I. Metode Analisis Data ……….. 36
BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN………. 38
A. Pelaksanaan Penelitian ……… 38
B. Deskripsi Subyek Penelitian ……… 39
C. Deskripsi Data ………. 39
xv
E. Pembahasan ……… 42
BAB V. PENUTUP……….. 46
A. Kesimpulan ……….. 46
B. Saran ……… 46
DAFTAR PUSTAKA……… 47
xvi
DAFTAR TABEL
Tabel 1. Ekuivalensi Huruf Mutu ……… 15
Tabel 2.Blue PrintSkala Sebelum Uji Coba ……….. 32
Tabel 3. Bobot Nilai Aitem ………. 33
Tabel 4.Blue PrintSkala Setelah Uji Coba ……… 36
Tabel 5.Blue PrintSkala Setelah Uji Coba dengan Penyesuaian Nomor ….. 37
Tabel 6. Data Demografi Subyek ……… 40
Tabel 7. Deskripsi Data Penelitian ……….. 40
Tabel 8. Hasil Uji Normalitas ………. 41
Tabel 9. Hasil Uji Linieritas ……… 42
1 BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Mahasiswa adalah orang yang belajar di perguruan tinggi (Kamus
Besar Bahasa Indonesia) atau peserta didik yang terdaftar dan belajar pada
universitas (Peraturan Akademik Universitas Sanata Dharma, 2010). Dari
segi usia, mahasiswa pada umumnya berusia 17 tahun sampai 24 tahun.
Menurut Hurlock (1990), pada usia tersebut seseorang berada pada tahap
remaja akhir (16 atau 17 sampai 18 tahun) menuju dewasa awal (18 – 40
tahun). Mahasiswa juga dapat dikategorikan sebagai pembelajar dewasa
(Supratiknya, 2006).
Tugas utama mahasiswa adalah menyelesaikan pendidikan tinggi
yang sedang ditempuh. Dalam menyelesaikan tugas tersebut, mahasiswa
dihadapkan pada berbagai tuntutan akademik dalam setiap mata kuliah
yang diambil. Pada akhirnya, kemampuan mahasiswa dalam
menyelesaikan tuntutan tersebut tampak dalam prestasi belajar yang
dilambangkan dengan nilai akhir yang diakumulasi menjadi suatu indeks
prestasi akademik (IPK).
Tinggi rendahnya prestasi belajar seorang mahasiswa menunjukkan
bagaimana dia berproses selama masih menjadi mahasiswa di bangku
dilakukan mahasiswa tersebut. Jika prestasi belajar mahasiswa itu baik,
maka dia tentunya melewati suatu proses belajar yang mendukung pula.
Meskipun demikian, berdasarkan pengalaman peneliti mengikuti
proses belajar di sebuah universitas di Yogyakarta, peneliti mendapati
bahwa terkadang cukup sulit untuk memperoleh prestasi belajar yang
tinggi di suatu bidang atau mata kuliah sekalipun telah berusaha atau
belajar keras. Hal ini juga dirasakan oleh beberapa teman peneliti. Oleh
karena itu, prestasi belajar atau IPK yang diperoleh terkadang kurang
sesuai dengan apa yang diharapkan hanya karena prestasi di salah satu
mata kuliah kurang maksimal.
Tinggi rendahnya prestasi akademik ini dapat dipengaruhi oleh
beberapa faktor. Sebuah survey dilakukan terhadap 39 mahasiswa fakultas
Psikologi pada hari Rabu, 17 Februari 2011 untuk mengetahui
faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi prestasi belajar mereka. Jawaban yang
diberikan bermacam-macam, namun secara umum didapat adanya faktor
motivasi (dinyatakan oleh 19 dari 39 mahasiswa), suasana hati (13 dari 39
mahasiswa), strategi atau cara belajar (13 dari 39 mahasiswa), lingkungan
(12 dari 39 mahasiswa), dukungan sosial (11 dari 39 mahasiswa), dan
beberapa faktor lain, seperti intelegensi, kondisi fisik, cara mengajar
dosen, serta keberuntungan.
Dari beberapa faktor tersebut, pada penelitian ini peneliti memilih
untuk mengkaji cara atau strategi belajar. Peneliti tidak meneliti
yang masih dapat berubah ataupun ditingkatkan. Selain itu, penelitian
mengenai strategi belajar masih jarang dijumpai, tidak seperti motivasi
belajar seperti yang dilakukan oleh Aplugi (2010), Pratiwi (2010),
Noviastuti (2009) maupun dukungan sosial sebagaimana penelitian
Apriliya (2007) dan Chusna (2009).
Strategi berarti prosedur mental yang berbentuk tahapan yang
memerlukan alokasi upaya-upaya yang bersifat kognitif dan selalu
dipengaruhi oleh pilihan-pilihan kognitif atau pilihan-pilihan kebiasaan
belajar (Syah, 2008:51). Ormrod (2008) menyimpulkan strategi belajar
sebagai satu atau lebih proses-proses kognitif yang digunakan secara
sengaja untuk tugas-tugas belajar tertentu.
Menurut teori tahap perkembangan kognitif Piaget, mahasiswa
seharusnya sudah melampaui tahap operasional formal sehingga mampu
berpikir secara abstrak dan lebih logis. Oleh karena itu, mahasiswa
seharusnya semakin mampu menemukan manfaat dari proses-proses
kognitif dan menggunakannya lebih sering lagi (Ormrod, 2008). Selain itu,
hasil beberapa penelitian yang dikutip oleh Dowson dan McInerney (2004)
menyatakan bahwa cara murid menyusun dan menyelaraskan strategi dan
tujuan mereka yang beragam terkait erat dengan hasil akademik mereka.
Di samping itu, berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Watson,
McSorley, Foxcroft, dan Watson (2004) didapat bahwa ada hubungan
antara performansi akademik dan motivasi, strategi belajar, dan
umum, prestasi akademik memiliki hubungan positif dengan strategi
belajar yang mendalam dan negatif dengan strategi belajar permukaan
(Al-Harthy & Was, 2010; Diseth, Pallesen, Brunborg, & Larsen, 2010).
Weinstein dan Mayer (dalam Pintrich & De Groot, 1990) menemukan
bahwa strategi kognitif (rehearsal, elaborasi, dan organisasi) dapat
mendukung adanya keterlibatkan kognitif dalam proses belajar dan
menghasilkan tingkat prestasi yang lebih tinggi. Duncan dan McKeachie
(2005) juga menyatakan bahwa murid yang menggunakan strategi
pemrosesan yang mendalam, seperti elaborasi dan organisasi, dan
mencoba untuk mengontrol kognisi dan perilaku mereka melalui
penggunaan strategi metakognitif, yaitu perencanaan, pemantauan, dan
pengaturan atau regulasi, pada umumnya memiliki hasil yang lebih baik
dalam pengerjaan tugas, ujian, makalah, dan nilai akhir.
Strategi belajar ada bermacam-macam, namun strategi-strategi
belajar tersebut dapat digolongkan menjadi dua kelompok besar yaitu
strategi kognitif dan metakognitif (Dowson dan McInerney, 2004).
Berdasarkan pengamatan informal peneliti, diketahui bahwa mahasiswa
menerapkan cara atau strategi belajar yang berbeda satu dengan yang lain.
Ada mahasiswa yang menggunakan strategi mendalam, yang meliputi
operasionalisasi dari kedua strategi tersebut. Di akhir semester, mahasiswa
tersebut memperoleh nilai akhir yang baik sehingga IPK-nya pun tinggi.
Di sisi lain, ada pula mahasiswa yang menggunakan strategi level
dalam waktu yang relatif singkat. Meskipun demikian prestasi yang
diperoleh pun tidak jauh berbeda dengan mahasiswa dengan level
pemrosesan mendalam.
Temuan tersebut semakin menguatkan peneliti untuk melakukan
penelitian guna mengetahui ada tidaknya hubungan antara strategi belajar
dan prestasi belajar mahasiswa
B. RUMUSAN MASALAH
Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah apakah ada
hubungan antara strategi belajar dan prestasi belajar mahasiswa?
