ETIKA PROFESI DAN HUKUM KESEHATAN
Tim Penulis Herniwati, S.H. M.H.
dr. Rospita Adelina Siregar, MH. Kes.
Dr. Anggraeni Endah Kusumaningrum, S.H. M. Hum.
Dr. Muntasir, S. Si, Apt. M.Si.
Lia Kurniasari, M. Kes.
Dr. Endang Wahyati Yustina, S.H., M.H.
Safaruddin Harefa, S.H., M.H.
Sulaiman, S.H., M.H.
Dr. Arman Anwar, S.H., M.H.
Ika Atikah, SH.I., M.H
Dr. Sabir Alwy, S.H., M.H & Afdhal, S.H., M.Kn.
ETIKA PROFESI DAN HUKUM KESEHATAN
Herniwati, Rospita Adelina Siregar, Anggraeni Endah Kusumaningrum, Muntasir, Lia Kurniasari, Endang Wahyati Yustina, Safaruddin Harefa,
Sulaiman, Arman Anwar, Ika Atikah, Sabir Alwy & Afdhal.
Desain Cover:
Ridwan, SH Tata Letak:
Aji Abdullatif.R Editor:
Elan Jaelani, SH., MH
ISBN:978-623-92777-8-9
Cetakan Pertama:
Maret 2020
Hak Cipta 2020
Hak Cipta Dilindungin Oleh Undang-undang Copyright © 2020
by Penerbit Widina Bhakti Persada Bandung All Right Reserved
Hak cipta dilindungi undang-undang Dilarang keras menerjemahkan, memfotokopi, atau
memperbanyak sebagian atau seluruh isi buku ini tanpa izin tertulis dari Penerbit.
PENERBIT:
WIDINA BHAKTI PERSADA BANDUNG
Komplek Puri Melia Asri Blok C3 No. 17 Desa Bojong Emas Kec. Solokan Jeruk Kabupaten Bandung, Provinsi Jawa Barat
Website: www.penerbitwidina.com Instagram: @penerbitwidina
iii
KATA PENGANTAR
Assalamualiakum. wr. wb.
Salam literasi,
Syukur Alhamdulilah kita panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan hidaya-Nya kepada kita. Karena izin-Nya pula buku yang berjudul “Etika Profesi dan Hukum Kesehatan” ini telah berhasil diterbitkan. Tulisan-tulisan yang ada dalam buku ini merupakan kumpulan buah pemikiran dari para dosen, peneliti dan praktisi yang memiliki kompetensi dan kapa-sitas pada bidangnya masing-maisng, terutama bidang Hukum dan kesehatan.
Selanjutnya perlu kami sampaikan bahwa, penerbitan buku kolaborasi ini merupakan bagian dari komitmen kami sekaligus bentuk kontribusi terhadap perkembangan dunia litarasi dan publikasi ilmiah di Indonesia. selain itu, buku kolaborasi ini juga menjadi bagian dari visi kami untuk berperan sebagai media diseminasi gagasan dan pemikiran para Dosen, Peneliti ataupun Praktisi diselulruh Indonesia.
Buku Etika profesi dan hukum kesehatan ini yang disusun secara terstruktur dan sistematis mengikuti pedoman pembelajaran mata- kuliah di perguruan tinggi, sehingga sangat cocok digunakan sebagai bahan referensi mahasiswa hukum atapun mahasiswa kesehatan yang ingin mengetahui secara mendalam terkait aspek hukum yang berkaitan dengan bidang kesaehatan. Buku ini diawali dengan pembahasan tentang konsep dasar moral, etika dan hukum yang merupakan materi fondasi yang akan memberikan pemahaman terkait keadilan, kebaikan dan norma yang hidup didalam masyarakat. Setelah menyajikan materi dasar, buku ini selanjutnya masuk kepada pemba-hasan yang lebih spesifik yaitu pembahasan tinjauan hukum terhadap pelaksanaan praktek profesi dan layanan kesehatan yang ditinjau dari sudut pandang hukum perdata, hukum pidana dan hukum admi-nistrasi.
Karena bidang kesehatan merupakan hak dasar manusia yang dijamin oleh konstitusi serta telah diyakini oleh masyarakat dunia sebagai hak paling fundamental, maka buku ini juga menyadjikan sudut pandang Hukum Hak asasi manusia Internasional dalam rangka melihat
iv
prespektif masyarakat dunia terhadap pemenuhan kesehatan sebagai hak paling mendasar bagi manusia. Selanjutya, dalam rangka menjamin hak dasar tersebut, buku ini diakhiri dengan pembahasan seputar pertanggung jawaban hukum di bidang kesehatan yang terdiri dari penjelasan hak, kewajiban, fungsi, dan tanggung jawab para stakeholders seperti dokter, tim medis, rumah sakit dan pasien dalam kontek pelaksanaan pelayanan kesehatan.
Selanjutnya dalam rangka menegakan hak dan kewajiban sebagaimana yang sudah termaktub dalam peraturan perundang- undangan kesehatan, buku ini diakhiri dengan pembasan terkait mekanisme dan jenis-jenis penyelesaian sengketa yang ditimbulkan akibat praktek pelayanan kesehatan.
