• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN

B. Pembedaan Antara Hukum Privat dan Hukum Publik Serta Ajaran Sifat Melawan Hukum Materiil Dalam Fungsinya yang Negatif Melawan Hukum Materiil Dalam Fungsinya yang Negatif

2. Hukum Privat

Hukum privat atau perdata adalah hukum yang isinya mengutamakan kepentingan pribadi atau individu warganegara.35 Hukum perdata disebut pula hukum privat atau hukum sipil sebagai lawan dari hukum publik. Jika hukum publik mengatur hal-hal yang berkaitan dengan negara serta kepentingan umum (misalnya politik dan pemilu (hukum tata negara), kegiatan pemerintahan sehari-hari (hukum administrasi atau tata usaha negara), kejahatan (hukum pidana), maka hukum perdata mengatur hubungan antara penduduk atau warga negara sehari-hari, seperti misalnya kedewasaan seseorang, perkawinan, perceraian, kematian, pewarisan, harta benda, kegiatan usaha dan tindakan-tindakan yang bersifat perdata lainnya. Hukum privat terbagi dalam dua bagian, yaitu hukum perdata dan hukum dagang.36

a. Hukum Perdata

1) Hukum Perdata Dalam Arti Luas meliputi seluruh peraturan-peraturan yang terdapat dalam KUHPer, KUHD beserta peraturan undang-undang tambahan lainnya (seperti hukum agrarian, hukum adat, hukum islam, dan hukum perburuhan).

2) Hukum Perdata Dalam Arti Sempit meliputi seluruh peraturan-peraturan yang terdapat dalam KUHPer, yaitu:

a) Hukum pribadi adalah bagian dari hukum material khusus mengatur tentang urusan-urusan perorangan (secara pribadi) dan hubungan-hubungannya dengan orang lain (secara antarpribadi). Misalkan urusan kedudukan seseorang, domisili, kewarganegaraannya, tanggungjawabnya dalam bertindak, dan sebagainya.

35A. Ridwan Halim, loc.cit.

36Sri Soedewi Masjchoen Sofwan, loc.cit.

b) Hukum Benda adalah hukum yang khusus mengatur tentang hal-hal kebendaan yang menjadi objek pelaksanaan peranan para subjek hukum yang bersangkutan.

c) Hukum Hak Immaterial adalah hukum yang khusus mengatur tentang hak immaterial, yakni hak seseorang atau suatu pihak atas keaslian ciptaannya yang sebenar-benarnya.

d) Hukum Perjanjian adalah hukum yang khusus mengatur tentang segala tata cara menurut hukum untuk mengadakan perjanjian serta segala akibat yang ditimbulkan karena diadakannya perjanjian tersebut.

e) Hukum Keluarga adalah hukum yang khusus mengatur hal keluarga beserta seluk-beluk yang berkaitan didalamnya. Misalkan cara-cara pembentukannya (perkawinan), hak dan kewajiban para anggotanya masing-masing beserta tanggungjawabnya, dan sebagainya.

f) Hukum Waris adalah hukum yang khusus mengatur tentang waris mewaris, yakni bagaimana cara beralihnya segala hak atau kewajiban pewaris kepada ahli waris atau para ahli waris

g) Hukum Penyelewengan Perdata adalah hukum yang khusus mengatur dan menegaskan tentang sikap tindak yang mana saja yang dapat menimbulkan kerugian bagi pihak lain dan siapa saja yang dapat dimintai tanggungjawabnya serta bagaimana pula cara-cara penyelesaiannya.

b. Hukum Dagang

Hukum Dagang adalah himpunan peraturan-peraturan yang mengatur seseorang dengan orang lain dalam kegiatan perusahaan yang terutama terdapat dalam kodifikasi Kitab Undang-Undang Hukum Dagang dan Kitab Undang-Undang Hukum Perdata. Hukum dagang dapat pula dirumuskan sebagai serangkaian kaidah yang mengatur tentang dunia usaha atau bisnis dan dalam lalu lintas perdagangan.37 Dalam arti lain, Hukum Dagang ialah aturan-aturan hukum yang mengatur hubungan orang yang satu dengan yang

37R. Soekardono, loc.cit.

lainnya, khususnya dalam perniagaan. Hukum dagang adalah hukum perdata khusus. Pada mulanya kaidah hukum yang kita kenal sebagai hukum dagang saat ini mulai muncul dikalangan kaum pedagang sekitar abad ke-17.

Persamaan dan perbedaan antara hukum publik dan hukum privat:

1. Persamaan antara hukum publik dan hukum privat adalah kedua-duanya merupakan peraturan-peraturan hukum yang mengatur kehidupan manusia, kedua-duanya mempunyai sanksi hukum tertentu yang dapat dikenakan terhadap para pelanggarnya, tetap tunduk pada pengecualian yang bisa saja diberlakukan dalam keadaan-keadaan yang memaksa, dalam hal tidak adanya jalan-jalan yang dapat ditempuh untuk mengatasi keadaan-keadaan darurat saja.

