DI SELAT MALAKA
FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2 TINJAUAN PUSTAKA
2.4 Estimasi Kelimpahan Ikan
2.4.3 Pendugaan densitas ikan dengan split beam acoustic system
Pendugaan densitas ikan dengan menggunakan split beam acoustic system
pada suatu perairan dilakukan dengan mengintegrasikan echo yang berasal dari kelompok ikan terdeteksi yang dianggap membentuk suatu lapisan perairan.
Menurut Johnnesson dan Mitson (1983) untuk integrasi pada jarak
kedalaman ∆r = R2 – R1, volume backscattering strength untuk satu transmisi dan suatu ukuran intensitas akustik direfleksikan dari tiap m3 air yang dijumlahkan dan dirata-ratakan pada ∆R. Nilai SV pada persamaan (17) dapat diketahui melalui persamaan:
SV = 10 log v + TS ... (18) Nilai SV dan TS rata-rata diketahui maka rataan densitas ikan untuk suatu integrasi dapat diketahui pada persamaan berikut:
v = 100,1(SV TSrat rata) ... (19) Keterangan: SV adalah volume backscattering strength (1 m3)
TS adalah target strength rata-rata ikan per individu (dB)
v adalah densitas ikan (ikan/m3 )
Pendugaan nilai densitas dihitung dari nilai backscattering area (Sa) yang merupakan nilai integrasi gema. Perhitungan ini dilakukan untuk masing-masing lapisan ESDU. Nilai backscattering area (Sa) secara matematis dapat diilustrasikan dalam persamaan SIMRAD, (1995) berikut ini:
Sa = 4π r02. 2 1 . r r dr Sv . (1852 m/nm)2 ... (20)
Nilai volume backscattering cross section (Sv) yang merupakan nilai intensitas suara yang mengenai target pada volume tertentu (m3) dari nilai Sa di atas maka persamaan (20) dapat diubah secara matematis menjadi:
) ( ) / 1852 ( 4 r02 m nm 2 r2 r1 Sa Sv ... (21)
Keterangan: r0 adalah jarak referensi (1 m)
r2 – r1 adalah tinggi lapisan perairan (kedalaman integrasi) yang dianalisis.
Nilai densitas ikan berdasarkan areanya dapat diperoleh dengan menggunakan persamaan berikut:
ρA
=
Sa/ σ
bs ... (22) Selanjutnya untuk menghitung jumlah ikan setiap unit area dari variasi jenis dan ukuran, harus menentukan terlebih dahulu nilai TS, yang nilainya dapat diperoleh dari bentuk logaritma (σ
bs) dengan formula sebagai berikut:TS = 10 log
σ
bs ... (23) Setelah mengetahui nilai TS dan densitas relatif kelompok ukuran dalam area yang ditunjukan dalam echogram, maka densitas ikan dalam setiap kelompok dapat ditentukan. Pertama nilai logaritma TS harus diubah kebentuk linear untuk mendapatkan nilaiσ
B, dengan formula sebagai berikut:σ
bs = 10T si/10 ... (24) dimana TSi adalah nilai TS untuk kelompok ikan atau ikan ke-i, yang dinyatakan dengan frekuensi f1, f2 hingga fn sehingga diperolehσ
bs1,σ
bs2 hinggaσ
bsn. Distribusi f1 adalah normal sehingga jumlah keseluruhan f1 adalah 1 (satu). Sai merupakan koefisien backscatering area dari ikan untukσ
bsi. Untuk menghitungdensitas area ikan secara keseluruhan, dapat digunakan formula sebagai berikut:
ρA
=
Sa/
∑f
i.σ
bsi ... (25) Densitas untuk setiap kelompok ukuran ikan dihitung dengan formula:ρi = Fi / ρA
... (26)
Volume densitas ikan dihitung dengan menggunakan formula:ρi
=
ρA . (r2 – r1) ... (27) dimana r adalah kedalaman integrasi.Saat pendeteksian berlangsung, setiap interval jarak tertentu dilakukan perataan nilai acoustic backscattering croos section sebagai rata-rata area
backscattering per satuan area secara horisontal. Echo Integration secara vertikal dan perataan acoustic backscattering croos section secara horisontal untuk setiap interval menghasilkan nilai rata-rata nilai densitas ikan per satuan volume (Johnnesson dan Mitson, 1983).
