HASIL DAN ANALISA PENELITIAN
1.11 Hubungan Tingkat Keparahan Terorisme dan PDB Negara Asal Turis per Region dengan Tingkat Kedatangan Wisman per Region
Region Asia Pasifik
Tabel 5.1a Grafik Hubungan Tingkat Terorisme dengan Tingkat Kedatangan Wisman Asia Pasifik
Tabel 5.2.1b Grafik Hubungan Pertumbuhan PDB Asia Pasifik dengan Tingkat Kedatangan Wisman Asal Asia Pasifik
Dari grafik mengenai tingkat keparahan terorisme terhadap pertumbuhan kedatangan wisatawan asal region Asia Pasifik dapat terlihat bahwa hubungan yang terjadi didominasi oleh hubungan yang bertolak belakang, menandakan hubungan yang negatif antar dua axis. Pada tahun 1996, di saat tingkat keparahan terorisme turun ke
0 50 100 150 200 250 300 -20.00% -10.00% 0.00% 10.00% 20.00% 30.00%
Hubungan Terorisme dengan Jumlah Kedatangan Wisman Asal Asia Pasifik
Arriv.Asia Pasifik Terorisme
-20.00% -15.00% -10.00% -5.00% 0.00% 5.00% 10.00% 15.00% 20.00% 25.00% 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 Hubungan Pertumbuhan PDB Asia Pasifik dengan Jumlah Kedatangan
Wisman Asal Asia Pasifik
43
angka 25 dari angka 41 di tahun sebelumnya, pertumbuhan kedatangan wisatawan asing naik 21.22%. Di tahun 1997, tingkat keparahan terorisme menaik ke angka 102, menyebabkan penurunan kedatangan wisatawan asing berkurang 17.81% dari pertumbuhan tahun sebelumnya. Namun, terjadi hubungan linier pertama pada tahun 1998, di mana saat tingkat terorisme menurun ke angka 9, penurunan pertumbuhan kedatangan wisatawan pun ikut menurun drastis hingga mencapai -9.09 %.
Pada tahun 2002 kembali terjadi hubungan yang bertolak belakang. Saat tingkat keparahan terorisme terjadi paling tinggi, saat terjadinya Bom Bali I yang mencapai 247 korban jiwa, penurunan jumlah kedatangan wisatawan asal Asia Pasifik berada di angka -2.20%. Pada tahun 2003, efek serangan Bom Bali masih membekas dan menyebabkan permintaan pariwisata masih rendah. Hal ini terlihat dari kondisi terorisme yang menurun tajam hingga hanya berada di angka 26, namun jumlah kedatangan wisatawan tetap menurun hingga 4.37% dari tahun 2002.
Hubungan linier yang kurang signifikan terjadi di tahun setelahnya, yaitu pada tahun 2004. Tingkat keparahan terorisme hanya naik 13 angka, namun pertumbuhan kedatangan wisatawan tumbuh drastis sebesar 19.88%. Lalu di tahun 2005, saat terjadi serangan Bom Bali II, tingkat keparahan terorisme turun 1 angka ke angka 38, diikuti pertumbuhan kedatangan wisatawan turun -14.16%.
Dari grafik mengenai pertumbuhan Produk Domestik Bruto Asia Pasifik terhadap pertumbuhan kedatangan wisatawan dapat terlihat bahwa volatilitas antar dua axis terkadang linier namun juga terkadang berhubungan secara terbalik. Pada tahun 1996 di penurunan PDB mencapai -3.78%, pertumbuhan jumlah kedatangan wisatawan mengalami pertumbuhan 21.22%. Namun penurunan kedatangan wisatawan terus terjadi di tahun selanjutnya, yakni dari tahun 1996 hingga mencapai titik terendah di tahun 1998 yang mencapai -9.09% di saat penurunan PDB Asia juga mencapai titik terendah, turun di poin -8.08% dari tahun sebelumnya. Seperti yang diketahui, pada tahun 1997-1998 memang terjadi krisis ekonomi yang terjadi di Asia, terutama di negara-negara ASEAN (Association of South East Nation) yang berdampak hampir kepada dunia ekonomi dunia. Setelah krisi ekonomi, pertumbuhan PDB Asia Pasifik pun mulai pulih dan membaik, sehingga pertumbuhan kedatangan wisatawan ke Indonesia juga mulai membaik.
