• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pedoman Dalam Menentukan Titik Singgung Antara Hubungan Hukum Perdata dan Hukum Pidana Dalam Suatu Kasus Persidangan Perdata dan Hukum Pidana Dalam Suatu Kasus Persidangan

HASIL DAN PEMBAHASAN

C. Pedoman Dalam Menentukan Titik Singgung Antara Hubungan Hukum Perdata dan Hukum Pidana Dalam Suatu Kasus Persidangan Perdata dan Hukum Pidana Dalam Suatu Kasus Persidangan

Sebelum berbicara lebih jauh mengenai pedoman dalam menentukan titik singgung antara hubungan hukum perdata dan hukum pidana dalam suatu kasus persidangan, maka penulis hendak menguraikan terlebih dahulu pengertian secara terminologi terkait kontroversi titik singgung sebagaimana judul daripada penelitian ini. Secara terminologi merujuk pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), maka yang dimaksud dengan kontroversi ialah perdebatan atau pertentangan,42 sedangkan yang dimaksud dengan titik singgung disadur dari peristilahan persinggungan yang bermakna persentuhan atau pertalian. 43 Berdasarkan pengertian terminologi tersebut, dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan kontroversi titik singgung ialah perdebatan mengenai persentuhan atau pertalian suatu hal tertentu, dalam hal ini dikhususkan mengenai perdebatan terkait persentuhan atau pertalian antara hubungan hukum perdata dan hukum pidana dalam suatu kasus persidangan.

Dalam hal mencari dan menjelaskan titik singgung saat melihat aspek keperdataan pada suatu perkara pidana sejatinya sama halnya dengan penjatuhan putusan pada umumnya dimana hakim harus melalui serangkaian proses analitis terhadap fakta-fakta hukum yang dihubungkan dengan aturan-aturan hukum serta dilengkapi argumentasi hukum, yang mana keseluruhan

42 https://kbbi.web.id/kontroversi,.

43 https://kbbi.web.id/singgung,.

proses tersebut mencakup tiga tahapan kerja hakim dalam memutus suatu perkara yaitu mengkonstratisir, mengkualifisir, dan mengkonstituir. Oleh karenanya menurut Torkis Lumban Tobing dalam hal mencari dan menjelaskan titik singgung saat melihat aspek keperdataan pada suatu perkara pidana tetaplah melalui tiga tahapan tersebut, yang masing-masing tahapan akan dijelaskan sebagai berikut :44

1. Tahapan Mengkonstratisir

Pada tahapan ini, Hakim menilai dan membuktikan kebenaran peristiwa atau fakta konkret yang diajukan dipersidangan.

2. Tahapan Mengkualifisir

Pada tahapan ini, Hakim mengelompokan atau menggolongkan peristiwa yang sudah diuji kebenarannya kedalam kelompok golongan atau peristiwa hukum apa, sederhananya hakim menentukan apakah peristiwa tersebut merupakan peristiwa hukum yang menimbulkan hubungan dan akibat hukum tertentu. Dalam proses ini hakim kadangkala tidak sekedar menerapkan peraturan melainkan juga menciptakan hukum itu sendiri (rechtvinding).

3. Tahapan Mengkonstituir

Pada tahapan ini, Hakim menentukan hukum yang akan diterapkan dari peristiwa yang sudah dikualifikasikan sebagai peristiwa hukum pada tahapan mengkualifisir.

