Penerapan tahapan transaksi memberikan manfaat agar dengan mudah mencari akar permasalahan dan mencari penyelesaiannya apabila terjadi sengketa antara pelaku usaha dengan konsumen.
Adapun tahap-tahap transaksi konsumen dibagi dalam 3 bentuk tahapan antara lain;
a. Tahap Pra transaksi konsumen
Tahap pra transaksi biasanya ditandai dengan penawaran oleh penjual kepada calon pembelinya, dan konsumen masih mencari keterangan dimana barang atau jasa kebutuhannya dapat ia peroleh, berapa harga dan apa pula syarat-syarat yang harus ia penuhi, serta mempertimbangkan berbagai fasilitas atau
kondisi dari transaksi ia inginkan.71
Biasanya dalam menawarkan produk barang dan/atau jasa pelaku usaha menggunakan iklan sebagai sarana promosi dagangannya. Berbagai cara penawaran akan dilakukan pelaku usaha agar produknya laku habis, namun pelaku usaha dilarang mengelabui konsumen saat menawarkan produknya.
Berdasarkan Pasal 10 UUPK, pelaku usaha dalam penawaran barang dan/atau jasa yang ditujukan untuk diperdagangkan dilarang menawarkan, mempromosikan, mengiklankan atau membuat pernyataan yang tidak benar mengenai:
1) harga atau tarif suatu barang dan/atau jasa;
2) kegunaan suatu barang dan/atau jasa;
3) kondisi, tanggungan, jaminan, hak atau ganti rugi atas suatu
barang dan/atau jasa;
4) tawaran potongan harga atau hadiah menarik yang ditawarkan;
5) bahaya penggunaan barang dan/atau jasa
Pelaku usaha periklanan juga diatur di dalam Pasal 17 UUPK, yaitu pelaku usaha periklanan dilarang memproduksi iklan yang:
1) mengelabui konsumen mengenai kualitas, kuantitas, bahan,
kegunaan dan harga barang dan/atau tarif jasa serta ketepatan waktu penerimaan barang dan/atau jasa;
71
2) mengelabui jaminan / garansi terhadap barang dan/atau jasa;
3) memuat informasi yang keliru, salah atau tidak tepat mengenai
barang dan/atau jasa;
4) tidak memuat informasi mengenai resiko pemakaian barang
dan/atau jasa;
5) mengekploitasi kejadian dan/atau seseorang tanpa seizin yang
berwenang atau persetujuan yang bersangkutan;
6) melanggar etika dan/atau ketentuan peraturan
perundang-undangan mengenai periklanan
Pelaku usaha dalam melakukan penawarannya dilarang menipu atau mengelabui calon pembeli, dan harus memberikan informasi yang benar dan jujur mengenai kondisi barang dan/atau jasa yang ditawarkan.
b. Tahap Transaksi konsumen
Tahap transaksi konsumen sering disebut dengan transaksi yang sesungguhnya, karena pada tahap inilah pelaku usaha dan konsumen mecapai kesepakatan mengenai barang dan/atau jasa. Pada tahap ini transaksi peralihan suatu barang telah terjadi. Konsumen dalam hal ini sudah terikat dengan berbagai persyaratan pembayaran, harga, dan sebagainya.
Hal-hal yang penting dan perlu mendapat perhatian oleh pelaku usaha maupun konsumen adalah terpenuhinya syarat-syarat sahnya perjanjian yang diatur pada Pasal 1320 KUHPerdata.
Adapun syarat sahnya perjanjian yang diatur di dalam Pasal 1320 KUHPerdata adalah:
1) Sepakat mereka yang mengikat dirinya;
3) Suatu hal tertentu;
4) Suatu sebab yang halal
Hal yang perlu diperhatikan selanjutnya adalah perjanjian syarat baku atau klausula baku yang dibuat secara sepihak. Perjanjian syarat baku yang dibuat secara sepihak sering menimbulkan permasalahan pada tahap transaksi ini.
Klausula baku diatur dalam Pasal 1 Angka 10 UUPK yaitu “setiap aturan
atau ketentuan dan syarat-syarat yang telah dipersiapkan dan ditetapkan terlebih dahulu secara sepihak oleh pelaku usaha yang dituangkan dalam suatu dokumen
dan atau perjanjian yang mengikat dan wajib dipenuhi oleh konsumen.”
Perlu dikhawatirkan terdapat klausula baku yang dibuat oleh pelaku usaha yang isinya merupakan klausula yang mengandung kondisi membatasi atau bahkan menghapus sama sekali tanggung jawab yang seharusnya dibebankan kepada pelaku usaha, namun UUPK telah mengatur masalah ini dan tertuang di
dalam Pasal 18 Jo Pasal 62 yaitu:
1) Pelaku usaha dilarang memuat klausula baku dalam perjanjian atau
dokumen apabila:
a. menyatakan pengalihan tanggung jawab pelaku usaha;
b. pelaku usaha berhak menolak pengembalian barang yang dibeli
konsumen;
c. pelaku usaha berjak menolak pengembalian uang pembelian
barang dan/atau jasa;
d. pemberian kuasa dari konsumen kepada pelaku usaha, baik
secara langsung maupun tidak langsung untuk melakukan tindakan secara sepihak yang berkaitan dengan pembelian secara angsuran;
e. mengatur perihal pembuktian atas hilangnya kegunaan barang
atau jasa yang dibeli;
f. member hak kepada pelaku usaha untuk mengurangi manfaat
g. menyatakan bahwa konsumen member kuasa kepada pelaku usaha untuk pembebanan hak tanggungan, hak gadai, atau hak jaminan terhadap barang yang dibeli oleh konsumen secara angsuran.
2) Letak atau bentuknya sulit dilihat atau sulit dimengerti konsumen;
3) Klausula baku yang sesuai dengan kriteria Ayat (1) a-h, Ayat (2) batal
demi hukum
4) Pelaku usaha wajib menyesuaikan klausula bakunya dengan aturan ini.
c. Tahap Purna transaksi
Pada tahap pasca transaksi ini tidak berarti bahwa hubungan antara konsumen dengan pelaku usaha sudah selesai, di tahap ini konsumen biasanya sudah menerima dan memanfaatkan produk dan/atau jasa yang dibelinya.
Pada saat pemanfaatan, konsumen mulai menilai barang dan/atau jasa tersebut. Apabila konsumen merasa puas, biasanya konsumen akan terus menggunakan barang dan/atau jasa tersebut, tanpa harus repot-repot mencari barang dan/atau jasa yang lain. Pelaku usaha pun akan merasa senang dan diuntungkan karena konsumen puas dengan barang dan/atau jasa yang diberikan.
Sebaliknya, keadaan akan menjadi berbeda apabila konsumen merasa tidak puas dengan pemanfaatan barang tersebut atau jasa yang diberikan oleh pelaku usaha. Konsumen merasa tidak puas apabila barang dan/atau jasa tersebut merugikan dirinya. Biasanya, konsumen akan mengajukan keluhan kepada pelaku usaha tersebut. Disinilah pentingnya tanggung jawab pelaku usaha dari purna transaksi itu, pelaku usaha harus tetap mendengarkan keluhan konsumen, memberikan pelayanan yang baik dan memberikan ganti rugi jika diperlukan.