Terkahir sebagai kalimat penutup, semoga buku yang telah di susun secara kolaborasi ini dapat bermanfaat dan dapat diterima oleh masyarakat luas, khususnya dapat menjadi pedoman atau rujukan bagi para mahasiswa hukum, mahasiswa kesehatan ataupun para praktisi yang sering terlibat dalam aktifitas layanan kesehatan,
Bandung, Maret 2020
Elan Jaelani
Scopus ID 57215717989
v
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ... iii
DAFTAR ISI ... v
BAB 1 KONSEP DASAR MORAL, ETIKA DAN HUKUM ... 1
A. Pendahuluan ... 1
B. Pengertian Moral ... 2
C. Pengertian Etika ... 4
D. Moral Dan Hukum ... 5
E. Rangkuman ... 15
BAB 2 ETIKA DAN ETIKA PROFESI ... 21
A. Pendahuluan ... 21
B. Kode Etik Kedokteran Indonesia ... 24
C. Tantangan Etika Kedokteran Di Indonesia ... 27
D. Kecenderungan Penyimpangan Etik ... 28
E. Pelanggaran Etik Murni Dan Etikolegal ... 29
F. Sanksi Etika ... 32
G. Rangkuman Materi ... 33
BAB 3 PENGANTAR ILMU HUKUM SERTA HUBUNGANNYA DENGAN PELAYANAKESEHATAN ... 40
A. Pengantar Ilmu Hukum ... 40
B. Hukum Pelayanan Kesehatan ... 42
C. Hukum Perikatan (Het Verbintenissen Recht) ... 44
D. Rangkuman Materi ... 49
BAB 4 SEJARAH, ASAS DAN PERMASALA-HAN MORAL ETIKA DAN HUKUM DALAM PELAYANAN KESEHATAN ... 55
A. Pendahuluan ... 55
B. Sejarah Pelayanan Kesehatan Di Indonesia ... 59
C. Asas Asas Dalam Pelayanan Kesehatan ... 61
D. Moral, Etika Dan Hukum Dalam Pelayanan Kesehatan ... 64
E. Rangkuman Materi ... 66
BAB 5 PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN KESEHATAN ... 71
vi
A. Pendahuluan ... 71
B. Rincian pembahasan materi hukum kesehatan ... 72
C. Sehat ... 76
D. Tenaga kesehatan ... 88
E. Rangkuman materi ... 90
BAB 6 HAK DASAR MANUSIA... 95
A. Pendahuluan ... 95
1. Definisi Hak ... 96
2. Hak Dasar Manusia Sebagai Hak Asasi Manusia... 96
3. Sejarah Perkembangan Hak Asasi Manusia ... 101
4. Deklarasi Hak Yang Disepakati Oleh Negara... 102
5. Hak Asasi Manusia Dalam Bidang Kesehatan ... 103
B. Rangkuman materi ... 105
BAB 7 PERBUATANMELANGGAR HUKUM DALAM PELAYANAN KESEHATAN ... 111
A. Pendahuluan ... 111
B. Pengertian perbuatan melanggar hokum ... 114
C. Perbuatan melanggar hukum Dalam perspektif hukum perdata ... 116
D. Perbuatan melanggar hukum Dalam perspektif hukum pidana ... 119
E. Perbuatan melanggar hukum Dalam perspektif hukum administrasi Negara ... 123
F. Perbuatan melanggar hukum Dalam ruang lingkup pelayanan kesehatan ... 125
G. Rangkuman materi ... 128
BAB 8 ASPEK HUKUM PIDANA DALAM KESEHATAN (CRIMINAL MALPRAKTIK) ... 133
A. Pendahuluan ... 133
B. Pengertian malpraktek dari Aspek hukum pidana ... 135
C. Unsur unsur malpraktek Dari aspek hukum pidana ... 138
D. Faktor yang menyebabkan Terjadinya malpraktek ... 139
vii
E. Tanggung jawab pidana malpraktek ... 140
F. Rangkuman materi ... 145
BAB 9 ASPEK HUKUM PERDATA DALAM KESEHATAN (CIVIL MALPRAKTIK) ... 151
A. Pendahuluan ... 151
B. Malpraktik hukum perdata (civil malpractik) ... 153
C. Hubungan hukum membentuk Pertanggung jawaban perdata bagi dokter ... 158
D. Tanggungjawab hukum pemberi pelayan kesehatan terhadap dugaan kasus malpraktik medis ... 159
E. Rangkuman materi ... 161
BAB 10 ASPEK HUKUM ADMINISTRASI DALAM KESEHATAN (ADMINISTRASI MALPRAKTIK)... 169
A. Pendahuluan ... 169
B. Istilah hukum administrasi ... 173
C. Deskripsi tentang hukum adminsitasi ... 173
D. Perbedaan ilmu hukum administarsi dengan ilmu adminsitarsi negara ... 179
E. Maladministrasi kesehatan... 182
F. Rangkuman ... 186
BAB 11 PERTANGGUNG JAWABAN HUKUM BIDANG KESEHATAN ... 193
A. Pendahuluan ... 193
B. Peran hukum sebagai wujud Tanggung jawab pelayanan kesehatan ... 197
C. Rangkuman materi ... 205
BAB 12 PENYELESAIAAN SENGKETA DALAM HUKUM KESEHATAN ... 211
A. Penyelesaian sengketa dalam hukum kesehatan ... 211
B. Peran hukum kesehatan dalam Penyelesaian sengketa ... 212
C. Sengketa pelayanan kesehatan ... 215
D. Penyelesaian sengketa di luar Pengadilan (non litigasi) ... 217 E. Penyelesaian sengketa melalui majelis
viii
kehormatan disiplin kedokteran indonesia (mkdki) ... 221 F. Penyelesaian sengketa hukum kesehatan
dalam pengadilan (litigasi) ... 222 G. Rangkuman materi ... 225
ix
BAB 1 KONSEP DASAR MORAL, ETIKA DAN HUKUM
Herniwati, SH., M.H.
Dosen Sekolah Tinggi Ilmu Hukum Soelthan M. Tsjafioeddin Singkawang
A. PENDAHULUAN
Manusia tumbuh dan berkembang melalui bertambahnya usia mela- kukan interaksi manusia tergolong mahluk sosial (zoon Politicon) salling membutuhkan satu sama lain. Didalam perjalanan kehidupan manusia mempunyai persamaan dan perbedaan antara manusia yang satu dengan yang lain. Dalam pergaulan manusia mempuyai rasa kebebasan akan tetapi bukan bearti manusia mempunyai sifat semaunya sendiri. Manusia mahluk ciptaan Tuhan yang paling sempurna karena dilengkapi dengan akal, perasaan dan kehendak akal adalah alat berpikir sebagai sumber ilmu dan
ETIKA PROFESI DAN HUKUM KESEHATAN |2
teknologi. Melalui akal manusia dapat menilai mana yang baik dan mana yang benar, dengan perasaan manusia dapat menilai mana yang indah dan mana yang jelek dan kehendak adalah alat untuk menyatakan pilihan sebagai sumber kebaikan.
