• Tidak ada hasil yang ditemukan

Huruf/Teks (Typografi)

Dalam dokumen BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN TEORI PENELITIAN (Halaman 33-40)

2.4 Desain Komunikasi Visual

2.5.2 Unsur Pembentuk Logo

2.5.2.3 Huruf/Teks (Typografi)

Teks merupakan bagian penting dalam sebuah desain grafis. Rangkaian huruf dalam sebuah kata atau kalimat bukan saja bisa berarti suatu makna yang mengacu pada sebuah objek ataupun gagasan tapi juga memiliki kemampuan untuk

menyuarakan suatu citra ataupun kesan secara visual.

Menurut Adi Kusrianto (2009) didalam desain grafis tipografi didefinisikan sebagai suatu proses seni untuk menyusun bahan publikasi menggunakan huruf cetak (Sriwitari dan Widnyana, 2014:62).

Tipografi yang dibahas dalam hal ini ada dua macam, yaitu tipografi dalam logo (letter marks), dan tipografi yang digunakan dalam media-media aplikasi logo (corporate typeface / corporate typography). Karena memiliki fungsi yang berbeda, karakteristik huruf yang digunakan pada letter marks dengan corporate typeface juga berbeda. Misalnya bila sebuah logo menggunakan jenis huruf Futura, bukan berarti corporate typeface-nya harus menggunakan huruf Futuraiuga (Rustan,2017:78).

Pada letter marks, keunikan menjadi hal yang paling utama dalam logo, maka jenis hurufnyapun harus unik. Biasanya jenis huruf letter marks dirancang khusus atau menggunakan jenis huruf yang sudah ada namun diubah bentuknya. Sedangkan corporate typeface Iebih bertujuan untuk menjaga kesatuan desain / unity antar media-media / aplikasi desain perusahaan. Juga memiliki fungsi-fungsi tipografi pada umumnya, yaitu penyampai informasi yang harus nyaman dibaca dengan segala kriteria-kriterianya (legible, readable, dan lain-lain) (Rustan,2017:78).

Berikut peneliti sajikan gambar letter marks dan corporate typeface:

Gambar 2.9 Letter Marks

Sumber: Google.com (Data telah diolah oleh peneliti)

Gambar 2.10 Corporate Typeface

Sumber: Google.com (Data telah diolah oleh peneliti)

2.6 Simbol

Simbol merupakan label arbiter atau representasi dari fenomomena. Kata adalah simbol untuk konsep dan benda. Menurut peneliti simbol muncul dalam konteks yang sangat beragam dan digunakan untuk berbagai tujuan.

Menurut Hartoko & Rahmanto (1998) secara etimologis, simbol (symbol) berasal dari kata Yunani “sym-ballein” yang berarti melemparkan bersama suatu (benda, perbuatan) dikaitkan dengan suatu ide. (Sobur 2016:155). Sedangkan Herusato

(2000) menyebutkan bahwa “symbolos” yang berarti tanda atau ciri yang memberi tahukan sesuatu hal kepada seseorang (Sobur 2016:155).

Dalam Kamus Bahasa Indonesia karagan WJS Poerwadarminta disebutkan, simbol atau lambang semacam tanda, lukisan, perkataan, lencana, dan sebagainya yang menyatakan suatu hal atau mengandung maksud tertentu. Dalam Bahasa komunikasi, simbol sering kali diistilahkan sebagai lambang (Sobur 2016:156).

Simbol tidak dapat disikapi secara isolatif, terpisah dari hubungan asosiatifnya dengan simbol lainnya. Walaupun demikian berbeda dengan tanda (sign), symbol merupakan kata atau sesuatu yang bisa dianalogikan sebagai kata yang telah terkait dengan (1) penafsiran pemakai, (2) kaidah pemakaian sesuai dengan jenis wacananya, dan (3) kreasi pemberian makna sesuai dengan intensi pemakainya. Simbol yang ada dalam dan berkaitan dengan ketiga butir tersebut disebut bentuk simbolik (Sobur 2016:156).

