اٜٖ … “Dan apabila kamu dalam perjalanan
D. Hukum Perniagaan dalam Islam
Perniagaan atau jual-beli secara harfiah berarti pertukaran kepemilikan
harta-benda dengan harta-benda lainnya.
Sedangkan secara syariah, pertukaran dimaksud harus dilandasi dengan suka rela (at-taradhi).
Terdapat sekurangnya memiliki delapan jenis perniagaan: jual-beli benda dengan uang (ain bin naqd) seperti yang lumrah kita temui setiap hari, jual-beli barter (al-muqabadhah) seperti pertukaran baju
dengan biji kakao, jual-beli atau
pertukaran mata uang (as sharf), jual-beli utang dengan barang, pesanan dengan pembayaran yang ditangguhkan (as salam), jual-beli yang tidak berpatokan pada harga sebelumnya (al musawamah), jual-beli dengan profit yang disepakati bersama (al murabahah), jual-beli dengan kesepakatan
harga awal (at tawliyah), jual-beli dengan tambahan pada modal (al muwadha’ah). Hukum perniagaan pada dasarnya adalah halal selama tidak mengandung unsur riba, maysir (gambling), gharar (spekulatif), gish
(perbuatan curang), kezaliman dan
keharaman produk atau jasa yang
diperjual-belikan. Kaidah dalam
perniagaan secara ushul fiqh, adalah sejalan
dengan hukum mu’amalah, yaitu
diperbolehkan selama tidak ada dalil yang
mengharamkannya. Karena dasarnya
adalah ibahah atau boleh, maka praktisi bisnis atau niagawan sejatinya diberi kebebasan untuk berinovasi dan berkreasi selebar-lebarnya, dengan catatan tetap memperhatikan prinsip-prinsip Quran dan sunnah.
Karena dasarnya boleh, halal dan atau diperkenankan, penulis dalam buku kecil ini merasa tidak perlu untuk menguraikan
apa-apa saja yang dapat dilakukan atau
diperjual-belikan. Alih-alih penulis
mencoba menguraikan beberapa larangan disertai alasan atau reasoning atas larangan dimaksud.
Anjuran Bekerja dan Berniaga
Bahkan perniagaan bukan saja halal, tapi dianjurkan oleh baginda Nabi Muhammad saw. Sebagaimana diriwayatkan Bazzar ra., bahwasanya Nabi saw ditanya: “Pekerjaan apa yang paling baik?” Nabi bersabda: “Pekerjaan seseorang dengan kedua tangannya dan setiap jual beli yang mabrur” yakni jual beli yang terbebas dari sumpah palsu dan dari kecurangan dalam mu’amalah.
Tidaklah sulit bagi ummat Islam untuk mencari model perniagaan yang ideal, baik secara konseptual maupun praktis. Karena ummat dianugerahi seorang rasul yang jauh sebelum menjadi Nabi Allah telah
dikenal luas sebagai seorang pebisnis dan pedagang ulung serta disegani seantero jazirah karena kejujurannya.
Perselisihan antara Pedagang & Pembeli Dalam sebuah riwayat, seorang sahabat bernama Asyats membeli raqiq kepada Ibn Mas’ud ra. dengan harga 10.000, kemudian
ia mengutus Abdullah untuk
membayarnya. Ternyata Abdullah
membayar raqiq tersebut 20.000
sebagaimana diminta oleh penjualnya. Lalu Abdullah berkata: hadirkanlah seorang saksi untuk menjadi penengah antara aku dan dirimu. Asy’ats berkata: kamu saksi antara aku dan dirimu sendiri. Abdullah pun berkata: sesungguhnya aku mendengar Rasulullah saw. bersabda:
ل لبلاَلبلسللٖلٔاعيابتمالفلܦخالا إا
ْو لافلةن
َٔ اܦتيلٖ ألةعل݇لالب لْو يلام
)
ما الهححٖلة݇مال اٖ
“Jika terjadi perselisihan antara penjual dan pembeli dan tidak ada bukti di antara mereka, maka kesaksian (yang dapat dibenarkan) adalah kesaksian pemilik
barang (penjual), atau keduanya
meninggalkan (transaksi)” yakni membatalkannya karena tidak tercapai kesepakatan.”
