• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN TEORI PENELITIAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN TEORI PENELITIAN"

Copied!
46
0
0

Teks penuh

(1)

BAB II

KAJIAN PUSTAKA DAN TEORI PENELITIAN

2.1 Penelitian Sejenis

Untuk penyusunan penelitian ini, peneliti mengambil berbagai sumber sebagai referensi. Mulai dari buku, jurnal, hingga yang didapat dari beberapa website. Peneliti juga menemukan beberapa acuan dari peneliti terdahulu sebagai perbandingan dengan penelitian ini, antara lain:

1. Nuky Maulana (41807821) Universitas Komputer Indonesia, judul penelitian Logo Milanisti Indonesia Sezione Bandung (Analisis Semiotika Charles Sanders Pierce Mengenai Logo Milanisti Indonesia Sezione Bandung). Metode penelitian yang digunakan pendekatan kualitatif dengan analisis semiotika (semiotic analysis). Tujuan Penelitian diantaranya untuk mengetahui tanda, objek, interpretan dan analisis semiotika logo Milanisti Indonesia Sezione Bandung.

Hasil dari penelitian Nuky sebagai berikut:

a. Tanda

Tanda dalam Logo Milanisti Indonesia Sezione Bandung terbagi dalam 3 komponen yaitu qualisign, sinsigns, legisingns. Qualisign disini merupakan elemen-elemen yang terdapat dalam Logo Milanisti Bandung itu sendiri, pembahasan ikon dalam penelitian ini adalah bagaimana keseluruhan dari semua simbol yang ada didalam elemen-elemen dasar Milanisti Bandung yang memiliki makna ikatan dan simbolisasi persaudaraan yang erat. Komponen yang kedua

(2)

adalah Sinsigns, linsigns disini adalah hubungan antara para pembuat logo dengan filosofi yang ada didalam Logo Milanisti Indonesia. Komponen tanda yang terakhir adalah legisingns, legisingns disini adalah merupakan kesepakatan secara serempak oleh para pembuat logo dalam memaknai setiap elemen-elemen yang ada didalam Logo Milanisti Bandung.

b. Object

Objek dalam teori Pierce yang diaplikasikan dalam bentuk logo terbagi atas tiga (3) komponen, yaitu konsep, abstraksi dan arti. Pengertian konsep disini merupakan suatu pemahaman awal dari bentuk elemen-elemen yang terdapat dalam Logo Milanisti Bandung, pembahasan konsep dalam penelitian ini adalah pemahaman arti dari elemen-elemen dalam membentuk suatu citra baru didalam Logo Milanisti Bandung. Komponen yang kedua adalah abstraksi, abstraksi adalah suatu proses dimana terdapat pertukaran ide-ide dalam pembuatan Logo Milanisti Bandung, pembahasan abstraksi dalam penelitian ini adalah simbolisasi karakter Milanisti yang terbentuk karena adanya kedekatan, kebersamaan, dan persahabatan dalam sebuah organisasi/komunitas penggemar club sepakbola.

Komponen terakhir dalam objek adalah arti. Arti adalah suatu makna yang terdapat dalam suatu lambang.

c. Interpretan

Pertama adalah rheme, rheme disini merupakan pemilihan bentuk elemen- elemen yang dipilih dan digunakan untuk dapat membuat sebuah logo yang baik berdasarkan filosofi yang ada sesuai dengan Milanisti itu sendiri. Komponen yang kedua adalah dicent sign, dicent sign adalah pembuatan logo berdasarkan

(3)

kenyataan, yaitu pemilihan bentuk elemen-elemen logo berdasarkan kenyataan dan filosofi yang ada dan diaplikasikan dalam bentuk Logo Milanisti Indonesia Sezione Bandung dan komponen interpretant yang terakhir adalah argument, argument adalah tanda yang infers seseorang terhadap sesuatu berdasarkan alasan tertentu. Pembahasannya argument dalam penelitan ini adalah memberikan makna secara langsung namun kembali lagi kepada nilai akan suatu isi pesan yang disampaikan oleh pembuat logo yang menghasilkan suatu bentuk visualisasi elemen-elemen logo pada saat pembuatan logo.