C. TUJUAN PENELITIAN
Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui ada tidaknya
hubungan antara strategi belajar dan prestasi belajar pada mahasiswa.
D. MANFAAT PENELITIAN
1. Manfaat Teoretis
Menambah atau menguatkan hasil-hasil penelitian sebelumnya
di bidang psikologi pendidikan, khususnya mengenai hubungan
antara strategi belajar dan prestasi belajar mahasiswa.
2. Manfaat Praktis
Apabila penelitian ini memberikan hasil yang positif,
diharapkan mahasiswa dapat menerapkan strategi belajar yang
6 BAB II
LANDASAN TEORI
A. STRATEGI BELAJAR
1. Pengertian Strategi Belajar
McKeachie et al. (1985) menyatakan bahwa strategi belajar
merupakan suatu proses yang mempengaruhi masuk dan bertahannya
suatu informasi dimana proses tersebut melibatkan fungsi kognisi dan
perilaku seseorang. Ormrod (2008) menambahkan bahwa strategi
belajar merupakan suatu proses yang digunakan secara sengaja untuk
menghadapi tugas-tugas belajar. Lawson (dalam Syah, 2008) juga
menambahkan bahwa strategi tersebut tidak hanya digunakan untuk
memecahkan masalah tetapi juga untuk mencapai tujuan belajar yang
telah ditetapkan. Hal yang serupa diungkapkan oleh Schumaker dan
Deshler (dalam Sárvári, Lavicza & Klincsik, 2010) yang menyatakan
bahwa strategi belajar merupakan pendekatan pribadi yang
berbeda-beda yang digunakan untuk mengatasi tugas yang bermacam-macam.
Strategi belajar juga menunjukkan bagaimana murid mengatur dan
menggunakan kemampuan untuk mempelajari isi pelajaran tertentu
secara efektif dan efisien baik saat di kelas maupun di luar kelas.
Berdasarkan definisi-definisi tersebut, peneliti menyimpulkan
strategi belajar adalah berbagai proses kognitif yang meliputi teknik,
memasukkan dan mempertahankan berbagai informasi yang berguna
dalam penyelesaian tugas belajar maupun pemecahan masalah yang
timbul selama belajar.
2. Konstrak Strategi Belajar
Dowson dan McInerney (2004) membagi strategi belajar
menjadi dua konstrak, yaitu strategi kognitif dan metakognitif.
a) Strategi kognitif
Strategi kognitif mengacu pada kemampuan kognitif
seseorang. Strategi kognitif untuk belajar yang diterapkan oleh
seorang pembelajar dikontrol oleh fungsi kognisinya (Pintrich,
1995; Vrugt & Oort, 2008 dalam Al-Harthy & Was, 2010). Strategi
kognitif ini melibatkan penggunaan strategi yang mendasar dan
kompleks untuk memproses informasi dari buku ataupun dosen
(Duncan & McKeachie, 2005).
Strategi kognitif memiliki beberapa konstrak (Pintrich et
al., 1991, Paulsen & Gentry, 1995 dalam Al-Harthy & Was, 2010;
Dowson & McInerney, 2004), yaitu:
1) Rehearsal
Merupakan strategi level terendah atau mendasar yang
digunakan untuk mengingat dan memanggil pengetahuan yang
rehearsal misalnya: mendaftar, mengingat, mengulang, atau
menyebutkan hal-hal yang dipelajari.
2) Elaborasi
Ormrod (2011) mendefinisikan elaborasi sebagai penggunaan
pengetahuan yang sudah ada untuk mengembangkan atau
memperkaya gagasan baru dengan cara tertentu, misalnya
dengan mengkritisi, mencari contoh, atau dengan
menerapkannya. Elaborasi merupakan strategi yang aktif dan
levelnya lebih tinggi atau kompleks yang membantu
pembelajar membuat koneksi internal antara informasi baru
dengan sebelumnya. Ormrod (2008) juga menyatakan bahwa
elabprasi merupakan salah satu strategi belajar yang efektif.
Bentuk elaborasi misalnya: mengekstrak makna,
memparafrase, menganalogi, mereview pekerjaan sebelumnya,
dan lain-lain.
3) Organisasi
Mengorganisasikan informasi merupakan salah satu bentuk
strategi belajar yang efektif (Ormrod, 2008). Sama seperti
elaborasi, organisasi juga merupakan strategi dengan level
yang lebih tinggi atau kompleks dan membantu dalam
membuat koneksi atau hubungan antaride. Bentuk organisasi
misalnya: menyeleksi, membuat urutan, menggarisbawahi,
Rehearsal, elaborasi, dan organisasi mencerminkan
penggunaan kognitif dasar dan strategi belajar untuk memahami
materi di kelas (Pintrich, 2004:393).
b) Strategi metakognitif
Strategi metakognitif mengacu pada kemampuan
metakognitif seseorang. Metakognisi adalah pengetahuan tentang
pembelajaran diri sendiri atau pemikiran tentang pemikiran (Slavin,
2009). Schunk dan Zimmerman (dalam Slavin, 2009)
menambahkan bahwa metakognisi juga berarti mengetahui ketika
tidak mengerti dan tahu bagaimana membetulkan diri sendiri. Salah
satu fungsi penting dari metakognisi adalah mengawasi cara
seseorang memilih dan menggunakan strategi untuk mengingat
sehingga dapat dikatakan bahwa metakognisi merupakan suatu
proses yang sangat aktif (Matlin, 2009:182). Duncan dan
McKeachie menggunakan istilah strategi kontrol metakognitif,
yang memiliki arti adanya penggunaan strategi yang membantu
siswa mengontrol dan meregulasi kognisi mereka. Senada dengan
pernyataan tersebut, Lv dan Chen (2010) mengemukakan bahwa
strategi metakognitif merupakan kemampuan, pendekatan, proses
berpikir, dan tindakan pembelajar untuk mengontrol kognisi dan
proses belajarnya. Lynch (2010) menambahkan bahwa regulasi
dilakukan pembelajar terhadap proses belajar dan strategi
belajarnya. Dengan demikian, dapat dipahami bahwa strategi
metakognitif merupakan proses berpikir secara sadar mengenai
pendekatan belajar seseorang (Pintrich & Smith, 1993 dalam
Watson et al., 2004).
Metakognisi dioperasionalisasikan dalam berbagai cara.
Menurut Dowson dan McInerney, cara-cara tersebut adalah:
1) Monitoring, yaitu pemeriksaan terhadap pemahaman diri,
pengujian diri, dan menyebutkan kembali materi-materi yang
telah dipelajari. Monitoring mengimplikasikan suatu usaha
yang sistematis dalam mengevaluasi asimilasi dan organisasi
hal-hal yang dipelajari. Dalam memonitoring, seorang
pembelajar akan menyadari apa yang sedang dia lakukan (Lv
& Chen, 2010). Di samping itu, Ormrod (2008) menegaskan
bahwa tindakan memonitoring pemahaman merupakan salah
satu strategi belajar yang efektif.
2) Perencanaan, yaitu membuat prioritas, manajemen waktu,
penjadwalan, menetapkan tujuan yang realistis, dan menyusun
lingkungan kerja secara tepat. Perencanaan mengimplikasikan
persiapan yang matang untuk menyelesaikan pekerjaan.
3) Regulasi, yaitu mengusahakan cara yang berbeda untuk
mempelajari materi, meminta penjelasan dari pengajar, dan
Watson et al. mengemukakan bahwa regulasi ini dapat muncul
sebagai respon terhadap perubahan permintaan atau tuntutan di
kelas.
Jacobs dan Paris (1987), Veenman at al. (2006) dan Winne
(1996) (dalam Al-Harthy & Was, 2010) menambahkan satu
variabel dalam strategi metakognitif yaitu evaluasi, yang
merupakan penilaian (judgment) personal tentang hasil dan efikasi
pembelajaran seseorang, misalnya mengevaluasi tujuan seseorang.