Perselisihan sebagaimana dimaksud
berlaku tidak saja dalam kesepakatan harga, namun juga pada kualitas produk, syarat transaksi dan lain sebagainya.
Hukum Komersialisasi Air
Air merupakan kebutuhan asasi bagi
kehidupan. Setiap makhluk hidup
ketersediaan, bahkan akses terhadap air idealnya difasilitasi oleh negara secara cuma-cuma. Terlebih di Indonesia yang sejak awal berdiri telah mendeklarasikan
dalam UUD 1145 bahwa bumi, air dan
kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.
Islam mengakui kepemilikan atas suatu harta-benda, termasuk tanah yang bisa jadi terkandung di dalamnya air, seperti sumur.
Namun demikian, Islam tak
memperkenankan pemilik sumur untuk
memungut bayaran atas air yang
digunakan di sumur tersebut oleh masyarakat. Sebagaimana sabda nabi berikut
:لْاقلهلܿبعل ل݁ اجل علهيلعلهلَصلهلْوس ل ىهل
ل ضفل يبل علّسٖ
)ءاما
ل
ّ݇مل اٖ
Dari Jabir bin Abdillah
berkata: ”Rasulullah saw. melarang jual -beli air yang berlebih”.
Maksudnya, setelah kebutuhan akan air untuk diri dan keluarganya terpenuhi, tak diperkenankan untuk memberi tarif atau memungut bayaran atas penggunaan air yang ‘dimilikinya’. Karena sejatinya air adalah milik bersama, diciptakan Allah swt. untuk semua, sebagaimana udara.
Hukum Jual-Beli ‘Asb al Fahl
‘Ashb al Fahl adalah jasa mengawinkan ternak, yaitu memperjual-belikan mani yang keluar dari pejantan.
Jual-beli jasa sebagaimana dimaksud kerap terjadi di desa-desa atau diperkampungan. Meski terjadi perbedaan hukum terkait
transaksi seperti ini, namun mayoritas ulama menghukuminya dengan haram. Dengan merujuk pada hadist nabi sebagai berikut:
:لْاقلاَعلهلي ل݁مل ال عٖ
هلْوس ل ىه
ل
ّسٖلهيلعلهلَص
لع
ل
ح لالب݇ع
)
٘ اܾبلال اٖ
“Dari Ibn Umar ra., berkata: Rasulullah saw. melarang ashb’ al fahl.” Sebagian ulama yang berpandangan lain seperti sebagian penganut mazhab Syafi’i dan Hanbali melihatnya sebagai bentuk ijarah atau sewa, yakni menyewa ternak untuk kebutuhan berkembang-biak.
Hukum Jual-Beli Habalil Habalah
Jual beli habalil habalah adalah jual-beli kandungan di dalam perut unta sampai kandungan itu melahirkan kembali unta. Unta yang dilahirkan itulah yang dijual-belikan. Jual-beli seperti ini mengandung gharar, spekulatif atau ketidakpastian. Karena boleh dikatakan objek yang diperjualbelikan belum ada atau bahkan tidak ada sama sekali.
:لْاقلاَعلهلي ل݁مل ال عٖ
لاعيبلَٔل,ةب ال بحل علّسٖلهيلعلهلَصلهلْوس ل ىه
ةقانلالجܦنتلٔ ألَإال ٖز العاܦبيل ج݁لالَٔل:ةيلها ال ه ألهعاتي
ل
َ بلِليلالجܦنتلْ
ا
٘ اܾبل ل ل اٖل,هيلعل ܦم
Dari Ibn Umar ra. berkata: “Rasulullah melarang habalil habalah, yaitu
jual-belinya orang Jahiliyah, yaitu ketika
seseorang membeli jazur (unta) yang akan
melahirkan naqah (unta) dan (akan)
melahirkan apa yang ada di perutnya.
