BAB IV - SISTEMATIKA LAPORAN STUDI KELAYAKAN
G. METODE PENILAIAN USULAN INVESTASI
5. Hurdle Rate
Hurdle rate merupakan pendekatan yang menentukan indikator kunci dalam
FS yang menyebabkan adanya kemungkinan proyek tidak diterima atau ditolak.
Hurdle rate memadukan dua pendekatan, yaitu scenario dan sensitivitas dalam
perhitungan FS ini. Tahap-tahap yang dilakukan untuk proses hurdle rate sebagai berikut:
a. Menentukan nilai IRR, NPV, dan PI dari investasi
b. Menggunakan metode trial error dengan menggunakan indikator yang sensitif mengubah NPV, IRR atau PI. Dalam konteks bisnis indikator yang mampu mengubah biasanya berkisar antara struktur biaya dan aliran pendapatan. Misalnya beban gaji, beban overhead, perubahan penjualan atau pendapatan.
c. Indikator yang paling sensitif akan menjadi hurdle rate dari proses FS, sehingga perusahaan mempunyai early warning sign untuk melakukan
feedback loop atas perhitungan FS bila dibutuhkan.
d. Penggunaan software microsoft excel akan membantu dalam proses menentukan hurdle rate suatu proyek, dengan pendekatan iterasi, maupun simulasi.
CONTOH PELAKSANAAN STUDI KELAYAKAN
Contoh untuk penyusunan feasibility study (FS) ini menggunakan kasus riil dari Pelindo III dalam hal ini berupa pembelian barang modal untuk investasi. Contoh kasus dan penyelesaian FS ini menggunakan langkah-langkah sederhana agar memudahkan dalam penyusunan FS dan memberikan keleluasaan untuk mengakomodir kerumitan dalam praktik dilapangan. Kajian contoh studi kelayakan ini menggunakan data pembelian alat di PT Pelindo III. Kasus menggunakan aktivitas investasi untuk alat bongkar muat Forklift 10 ton pada tahun 2016. Beberapa kondisi akan diasumsikan dengan menggunakan data masa lalu dan praktiknya di PT Pelindo III.
Tabel 1. Data Investasi, Asumsi Umum yang Mendasari Analisis Investasi, dan Indikator Kelayakan Investasi
Jenis Item Nilai Satuan
Data Investasi
Jumlah Unit Alat Bongkar Muat 2 Unit
Harga Perolehan Investasi per unit 2.000.000.000 Rupiah
Total Nilai Investasi 4.000.000.000 Rupiah
Salvage Value 200.000.000 Rupiah
Umur Ekonomis 10 Tahun
Asumsi Umum yang mendasari Analisis Investasi
Produktivitas Untuk General Cargo 18 Ton / Jam
Produktivitas Untuk Petikemas Kosong - Box / Jam
Utilitas X Kapasitas
Tersedia
Probabilitas Operasi X Kapasitas
Operasi (Utilitas) Jam Operasional 16 Jam Operasi/ Hr
Hari Kerja Efektif 22 Hari / Bln
Jumlah Hari Produktif Dalam 1(Satu)
Tahun 352 Hari / Th
Jumlah Jam Operasional dalam 1 (Satu)
Selain informasi awal mengenai nilai perolehan dan asumsi untuk kelayakan investasi maka juga diberikan informasi mengenai biaya dan pendapatan. Selanjutnya data mengenai biaya, termasuk didalamnya gaji, insentif, perlengkapan tambahan, BBM, oli pelumas, pemeliharaan, sparepart, asuransi, biaya operasi tidak langsung, dan penunjang operasi akan disampaikan dalam tabel dibawah ini.
