BAB II KONSEP, LANDASAN TEORI, DAN TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Konsep
2.1.2 Humor
Pada dasarnya humor bertujuan untuk menghibur seseorang dengan ucapan maupun tingkah laku agar seseorang tersebut terhibur dan tertawa. Hal ini selaras dengan pengertian humor yaitu sesuatu yang lucu, yang menimbulkan kegelian atau tawa (Rahmanadji, 2009).
Definisi lain mengenai humor juga dikemukakan oleh (Widjaja, 1993 dalam Rahmanadji, 2009) merupakan kelucuan atau humor berlaku bagi manusia normal, untuk menghibur karena hiburan merupakan kebutuhan mutlak bagi manusia untuk ketahanan diri dalam proses pertahanan hidupnya.
Sedangkan pengertian lain menyatakan bahwa humor adalah cara untuk melahirkan suatu pikiran, baik dengan kata-kata verbal (bahasa humor) maupun dengan jalan yang lain yang melukiskan suatu ajakan yang menimbulkan simpati atau hiburan (Asri, 2013)
Lebih lanjut, teori humor dibagi dalam tiga kelompok (Manser, 1989 dalam Rahmanadji, 2009), meliputi: (1) teori superioritas dan meremehkan, yaitu jika yang menertawakan berada pada posisi super; sedangkan objek yang ditertawakan berada pada posisi degradasi (diremehkan atau dihina). Dalam hal ini, lelucon yang menimbulkan ketertawaan, juga mengandung banyak kebencian. Lelucon selalu timbul dari kesalahan/kekhilafan yang menggoda dan kemarahan. (2) teori mengenai ketidakseimbangan, putus harapan, dan bisosiasi. (3) teori mengenai pembebasan ketegangan atau pembebasan dari tekanan.
8 2.1.3 Humor Seksualitas
Dewasa ini, humor seksualitas dapat diartikan sebagai bentuk hiburan dengan menyelipkan unsur pornografi di dalamnya. Hal ini dirasa agar lebih seru ataupun lucu dengan pemikiran yang bisa dikonotasikan sendiri oleh pendengar maupun pembacanya. Humor yang mengandung ciri seksualitas ini mempunyai beberapa fungsi asosiasi sebagaimana yang disebutkan (dalam Yuniawan, 2007) antara lain sebagai berikut.
• Menarik Perhatian
Dalam menarik perhatian pembaca ataupun pendengar, humor harus memiliki daya tarik yang dapat memunculkan asosiasi pornografi tersebut dapat berupa ungkapan-ungkapan, kata-kata, idiom-idiom atau pun tema-tema dalam wacana humor yang dipilih oleh penulis.
• Menghibur
Dalam hal ini, adanya asosiasi pornografi dalam wacana humor tersebut dapat dijadikan sebagai hiburan “murah” yang dapat merenggangkan sarafsaraf dan otot-otot yang tegang.
• Membuat Rasa Penasaran
Pemunculan rasa penasaran tersebut dapat disebabkan oleh pemanfaatan teknik metafora. Dalam wacana humor, teknik metafora digunakan untuk menciptakan asosiasi “yang bukan-bukan” yang dapat memunculkan rasa penasaran dalam benak para pembaca.
• Memperhalus
Dalam berhumor yang mengandung wacana pornografi, kecenderungan semacam ini dapat dilatarbelakangi oleh keinginan untuk tidak berterus-terang dan menyembunyikan sesuatu. Adanya teknik eufimisme dalam asosiasi pornografi wacana humor yang berfungsi memperhalus ini dapat menjadikan daya tarik tersendiri bagi pembaca.
• Mengecoh
Pengertian mengecoh di sini bukan berarti merusak pikiran pembaca, tetapi lebih ditekankan pada usaha penyesatan pikiran pembaca sehingga akan menimbulkan daya tarik tersendiri dalam benak mereka.