(http://elib.unikom.ac.id/files/disk1/603/jbptunikompp-gdl-nukymaulan-30149- 10-unikom_n-v.pdf diakses pada tanggal 29 November 2018 pukul 15.50 WIB)

2. Diki Andika (E1A.13.0519) Universitas Subang, judul penelitian Analisis Semiotika Logo Puspa Sari. Metode yang digunakan yaitu metode penelitian kualitatif dengan model kajian analisis semiotika. Tujuan penelitian untuk mengetahui makna yang terkandung dalam Logo Puspa Sari. Hasil Penelitiannya sebagai berikut:

a. Ground,

Tanda yang ada pada Logo Puspa Sari dengan lokasi perusahaannya berada didaerah Ciater, Kabupaten Subang, Provinsi Jawa Barat ini menandakan bahwa Logo Puspa Sari tersebut merupakan suatu simbol yang identik dengan Puspa Sari itu sendiri. Tanda-tanda yang terdapat pada Logo Puspa Sari berupa bentuk, warna dan tulisan dengan kandungan kesan didalamnya dapat menjadi sebuah cerminan perusahaan. Logo Puspa Sari merupakan suatu tanda yang

(4)

mencerminkan alam dan lingkungan serta menggambarkan aksi ketika konsumen atau pelanggan merasakan produk Puspa Sari, diantaranya merasakan suasana alam yang ada di Puspa Sari, sikap bersahabat dengan Puspa Sari, merasakan kesan romantisme, suasana keakraban, fleksible terhadap kebijakan, dan merasakan produk perusahaan yang berkarakter. Pembelajaran yang dapat diambil dari logo Puspa Sari ialah perlu dilakukan kegiatan pemeliharaan dan pelestarian alam.

b. Object

Objek yang ada pada Logo Puspa Sari menandakan adanya unsur-unsur pembentukan logo berupa bentuk, warna dan tulisan. Unsur-unsur tersebut terlihat menyerupai matahari terbenam, pohon-pohon, pegunungan, awan, dataran tanah, burung terbang, rumah atau hunian, dan kata Puspa Sari. Jika unsur-unsur tersebut disatukan akan menjadi subuah gambar utuh berupa pemandangan alam yang dapat dinikmati ketika berada di Puspa Sari, dengan kata “Puspa Sari” sebagai penjelas berupa nama. Tampilan logo yang demikian diciptakan karena dapat mewakili eksistensi dari perusahaan dan dikenal sebagai logo yang mencerminkan keadaan alam atau lingkungan Puspa Sari.

c. Interpretant

Kesan dinamis karena adanya unsur-unsur pembentuk logo pada Logo Puspa Sari dapat menjadikan logo tersebut mempunyai banyak makna, salah satu maknanya dapat digunakan oleh Puspa Sari yang merupakan perusahaan berjenis perhotelan dengan lokasi yang berada di kawasan pegunungan daerah Ciater.

Puspa Sari menempatkan posisinya sebagai suatu destinasi, oleh karena itu

(5)

tampilan logo Puspa Sari dapat mewakili posisinya tersebut. Tanda-tanda sebagai unsur pembentuk logo sesuai dengan keadaan Puspa Sari karena tanda-tanda tersebut dapat ditemukan di Puspa Sari.

3. Lisda Puspita Liswara Universitas Islam Bandung, judul penelitain Analisis Logo PT Televisi Transformasi Indonesia (Trans TV) periode 2013. Metode yang digunakan yaitu metode penelitian studi kualitatif dengan model kajian Analisis Semiotika Ferdinand De Saussure. Tujuan penelitian ini diantaranya untuk menjawab tiga pertanyaan berdasarkan tujuan dari penelitian diantaranya:

1) Bagaimana makna penanda dari logo PT. Televisi Transformasi Indonesia (Trans TV) periode 2013?