Tabel 2. Biaya Gaji Operator, Insentif Operator, Perlengkapan Tambahan, BBM, Oli & Pelumas, Pemeliharaan, Spareparts, Asuransi, Penyusutan,
Biaya Operasi Tidak Langsung, dan Penunjang Operasi
Item Nilai Satuan
Biaya Gaji Operator
Gaji Operator 2.000.000 Rp Per Bulan
Jumlah Operator 8 Orang
Asumsi Kenaikan Gaji Operator 10% Per Tahun
Jumlah Pembantu Operator (Jika Ada) - Orang
Gaji Pembantu Operator - Rp
Asumsi Kenaikan Gaji Pembantu Operator - Per Tahun
Insentif Operator
Insentif Operator - Rp Per Bulan
Jumlah Operator 8 Orang
Asumsi Kenaikan Insentif Operator 5% Per Tahun
Insentif Pembantu Operator - Rp
Jumlah Pembantu Operator - Orang
Asumsi Kenaikan Insentif Pembantu Operator - Per Tahun
BBM
Pemakaian Bahan Bakar Minyak 32 Liter / Jam
Kerja Asumsi Kenaikan Pemakaian Bahan Bakar
Minyak 3% Per Tahun
Harga Bahan Bakar Minyak 9.200 Rp
Asumsi Kenaikan Harga Bahan Bakar Minyak 8% % Per Tahun
OLI & PELUMAS
Pemakaian Oli dan Pelumas 50 Liter / Bulan
Harga Oli dan Pelumas 20000 Rp /Liter
Asumsi Kenaikan Harga Oli dan Pelumas 5% Per Tahun
PEMELIHARAAN
Banyaknya Pemeliharaan Berkala 24 Kali Per Tahun
Persentase Kenaikan Biaya Pemeliharaan
Berkala 5% % Per Tahun
SPARE PARTS
Persentase Kenaikan Jml Penggantian Spare
Parts 5% Per Tahun
Penggantian Spare Parts 24 Kali Per Tahun
Biaya Penggantian Spare Parts 4.000.000 Rp Per Kali
Persentase Kenaikan Biaya Penggantian Spare
Parts 5% Per Tahun
ASURANSI dan PENYUSUTAN
Persentase Kenaikan Biaya Asuransi 10% Per Tahun
Besaran Biaya Asuransi 3%
X Nilai Investasi
Besaran Biaya Penyusutan 380.000.000 Rp Per Tahun
BIAYA OPERASI TIDAK LANGSUNG
Persentase Kenaikan Biaya Operasi Tidak
Langsung 10% Pertahun
Besaran Biaya Operasi Tidak Langsung 76.800.000 Rp Per Tahun
PENUNJANG OPERASI
Persentase Kenaikan Biaya Penunjang Operasi 10% Per Tahun
Besaran Penunjang Operasi 57.600.000 Rp
Selanjutnya disajikan pula informasi mengenai pendapatan yang akan diperoleh. Setiap investasi sebaiknya menghasilkan suatu pendapatan sehingga memudahkan dalam perhitungan analisisnya, khususnya dalam studi kelayakannya. Bila suatu proyek tidak memiliki pendapatan secara langsung, maka pendapatan bisa dikonversi dengan keunggulan yang bernilai uang bila investasi tersebut dilaksanakan. Tabel berikut menyediakan data mengenai pendapatan dari investasi forklift 10 ton.
Tabel 3. Pendapatan Investasi Forklift 10 ton
Item Nilai Satuan
Jumlah Jenis Barang / Komoditi 2 Unit
Asumsi Trafik Peti Kemas Kosong 142.128 Ton
Asumsi Kenaikan Trafik Peti Kemas Kosong 20 % Per Th
Asumsi Trafik General Cargo 12.766 Ton
Asumsi Kenaikan Trafik General Cargo 15 % Per Th
Asumsi Jumlah Produksi Peti Kemas Kosong 99.490 Box Per Th
Asumsi Kenaikan Produksi Peti Kemas Kosong 20% Per Tahun
Asumsi Jenis Barang / Komoditi Kedua
Asumsi Jumlah Produksi General Cargo 12.766 Ton / M3 Per
Th
Asumsi Kenaikan Produksi General Cargo 15% Per Th
Asumsi Tarif Stevedoring (Muat Peti Kemas
Kosong) 19.894 Rupiah
Asumsi Kenaikan Tarif Bongkar Muat 10% Per Th
Asumsi Tarif Cargodoring/RD (General Cargo) 13.879 Rupiah
Asumsi Kenaikan Tarif Bongkar Muat 10% Per Th
Langkah pertama yang harus dilakukan adalah pembentukan Tim FS, yang bila berdasarkan pedoman maka:
a. Tim disusun dengan memenuhi asumsi dalam pengguna FS sesuai dengan pedoman studi kelayakan.
b. Tim harus “self-fulfill” sehingga semua bidang keilmuan yang terkait dengan proyek investasi mampu memberikan sumbangsihnya.
c. Lakukan brainstorming untuk menentukan bobot kriteria sesuai dengan Tabel 2.1 pada Bab 2
d. Beri kesempatan untuk semua anggota tim memberikan argumennya, dan semua argumen dilengkapi dengan data dan dokumen pendukung.
e. Tentukan lingkup investasi atau proyek sesuai dengan level yang disetujui oleh tim FS, sehingga bisa ditentukan analisis yang harus dilakukan (Tabel 2.2).