9
Bahasa atau wacana yang mengandung unsur seksualitas ataupun poronografi yang diucapkan maupun digunakan oleh seseorang biasanya menunjukkan objek-objek tertentu (bagian tubuh) pada seseorang lainnya. Kebanyakan humor yang disampaikan dengan bahasa yang mengandung seksualitas tersebut cenderung oleh laki-laki atau pria. Humor yang disampaikan oleh gender maskulin tersebut mengandung bahasa yang lebih vulgar daripada perempuan. Perempuan sendiri cenderung memperhalus bahasa yang mengandung seksualitas tersebut dengan berupa kode-kode dan sebagainya.
Konsekuensi humor dengan eksploitasi psikis dan fisik tubuh perempuan sebagai objeknya dapat dikategorikan sebagai bentuk kekerasan terhadap perempuan yang berdampak pada pelembagaan bias gender secara natural ataupun tidak sadar (Sumadi, 2017). Secara tidak langsung sebenarnya dapat didefinisikan sebagai pelecehan seksual, namun diperhalus dengan mengaitkan humor atau candaan semata agar seseorang yang dikenai perbuatan itu tidak merasa dilecehkan dan apabila “korban” merasa dilecehkan “pelaku” yang menggunakan bahasa seksualitas tersebut bersembunyi dengan kata “Baperan” (bawa perasaan). Hal inilah yang menjadi alasan bahasa yang mengandung seksualitas bersembunyi di balik kata humor.
2.1.4 Gender
Berbicara perihal gender, tidak terlepas dari pembagiannya yakni maskulin (pria atau laki-laki), dan feminim (wanita atau perempuan). Selaras dengan pengertian gender merupakan sifat yang melekat pada diri laki-laki dan perempuan yang dikonstruksi secara sosial dan budaya, Gender juga dipelajari dan berubah dari satu generasi ke generasi yang lain. Dalam hal ini, adanya garis hubung antara suara laki-laki dan perempuan serta pengalaman hidup mereka yang berbeda; misalnya antara nada suara seorang laki-laki dan kesempatan kerja yang lebih luas baginya;
antara desahan pada suara perempuan dan memperlakukan perempuan sebagai obyek seksual, dan sebagainya (Saleh, 2017).
10
Perbedaan gender sendiri telah diklasifikasikan sebagaimana (dalam Basaria, 2018) yang menyatakan bahwa terdapat perbedaan maskulin dengan feminim dari segi emosional dan intelektual antara lain sebagai berikut.
Pria (Maskulin) Wanita (Feminin)
•
Dengan demikian, terlepas dari adanya perbedaan baik dari segi emosional dan intelektualnya. Gender mengisyaratkan adanya pembagian jenis antara tipe maskulin dan feminim sebagaimana yang telah disinggung sebelumnya. Bahasa dan gender memiliki hubungan yang sangat berkaitan. Dalam hal ini, selain dari aspek secara sintaksis, perbedaan gender juga dikaitkan dengan penggunaan bahasanya.
Pernyataan ini didukung oleh Lakoff (dalam Zulkarnain., dkk, 2018) yang mengemukakan bahwa perbedaan bahasa antar gender yakni laki-laki biasanya dengan lantang mengeluarkan bahasa kasar bahkan vulgar dibandingkan dengan perempuan dimana karakternya lebih lembut sehingga hanya menggunakan bahasa sewajarnya saja.
11
Selain itu, sangat jelas bahwa para laki-laki berbicara to the point (langsung pada pokok pembahasan) tanpa memikirkan layak, malu, atau pantas tidaknya akibat bahasa yang diujarkan tersebut. Sementara para perempuan yang sifatnya malu sehingga tidak merasa bebas atau berhati-hati dalam penggunaan bahasa.
Biasanya, mereka memulai basa-basi terlebih dahulu sebelum menuju pokok pembahasan. Jesperson (dalam Zulkarnain., dkk, 2018) mengobservasi gaya percakapan para perempuan dan laki-laki dan menemukan bahwa laki-laki lebih suka memakai istilah-istilah baru, ekspresi bahasa pasaran, dan kata-kata yang tidak senonoh. Sementara para perempuan lebih bebas dan teliti dalam berdialog.