2.4.4 Bias pendugaan
Faktor utama yang mempengaruhi terjadinya bias dalam pendugaan kelimpahan ikan pada suatu perairan dengan menggunakan metode hidroakustik adalah kualitas kalibrasi sistem akustik, metodologi yang digunakan dan ketelitian rata-rata target strength yang digunakan sebagai factor skala integrator. Parameter sistem akustik diukur secara skematik, perangkat alat dipasang di dalam kapal penelitian dan kalibrasi setiap selesai survei (Nelson dan Dark, 1986). Hal yang sama juga diutarakan oleh Burczynski dan Johnson (1986), dimana bias dalam estimasi factor skala integrator juga dapat disebabkan oleh kesalahan kalibrasi hidroakustik, perubahan parameter peralatan, dan estimasi rata-rata
backscattering cross section ikan yang tidak tepat.
Bias dalam survei akustik dapat terjadi ketika sebagian populasi ikan yang disurvei tidak tercakup. Hal ini terjadi karena berbagai fenomena yang berhubungan dengan tingkah laku ikan. Ikan dapat menghindari gerakan kapal (biasanya terjadi pada saat ikan bergerombol), atau beberapa echo ikan tertutup oleh echo dasar atau noise (Burczynski dan Johnson, 1986).
Menurut Burczynski et al., (1987) data integrator yang dikumpulkan saat survei sebaiknya diperiksa lagi untuk menghilangkan noise yang berasal dari perairan. Hal ini dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut: 1) pemeriksaan
echogram secara visual untuk noise yang terlihat, 2) membandingkan echo yang kembali pada suatu rangkaian echogram tertentu dengan echogram lain yang berdekatan, dimana tidak ditemukan noise akan tetapi densitas ikan yang terdeteksi secara visual sama, 3) mereduksi nilai energi echo pada echogram yang mempunyai noise, sehingga echogram tersebut bebas /berkurang dari noise.
Pengaruh noise dalam survei hidroakustik sebaiknya dikurangi agar pendugaan kelimpahan tidak terlalu bias. Noise ini biasanya bersumber dari angin,
hujan, sistem sonar, organisme laut, dan baling-baling kapal (Clay, 1990). MacLennan dan Simmonds (1992), menyatakan bahwa noise merupakan sinyal yang tidak di inginkan, dapat terjadi karena beberapa faktor seperti faktor fisik (angin, pecahan ombak dan turbulensi), faktor biologi (suara dan pergerakan binatang di bawah air), faktor artifisial (deruman mesin kapal, baling-baling kapal dan aliran air di sekitar kapal).
2.5 Rancangan Survei Akustik
Rancangan survei akustik adalah rencana cruise track yang perlu dipertimbangkan untuk keberhasilan survei itu sendiri. MacLennan dan Simmonds (1992), memaparkan beberapa prosedur dalam mendesain rencana survei akustik yaitu:
1) Mendefinisikan area geografis yang diteliti dan menentukan prinsip-prinsip yang digunakan dalam mengatur cakupan wilayah selama survei;
2) Menghitung sumberdaya yang dibutuhkan untuk mencangkup seluruh area survei dengan memperhatikan luas daerah yang disurvei;
3) Menghitung waktu yang tersedia untuk survei dengan mempertimbangkan keleluasaan aktivitas lain seperti kegiatan penangkapan ikan; dan
4) Merencanakan panjang cruise track pada peta, dipastikan bahwa sampel yang representatif dikumpulkan dari semua bagian area sepanjang wilayah penelitian.
Menurut MacLennan dan Simmonds (1992), ada empat pola cruise track
yang digunakan dalam survei hidroakustik (Gambar 5) yaitu systematic parallel transect, systematic trianguler transect, completely random design dan partly random design.