Penentuan ruang lingkup juga menggunakan mekanisme brainstroming atau
panel discussion tergantung tingkat kerumitan investasi. Panel discussion
biasanya dilakukan dengan mengundang direksi atau pimpinan terkait investasi.
Analisis PESTLE
Tim menyusun analisis atas PESTLE dengan diskusi dan argumen tentang
politic, environment, social, technology, legal, dan economic. Semua argumen
berbasis data (primer maupun sekunder) dengan kesimpulan yang diperoleh adalah penentuan indikator PESTLE utama dalam investasi. Penentuan indikator PESTLE yang utama, harus dengan mufakat dalam tim.
Terkait dengan contoh kasus pembelian mesin forklift. Pertanyaan yang harus dijawab tim misalnya:
a. Apakah mesin yang dibeli akan dipengaruhi oleh PESTLE?
b. Indikator PESTLE mana yang paling memengaruhi investasi mesin ini? c. Apakah ada indikator sub-PESTLE yang memengaruhi investasi?
d. Biaya yang paling memengaruhi kinerja investasi mesin ini? Kaitkan dengan pengukuran HPP (bila ada), biaya bahan baku, biaya overhead, biaya tenaga kerja, biaya pemeliharaan, atau biaya penyusutan.
Analisis Porter’s Five forces analysis
Porter’s Five forces analysis meliputi: (i) Kekuatan tawar terhadap
pemasok, (ii) Kekuatan tawar terhadap pembeli, (iii) Ancaman pendatang baru, (iv) Pesaing lama, dan (v) Produk substitusi. Analisis Porter’s Five forces menggabungkan dengan analisis SWOT sehingga memberikan hasil telaah yang komprehensif.
Untuk kasus pembelian mesin maka analisis Porter’s Five forces analysis menelaah misalnya:
a. Apakah pembelian mesin dari pemasok yang terkualifikasi dengan baik, dengan standar mutu yang sesuai?
b. Apakah pembelian mesin akan mampu memenuhi keinginan konsumen? Ataukah sesuai ekspektasi konsumen?
c. Apakah mesin baru akan menyebabkan ancaman dari pendatang baru berkurang?
d. Ataukah menimbulkan dampak perubahan atas persaingan yang sudah ada dalam industri?
e. Apakah ada produk substitusi yang bisa mengancam produk utama yang dihasilkan mesin? Apakah ada produk substitusi dari industri lainnya yang mengancam produk utama?
Pengembangan dari analisis PESTLE dan Porter’s Five Forces akan menghasilkan analisis SWOT yang lebih kaya akan telaah, dan bisa digabungkan dengan analisis dalam Business Model Canvas, analisis SDM, analisis Pemasaran, analisis Operasional, dan pada akhirnya analisis Keuangan.
Analisis Business Model Canvas
Analisis ini bertumpu pada pemanfaatan mesin baru dalam menjawab pertanyaan terkait 9 blok dalam BMC yaitu: (i) Customer Segments, (ii) Value
Propositions, (iii) Channels, (iv) Customer Relationships, (v) Revenue Streams,
(vi) Key Activities, (vii) Key Resources, (viii) Key Partnerships, dan (ix) Cost
Structure. Pertanyaan utama yang akan dijawab antara lain:
a. Apakah investasi mesin baru akan memberikan nilai tambah atas keunggulan perusahaan?
b. Apakah ada tambahan key partner baru terkait investasi mesin ini?
c. Apakah ada aktivitas baru yang harus dilakukan karena investasi dalam mesin baru?
d. Apakah ada perubahan dalam struktur biaya atas investasi ini? e. Apakah ada perubahan dalam aliran pendapatan atas investasi ini?
f. Bagaimana proses channeling terjadi untuk meningkatkan nilai tambah atas mesin baru?
g. Apakah ada perubahan segmen konsumen bila melakukan investasi ini? h. Sumberdaya apa saja yang dibutuhkan agar investasi ini berhasil?