Di tahun 2001, krisis keuangan yang terjadi akibat serangan terorisme September 2011, ternyata berpengaruh secara global sehingga menyebabkan pasar uang dan modal memburuk, inilah yang menyebabkan PDB Asia sempat anjlok ke poin -6.25% namun pertumbuhan kedatangan pariwisata masih relatif stabil walau mengalami sedikit penurunan pertumbuhan yang hanya 1.86%. Lalu di tahun 2002, era setelah terjadinya Bom Bali I pada bulan Oktober 2012, penurunan kedatangan wisatawan dari Asia Pasifik mengalami penurunan walau PDB telah tumbuh dan stabil. Penurunan kedatangan wisatawan Asia Pasifik pada tahun terjadinya serangan teroris di 2002
44
adalah -2.20% dan masih berdampak pada tahun setelahnya di tahun 2003 mencapai yang mencapai poin -6.57.
Penurunan terendah kedatangan wisatawan Asia Pasifik tercatat pada tahun 2005 dengan poin -14.16%, hal ini terjadi di saat pertumbuhan PDB Asia Pasifik naik ke poin 7.02%. Pada tahun ini Bom Bali II terjadi pada bulan Oktober 2005, hal itu mungkin menjadi penyebab utama penurunan jumlah kedatangan wisatawan yang anjlok. Pada tahun-tahun selanjutnya, dari 2006-2014, pertumbuhan PDB Asia Pasifik terus mengalami pertumbuhan yanghampir tiap tahunnya linier dengan pertumbuhan kedatangan wisatawan mancanegara asal Asia Pasifik. Ada momen di tahun 2013 di mana pertumbuhan PDB menurun 1.27%, pertumbuhan kedatangan naik 8.90%, namun kondisi ini tidak terlalu begitu signifikan.
Adapun narasi grafik hubungan dapat diyakinkan dengan perhitungan Spearman di bawah ini:
Tabel 5.2.1. Perhitungan Korelasi Spearman Model II
Variabel Koefisien
Korelasi Kategori
Koefisien
Determinasi r tabel Kesimpulan FATALITIES -0.442 Lemah Negatif 19.54 0.051 Tidak Signifikan terhadap 5%,
signifikan terhadap 10% GDP ASIA 0.782 Kuat Positif 61.15 0.000 Signifikan
Dari perhitungan korelasi non parametrik Spearman ditemukan bahwa nilai koefisien korelasi tingkat terorisme dengan tingkat kedatangan wisman dari region Asia Pasifik adalah -0.442 dengan signifikansi 10%, menggambarkan ada hubungan secara negatif dalam kategori sedang antara tingkat keparahan terorisme dengan jumlah kedatangan wisman dari region Asia Pasifik. Dalam hal ini kemampuan variabel keparahan terorisme untuk menjelaskan variasi dari jumlah kunjungan region ini adalah 19.54%, sedangkan sisanya sebesar 80.46% dipengaruhi oleh faktor lain.
Sedangkan nilai koefisien korelasi PDB region Asia Pasifik adalah 0,782 dengan signifikansi yang amat teliti di 1%, menggambarkan ada hubungan yang kuat secara positif antara PDB Asia Pasifik dengan jumlah kunjungan wisatawan dari region Asia Pasifik. Dalam hal ini kemampuan variabel PDB Asia Pasifik untuk menjelaskan variasi dari jumlah kunjungan region Asia Pasifik adalah 61.15%, sedangkan sisanya sebesar 38.85% dipengaruhi oleh faktor lain. Negara-negara Asia Pasifik adalah pasar pariwisata internasional yang paling mudah dijangkau karena posisinya masih dalam satu region dengan Indonesia.