2.1.5 Jejaring Sosial Tiktok
Aplikasi TikTok adalah sebuah jaringan sosial dan platform video musik Tiongkok yang diluncurkan pada September 2016. Aplikasi tersebut membolehkan para pengguna untuk membuat video musik pendek sesuai tingkat kreativitas mereka sendiri. Menurut tekno.kompas.com, sepanjang penghujung tahun 2021 ini, Tiktok merupakan salah satu aplikasi yang paling banyak diunduh mencapai 384,6 juta jumlah unduhan. Hal tersebut merosot 38% dibandingkan tahun 2020 lalu.
Bahkan, dari firma riset Sensor Tower mencatat, Tiktok berhasil memecahkan rekor menjadi aplikasi yang mencapai unduhan sebanyak 619 juta unduhan. Bahkan, mengalahkan aplikasi populer lain seperti Facebook, YouTube, Messenger, Zoom, WhatsApp, dan Instagram pada periode paruh pertama 2021 lalu.
Dilansir dari smesco.go.id ada sekitar sepuluh Juta pengguna aktif di Indonesia terutama kaum milenial dengan rentang usia 18-24 tahun. Hal inilah yang menjadikan aplikasi Tiktok merupakan aplikasi populer dan masih digemari oleh generasi saat ini. Tak heran, banyaknya remaja yang menggunakan aplikasi tersebut sehingga mudah memakai bahasa yang mengandung seksualitas tanpa berpikir dengan bijak
Pada aplikasi Tiktok tersebut, dapat dijumpai video-video yang beraneka macam seperti video tutorial memasak dan make-up, video bertemakan info pengetahuan dan pendidikan, serta banyak lagi yang bersifat positif untuk ditonton.
Seperti halnya pengguna Tiktok berakun @dy_yol yang menyuguhkan konten menarik berupa tutorial make-up. Dalam konten video-videonya memberikan
12
dampak positif tentang tata cara make-up yang baik dan benar dengan tips-tipsnya.
Namun di sisi lain, terdapat pula video yang bersifat negatif baik mengandung unsur joget-joget ria, dan pornografi. Selain itu terutama video yang paling banyak muncul di FYP (For Yor Page) akan menjadi trending dan menjadi perbincangan oleh pengguna Tiktok dengan tidak terbatas pada usia yang dapat berupa anak-anak, remaja hingga orang dewasa. Tidak heran, akibatnya dari video-video tersebut banyak memunculkan bahasa yang mengandung seksualitas dengan penyampaian yang bersifat humor serta bahasa yang tidak pantas lainnya untuk menarik minat pembacanya agar terhibur atau hanya mencari perhatian semata.
2.2 Landasan Teori 2.2.1 Sosiolinguistik
Sosiolinguistik merupakan ilmu antardisiplin antara sosiologi dan linguistik, dua bidang ilmu empiris yang mempunyai kaitan sangat erat. Sosiologi sendiri adalah kajian yang objektif dan ilmiah mengenai manusia di dalam masyarakat, dan mengenai lembaga-lembaga, dan proses sosial yang ada di dalam masyarakat. Sedangkan linguistik adalah bidang ilmu yang mempelajari bahasa, atau bidang ilmu yang mengambil bahasa sebagai objek kajiannya. Dengan demikian pengertian sosiolinguistik secara keseluruhan adalah bidang ilmu antardisiplin yang menpelajari bahasa dalam kaitannya dengan penggunaan bahasa itu di dalam masyarakat (Chaer dan Agustina, 2010:2).
Definisi lain dari pengertian sosiolinguistik adalah cabang ilmu linguistik yang bersifat interdisipliner dengan ilmu sosiologi dan dengan objek penelitian hubungan antara bahasa dengan faktor-faktor sosial di dalam suatu masyarakat tutur. Sosiolonguistik lebih berhubungan dengan perincian penggunaan bahasa yang sebenarnya, sedang sosiologi bahasa berhubungan dengan faktor-faktor sosial yang saling bertimbal balik dengan bahasa atau dialek (Malabar, 2015:8).
Sedangkan Kridalaksana (dalam Chaer dan Agustina, 2010:3) mendefinisikan bahwa sosiolinguistik sebagai ilmu yang mempelajari ciri dan pelbagai variasi bahasa, serta hubungan di antara para bangsawan dengan fungsi variasi bahasa itu dalam suatu masyarakat bahasa.
