BAB III HAK WARIS ISTRI YANG DINIKAHI SECARA SIRI
A. Hukum Kewarisan
Masyarakat Aceh ialah suatu masyarakat yang majemuk dari berbagai suku didalamnya, namun dalam hal mengenai istri nikah siri masyarakat adat Aceh menganut pada fikih Islam. Kata waris berasal dari bahasa Arab miras. Bentuk jamaknya adalah mawaris, yang berarti harta peninggalan orang yang meninggal yang akan dibagikan kepada ahli warisnya. Ilmu yang mempelajari warisan disebut
ilmu mawarisatau lebih dikenal dengan istilahfaraid. Katafara’idmerupakan bentuk jamak darifaridah, yang diartikan oleh para ulama Faradiyun semakna dengan kata
mafrudah, yaitu bagian yang telah ditentukan kadarnya, menurut bahasa mempunyai arti, antara lain sebagai berikut :
1. Taqdir,yaitu suatu ketentuan 2. Qat’u,yaitu ketetapan yang pasti 3. Inzal,yaitu menurunkan
4. Tabyin,yaitu penjelasan 5. Ihlal,yaitu menghalalkan 6. Ata’,yaitu pemberian.106
Keenam arti tersebut diatas dapat digunakan sebab ilmu faraid mengandung saham-saham atau bagian yang telah ditentukan besar kecilnya dengan pasti dan telah
dijelaskan oleh Allah Swt, tentang halalnya sesuai dengan peraturan-peraturan yang telah diturunkan.
Menurut istilah, mawaris dikhususkan untuk suatu bagian ahli waris yang telah ditetapkan dan ditentukan besar-kecilnya oleh syara’. Hukum-hukum pembagian waris bersumber pada :
1. Al-Qur’an, merupakan sebagian besar sumber hukum waris yang banyak menjelaskan ketentuan-ketentuanfardtiap-tiap ahli waris.
2. Al-Hadis
3. Sebagian kecil dariijma “para ahli,dan beberapa masalah diambil dari ijtihad para sahabat.
Ijma’danijtihadsahabat, imam madzhab, dan para mujtahid dapat digunakan dalam pemecahan-pemecahan masalah mawaris yang belum djelaskan olehnashyang
sharih.
Misalnya :
a. Status saudara-saudara bersama-sama dengan kakek. Dalam Al-Qur’an, masalah ini tidak dapat jelaskan, kecuali dalam masalah kalalah.Akan tetapi, menurut kebanyakan sahabat dan imam madzhab yang mengutip pendapat Zaid bin Sabit, saudara-saudara tersebut mendapat bagian waris secara
muqasamahbersama dengan kakek.107
107Koentjaraningrat, 1997, Metode Penelitian Masyarahat, Gramedia Pustaka Utama,, hlm.: 440.
b. Status cucu-cucu yang ayahnya lebih dahulu meninggal daripada kakek yang bakal diwarisi dan yang mewarisi bersama-sama dengan saudara-saudara ayahnya. Menurut ketentuan mereka, cucu-cucu tersebut tidak mendapat bagian apa-apa karena terhijab oleh saudara ayahnya, tetapi menurut kitab Undang-Undang Hukum Wasiat Mesir yang meng-istibat-kan dari ijtihad para ulama muqaddimin, mereka diberi bagian berdasarkanwasiat wajibah.108 Harta orang yang telah meninggal dengan sendirinva beralih kepada orang hidup yang memiliki hubungan dengan orang yang telah meninggal dunia tersebut. Dalam literatur Hukum Islam atau Fikih, dinyatakan ada empat hubungan yang menyebabkan seseorang menerima harta warisan dari seseorang yang telah mati, yaitu hubungan kerabat, hubungan perkawinan, hubungan wala’ dan hubungan sesama Islam.
Saat ini dua hubungan terakhir, terutama hubungan. Wala’, hanya terdapat dalam tataran wacana raja. Sedangkan hubungan Islam sangat jarang terjadi, meskipun hubungan tersebut ada dalam teori. Hubungan wala’ terjadi disebabkan oleh usaha seseorang pemilik budak yang dengan sukarela memerdekakan budaknya. Sebagai imbalan dan sebagai perangsang agar orang (pada waktu itu) memerdekakan budak, Rasulullah memberikan hak wala’ kepada yang memerdekakan itu sesuai hadist Nabi yang bunyinya; ‘Hakwala’adalah untuk orang yang memerdekakan.
1. Hubungan Kekerabatan
Di antara sebab beralihnya harta seseorang yang telah mati kepada yang masih hidup adalah adanya hubungan silaturrahmi atau kekerabatan antara keduanya. Adanya hubungan kekerabatan ditentukan oleh adanya hubungan darah yang ditentukan pada saat adanya kelahiran.
Pada tahap pertama seseorang anak menemukan hubungan kerabat dengan ibu yang melahirkannya. Seseorang anak yang dilahirkan oleh seseorang ibu mempunyai hubungan kerabat dengan ibu yang melahirkannya. Hal ini bersifat alamiah. Dan tidak ada seorang pun yang membantah hal ini karena si anak jelas keluar dari rahim ibunya itu. Memang menurut biasanya dan secara alamiah anak yang dilahirkan seseorang ibu berasal dari bibit ibu itu yang telah berpadu dengan bibit laki-laki yang menggaulinya, sehingga dapat dikatakan bahwa ibu yang melahirkan adalah ibu yang punya bibit. Namun dengan adanya kasus bayi tabung titipan, mungkin terjadi anak yang, dilahirkan seseorang ibu bukan dari bibitnya sendiri. Dalam kasus seperti ini siapa sebenamya ibu dari anak yang lahir itu, apakah yang melahirkan atau yang mempunyai bibit atau keduanya. Hal ini masih dalam lingkup wacana, belum ada keputusan yang tuntas.