O’Malley dan Chamot (dalam Lv & Chen, 2010) disimpulkan
bahwa strategi metakognitif melibatkan pemikiran terhadap proses
belajar, perencanaan belajar, pemonitoran tugas belajar, dan
pengevaluasian terhadap materi yang telah dipelajari.
3. Faktor yang Mempengaruhi Penggunaan Strategi Belajar
Beberapa peneliti telah mengemukakan bahwa penggunaan
suatu strategi belajar dipengaruhi oleh beberapa hal. Hal ini
disebabkan strategi belajar bukanlah sifat dasar (traits) sehingga bisa
bervariasi serta memiliki sifat dapat dipelajari dan dikontrol oleh
pembelajar yang bersangkutan (Duncan & McKeachie, 2005). Oleh
karena itu, penggunaan strategi belajar bisa berubah selama proses
Ormrod (2008) mengemukakan bahwa ada beberapa hal yang
mempengaruhi digunakannya suatu strategi belajar oleh pembelajar,
yaitu:
a) Strategi belajar tergantung pada tugas yang diberikan.
Senada dengan Ormrod, Duncan dan McKeachie (2005)
mengutarakan bahwa perubahan strategi belajar dapat
dipengaruhi oleh sifat tugas akademik yang dihadapi oleh
pembelajar. Sifat tugas tersebut misalnya pilihan ganda atau
esai.
b) Siswa akan menguasai dan menggunakan strategi belajar
yang baru dan lebih efektif jika dia menyadari bahwa
strategi yang sebelumnya tidak efektif.
c) Keyakinan siswa pada ilmu dan pembelajaran berpengaruh
pada pilihan strategi belajarnya.
d) Motif dan tujuan yang berbeda akan menghasilkan strategi
yang berbeda pula. Hal ini sejalan dengan pernyataan
Schutz (1997) yang menyatakan bahwa salah satu yang bisa
mempengaruhi penggunaan strategi belajar yang efektif
adalah adanya orientasi tujuan belajar dan sub tujuan itu
sendiri.
e) Instruksi dan pedoman yang ada tentang strategi yang
B. PRESTASI BELAJAR
1. Pengertian Prestasi Belajar
Winkel (1996) mengungkapkan bahwa prestasi belajar
menunjukkan apakah hasil belajar seorang pembelajar telah mencapai
tujuan yang ditetapkan atau tidak. Selain itu, prestasi belajar
menunjukkan sejauh mana kemajuan mahasiswa dalam belajar
(Suryabrata, 2005). Senada dengan pernyataan tersebut,
Poerwadarminta (dalam Tanaya, Hartanti dan Kartika, 1999) juga
menyatakan bahwa prestasi belajar adalah hasil yang telah dicapai,
dilakukan, atau dikerjakan seseorang sebagai hasil dari belajar. Kamus
Besar Bahasa Indonesia mendefinisikan prestasi belajar sebagai
penguasaan pengetahuan atau keterampilan yang dikembangkan
melalui mata pelajaran, lazimnya ditunjukkan dengan nilai tes atau
angka nilai yang diberikan guru. Syah (2006) mengungkapkan bahwa
prestasi belajar menggambarkan tingkat keberhasilan siswa untuk
mencapai tujuan yang telah ditetapkan dalam suatu program
pendidikan. Berdasarkan pernyataan-pernyataan tersebut, dapat
disimpulkan bahwa prestasi belajar merupakan keberhasilan seorang
pembelajar dalam menguasai pengetahuan atau keterampilan yang
diperoleh melalui proses belajar dan pencapaian tujuan belajar yang
2. Pengukuran Prestasi Belajar
Winkel (1996) dan Suryabrata (2005) berpendapat bahwa
pendidikan merupakan usaha manusia, dalam hal ini pendidik, untuk
dengan penuh tanggung jawab membimbing anak-anak didik ke
kedewasaan. Suatu kegiatan untuk menilai hasil usaha tersebut
dilakukan untuk mengetahui sejauh mana tujuan yang telah ditetapkan
sebelumnya telah terwujud atau terlaksana. Penilaian tersebut
dilakukan dengan beberapa cara. Cara yang paling umum dilakukan
adalah dengan menguji anak didik.
Prestasi belajar mahasiswa berasal dari nilai-nilai tugas,
performansi di kelas atau keaktifan, dan ujian-ujian baik ujian tengah
semester maupun ujian akhir semester. Nilai akhir suatu mata kuliah
dinyatakan dengan huruf yang mengandung bobot kuantitatif tertentu.
Tabel 1 : Ekuivalensi Huruf Mutu
Huruf Mutu Ekuivalensi kuantitatif (Angka Mutu)
Indeks Prestasi (IP) merupakan ukuran tingkat keberhasilan
mahasiswa yang dinyatakan dengan bilangan dengan dua angka di
belakang koma. Besarnya IP adalah jumlah hasil kali antara besar
= Σ
ΣK
Pada akhir suatu semester, besarnya IP akan mempengaruhi
jumlah kredit yang dapat diambil di semester berikutnya. Mahasiswa
dengan IP lebih besar atau sama dengan 3,00 boleh mengambil sampai
maksimal 26 satuan kredit, namun mahasiswa dengan IP kurang dari
2,5 hanya boleh mengambil 20 satuan kredit. Mahasiswa dengan besar
IP di antaranya boleh mengambil maksimal 23 satuan kredit.
Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) merupakan akumulasi IP dari
semester awal hingga semester terakhir yang ditempuh. Besarnya IPK
menentukan predikat kelulusan seorang mahasiswa. Predikat
‘Memuaskan’ diberikan pada mahasiswa dengan IPK antara 2,00 –
2,75, sedangkan predikat ‘Sangat Memuaskan’ diberikan pada
mahasiswa dengan IPK antara 2,76 – 3,50. Mahasiswa dengan IPK
3,51 – 4,00 dan dengan masa studi maksimal menurut kurikulum akan
mendapat predikat ‘Dengan Pujian’.
3. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Prestasi Belajar
Secara umum, ada dua faktor yang mempengaruhi prestasi
belajar seseorang yaitu faktor internal dan eksternal (Syah, 2006).
a) Faktor internal
Merupakan faktor yang berasal dari dalam diri siswa sendiri, yang
1) Aspek fisiologis
Kondisi tubuh, kesehatan, dan keberfungsian organ berperan
dalam proses belajar siswa. Hal ini dikarenakan siswa
menggunakan sebagian besar organ maupun anggota tubuh
saat belajar. Gangguan pada suatu bagian akan mempengaruhi
penerimaan materi oleh siswa sehingga bisa terjadi materi
tersebut tidak diterima secara utuh atau tidak berbekas.
2) Aspek psikologis
i. Tingkat kecerdasan atau intelegensi
Intelegensi merupakan kemampuan psiko-fisik untuk
mereaksi rangsangan atau menyesuaikan diri dengan
lingkungan dengan cara yang tepat (Reber dalam Syah,
2008). Semakin tinggi tingkat intelegensi seorang siswa,
maka semakin tinggi kemampuannya untuk beradaptasi
dan semakin mampu dalam belajar, terutama dalam belajar
hal-hal baru.
ii. Sikap siswa
Sikap siswa yang positif membari efek yang positif, baik
terhadap guru maupun materi sehingga tidak banyak
menimbulkan kesulitan belajar.
iii. Bakat siswa
Pada dasarnya, setiap siswa memiliki bakat atau potensi
masing-masing. Oleh karena itu, prestasi seorang siswa
akan lebih menonjol pada bidang-bidang tertentu yang
menjadi bakatnya.
iv. Minat siswa
Minat seorang siswa juga terkait dengan pemusatan
perhatian, keingintahuan, motivasi, dan kebutuhan.
Seorang siswa yang berminat pada sesuatu akan menaruh
perhatian lebih pada hal tersebut dan kemudian menggali
banyak hal tentangnya.
v. Motivasi siswa
Hal yang mendorong siswa untuk melakukan sesuatu,
dalam hal ini belajar, dibedakan menjadi dua berdasarkan
sumbernya, yaitu berasal dari dalam diri siswa atau
intrinsik dan berasal dari luar diri siswa atau ekstrinsik.
