• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hukum Mudah Dimanipulasi

Dalam dokumen ETIKA PROFESI DAN HUKUM KESEHATAN (Halaman 21-24)

Manipulasi hukum terbentang luas, karena hukum merupakan produk poliitik. Dalam pengambilan keputusan menggunakan mengutamakan angka dan jumlah, sehingga mudah menjadi jalan untuk memenangkan segala hal, proses inilah yang menghancurkan republik dengan system Voting. Kebiasaan tawar menawar seperti dagang sapi di Parlemen dilakukan, sehingga memunkinkan hal buruk terjadi dalam hukum melalui penyusupan. Banyak peraturan perundang-undangan yang dibuat oleh lembaga yang berwenang kita dengan berisikan agenda-agenda yang tersembunyi sehingga menimbulkan konflik semua unsur bangsa yang mengakibatkan kegaduhan diberbagai bidang. Banyak nya peraturan perundang-undangan yang dibatalkan oleh Mahkamah Konstitusi melalui Judicial Review dan Tumpukan Perda yang dibatalkan oleh Depdagri merupakan contoh hukum di buat berdasarkan Kepentingan yang berke-pentingan bukan untuk kebutuhan.

Keberadaan Moral dalam hukum sangat diperlukan hingga saat ini.

Kejadian tragedi kemanusian memerlukan solusi hukum yang bermoral.

Beberapa kejadian yang menghebohkan dunia salah satunya mengenai Putusan Mahkamah Agung Amerika yang mengintruksikan untuk mengakhiri diskriminasi terhadap kulit hitam, piagam Magna Charta adalah sikap moral, kedua tragedi moral tersebut merupakan absen nya moral dari hukum. Hukum yang bermoral adalah kebutuhan umat manusia. Tanpa hukum yang bermoral tidak terdapat masyarakat yang bisa berkembang dan bertahan dalam kedamian dan keadilan. Menurut Bernard L Tanya dalam bukunya Moralitas Hukum bahwa hukum yang bermoral adalah fondasi sekaligus perekat, yang mencegah masyarakat dari disintegrasi yaitu hancur berkeping-keping. Dan Bernard L Tanya menyatakan tidak

ETIKA PROFESI DAN HUKUM KESEHATAN |12

mungkin ada kehidupan bersama yang manusiawi tanpa hukum yang bermartabat demikin ungkapan beliau didalam bukunya Penegakan Hukum Dalam Terang Etika yang diterbitkan di Jogyakarta oleh Genta Publising Tahun 2011.

Semboyan yang di keluarkan hukum kodrat yang dipelopori oleh Wolfgang Friedman menyakatan “ Tiada Hukum Tanpa Moral “ masih menggema hingga saat ini, Aliran Legal Positivism yang memprovokasi hukum kedap moral, Tidak memberi rasa aman, pada manusia. Bayang -bayang penindasan, kebengisan, dan perlakuan diskriminatif selalu menghantui manusia disaat hukum dibiarkan tanpa moralitas. Seperti Kasus Setya Novanto sebagai Ketua DPR RI yang tekena kasus suap Simulator SiM padaa tahun 2017 lalu manggkir dari panggilan KPK bahkan ia mengajukan Praperadilan penetapannya sebagai tersangka, Selama proses Prapedilan berjalan Setya Novanto jatuh sakit sehingga di rawat di Rumah Sakit Premier Jatinegara Jakarta Timur dengan berbagai diagnosa penyakit mulai dari sakit ginjal, diabetes, jantung, sampai tumor tenggorokan. Sehingga hakimpun mengabulkan Praperadilan Setya Novanto dan melepas statusnya sebagai tersangka. Penetapan Setya Novanto kali kedua oleh KPK secara paksa kali ini ia juga mangkir, keesokan malamnya publik dihebohkan dengan kabar media terjadi tabrakan tragis yang mengakibatkan Setya Novanto cedera. Setya Novanto pun dilarikan ke Rumah Sakit sang Dokter yang menangani kasus tersebut juga terseret hukum. Kasus ini menerangkan bahwa tenaga kesehatan yaitu peran dokter dalam penegakan hukum kita.