Analisis Sumberdaya Manusia
Dalam analisis sumberdaya manusia akan dimulai dengan proses menentukan kompetensi dari sumberdaya manusia yang spesifik untuk mengoperasikan mesin ini. Hal lainnya terkait investasi mesin yang berkaitan dengan SDM antara lain:
a. Apakah ada pelatihan khusus untuk SDM yang mengoperasikan mesin ini? b. Apakah ada tambahan biaya atas pelatihan SDM spesifik ini?
c. Apakah biaya tenaga kerja termasuk dalam komponen biaya yang sensitif untuk keberlangsungan investasi mesin ini?
Analisis Pemasaran
Analisis pemasaran dijelaskan dengan Marketing Mix dan STP. Marketing
mix menggunakan 7P yaitu product, price, place, promotion, people, process, dan
physical evidence digunakan untuk mengambil keputusan dalam
pembuatan strategi komunikasi pemasaran. Tim FS harus menjelaskan mengenai pembelian mesin secara menyeluruh dalam 7P, namun belum tentu semua komponen dalam 7P tersebut akan sesuai dengan mesin yang dibeli (yang kebetulan contohnya adalah pembelian mesin). Hasil analisis harus mampu menjawab hal-hal sebagai berikut:
a. Menentukan segmentasi dan target produk atau jasa yang dihasilkan b. Menentukan nilai harapan atas produk atau jasa yang dihasilkan, untuk
menjadi acuan atas positioning dari produk atau jasa dimaksud
c. Menentukan metode promosi yang sesuai dengan mesin yang diinvestasikan d. Menentukan lokasi atas mesin dimaksud
e. Menentukan harga jual produk atau jasa yang dihasilkan mesin dimaksud f. Menentukan proses yang harus dilakukan, untuk menjual dan menghasilkan
nilai tambah atas mesin
Analisis Operasional
Aspek operasional dalam FS bertujuan untuk menekan biaya dan mencapai efisiensi biaya. Maka aspek operasional menitikberatkan pada perhitungan FS yang
mampu mengurangi biaya dan meningkatkan nilai investasi. Dalam contoh pembelian mesin maka analisis untuk aspek operasional menjawab pertanyaan antara lain:
a) Dimanakah lokasi yang tepat, baik untuk lokasi pabrik, gudang, cabang maupun kantor pusat, untuk efisiensi biaya?
b) Bagaimanakah perusahaan menentukan layout yang sesuai dengan proses produksi yang dipilih, sehingga dapat memberikan efisiensi?
c) Apakah teknologi yang paling tepat dalam menjalankan produksinya? d) Bagaimanakah dukungan metode persediaan yang paling baik
untuk dijalankan sesuai bidang usahanya?
e) Bagaimanakah kualitas tenaga kerja yang dibutuhkan sekarang dan di masa yang akan datang?
Analisis Keuangan
Informasi yang disediakan untuk analisis keuangan antara lain Payback
Period, Discounted Payback Period, Net Present Value, Internal Rate of Return, Profitability Index dan hurdle rate. Informasi yang dibutuhkan dengan contoh
pembelian mesin forklift adalah:
a) Umur ekonomis mesin yang ditentukan dari data historis mesin lama dengan kegunaan yang sama, atau informasi dari supplier mesin dimaksud. Dalam contoh ini mesin memiliki umur ekonomi 10 tahun.
b) Harga mesin merupakan informasi suplier, dengan nilai Rp 2 milyar per unit.
c) Prediksi nilai jual kembali setelah masa ekonomis mesin bisa diketahui dari informasi harga jual mesin lama dengan kegunaan yang sama, atau dari informasi suplier. Dalam contoh ini salvage value adalah Rp200 juta untuk kedua mesin setelah 10 tahun pemakaian.
d) Metode pembelian atau perolehan, karena besarnya nilai kas (investasi awal), tergantung dari uang yang disediakan diawal proses untuk akuisisi mesin.
e) Metode depresiasi yang digunakan, sesuaikan dengan peraturan akuntansi di Pelindo III. Dalam contoh menggunakan metoda garis lurus:
Total biaya pembelian: Rp 4 milyar
Salvage value: Rp 200 juta (informasi nilai jual mesin lama)
Nilai terbeban depresiasi: 4M – 200juta = 3,8 milyar
Dengan nilai ekonomis 10 tahun, maka depresiasi per tahun Rp380 juta atau 3,8M/10 th.
