• Tidak ada hasil yang ditemukan

Asas-Asas Hukum Muamalah Khusus

Muamalah khusus yang akan dibahas dalam modul ini adalah hubungan perdata.

Berikut adalah asas-asas hubungan perdata.

a. Asas Kebolehan atau Mubah

Hubungan perdata pada dasarnya boleh dilakukan, kecuali sudah ditentukan lain dalam Al-Qur’an dan sunah. Hal ini menunjukkan adanya kesempatan yang luas bagi seseorang untuk melakukan hubungan perdata sesuai dengan perkembangan zaman.

b. Asas Kemaslahatan Hidup

Seluruh hubungan perdata hukum asalnya adalah boleh selama memperhatikan ketentuan dalam hukum Islam serta mendatangkan kebaikan, bermanfaat bagi orang banyak, sekalipun hubungan tersebut tidak ada aturannya dalam Al-Qur’an dan sunah.

c. Asas Kebebasan dan Kesukarelaan

Kebebasan para pihak dalam melakukan hubungan keperdataan harus diperhatikan. Tidak boleh ada pihak yang terpaksa dalam melakukan hubungan keperdataan.

d. Asas Menolak Mudarat dan Mengambil Manfaat

Hubungan keperdataan harus menghindari adanya kerusakan dan harus mengutamakan meraih kebaikan dan kebermanfaatan.

e. Asas Kebajikan (Kebaikan)

Hubungan keperdataan yang dilakukan sudah seharusnya mendatangkan kebaikan, baik untuk para pihak, pihak ketiga, maupun masyarakat pada umumnya, sesuai dengan anjuran Islam.

f. Asas Kekeluargaan atau Asas Kebersamaan yang Sederajat

Hubungan muamalah khusus atau perdata harus didasarkan pada rasa hormat-menghormati, kasih-mengasihi, tolong-menolong, dan mencapai tujuan bersama.

g. Asas Adil dan Berimbang

Hubungan perdata tidak boleh mengandung unsur-unsur penipuan, penindasan, dan pengambilan kesempatan pada waktu pihak lain sedang kesempitan.

h. Asas Mendahulukan Kewajiban dari Hak

Hukum Islam mengajarkan orang baru bisa memperoleh haknya ketika ia sudah melaksanakan kewajiban. Penunaian kewajiban terlebih dahulu juga meminimalisasi adanya wanprestasi.

i. Asas Larangan Merugikan Diri Sendiri dan Orang Lain

Asas ini mengandung maksud bahwa seseorang dalam membuat hubungan keperdataan tidak boleh merugikan diri sendiri dan orang lain karena tidak dibenarkan dalam hukum Islam.

j. Asas Kemampuan Berbuat atau Bertindak

Hukum dasarnya setiap orang memiliki kemampuan untuk berbuat atau bertindak dalam hubungan muamalah atau perdata. Batasan seseorang dalam bertindak dalam hukum Islam adalah mukallaf, yaitu mereka yang mampu memikul hak dan kewajiban, sehat jasmani, serta sehat rohani. Apabila ada seseorang yang tidak tergolong mukallaf melakukan hubungan keperdataan, hubungan keperdataannya batal.

k. Asas Kebebasan Berusaha

Asas ini mengandung bahwa seseorang pada dasarnya bebas melakukan usaha dalam bentuk apa pun selama tidak bertentangan dengan syariat Islam dan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Asas ini juga mengandung arti setiap orang memiliki kesempatan untuk berusaha tanpa batasan apa pun, kecuali yang sudah ditentukan dalam hukum Islam

l. Asas Mendapatkan Hak karena Usaha dan Jasa

Seseorang bisa mendapatkan hak atas apa yang diusahakan atau dikerjakannya dengan cara yang sah dan halal. Hak yang mengandung unsur kejahatan, keji, dan kotor tidak dibenarkan oleh hukum Islam dan tidak ada perlindungannya.

m. Asas Perlindungan Hak

Asas ini dimaksudkan untuk memberikan perlindungan bagi setiap orang yang memiliki semua hak yang diperoleh dengan cara yang sah dan halal. Jika di kemudian hari pemilik hak dirugikan oleh pihak lain, ia dapat menuntut haknya ke pengadilan.