Hukum Bay’ al Hashat
Secara harfiah, hashat dapat dimaknai
dengan lemparan (batu). Maka, Bay’al
Hashat menjadi jual-beli dengan melempar. Terdapat beragam pengertian mengenai bay’ al hashat, di antaranya menjadikan jarak lemparan batu sebagai patokan objek
(tanah/lahan) yang diperjual-belikan.
Pengertian lain, menjadikan target
lemparan sebagai objek yang diperjual-belikan. Pelarangan transaksi seperti ini karena mengandung unsur ketidakpastian.
Sebagaimana sabda nabi saw.:
هنعلهلي ل ݁ي݁هلي أل عٖ
ل
:ْاق
ل
ل يبل علهلْوس ل ىه
ّ݇مل اٖ ل) ݁غلال يبٖل اݍ ا
Dari Abu Hurairah ra., berkata: Rasulullah saw melarang bay’ al hashat
dan jual-beli gharar (HR.Muslim) Adapun jual-beli gharar adalah jual-beli
yang mengandung spekulasi dan
ketidakpastian seperti: - Jual beli habalil habalah - Jual beli al hashat - Jual beli al malaqih
- Jual beli al madhamin
- Jual beli buah sebelum tumbuh/panen
- Jual beli al mulamasah
- Jual beli al munabadzah
- Jual beli ikan di laut, burung di langit
Uraian mengenai masing-masing jual beli tersebut dibahas secara terpisah dalam buku kecil ini.
Hukum Menakar atau Menimbang
Jual-beli suatu komoditas, khususnya barang konsumsi, membutuhkan takaran. Takaran diperlukan untuk memastikan kesamaan kualitas dan kuantitas produk dengan harga produk tersebut. Tanpa takaran yang baik, kerap kali konsumen yang menjadi korban.
Jenis takaran berbeda-beda, sesuai dengan jenis produk yang diperjual-belikan. Di
antaranya diukur dengan jumlah
(kuantitas), dengan timbangan gram, liter, ukuran luas, dan lain sebagainya.
Menjadi kewajiban penjual untuk
sampai di tangan pembeli, dengan takaran yang benar. Sebagaimana sabda Nabi saw.,
ّسٖلهيلعلهلَصلهلْوس لٔ ألهنعلهلي ل ݁ي݁هلي أل عٖ
ْاق
ل
ّ݇مل اٖ ل)ِاܦ يلىحلهعبيلافلاماعطلٗرشال م
Dari Abu Hurairah ra, bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Barang siapa membeli makanan, maka janganlah menjualnya
sampai ia menimbangnya (terlebih
dahulu).” HR. Muslim
Hukum 2 Shafaqah dalam 1 Shafaqah
Larangan ini memiliki banyak pengertian, di antaranya, seorang penjual yang berkata: “Saya jual pada Anda seharga 2 juta secara utang, atau 1 juta secara tunai, terserah Anda mau ambil yang mana.” Hal ini tidak diperkenankan dalam Islam
(harga), dan atau menjadikan waktu sebagai alasan penambahan nilai.
Sebagaimana pernyataan penjual, “Saya jual dengan harga sekian secara utang, dan dengan harga sekian dan sekian secara tunai,” sebagaimana diperkuat dengan hadist riwayat Ahmad mengenai larangan 2 shafaqah dalam 1 shafaqah.
Yang melandasi tidak sahnya jual beli seperti ini adalah ketidakjelasan harga
yang sesungguhnya, selain prinsip time
value yang dihitung oleh uang sebagaimana sistem ribawi.
Kedua, Imam Syafi’i berkata, “Saya jual budak saya padamu, dengan syarat kamu menjual pada saya kudamu.”