45
Grafik 5.2.1c Persebaran Tingkat Keparahan Terorisme dan PDB Asia Pasifik
Koefisien korelasi (r) : Tingkat keparahan terorisme (-0.442) dan PDB Asia Pasifik (0.782)
Region Amerika
Tabel 5.2.2a Grafik Hubungan Tingkat Terorisme dengan Tingkat Kedatangan Wisman Amerika 0 50 100 150 200 250 300 -40.00% -30.00% -20.00% -10.00% 0.00% 10.00% 20.00% 30.00% 40.00% 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 Hubungan Terorisme dengan Jumlah Kedatangan Wisman Asal Amerika
Arriv.Amerika Terorisme 0 50 100 150 200 250 300 -20.00%K -10.00% 0.00% 10.00% 20.00% 30.00% e p ar ah an T e ro ri sm e
Kedatangan Wisman Asia Pasifik
Sebaran Keparahan Terorisme
-15.00% -10.00% -5.00% 0.00% 5.00% 10.00% 15.00% 20.00% -20.00% -10.00% 0.00% 10.00% 20.00% 30.00% P D B A si a P asi fi k
Kedatangan Wisman Asia Pasifik
46
Grafik 5.2.2b. Hubungan Pertumbuhan PDB Amerika dengan Jumlah Kedatangan Wisman Asal Amerika
Dari grafik mengenai tingkat keparahan terorisme terhadap pertumbuhan kedatangan wisatawan asal region Amerika dapat terlihat bahwa hubungan yang terjadi didominasi oleh volatilitas hubungan yang sangat tinggi dan tidak signifikan, menandakan hampir tidak ada hubungan antar dua axis. Pada tahun 1996, di saat tingkat keparahan terorisme turun ke angka 25 dari angka 41 di tahun sebelumnya, pertumbuhan kedatangan wisatawan asing naik 23.51%. Di tahun 1997, tingkat keparahan terorisme menaik ke angka 102, menyebabkan penurunan kedatangan wisatawan asing berkurang -10.03%. Namun, terjadi hubungan linier pertama pada tahun 1998, di mana saat tingkat terorisme menurun ke angka 9, penurunan pertumbuhan kedatangan wisatawan pun ikut turun hingga mencapai -20.93 %.
Hubungan tidak signifikan terjadi di tahun 2000, di saat tingkat keparahan terorisme naik ke angka 133, kedatangan wisatawan asal Amerika tumbuh sebesar 29.70%. Di tahun 2003, saat tingkat keparahan terorisme menurun 221 angka dari tahun sebelumnya, kedatangan wisatawan ikut turun -21.65%. Diikuti pada tahun 2006, di saat tingkat keparahan terorisme turun 36 poin dari tahun sebelumnya, penurunan yang begitu besar terjadi di kedatangan wisman Amerika yang turun -30.75%.
Dari grafik mengenai pertumbuhan Produk Domestik Bruto Amerika terhadap pertumbuhan kedatangan wisatawan dapat terlihat bahwa fluktuasi antara dua axis menggambarkan volatitas dan gap yang besar. Sangat sedikit pertumbuhan dua axis ini linier dan didominasi oleh hubungan yang bertolak belakang. Pada tahun 1996 di mana pertumbuhan kedatangan wisatawan naik 23.51%, pertumbuhan GDP stabil dengan naik 5.58%. Situasi yang bertolak belakang, tergambar pertama kali di tahun 1997, di mana PDB Amerika naik ke poin 6.10%, penurunan kedatangan wisatawan asal Amerika menurun drastis ke poin -10.03%. Di tahun selanjutnya, 1998, pertumbuhan PDB Amerika memang sedikit mengalami penurunan karena krisis global yang hanya
-40.00% -30.00% -20.00% -10.00% 0.00% 10.00% 20.00% 30.00% 40.00% 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 Hubungan Pertumbuhan PDB Amerika dengan Jumlah Kedatangan
Wisman Asal Amerika
47
turun 1.12% menjadi 4.98% dari tahun sebelumnya, namun penurunan kedatangan wisatawan mencapai poin -20.93%. Hal ini bisa dijelaskan karena krisis keuangan Asia yang terjadi dari 1997-1998, memiliki dampak buruk bagi kondisi politik Indonesia, sehinggan mungkin inilah yang menyebabkan keenggenan wisatawan asal Amerika untuk melakukan perjalanan wisata ke Indonesia.
Pertumbuhan PDB Amerika di tahun 2000 naik hingga 6.67% disusul dengan kenaikan kedatangan wisatawan asal Amerika sebesar 29.70%. Tahun 2002, penurunan PDB Amerika sebesar 3.67% yang diakibatkan oleh krisis keuangan disusul dengan penurunan kedatangan wisatawan yang meluncur tajam, berada di poin -4.96%. Dua tahun ini menggambarkan hubungan yang linier antara PDB Amerika dengan jumlah kedatangan wisatawan asal Amerika walau tak begitu terlalu signifikan. Perumbuhan dua axis yang menggambarkan kondisi linier walau tak signifikan terjadi lagi pada tahun 2004 dan 2005, di mana PDB Amerika pada 2 tahun itu secara berurutan naik 7.22% dan 7.26%, begitupun dengan kenaikan kedatangan wisatawan asal Amerika tumbuh 17.56% dan 25.89%.