n. Asas Hak Milik Berfungsi Sosial

Pemanfaatan hak milik yang dimiliki seseorang dalam Islam harus diarahkan pula untuk kepentingan kesejahteraan sosial. Hal ini juga terkait dengan adanya kewajiban zakat bagi umat muslim yang memiliki kepemilikan benda-benda tertentu.

o. Asas yang Beriktikad Baik Harus Dilindungi

Asas ini berkaitan dengan asas lain bahwa seseorang menanggung risiko sesuai dengan perbuatannya sehingga apabila terdapat salah seorang yang tidak mengetahui adanya cacat tersembunyi dan mempunyai iktikad baik, kepentingannya wajib dilindungi dan memiliki hak untuk menuntut ganti rugi apabila ia dirugikan karena iktikad baiknya.

p. Asas Risiko Dibebankan pada Harta, Tidak pada Pekerja

Jika sebuah perusahaan mengalami kerugian, kerugian tersebut hanya ditanggung oleh pemilik perusahaan dan/atau penanam modal saja. Para pekerja tidak boleh dilibatkan dalam kerugian tersebut sehingga para pekerja tetap harus dipenuhi hak-haknya untuk mendapatkan upah.

q. Asas Mengatur dan Memberi Petunjuk

Pada umumnya, ketentuan-ketentuan dalam sebuah hukum hanya memberikan petunjuk kepada para pihak. Akan tetapi, para pihak diperbolehkan untuk memilih hendak menggunakan ketentuan apa selama ketentuan tersebut tidak bertentangan dengan hukum Islam.

r. Asas Tertulis atau Diucapkan di Depan Saksi

Asas ini mengandung makna bahwa perjanjian hendaknya dituangkan secara tertulis di hadapan para saksi-saksi, kecuali dalam keadaan tertentu, perjanjian dapat dilakukan secara lisan.

Untuk memperdalam pemahaman Anda mengenai materi di atas, kerjakanlah latihan berikut!

1) Terangkan mengapa hukum Islam dijadikan sebagai mata kuliah wajib bagi calon sarjana hukum sejak zaman Belanda hingga saat ini!

2) Jelaskan dan sebutkan tiga asas dalam hukum perkawinan Islam!

Petunjuk Jawaban Latihan

1) Untuk menjawab pertanyaan ini, Anda diperkenankan untuk membuat kriteria-kriteria alasan yang akan digunakan. Pada umumnya, kriteria-kriteria yang dimaksud terdiri atas alasan secara historis, demografi, yuridis, konstitusional, dan ilmiah.

Anda cukup mengemukakan secara ringkas dan apabila perlu, dapat diberikan contoh-contoh berikut.

a) Alasan historis, yakni melihat sejarah pendidikan hukum di Indonesia yang dimulai sejak zaman kolonial. Pada zaman itu, dikenal mata kuliah Mohammadansch recht yang kini dikenal dengan hukum Islam.

b) Alasan demografi, yakni fakta bahwa Indonesia merupakan negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia.

c) Alasan yuridis, yakni membedakan secara normatif dan formal yuridis.

Secara normatif, hal itu mengaitkan berlakunya hukum Islam sangat tergantung pada keimanan seorang muslim, sementara di ranah formal yuridis materi muatan hukum Islam sebagian dijadikan sebagai materi dalam peraturan perundang-undangan atau setidaknya berlakunya hukum Islam ditunjuk oleh peraturan perundang-undangan. Contohnya adalah berlakunya undang perkawinan, kompilasi hukum Islam, undang-undang wakaf, undang-undang-undang-undang zakat, dan undang-undang-undang-undang perbankan syariah.

d) Alasan konstitusional, yakni mengaitkan hukum Islam dengan Pasal 29 ayat (1) dan (2) UUD 1945 sehingga diperoleh hasil analisis bahwa pemerintah harus menjamin dapat dilaksanakannya hukum yang bersendikan agama dan pemerintah dilarang membuat suatu norma hukum yang bertentangan dengan nilai-nilai ketuhanan.

e) Alasan ilmiah, yakni hukum Islam memenuhi kriteria sebagai suatu hukum dan sekaligus dipelajari di berbagai universitas besar dunia dengan dibentuknya Islamic Legal Studies, antara lain di Harvard Law School, Oxford Law School, Melbourne Law School, dan sebagainya.