Ketiga, seseorang berutang satu Dinar dalam bentuk sejumlah gandum dengan jangka satu bulan, namun setelah waktu berakhir peminjam meminta agar gandum
tersebut dijual padanya untuk dua bulan dengan kesepakatan akan dibayar dengan dua kali jumlah gandum dimaksud.
Larangan 2 bentuk kesepakatan dalam 1 kesepakatan di atas, merujuk pada sabda nabi saw.:
:ْاقلهنعلهلي ل ݁ي݁هلي أل عٖ
ل
هلْوس ل ىه
ل
ّسٖلهيلعلهلَص
ل
)ةعيبلِلْتعيبل ع
ل
ٔابحل اٖل٘݀يمرلالهححٖليا݇نلاٖلܿم أل اٖ
)ع݁لالٖ ألاه݇كٖ ألهفلةعيبلِلْتعيبلععل م ل ٖا لي لٖ
Dari Abu Hurairah ra. berkata:
“Rasulullah saw melarang dua jual-beli
dalam satu jual-beli” Dan dari Abu Dawud ra.:
“Barang siapa melakukan dua jual-beli dalam satu jual beli, maka terkandung di dalamnya riba.”
Meski banyak ahli ilmu melarangnya, bentuk transaksi seperti ini masih diperbolehkan oleh sebagian besar ulama,
selama terdapat batasan (hadd) atas
tambahan keuntungan (ribh) yang
disepakati di awal, tanpa spekulasi dan tidak berlebihan.
Hukum Jual Beli dengan 2 SyaratPada transaksi perniagaan, tak jarang ditemukan pelanggan yang meminta syarat pembelian yang berbelit, misalkan: “Saya beli baju itu, asalkan dijahitkan seperti begini atau begitu, lalu minta diberi pernak-pernik seperti ini atau itu, lalu dibungkus dalam bingkisan seperti ini atau itu,” atau mungkin juga ditemukan pelanggan yang berani membayar mahal asalkan pembayaran ditangguhkan.
Berikut adalah dasar hukum atas
لْاقل:ْاقلاَعلهلي ل ܿجل علهيب أل علبيعشل لٖ݁مل ع
لٔاطُللٖل يبلٖلفلسل حلل لّسٖلهيلعلهلَصلهلْوس
ة݇مال اٖ ل)ّܿنعلسللامل يبللٖل ضيلملاملح للٖل يبلِ
Rasulullah saw. bersabda: “Tidaklah halal salaf (sebagai syarat) dalam jual-beli, dua syarat dalam satu jual-beli, dan tidak (halal) memperoleh keuntungan atas apa yang tidak dimiliki, dan jual-beli apa-apa yang bukan milikmu”
(
HR Khamsah) Contoh riil salaf sebagai keringanan atau syarat jual-beli adalah tatkala seseorang menawarkan untuk membeli barang dengan harga yang tinggi supaya dapat penangguhan pembayaran. Mayoritas ulama melarang perbuatan demikian. Contoh kedua, saat seseorang berkata: “Saya menjual jaket ini kepadamu seharga100.000 asalkan kamu memberiku
Atau sebaliknya kita meminjamkan uang pada orang lain, namun sekaligus mensyaratkan orang tersebut membeli barang kita untuk dibayar kemudian dengan utangnya.
Kedua, contoh jual beli dengan dua syarat atau lebih adalah sebagaimana di-contohkan di muka. Ketika seorang konsumen membeli kue dengan syarat kue tersebut diberi perisa yang sesuai dengan seleranya lalu diantar ke lokasi yang diminta. Atau seseorang yang berkata: “Aku jual hp ini dengan harga 1 juta secara tunai dam 2 juta secara tangguh,” atau seorang pembeli yang berkata: “Saya jual produk saya pada Anda, asalkan Anda dapat menjual produk fulan kepada saya dengan harga sekian.”
Pembelian dengan dua syarat atau lebih, apalagi yang menyulitkan penjual dilarang dalam Islam. Terkecuali jika dalam bentuk
jual-beli pesanan yang disepakati oleh kedua pihak di muka.