13
2.2.2 Makna dalam Penggunaan Humor Seksualitas
Dalam penggunaan humor seksualitas, tuturan pada dasarnya mengalami perubahan atau pergeseran makna dari makna asalnya. Mansoer Pateda (dalam Muzaiyanah, 2012) mengemukakan bahwa istilah makna merupakan kata-kata dan istilah yang membingungkan. Definisi lain yang disebutkan oleh Aminuddin (dalam Muzaiyanah, 2012) mengemukakan bahwa makna merupakan hubungan antara bahasa dengan bahasa luar yang disepakati oleh pemakai bahasa sehingga dapat saling mengerti.
Dalam hal ini, makna juga dapat mengalami perubahan. Sebagaimana disinggung Pateda (dalam Muzaiyanah, 2012) berpendapat,”Perubahan makna menyangkut pelemahan, pembatasan, penggantian, penggeseran, perluasan, dan juga kekaburan makna”. Adapun Chaer (dalam Muzaiyanah, 2012) juga mengemukakan, “Perluasan makna adalah akibat dari faktor-faktor sebagai perkembangan bahasa. Sehingga Chaer dapat mengemukakan bahwa ada beberapa jenis perubahan makna, antara lain sebagai berikut.
a. Makna meluas
Dalam hal ini, makna meluas adalah gejala yang terjadi pada sebuah kata atau laksem yang pada mulanya hanya memiliki sebuah ‘makna’, tetapi karena berbagai faktor menjadi memiliki makna-makna lain. Sebagai contoh, pakaian dalam kemudian berkembang maknanya menjadi pakaian (yang lebih umum) lalu berkembang lagi menjadi "sebuah kain yang menutupi bagian tubuh tertentu.
b. Makna menyempit
Dalam hal ini, makna menyempit adalah gejala yang terjadi pada sebuah kata yang pada mulanya mempunyai makna yang cukup luas, kemudian berubah menjadi terbatas hanya pada sebuah makna saja. Sebagai contoh, kata sarjana pada mulanya bermakna orang berilmu, tetapi sekarang kata sarjana hanya diperuntukan bagi orang yang telah menempuh pendidikan tinggi. Kata ahli pada awalnya bermakna orang satu keluarga yang sama garis keturunan, tetapi sekarang kata ahli bermakna macam-macam, misalnya ahli penyakit, ahli kubur, dan sebagainya.
(Muzaiyanah, 2012).
14 c. Perubahan Total
Dalam hal ini, perubahan total adalah berubahnya sama sekali makna sebuah kata dari makna asalnya. Sebagai contoh, kata ‘seni’ kebiasaannya selalu dihubungkan dengan ‘air kencing’, tetapi sekarang dihubungkan dengan banyak hal, misalnya ‘seni musik, seni bela diri’.
d. Pengahalusan
Perubahan makna secara penghalusan ini merupakan gejala ditampilkannya kata-kata atau bentuk yang dianggap memiliki makna yang lebih halus atau lebih sopan daripada yang akan digantikan (Sinaga, 2020). Sebagai contoh, kata ‘penjara atau bui’ dihaluskan maknanya menjadi ‘Lembaga Pemasyarakatan’, kata ‘korupsi’
dihaluskan maknanya menjadi ‘menyalahgunakan jabatan’. Kata PSK dihaluskan maknanya menjadi tuna susila.
e. Pengasaran Makna (Disfemia)
Dalam hal ini, pengasaran makna adalah usaha untuk mengganti kata yang maknaanya halus atau bermakna biasa dengan kata yang maknanya kasar. Sebagai contoh, ungkapan masuk kotak dipakai untuk mengganti kalah seperti dalam kalimat Liem Swie King sudah masuk kotak; Begitu juga dengan kata menjebloskan yang dipakai untuk menggantikan kata memasukkan seperti dalam kalimat Polisi menjebloskannya ke dalam sel (dalam Muzaiyanah, 2012).