2) Anda perlu membaca uraian terkait asas-asas hukum perkawinan. (1) Asas kesukarelaan, yaitu kesukarelaan calon mempelai wanita, pria, dan persetujuan kedua orang tua dalam melangsungkan perkawinan. (2) Asas persetujuan kedua belah pihak, yaitu pernikahan dalam Islam tidak boleh berdasarkan keterpaksaan.

Persetujuan calon mempelai wanita harus ditanyakan secara jelas, baik melalui perkataan ataupun perilaku. (3) Kebebasan memilih, yaitu asas ketika calon mempelai wanita bebas memilih siapa yang akan menjadi calon mempelai prianya tanpa ada paksaan dari pihak mana pun.

Kegiatan Belajar 1 sudah penulis paparkan secara ringkas dan padat. Sebagai kristalisasi dari materi bahasan dalam kegiatan belajar ini, ada beberapa penekanan sebagai kesimpulan yang dapat penulis sampaikan.

Pertama, hukum Islam dapat diartikan sebagai seperangkat kaidah atau norma (body of rule) yang bersumber dari ajaran Islam sebagaimana tertuang dalam Al-Qur’an dan sunah serta kemudian diterapkan secara nyata oleh pemeluknya yang pelanggarannya diancam dengan sanksi, baik dunia maupun akhirat. Keseluruhan norma dimaksud dalam rangka mencapai suatu kedamaian, kesejahteraan, serta keselamatan dunia dan akhirat. Hukum Islam menjadi sesuatu yang wajib dipelajari dan dipahami oleh sarjana di bidang hukum karena berbagai alasan, seperti alasan historis, demografi, yuridis, konstitusional, dan ilmiah.

Kedua, kerangka dasar ajaran Islam terdiri atas akidah, syariah, dan fikih.

Ketiganya menjadi penting untuk dipelajari karena secara teoretis memang merupakan suatu keniscayaan sebagaimana ditunjukkan oleh berbagai teori, yakni teori receptio in complexu, teori receptie exit, teori receptio a contrario, dan teori eksistensi.

Ketiga, ciri-ciri hukum Islam pada prinsipnya sebagai hukum yang diciptakan oleh Tuhan, strukturnya berlapis, dan diliputi oleh ibadah dan muamalat yang apabila itu dilakukan menjadikan seseorang akan memperoleh keselamatan dunia dan akhirat.

Hal ini juga menjadi pembeda dengan hukum pada umumnya. Adapun ruang lingkup hukum Islam (dalam arti syariah muamalat), antara lain dibedakan menjadi (1) munakahat, (2) wirasah, (3) mu’amalat dalam arti khusus, (4) jinayat atau ‘ukubat, (5) al-ahkam as-sulthaniyah (khilafah), (6) siyar, dan (7) mukhasamat.

Asas-asas dalam hukum Islam dapat ditemukan dalam sumber-sumber hukum Islam. Tidak hanya itu, asas-asas dalam hukum Islam juga dibagi menjadi dua, yaitu asas-asas yang berlaku umum dan asas-asas yang berlaku khusus. Kedua, asas-asas umum terdiri atas asas keadilan, asas kepastian hukum, dan asas kemanfaatan. Ketiga, asas-asas hukum perkawinan terdiri atas asas kesukarelaan, asas persetujuan kedua belah pihak, kebebasan memilih, kemitraan suami-istri untuk selama-lamanya, dan monogami terbuka. Keempat, asas-asas hukum kewarisan terdiri atas bilateral/parental, ahli waris langsung dan ahli waris pengganti, ijbari, individual, keadilan berimbang, waris karena kematian, hubungan nasab atau hubungan perkawinan, egaliter, dan retroaktif terbatas. Kelima, asas-asas muamalah khusus terdiri atas asas kebolehan atau mubah, asas kemaslahatan hidup, asas kebebasan dan kesukarelaan, asas menolak

mudarat dan mengambil manfaat, asas kebajikan (kebaikan), asas kekeluargaan atau asas kebersamaan yang sederajat, asas adil dan berimbang, asas mendahulukan kewajiban dari hak, asas larangan merugikan diri sendiri dan orang lain, asas kemampuan berbuat atau bertindak, asas kebebasan berusaha, asas mendapatkan hak karena usaha dan jasa, asas perlindungan hak, asas hak milik berfungsi sosial, asas yang beriktikad baik harus dilindungi, asas risiko dibebankan pada harta dan tidak pada pekerja, asas mengatur dan memberi petunjuk, serta asas tertulis atau diucapkan di depan saksi.