Ketiga, jual beli yang tidak diperkenankan sesuai dengan nash di atas adalah menjual sesuatu yang belum dalam kepemilikan penjual secara mutlak.
Hukum Jual Beli Al UrbunMisalnya Anda menjual lemari kayu jati seharga 5 juta, kemudian ada seseorang datang dan hendak membeli lemari tersebut. Lalu ia berkata, “Saya mau beli lemari ini, ini ada uang 500 ribu. Jika saya kembali saya bayar sisanya, jika tidak maka uang ini menjadi milik Anda atau saya tidak akan meminta uang saya kembali.”
Sekilas bay’ al urbun, mirip dengan Down Payment (DP). Namun sebenarnya sangat berbeda. Pembayaran DP umumnya
disyaratkan oleh penjual, dengan
kepastian pembelian dan kepastian
pembayaran sisa atau cicilan berikutnya. Berbeda dengan al urbun yang sama sekali tidak mengandung kepastian. Jika pembeli
kembali maka transaksi riil, yaitu
pertukaran antara benda dan uang, terjadi. Jika tidak, maka telah terjadi pengambilan uang tanpa adanya pertukaran (‘iwadh), itu sama sekali tidak diperkenankan secara syariah.
Sebagaimana sabda nabi yang
diriwayatkan Malik ra.
هلْوس ل ىه
ل
ّسٖلهيلعلهلَص
لع
ل
)ٔع݁علال يب
“Rasulullah saw. melarang bay’al urban.”
Meski mayoritas ulama mengharamkan bay’ al ‘urbun dengan merujuk pada hadist di atas. Sebagian ulama mengkategorikan
hadist dimaksud ke dalam kategori dho’if. Umar ra, Abdullah bin Umar ra. dan Imam Ahmad meng-halalkan praktik jual-beli tersebut.
Larangan Menjual di Tempat PembelianApa yang akan Anda rasakan jika ada seorang pembeli yang baru saja membeli tas yang Anda jual 50.000, lalu di depan Anda pula ia menjual tas tersebut kepada orang lain seharga 250.000. Bukankah itu akan terasa menyakitkan? Atau setidaknya Anda menyesal menjualnya hanya 50.000. Perbuatan seperti itu, menjual barang langsung di tempat pembelian tidak diperkenankan secara syariah. Berikut riwayat yang melarangnya,
لٖ
ل ع
:لْاقلاَعلهلي ل݁مل ا
ل
لالفل،ِو݇لالىلاتي لبعتبا
ان ݇حلاح لهبليا ع أفل ج ليي للهتبجوت سا
لبر ألٔ أل أفل,
لܿي لوهلا إافلب تلافل,يعا ݀بلي لُل مل ج لُ݀ أفل, ج݁لالܿيلَع
لٔإافل،ِح لَإال وحلىحلهتعتبالܧيحلهعبتللْا فل,ببال
لهلْوس
ّسٖلهيلعلهلَص
ل
لعاܦبتلܧيحل ل݇لالعابتلٔ أل ىه
ٖا لوب أٖلܿم أل اٖ ل)مهاح لَإال اجتلالاه وحلىح
Dari Ibn Umar ra. berkata: “Saya membeli minyak di pasar, setelah terjadi ijab (telah
menjadi miliku), seseorang hendak
membelinya dengan harga yang baik, sayapun ingin menyentuh tangannya (sebagai tanda kesepakatan), tiba-tiba seseorang menarik lenganku dari belakang, setelah berbalik ternyata ia Zayd bin Tsabit, ia lalu berkata: “Jangan menjual di tempat kamu membelinya sampai kamu kembali
ke tempatmu (berjualan), karena
sesungguhnya Rasulullah melarang
melarang untuk menjual benda di tempat ia dibeli sampai penjual itu membawanya
ke tempat ia kembali (tempat
berjualannya).” HR. Ahmad & Abu Dawud
Hukum Pertukaran ValutaDi saat kebijakan bebas visa telah menjadi tren global, ditambah zona kawasan bebas perdagangan, transaksi bisnis lintas valuta atau penggunaan berbagai mata uang di satu lokasi menjadi hal yang tak terhindarkan.