Pada tahun 2006, setelah serangan Bom Bali II terjadi di Indonesia, kedatangan wisatawan asal Amerika menurun tajam dan berdada di poin terendah dengan turun sebesar -30.75%, hal ini berbanding terbalik dengan kenaikan PDB Amerika sebesar 6.37%. Saat Amerika Serikat dilanda krisis ekonomi akibat Sub-Prime Mortgages di tahun 2008, menyebabkan PDB Amerika turun 3.03% dari pertumbuhan sebelunya, namun hal ini menyebabkan kenaikan kedatangan wisatawan asal Amerika yang tumbuh sebesar 13.25%. Tahun 2009 adalah momentum hubungan yang terjadi antara PDB Amerika dan kedatangan wisatawan asal Amerika turun secara linier dan signifikan, di mana PDB Amerika turun 2.09% dan kenaikan wisatawan asal Amerika turun -4.92%.
Adapun narasi grafik hubungan dapat diyakinkan dengan perhitungan Spearman di bawah ini:
Tabel 5.2.2 Perhitungan Korelasi Spearman antara hubungan PDB Amerika dengan Jumlah Kedatagan Wisman Amerika
Variabel Koefisien
Korelasi Kategori
Koefisien
Determinasi r tabel Kesimpulan
FATALITIES 0.122 Lemah Positif 1.49 0.608 Tidak Signifikan GDP AMERIKA 0.256 Lemah Positif 6.55 0.277 Tidak Signifikan
48
Dari perhitungan korelasi non parametrik Spearman ditemukan bahwa nilai koefisien korelasi tingkat terorisme dengan tingkat kedatangan wisman dari region Amerika adalah 0.122 dengan nilai yang tidak signifikan, menggambarkan tidak ada hubungan antara tingkat keparahan terorisme dengan jumlah kedatangan wisman dari region Amerika. Dalam hal ini kemampuan variabel keparahan terorisme untuk menjelaskan variasi dari jumlah kunjungan region ini adalah 1.49%, sedangkan sisanya sebesar 98.51% dipengaruhi oleh faktor lain.
Sedangkan nilai koefisien korelasi PDB region Amerika adalah 0,256 dengan nilai yang tidak signifikan yakni 27,7% dengan nilai yang tidak signifikan menggambarkan tidak ada hubungan antara PDB Amerika dengan jumlah kunjungan wisatawan dari region Amerika. Dalam hal ini kemampuan variabel PDB Amerika untuk menjelaskan variasi dari jumlah kunjungan region Amerika adalah 6.55%, sedangkan sisanya sebesar 93.45% dipengaruhi oleh faktor lain. Keterbatasan dalam model kali ini adalah karena negara-negara yang ada dalam data kedatangan wisatawan mancanegara asal Amerika hanya berasal dari dua negara, yakni Amerika Serikat dan Kanada, sehingga kekuatan dari model ini sangat lemah karena kurang mereprenstasikan keadaan di lapangan.