f) Penentuan proses aliran pendapatan yang bisa diperoleh dari mesin baru. Apakah menjual produk yang dihasilkan? Apakah menjual jasa atas penggunaan mesin? Apakah keduanya? Pada contoh mesin forklift terdapat dua aliran pendapatan yaitu dari stevedoring dan cargodoring.
g) Menentukan persediaan (bahan mentah, bahan habis pakai, dan lainnya) yang disediakan untuk mesin bisa beroperasi. Dalam contoh pembelian forklift ini tidak ada biaya modal kerja yang terjadi.
h) Penentuan bobot utang dan ekuitas yang digunakan untuk proyek ini. Misalnya mesin yang dibeli, menggunakan dana ekuitas 0%, dan 100% dari utang. Maka bobot ekuitas atau We = 0% dan bobot utang atau Wd = 100%; sehingga mesin 100% menggunakan utang senilai Rp4 Milyar.
i) Menentukan besarnya beban utang dari proyek pembelian mesin ini yang
disebut Kd atau cost of debt (Kdbt cost of debt before tax; Kdat cost of debt
after tax). Biaya bunga harus dihitung setelah pajak, sehingga:
𝐾𝑑𝑎𝑡= 𝐾𝑑𝑏𝑡(1 − 𝑇𝑐)
Bila biaya bunga 16% per tahun, maka Kdat adalah 16%(1-25%) = 12%
(asumsi pajak 25%).
j) Return market atau Rm menggunakan indeks harga saham gabungan (IHSG) periode 2015 akhir dan 2016 akhir. Return market pada 2016 dihitung dengan rumus:
𝑅𝑚 =𝐼𝐻𝑆𝐺2016− 𝐼𝐻𝑆𝐺2015
𝐼𝐻𝑆𝐺2015 =
6095 − 5729
6095 = 0,06
k) Cost of equity atau Ke untuk pengadaan mesin ini menggunakan risk free
Indonesia; data bisa berubah sesuai periode waktu). Namun karena belum ada perusahaan sejenis dengan Pelindo III yang go-public di Bursa saham atau Pelindo III satu-satunya bisnis kepelabuhan yang terintegrasi, maka Pelindo III adalah market maker, sehingga risiko pasarnya sama dengan 1. Dengan kata lain beta Pelindo III adalah 1. Return market (Rm) dengan rumus diatas adalah 6%. Maka Ke yang diperoleh adalah:
𝐾𝑒 = 𝑅𝑓 + 𝛽(𝑅𝑚 − 𝑅𝑓) = 5% + 1(6% − 5%) = 6%
l) Menentukan WACC menggunakan rumus sesuai suplemen keuangan (lihat detail pada suplemen dan bagian berikutnya):
𝑊𝐴𝐶𝐶 = (𝑊𝑒 ∗ 𝐾𝑒) + (𝑊𝑑 ∗ 𝐾𝑑𝑎𝑡) = (0% ∗ 6%) + (100% ∗ 12%)
= 12%
m) Perhitungan NPV dan IRR menggunakan rumus dalam suplemen keuangan dalam file excel. Net cash flow menggunakan pendekatan aliran kas dari operasi. Demikian juga dengan payback period, discounted PP, dan
profitability index. Perhitungan detail pada halaman berikutnya.
n) Penentuan hurdle rate, untuk mesin ini menggunakan analisis dalam PESTLE, aspek ekonomi, aspek operasional, dan aspek SDM. Pembelian mesin yang menghasilkan keuntungannya, dibagi dalam dua indikator utama, yaitu biaya tenaga kerja, dan harga produk atau jasa.
o) Menggunakan hurdle rate, dan software Excel maka perubahan setiap
hurdle rate akan mengubah NPV dan IRR sehingga bisa diketahui kapan
Berikut ini adalah informasi dan hasil perhitungan untuk pembelian forklift di Pelindo III sebagai bagian dari contoh penerapan studi kelayakan dari sisi aspek keuangannya.