Penggunaan dan pertukaran valuta dalam perniagan telah terjadi bahkan pada masa Nabi saw. Sebagaimana diriwayatkan oleh perawi yang lima dan diperkuat oleh Hakim sebagai berikut:
Dari Ibnu Umar ra., berkata: Saya berkata, “Ya Rasulullah, sesungguhnya aku menjual unta di Pasar Baqi’, lalu saya menjualnya seharga beberapa dinar, namun aku menerima pembayarannya berupa darahim (jamak dirham), kemudian saya menjual seharga beberapa dirham, saya menerima pembayarannya dengan dinar. Saya terima ini dari ini, saya diberi
ini dari ini, maka Rasulullah saw bersabda: “Tak masalah engkau mengambilnya, (asalkan) dengan harga hari ini, selama tidak berbeda dan tidak menyisakan
sesuatu diantara kalian (tidak
ditangguhkan).”
riwayat lain yang senada dengan riwayat di atas adalah ketika Abdullah bin Umar ra. bertanya pada Rasulullah saw. tentang
hukum sharf (money exchange) dan
pertukaran antara emas dan perak, maka nabi memperbolehkannya dengan syarat dilakukan dengan harga saat ini, tunai dan tidak ditangguhkan atau tidak menyisakan pembayaran di waktu lain dengan nilai yang berbeda.
Hukum Perbuatan NajsyUntuk menarik minat pembeli dan mendongkrak penjualan, ada kalanya
penjual melakukan berbagai trik. Bahkan beberapa penjual yang tidak jujur, ada yang sengaja menaikan harga barang
kepada orang yang tidak minat
membelinya, agar konsumen lain tertarik untuk membeli. Trik atau tipuan seperti ini disebut najasy.
Pengertian lain dari najsy atau at tanajusy adalah seorang penjual, atau pembeli, atau orang ketiga yang berkomplot baik dengan penjual, memuji-muji suatu barang secara berlebihan, berpura-pura membeli dengan harga tinggi, supaya barang tersebut kemudian dibeli.
Najsy termasuk afatullisan atau kemunkaran dalam ucapan. Di saat telemarketing dan penjualan dengan
iming-iming diskon kerap terjadi, najsy
menjadi penyakit perniagaan yang harus dihindari dan diwaspadai.
Hukum Al MuhaqalahAl Muhaqalah, menurut Al Laits adalah jual beli tanaman sebelum panen, atau sebelum
jelas hasilnya. Dikatakan juga, Al
Muhaqalah adalah jual beli kurma yang masih di atas pohonnya, atau biji padi yang masih di batangnya atau masih di sawah dan belum dipanen. Jual beli ini dilarang dalam syariah.
Hukum Al MuzabanahAl Muzabanah adalah jual beli buah-buahan di atas pohon dengan buah-buahan serupa yang sudah dipanen. Misalnya jual beli ratb
(korma di pohon) dengan tamr (korma
yang telah diolah atau diproses), atau anggur yang masih dipohon dengan kismis yang sudah siap konsumsi. Perniagaan ini tidak diperbolehkan secara syariah.
Al Mukhabarah adalah kerjasama
pengelolaan atau penanaman lahan
dengan kesepakatan separuh atau
sebagian hasil dari panen. Mayoritas ulama menghukuminya dengan haram, kecuali Imam Ahmad, Ibn Khuzaimah, Ibn al Munzir dan Al Khataby dalam riwayat
menyatakan kehalalan kerjasama
sebagaimana dimaksud.