Sumber: MacLennan dan Simmonds, 1992
Gambar 4 Pola cruise track acoustics. 2.6 Pengaruh Faktor Oseanografi terhadap Penyebaran Ikan
Penyebaran atau distribusi ikan sangat penting untuk diketahui karena berhubungan dengan pencarian ikan dan tehnik penangkapan ikan yang sesuai. Pertanyaan yang sering muncul seperti di mana ikan berada pada waktu tertentu atau sebaliknya kapan ikan akan muncul pada suatu tempat tertentu, bagaimana sifatnya, apakah mereka membentuk kelompok ataukah menyebar, apakah ikan tersebut bersifat menetap, sementara atau hanya sekedar lewat saja, apa saja aktifitas ikan di tempat tersebut misalnya untuk mencari makan, memijah, membuat sarang atau ada berbagai sebab lainnya. Selain itu juga bagaimana reaksi ikan terhadap berbagai tenaga ataupun faktor alami yang ada di daerah penangkapan ikan tersebut (Gunarso, 1985).
Pola kehidupan ikan tidak bisa dipisahkan dari adanya berbagai kondisi lingkungan perairan dan fluktuasi keadaan lingkungan tersebut. Interaksi antara berbagai faktor lingkungan tersebut terhadap ikan senantiasa akan selalu berubah- ubah. Faktor-faktor lingkungan tersebut meliputi faktor fisik, kimia dan biologi (Gunarso, 2985).
Beberapa jenis ikan melakukan migrasi disebabkan oleh tiga alasan utama, yaitu usaha untuk mencari daerah yang banyak makanannya, usaha untuk mencari daerah tempat memijah dan adanya perubahan beberapa faktor lingkungan seperti
arus, suhu dan salinitas (Nikolsky, 1963). Adanya perubahan baik suhu maupun salinitas akan mempengaruhi keadaan organisme di suatu perairan (Laevastu dan Hayes, 1981). Faktor fisik yang paling berpengaruh terhadap keberadaan sumberdaya ikan adalah faktor suhu dan salinitas (Gunarso, 1985).
2.6.1 Suhu
Suhu adalah suatu besaran fisika yang menyatakan banyaknya panas yang terkandung dalam suatu benda yang umumnya diukur dalam satuan derajat
Celcius (°C). Perairan samudera suhu bervariasi secara horizontal sesuai dengan garis lintang dan secara vertikal sesuai dengan kedalaman. Suhu merupakan salah satu faktor yang penting dalam mengatur proses kehidupan dan penyebaran organisme di suatu perairan (Nybakken, 1992).
Distribusi suhu air laut di permukaan dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti jumlah bahang yang diterima dari matahari, evaporasi, curah hujan, pemasukan air tawar dari sungai dan pembekuan serta pencairan es di kutub (Hutabarat dan Evans, 2000). Suhu air laut permukaan di perairan Indonesia umumnya berkisar antara 28-31°C dan suhu air di dekat pantai biasanya lebih tinggi dibandingkan dengan suhu di lepas pantai (Nontji, 2005).
Secara umum laju fotosintesa meningkat dengan meningkatnya suhu perairan dan akan menurun secara drastis setelah mencapai suatu titik suhu tertentu. Hal ini disebabkan karena setiap spesies fitoplankton selalu beradaptasi terhadap suatu kisaran suhu tertentu. Suhu dapat mempengaruhi proses metabolisme yaitu dalam hal pertumbuhan, perkembangan, daya hidup ikan dan aktifitas yang dilakukan oleh ikan. Ikan dapat merasakan perubahan suhu perairan sampai dengan 0,03°C. Perairan laut dalam suhu relatif stabil yaitu berkisar antara 4-8°C sehingga suhu perairan tidak berpengaruh terhadap distribusi lokal ikan laut dalam (Laevastu dan Hayes, 1981). Fluktuasi suhu berperan sebagai faktor penting untuk merangsang dan menentukan pengkonsentrasian dan pengelompokan ikan serta untuk menentukan daerah penangkapan ikan.