Berdasarkan ketiga tahapan kerja hakim tersebut, maka dalam mencari dan menentukan titik singgung dalam melihat aspek keperdataan dalam perkara pidana dapat dilakukan dengan tahapan tersebut dengan uraian sebagai berikut :

1. Tahapan Mengkonstratisir

Pada tahapan ini, seperti yang sudah dikemukakan sebelumnya hakim harus

44 Hasil wawancara dengan dosen perdata fakultas hukum unila

menganalisa benar tidaknya peristiwa yang diajukan kepadanya, pada perkara pidana hakim harus menilai kebenaran peristiwa yang didakwakan kepada terdakwa sebagaimana termuat dalam surat dakwaan penuntut umum. Oleh karenanya, dalam praktik peradilan pidana pada tahapan ajudikasi surat dakwaan memegang peranan yang penting dan kerap disebut dengan istilah

“mahkota persidangan”, sehingga yang dijadikan dasar dalam memutus perkara ialah surat dakwaan bukan surat tuntutan. Hal demikian diatur dalam Pasal 182 ayat (4) KUHAP sebagai berikut :

(1) a. Setelah pemeriksaan dinyatakan selesai, penuntut umum mengajukan tuntutan pidana ;

b. Selanjutnya terdakwa dan atau penasihat hukum mengajukan pembelaannya yang dapat dijawab oleh penuntut umum, dengan ketentuan bahwa terdakwa atau penasihat hukum selalu mendapat giliran terakhir ;

c. Tuntutan, pembelaan dan jawaban atas pembelaan dilakukan secara tertulis dan setelah dibacakan segera diserahkan kepada hakim ketua sidang dan turunannya kepada pihak yang berkepentingan.

(2) Jika acara tersebut pada ayat (1) telah selesai, hakim ketua sidang menyatakan bahwa pemeriksaan dinyatakan ditutup, dengan ketentuan dapat membukanya sekali lagi, baik atas kewenangan hakim - ketua sidang karena jabatannya, maupun atas permintaan penuntut umum atau terdakwa atau penasihat hukum dengan memberikan alasannya..

(3) Sesudah itu hakim mengadakan musyawarah terakhir untuk mengambil keputusan dan apabila perlu musyawarah itu diadakan setelah terdakwa, saksi, penasihat hukum, penuntut umum dan hadirin meninggalkan ruangan sidang.

(4) Musyawarah tersebut pada ayat (3) harus didasarkan atas surat dakwaan dan segala sesuatu yang terbukti dalam pemeriksaan di sidang.

(5) Dalam musyawarah tersebut, hakim ketua majelis mengajukan pertanyaan dimulai dari hakim yang termuda sampai hakim yang tertua, sedangkan yang terakhir mengemukakan pendapatnya adalah hakim

ketua majelis dan semua pendapat harus disertai pertimbangan beserta alasannya.

(6) Pada asasnya putusan dalam musyawarah majelis merupakan hasil permufakatan bulat kecuali jika hal itu setelah diusahakan dengan sungguh-sungguh tidak dapat dicapai, maka berlaku ketentuan sebagai berikut :

a. Putusan diambil dengan suara terbanyak;

b. Jika ketentuan tersebut huruf a tidak juga dapat diperoleh putusan yang dipilih adalah pendapat hakim yang paling menguntungkan bagi terdakwa.

(7) Pelaksanaan pengambilan putusan sebagaimana dimaksud dalam ayat (6) dicatat dalam buku himpunan putusan yang disediakan khusus untuk keperluan itu dan isi buku tersebut sifatnya rahasia.

(8) Putusan pengadilan negeri dapat dijatuhkan dan diumumkan pada hari itu juga atau pada hari lain yang sebelumnya harus diberitahukan kepada penuntut umum, terdakwa atau penasihat hukum.

Disamping surat dakwaan, yang dijadikan dasar dalam menjatuhkan putusan pidana ialah pembuktian mengenai terbukti tidaknya surat dakwaan, yang secara materil berisikan perbuatan pidana yang diduga dilakukan oleh terdakwa. Menurut Eddy Rifai, untuk menilai kebenaran peristiwa sebagaimana termuat dalam surat dakwaan tersebut, tentu dilakukan dengan menilai pembuktian yang dilakukan oleh penuntut umum dan penasihat hukum mulai dari mendengarkan keterangan saksi a charge dan saksi a de charge, keterangan ahli, keterangan terdakwa, maupun surat selaku alat bukti dalam hukum acara pidana sebagaimana ketentuan Pasal 184 KUHAP. Untuk menilai kebenaran suatu peristiwa pidana yang didakwakan kepada terdakwa maka harus didasari minimal dua alat bukti yang sah, dapat berupa keterangan saksi yang didukung surat, ataupun ditemukannya suatu petunjuk yaitu kesesuaian antara alat bukti yang satu dengan yang lain.45 Ketentuan minimum dua alat bukti yang sah demikian termuat dalam Pasal 183 KUHAP yang mengatur :