2.2.3 Pengaruh pada Penggunaan Humor Seksualitas
Sejatinya, pada penggunaan humor yang mengandung seksualitas memunculkan dua pengaruh antara lain pengaruh positif dan juga negatif. Adapun pengaruh positif dalam humor tersebut dapat mengundang gelak tawa atau kelucuan untuk menghibur diri. Ada pula sebagai pelepas stress dari berbagai macam problem kehidupan seseorang tersebut. Sejalan dengan itu, menurut Sujoko (Rahmanadji, 2007) humor dapat berfungsi untuk: (1) melaksanakan segala keinginan dan segala tujuan gagasan atau pesan; (2) menyadarkan orang bahwa dirinya tidak selalu benar; (3) mengajar orang melihat persoalan dari berbagai sudut; (4) menghibur; (5) melancarkan pikiran; (6) membuat orang mentoleransi sesuatu; (7) membuat orang memahami soal pelik.
15
Selain itu, humor yang mengandung seksualitas juga dapat berupa kritikan terhadap orang yang menjadi objek daripada humor tersebut. Sebagaimana menurut Sujoko (dalam Rahmanadji, 2007) mengemukakan bahwa di Indonesia kalangan mahasiswa gemar menggunakan humor sebagai sarana kritik sosial. Misalnya dalam hal ini, pada perempuan yang menggunakan pakaian kurang minim.
Sehingga humor yang mengarah kepada unsur seksualitas dirasa menjadi sarana yang paling tepat untuk mengkritik terkait kedua hal tersebut. Adapun pengaruh negatif dari penggunaan bahasa yang mengandung seksualitas adalah: (1) menjadikan objek bagian tubuh tertentu sebagai bahan humor yang notabennya dapat dikatakan secara tidak langsung merupakan bentuk pelecehan, (2) mengajak untuk berpikir negatif dengan adanya humor tersebut, (3) menyinggung orang lain (sebagai objek humor) terutama apabila humor tersebut tanpa persetujuan, (4) pembaca pada usia remaja maka akan memaklumi adanya humor tersebut dan mulai mengikuti dan berpikir ke arah yang "dewasa" padahal sebelum waktunya, dan sebagainya.
2.3 Tinjauan Pustaka
Penelitian ini mempunyai relevansi dengan penelitian sebelumnya tentang penggunaan bahasa baik dari segi bentuk maupun fungsinya. Adapun kajian yang relevan sebagai berikut.
Yuniawan (2004), dalam jurnalnya yang berjudul "Fungsi Asosiasi Pornografi dalam Wacana Humor" menjelaskan bahwa terdapat fungsi asosiasi yang ada dalam wacana humor mengandung pornografi. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif yang menggunakan metode deskriptif. Upaya memecahkan masalah melalui tiga tahapan, yaitu: (1) penyediaan data, (2) penganalisisan data, dan (3) penyajian hasil analisis data. Berdasarkan analisis data dapat disimpulkan bahwa fungsi asosiasi pornografi dalam wacana humor mencakupi: (1) menarik perhatian, (2) menghibur, (3) membuat rasa penasaran, (4) memperhalus, dan (5) mengecoh pembaca. Adapun konstribusi dari penelitian ini terhadap penulis adalah mengetahui fungsi asosiasi dan wacana yang mengandung pornografi.
16
Asri (2013), dalam jurnalnya yang berjudul "Humor Seksualitas dalam Bahasa SMS (Short Message Service):Kajian Sosiopragmatik Berdasarkan Kesantunan Berbahasa" menjelaskan bahwa adanya bahasa yang mengandung humor seksualitas dalam pesan singkat atau SMS. Banyak humor yang bermuatan seksualitas bertentangan dengan maksim atau prinsip kesantunan berbahasa. Dalam hal ini, peneliti menggunakan pendekatan kualitatif dengan menerapkan metode deskriptif. Teknik yang digunakan adalah teknik dokumentasi dan catat. Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini berupa wacana hasil SMS-an yang diambil melalui HP pada objek penelitian. Hasil penelitian menjelaskan bahwa terdapat bentuk-bentuk humor seksualitas dalam pesan singkat atau SMS tersebut dengan bahasa yang terkesan vulgar. Hal inilah yang menjadi permasalahan dalam perihal kesantunan berbahasa. Adapun konstribusi dari penelitian ini terhadap penulis adalah mengetahui bentuk humor seksualitas dalam pesan singkat atau SMS sehingga menjadi referensi dalam analisis penelitian berikutnya sesuai dengan judul dan permasalahan penulis.