Melalui kehendak manusia menilai mana yang baik dan mana yang buruk sebagai sumber nilai moral. Pendidikan etika anak dimulai dari keluarga dirumah dimulai dari ayah ibunya, kakak dan saudara lainnya dan serta dari lingkungan sekitarnya, Pendidikan ini dapat mempengaruhi perilaku seseorang. Pendidikan tersebutlah yang menjadi pedoman hubungan manusia dengan manusia lainnya dan juga hubungan manusia dengan masyarakat lainnya. Etika sosial bagian dari pengalaman pola tingkah laku manusia dengan sesama manusia dalam kehidupan sosial di masyarakat. Manusia sebagai mahluk budaya memiliki berbagai ragam kebutuhan. Kebutuhan-kebutuhan tersebut dapat dipenuhi apabila ada berhubungan dengan manusia lain. Hubungan tersebut dilandasi dengan ikatan moral pihak-pihak memenuhi yang mematuhinya. Berdasarkan memenuhi ikatan moral pihak-pihak memenuhi apa yang seharusnya dilakukan dan dapat memperoleh apa yang harusnya didapati. Dalam pergaulan antar manusia juga harus didasari dengan etika yang baik menjalankan aturan sesuai dengan norma yang berlaku dilingkungan sekitar. Karena nilai yang di anut oleh masyarakat itu menjadi tolak ukur kebenaran dan kebaikkan sebagai acuan untuk menata kehidupan pribadi dan menata hubungan antar manusia, serta manusia dengan alam sekitarnya.
B. PENGERTIAN MORAL
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia kata “ Moral “ bearti: Ajaran tentang baik buruk yang diterima umum mengenai perbuatan, sikap, kewajiban, ahlak, budi pekerti, susila; kondisi mental yang membuat orang tetap berani, bersemangat, bergairah berdisiplin, isi hati atau keadaan perasaan. Dengan kata lain moral merupakan alat penuntun, pedoman, sekaligus alat kontrol yang paling ampuh dalam mengarahkan kehidupan manusia, seorang manusia yang tidak memfungsikan dengan sempurna moral yang telah ada dalam diri manusia yang tepatnya berada dalam hati, maka manusia tersebut akan menjadi manusia yang selalu melakukan
3| ETIKA PROFESI DAN HUKUM KESEHATAN
perbuatan atau tindakan-tindakan yang sesat, dengan demikian manusia tersebut merendahkan martabatnya sendiri. Berdasarkan pengertian moral di atas K Bertens mengatakan bahwa kata yang hampir sama dengan “Etika”
adalah “moral”. Kata ini berasal dari bahasa latin Mos jamaknya Mores yang juga bearti adat kebiasaan. Yang membedakannya hanya pada bahasa asalnya, Etica bersal dari bahasa yunani sedangkan Moral berasal dari bahasa latin.
Merujuk dari arti kata etika tersebut maka arti kata moral sama arti kata etika yaitu nilai nilai dan norma-norma yang menjadi pegangan seseorang atau suatu kelompok dalam mengatur tingkah lakunya.
Mengenai tingkah laku seseorang ini berkaitan dengan kesadaran yang harus di jalankan oleh seseorang dalam memaknai dirinya sebagai manusia ciptaan Tuhan Disinilah manusia dapat membedakan mana yang haram mana yang halal, yang boleh dan tidak boleh dilakukan walaupun ini bersifat kejam. Salah satu contoh kewenangan seorang Dokter untuk mengeluarkan Surat keterangan sakit yang dapat dipergunakan oleh tersangka atau terdakwa dalam proses hukum baik sebagai tersangka atau terdakwa untuk menunda pemeriksaan tersebut. Disinilah Peran moral dalam proses hukum untuk menghambat atau menghalang–halangi dalam proses hukum tersebut. Moralitas seorang Dokter dipertaruhkan disini untuk memberikan keterangan yang sesungguhnya bahwa Klien atau Pasian tersebut benar- benar sakit atau tidak.
Moralitas terkadang menjadi tidak fleksibel dalam upaya menghadapi berbagai kasus yang menuntut keputusan yang benar atau tidak. Moral merupakan aturan dimana manusia harus bertindak baik secara lisan maupun tulisan secara bathin maupun lahiriah. Fungsi dari pada moral adalah sebagai pemberi pedoman pada tindakan manusia agar selalu dalam koridor kebenaran. Adapun nilai moral adalah kebaikan manusia sebagai manusia. Moral berkaitan dengan moralitas. Moralitas adalah Sopan Santun. Moralitas dapat berasal dari sumber tradisi atau adat, agama atau sebuah ideologi atau gabungan dari beberapa sumber. Faktor yang menentukan moralitas dan factor yang mempengaruhi moralitas terdapat tiga unsur menurut Sumaryono dalam buku yang ditulis oleh Abdulkadir Muhammad 1. Motivasi 2. Tujuan Akhir 3. Lingkungan per-buatan.
Perbuatan manusia dikatan baik apabila motivasi, tujuan akhir, dan
ETIKA PROFESI DAN HUKUM KESEHATAN |4
lingkungan juga baik. Apabila salah satu factor penentu tersebut tidak baik, maka keseluruhan perbuatan manusia menjadi tidak baik. Motivasi adalah hal yang diinginkan oleh pelaku perbuatan dengan maksud untuk mencapai sasaran yang hendak dituju, Jadi votivasi itu dikehendaki secara sadar, sehingga menentukan kadar moralitas perbuatan. Tujuan akhir (sasaran) adalah diwujudkannya perbuatan yang dikehendaki secara bebas. Moralitas perbuatannya ada dalam kehendak itu. Perbuatan itu menjadi objek perhatian kehendak, artinya memang dikehendaki oleh pelakunya.
C. PENGERTIAN ETIKA
Etika menurut penjelasan Bartens berasal dari bahasa Yunani kuno yaitu ethos, sedangkan dalam bentuk tunggal yang berarti adat kebiasaan, adat istiadat, akhlak yang baik. Bentuk jamak dari ethos adalah to ether artinya adat kebiasaan. Secara etimologi, ada dua pendapat mengenai asal- usul kata etika menurut Ayi Sofyan yakni; pertama, etika berasal dari bahasa Inggris, yang disebut dengan ethic (singular) yang berarti suatu sistem, prinsip moral, aturan atau cara berperilaku. Akan tetapi, terkadang ethics (dengan tambahan huruf s) dapat berarti singular. Jika ini yang dimaksud maka ethics berarti suatu cabang filsafat yang memberikan batasan prinsip-prinsip moral. Jika ethics dengan maksud plural (jamak) berarti prinsip-prinsip moral yang dipengaruhi oleh perilaku pribadi. Etika berasal dari bahasa Yunani, yang berarti ethikos yang mengandung arti penggunaan, karakter, kebiasaan, kecenderungan, dan sikap yang mengandung analisis konsep-konsep seperti harus, mesti benar salah, mengandung pencarian ke dalam watak moralitas atau tindakan-tindakan moral, serta mengandung pencarian kehidupan yang baik secara moral.
