• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hubungan target strength dan ukuran ikan

2) Ukuran ikan

5.2.1 Hubungan target strength dan ukuran ikan

Dugaan panjang rata-rata ikan demersal dari data hidroakustik split beam

echosounder diperoleh dengan menggunakan formula Foote (1987). Pemilihan

formula Foote (1987) didasarkan pada nilai normalisasi TS (A) dalam persamaan umum, hubungan antara TS dengan panjang ikan (L), yaitu TS = 20 Log(L) + A. Menurut Foote (1987) in Arnaya (1991), persamaan ini dapat menjelaskan mengenai gambaran kasar dari ukuran ikan. Hubungan nilai TS dengan panjang ikan (L) dapat berbeda-beda sesuai dengan jenis ikan. Umumnya untuk ikan yang memiliki gelembung renang tertutup (physoclist) mempunyai nilai A sebesar -67,5 dB, ikan dengan gelembung renang terbuka (physostomes) mempunyai nilai A sebesar -71,9 dB dan ikan tanpa gelembung renang (bladderless fish) sebesar - 80,0 dB (Foote, 1987 in Arnaya, 1991). Jenis ikan hasil tangkapan trawl pada saat survei akustik umumnya memiliki gelembung renang tertutup (physoclist). Hasil tangkapan trawl yang diperoleh dalam penelitian ini sebagian besar ikan-ikan demersal (91,14%), sedangkan ikan pelagis hanya (8,86%) dari total hasil tangkapan selama survei, sehingga hasil tangkapan ikan pelagis tidak dilakukan pengukuran panjang untuk verifikasi dengan data hidroakustik.

Nilai TS ikan pelagis di lokasi penelitian, pada transek siang maupun malam hari cenderung meningkat dengan bertambahnya kedalaman. Kecenderungan meningkatnya nilai TS dengan meningkatnya kedalaman perairan disebabkan oleh meningkatnya ukuran ikan. Hal demikian menandakan bahwa ikan-ikan yang berukuran lebih kecil menyebar di bagian lapisan permukaan, sedangkan ikan yang berukuran lebih besar menyebar di lapisan perairan yang lebih dalam. Keberadaan ikan-ikan pelagis tersebut berkaitan dengan pola tingkah laku makan ikan sebagaimana diutarakan oleh Nelson dan Dark (1986), bahwa ikan-ikan yang lebih kecil umumnya memangsa plankton di lapisan permukaan, sedangkan ikan- ikan yang lebih besar mencari makan tidak hanya terbatas di lapisan permukaan dan kolom perairan, tetapi juga mencari mangsa lain yang berada di lapisan perairan yang lebih dalam.

Nilai TS ikan pelagis yang terdeteksi pada transek siang hari terkonsentrasi pada strata kedalaman 4-14 meter, sedangkan pada transek malam hari

terkonsentrasi pada strata kedalaman 54-74 meter. Kisaran penyebaran nilai TS pada transek malam hari lebih tebal dibandingkan dengan siang hari, hal ini dipengaruhi oleh perubahan tingkah laku ikan pada periode terang dan gelap, sebagaimana dikemukakan oleh Laevastu dan Hayes (1981), bahwa pada waktu siang hari ikan pelagis cenderung bergerombol di permukaan, sedangkan pada malam hari mereka lebih menyebar secara merata/homogen di kolom perairan. Nilai TS ikan yang lebih besar di strata kedalaman 94-104 meter pada waktu malam hari, diduga merupakan nilai TS dari ikan demersal, dimana tingkah laku makan ikan demersal pada waktu malam hari menyebar merata pada lapisan kolom perairan (midwater), sedangkan pada siang hari umumnya berkumpul di dasar perairan (Burczynski et al., 1987).

Berdasarkan pola penyebaran nilai TS ikan pelagis secara vertikal tersebut di atas dapat dihubungkan dengan potensi keberadaan sumberdaya ikan yang potensial dalam operasi penangkapan ikan. Siang hari ikan-ikan pelagis lebih terkonsentarsi pada lapisan permukaan sehingga pengoperasian alat tangkap dapat dilakukan dengan baik pada lapisan tersebut seperti jenis alat tangkap pukat cincin (purse seine). Malam hari ikan pelagis terkonsentrasi pada lapisan kolom perairan (54-74 meter) bersama dengan ikan demersal yang melakukan aktivitas pada malam hari, sehimgga alat tangkap sangat baik dioperasikan pada kedalaman tersebut.