Moralitas tidak hanya dibutuhkan aparat penegak hukum namun di butuhkan seluruh profesi yang ada di muka bumi ini untuk manjalankan Tugas dan fungsi sebagai palayan masyarakat salah satunya profesi kesehatan sebagai tenaga kesehatan. Pengertian Tenaga Kesehatan Tenaga menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 36 Tahun 2014 Tentang Tenaga Kesehatan adalah setiap orang yang mengabdikan diri dalam bidang kesehatan serta memiliki pengetahuan dan/atau ket-erampilan melalui pendidikan di bidang kesehatan yang untuk jenis tertentu memerlukan kewenangan untuk melakukan upaya kesehatan.

Termasuk didalamnya tenaga Medis. Tenaga medis menurut undang-Undang tersebut diatur dalam pasal 11 ayat 2 yang termasuk tenaga

13| ETIKA PROFESI DAN HUKUM KESEHATAN

kesehatan yang tergolong tenaga medis adalah terdiri atas dokter, dokter gigi, dokter spesialis, dan dokter gigi spesialis. Standar praktik kedokteran diatur tersendiri melalui Undang undang Republik Indonesia Nomor 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran.

Yang menjadi latar belakang di terbitkannya Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 36 Tahun 2014 Tentang Tenaga Kesehatan dengan mempertimbangkan beberapa ketentuan:

1. bahwa tenaga kesehatan memiliki peranan penting untuk meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan yang maksimal kepada masyarakat agar masyarakat mampu untuk meningkatkan kesadaran, kemauan, dan kemampuan hidup sehat sehingga akan terwujud derajat kesehatan yang setinggi-tingginya sebagai investasi bagi pembangunan sumber daya manusia yang produktif secara sosial dan ekonomi serta sebagai salah satu unsur kesejahteraan umum sebagaimana dimaksud dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;

2. bahwa kesehatan sebagai hak asasi manusia harus diwujudkan dalam bentuk pemberian berbagai pelayanan kesehatan kepada seluruh masyarakat melalui penyelenggaraan pembangunan kesehatan yang menyeluruh oleh Pemerintah, Pemerintah Daerah, dan masyarakat secara terarah, terpadu dan berkesinambungan, adil dan merata, serta aman, berkualitas, dan terjangkau oleh masyarakat;

3. bahwa penyelenggaraan upaya kesehatan harus dilakukan oleh tenaga kesehatan yang bertanggung jawab, yang memiliki etik dan moral yang tinggi, keahlian, dan kewenangan yang secara terus menerus harus ditingkatkan mutunya melalui pendidikan dan pelatihan berkelanjutan, sertifikasi, registrasi, perizinan, serta pembinaan, pengawasan, dan pemantauan agar penyelenggaraan upaya kesehatan memenuhi rasa keadilan dan perikemanusiaan serta sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi kesehatan;

4. bahwa untuk memenuhi hak dan kebutuhan kesehatan setiap individu dan masyarakat, untuk memeratakan pelayanan kese-hatan kepada seluruh masyarakat, dan untuk memberikan pelindungan serta kepastian hukum kepada tenaga kesehatan dan masyarakat penerima upaya pelayanan kesehatan, perlu penga-turan mengenai tenaga

ETIKA PROFESI DAN HUKUM KESEHATAN |14

kesehatan terkait dengan perencanaan kebutuhan, pengadaan, pendayagunaan, pembinaan, dan penga-wasan mutu tenaga kesehatan;

5. bahwa ketentuan mengenai tenaga kesehatan masih tersebar dalam berbagai peraturan perundang-undangan dan belum menampung kebutuhan hukum masyarakat sehingga perlu dibentuk undang-undang tersendiri yang mengatur tenaga kese-hatan secara komprehensif;

6. fbahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a, huruf b, huruf c, huruf d, dan huruf e, perlu membentuk Undang-Undang tentang Tenaga Kesehatan.

Berdasarkan uraian diatas bahwa setiap petugas medis dan para medis harus memiliki asas-asas etika medis untuk menjalankan tugas sehari-hari dalam melayani pasien antara lain:

Dalam dokumen ETIKA PROFESI DAN HUKUM KESEHATAN (Halaman 21-24)

Dokumen terkait