Sedangkan dalam bahasa Yunani kuno, etika berarti ethos, yang apabila dalam bentuk tunggal mempunyai arti tempat tinggal yang biasa, padang rumput, kandang, adat akhlak, watak perasaan, sikap, cara berpikir. Dalam bentuk jamak artinya adalah adat kebiasaan. Jadi, jika kita membatasi diri pada asal-usul kata ini, maka “etika” berarti ilmu tentang apa yang biasa dilakukan atau ilmu tentang adat kebiasaan. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia etika dirumuskan dalam:
5| ETIKA PROFESI DAN HUKUM KESEHATAN
1. Ilmu tentang apa yang baik dan yang buruk dan tentang hak kewajiban moral (akhlak)
2. Kumpulan asas atau nilai yang berkenaan dengan akhlak
3. Nilai mengenai yang benar atau salah yang dianut suatu golongan atau masyarakat.
Etika adalah masalah sifat pribadi yang meliputi apa yang kita sebut
“menjadi orang baik”, tetapi juga merupakan masalah sifat keseluruhan segenap masyarakat yang tepatnya disebut "ethos"nya. Jadi etika adalah bagian dan pengertian dari ethos, usaha untuk mengerti tata aturan sosial yang menentukan dan membatasi tingkah laku kita, khususnya tata aturan yang fundamental seperti larangan membunuh dan mencuri dan perintah bahwa orang harus "menghormati orang tuanya" dan menghormati hak- hak orang lain yang kita sebut moralitas.
D. MORAL DAN HUKUM
Hukum merupakan produk kehendak manusia, teori mengenai manusia berasal dari keberadaan manusia itu sendiri secara kodratnya menginginkan kebebasan bertindak dan berorientasi hidup, sehingga dengan kebebasan membuat manusia kadangkala menghalalkan segala cara untuk mendapatkan apa yang ia ingginkan, bahkan saling mencederai martabat sesama manusia demi apa yang ia inginkan. Dengan demikian diperlukannya hukum yang mampu membawa manusia kembali pada peradapannya menuju kehidupan yang harmoni diantara kebebasan dan keinginan natural kedihupannya. Diera digital modern seperti saat ini dimana manusia telah berkembang dalam ilmu dan teknologi maka terjadi kemerosotan nilai dengn kembalinya keera primitive saling menguasai dan membinasakan sesama. Hal ini sedikit membuat krisis moralitas dalam dunia hukum kita terutama peran dan fungsi sebagai aparat penegak hukum, dan para pengambil kebijakan, orang-orang ini seharusnya sebagai role model malah justru berakrobat, mengakali proses hukum, untuk kepentingan politik atau kelompoknya. Disatu sisi manusia mengklaim dirinya adalah mahluk paling bermoral yang mengemban tugas untuk membangun negerinya, disisi lain ketika berbicara keinginan pribadi mahluk yang namanya manusia ini mengikis sendiri nilai nilai morallitas untuk
ETIKA PROFESI DAN HUKUM KESEHATAN |6
meraihnya. Disinilah moralitas dipertanyakan terutama dalam moralitas berhukum.
Kejadian terkini ditanah air berupa rentetan kasus Operasi Tangkap Tangan (OTT) yang dilakukan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK ) kepada para penegak hukum dan para pejabat daerah : salah satu nya kasus Bupati Kabupaten Bengkayang, Hakim Tipikor yang terkena suap, Jual beli jabatan yang dilakukan oleh seorang Mentri, Terpidana koruptor menyuap Kepala Lembaga Pemasyarakatan bahkan ratusan kasus lain yang melibatkan aparat penegak hukum dan Pejabat Publik negeri ini. Ini menjadi bukti betapa setriusnya persoalan ketika moral absen dalam hukum.
Korupsi dan Suap menyuap dalam dunia hukum bukan lagi masalah every man’s need melainkan every man’s greed sebagaimana ungkapan Mahatma Gandhi karena lumpuhnya pengekangan diri karena absennya moralitas. Hukum memerlukan Moralitas sebagaimana yang di ungkapkan Bernart L.Tanya dalam bukunya Moralitas Hukum. Hukum dapat melakukan tugasnya apabila dapat berefleksi secara proporsional bagaimana hukum seharusnyabersifat dan bertugas apabila dilandasi dengan moral.
Beberapa teori tentang hukum seperti yang diaungkapkan para pakar Hukum dibawah ini:
1. Immanuel Kant:
Hukum adalah semua syarat dimana seseorang mempunyai kehendak bebas, sehingga bisa menyesuaikan diri dengan kehendak bebas orang lain dan menaati peraturan hukum mengenai kemerdekaan.
2. Mr. E.M. Meyers:
Hukum adalah aturan yang mengandung pertimbangan kesusilaan.
Hukum ditujukan kepada perilaku manusia dalam masyarakat yang menjadi pedoman bagi para penguasa Negara dalam menjalankan tugas.
3. Bambang Sunggono:
Hukum adalah sebagai subordinasi atau produk dari kepentingan politik.
7| ETIKA PROFESI DAN HUKUM KESEHATAN
4. Leon Duguit:
Hukum adalah seperangkat aturan tingkah laku anggota masyarakat dimana aturan tersebut harus ditaati oleh masyarakat sebagai jaminan dari kepentingan bersama. Apabila dilanggar maka akan mendatangkan reaksi bersama terhadap pelanggar hukum.
5. Prof. Dr. Mochtar Kusumaatmadja:
Pengertian Hukum adalah keseluruhan kaidah serta semua asas yang mengatur pergaulan hidup dalam masyarakat dan bertujuan untuk memelihara ketertiban serta meliputi berbagai lembaga dan proses guna mewujudkan berlakunya kaidah sebagai suatu kenyataan dalam masyarakat.