Penyebaran suhu secara vertikal di laut dapat dibedakan menjadi tiga lapisan, yaitu lapisan homogen (homogeneus layer) di bagian paling atas dimana pada lapisan ini terjadi pencampuran massa air yang diakibatkan oleh adanya angin, arus dan pasang surut sehingga terbentuk lapisan homogen; lapisan
termoklin (discontinuity layer) di bagian tengah yang merupakan lapisan yang mengalami perubahan suhu yang relatif cepat antara massa air hangat dengan massa air yang lebih dingin di bawahnya, lapisan termoklin memiliki ketebalan bervariasi sekitar 100-200 meter; dan lapisan ketiga adalah lapisan dingin (deep layer) di bagian bawah yang merupakan lapisan di bawah lapisan termoklin dimana temperatur menurun seiring dengan bertambahnya kedalaman. Kedalaman lebih dari 1000 meter suhu biasanya kurang dari 5°C (Nontji, 1987). Lapisan ini umumnya diikuti dengan penurunan oksigen terlarut dan penaikan kadar zat hara yang cepat. Penebalan lapisan tercampur pada sisi ke arah pantai mengindikasikan adanya aliran APJ yang mengalir ke timur dimana pada bulan Desember sedang mengalami perkembangan dan akan mengalami puncak pada bulan Februari (Wyrtki, 1961). Pengaruh suhu air laut terhadap kelimpahan, keberadaan dan distribusi ikan dapat di lihat pada Gambar 5.
Sumber: Laevastu dan Hayes, 1981
Gambar 5 Diagram alir pengaruh suhu air laut terhadap kelimpahan, keberadaan dan distribusi ikan.
2.6.2 Salinitas
Salinitas adalah banyaknya garam dalam gram yang terdapat pada satu kilogram air laut dimana iodium dan bromin digantikan oleh klorin dan semua bahan organik telah dioksidasikan secara sempurna (Rielly dan Skirow, 1975). Satuan salinitasi dapat dinyatakan dalam practical salinity unit (psu) yang mencerminkan nilai kira-kira sama dengan g/l atau ppt (‰).
Penyebaran salinitas di laut dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti pola sirkulasi air, penguapan (evaporasi), curah hujan (presipitasi) dan aliran sungai
(run off) yang ada di sekitarnya. Nilai salinitas akan menurun dengan
bertambahnya pemasukan air tawar dan presipitasi namun akan meningkat jika terjadi evaporasi (Nontji, 2005).
Penyebaran salinitas pada suatu perairan dibagi dalam tiga lapisan, yaitu lapisan homogen (homogeneus layer) yang merupakan lapisan paling atas dengan ketebalan berkisar antara 50-100 meter atau lebih tergantung pada kekuatan pengadukan dengan nilai salinitas homogen; lapisan berikutnya adalah lapisan haloklin, pada lapisan ini ditandai dengan meningkatnya salinitas secara drastis dengan bertambahnya kedalaman, biasanya berada pada kedalaman 50 meter namun untuk perairan Indonesia lapisan ini berada pada kedalaman kurang dari 50 meter; lapisan ketiga adalah lapisan yang berada di bawah lapisan haloklin yaitu pada kedalaman sekitar 600-1000 meter dari permukaan dan pada lapisan ini dapat ditemukan nilai salinitas maksimum (Ross, 1970). Penyebaran salinitas secara horizontal menggambarkan bahwa semakin menuju ke laut lepas maka salinitas semakin tinggi (Hutabarat dan Evans, 2000).
Perubahan salinitas pada perairan laut lepas adalah relatif lebih kecil bila dibandingkan dengan perairan pantai karena perairan pantai banyak memperoleh masukan air tawar dari muara-muara sungai terutama pada waktu musim hujan. Perubahan salinitas sering menunjukan perubahan massa air dan keadaan salinitasnya. Salinitas bersifat lebih stabil di perairan terbuka walaupun di beberapa tempat terkadang menunjukan adanya fluktuasi perubahan. Salinitas di perairan terbuka variasinya sangat terbatas tetapi di perairan estuaria seperti teluk dan muara sungai sangat bervariasi menurut musimnya. Organisme pada perairan terbuka biasanya memiliki batas toleransi yang sangat kecil untuk perubahan
salinitas (sternohaline) dan organisme pada perairan payau dekat pantai biasanya memiliki batas toleransi yang sangat besar untuk perubahan salinitas (euryhaline). Organisme laut pada umumnya memiliki kandungan garam di dalam tubuhnya yang isotonik dengan air laut sehingga osmoregulasi tidak menjadi masalah kecuali jika salinitas berubah (Odum, 1971).