Grafik 5.2.2c Persebaran Tingkat Keparahan Terorisme dan PDB Amerika
Koefisien korelasi (r) : Tingkat keparahan terorisme (0.122) dan PDB Amerika (0.256) 0 50 100 150 200 250 300 -40.00%Ke -20.00% 0.00% 20.00% 40.00% p ar ah an T e ro ri sm e
Kedatangan Wisman Amerika Sebaran Keparahan Terorisme
-4.00% -2.00% 0.00% 2.00% 4.00% 6.00% 8.00% -40.00%P -20.00% 0.00% 20.00% 40.00% D B A m e ri k a
Kedatangan Wisman Amerika Sebaran PDB Amerika
49
Region Eropa
Tabel 5.2.3a Grafik Hubungan Tingkat Terorisme dengan Tingkat Kedatangan Wisman Eropa
Grafik 5.2.3b. Hubungan Pertumbuhan PDB Eropa dengan Jumlah Kedatangan Wisman Asal Eropa
Dari grafik mengenai tingkat keparahan terorisme terhadap pertumbuhan kedatangan wisatawan asal region Eropa dapat terlihat bahwa hubungan yang terjadi didominasi oleh hubungan yang bertolak belakang, menandakan hubungan yang negatif antar dua axis. Pada tahun 1996, di saat tingkat keparahan terorisme turun ke angka 25 dari angka 41 di tahun sebelumnya, pertumbuhan kedatangan wisatawan asing naik 12.14% dari tahun sebekumnya. Namun pada tahun 1997 dan 1998, terjadi hubungan linier. Di tahun 1977 tingkat keparahan terorisme menaik ke angka 102, namun pertumbuhan kedatangan wisatawan naik tidak signifikan sebesar 3.49%. Tahun 1998 terjadi hubungan linier, di mana saat tingkat terorisme menurun ke angka
0 50 100 150 200 250 300 -30.00% -20.00% -10.00% 0.00% 10.00% 20.00% 30.00% 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 Hubungan Terorisme dengan Jumlah Kedatangan Wisman Asal Eropa
Arriv.Eropa Terorisme -30.00% -20.00% -10.00% 0.00% 10.00% 20.00% 30.00% 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 Hubungan Pertumbuhan PDB Eropa dengan Jumlah Kedatangan Wisman
Asal Eropa
50
9, penurunan pertumbuhan kedatangan wisatawan pun ikut menurun drastis hingga mencapai -19.78 %.
Pada tahun 2002 kembali terjadi hubungan yang bertolak belakang. Saat tingkat keparahan terorisme terjadi paling tinggi, saat terjadinya Bom Bali I yang mencapai 247 korban jiwa, penurunan jumlah kedatangan wisatawan asal Eropaberada di angka -2.10%. Pada tahun 2003, efek serangan Bom Bali masih membekas dan menyebabkan permintaan pariwisata masih rendah. Hal ini terlihat dari kondisi terorisme yang menurun tajam hingga hanya berada di angka 26, namun pertumbuhan kedatangan wisatawan tetap menurun hingga -27.06%.
Hubungan linier yang kurang signifikan terjadi di tahun setelahnya, yaitu pada tahun 2004. Tingkat keparahan terorisme hanya naik 13 angka, namun pertumbuhan kedatangan wisatawan tumbuh drastis sebesar 15.91%. Lalu di tahun 2005, saat terjadi serangan Bom Bali II, tingkat keparahan terorisme turun 1 angka ke angka 38, diikuti pertumbuhan kedatangan wisatawan naik 21.03%. Pada tahun setelahnya, saat efek Bom Bali II masih dirasakan masih terjadi hubungan linier antar dua axis. Saat angka terorisme turun 36 angka ke angka 2, penurunan pertumbuhan kedatangan wisatawan Eropa turun hingga -18.19%.
Dari grafik mengenai pertumbuhan Produk Domestik Bruto Eropa terhadap pertumbuhan kedatangan wisatawan dapat terlihat bahwa fluktuasi antara dua axis menggambarkan volatilitas yang 50:50 antara linier dengan yang bertolak belakang. Pada tahun 1995-1996, tergambar hubungan yang bertolak belakang yang cukup signifikan. Pada tahun 1995, saat PDB Eropa mengalami pertumbuhan 13.89%, pertumbuhan kedatangan wisatawan asal Eropa menurun -9.93% dan disusul di tahun selanjutnya di mana PDB Eropa turun 12.22% dari pertumbuhan sebelumnya, kedatangan wisatawan asal Eropa malah tumbuh 1.67%. Namun di tahun 1998. Hubungan yang bertolak belakang sangat signifikan, di mana PDB Eropa tumbuh 1.49%, pertumbuhan kedatangan wisatawan asal Eropa turun drastic sebesar -19.78%. Hal ini mungkin disebabkan adanya krisis ekonomi Asia yang menyebabkan ketidakstablian politik di Indonesia pada tahun itu. Tahun 1999, PDB Eropa mengalami penurunan -0.85% namun berbanding terbalik dengan kedatangan wisatawan asal Eropa yang mulai pulih dengan tumbuh 8.61%.