6. Soetandyo Wigjosoebroto:
Menyatakan bahwa tidak ada konsep tunggal tentang apa itu hukum.
Karena sebenarnya hukum terdiri dari 3 konsep, yaitu:
a. Hukum sebagai asas moralitas.
b. Hukum sebagai kaidah positif yang berlaku pada waktu dan tempat tertentu.
c. Hukum sebagai institusi yang riil dan fungsional dalam hidup bermasyarakat.
7. Satjipto Raharjo:
Hukum adalah karya manusia berupa norma-norma yang berisi petunjuk tingkah laku. Hukum merupakan cerminan dari kehendak manusia mengenai bagaimana seharusnya masyakat dibina dan kemana masyarakat harus diarahkan. Pertama hukum harus rekaman dari ide yang dipilih oleh masyarakat tempat hukum dibuat, ide tersebut berupa ide tentang keadilan.
Dari beberapa teori hukum diatas merupakan pengertian yang menyesatkan kerena dimulai dari konsep yang kurang tepat mengenai hakikat asasi manusia dan hukum yang seakanakan hampa nilai. Manusia dianggap kumunitas materi seperti kadal yang berkaki dua yang seolah-olah hanya tunduk pada Naluri atau insting sehingga di biarkan dalam logika
ETIKA PROFESI DAN HUKUM KESEHATAN |8
hukum rimba dengan siapa yang kuat dialah sebagai raja rimbanya. Jika harus ditertibkan agar yang lemah tidak binasa, maka cukup dengan aturan yang sekeras mungkin agar amnusia takut dan taat atau setidaknya penguasa membuat aturan yang mengamankan keselamatan masing- masing Individu supaya tidak saling memangsa dalam perang semua versus semua. Ada Juga manusia yang mengandalkan kecerdikan dalam menghadapi “Si mahluk liar,” yang namanya manusia menurut Machiavelli dalam bukunya berjudul Il Principe ( Sang Raja ) dengan cara menempuh mengelabui, maka si “Si mahluk liar” itu dapat di jinakkan dan dikuasai.
Penguasa boleh memilih berbagai cara untuk menguasai “si Liar” dapat kendalikan dan dikuasai misalnya dengan kekerasan, pembunuhan, pengkhianatan, penipuan. Dipagi hari bepenampilan sebagai domba, disiang hari berpenampilan sebagai harimau, hal ini sah-sah saja. Untuk membuat aturan demi aturan itu sendiri maka aturan itulah sebagai ukuran segala sesuatu: menjadi tertib, legal, pasti, dan terkontrol. Manusia sebagai mahluk yang liar tadi harus tunduk terhadap aturan yang ada tanpa syarat.
Ia sebagai robot yang didepan aturan tanpa perlu mempertanyakan motif aturan itu dibuat, tanpa perlu mempertanyakan nilai-nilai aturannya apalagi kewajaran aturan tersebut, cukup melakukan saja apa yang diperintahkan, hal inilah yang dilakukan para kaum legalis klasik.
Naturalisme dalam pemikiran diatas menimbulkan hal negative sehingga telah menghilangkan nilai paling substantive dari manusi dan hukum, yaitu nilai-nilai yang di ungkapkan oleh Theodore M.Steeman dalam Disertasinya di Harvard University tahun 1973 dengan judul “Religious Pluralism And National Integration”. Dengan menurunkan derajat manusia aling rendah melalui seakanakan hanya seekor Homo, bukan Homo sapiens.
Seolah-olah hanya Binatang atau animal, bukan sebagai mahluk bermoral, hanya materi bukan logos. Dengan demikian, hukum yang sejatinya merupakan tatanan khas manusia yang sarat nilai hal ini merupakan cara pandang Socrates pada jaman Yunani yang selalu mengaitkan masalah negara dan hukum dengan aspek moral, yaitu keadilan. Dengan diturunkan derajat manusia dengan melakukan perintah-perintah paksa hampa nilai.
Hukum kehilangan nilainya sebagai pedoman tentang yang baik, benar dan pantas yang di ungkapkan Max Weber dalam bukunya The Theory of social and economic organization.
9| ETIKA PROFESI DAN HUKUM KESEHATAN
Ajaran hukum Kodrat ( Natural law) yang mengunggulkan supremasi moral,secara akal sehat kita sulit menerima secara teori tentang kehampaan nilai dalam hukum. Hati kita begitu terusik ketika aparat penegak hukum dan para elite politik menenggelamkan diri dalam kubangan mafia hukum. Apa sebenarnya yang terjadi ? terjadilah penci- deraan nilai-nilai, terjadinya pengkhianatan norma-norma moral tugas.
Sehingga terjadi Moral manusia dan juga moral hukum yang terinjak-injak.
Hukum adalah alat manusia , sebagai alat hukum bukan merupakan tujuan pada dirinya sendiri. Hukum melayani manusia sebagai manusia. Hukum melayani manusia yang punya Nurani dan Martabat. Hukum tidak harus berubah menjadi etika, namu orang masih mengharapkan sesuatu yang bernilai dari hukum. Hukum tidak harus menjadi agama namun orang masih berharap sesuatu yang mulia dari hukum. Walaupun hukum tidak harus berubah menjadi ideologi namun orang masih berharap sesuatu yang ideal dari hukum. Dengan demikian itulah yang menjadi jiwa hukum ( Enima Legias) dari suatu tatanan manusia. Minimal hukum dalam konteks sebagai kaidah manusia tidak melangkahi kewajaran akal sehat. Tidak membolak balikan norma-norma moral. Tanpa menegasi prinsip-prinsip keadapan.
Tidak harus kembali ke ajaran Socrates atau Plato, idealisme nilai-nilai dalam hukum masih merupakan sesuatu yang fundamental.
Ajaran Kant menekankan pentingnya martabat manusia yang tidak dapat ditawar-tawar yang merupakan induknya teori Kelsen. Ia mengungkapkan bahwa ada dua norma yang mendasari prinsip ini: (1) Tiap manusia diperlakukan sesuai martabatnya, ia harus diperlakukan dalam segala hal sebagai subyek, bukan obyek (2) Orang harus bertindak dengan dalil bahwa apa yang menjadi dasar tindakannya memang merupakan prinsip semesta. Berdasarakan teori kan tersebuat bahwa yang menjadi prinsip teorinya adalah keharusan memperlakukan manusai sebagai subjek dan tidak boleh menjadi objek. Gustav Ranbruch meng-atakan memantrikan keadilan sebagai mahkota hukum. Keadilan adalah cita.