Salinitas mempunyai peranan penting dalam kehidupan organisme, misalnya distribusi biota akuatik. Salinitas pada kedalaman 100 meter pertama dapat dikatakan konstan walaupun terdapat sedikit perbedaan tetapi tidak mempengaruhi ekologi secara nyata (Nybakken, 1992). Salinitas juga erat hubungannya dengan penyesuaian tekanan osmotik antara sitoplasma dari sel-sel dalam tubuh ikan dengan salinitas lingkungan. Ikan cenderung untuk memilih medium dengan kadar salinitas yang lebih sesuai dengan tekanan osmotik tubuh mereka masing-masing (Laevastu dan Hayes, 1981). Pengaruh salinitas terhadap kelimpahan, keberadaan dan distribusi ikan, dapat dilihat pada Gambar 6.
Sumber: Laevastu dan Hayes, 1981
Gambar 6 Diagram alir pengaruh salinitas terhadap kelimpahan, keberadaan dan distribusi ikan.
2.6.3 Arus
Arus merupakan pergerakan massa air secara vertikal dan horizontal sehingga menuju keseimbangannya dari suatu tempat ke tempat lain yang disebabkan oleh tiupan angin, perbedaan densitas air laut, gerakan gelombang yang panjang seperti arus yang disebabkan oleh pasang surut (Nontji, 2005). Pergerakan arus dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu arah angin, perbedaan tekanan air, perbedaan densitas air, gaya coriolis dan arus ekman, topografi dasar laut, arus permukaan, upwelling dan downwelling.
Pergerakan dua massa air yang mengalir melalui suatu wilayah perairan mempunyai karakteristik yang berbeda berupa suhu, salinitas dan zat-zat hara yang terkandung di dalamnya karena perairan yang dilewatinya berbeda, sehingga kondisi demikian menyebabkan sumberdaya ikan yang berada di dalamnya juga akan berbeda baik densitas, jenis maupun pola penyebarannya (Simbolon, 1996).
Arus sangat berpengaruh terhadap keberadaan ikan antara lain dapat mempengaruhi orientasi rute migrasi ikan, tingkah laku diural ikan, ketersediaan makan, distribusi dan kelimpahan ikan serta dapat mengalirkan telur dan anak- anak ikan dari spawning ground ke nursery ground dan kemudian ke feeding ground, berpengaruh terhadap profil oseanografi dan bersama suhu membentuk daerah penangkapan ikan yang potensial (Laevastu dan Hayes, 1981).
2.7 Alat Tangkap Trawl
Trawl adalah alat tangkap dengan jaring berbentuk kantong mengerucut yang memiliki sayap, badan, dan kantong jaring serta dilengkapi pembuka mulut jaring (otter board) dan alat pemisah ikan/penyu (API/BED/TED), dengan ukuran mata jaring pada bagian kantong (cod end) tidak kurang dari 3 cm. Berdasarkan tempat pengoperasiannya alat tangkap trawl dibedakan dalam tiga tipe, yaitu
surface trawl, mid water trawl dan bottom trawl. Trawl yang sering digunakan dalam pendugaan stok sumberdaya ikan di suatu perairan adalah botom trawl. Pengoperasiannya pada lapisan dasar perairan yang ditarik oleh satu buah kapal yang bergerak aktif. Mesin bantu penangkapan yang digunakan di atas kapal dapat berupa mesin penarik (winch atau capstan) dan derek. Target hasil tangkapan utama dari alat ini adalah udang dan hasil tangkapan sampingan (by catch) adalah ikan demersal.