Hukum At TsunyaAt Tsunya diambil dari kata Al Itstisna yang berati pengecualian, yaitu jual beli suatu barang dengan pengecualian bagian dari
barang tersebut. Hukum Ats Tsunya
bergantung pada kepastian bagian yang dikecualikan. Jual beli tidak sah jika bagian pengecualian tidak jelas dan atau lebih dari sepertiga bagian yang diperjual belikan. Namun menjadi sah jika pengecualian tersebut jelas, misalnya: “Saya menjual seluruh box yang ada kecuali ini dan itu.”
Hukum Al MulamasahAl Mulamasah memiliki akar kata lams artinya sentuhan, jual beli Al Mulamasah menjadikan sentuhan sebagai syarat sahnya pembelian. Al Mulamasah memiliki
beberapa pengertian, di antaranya
seseorang yang menyentuh pakaian dalam kegelapan, atau mata tertutup, kemudian penjual berkata: “Saya menjualnya padamu dengan harga sekian, dengan syarat sentuhanmu itu mengganti hakmu untuk melihatnya. Tidak boleh memilih atau membatalkan jika nanti kamu melihatnya.”. Pengertian lainnya, menjadikan sentuhan sebagai bukti sahnya pembelian tanpa shigah tambahan.
Ulama sepakat mengharamkan jual-beli seperti ini.
Hukum Al MunabadzahAl Munabadzah menurut Abu Hurairah ra. adalah ketika seseorang berkata: “Saya serahkan apa yang ada dalam karungku dan kamu serahkan semua isi karungmu,” lalu keduanya saling berjual-beli tanpa melihat apa isinya. Jual beli ini tidak sah dan dilarang oleh syariah.
Dalil atau nash larangan atas muhaqalah, muzabanah, mukhabarah, ats tsunya, dan munabadzah, adalah sebagai berikut:
ل عل ىهلّسٖلهيلعلهلَصلِنلالٔ ألهنعلهلي ل݁ اجل عٖ
ا
ل عٖل ݁ ا اٖلةنبازماٖلةقا
ّعتلٔ أللإالاينثلا
.
٘݀يمرلالهححٖلهجامل اللإالة݇مال اٖ
“Dari Jabir ra. bahwa nabi saw melarang al muhaqalah, dan al muzabanah, dan al
mukhabarah, dan at tsunya, kecuali diketahui (bagian yang dikecualikan).”
لهيلعلهلَصلهلْوس ل ىه ل:ْاقلسن أل عٖ
لةقا ال علّسٖ
٘ اܾبلال اٖ ل)ةنبازماٖل ݀بانماٖلة݇ماماٖل را اٖ
“Dari Anas ra berkata: Rasulullah saw melarang al muhaqalah, dan al mukhadarah, dan al mulamasah, dan al
munabadzah, dan al muzabanah” HR. Bukhari
Hukum Penetapan HargaDiriwayatkan oleh Anas ra., bahwa terjadi kenaikan harga di Madinah pada masa Rasulullah saw. Masyarakat mengeluh (pada nabi): “Wahai Rasulullah, harga -harga naik (menjadi mahal), kendalikanlah harga untuk kami, maka nabi saw menjawab:
هلَصلهلْوس لْاق
لݎبا لال݁ع݇مالوهلهلٔإا لّسٖلهيلعل
لُنملܿح ألسللٖلَاعتلهل ل ألٔ ألوج لليإاٖلِا ݁لالْسابلا
ة݇مال اٖ ل)ْامللٖلٓ لِلة ل مليبل ي
“Sesungguhnya Allah ialah Al Musa’ir (Yang Menentukan Harga), Yang Maha Menggenggam, Yang Maha Melapangkan, Yang Maha Pemberi Rizki, sungguh saya berharap untuk berjumpa dengan Allah ta’ala, dan takada diantara kalian yang
memintaku untuk berbuat aniyaya
(dzalim), baik dalam nyawa maupun harta.”