Sedangkan dalam “bahasa” komunikasi, simbol sering kali diistilahkan sebagai lambang. Simbol atau lambang adalah sesuatu yang digunakan untuk menunjuk sesuatu lainnya, berdasarkan kesepakatan kelompok orang. Lambang meliputi kata-kata (pesan verbal), perilaku nonverbal, dan objek yang maknanya disepakati bersama (Sobur, 2016:157)

Kemudian menurut Harsoyo (1977) mengatakan bahwa lambang adalah objek atau material yang nilai atau arti yang ada padanya ditetapkan oleh yang menggunakan objek itu sebagai lambang. Lambang dapat berupa Bahasa, gerak, bunyi, cahaya, gambar, warna dan media lainnya. Masing-masing lambang dipilih tergantung dari jenis media komunikasi yang digunakan (Rohim,2016:5)

2.7 Makna

Menurut Kincaid dan Schramm (1984) Pesan-pesan dalam komunikasi merupakan hal yang lahiriah yang terlepas dan sama sekali tidak bermakna sampai ada yang menafsirkan makna kedalamnya. Makna baru timbul jika seseorang mengamati pesan itu dan kemudian menafsirkannya dengan jalan menerapkan konsep-konsep yang dimiliki terhadapnya (Rohim, 2016:7).

Kata-kata tidak memiliki makna tertentu kecuali kita sebagai komunikator atau komunikan yang memaknainya sendiri. Menurut Hirsch (2000) mengatakan bahwa Kata adalah kata, maknanya ambigu dan tidak persis (Sobur, 2016:245).

Konsep makna telah menarik perhatian disiplin komunikasi, psikologi, sosiologi, antropologi, dan linguistik. Seperti menurut Stewart L. Tubbs dan Sylvia Moss (Sobur,2016:255) mengatakan bahwa “Komunikasi adalah proses pembentukan makna diantara dua orang atau lebih”. juga Judy C. Pearson dan Paul E. Nelson mengatakan bahwa “Komunikasi adalah proses memahami dan berbagi makna”.

Sedangkan Penjelasan dari Umberto Eco (1999) bahwa makna dari sebuah wahana tanda (sign-vechicle) adalah satuan kultural yang diperagakan oleh wahana-wahana tanda yang lainnya serta dengan begitu, secara secara semantik mempertunjukan pula ketidaktergantungannya pada wahana tanda yang sebelumnya (Sobur, 2016:256).

Kemson berpendapat bahwa untuk menjelaskan istilah makna harus dilihat dari segi: (1) kata: (2) kalimat; dan (3) apa yang dibutuhkan pembicara untuk berkomunikasi (Sobur, 2016:256).

Ferdinand de Saussure menyebutkan istilah tanda linguistik (Prancis: signe’

linguistique). Menurut Saussure, setiap tanda linguistik terdiri atas 2 unsur, yakni (1) yang diartikan (Prancis: signifie’, Inggris: signified=unsur makna) dan (2) yang mengartikan (Prancis: signifiant’, Inggris: signifier=unsur bunyi). Yang diartikan (signifie’, signified) sebenarnya tidak lain dari konsep atau makna dari sesuatu tanda-bunyi.

Sedangkan yang mengartikan (signifiant atau signifier) itu adalah tidak lain dari bunyi-bunyi itu, yang terbentuk dari fenom-fenom bahasa yang bersangkutan. Jadi, dengan kata lain tanda linguistik terdiri dari unsur bunyi dan makna. Kedua unsur ini adalah unsur dalam-bahasa (intralingual) yang biasanya merujuk atau mengacu kepada sesuatu referen yang merupakan unsur luar-bahasa (ekstralingual) (Sobur, 2016:257).