Trawl termasuk alat tangkap yang tidak selektif karena bukan hanya udang dan ikan demersal saja yang tertangkap tetapi juga ikan pelagis dari ukuran kecil hingga yang besar dan jenis organisme lainnya seperti cumi-cumi dan kepiting yang diduga tertangkap pada saat hauling. Alat ini dilengkapi oleh bridles dengan panjang sekitar 200 meter yang dapat menyapu dasar perairan yang luas, menakut-nakuti ikan dan menggiringnya ke muka jaring hingga meningkatkan efektifitas jaring (Sparre dan siebren, 1999).
Daerah penangkapan yang baik untuk pengoperasian trawl antara lain dasar perairan berpasir, lumpur, pasir berlumpur, kondisi cuaca yang baik seperti angin dan kecepatan arus tidak terlalu besar serta perairan mempunyai daya produktifitas dan sumberdaya yang melimpah. Trawl sering digunakan untuk pendugaan kelimpahan ikan demersal yang dikombinasikan dengan teknologi hidroakustik. Teknologi hidroakustik sangat efektif untuk mengetahui bukaan mulut trawl pada saat dioperasikan agar tetap terbuka sempurna dengan pemasangan transducer pada bagian otter board dan head rope yang dapat dipantau secara langsung melalui monitor dari atas kapal.
Sumber: BRPL, 2004
3 METODE PENELITIAN
3.1 Waktu dan Tempat
Penelitian ini menggunakan data hasil survei akustik yang dilaksanakan oleh Balai Riset Perikanan Laut (BRPL), Dirjen Perikanan Tangkap, KKP RI pada bulan Juni 2008 di Selat Malaka. Pengolahan dan analisis data dilaksanakan di Laboratorium Akustik Perikanan BRPL Jakarta pada bulan September sampai November 2011. Pemilihan data hasil penelitian ini disebabkan karena sebagian data hasil penelitian tersebut selain data akustik, juga diperoleh data hasil tangkapan dan oseanografi, dimana data-data tersebut dapat dijadikan sebagai verifikasi data akustik untuk pemetaan daerah penangkapan ikan di Selat Malaka.
Lokasi survei akustik di Selat Malaka pada bulan Juni 2008 dibagi menjadi dua wilayah, yaitu Perairan Kepulauan Riau (tenggara Selat Malaka) yang meliputi Perairan Pulau Bengkalis, Pulau Karimun Besar, Pulau Rupat, Perairan Bagan Siapi-api, dan Perairan Tanjung Balai Asahan sampai Belawan (barat laut Selat Malaka) yang terletak pada koordinat 1-4,5° LU dan 98-104° BT.
Penulis mengikuti kegiatan "Cruise South China Sea and Indonesia Seas Transport/Exchange (SITE) and Dynamics of Sunda Strait and Their Impacs on Seasonal Fish Migration" yang dilaksanakan oleh Puslitbang Sumberdaya Laut dan Pesisir Balitbang KKP RI, China Oseanogrphy Institute dan Colombia University USA, untuk mengetahui dan memahami pengambilan data akustik dan oseanografi secara langsung di laut. Kegiatan tersebut dilakukan pada bulan September sampai Oktober 2011 di Selat Sunda, Selat Karimata dan Laut Cina Selatan menggunakan Kapal Riset Baruna Jaya VIII.
3.2 Alat dan Bahan
Peralatan yang digunakan pada saat survei akustik antara lain:
1) Kapal Riset Bawal Putih, sebagai wahana yang digunakan dalam pengambilan seluruh data yang diperlukan selama survei.
2) Perangkat peralatan hidroakustik echosounder split beam acoustic system, yaitu satu unit Scientific Echo Sounder Simrad EK 60, dilengkapi dengan
transducer model 120-07 ES yang beroperasi pada frekuensi 120 kHz,
digunakan untuk akuasisi data hidroakustik.
3) Omni-directional sonar SIMRAD SP-70, yang digunakan untuk mendeteksi
gerombolan ikan (fish shoaling) di kolom air di bawah dan sekitar lintasan kapal. Alat ini beroperasi pada frequensi 26 kHz dengan kemampuan deteksi horizontal sampai pada radius 8000 meter dan maksimum sudut kemiringan (tilt angle) 90°.