45 Hasil wawancara dengan dosen pidana fakultas hukum unila

Hakim tidak boleh menjatuhkan pidana kepada seorang kecuali apabila dengan sekurang-kurangnya dua alat bukti yang sah ia memperoleh keyakinan bahwa suatu tindak pidana benar-benar terjadi dan bahwa terdakwalah yang bersalah melakukannya.

Ketentuan minimum dua alat bukti dan adanya keyakinan hakim demikian diperlukan dalam tahapan kontratisir ini, kualitas pembuktian baik dari penuntut umum maupun penasihat hukum serta kecermatan hakim menjadi kunci untuk dicapainya suatu kebenaran materil yang mengarah pada diketahuinya sebuah fakta benar tidaknya perbuatan pidana yang didakwakan kepada terdakwa tanpa adanya keragu-raguan atau beyond reasonable doubt, sebab bila masih terdapat keragu-raguan harus dijatuhkan putusan yang menguntungkan terdakwa atau in dubio pro reo sebagaimana diatur dalam Pasal 182 ayat (6) huruf b. Dengan demikian dapat disimpulkan pada tahapan ini hakim sebatas membuktikan terbukti atau tidaknya perbuatan pidana yang didakwakan kepada terdakwa, tetapi belum sampai menentukan terpenuhi tidaknya unsur tindak pidana pada diri pelaku baik berkenaan dengan syarat subjektif (mens rea) ataupun syarat objektif (actus reus).

2. Tahapan Mengkualifisir

Pada tahapan ini, hakim pada peradilan pidana pasca menentukan benar tidaknya peristiwa yang didakwakan kepada terdakwa, selanjutnya hakim akan menentukan ada tidaknya unsur tindak pidana pada diri pelaku dan perbuatan pelaku, baik berkenaan dengan syarat subjektif (mens rea) ataupun syarat objektif (actus reus), sehingga menurut Irdalinda dalam tahapan ini hakim harus sudah dapat mengkualifisir apakah perbuatan yang terbukti dilakukan oleh terdakwa merupakan perbuatan pidana atau justru perbuatan yang melanggar hukum perdata maupun pelanggaran administrasi. Pada proses mengkualifisir inilah, hakim sudah dapat menentukan adakah aspek hukum keperdataan pada perbuatan yang dilakukan oleh terdakwa, atau ada tidaknya alasan penghapus pidana pada terdakwa yang dapat menghapus sifat melawan

hukum perbuatan terdakwa ataupun memaafkan kesalahan terdakwa.46

Dalam tahapan ini majelis hakim akan mempertimbangkan unsur-unsur tindak pidana sebagaimana syarat pemidanaan yang meliputi :

a. Unsur Subjektif (Mens Rea)

1) Adanya kemampuan bertanggungjawab, yaitu suatu keadaan normalitas psikis dan kematangan (kecerdasan) yang membawa 3 kemampuan yaitu mampu untuk mengerti nilai yang timbul dari akibat perbuatannya sendiri, mampu untuk menyadari bahwa perbuatannya itu menurut pandangan masyarakat tidak dibolehkan, mampu untuk menentukan kehendaknya sendiri pada saat melakukan perbuatan tersebut (kebebasan kehendak) ;

2) Adanya kesengajaan atau kelalaian, merupakan bentuk kesalahan pada diri pelaku yang didasari rumusan delik, sebab terdapat delik yang mengatur bentuk kesalahan berupa kesengajaan dan terdapat pula delik yang mengatur bentuk kesalahan berupa kealpaan.

