• Tidak ada hasil yang ditemukan

Dari uji statistik Chi-Square terlihat bahwa secara statistik semua variabel independen, yaitu Variabel Karakteristik Organisasional dan Variabel Karakteristik Individual berhubungan secara signifikan (p < 0,05) dengan variabel dependen, yaitu Variabel Kejadian Stres Pada Perawat. Hal ini dapat terlihat pada Tabel 4.7. di bawah ini :

Tabel 4.7. Hubungan Variabel Dependen dengan Variabel Independen di RSUD Porsea

Variabel Dependen

Variabel Independen Nilai p Keterangan

Variabel Organisasional

1. Otonomi 0,004 Berhubungan signifikan

2. Mutasi 0,002 Berhubungan signifikan

3. Karier 0,000 Berhubungan signifikan

4. Beban kerja 0,006 Berhubungan signifikan 5. Interaksi Perawat 0,011 Berhubungan signifikan Variabel Individual

1. Dukungan keluarga 0,034 Berhubungan signifikan

2. Kejenuhan 0,008 Berhubungan signifikan

Kejadian Stres Pada

Perawat

4.6. Analisis Multivariat

Dalam analisis multivariat kita ingin melihat variabel yang paling berpengaruh dan membuat persamaan akhir dengan regresi logistik. Pemilihan analisis regresi logistik, disebabkan variabel dependennya kategorik.

Untuk mendapatkan faktor yang terbaik semua kandidat dicobakan secara bersama-sama. Faktor yang terbaik akan dipertimbangkan dengan p value, variabel yang mempunyai P value > 0,05 dikeluarkan dari model satu-persatu mulai dari p value terbesar, dapat dilihat pada Tabel 4.8

Tabel 4.8. Analisis Multivariat Pengaruh Variabel Karakteristik Organisasional (tanpa variabel interaksi, beban kerja dan otonomi) dan Karakteristik Individual terhadap stres perawat di RSUD Porsea

Variabel Independen P value

Mutasi 0.029

Karier 0.005

Dukungan keluarga 0.036

Kejenuhan 0.006 Konflik 0.016

Tabel 4.8. menunjukkan bahwa ternyata dari hasil uji multivariat, variabel mutasi, peningkatan karier dukungan keluarga, kejenuhan dan konflik yang berhubungan dengan kejadian stres pada perawat. Tahapan selanjutnya adalah melakukan uji interaksi antara variabel terpilih, seperti pada Tabel 4.9.

Tabel 4.9. Uji Interaksi faktor-faktor yang Memepengaruhi Kejadian stres pada perawat di RSUD Porsea

Variabel P value Exp (B)

Mutasi by Karier 0.915 1.144

Mutasi by Dukungan Keluarga 0.554 1.831

Mutasi by Kejenuhan 0.199 3.452

Mutasi by Konflik 0.607 0.480

Karier by Dukungan Keluarga 0.291 2.924

Karier by Kejenuhan 0.288 0.201

Karier by Konflik 0.083 7.194

Dukungan Keluarga by Kejenuhan 0.348 2.233

Dukungan Keluarga by Konflik 0.203 2.227

Kejenuhan by Konflik 0.352 3.578

Pada tabel 4.9. terlihat bahwa semua interaksi mempunyai p value > 0.05 yang artinya dari semua variabel yang secara uji multivariat berhubungan dengan kejadian stres pada perawat tidak ada yang berinteraksi satu sama lain. Dengan kata lain tidak adanya perubahan pengaruh satu variabel independen terhadap variabel independen yang lain.

Faktor yang Berhubungan dan yang Dominan dengan Kejadian stres

Setelah melalui tahapan-tahapan dalam uji multivariat didapat hasil faktor penentunya pada Tabel 4.10. seperti berikut ini :

Tabel 4.10. Analisis Multivariat Regresi Logistik antara Variabel Mutasi, Peningkatan Karier, Dukungan keluarga, Kejenuhan dan Konflik

Terhadap Kejadian Stress Pada Perawat , di RSUD Porsea

Variabel B P value Exp (B)