Motivasi intrinsik lebih berpengaruh terhadap proses
belajar dan prestasi siswa karena berasal dari siswa sendiri
tanpa adanya paksaan atau tekanan dari pihak luar.
b) Faktor eksternal
Merupakan faktor yang berasal dari luar siswa, yang meliputi
faktor lingkungan sosial dan nonsosial.
1) Faktor lingkungan sosial
Dukungan dari orang tua, keluarga, teman sebaya, guru, dan
mempengaruhi proses belajar siswa. Di samping itu, seorang
siswa juga belajar dari lingkungannya. Jika lingkungannhya
memberi stimulus yang baik, maka siswa juga akan
mempelajari sesuatu yang baik.
2) Faktor lingkungan nonsosial
Lingkungan nonsosial meliputi kondisi dan lokasi bangunan
rumah dan sekolah, fasilitas belajar, suasana kelas, keadaan
cuaca, serta hal-hal fisik lainnya yang tidak berhubungan
dengan personal.
c) Faktor pendekatan belajar
Cara seorang pembelajar belajar, baik itu mempelajari materi lama
maupun materi baru, berpengaruh pada proses belajar dan tingkat
keberhasilan belajarnya. Hal ini dipengaruhi oleh tingkat
pemrosesan yang dilakukan si pembelajar. Craik dan Lockhart
(dalam Santrock, 2009:360) menyatakan bahwa pemrosesan
memori terjadi pada kontinum dari dangkal ke mendalam.
Semakin mendalam prosesnya, semakin baik pula memori yang
dihasilkan.
1) Pemrosesan tingkat dangkal terjadi ketika seorang pembelajar
menganalisis ciri-ciri atau fitur-fitur fisik dari suatu materi.
2) Pemrosesan tingkat menengah berarti menenali stimulus dan
Pada tingkat yang mendalam, seorang pembelajar akan
memproses makna dari suatu informasi secara semantis. Entwistle
(dalam Elliot et. al. 1999) mengemukakan bahwa pemrosesan pada
tingkat ini melibatkan pembuktian kebenaran informasi yang didapat
dan suatu percobaan untuk mengintegrasikan informasi baru dengan
pengetahuan dan pengalaman yang lalu.
Schutz mengemukakan bahwa prestasi belajar yang baik
merupakan hasil interaksi antara pengetahuan tentang strategi belajar,
motivasi, dan tujuan.
C. MAHASISWA
Mahasiswa khususnya pada semester atas dapat dikategorikan
sebagai pembelajar dewasa (Supratiknya, 2006:94). Daines, Daines, dan
Graham (dalam Supratiknya, 2006) mengungkapkan bahwa ada beberapa
ciri penting pembelajar dewasa, antara lain:
1. Memiliki cukup banyak pengetahuan dan pengalaman yang
relevan dengan apa yang mereka pelajari sekarang dan
mampu mentransfer pengetahuan dan pengalamannya itu
pada proses belajarnya kini.
2. Memiliki sikap, gaya berpikir, dan cara-cara menjalankan
tugas yang relatif menetap sebagai ciri khas masing-masing
serta yang akan memudahkan mereka menghadapi situasi
3. Dapat dan senang diberi kesempatan untuk bertanggung
jawab.
D. HUBUNGAN STRATEGI BELAJAR DAN PRESTASI BELAJAR
Strategi belajar secara umum ada dua yaitu strategi kognitif dan
metakognitif. Strategi kognitif memiliki tiga konstrak, yaitu: rehearsal,
elaborasi, dan organisasi, sedangkan strategi metakognitif juga memiliki
tiga konstrak, yaitu:monitoring,planning, dan regulasi.
Rehearsal yaitu mengulang informasi secara sadar untuk
meningkatkan lamanya informasi tinggal dalam memori. Ada beberapa
proses yang terdapat dalam memori, seperti: pengodean, penyimpanan,
dan pemanggilan kembali. Untuk menghasilkan memori yang baik, maka
pemrosesan informasi dilakukan secara semantik atau dalam hal makna.
Hal ini disebabkan analisis makna yang mendalam memungkinkan
seseorang untuk mengingat informasi dengan lebih baik karena informasi
tersebut disimpan dalam memori jangka panjang (long term memory)
dengan lebih efisien (Craik dan Lockhart, dalam Huffman, Vernoy, &
Vernoy, 2000). Hal ini juga disebabkan kemampuan memori mengalami
peningkatan selama masa anak-anak dan remaja (Lorsbach & Reimer,
1997; Richards (1997) dalam Huffman et al.). Oleh karena itu, mahasiswa
diasumsikan sudah memiliki kemampuan memori yang baik. Dengan
kemampuan memori yang baik, mahasiswa diasumsikan mampu
mengingat dan memanggil kembali memori tersebut dengan lebih lancar
menyelesaikan tugas belajar, sehingga tugas tersebut dapat diselesaikan
dengan baik.
Informasi-informasi yang disimpan terlebih dahulu suatu ketika
dapat mengalami penggabungan dengan informasi baru melalui proses
elaborasi. Elaborasi merupakan proses memikirkan cara yang akan
digunakan untuk mempelajari materi supaya materi tersebut memiliki
koneksi atau hubungan dengan informasi atau ide yang sudah ada dalam
pikiran pembelajar. Dengan kata lain, elaborasi merupakan proses kognitif
di mana pembelajar menggunakan pengetahuan atau informasi awal untuk
mengembangkan ide baru dengan cara tertentu (Ormrod, 2011). Di sisi
lain, Santrock (2009) mendefinisikan elaborasi sebagai suatu keluasan
pemrosesan informasi yang terlibat dalam pengodean informasi. Elaborasi
memiliki fungsi yang baik dalam pengodean karena elaborasi menambah
kekhususan kode memori. Ormrod menambahkan bahwa semakin sering
pembelajar menggunakan apa yang telah diketahui untuk membantu dalam
memahami dan menginterpretasi materi baru, maka akan semakin efektif
pula dia menyimpan dan mengingatnya. Selain itu, ketika seseorang
mengelaborasi informasi, ada lebih banyak informasi yang disimpan.
Ketika ada lebih banyak informasi yang disimpan, maka akan semakin
mudah pula untuk membedakan suatu informasi dengan informasi yang
lain (Santrock, 2009:361). Oleh karena itu, seorang pembelajar akan
mampu membuat suatu pemahaman baru yang relevan dengan situasi
menerus diperbarui, maka seorang pembelajar akan mampu meningkatkan
penguasaannya terhadap suatu materi sehingga dia mampu mengatasi
setiap tugas yang diberikan berkenaan dengan materi tersebut.
Proses kognitif di mana seorang pembelajar membuat hubungan
antara berbagai potongan informasi yang dibutuhkan untuk belajar yang
kemudian dibentuk menjadi suatu struktur yang kohesif disebut organisasi
(Ormrod, 2011:194). Ketika seorang pembelajar melakukan organisasi, dia
mengelompokkan informasi-informasi yang ada berdasarkan tatanan
tertentu. Dalam mengelompokkan berbagai informasi tersebut diperlukan
adanya suatu pemahaman terhadap materi supaya pembelajar mampu
memilih tatanan yang tepat untuk pengelompokan tersebut. Informasi atau
materi yang terorganisasi dengan baik akan lebih mudah dipelajari dan
diingat daripada informasi yang tidak atau kurang diorganisasi (Durso &
Coggins dalam Slavin, 2009). Pengelompokan ini juga akan memudahkan
dalam memahami dan memanggil informasi. Dengan demikian, jika suatu
ketika seorang pembelajar mengalami kesulitan dengan tugas belajarnya
maka dia dapat lebih mudah menggali informasi dan pengetahuan yang
dimilikinya karena informasi-informasi tersebut sudah disimpan secara
teratur dan tidak saling bercampur dengan informasi-informasi yang lain
yang kurang relevan.