Sehingga dapat peneliti sampaikan bahwa untuk memahami makna kita sebagai komunikan harus memiliki pengalaman yang sama mengenai suatu tanda. Seperti yang dikatakan oleh Schramm (Efendy, 1981) bahwa bidang pengalaman (field of experience) merupakan faktor yang penting dalam komunikasi. Jika bidang pengalaman komunikator sama dengan bidang pengalaman komunikan, komunikasi akan berlangsung dengan lancar. Sebaliknya bila pengalaman komunikan berlainan akan terdapat kesukaran untuk mengerti satu sama lain (Rohim, 2016:7).

2.8 Semiotika

Menurut Sobur (2016:16) secara etimologi, kata “semiotika” berasal dari bahasa Yunani, semeion, yang berarti “tanda” (Sudjiman dan van Jansz dalam Alex Sobur)

atau seme, yang berarti “penafsir tanda” (Cobley dan Jansz dalam Alex Sobur).

Semiotika berasal dari studi klasik dan skolastik atas seni logika, retorika, dan poetika. Tanda pada masa itu masih bermakna sesuatu hal yang menunjukan pada adanya hal lain. Contohnya, asap menandakan adanya api.

Semiotika adalah sebuah ilmu atau metode analisis untuk mengkaji tanda. Tanda-tanda adalah perangkat yang kita pakai dalam upaya berusaha mencari jalan didunia ini, ditengah-tengah manusia dan bersama-sama manusia (Sobur, 2016:15).

Dalam kehidupan sehari-hari tanda hadir dalam bentuk yang beraneka ragam, bisa berwujud simbol, lambang, kode, ikon, isyarat, sinyal, dan lain sebagainya.

Bahkan segala aspek kehidupan ini penuh dengan tanda. Dengan sarana tandalah manusia bisa berpikir, dan tanpa adanya tanda kita tidak dapat berkomunikasi.

Menurut Saussure (Sobur, 2016: vii) mengatakan bahwa kerangka langue, menjelaskan ‘tanda’ sebagai kesatuan yang tidak dapat dipisahkan dari dua bidang seperti halnya selembar kertas yaitu bidang penanda (signifier) untuk menjelaskan bentuk dan bidang petanda (signified), untuk menjelaskan konsep atau makna relasi ini disebut sebagai signifikasi (Signification). Dengan demikian semiotika signifikasi adalah semiotika yang mempelajari relasi elemen-elemen tanda didalam sebuah sistem, berdasarkan aturan main dan konvensi tertentu.

Sedangkan Menurut Peirce (Sobur, 2016:17) mengatakan bahwa tanda dalam pandangan Piece adalah sesuatu yang hidup dan dihidupi (cultivated), ia hadir dalam proses interpretasi (semiosis) yang mengalir. Pada dasarnya, semiosis dapat dipandang sebagai suatu proses tanda yang dapat diberikan dalam istilah semiotika sebagai suatu hubungan antara lain istilah:

S (s.i.e.r.c)

a. S adalah semiotic relation (hubungan semiotik), b. s untuk sign (tanda),

c. i untuk interpreter,

d. e untuk effect atau pengaruh, e. r untuk reference (rujukan), dan

f. c untuk context (konteks) atau conditions (kondisi).

Begitulah semiotika berusaha menjelaskan jalinan tanda atau ilmu tentang tanda, secara sistematik menjelaskan esensi, ciri-ciri, dan bentuk suatu tanda, serta proses signifikasi yang menyertanya.

Mempelajari semiotika sama dengan kita mempelajari tentang berbagai tanda.

Misalnya cara kita berpakaian, apa yang kita makan, dan cara kita bersosialisasi sebetulnya juga mengkomunikasikan hal-hal mengenai diri kita, dan dengan mempelajari semua hal itulah dapat kita pelajar semuanya sebagai tanda. Tanda itu sebenarnya bertebaran dimana-mana mulai dari sekujur tubuh kita, ketika kita berkata, ketika kita tersenyum, ketika kita menangis, ketika kita cemberut dan lain sebagainya.

Dalam dokumen BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN TEORI PENELITIAN (Halaman 33-40)

Dokumen terkait