Kesengajaan ialah menghendaki perbuatan yang dilakukan dan mengetahui akibat yang akan timbul dari perbuatan tersebut, sedangkan kealpaan ialah kurangnya penghati-hatian atau penduga-dugaan sehingga melakukan perbuatan yang melanggar ketentuan hukum pidana materil ;

3) Tidak adanya alasan pemaaf, yaitu tidak adanya alasan yang menghapus kesalahan pada diri pelaku.

Umumnya terepresentasi pada unsur “Setiap Orang atau Barang Siapa”

pada suatu rumusan tindak pidana.

b. Unsur Objektif (Actus Reus)

1) Memenuhi rumusan undang-undang, merupakan pengejewantahan asas legalitas yang terkandung dalam Pasal 1 ayat (1) KUHP yang menyatakan tiada suatu perbuatan dapat dipidana tanpa adanya undang-undang yang mengatur perbuatan tersebut sebagai suatu tindak pidana ;

46 Hasil wawancara dengan hakim Pengadilan Tinggi Tanjung Karang

2) Bersifat melawan hukum (tidak adanya alasan pembenar), yaitu tidak adanya alasan yang dapat menghapus sifat melawan hukum perbuatan pelaku.

Umumnya terepresentasi pada unsur objektif suatu tindak pidana yang dapat berupa tindak pidana formil ataupun tindak pidana materiil.

Dalam hal mengkualifisir terpenuhi tidaknya unsur subjektif, umumnya cukup dengan dianalisa ada tidaknya pertanggungjawaban pidana pada diri terdakwa.

Pada dasarnya bilamana sepanjang persidangan tidak didapati adanya alasan pemaaf pada diri terdakwa baik karena adanya pertumbuhan jiwa yang tidak sempurna (Pasal 44 KUHP), ataupun pembelaan terpaksa melampaui batas (Pasal 49 Ayat (2), maka terdakwa memiliki pertanggungjawaban pidana.

Teruntuk unsur objektif, maka yang perlu dikualifisir oleh majelis hakim ialah disamping pembuktian terbukti tidaknya perbuatan yang sudah dilakukan pada tahapan kontratisir, maka perlu dikaji ada tidaknya alasan pembenar pada perbuatan terdakwa yang dapat berupa membelaan terpaksa (Pasal 49 Ayat (1) KUHP), melaksanakan ketentuan undang-undang (Pasal 50), melaksanakan perintah jabatan yang sah (Pasal 51) dan alasan pembenar yang diatur diluar undang-undang (hukum tidak tertulis), sebagaimana ajaran sifat melawan hukum materiil dalam arti negatif yang menegaskan bahwa hukum tidak tertulis diakui sepanjang hanya mengenai penghapusan sifat melawan hukumnya suatu perbuatan.

Dengan demikian pada tahapan ini, majelis hakim mengkualifir mengenai dua hal yaitu dapat tidaknya dipidana orang atau pembuatnya (straafbarheit van de persoon), dan dapat tidaknya dipidana perbuatan (straafbarheit van heit feit).

Teruntuk penentuan titik singgung mengenai aspek keperdataan dalam suatu perkara pidana, pada dasarnya belum terdapat tolak ukur secara baku, lantaran hal demikian merupakan independensi majelis hakim yang memeriksa, mengadili, dan memutus suatu perkara pidana, akan tetapi dalam beberapa putusan didapati terdapat pola persamaan dalam hal majelis hakim menentukan aspek keperdataan pada suatu perkara pidana seperti dengan

mempertimbangkan alasan penghapus pidana ataupun melihat titik awal persengketaan apakah didahului hubungan keperdataan hingga melihat implikasi kerugian yang timbul dari suatu perbuatan melawan hukum.