Dari sisi metakognitif, menurut Ormrod, monitoring adalah
proses pengecekan terhadap diri sendiri untuk memverifikasi pemahaman
pembelajar yang melakukan mekanisme monitoring mampu mengecek
tingkat kognitifnya sendiri karena pembelajar tahu ketika dia tidak
mengerti dan bagaimana membetulkan diri sendiri (Loizidou & Koutselini,
2007; Schunk & Zimmerman dalam Slavin, 2009). Hal ini menuntut
adanya kesadaran akan pemahaman dan hasil tugas yang dilakukan
pembelajar (Al-Harthy & Was, 2010; Lv & Chen, 2010). Kemampuan
metakognitif untuk memonitor prestasi siswa sendiri dengan menggunakan
strategi yang berbeda dalam belajar dan mengingat dapat berkembang
bersamaan dengan umur (Djiwandono, 2006:168). Oleh karena itu,
mahasiswa diasumsikan memiliki kemampuan monitoring yang lebih baik
sehingga dia semakin efektif dalam belajar karena sudah mengetahui di
bagian mana saja dia mengalami kesulitan. Hal ini membuat mahasiswa
menjadi lebih fokus dalam mempelajari materi yang belum dikuasai
supaya pemahamannya terhadap materi tersebut semakin baik dan
mendalam. Dengan pemahaman yang baik dia akan mampu menunjukkan
performansi akademik yang lebih baik pula.
Seorang pembelajar memilih strategi yang sesuai dan
manajemen sumber daya melalui proses planning dan regulasi. Planning
mengindikasikan pengaturan siswa terhadap tujuan maupun subtujuan
belajarnya serta bagaimana dia berencana menyusun, mengatur waktu, dan
melengkapi kegiatan untuk mencapai tujuan-tujuannya tersebut
(Zimmerman, 1989). Hal tersebut memampukan pembelajar untuk
dapat mengatur dirinya sendiri dengan lebih baik dan lebih efisien karena
sudah ada pedoman langkah-langkah yang ditempuh. Oleh karena itu,
proses belajar akan menjadi lebih terarah. Di samping itu, pembelajar juga
dapat memodifikasi kondisi lingkungan tempat belajarnya sehingga dapat
diperoleh lingkungan yang kondusif dan mendukung proses belajar.
Regulasi adalah strategi yang digunakan untuk membetulkan
atau melengkapi hal-hal yang kurang yang diketahui ketika monitoring
(Dowson & McInerney, 2004:298). Dengan demikian, informasi atau
materi yang diterima pembelajar akan semakin lengkap. Di samping itu,
pembelajar tidak hanya akan menguasai apa yang sudah dimengerti,
namun dia juga akan dapat menguasai hal-hal lain yang sebelumnya belum
dimengerti. Hal ini akan membantu pembelajar mengerjakan tugas
maupun ujian karena dia menjadi semakin kaya dalam pengetahuan dan
pemahaman.
Kedua strategi tersebut digunakan secara bersamaan karena
masing-masing strategi memiliki kekhasan masing-masing yang akan
saling melengkapi. Strategi kognitif berperan dalam keterlibatan
(engagement) pembelajar pada proses belajar, sedangkan strategi
metakognitif pada kesadaran pembelajar terhadap proses belajar yang
sedang dijalani. Keterlibatan akan membangun dasar-dasar penguasaan
dan kesadaran membangun efektifitas serta efisiensi. Ketika pembelajar
menguasai materi, maka dia akan mampu menjawab berbagai tantangan
efektivitas dan efisiensi karena ketika pembelajar menyadari di mana letak
kesulitan ataupun kekurangannya, dia akan fokus pada penyelesaian
masalahnya tersebut. Kemampuan pembelajar untuk mengaktifkan
informasi lama, dan secara tepat menggunakan berbagai strategi kognitif
dan metakognitif dengan tujuan untuk mendapat ataupun
mengintegrasikan pengetahuan baru, akan mempengaruhi kualitas
keterlibatannya dalam proses belajar itu sendiri serta keberhasilan
Strategi
relevan dengan situasi baru
E. HIPOTESIS
Berdasarkan uraian di atas, maka peneliti merumuskan suatu
hipotesis penelitian yaitu ada hubungan positif antara strategi belajar dan
prestasi belajar. Jika subyek menggunakan strategi belajar maka prestasi
belajar subyek tinggi, namun jika subyek tidak menggunakan strategi
28
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A. TUJUAN PENELITIAN
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui ada tidaknya
hubungan antara strategi belajar dan prestasi belajar.
B. JENIS PENELITIAN
Penelitian ini merupakan penelitian survei dengan pendekatan
korelasional. Pendekatan korelasi merupakan teknik analisis yang melihat
kecenderungan pola dalam satu variabel berdasarkan kecenderungan pola
dalam variabel yang lain (Santoso, 2010:121).
C. VARIABEL PENELITIAN
Variabel bebas (x) pada penelitian ini adalah strategi belajar.
Variabel tergantung (y) pada penelitian ini adalah prestasi belajar.
D. DEFINISI OPERASIONAL
1. Strategi Belajar
Strategi belajar adalah berbagai proses kognitif yang meliputi
teknik, kemampuan dan perilaku yang digunakan secara sengaja untuk
memasukkan dan mempertahankan berbagai informasi yang berguna
timbul selama belajar. Strategi belajar akan diukur dengan skala strategi
belajar yang disusun berdasarkan aspek-aspek yang dipaparkan oleh
Dawson dan McInerney (2004). Aspek-aspek tersebut adalah kognitif
dan metakognitif, dengan konstrak masing-masing. Skor yang tinggi
pada skala ini menunjukkan bahwa subyek menggunakan strategi belajar
kognitif dan metakognitif, sedangkan skor yang rendah menunjukkan
bahwa subyek tidak menggunakan strategi belajar tersebut.
2. Prestasi Belajar
Prestasi belajar adalah bukti keberhasilan seorang pembelajar
dalam menguasai pengetahuan atau keterampilan yang diperoleh melalui
proses belajar dan pancapaian target belajar yang ditunjukkan dengan
angka nilai. Prestasi belajar akan diukur dengan dokumentasi IPK. Skor
yang tinggi menunjukkan bahwa prestasi belajar subyek tinggi,
sedangkan skor yang rendah menunjukkan prestasi belajar subyek
rendah.
E. SUBYEK PENELITIAN
Penelitian ini merupakan penelitian payung yang bertujuan untuk
mengetahui kondisi psikologis-akademis mahasiswa di Universitas Sanata
Dharma Yogyakarta terutama dalam hal orientasi tujuan dan strategi belajar.
Subyek dalam penelitian ini adalah mahasiswa Universitas Sanata Dharma
dari 23 program studi yang berasal dari angkatan 2007, 2008, dan 2009. Dari
jumlah mahasiswa per angkatan. Prosentase tersebut diambil karena dianggap
sudah mewakili populasi mahasiswa USD secara keseluruhan. Kemudian
peneliti melakukan analisis korelasi terhadap variabel strategi belajar dan
prestasi belajar berdasarkan data yang telah diperoleh.
F. METODE DAN ALAT PENGUMPULAN DATA
Data dikumpulkan dengan dua metode yaitu metode skala dan
dokumentasi. Metode skala digunakan untuk memperoleh data mengenai
strategi belajar, sedangkan metode dokumentasi yang berupa IPK digunakan
untuk memperoleh data prestasi belajar.
1. Strategi Belajar
Dalam penelitian ini, strategi belajar diukur dengan menggunakan
skala. Metode skala dipilih karena stimulusnya berupa pertanyaan atau
pernyataan yang secara tidak langsung mengungkap atribut yang hendak
diukur, tetapi mengungkap indikator perilaku dari atribut yang dimaksud
(Azwar, 2009). Respon subyek pada setiap aitem pada skala diberi angka
kemudian dijumlahkan. Dengan kata lain, skala strategi belajar
menggunakan metode rating yang dijumlahkan (method of summated rating). Akumulasi nilai respon tersebut menjadi skor subyek pada skala
tersebut (Azwar, 2005).