Secara horizontal penyebaran nilai TS ikan pelagis dari Perairan Kepulauan Riau (bagian tenggara Selat Malaka) ke arah Perairan Tanjung Balai Asahan dan Belawan (bagian barat laut Selat Malaka) cenderung meningkat. Hal ini berarti bahwa rata-rata ukuran ikan pelagis di Perairan Tanjung Balai Asahan dan Belawan lebih besar dibandingkan dengan Perairan Kepulauan Riau. Keadaan ini sangat dipengaruhi oleh kondisi perairan yang berbeda di kedua wilayah tersebut. Perairan Kepulauan Riau termasuk perairan dangkal, sedangkan Perairan Tanjung Balai Asahan dan Belawan merupakan perairan dalam yang berbatasan langsung dengan Laut Andaman. Selain itu Maclennan et al, (1990) menyatakan bahwa perubahan variasi nilai TS mungkin disebabkan oleh perubahan nilai distribusi secara horizontal oleh ikan itu sendiri.

Nilai TS rata-rata ikan demersal di Perairan Kepulauan Riau lebih kecil dibandingkan dengan Perairan Tanjung Balai Asahan dan Belawan. Perbedaan ini dipengaruhi oleh kedalaman perairan di kedua lokasi tersebut, dimana Perairan Kepulauan Riau termasuk perairan dangkal, sedangkan Perairan Tanjung Balai Asahan dan Belawan merupakan perairan yang lebih dalam. Hal demikian menunjukan bahwa nilai TS ikan demersal yang lebih kecil cenderung berada pada perairan dangkal atau mendekati pantai, sebaliknya nilai TS yang lebih besar cenderung berada di perairan yang lebih dalam atau menjauhi pantai, sebagaimana dikemukakan oleh Pujiyati (2008), bahwa nilai TS ikan demersal akan semakin besar dengan bertambahnya kedalaman perairan. Selain hal tersebut di atas perbedaan nilai TS ikan demersal juga dipengaruhi oleh jenis ikan di Perairan Kepulauan Riau berbeda dengan jenis ikan di Perairan Tanjung Balai Asahan dan Belawan. Habitat ikan demersal yang berada di dekat dasar perairan mengakibatkan koreksi hasil deteksi akustik terhadap ikan demersal memerlukan ketelitian yang tinggi agar echo dari ikan demersal tidak bercampur dengan echo

yang berasal dari dasar perairan. Hal ini dapat dilakukan dengan menghilangkan

echo yang bersasal dari dasar perairan melalui koreksi bottom noise pada saat analisis data ikan demersal.

Berdasarkan data hidroakustik split beam echosounder diperoleh dugaan panjang rata-rata ikan demersal di Perairan Kepulauan Riau sebesar 25,12 cm dan panjang rata-rata hasil tangkapan trawl sebesar 22,82 cm, sedangkan di Perairan Tanjung Balai Asahan dan Belawan dugaan panjang rata-rata ikan demersal hasil deteksi hidroakustik sebesar 25,59 cm dan panjang rata-rata hasil tangkapan trawl sebesar 23,18 cm. Perbedaan tersebut dipengaruhi oleh metode pengambilan contoh, sistem pengoperasian alat tangkap (trawl) dan pengoperasian transducer

di bawah permukaan laut. Pengambilan contoh TS sulit dilakukan secara bersamaan dengan proses penangkapan, karena pengoperasian trawl hanya dilakukan pada waktu-waktu tertentu saja dan terbatas pada perairan dengan kedalaman maksimal 60 meter, sedangkan deteksi hidroakustik dilakukan sampai pada dasar perairan sepanjang jalur pelayaran. Hal demikian mengakibatkan ikan yang terdeteksi pada perairan yang memiliki kedalaman lebih dari 60 meter tidak

ikut tertangkap oleh trawl, sehingga data hasil tangkapan trawl yang ada tidak mewakili seluruh data hasil deteksi dari hidroakustik split beam echosounder.

Pengoperasian transducer di bawah permukaan laut yang mencapai kedalaman sampai 1,5 meter dari lunas kapal, dimana badan kapal yang trendam air ±2,5 meter, sehingga total lapisan perairan yang dapat terdeteksi oleh pancaran

beam akustik secara vertikal mulai dari kedalaman 4 meter. Hal demikian mengakibatkan ikan-ikan yang berada pada lapisan kedalaman 0-4 meter tidak terdeteksi oleh transducer.

Dokumen terkait