Data Investasi
Jumlah Unit Alat Bongkar Muat 2 Unit
Harga Perolehan Investasi per
unit 2.000.000.000 Rupiah
Total Nilai Investasi 4.000.000.000 Rupiah
Salvage Value 200.000.000 Rupiah
Umur Ekonomis 10 Tahun
Asumsi Umum
Produktivitas Untuk General Cargo 18 Ton / Jam
Produktivitas Untuk Petikemas Kosong - Box / Jam
Utilitas X Kapasitas Tersedia
Probabilitas Operasi
X Kapasitas Operasi (Utilitas)
Jam Operasional 16 Jam Operasi/ Hari
Hari Kerja Efektif 22 Hari / Bulan
Jumlah Hari Produktif Dalam 1(Satu)
Tahun 352 Hari / Tahun
Jumlah Jam Operasional dalam 1 (Satu)
Tahun 5.632 Jam Operasi/Tahun
Biaya
Gaji Operator
Gaji Operator 2.000.000
Rp Per
Bulan 100%
Jumlah Operator 8 Orang
Asumsi Kenaikan Gaji Operator 10% Per Tahun
Jumlah Pembantu Operator (Jika
Ada) - Orang
Gaji Pembantu Operator - Rp
Asumsi Kenaikan Gaji Pembantu
Insentif Operator
Insentif Operator -
Rp Per Bulan
Jumlah Operator 8 Orang
Asumsi Kenaikan Insentif Operator 5% Per Tahun
Insentif Pembantu Operator - Rp
Jumlah Pembantu Operator - Orang
Asumsi Kenaikan Insentif Pembantu
Operator - Per Tahun
Perlengkapan Tambahan
Persentase Kenaikan Jumlah Perlengkapan
Tambahan -
Per Tahun
Pemakaian Perlengkapan Tambahan - Unit
Persentase Kenaikan Harga Perlengkapan
Tambahan -
Per Tahun
Harga Perlengkapan Tambahan per unit - Rp
BBM
Pemakaian Bahan Bakar Minyak 32
Liter / Jam Operasi Asumsi Kenaikan Pemakaian Bahan Bakar
Minyak 3% Per Tahun
Harga Bahan Bakar Minyak 9.200 Rp 100%
Asumsi Kenaikan Harga Bahan Bakar
Minyak 8% % Per Tahun
Oli dan Pelumas
Pemakaian Oli dan Pelumas 50
Liter / Bulan
Harga Oli dan Pelumas 20000 Rp /Liter
Asumsi Kenaikan Harga Oli dan
Pemeliharaan 2 Forklift
Banyaknya Pemeliharaan Berkala 24
Kali Per Tahun
Biaya Pemeliharaan Berkala 6.000.000 Rp Per Bulan
Persentase Kenaikan Biaya Pemeliharaan
Berkala 5% % Per Tahun
Spareparts 2 Forklift
Persentase Kenaikan Jumlah Penggantian
Spare Parts 5% Per Tahun
Penggantian Spare Parts 24
Kali Per Tahun
Biaya Penggantian Spare Parts 4.000.000 Rp Per Kali
Persentase Kenaikan Biaya Penggantian Spare
Parts 5% Per Tahun
Asuransi
Persentase Kenaikan Biaya
Asuransi 10% Per Tahun
Besaran Biaya Asuransi 3% X Nilai Investasi
Depresiasi
Besaran Biaya Penyusutan 380.000.000 Rp Per Tahun
Biaya Operasi Tidak Langsung
Persentase Kenaikan Biaya Operasi Tidak
Langsung 10% Pertahun
Besaran Biaya Operasi Tidak Langsung 76.800.000 Rp Per Tahun
Biaya Penunjang Operasi
Persentase Kenaikan Biaya Penunjang
Operasi 10% Per Tahun
Revenue
Jumlah Jenis Barang / Komoditi 2 Unit
Asumsi Trafik Peti Kemas Kosong 142.128 Ton
Asumsi Kenaikan Trafik Peti Kemas
Kosong 20
% Per Tahun Asumsi Kenaikan Trafik Peti Kemas
Kosong 1 -
Asumsi Trafik General Cargo 12.766 Ton
Asumsi Kenaikan Trafik General Cargo 15
% Per Tahun
Asumsi Jenis Barang / Komoditi Peti Kemas
Kosong
Asumsi Jumlah Produksi Peti Kemas
Kosong 99.490 Box Per Tahun
Asumsi Kenaikan Produksi Peti Kemas
Kosong 20%
Per
Tahun
Asumsi Jenis Barang / Komoditi Kedua
Asumsi Jumlah Produksi General Cargo 12.766 Ton / M3 Per Tahun
Asumsi Kenaikan Produksi General Cargo 15%
Per
Tahun
Asumsi Tarif Stevedoring (Muat Peti Kemas
Kosong) 19.894 Rupiah 100%
Asumsi Kenaikan Tarif Bongkar Muat 10% Per Tahun
Asumsi Tarif Cargodoring/RD (General Cargo) 13.879 Rupiah 100%
Asumsi Kenaikan Tarif Bongkar Muat 10% Per Tahun
Keterangan:
Asumsi tentang revenue, sesuai kasus maka ada 2 sumber pendapatan yaitu
stevedoring dan cargodoring. Sesuai kesepakatan setelah melakukan beberapa kali
perubahan nilai atas pendapatan dan biaya maka ditentukan oleh tim FS bahwa hurdle rate untuk FS ini adalah tarif stevedoring dan cargodoring sehingga diberikan nilai awal yaitu 100%. Berarti tarif sesuai dengan asumsi awal, bila terjadi kenaikan tarif 10%, maka
nilai 100% naik menjadi 110%. Demikian juga dengan biaya, diputuskan biaya gaji operator, biaya BBM menjadi indikator hurdle rate dari sisi biaya. Indikator biaya gaji operator dan harga BBM, diberikan indikator 100% yang nantinya bisa berubah naik atau turun sesuai kondisi.