Hukum merupakan rangkaian nilai keadilan, kepastian dan keman-faatan dari sebuah tata nilai kolektif. Luypen juga menekankan pentingnya pentingnya keadilan. Keadilan menurut pandangannya adalah sikap memperhatikan tugas dan kewajiban untuk mempertahankan dan mengembangkan perikemanusian. Keindahan hukum sebagai tata nilai
ETIKA PROFESI DAN HUKUM KESEHATAN |10
adalah pada perjuangan untuk tetap melestarikan perikemanusian yang menegaskan bahwa hukum diperuntukan bagi manusia sebagai mahluk yang luhur mulia, bukan semata-mata seonggok materi. Dari kedua teori para ahli diatas Gustav Ranbruch dan Luypen lebih menekankan pentingnya keadialan. Jadi hukum itu sebagai alat, namun alat yang bebas nilai. Hukum sebagai alat manusia yang sarat akan nilai-nilai sebab hukum melayani manusia yang sarat nilai-nilai.
Hukum merupakan alat manusia yang sarat nilai, maka dengan kata lain bahwa hukum adalah the art of value. Sebauah seni mempertahankan nilai- nilai dan atau prinsip-prinsip. Dengan 4 alasan bahwa hukum dikatakan the art of value Karena:
1. Hukum adalah kaidah
Hukum merupakan dari pedoman yang mempunyai nilai dan mengandung nilai, hukum sebagai kaidah lebih dari hanya sekedar aturan namun secara pragmatis yang fungsinya untuk mengawasi dan mengendalikan. Hukum mempunyai sifat normative dalam wujudnya sebab melibatkan juga rasionalitas nilai nilai yang di ungkapan oleh Max weber.
Jadi hukum tidak hanya mengandung aturan-aturan saja dan bagaimana mepertahankan hukum namun lebih dari itu Aturan hukum harus dapat dibenarkan melalui akal sehat dengan apakah hukum itu layak atau tidak, baik benar hukum bernilai. Dengan konteks hukum adalah kaidah dengan menampilkan norma yang benar baik dan bermanfaat sehingga dalam penanganan hukumpun diperlukan keluhuran kaidah. Hukum harus ditangani secara bermoral.
2. Hukum Mengatur Manusia dan Nasib Manusia
Manusia adalah mahluk paling mulia yang di ciptakan oleh Tuhan yang Maha Esa sehingga manusia hidup dengan peradapan yang tinggi, hal itu yang membedakan manusia dengan mahluk-mahluk lain ciptaanNya.
Sehingga manusia tidak boleh diperlakukan secara semena-mena, maka hukumlah yang berfungsi disini sebagai alat untuk mengatur manusia dituntut memiliki idealisme tentang keluruhan nilai dan martabat manusia.
Hukum harus mempunyai idealisme yang searah dengan nilai-nilai kemanusian dan martabat manusia yang merupakan fundamental hukum.
11| ETIKA PROFESI DAN HUKUM KESEHATAN
3. Hukum Merupakan Intrumen Keadilan
Hukum Sebagai alat untuk mencapai keadilan, yang harus di utamakan oleh hukum adalah berpegang pada norma-norma keadilan tanpa idealisme norma-norma keadilan hukum akan tidak peka sehingga dengan mudah mengabaikan keadilan, persamaan, kejujuran dan lain-lain. Norma keadilan dalam hokum adalah unsur yang paling pokok tanpa itu maka akan hadirlah ketidakadilan yang paling nyata.
4. Hukum Mudah Dimanipulasi
Manipulasi hukum terbentang luas, karena hukum merupakan produk poliitik. Dalam pengambilan keputusan menggunakan mengutamakan angka dan jumlah, sehingga mudah menjadi jalan untuk memenangkan segala hal, proses inilah yang menghancurkan republik dengan system Voting. Kebiasaan tawar menawar seperti dagang sapi di Parlemen dilakukan, sehingga memunkinkan hal buruk terjadi dalam hukum melalui penyusupan. Banyak peraturan perundang-undangan yang dibuat oleh lembaga yang berwenang kita dengan berisikan agenda-agenda yang tersembunyi sehingga menimbulkan konflik semua unsur bangsa yang mengakibatkan kegaduhan diberbagai bidang. Banyak nya peraturan perundang-undangan yang dibatalkan oleh Mahkamah Konstitusi melalui Judicial Review dan Tumpukan Perda yang dibatalkan oleh Depdagri merupakan contoh hukum di buat berdasarkan Kepentingan yang berke- pentingan bukan untuk kebutuhan.
Keberadaan Moral dalam hukum sangat diperlukan hingga saat ini.
Kejadian tragedi kemanusian memerlukan solusi hukum yang bermoral.
Beberapa kejadian yang menghebohkan dunia salah satunya mengenai Putusan Mahkamah Agung Amerika yang mengintruksikan untuk mengakhiri diskriminasi terhadap kulit hitam, piagam Magna Charta adalah sikap moral, kedua tragedi moral tersebut merupakan absen nya moral dari hukum. Hukum yang bermoral adalah kebutuhan umat manusia. Tanpa hukum yang bermoral tidak terdapat masyarakat yang bisa berkembang dan bertahan dalam kedamian dan keadilan. Menurut Bernard L Tanya dalam bukunya Moralitas Hukum bahwa hukum yang bermoral adalah fondasi sekaligus perekat, yang mencegah masyarakat dari disintegrasi yaitu hancur berkeping-keping. Dan Bernard L Tanya menyatakan tidak
ETIKA PROFESI DAN HUKUM KESEHATAN |12
mungkin ada kehidupan bersama yang manusiawi tanpa hukum yang bermartabat demikin ungkapan beliau didalam bukunya Penegakan Hukum Dalam Terang Etika yang diterbitkan di Jogyakarta oleh Genta Publising Tahun 2011.