Pilihlah satu jawaban yang paling tepat!

1) Alasan mengapa hukum Islam perlu diajarkan dalam perkuliahan di Fakultas Hukum antara lain adalah alasan yuridis, baik secara normatif maupun secara formal yuridis. Berikut ini merupakan contoh yang secara normatif hukum Islam berlaku di NKRI, kecuali ....

A. dilaksanakannya perintah sholat oleh para pemeluk Agama Islam

B. operasional bank syariah atau unit usaha syariah mendasarkan pada fatwa yang dikeluarkan oleh Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia (DSN MUI)

C. dilaksanakannya wakaf sebagai amalan sunah yang akan memberikan manfaat kepada wakif apabila wakif telah meninggal dunia

D. dilaksanakannya perintah menunaikan ibadah haji dan umrah bagi yang mampu/berkuasa

2) Berlakunya hukum Islam tidak digantungkan pada penerimaan (receptie) hukum adat, tetapi sebaliknya hukum adat yang harus diterima terlebih dahulu oleh hukum Islam manakala akan diberlakukan bagi seorang muslim. Ini merupakan esensi dari teori ....

A. recepti in complexu B. receptie

C. receptie exit

D. receptie a contrario

3) Kerangka dasar agama Islam yang memfokuskan perhatiannya pada arqanul iman, yaitu ....

A. akidah B. ibadah C. muamalah D. akhlak

4) Hukum Islam di tataran privat yang mengatur perihal perkawinan, perceraian, rujuk, dan pengasuhan anak menjadi fokus kajian dari fikih ….

A. munakahat B. faraidh C. siyar D. mukhasamat

5) Hukum Islam di tataran publik yang mengatur perihal perbuatan pidana dan ancaman sanksinya menjadi fokus kajian dari fikih ….

A. ahkam sulthaniyah B. jinayah

C. siyar D. mukhasamat

6) Asas-asas hukum Islam dapat ditemukan dalam ....

A. sumber-sumber hukum Islam B. Al-Qur’an saja

C. ijtihad dan kitab

D. fitrah pola pikir manusia

7) Tidak ada satu perbuatan yang dapat dihukum, kecuali berdasarkan ketentuan hukum atau peraturan perundang-undangan yang sudah berlaku dan ada untuk perbuatan tersebut. Penjelasan tersebut merupakan pengertian dari asas ....

A. egaliter

B. monogami terbuka C. kepastian hukum D. keadilan

8) Calon mempelai wanita atau calon mempelai pria yang tidak dimintakan persetujuannya untuk melangsungkan perkawinan, sedangkan ia tidak menghendaki adanya perkawinan tersebut dapat melakukan ....

A. perceraian

B. pencegahan/pembatalan perkawinan C. nusyuz

D. tidak ada langkah hukum yang bisa ia lakukan 9) Asas-asas dalam hukum kewarisan Islam adalah ....

A. persetujuan para pihak dan retroaktif terbatas B. keadilan dan kepastian hukum

C. individual dan kesukarelaan

D. keadilan berimbang dan retroaktif terbatas

10) Hubungan muamalah khusus atau perdata harus didasarkan pada rasa hormat-menghormati, kasih-mengasihi, tolong-menolong, dan mencapai tujuan bersama.

Asas muamalah khusus yang satu ini dinamakan dengan asas ....

A. kekeluargaan B. individual C. menolak mudarat D. asas kebebasan

Cocokkanlah jawaban Anda dengan Kunci Jawaban Tes Formatif 1 yang terdapat di bagian akhir modul ini. Hitunglah jawaban yang benar. Kemudian, gunakan rumus berikut untuk mengetahui tingkat penguasaan Anda terhadap materi Kegiatan Belajar 1.

Apabila mencapai tingkat penguasaan 80% atau lebih, Anda dapat meneruskan dengan Kegiatan Belajar 2. Bagus! Jika masih di bawah 80%, Anda harus mengulangi materi Kegiatan Belajar 1, terutama bagian yang belum dikuasai.

Dokumen terkait