2. Perbedaanya diantara keduanya adalah hukum publik mengutamakan kepentingan umum sedangkan hukum privat mengutamakan kepentingan perorangan atau individu, hukum publik dipertahankan oleh negara, sedangkan hukum privat dipertahankan oleh individu, para pelanggarnya dimintai tanggung jawabnya berdasarkan tuntutan jaksa sedangkan hukum privat para pelanggarnya dimintai tanggung jawab berdasarkan tuntutan dari pihak penggugat sebagai pihak yang langsung dirugikan.

Selain persamaan dan perbedaan sebagaimana tersebut diatas, terdapat perbedaan lain antara hukum publik dan hukum privat. Menurut pendapat N.E.

Algra sebagaimana dikutip oleh A.A. Gede D. H. Santosa, sepanjang tidak mengenai antar lembaga negara ciri khasnya yang penting dalam hukum publik adalah hubungan hukum antara negara/pemerintah dengan warga negara itu ditetapkan secara sepihak oleh Pemerintah, warga negara terikat secara yuridis pada keputusan pemerintah seperti penetapan pajak, ijin mendirikan bangunan.

Sementara itu dalam hukum privat yang menjadi ciri khasnya adalah asas pokok otonomi para pihak/warganegara, artinya para pihak boleh mengatur sendiri menurut pandangannya hubungan satu sama lain seperti kebebasan membuat perjanjian, testament, milik pribadi38.

38 A.A. Gede D. H. Santosa, 2019, Perbedaan Badan Hukum Publik dan Badan Hukum Privat, Jurnal Komunikasi Hukum (JKH) Universitas Pendidikan Ganesha, hlm. 161-163.

Konsekuensi dari ciri khas yang ada pada masing-masing ini dalam hukum publik mempertahankan hak pada umumnya ada ditangan pemerintah misalnya pembongkaran bangunan tanpa ijin dan penentuan tuntutan pidana ada pada jaksa konsekuensinya pada hukum publik ini inisiatif untuk meminta perlindungan hukum ada pada warga negara. Pada hukum privat dalam terjadinya perselisihan hak untuk mempertahankan atau tidak mempertahankan haknya ada pada para pihak itu sendiri untuk diajukan kepengadilan bahkan dalam hukum privat para pihak dapat menyetujui penyelesaian perselisihan diserahkan kepada pihak lain selain pengadilan seperti mediasi dan arbitrase39.

Disisi lain menurut Soedikno Mertokusumo, hukum publik lazimnya dirumuskan sebagai hukum yang mengatur hubungan penguasa dengan warga negaranya, hukum publik ini adalah keseluruhan peraturan yang merupakan dasar negara untuk mengatur pula bagaimana caranya negara melaksanakan tugasnya, jadi merupakan perlindungan kepentingan negara oleh karena memperhatikan kepentingan umum maka pelaksanaan peraturan hukum publik dilakukan oleh penguasa. Sedangkan hukum privat adalah hukum antar perorangan yang mengatur hak dan kewajiban perorangan yang satu terhadap yang lainnya dalam pergaulan masyarakat, hukum dalam hubungan keluarga melahirkan dua bidang hukum yaitu hukum orang dan keluarga.

Selain hukum dalam pergaulan masyarakat melahirkan hukum benda dan hukum perikatan, masih ada bidang hukum perdata lain yaitu hukum waris yang mengandung unsur keluarga dan hukum benda. Jadi bidang hukum privat meliputi hukum tentang orang, hukum keluarga, hukum benda, hukum perikatan dan hukum waris, pelaksanaannya diserahkan pada masing-masing (Mertokusumo III, 2005). Selanjutnya dikatakan terdapat beberapa tolak ukur yang digunakan untuk membedakan antara hukum publik dan hukum privat dalam hukum publik salah satu pihak adalah penguasa dalam hukum privat para pihaknya adalah perorangan tanpa menutup kemungkinan bahwa dalam

39 Ibid.

hukum privat penguasa bisa menjadi pihak, peraturan hukum publik bersifat memaksa sedangkan peraturan hukum privat bersifat melengkapi meskipun ada juga yang memaksa40.

Berdasarkan pendapat N.E. Algra (1983) dan Soedikno Mertokusumo di atas beberapa kriteria atau ciri khas yang dapat digunakan untuk membedakan hukum publik dan hukum privat adalah:

1. Dalam hukum publik : hubungan hukum berupa tindakan yang ditetapkan secara sepihak, tindakan sepihak itu oleh subyek sebagai penguasa terhadap warga negara/perorangan, inisiatif mempertahankan hak atau penegakan hukumnya oleh penguasa, hukumnya bersifat memaksa.