Di tahun 2000, kembali terjadi hubungan pertumbuhan yang bertolak belakang antar dua axis. PDB Eropa yang mengalami dampak awal resesi turun -6.34%, namun kedatangan wisatawan asal Eropa menaik tajam, tumbuh 20.85%. Lalu di tahun 2002, saat Bom Bali I terjadi di Indonesia, kedatangan wisatawan turun -2.10% walau PDB Eropa saat itu kembali positif dengan tumbuh 8.88%. Efek Bom Bali mungkin tak hanya terjadi di tahun 2002, namun berlanjut di tahun selanjutnya karena pada tahun ini, walau PDB Eropa kembali memperkuat posisinya dengan tumbuh di poin tertinggi 21.54%, kedatangan wisatawan asal Eropa turun anjlok sebesar -27.06%, berada di
51
poin terendah dalam fluktuasi kedatangan wisatawan asal Eropa. Pada tahun 2006, di mana setelah serangan Bom Bali II terjadi di Indonesia tahun 2005, kembali terjadi penurunan kedatangan wisatawan asal Eropa yang anjlok ke poin -18.19%, walau PDB Eropa mengalami kenaikan 7.47%. Hubunga antara dua axis ini terus bertolak belakang hingga tahun 2010.
Hubungan pertumbuhan yang linier antar kedua axis, baru terlihat kembali dari tahun 2011-2014. Tahun 2011, di mana PDB Eropa naik 10.18%, pertumbuhan kenaikan wsatawan pun naik 5.94%. Dan di akhir 2014, di mana saat PDB Eropa turun pertumbuhannya, hanya sebesar 1.31% disbanding tahun sebelumnya yang tumbuh 4.05%, pertumbuhan kedatangan wisatawan asal Eropa pun mengalami kejadian penurunan sebesar 4.08%.
Adapun narasi grafik hubungan dapat diyakinkan dengan perhitungan Spearman di bawah ini:
Tabel 5.2.3 Perhitungan Korelasi Spearman Model IV
Variabel Koefisien
Korelasi Kategori
Koefisien
Determinasi r tabel Kesimpulan FATALITIES -0.388 Lemah Positif 15.05 0.608
Tidak Signifikan terhadap 5%, signifikan terhadap 10% GDP EUR 0.705 Kuat Positif 49.70 0.001 Signifikan
Dari perhitungan korelasi non parametrik Spearman ditemukan bahwa nilai koefisien korelasi tingkat terorisme dengan tingkat kedatangan wisman dari region Eropa adalah -0.388, menggambarkan ada hubungan yang negatif dalam kategori lemah antara tingkat keparahan terorisme dengan jumlah kedatangan wisman dari region Eropa. Dalam hal ini kemampuan variabel keparahan terorisme untuk menjelaskan variasi dari jumlah kunjungan region ini adalah 15.05%, sedangkan sisanya sebesar 84.95% dipengaruhi oleh faktor lain.
Sedangkan nilai koefisien korelasi PDB region Eropa adalah 0,705 dengan signifikansi yang amat teliti di 1%, menggambarkan ada hubungan yang kuat secara positif antara PDB Eropa dengan jumlah kunjungan wisatawan dari region Eropa. Dalam hal ini kemampuan variabel PDB Eropauntuk menjelaskan variasi dari jumlah kunjungan region Eropa adalah 49.70% sedangkan sisanya sebesar 50.03% dipengaruhi oleh faktor lain. Negara-negara Eropa adalah pasar pariwisata internasional bagi Indonesia yang sangat menguntungkan karena walau jarak yang
52
harus ditempuh sedikit jauh, tak sedikit wisatawan asal Eropa yang datang dan menambah pendapatan devisa Indonesia.
Grafik 5.2.3c Persebaran Tingkat Keparahan Terorisme dan PDB Eropa
Koefisien korelasi (r) : Tingkat keparahan terorisme (-0.388) dan PDB Eropa (0.705)
0 50 100 150 200 250 300 -30.00% -20.00% -10.00%Ke 0.00% 10.00% 20.00% 30.00% p ar ah an T e ro ri sm e
Kedatangan Wisman Eropa
Sebaran Keparahan Terorisme
-20.00% -10.00% 0.00% 10.00% 20.00% 30.00% -30.00% -20.00% -10.00%PD 0.00% 10.00% 20.00% 30.00% B E ro p a
Kedatangan Wisman Eropa Sebaran PDB Eropa
54