Mutasi 1.697 0.029 5.457

Karier 2.088 0.005 8.068

Dukungan keluarga 1.684 0.036 5.385

Kejenuhan 2.164 0.006 8.702

Konflik 1.819 0.016 6.166

Dari tabel di atas dapat disimpulkan bahwa dari delapan variabel yang diduga berpengaruh dengan kejadian stress pada perawat di RSUD Porsea, ternyata hanya lima variabel yang secara signifikan berpengaruh dengan kejadian stress pada perawat di RSUD Porsea yaitu :

1. Variabel Kejenuhan 2. Variabel Karier 3. Variabel Konflik 4. Variabel Mutasi

5. Variabel Dukungan Keluarga

Variabel independen (karakteristk organisasional) dari 5 variabel yaitu otonomi, mutasi, karier, beban kerja dan interaksi perawat yang paling dominan menyebabkan stres adalah variabel karier dan variabel mutasi, sedangkan dari karakteristik individual dari 3 variabel yaitu dukungan keluarga, kejenuhan dan

konflik dengan rekan kerja yang paling dominan menyebakan stres adalah ke tiga variabel yaitu variabel kejenuhan, variabel konflik dengan rekan kerja serta variabel dukungan keluarga.

Perawat yang merasakan adanya kejenuhan berpeluang mengalami stres sebesar 8,702 kali dibandingkan dengan perawat yang tidak merasa jenuh dalam bekerja setelah dikontrol varaiabel mutasi, peningkatan karier, dukungan keluarga, dan konflik. Demikian juga pada variabel Peningkatan Karier, perawat yang merasa tidak ada peningkatan karier di RSUD Porsea berpeluang 8,068 kali mengalami stres dibandingkan dengan perawat yang merasa ada peningkatan karier setelah dikontrol varaibel mutasi, dukungan keluarga, kejenuhan dan konflik.

Perawat yang merasakan adanya konflik di tempatnya bekerja berpeluang 6,166 kali mengalami stres dibandingkan dengan dengan perawat yang yang tidak merasakan adanya konflik setelah mengontrol variabel mutasi, peningkatan karier, dukungan keluarga dan kejenuhan. Responden yang merasakan bahwa mutasi yang terjadi selama ini kurang berpeluang 5,457 kali mengalami stres dibandingkan dengan yang merasakan bahwa mutasi yang terjadi baik setelah dikontrol variabel peningkatan karier, dukungan keluarga, kejenuhan dan konflik. Perawat yang tidak mendapat dukungan keluarga dalam bekerja berpeluang mengalami 5,385 kali stres setelah dikontrol variabel mutasi, peningkatan karier, kejenuhan dan konflik dengan rekan kerja.

Dapat diambil kesimpulan dari variabel independen yaitu karakteristik organisasional (otonomi, mutasi, karier, beban kerja dan interaksi perawat) yang paling berpengaruh menyebabkan stres kerja adalah variabel karier dan variabel mutasi sedangkan karakteristik individual (dukungan keluarga, kejenuhan dan konflik dengan rekan kerja) seluruh variabel berpengaruh menyebabkan stres kerja. Dari seluruh variabel independen baik karakteristik organisasional dan karakteristik individual yang paling dominan dalam mempengaruhi kejadian stress pada perawat di RSUD Porsea adalah karakteristik individual yakni variabel kejenuhan karena Exp B nya lebih besar yaitu 8,702.

BAB 5 PEMBAHASAN 5.1.Gambaran Karakteristik Responden

Karakteristik responden dapat dilihat berdasarkan pendidikan, jenis kelamin dan berdasarkan unit kerja. Berdasarkan pendidikan lebih banyak responden berpendidikan SPK yaitu 57,14 % hal ini terjadi karena responden kebanyakan yang sudah lama bertugas di RSUD Porsea yaitu sejak beroperasi tahun 1982 dan pada saat itu belum ada pendidikan Akademi Perawat dan S1 Keperawatan yang berdiri, sedangkan perempuan 97,14 % hal ini terjadi karena pada umumnya di Indonesia lebih banyak perempuan yang memasuki lembaga kependidikan keperawatan dan menjadi seorang perawat. Unit kerja responden lebih banyak bertugas di ruang penyakit dalam, hal ini terjadi karena lebih banyak pasien yang di rawat di ruangan penyakit dalam dibanding dengan ruang perawatan lain yang ada di RSUD Porsea.

Dokumen terkait