Sumadi (2017) dalam jurnalnya yang berjudul "Islam dan Seksualitas: Bias Gender dalam Humor Pesantren", menjelaskan perihal humor yang mengandung seksualitas terkait bias gender dalam pesantren. Pemahaman Islam pesantren yang patriarki menjadi akar pembentukan tema-tema humor yang mengeksploitasi tubuh dan seksualitas perempuan. Kajian ini menggunakan pendekatan penelitian kualitatif dengan analisis feminis di pesantren Priangan Jawa Barat. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa patriarkisme Islam pesantren terlembagakan dalam tema-tema humor yang dibuat kiai, guru, dan santri di pesantren. Implikasinya humor-humor di lingkungan pesantren mengandung tata nilai dan ideologi bias gender berupa stereotip, objektifikasi, dan domestifikasi perempuan. Objek yang dominan humor di pesantren yaitu tubuh dan seksualitas perempuan. Adapun konstribusi dari penelitian ini terhadap penulis adalah pembahasan mengenai perihal gender serta mengetahui dan mengambil salah satu bentuk humor yang mengandung seksualitas dalam pesantren.
17
BAB III
METODE PENELITIAN 3.1 Pendekatan Penelitian
Pendekatan yang dilakukan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif.
Penelitian kualitatif bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian, misalnya persepsi, motivasi, tindakan, dan lain-lain secara holistik, dan dengan cara deskripsi dalam bentuk kata-kata dan bahasa, pada suatu konteks khusus alamiah dan dengan memanfaatkan berbagai metode alamiah (Moleong, 2017, dalam Sinaga, 2020).
Menurut Bogdan & Biklen,S (dalam Rahmat, 2009) menjelaskan bahwa penelitian kualitatif adalah salah satu prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa ucapan atau tulisan dan perilaku orang-orang yang diamati.
Pendekatan kualitatif bertujuan untuk mendapatkan pemahaman yang sifatnya umum terhadap kenyataan sosial dan perspektif partisipan. Penelitian deskriptif kualitatif bertujuan untuk mendeskripsikan dan menjelaskan tentang Penggunaan Bahasa Indonesia yang Mengandung Humor Seksualitas Terkait Gender dalam Jejaring Sosial Tiktok.
3.2 Lokasi Penelitian
Berdasarkan judul dan masalah yang telah disinggung sebelumnya, penelitian ini tidak menggunakan lokasi tetapi hanya menggunakan data dan analisis data melalui salah satu media sosial yaitu Tiktok.
3.3 Data dan Sumber Data
Data yang terdapat dalam penelitian ini berupa data verbal atau komentarkomentar yang terjadi dalam beberapa postingan dari para Tiktokers (sebutan artis Tiktok). Data tersebut diperoleh dari hasil melihat, mencatat, serta pengamatan kolom komentar antara sesama pengikut akun tersebut. Penggunaan bahasa dalam kolom komentar akun tersebut berupa penggunaan bahasa yang
18
mengandung humor seksualitas baik dari akun pengguna gender (maskulin dan feminim). Peneliti memilih dan mengambil data komentar-komentar dari beberapa postingan akun para Tiktokers tersebut.
Sumber data dalam penelitian ini yaitu kolom komentar dan status postingan yang terdapat dalam beberapa postingan akun para Tiktokers. Komentar tersebut adalah berupa tanggapan yang terdapat pada akun-akun tersebut yang diduga di dalamnya terjadi unsur penggunaan bahasa yang mengandung humor seksualitas terkait gender (maskulin dan feminim).