Semboyan yang di keluarkan hukum kodrat yang dipelopori oleh Wolfgang Friedman menyakatan “ Tiada Hukum Tanpa Moral “ masih menggema hingga saat ini, Aliran Legal Positivism yang memprovokasi hukum kedap moral, Tidak memberi rasa aman, pada manusia. Bayang - bayang penindasan, kebengisan, dan perlakuan diskriminatif selalu menghantui manusia disaat hukum dibiarkan tanpa moralitas. Seperti Kasus Setya Novanto sebagai Ketua DPR RI yang tekena kasus suap Simulator SiM padaa tahun 2017 lalu manggkir dari panggilan KPK bahkan ia mengajukan Praperadilan penetapannya sebagai tersangka, Selama proses Prapedilan berjalan Setya Novanto jatuh sakit sehingga di rawat di Rumah Sakit Premier Jatinegara Jakarta Timur dengan berbagai diagnosa penyakit mulai dari sakit ginjal, diabetes, jantung, sampai tumor tenggorokan. Sehingga hakimpun mengabulkan Praperadilan Setya Novanto dan melepas statusnya sebagai tersangka. Penetapan Setya Novanto kali kedua oleh KPK secara paksa kali ini ia juga mangkir, keesokan malamnya publik dihebohkan dengan kabar media terjadi tabrakan tragis yang mengakibatkan Setya Novanto cedera. Setya Novanto pun dilarikan ke Rumah Sakit sang Dokter yang menangani kasus tersebut juga terseret hukum. Kasus ini menerangkan bahwa tenaga kesehatan yaitu peran dokter dalam penegakan hukum kita.
Moralitas tidak hanya dibutuhkan aparat penegak hukum namun di butuhkan seluruh profesi yang ada di muka bumi ini untuk manjalankan Tugas dan fungsi sebagai palayan masyarakat salah satunya profesi kesehatan sebagai tenaga kesehatan. Pengertian Tenaga Kesehatan Tenaga menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 36 Tahun 2014 Tentang Tenaga Kesehatan adalah setiap orang yang mengabdikan diri dalam bidang kesehatan serta memiliki pengetahuan dan/atau ket- erampilan melalui pendidikan di bidang kesehatan yang untuk jenis tertentu memerlukan kewenangan untuk melakukan upaya kesehatan.
Termasuk didalamnya tenaga Medis. Tenaga medis menurut undang- Undang tersebut diatur dalam pasal 11 ayat 2 yang termasuk tenaga
13| ETIKA PROFESI DAN HUKUM KESEHATAN
kesehatan yang tergolong tenaga medis adalah terdiri atas dokter, dokter gigi, dokter spesialis, dan dokter gigi spesialis. Standar praktik kedokteran diatur tersendiri melalui Undang undang Republik Indonesia Nomor 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran.
Yang menjadi latar belakang di terbitkannya Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 36 Tahun 2014 Tentang Tenaga Kesehatan dengan mempertimbangkan beberapa ketentuan:
1. bahwa tenaga kesehatan memiliki peranan penting untuk meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan yang maksimal kepada masyarakat agar masyarakat mampu untuk meningkatkan kesadaran, kemauan, dan kemampuan hidup sehat sehingga akan terwujud derajat kesehatan yang setinggi-tingginya sebagai investasi bagi pembangunan sumber daya manusia yang produktif secara sosial dan ekonomi serta sebagai salah satu unsur kesejahteraan umum sebagaimana dimaksud dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;
2. bahwa kesehatan sebagai hak asasi manusia harus diwujudkan dalam bentuk pemberian berbagai pelayanan kesehatan kepada seluruh masyarakat melalui penyelenggaraan pembangunan kesehatan yang menyeluruh oleh Pemerintah, Pemerintah Daerah, dan masyarakat secara terarah, terpadu dan berkesinambungan, adil dan merata, serta aman, berkualitas, dan terjangkau oleh masyarakat;
3. bahwa penyelenggaraan upaya kesehatan harus dilakukan oleh tenaga kesehatan yang bertanggung jawab, yang memiliki etik dan moral yang tinggi, keahlian, dan kewenangan yang secara terus menerus harus ditingkatkan mutunya melalui pendidikan dan pelatihan berkelanjutan, sertifikasi, registrasi, perizinan, serta pembinaan, pengawasan, dan pemantauan agar penyelenggaraan upaya kesehatan memenuhi rasa keadilan dan perikemanusiaan serta sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi kesehatan;
4. bahwa untuk memenuhi hak dan kebutuhan kesehatan setiap individu dan masyarakat, untuk memeratakan pelayanan kese-hatan kepada seluruh masyarakat, dan untuk memberikan pelindungan serta kepastian hukum kepada tenaga kesehatan dan masyarakat penerima upaya pelayanan kesehatan, perlu penga-turan mengenai tenaga
ETIKA PROFESI DAN HUKUM KESEHATAN |14
kesehatan terkait dengan perencanaan kebutuhan, pengadaan, pendayagunaan, pembinaan, dan penga-wasan mutu tenaga kesehatan;
5. bahwa ketentuan mengenai tenaga kesehatan masih tersebar dalam berbagai peraturan perundang-undangan dan belum menampung kebutuhan hukum masyarakat sehingga perlu dibentuk undang-undang tersendiri yang mengatur tenaga kese-hatan secara komprehensif;
6. fbahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a, huruf b, huruf c, huruf d, dan huruf e, perlu membentuk Undang- Undang tentang Tenaga Kesehatan.
Berdasarkan uraian diatas bahwa setiap petugas medis dan para medis harus memiliki asas-asas etika medis untuk menjalankan tugas sehari-hari dalam melayani pasien antara lain:
1. Asas Menghormati Otonomi Pasien.
Otonomi secara umum adalah hak untuk memutuskan sendiri dalam hal-hal yang menyangkut diri sendiri. Hak otonomi pasien adalah hak pasien untuk mengambil keputusan dan menentukan sendiri tentang kesehatan, kehidupan, dan malahan secara ekstrim tentang kemati-annya.
2. Asas Keadilan (Justice)
Keadilan adalah salah satu pilar utama dalam kehidupan demokrasi.
Asas keadilan lahir dari hak asasi manusia; setiap orang berhak untuk mendapat pelayanan kesehatan yang adil, karena kesehatan adalah hak yang sama bagi setiap warga negara. Hak ini dijamin dalam amendemen UUD tahun 1945.