2. Dalam hukum privat : hubungan hukum didasarkan pada asas otonomi kebebasan para pihak/subyek yang kedudukannya sejajar, subyeknya antar perorangan atau penguasa/pemerintah bisa menjadi subyek inisiatif mempertahankan haknya oleh para pihak sendiri, hukumnya bersifat melengkapi/tidak memaksa walaupun ada juga yang memaksa41.

Dalam hal hukum pidana selaku bagian hukum publik memiliki fungsi dan tujuan untuk mewujudkan keamanan, ketertiban dan keteraturan dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Untuk mewujudkan tujuan tersebut, dibentuk hukum pidana materiil yang memuat aturan berisikan perbuatan yang dilarang atau diperintahkan yang bila dilanggar mengakibatkan pelaku dijatuhi sanksi pidana. Berkenaan dengan tindak pidana terdapat syarat-syarat pemidanaan yang meliputi syarat subjektif (mens rea) dan syarat objektif (actus reus). Kemudian dalam hukum pidana materiil diatur pula keadaan tertentu yang mengakibatkan seorang terdakwa tidak dapat dijatuhi suatu pidana lantaran terdapat adanya suatu alasan penghapus pidana baik pada diri terdakwa berkenaan dengan alasan pemaaf maupun pada perbuatan terdakwa berkenaan dengan alasan pembenar.

Alasan pemaaf ialah alasan yang menghapus kesalahan daripada pelaku tindak

40 Ibid.

41 Ibid.

pidana, perbuatannya tetap dipersalahkan akan tetapi si pembuat dimaafkan, contoh : Pertumbuhan jiwa yang tidak sempurna (Pasal 44 KUHP), Pembelaan terpaksa melampaui batas (Pasal 49 Ayat (2). Sedangkan alasan pembenar ialah alasan yang menghapus sifat melawan hukumnya suatu perbuatan, sehingga apa yang dilakukan semula merupakan delik lalu menjadi perbuatan yang patut dan benar, contoh : Pembelaan terpaksa (Pasal 49 Ayat (1) KUHP), Melaksanakan ketentuan undang-undang (Pasal 50), Melaksanakan perintah jabatan yang sah (Pasal 51). Perlu diperhatikan pula berkenaan dengan alasan pembenar ini tidak hanya terbatas yang termuat dalam KUHP ataupun undang-undang tertentu, melainkan diakui pula alasan pembenar yang diatur diluar undang-undang (hukum tidak tertulis), sebagaimana ajaran sifat melawan hukum materiil dalam arti negatif yang menegaskan bahwa hukum tidak tertulis diakui sepanjang hanya mengenai penghapusan sifat melawan hukumnya suatu perbuatan.

Bila dalam hukum pidana sejatinya menganut sifat melawan hukum formil dalam artian positif lantaran adanya asas legalitas, dan menganut sifat melawan hukum materiil dalam artian negatif. Lain halnya dengan hukum perdata yang menganut sifat melawan hukum materiil dalam artian positif, keadaan ini nampak dengan adanya pengaturan perbuatan melawan hukum dalam Pasal 1365 KUHPdt, dimana perbuatan melawan hukum disini tidak terbatas pada melanggar ketentuan peraturan perundang-undangan saja, oleh karenanya dalam hukum perdata tidak dapat dipersamakan antara perbuatan melawan hukum (onrechtmatige daad) dengan perbuatan melanggar undang-undang (onwetmatige daad). Frasa melawan hukum dalam hukum perdata tidak terbatas melanggar undang-undang melainkan dapat pula berupa melanggar hak orang lain atau bertentangan dengan kewajiban hukum orang yang berbuat itu sendiri atau bertentangan dengan kesusilaan atau bertentangan dengan sikap berhati-hati sebagaimana patutnya dalam hidup bermasyarakat.

Perbedaan pandangan mengenai sifat melawan hukum demikian berimplikasi bahwa setiap tindak pidana sudah barang tentu merupakan perbuatan melawan hukum (onrechtmatige daad) dalam hukum perdata, akan tetapi perbuatan

melawan hukum perdata (onrechtmatige daad) belum tentu terklasifikasi sebagai suatu tindak pidana (delict) mengingat mengingat hukum pidana dibatasi oleh prinsip hukum bahwa tiada perbuatan pidana tanpa peraturan yang mengaturnya (nullum delictum nulla poena sene previa lege poenale), prinsip tiada sanksi pidana tanpa kesalahan (gen straf zonder schuld) dan prinsip tiada kesalahan tanpa sifat melawan hukum (gen schuld zonder wederrechtelijk). Kondisi demikian membuat titik singgung antara aspek keperdataan dengan aspek pidana menjadi sangat tipis bahkan terkadang bias.

C. Pedoman Dalam Menentukan Titik Singgung Antara Hubungan Hukum

Dokumen terkait