3. Tahapan Mengkonstituir

Pada tahapan ini, hakim menetapkan atau menerapkan hukum terhadap fakta yang sudah dikualifisir sebelumnya, dengan menilai ada tidaknya kausalitas antara fakta tersebut dengan terlanggarnya aturan hukum tertentu dalam hal ini ketentuan hukum pidana. Menurut Suprabowo pada tahapan ini hakim menggunakan silogisme, yaitu menarik suatu simpulan dari adanya fakta yang sudah dikualifisir dan menerapkan hukum yang tepat terhadap fakta tersebut.

Dalam proses ini, hakim sudah menetapkan akan menerapkan hukum seperti apa terhadap peristiwa hukum yang sudah dikualifisir, berupa menetapkan perbuatan terdakwa memenuhi rumusan delik, atau justru perbuatan terdakwa sekalipun terbukti tetapi bukan merupakan tindak pidana dikarenakan adanya alasan penghapus pidana ataupun terklasifikasi sebagai sengketa keperdataan.47

Tahapan ini dapat dikatakan sebagai tahapan pamungkas dari serangkaian tahapan kerja hakim dalam memutus suatu perkara. Pada tahapan ini hakim diperkenankan untuk tidak terpaku pada kepastian hukum, melainkan sedapatmungkin menjatuhkan putusan yang memenuhi tiga aspek tujuan hukum yaitu keadilan, kemanfaatan, dan kepastian. Bilamana dirasa tidak memungkinkan untuk merealisasikan ketiga tujuan hukum tersebut, maka setidaknya putusan hakim yang dijatuhkan harus mewujudkan keadilan substanstif. Untuk itu hakim diperkenankan menggali hukum yang hidup dimasyarakat disamping mengacu kepada hukum positif yang berlaku, hal demikian diatur dalam Pasal 5 ayat (1) Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman yang mengatur :

Hakim dan Hakim Konstitusi wajib menggali, mengikuti, dan memahami nilai-nilai hukum dan rasa keadilan yang hidup dalam masyarakat.

47 Hasil wawancara dengan hakim Pengadilan Tinggi Tanjung Karang

Pada tahapan konstituir ini, majelis hakim harus menyebutkan dalam putusannya dasar hukum yang dipergunakan untuk memutus perkara tersebut sebelum masuk kedalam amar putusan, umumnya terepresentasi pada aspek

“mengingat” sebelum diktum putusan. Hal demikian merupakan bagian dari unsur suatu putusan yang memuat dasar mengadili sebagaimana ketentuan Pasal 50 ayat (1) Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman yang mengatur :

Putusan pengadilan selain harus memuat alasan dan dasar putusan, juga memuat pasal tertentu dari peraturan perundang-undangan yang bersangkutan atau sumber hukum tak tertulis yang dijadikan dasar untuk mengadili.

Setelah melalui tiga tahapan tersebut, maka dapat ditemukan titik singgung aspek keperdataan pada perkara pidana tertentu. Titik singgung aspek keperdataan tersebut dapat ditemukan pada tahap kualifisir ketika menetapkan perbuatan terdakwa apakah terklasifikasi sebagai suatu tindak pidana atau justru merupakan sengketa keperdataan, setelah ditentukan bahwa perbuatan tersebut termasuk kedalam ranah keperdataan, maka pada tahapan mengkonstituir hakim dengan mempertimbangkan fakta yang sudah dikualifisir menerapkan hukum yang tepat, dapat berupa menjatuhkan putusan lepas, bilamana setelah dikualifisir justru perbuatan terdakwa terklasifikasi sebagai suatu sengketa keperdataan yang sudah selayaknya diselesaikan melalui upaya hukum keperdataan bukan upaya hukum pidana.

D. Tolak Ukur Hakim Dalam Menjatuhkan Putusan Onslag Van Alle

Dokumen terkait