Hubungan keibuan sebagaimana disebutkan di atas bersifat alamiah dan telah berlaku semenjak adanya kelahiran di atas dunia. Dengan berlakunya hubungan anak dengan ibu yang melahirkannya itu dengan sendirinya berlaku pula hubungan kekerabatan antara anak yang dilahirkan ibu itu dan orang-orang lain yang juga dilahirkan oleh ibu itu, baik secara langsung yaitu anaknya sendiri atau yang
dilahirkan oleh anak yang dilahirkannya itu. Dengan demikian, secara sederhana terbentuklah hubungan kekerabatan menurut garis ibu atau matrilineal.109
Pada tahap selanjutnya seseorang mencari hubungan pula dengan laki-laki yangmenyebabkan ibunya itu hamil dan melahirkan, bila dapat dipastikan secara hukum bahwa laki-laki yang menikahi ibunya itu yang menyebabkan ibunya hamil dan melahirkan, maka hubungan kerabat berlaku pula dengan laki-laki itu. Laki-laki itu selanjutnya disebut ayahnya. Bila hubungan keibuan berlaku secara alamiah maka hubungan keayahan berlaku secara hukum.
Sejatinya, seseorang laki-laki baru dapat dikatakan penyebab kehamilan dan melahirkannya seseorang ibu bila sperma si laki-laki bertemu dengan ovum si ibu atau yang dalam kitab fikih disebut‘uluq. Hasil pertemuan dua bibit itu menyebabkan pembuahan dan menghasilkan janin dalam rahim si ibu. Inilah penyebab hakiki hubungan kekerabatan antara seseorang anak dengan ayahnya. Hal tersebut tidak mungkin diketahui oleh siapa pun kecuali Allah Swt. Karena hukum harus didasarkan kepada sesuatu yang nyata dan dapat diukur serta dipersaksikan maka dicarilah sesuatu hal yang nyata, yang dapat dipersaksikan dan yang menimbulkan anggapan kuat bahwa sebab hakiki yang disebutkan di atas terdapat padanya.
Dalam hubungan kekerabatan tersebut di atas yang dapat dijadikan
nuzhinnah-nya adalah akad nikah yang sah, yang telah berlaku antara seseorang laki-laki dan ibu yang melahirkan anak tersebut. Selanjutnya, akad nikah tersebut yang
menjadi faktor penentu hubungan kekerabatan itu. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa hubungan kekerabatan berlaku antara seseorang anak dengan seseorang laki-laki sebagai ayahnya, bila anak tersebut lahir dari hasil atau akibat perkawinan yang berlaku antara si laki-laki dengan ibu yang melahirkannya. Hal ini sesuai pula dengan hadits Nabi dari Abu Hurairah menurut riwayat al-Bukhari dan Muslim yang bunyinya : “seseorang anak yang sah disebabkan oleh akad nikah".
2. Hubungan Perkawinan
Di samping hak kewarisan berlaku atas dasar hubungan kekerabatan, hak kewarisan juga berlaku atas dasar hubungan perkawinan dengan arti bahwa suami ahli waris bagi istrinya yang meninggal.
Bagian pertama dari ayat 12 Surah al-Nisa'(4) menyatakan hak kewarisan suami-istri. Dalam ayat itu digunakan kata: azwaj. Penggunaan kata azwaj yang secara leksikal berarti pasangan (suami-istri), menunjukkan dengan gamblang hubungan kewarisan antara suami dan istri. Bila hubungan kewarisan berlaku antara yang mempunyai hubungan kekerabatan karena adanya hubungan alamiah diantara keduanya, maka adanya hubungan kewarisan antara suami-istri disebabkan adanya hubungan hukum antara suami dan istri.
Berlakunya hubungan kewarisan antara suami dengan istri didasarkan ketentuan diantara keduanya telah berlangsung akad nikah yang sah. Tentang akad nikah yang sah ditetapkan dalamUndang-Undang No.1 tahun 1974 tentang Perkawinan pasal 2 ayat 1: perkawinan sah bila dilakukan menurut hukum masing-masing agamanya.
Ketentuan di atas berarti bahwa perkawinan orang-orang yang beragama Islam adalah sah bila menurut hukum perkawinan tersebut adalah sah. Pengertian sah menurut istilah Hukum Islam ialah sesuatu yang dilakukan sesuai dengan rukun dan syaratnya dan telah terhindar dari segala penghalangnya.Dengan demikian nikah yang sah adalah nikah yang telah dilaksanakan telah memenuhi rukun syarat pernikahan dan telah terlepas dari segala halangan pernikahan itu. Seperti contoh kasus tentang status hukum perkawinan Moerdiono & Marchica. Perkawinan/pernikahan mereka adalah nikah Siri, artinya tidak dicatat oleh Kantor Urusan Agama. Sehingga perkawinan tersebut tidak sah di mata hukum Negara, namun sah dalam Fikih Islam dan anak dari keduanya dinyatakan sebagai anak luar kawin selama belum diakui oleh Moerdiono.