Hasil analisis NCF terdapat pada bagian akhir contoh perhitungan ini. Berdasarkan analisis NCF yang dilakukan proyek pembelian forklift ini feasible dengan NPV positif dan IRR diatas WACC (37,89% > 12%). Sedangkan payback period 4,78 tahun dan discounted payback 5,69 tahun. Bila perusahaan memutuskan bahwa investasi mesin harus mampu kembali modal kurang dari 5 tahun, maka discounted payback menunjukan bahwa pembelian forklift ini tidak feasible.
Analisis sensitivitas yang digunakan adalah analisis berdasarkan dua hurdle rate yaitu biaya BBM dan tarif. Kolom berwarna merah menunjukan kondisi kombinasi antara biaya BBM dan tarif yang tidak feasible karena IRR lebih kecil dari WACC 12%, sedangkan kolom hijau menandakan sebaliknya, feasible dengan IRR lebih besar dari WACC 12%.
A PRODUKSI
1 Produksi Bongkar Muat Petikem as Kosong
a) Persentase Kenaikan % 20% 20% 20% 20% 20% 20% 20% 20% 20% 20% b) Produksi Bongkar Muat Petikemas Kosong BOX 99.490 119.388 143.265 171.918 206.302 247.562 297.074 356.489 427.787 513.344
2 Produksi Bongkar Muat General Cargo
a) Persentase Kenaikan % 15% 15% 15% 15% 15% 15% 15% 15% 15% 15% b) Produksi Bongkar Muat General Cargo Ton/M3 12.766 14.681 16.883 19.415 22.328 25.677 29.529 33.958 39.051 44.909
B TARIF
1 Produksi Bongkar Muat Petikem as Kosong
a) Persentase Kenaikan % 10% 10% 10% 10% 10% 10% 10% 10% 10% 10% b) Produksi Bongkar Muat Petikemas Kosong Rp 19.894 21.883 24.072 26.479 29.127 32.039 35.243 38.768 42.645 46.909
2 Produksi Bongkar Muat General Cargo
a) Persentase Kenaikan % 10% 10% 10% 10% 10% 10% 10% 10% 10% 10% b) Produksi Bongkar Muat General Cargo Rp 13.879 15.267 16.794 18.473 20.320 22.352 24.587 27.046 29.751 32.726
C PENDAPATAN
1 Produksi Bongkar Muat Petikemas Kosong Rp 1.979.246.102 2.612.604.855 3.448.638.409 4.552.202.700 6.008.907.564 7.931.757.984 10.469.920.539 13.820.295.111 18.242.789.547 24.080.482.202 2 Produksi Bongkar Muat General Cargo (GC) Rp 177.179.314 224.131.832 283.526.768 358.661.361 453.706.622 573.938.877 726.032.679 918.431.339 1.161.815.644 1.469.696.789
TOTAL PENDAPATAN Rp 2.156.425.416 2.836.736.687 3.732.165.177 4.910.864.061 6.462.614.185 8.505.696.861 11.195.953.218 14.738.726.450 19.404.605.190 25.550.178.991
D BIAYA TETAP
1 Biaya Gaji Operator
a) Jumlah Operator Orang 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 b) Persentase Kenaikan Gaji Operator % 10% 10% 10% 10% 10% 10% 10% 10% 10% 10% c) Besaran Gaji Operator Rp 2.000.000 2.200.000 2.420.000 2.662.000 2.928.200 3.221.020 3.543.122 3.897.434 4.287.178 4.715.895