Dalam penelitian ini, orientasi tujuan dan strategi belajar diukur
dikembangkan oleh Dowson dan McInerney (2004). Survei ini memuat
84 aitem yang disusun untuk mengukur orientasi tujuan motivasional dan
strategi kognitif maupun metakognitif seorang pembelajar.
Pada penelitian payung ini, peneliti hanya mengambil bagian
strategi belajar saja untuk menjadi fokus analisis. Aitem tujuan belajar
tetap diperhatikan dalam penghitungan statistik karena skala GOALS-S
merupakan skala yang secara komprehensif mengukur keempat konstrak
pada tujuan dan strategi belajar dalam satu instrument.
Tabel 2.Blue PrintSkala Sebelum Uji Coba
Aspek Konstruk Nomor aitem Total
Tujuan Akademik
Mastery 1, 4, 10, 22, 27 5
Performance 5, 6, 7, 9, 17 5
Work avoidance 36, 37, 38, 39, 40 5 Tujuan Sosial Social affiliation 8, 12, 24, 26, 35 5 Social approval 2, 11, 20, 29, 33 5 Social concern 3, 14, 16, 18, 31 5 Social
responsibility 19, 21, 23, 28, 32 5 Social status 13, 15, 25, 30, 34 5 Strategi
Kognitif
Elaborasi 41, 42, 55 3
Organisasi 45, 50 2
Rehearsal 46, 47, 48 3
Strategi
Metakognitif MonitoringPlanning 44, 4951, 52, 53 23
Regulating 43, 54 2
Total 55
Setiap pernyataan pada skala diberi 4 pilihan jawaban, yaitu Setiap
Kali (SK), Sering (S) jika responden melakukan tindakan dalam
pernyataan dengan frekuensi yang lebih sedikit daripada setiap kali,
daripada sering, dan Tidak Pernah (TP). Aitem-aitem dalam skala
bersifatfavorable, dengan pembobotan berkisar antara 1 sampai 4.
Tabel 3. Bobot Nilai Aitem
Jawaban Bobot Nilai
Setiap Kali (SK) 4
Sering (S) 3
Jarang (J) 2
Tidak Pernah (TP) 1
Semakin tinggi skor subyek pada skala ini menunjukkan bahwa
subyek memiliki dan menggunakan strategi belajar kognitif dan
metakognitif. Sebaliknya, semakin rendah skor menunjukkan bahwa
subyek kurang memiliki dan menggunakan strategi belajar.
2. Prestasi Belajar
Prestasi belajar subyek diketahui dengan metode dokumentasi yaitu
melalui IPK karena IPK menunjukkan prestasi belajar mahasiswa. Pada
penelitian ini, dokumentasi IPK dilakukan dengan meminta responden
G. VALIDITAS DAN RELIABILITAS ALAT UKUR
1. Validitas
Validitas digunakan untuk mengetahui apakah skala mampu
menghasilkan data yang akurat sesuai dengan tujuan ukurnya. Metode
validasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah validitas isi yang
menunjukkan sejauh mana aitem-aitem dalam alat ukur mencakup
keseluruhan isi objek yang hendak diukur (Azwar, 2003). Pada dasarnya,
validitas isi merupakan sesuatu yang bersifat judgmental (Kerlinger,
1973:459; Tull & Albaum, 1973:92) yang dilakukan denganprofessional judgment oleh dosen pembimbing. Professional judgment merupakan
suatu pendekatan untuk mengukur validitas isi yang melibatkan individu
yang dianggap ahli dalam bidang yang menjadi perminatan peneliti. Para
ahli bertindak sebagai juri dari pendapat ahli dan validitas diberikan
berdasarkan penilaian mereka (Tull & Albaum, 1973).
2. Reliabilitas
Reliabilitas mengacu pada konsistensi atau keterpercayaan hasil
ukur, yang mengandung makna kecermatan pengukuran. Konsistensi ini
tampak apabila diperoleh hasil yang relatif sama dalam beberapa kali
pelaksanaan pengukuran terhadap kelompok subyek yang sama, selama
aspek yang diukur dalam diri subyek memang belum berubah. Reliabilitas
rentang dari 0 sampai dengan 1,00 (Azwar, 1999). Metode yang
digunakan untuk mengestimasi reliabilitas adalah metode alpha Cronbach.
H. HASIL UJI COBA
Uji coba dilakukan pada sekelompok subyek yang memiliki
karakteristik yang relatif sama dengan subyek penelitian. Subyek yang
menjadi subyek uji coba adalah mahasiswa fakultas Psikologi USD angkatan
2007, 2008, dan 2009 sebanyak 117 orang. Responden diminta untuk
mengisi skala kuesioner yang diberikan oleh peneliti. Pelaksanaan uji coba
yaitu pada bulan April 2010.
Setelah uji coba dilakukan, langkah selanjutnya adalah mengolah
data uji coba. Langkah pertama adalah menyeleksi aitem. Seleksi aitem
dilakukan untuk melihat aitem-aitem mana saja yang mampu membedakan
subyek yang memiliki atribut dan yang tidak memiliki atribut yang hendak
diukur. Aitem yang dipilih adalah aitem dengan nilai alpha lebih kecil
daripada nilai alpha aitem total sehingga diperoleh korelasi aitem total
tertinggi. Bila korelasi aitem total yang diperoleh semakin mendekati angka
1.00, dapat dikatakan bahwa aitem memiliki daya beda aitem yang semakin
baik (Azwar, 1999).
Peneliti melakukan seleksi aitem berdasarkan koefisien alpha yang
digunakan untuk melihat konsistensi internal secara keseluruhan, yaitu
dengan analisis reliabilitas dengan menggunakan SPSS for Windows.
if aitem deleted, jika koefisien alpha pada kolom tersebut lebih kecil daripada
koefisien alpha secara keseluruhan maka aitem tersebut dipakai (sahih).
Berdasarkan analisis aitem pada skala strategi belajar diperoleh aitem yang
sahih sebanyak 53 dengan koefisien internal alpha 0.733. Koefisien ini juga
menunjukkan bahwa skala strategi belajar tersebut reliabel.
Tabel 4.Blue PrintSkala Setelah Uji Coba
Aspek Konstruk Aitem
responsibility - 19, 21, 23, 28, 32 5
Social status - 13, 15, 25, 30, 34 5
Strategi Kognitif
Elaborasi - 41, 42, 55 3
Organisasi - 45, 50 2
Rehearsal - 46, 47, 48 3
Strategi
Metakognitif MonitoringPlanning -- 44, 4951, 52, 53 23
Regulating - 43, 54 2
Total 2 53
Berdasarkan tabel tersebut diketahui ada dua aitem yang tidak
sahih. Pada skala penelitian, perubahan nomor dilakukan supaya ada
Tabel 5.Blue PrintSkala Setelah Uji Coba dengan Penyesuaian Nomor
Aspek Konstruk Nomor aitem
(sahih)
Work avoidance 37, 43, 49 3
Tujuan Sosial Social affiliation 8, 12, 24, 26, 35 5 Social approval 2, 11, 20, 29, 33 5 Social concern 3, 14, 16, 18, 31 5 Social responsibility 19, 21, 23, 28, 32 5 Social status 13, 15, 25, 30, 34 5 Strategi
Kognitif ElaborasiOrganisasi 36, 38, 5341, 47 32
Rehearsal 42, 44, 45 3
Strategi Metakognitif
Monitoring 40, 46 2
Planning 48, 50, 51 3
Regulating 39, 52 2
Total 53
I. METODE ANALISIS DATA
1. Uji Asumsi Data Penelitian
a. Uji Normalitas
Uji normalitas data digunakan untuk mengetahui apakah data yang
akan dianalisis dalam penelitian ini berada dalam distribusi normal
atau tidak (Sugiyono, 2008). Uji normalitas dilakukan dengan
menggunakan program SPSSfor Windows versi 16.
b. Uji Linieritas
Uji linieritas digunakan untuk mengetahui apakah hubungan antara
variabel bebas dan variabel tergantung membentuk garis lurus atau
tidak (Sugiyono, 2008). Uji linieritas dilakukan dengan menggunakan
2. Uji Hipotesis Penelitian
Pengujian terhadap hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini
dilakukan dengan menggunakan teknik korelasi Pearson product moment
dengan menggunakan SPSS for Windows versi 16. Alasan penggunaan
teknik tersebut adalah penelitian ini mencoba menguji hubungan antara
variabel bebas dan variabel tergantung tanpa adanya variabel sertaan lain.