Harga suatu komoditas tidak mungkin tetap. Fluktuasi harga di pasar merupakan sunnatullah. Mengingat banyaknya faktor yang menentukan tinggi-rendahnya harga. Misalnya variable cuaca, kondisi air, hama, harga pupuk, transpotasi dan logistik adalah sekian faktor penentu harga komoditas pertanian. Belum lagi layer atau
rantai penjualan yang acap kali tidak sederhana.
Demikian syariah melarang penetapan harga oleh penguasa demi mencegah terjadinya kezaliman. Dapat dibayangkan jika terjadi kelangkaan komoditas karena cuaca, atau karena harga pupuk yang juga naik, jika pemerintah memonopoli harga tomat misalnya, bisa dipastikan petani takkan mendapat apa-apa atas jerih payah mereka.
Karena itu, yang dapat pemerintah lakukan sebagai solusi adalah memastikan infrastruktur tersedia, termasuk irigasi
yang baik, membantu permodalan,
menyediakan pupuk bersubsidi dan memangkas rantai penjualan menjadi lebih pendek. Maka dengan sendirinya harga akan terkendali.
Hukum Ihtikar (Penimbunan)Penimbunan tergolong ke dalam
perbuatan bathil yang dilarang oleh syariah. Penimbun barang adalah mereka yang menarik komoditas tertentu, misalnya
makanan, barang konsumsi atau
sejenisnya dan menahannya dari
peredaran untuk menyebabkan
kelangkaan demi tercapainya harga
tertinggi. Saat harga meroket, barang tersebut diedarkan sebanyak mungkin untuk memperoleh keuntungan yang besar.
Pelaku ihtikar seperti ini dikategorikan khati atau ‘atsim atau ashi, yaitu pendosa. Sebagaimana sabda nabi saw.
)ئطاُللإال݁ تحلل ل:ّسٖلهيلعلهلَصلهلْوس لْاق
ل
Rasulullah saw bersabda: “Tidaklah seseorang menimbun barang, kecuali ia pendosa.”
Hukum Menunjukkan Cacat ProdukPrinsip syariah di antaranya memberikan perlindungan pada konsumen. Konsumen berhak tahu atas kelebihan sekaligus kekurangan atau cacat pada barang yang hendak dibelinya.
Sebagaimana kisah masyhur tentang teguran Rasulullah saw pada pedagang yang curang.
Diriwayatkan Muslim, bahwa Rasulullah saw berjalan melewati wadah berisi makanan, lalu beliau memasukkan tangan ke dalamnya dan mendapati jemari beliau basah. Kemudian Nabi bertanya: “Apa ini wahai pemilik makanan?” Ia berkata:
“Terkena hujan, wahai Rasulullah”. Nabi bersabda: “Mengapa tidak kau simpan di atas supaya orang-orang melihatnya? Barang siapa berbuat curang maka ia bukan golonganku.” HR Muslim
Sungguh Islam mengutamakan kejujuran dalam setiap transaksi perniagaan. Begitu keras ancaman Nabi bagi seorang pedagang yang berbuat curang, kalimat yang pendek namun bermakna sangat mendalam.
ل)يمل سللفل ݈غل م
“Barang siapa berbuat curang, maka ia bukan bagian dari ummatku.
Hukum Supply Komoditas HaramWine adalah barang haram. Wine dibuat dari anggur. Meski demikian jual beli anggur tidaklah haram. Kecuali jika anggur tersebut sengaja ditimbun, untuk kemudian dibuat atau dijual kepada
pembuat wine. Hukum jual beli anggur kepada pembuat wine adalah haram. Bahkan, ancaman bagi pelakunya adalah kepastian api neraka sebagai tempat kembali. Sebagaimana sabda nabi saw:
س لْاق
لُا لالًٓ ألبنعلالسبحل مل:ّسٖلهيلعلهلَصلهلْو
ياَ لال اٖ ل) يݍبلَعل انلالمي تلܿ فلا݁مل ܾ݀تيل ملهعيبيلىح
Rasulullah saw bersabda: “Barang siapa menimbun anggur pada saat masa panen
untuk kemudian menjualnya pada