d) Total Gaji Operator Rp 224.000.000 246.400.000 271.040.000 298.144.000 327.958.400 360.754.240 396.829.664 436.512.630 480.163.893 528.180.283
2 Biaya Gaji Pem bantu Operator
a) Jumlah Pembantu Operator Orang - - - - - - - - -
-b) Persentase Kenaikan Gaji Pembantu Operator % - - - - - - - - -
-c) Besaran Gaji Pembantu Operator Rp - - - - - - - - -
-d) Total Gaji Pem bantu Operator Rp - - - - - - - - -
-3 Biaya Insentif Operator a) Jumlah Operator Orang 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8
b) Persentase Kenaikan Insentif Operator % 5% 5% 5% 5% 5% 5% 5% 5% 5% 5% c) Besaran Insentif Operator Rp - - - - - - - - -
-d) Total Insentif Operator Rp - - - - - - - - -
-4 Biaya Insentif Pem bantu Operator a) Jumlah Pembantu Operator Orang 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8
b) Persentase Kenaikan Insentif Pembantu Operator % 5% 5% 5% 5% 5% 5% 5% 5% 5% 5% c) Besaran Insentif Pembantu Operator Rp - - - - - - - - -
-d) Harga Perlengkapan Tambahan Rp - - - - - - - - -
-e) Besaran Biaya Pemakaian Perlengkapan Tambahan Rp - - - - - - - - -
-2 Pem akaian Bahan Bakar Minyak (BBM)
a) Persentase Kenaikan Pemakaian Bahan Bakar Minyak % 3% 3% 3% 3% 3% 3% 3% 3% 3% 3% b) Pemakaian Bahan Bakar Minyak Liter 32,00 32,96 33,95 34,97 36,02 37,10 38,21 39,36 41 42 c) Persentase Kenaikan Harga Bahan Bakar Minyak % 8% 8% 8% 8% 8% 8% 8% 8% 8% 8% d) Harga Bahan Bakar Minyak Rp 9.200 9.936 10.731 11.589 12.516 13.518 14.599 15.767 17.029 18.391
e) Besaran Biaya Pemakaian Bahan Bakar Minyak Rp 1.658.060.800 1.844.426.834 2.051.740.410 2.282.356.032 2.538.892.850 2.824.264.407 3.141.711.726 3.494.840.124 3.887.660.154 4.324.633.155
3 Pem akaian Oli dan Pelum as
b) Pemakaian Oli dan Pelumas Liter 50 50 50 50 50 50 50 50 50 50 c) Persentase Kenaikan Harga Oli dan Pelumas % 5% 5% 5% 5% 5% 5% 5% 5% 5% 5% d) Harga Oli dan Pelumas Rp 20.000 21.000 22.050 23.153 24.310 25.526 26.802 28.142 29.549 31.027
e) Besaran Biaya Pemakaian Oli dan Pelumas Rp 12.000.000 12.600.000 13.230.000 13.891.500 14.586.075 15.315.379 16.081.148 16.885.205 17.729.465 18.615.939
4 Pem eliharaan Berkala
a) Banyaknya Pemeliharaan Berkala Kali 24 24 24 24 24 24 24 24 24 24 b) Persentase Kenaikan Biaya Pemeliharaan Berkala % 5% 5% 5% 5% 5% 5% 5% 5% 5% 5% c) Biaya Pemeliharaan Berkala Rp 6.000.000 6.300.000 6.615.000 6.945.750 7.293.038 7.657.689 8.040.574 8.442.603 8.864.733 9.307.969
d) Biaya Pem eliharaan Berkala Rp 144.000.000 151.200.000 158.760.000 166.698.000 175.032.900 183.784.545 192.973.772 202.622.461 212.753.584 223.391.263
5 Penggantian Spare Parts
a) Persentase Kenaikan Jumlah Penggantian Spare Parts % 5% 5% 5% 5% 5% 5% 5% 5% 5% 5%