Di samping itu, juga dikarenakan data yang dihasilkan merupakana data
38
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. PELAKSANAAN PENELITIAN
Penelitian payung ini dimulai dengan mendata program studi dan
jumlah mahasiswa yang terdaftar di setiap program studi yang ada di USD.
Ada beberapa asisten peneliti yang terlibat dalam penelitian ini.
Masing-masing asisten bertanggung jawab untuk membagikan skala pada kelompok
subyek tertentu yang dibagi berdasarkan program studi dan angkatan.
Kemudian, masing-masing asisten peneliti mulai membagikan skala pada
sekelompok mahasiswa yang menjadi subyek penelitian. Saat menemui
mahasiswa, peneliti menanyakan program studi dan angkatan. Jika memenuhi
syarat, maka mahasiswa tersebut diminta untuk mengisi skala dengan
ditunggu oleh asisten. Ada pula asisten yang menitipkan skala pada seorang
mahasiswa untuk dibagikan pada teman-temannya dan dalam beberapa hari
berikutnya asisten mengambil skala yang telah diisi. Proses pengambilan data
dilakukan pada bulan 11 Mei – 5 Juni 2010.
Pada penelitian ini, peneliti tidak mengambil semua data yang
berkenaan dengan orientasi tujuan dan strategi belajar, melainkan hanya
B. DESKRIPSI SUBYEK PENELITIAN
Tabel 6. Data Demografi Subyek
Program Studi 2007 2008 2009 Jumlah
Pend. Fisika 4 10 10 24
Pend. Sejarah 1 4 11 16
Pend. Matematika 17 11 14 42
Pend. Ekonomi 1 0 7 8
Pend. Biologi 0 4 11 15
Pend. Akuntansi 13 7 16 36
Pend. Bahasa Inggris 22 27 23 72
Pend. Bahasa & Sastra Indonesia & Daerah 11 12 16 39
Pend. Guru Sekolah Dasar 17 37 40 94
Sastra Indonesia 1 4 2 7
Sastra Inggris 14 16 3 33
Ilmu Sejarah 5 2 2 9
Manajemen 18 13 15 46
Akuntansi 18 28 21 67
Teknik Informatika 16 19 15 50
Teknik Elektro 4 4 3 11
Teknik Mesin 8 8 13 29
Mekatronika 9 6 8 23
Bimbingan Konseling 5 10 10 25
Psikologi 27 26 24 77
Matematika Murni 1 6 4 11
Fisika Murni 3 2 2 7
Farmasi 9 34 22 65
Jumlah 224 290 292 806
C. DESKRIPSI DATA
Tabel 7. Deskripsi Data Penelitian
N
806 37.5 41.96 6.64 2.00 3.00 0.46
Dari tabel 7 di atas, diketahui bahwa mean teoretis pada skala
hasil penjumlahan dari nilai minimum dengan jumlah soal dan hasil kali
nilai maksimum dengan jumlah soal.
=(1 15) + (4 15) 2
= 15 + 60 2 = 75
2 = 37.5
D. ANALISIS HASIL PENELITIAN
1. Uji Asumsi
a. Uji Normalitas
Tabel 8. Hasil Uji Normalitas
total IPK
Kolmogorov-Smirnov Z 2.626 1.895
Asymp. Sig. (2-tailed) .000 .002
Berdasarkan tabel 7 tersebut, diketahui bahwa distribusi sebaran
baik pada variabel strategi belajar maupun IPK bersifat tidak normal
b. Uji Linieritas
Tabel 9. Hasil Uji Linieritas
F Sig.
IPK * total Between Groups (Combined) .993 .483
Linearity 8.946 .003
Deviation from Linearity .772 .831
Berdasarkan tabel di atas, diketahui bahwa hubungan antara
strategi belajar dan IPK membentuk garis lurus. Hal ini terlihat dari
koefisien signifikansilinearitylebih kecil daripada 0.05 (p˂0.05).
2. Uji Hipotesis
Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah ada hubungan
antara strategi belajar dan prestasi belajar dalam populasi mahasiswa
USD. Karena hasil uji normalitas menunjukkan bahwa data tidak berada
pada distribusi normal, maka pengujian terhadap hipotesis ini dilakukan
dengan menggunakan teknik korelasi Spearman’s rho dengan hasil
Tabel 10. Hasil KorelasiSpearman’s rho
total IPK
Spearman's rho Total Correlation Coefficient 1.000 .091**
Sig. (2-tailed) . .010
N 806 806
IPK Correlation Coefficient .091** 1.000
Sig. (2-tailed) .010 .
N 806 806
Berdasarkan tabel tersebut, dapat disimpulkan bahwa ada hubungan
yang signifikan antara strategi belajar dan prestasi belajar yang diketahui
dari nilai signifikansi yang diperoleh adalah sebesar 0.010 (p<0.025)
sehingga Ho ditolak. Kriteria 0.025 digunakan karena uji dilakukan dua
sisi.
E. PEMBAHASAN
Hasil penelitian yang dilakukan menunjukkan bahwa ada hubungan
positif yang signifikan antara strategi belajar dan prestasi belajar. Dengan
demikian, hipotesis penelitian yang diajukan yang mengatakan bahwa ada
hubungan positif antara strategi belajar dan prestasi belajar teruji
kebenarannya. Semakin subyek memiliki dan menggunakan strategi belajar,
baik strategi kognitif dan metakognitif, maka semakin baik pula prestasi
belajarnya. Sebaliknya, semakin subyek tidak memiliki dan menggunakan
strategi belajar, maka prestasi belajar subyek, dalam hal ini mahasiswa, akan
Hasil temuan tentang adanya hubungan positif yang signifikan
tersebut mengukuhkan hasil penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh
Watson et al. (2004) yang mengungkapkan bahwa penggunaan strategi
belajar mempengaruhi prestasi akademik pembelajar karena pembelajar dapat
secara aktif memproses informasi sehingga mempengaruhi penguasaannya
terhadap materi belajar. Di samping itu, Duncan dan McKeachie (2005)
menemukan bahwa siswa yang menggunakan strategi pemrosesan mendalam
seperti elaborasi dan organisasi serta mencoba mengontrol kognisi dan
perilaku belajar melalui penggunaan strategi metakognitif perencanaan,
monitoring, dan regulasi pada umumnya memiliki hasil belajar yang lebih
baik.
Strategi belajar merupakan berbagai proses kognitif yang meliputi
teknik, kemampuan dan perilaku yang digunakan secara sengaja untuk
memasukkan dan mempertahankan berbagai informasi yang berguna dalam
penyelesaian tugas belajar maupun pemecahan masalah yang timbul selama
belajar. Berbagai proses kognitif yang ada dalam strategi belajar dapat
digolongkan menjadi dua konstrak yaitu strategi yang mengandalkan fungsi
kognisi dan metakognisi. Masing-masing konstrak memiliki peran tersendiri
yang saling melengkapi satu dengan yang lain. Strategi kognitif lebih
berperan dalam penggunaan strategi-strategi mendasar untuk mengingat
materi dan strategi yang lebih kompleks untuk memahami materi, sementara
berpikir dan belajar (Al-Harthy & Was, Duncan & McKeachie, Lv & Chen,
Lynch, Pintrich).