3. Asas Berkata Benar (Truth Telling, Veracity)
Salah satu ciri hubungan tenaga kesehatan/paramedik dengan pasien merupakan hubungan kepercayaan. Tenaga kesehatan harus selalu berkata benar tentang keadaan pasiennya begitu juga pasien salah satu hak pasien adalah memberikan informasi tentang keadaaan dirinya dengan sebenar- benarnya. Jangan sampai membuat keterangan yang bukan sesungguhnya kondisi pasien demi kepentingan hukum.
15| ETIKA PROFESI DAN HUKUM KESEHATAN
E. RANGKUMAN
Tantangan kita dewasa ini bagaimana harus menegakkan nilai nilai moral dan etika dalam kehidupan sehari-hari. Malalui memperhatikan pembentukan kebiasaan-kebiasan yang meangartikan nilai-nilai baik-buruk kedalam tingkah laku social. Bentuk kebiasan-kebiasaan itu dapat dilakukan melalui 3 cara:
1. Keteladanan , fungsi keteladanan ini menghadirkan publik figure yang dijadikan sebagai Role model dalam membentuk kebiasaan-kebiasan, harus menjadi contoh terhadap yang berada diba-wahnya. Seperti seorang pemimpin harus benar-benar berfungsi sebagai Representatif Person sehingga orang-orang yang dipimpinya sungkan dan canggung melakukan penyimpangan. Bawahanya akan malu jika melakukan kesalahan jika sang pemi-mpin hidup lurus dan bersih.
2. Melalui Mekanisme Reward Dan punishment yang dijalankan dengan berulang-ulang dan konsisten. Kladen mengatakan kebiasan moral akan terbentuk apabila kepercayaan publik bahwa usaha melakukan perbuatan yang benar dan adil merupakan tindakan yang mendapat imbalan social dan politik yang tinggi, sedangkan menyembunyikan atau turut dalam kejahatan akan mendapat hukuman dan sanksi yang berat.
3. Pembentukan Moral Habit melalui keberanian moral pemimpin atau institusi untuk bertanggung jawab atas perilaku anggota atau bawahannya. Dalam beberapa kasus setiap terjadi pelanggaran yang dilukan oleh bawahan maka jawabannya standar yakni perbuatan oknum. Penyelewengan yang dilakukan oleh bawahan dilokalisir sebagai penyelewengan orang perorangan dan tidak dapat dikaitkan dengan pimpinan atau institusi.
4. Ajaran moral memuat pandangan tentang nilai dan norma moral yang terdapat di antara sekelompok manusia. Norma ada-lah aturan yang berisi rambu-rambu yang menggambarkan uku-ran tertentu yang di dalamnya terkandung nilai benar/salah secara umum kita dapat membedakan dua macam norma, yaitu norma khusus dan norma umum. Terdapat empat (4) kaedah atau norma dalam pergaulan hidup, yaitu norma agama, kesusilaan, keso-panan dan hukum. Dalam pelaksanaannya, terbagi lagi menjadi normanorma umum (non
ETIKA PROFESI DAN HUKUM KESEHATAN |16
hukum) dan norma hukum. Pengertian etika adalah nilai-nilai dan norma-norma moral yang menjadi pegangan bagi seseorang atau sekelompok dalam mengatur tingkah lakunya.
5. Etika dan moralitas berkaitan erat sekali dengan hukum dan adat istiadat/kebiasaan masyarakat. Sebuah etika atau ethics merupakan bagaimana kita memperhatikan atau mempertim-bangkan perilaku manusia dalam pengambilan keputusan moral. Etika mengarahkan atau menghubungkan penggunaan akal budi individual dengan objektivitas untuk menentukan “kebenaran” atau “kesalahan” dan tingkah laku seseorang terhadap orang lain menilai baik atau buruk.
LATIHAN
1. Jelaskan makna Moral Dan Moralitas ?
2. Jelaskan Kolerasi antara etika, moral dan Hukum ?
3. Jelaskan Penerapan etika dan moral dalam kehidupan bermasyarakat?
4. Jelaskan Hubungan Etika Dan Moral ? 5. Jelaskan eksistensi Moral dalam Hukum ?
17| ETIKA PROFESI DAN HUKUM KESEHATAN
DAFTAR PUSTAKA
Yopita, Bernart L Tanya, Moralitas Hukum, Yogyakarta, GENTA Publishing 2014.
Aaron, Thomas, The Control of Police Discretions, Springfield: Charles D.
Thomas, 1960.
Austin, John, The Province of Jurisprudence Determined, Cambridge, University Press, 1995.
Bello, Petrus CKL., Hukum dan Moralitas: Tinjauan Filsafat Hukum, Jakarta, Erlangga, 2012.
Friedmann, Wolgang, Legal Theory, London: Stevens & Son Limited, 1953.
Darmaputera, Eka, Etika Sederhana Untuk Semua: Perkenalan Pertama, cet.
Ke-3, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1989.
Bertens, K, Etika, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2002.
Muhammad Abdulkadir, Etika Profesi Hukum, Bandung, Citra Aditya Bakti, 1997.
Haryatmoko, Etika Politik dan Kekuasaan, Jakarta, Kompas, 2003.
Dworkin, Ronald ed., The Philosophy of Law, Oxford: Oxford University Press, 1997.
Friedmann, Wolgang, Legal Theory, London: Stevens & Son Limited, 1953.
Fiedrick, Carl J. The Philosophy of Law in Historical Perspective, The University of Chicago Press, 1969.
Dossy I.P, Bernart L Tanya. Hukum Dan Etika Kekuasan, Yogyakarta, GENTA Publishing 2011
ETIKA PROFESI DAN HUKUM KESEHATAN |18
PROFIL PENULIS
HERNIWATI adalah Dosen Sekolah Tinggi Ilmu Hukum Soelthan M. Tsjafioeddin Singkawang, Selain sebagai dosen ia juga ASN Kementrian Hukum Dan Ham Yang ditugas kan di Rupbasan Singkawang. ia SMA di Sekolah Perawat Kesehatan (SPK) Depkes Singkawang, Kemudian melanjutkan D1 Kebidanan di SPK Dep Kes Singkawang Progam Bidan-A, Ditahun 2009 ia mengikuti S1 Hukum di tempat ia mengabdi menjadi Dosen kemdian Melanjutkan S2 di Fakultas Pasca Sarjana Universitas Tanjung Pura Pontianak.