3.4 Metode dan Teknik Pengumpulan Data
Metode yang digunakan dalam penelitan adalah metode simak. Sudaryanto (2018:203), mendefinisikan metode simak atau penyimakan adalah sebuah metode dengan menyimak penggunaan bahasa. Dalam hal ini, bahasa yang disimak oleh peneliti adalah penggunaan bahasa yang mengandung humor seksualitas terkait gender dalam aplikasi Tiktok tersebut. Teknik dasar yang digunakan adalah teknik sadap, teknik ini dilakukan dengan cara menyadap penggunaan bahasa seseorang atau peneliti. Dalam hal ini, peneliti menyadap peristiwa tutur yang dilakukan oleh pengguna Tiktok yang berlangsung di media sosial kemudian dilanjutkan dengan teknik simak bebas libat cakap (SBLC). Dalam teknik SBLC ini, peneliti hanya berperan sebagai pengamat dalam penggunaan bahasa humor seksualitas yang digunakan oleh para penutur. Peneliti tidak terlibat langsung dalam dialog. Lalu menggunakan teknik foto, agar tidak menganggu proses kegiatan para penutur pengguna bahasa humor seksualitas dan yang terakhir menggunakan teknik ketik.
Peneliti mengetik data penggunaan bahasa yang ada dalam kolom komentar aplikasi tersebut dengan handphone dan komputer.
Sebagai contoh data, peneliti menemukan salah satu komentar pada aplikasi Tiktok : (1) dalam postingan akun @reyy yang memposting video mengenai hewan labi-labi yang saat itu mengeluarkan kepalanya. Sehingga, memunculkan humor yang diujarkan oleh pengguna akun Tiktok @Wibu yang berkomentar " Kaya Koncol." Pengguna akun @Wibu menyamakan kepala labi-labi tersebut dengan alat kelamin pria. Dalam komentar tersebut makna kata di atas merupakan makna
19
menyempit dimana menyatakan alat kelamin pria dengan bahasa yang dibuat-buat sendiri. (2) dalam postingan akun seorang pria @Roy yang memposting dirinya dalam keadaan tidak berbaju. Sehingga, menimbulkan humor yang diujarkan oleh pengguna akun Tiktok @Jk yang berkomentar "Heh asupan puasa." Dalam komentar tersebut makna kalimat di atas mengandung humor seksualitas yang ditandai dengan kata asupan puasa (yang bermaksud ketika melihat video tersebut ibarat mendapatkan sebuah nutrisi atau asupam makanan sebelum menjalankan ibadah puasa).
3.5 Metode dan Teknik Analisis Data
Metode yang digunakan dalam menganalisis data adalah metode padan yakni sebuah metode yang alat penentunya di luar, terlepas, dan tidak menjadi bagian dari bahasa (langue) yang bersangkutan. Metode padan menggunakan alat penentu yang dibedakan menjadi lima sub-jenis antara lain referen bahasa, organ wicara, tulisan, langue lain (bahasa lain), dan mitra-wicara (Sudaryanto, 2018:15). Adapun dari kelima sub-jenis diatas yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode referen bahasa. Metode referen bahasa mendeskripsikan mengenai bahasa humor seksualitas, fungsi, makna, dan pengaruh dari humor seksualitas tersebut.
Teknik dasar yaitu teknik pilah unsur penentu (PUP). Adapun alat penentunya adalah daya pilah yang bersifat mental yang dimiliki oleh penelitinya. Dalam teknik PUP alat yang digunakan adalah daya pilah sebagai pembeda referen (Surdayanto, 2018:203). Teknik lanjutan dalam penelitian ini menggunakan teknik hubung banding menyamakan atau disebut Teknik HBS (Surdayanto, 2018:32).
Dalam menggunakan teknik tersebut, maka dapat diketahui bahwa data yang telah diperoleh dapat dipilah kemudian disesuikan ke dalam fungsi asosiasi, makna, dan pengaruh dalam penggunaan humor seksualitas. Sebagai contoh:
20
Tabel 3.1 bahasa humor seksualitas, gender penutur, fungsi, makna dan pengaruhnya
Fungsi Makna Pengaruhnya Analisis
Fungsi Makna Pengaruhnya Analisis