Baik strategi kognitif maupun metakognitif membutuhkan suatu
pemrosesan informasi secara mendalam. Penelitian Duncan dan McKeachie
serta Diseth at al. menunjukkan bahwa pemrosesan mendalam membawa
pada hasil belajar yang lebih baik. Hal ini dikarenakan mahasiswa terlibat dan
bersinggungan langsung dengan materi, baik itu dengan mengidentifikasi
informasi penting, memanggil informasi, membuat catatan dan
mengorganisasikannya, mengelaborasi informasi yang dimiliki, maupun
dengan memonitoring tingkat pemahamannya (Ormrod).
Penggunaan strategi belajar ini dipengaruhi oleh sifat tugas yang
dihadapi pembelajar sehingga strategi yang digunakan pembelajar di suatu
waktu dapat berbeda di lain waktu (Duncan & McKeachie, Ormrod). Hal ini
didukung dengan karakteristik pembelajar, dalam penelitian ini mahasiswa,
yang memiliki cukup banyak pengetahuan dan pengalaman yang relevan
dengan materi yang sedang dipelajari sehingga mampu mentransfer untuk
mendukung proses belajarnya. Dengan kata lain, melalui pengetahuan dan
pengalaman yang dimiliki, mahasiswa akan lebih mudah menentukan strategi
apa yang dipakai ketika menghadapi suatu tugas ataupun kesulitan belajar:
apakah akan menggunakan strategi kognitif atau metakognitif agar
memperoleh hasil yang lebih optimal. Seiring berjalannya waktu, hal tersebut
akan membentuk suatu pola yang teratur dan menjadi suatu sikap, gaya
yang menjadi ciri penting pembelajar dewasa (Daines, et al., dalam
Supratiknya).
Untuk mengetahui efektif tidaknya strategi yang diterapkan,
pembelajar membutuhkan adanya kesadaran diri untuk mengevaluasi baik
strategi maupun hasil belajar yang dicapai dengan menerapkan strategi
tersebut. Hal ini sejalan dengan konsep strategi metakognitif yang merupakan
proses berpikir secara sadar mengenai pendekatan belajar (Pintrich & Smith,
dalam Watson, et al.). Di sinilah dapat ditemukan peran pengalaman.
Pengalaman akan menjadi suatu pengingat bagi mahasiswa bahwa suatu
strategi kurang efektif untuk diterapkan dan mahasiswa diajak untuk
memikirkan strategi lain yang mungkin akan lebih efektif. Strategi yang baru
ini akan lebih efektif untuk dikuasai dan digunakan jika mahasiswa
menyadari ketidakefektifan strategi yang lama (Ormrod). Dengan
menggunakan strategi yang lebih sesuai, mahasiswa dapat memperoleh hasil
46 BAB IV
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan diperoleh kesimpulan
bahwa ada hubungan yang signifikan antara strategi belajar dan prestasi
belajar yang ditunjukkan dengan nilai signifikansi sebesar 0.010. Hal ini
berarti bahwa semakin mahasiswa menggunakan strategi belajar maka
semakin baik prestasi belajarnya. Sebaliknya, jika mahasiswa semakin tidak
menggunakan strategi belajar maka prestasi belajarnya akan semakin rendah.
B. SARAN
1. Bagi Mahasiswa
Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan antara strategi
belajar dan prestasi belajar. Oleh karena itu, diharapkan mahasiswa
menggunakan strategi belajar, baik strategi kognitif maupun
metakognitif, sehingga dapat mengoptimalkan prestasi belajarnya.
2. Bagi Penelitian Selanjutnya
Bagi peneliti yang berminat meneliti dalam bidang yang sama,
hendaknya pengisian data prestasi belajar atau IPK dilakukan dengan
melakukan kroscek ke bagian sekretariat program studi. Hal ini untuk
47
DAFTAR PUSTAKA
Al-Harthy, I. S., & Was, C. A. (2010). Goals, Efficacy and Metacognitive Self-Regulation: A Path Analysis.International Journal of Education, 2,1-20.
Aplugi, RDR. (2010). Hubungan Tingkat Percaya Diri dan Motivasi Berprestasi dengan Prestasi Belajar Siswa Kelas XI Program Studi Keahlian Restoran SMK Negeri 7 Malang. Skripsi yang Tidak Diterbitkan. Malang: Universitas
Negeri Malang, Fakultas Teknik Industri.
Apriliya, Chihita Maya. (2007). Pengaruh Hubungan Interpersonal terhadap Motivasi Belajar Mahasiswa (Studi Kasus Pada Mahasiswa Fakultas Tarbiyah Semester II Angkatan Tahun 2006/2007 di Universitas Islam Negeri Malang). Skripsi yang Tidak Diterbitkan. Malang: Universitas Islam
Negeri Malang.
Azwar, Saifuddin. (1999). Penyusunan Skala Psikologi. Yogyakarta: Pustaka
Pelajar.
_______________ (2003). Reliabilitas dan Validitas. Yogyakarta: Pustaka
Pelajar.
_______________ (2005). Sikap Manusia: Teori dan Pengukurannya edisi ke-2.
Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Chusna, Esti M. (2009). Pengaruh Tingkat Pendidikan dan Dorongan Orangtua terhadap Prestasi Belajar Mata Pelajaran Ekonomi Siswa Kleas XI SMUN 1 Sutojayan Blitar. Skripsi yang Tidak Diterbitkan. Malang: Universitas
Islam Negeri Malang.
Diseth, Å., Pallesen, S., Brunborg, G. S., & Larsen, S. (2009). Academic Achievement among First Semester Undergraduate Psychology Students: the Role of Course Experience, Effort, Motives and Learning Strategies.
High Education, 59,335-352.
Djiwandono, S.E. (2006). Psikologi Pendidikan Edisi Revisi. Jakarta: PT.
Grasindo.
Dowson, M., & McInerney, D. M. (2004). The Development and Validation of the Goal Orientation and Learning Strategies Survey (GOALS-S).
Educational and Psychological Measurement, 64,290-310.
Duncan, T. G., & McKeachie, W. J. (2005). The Making of the Motivational Strategies for Learning Questionnaire. Educational Psychologist, 40,
Huffman, K., Vernoy, M., & Vernoy, J. (2000).Psychology in Action 5th Edition.
John Wiley & Sons, Inc.
Hurlock, E. B. (1980). Psikologi Perkembangan: Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan.Jakarta: Erlangga.
Kerlinger, F. N. (1973).Foundations of Behavioral Research 2ndEdition. Quezon
City: Phoenix Press, Inc.
Loizidou, Andri, & Koutselini, Mary. (2007). Metacognitive Monitoring: An Obstacle and a Key to Effective Teaching and Learning. Teachers and Teaching: theory and practice, 13,499-519.
Lv, F., & Chen, H. (2010). A Study of Metacognitive-Strategies-Based Writing Instruction for Vocational College Students.English Language Teaching, 3,
136-144.
Lynch, D. J. (2010). Motivational Beliefs and Learning Strategies as Predictors of Academic Performance in College Physics.College Student Journal 44.
Matlin, M. W. (2009).Cognition 7thEdition. John Wiley & Sons, Inc.
McKeachie, W.J., Pintrich, P. R., & Lin, Y. (1985). Teaching Learning Strategies.
Educational Psychologist, 20,153-160.
Noviastuti, Roswita Indra. (2009). Hubungan antara Minat Terhadap Profesi Guru, Motivasi Belajar, dan Prestasi Belajar Mahasiswa Keguruan (Studi Pada Mahasiswa Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Sanata Dharma Yogyakarta). Skripsi yang Tidak Diterbirkan. Yogyakarta: Universitas
Sanata Dharma.
Ormrod, J.E. (2008). Educational Psychology Developing Learners 6th Edition.
New Jersey: Pearson Education.
___________ (2011). Educational Psychology Developing Learners 7th Edition.
Boston: Pearson.
Pintrich, P. R., & Groot. E. D. (1990). Motivational and Self-Regulated Learning Components of Classroom Academic Performance.Journal of Educational Psychology, 82,33-40.
Pintrich, P. R. (2004). A Conceptual Framework for Assessing Motivation and Self-Regulated Leaarning in College Students. Educational Psychology Review, 16,385-406.