4) GPS (Global Positioning System), alat ini sudah terintegrasi pada SIMRAD EK
60 Scientific Echosounder System, yang digunakan untuk membantu
mengetahui posisi dan arah kapal selama sounding.
5) CTD (Conductivity Temperature Depth) profiler Sea Bird tipe SBE 19-03 dan
Valeport 308, yang digunakan untuk mengukur karakteristik seperti suhu, salinitas dan Current meters untuk mengukur arah dan kecepatan arus.
6) Alat tangkap trawl tipe Thailand bottom trawl, memiliki panjang tali ris atas (head rope) 36 meter dan otter board berukuran panjang 2 meter dan lebar 1 meter, digunakan untuk menangkap ikan di 20 stasiun pengoperasian trawl. 7) Perangkat keras (PC atau Laptop) dan Kamera digital untuk pengambilan
Alat yang digunakan pada proses pengolahan dan analisis data antara lain: 1) Komputer portabel dengan sistem operasi Microsoft Windows XP Professional
2002 SP2 yang dilengkapi program software SIMRAD ER 60, SIMRAD BI 60,
Sonar Data V4 Echoview, Surfer 8.0, Micosoft Office Excel; dan 2) Dongle (transfer data tool).
Bahan yang digunakan pada proses dan pengolahan data antara lain:
1) Data akustik hasil rekaman SIMRAD EK 60 pada saat survei akustik yang berekstensi raw data (*.raw), indeks files (*.idx) dan bottom files (*.bot). Ketiga kelompok data ini memiliki ekstensi yang berbeda tetapi saling terintegrasi satu dengan lainnya;
2) Data oseanografi hasil rekaman CTD Profiler Sea Bird tipe SBE 19-03 dan
Valeport 308 yang berekstensi raw data (*.raw); dan
3) Data hasil tangkapan trawl dalam bentuk Micosoft Office Excel dan gambar. 3.3 Desain Survei
Pola survei yang digunakan dalam penelitian akustik di Selat Malaka pada bulan Juni 2008 adalah systematic trianguler transect (Gambar 4b). Pola survei ini diharapkan mampu mewakili daerah penelitian di Perairan Selat Malaka. Jumlah leg sebanyak 14 buah yang panjangnya disesuaikan dengan lokasi penelitian. Penentuan jarak tempuh dan bentuk jalur pelayaran dilakukan sesuai dengan luas daerah yang dicakup dan waktu yang tersedia serta kecepatan kapal pada waktu pengambilan data. Kecepatan kapal ketika melakukan perekaman data akustik dan trawling sekitar 2-3 knot. Data direkam selama 24 jam dengan menggunakan metode hidroakustik, bersamaan dengan itu dilakukan verifikasi dengan alat tangkap trawl pada beberapa stasiun (disesuaikan dengan kontur kedalaman) guna mendapatkan data hasil tangkapan di daerah survei. Pengambilan data oseanografi ditempatkan pada setiap stasiun dari sebuah
Elementary Sampling Distance Unit (ESDU) yang berjumlah 32 stasiun, data oseanografi diambil dalam kisaran jarak yang relatif rapat dengan selang waktu pengambilan selama kurang lebih satu jam.
3.4 Pengumpulan Data
Data yang dikumpulkan pada saat survei akustik bulan Juni 2008 di Selat Malaka meliputi data akustik, oseanografi dan hasil tangkapan. Pengumpulan data dilakukan sepanjang jalur pelayaran (leg) selama tracking akustik dan bersamaan dengan dilakukannya pengamatan oseanografi dan trawling.
3.4.1 Data akustik
Pengambilan data akustik dilakukan dengan menggunakan SIMRAD EK 60 Scientific Echosounder System, dilengkapi dengan transducer model 120-07 ES yang beroperasi dengan frekuensi 120 kHz. Proses echo integrasi dilakukan dari kolom air secara vertikal kemudian dirata-ratakan dalam arah horizontal