2) Bagaimana makna Petanda dari logo PT. Televisi Transformasi Indonesia (Trans TV) periode 2013?

3) Bagaimana makna logo PT. Televisi Transformasi Indonesia (Trans TV) periode 2013 dilihat dari corporate identitty?

Atas dasar pertanyaan-pertanyaan tersebut maka hasil penelitiannya adalah berupa jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang menjadi tujuan dari penelitian, yang antara lain sebagai berikut:

1) Penanda merupakan suatu bentuk/wujud fisik yang dapat dikenal melalui wujud karya Trans TV dalam Logo Trans TV periode 2013 tersebut. Dimana logo baru terkunci dengan simbol dan logotype horizontal. Pada logo menggunakan berlian pada huruf “A” yang dipadukan dengan campuran

(6)

warna kuning, hijau, biru dan ungu dengan maksud me-refresh logo lama yang hanya didominasi warna biru.

2) Petanda pada logo Trans TV periode 2013 adalah makna yang terungkap melalui konsep, fungsi dan/atau nilai-nilai yang terkandung di dalam logo tersebut. Makna yang terungkap diantaranya berupa gambaran kekuatan, keabadian, kebaruan, kemewahan dan kreatifitas yang tercermin dalam program baru yang lebih fenomenal untuk menghibur dan memenuhi kebutuhan masyarakat sebagai khalayak penontonnya.

3) Logo merupakan corporate identity perubahan logo Trans TV masih mempertahankan bentuk berlian namun visualisasinya berubah dari fokus bentuk menjadi lebih tertuju pada esensi warna dan kilauan berlian yang mempresentasikan keragaman karakter dan program Trans TV. Upaya ini dilakukan sebagai rebranding yang berfokus pada dua hal yaitu adanya kepemimpinan baru dan analisa prospektif pasar akibat adanya pesaing baru yaitu NET TV.

(http:///repository.unisba.ac.id)

(7)

Table 2.1

Review Hasil Penelitian Sejenis

Sumber Skripsi Skripsi Skripsi Skripsi

Peneliti Nuky Maulana (41807821) Universitas Komputer Indonesia

Diki Andika (E1A.13.0519) Universitas Subang

Lisda Puspita Liswara Universitas Islam Bandung

Riska Maesaroh (E1A.15.0403) Universitas Subang

Judul Penelitian

Logo Milanisti Indonesia Sezione Bandung

(Analisis

Semiotika Charles Sanders Pierce Mengenai Logo Milanisti

Indonesia Sezione Bandung)

Analisis Semiotika Logo Puspa Sari

Analisis Logo PT Televisi Trasformasi Indonesia (Trans TV) periode 2013

Makna Logo SMKN 2 Subang (Analisis Semiotika Charles

Sanders Pierce Mengenai Makna Logo S MKN 2 Suban g)

Tujuan Penelitain

Untuk mengetahui tanda, objek, interpretan dan analisis semiotika logo Milanisti Indonesia Sezione Bandung

Untuk mengetahui makna yang terkandung dalam Logo Puspa Sari

a.Untuk men getahui makna penanda dari Logo PT.

Televisi Trasformas i Indonesia (Trans TV)

Untuk mengetahui makna yang terkandung dalam Logo SMKN 2 Subang

(8)

periode 2013.

b.Untuk men getahui makna Petanda dari Logo PT.

Televisi Trasformas i Indonesia (Trans TV) periode 2013.

c. Untuk mengetahu i makna Logo PT.

Televisi Trasformas i Indonesia (Trans TV) periode 2013 dilihat dari corporate identitty.

Metode Penelitian

Pendekatan kualitatif dengan analisis semiotika

Pendekatan kualitatif dengan model

studi kualitatif dengan

penelitian kuali tatif melalui an alisis Semiotik

(9)

menurut perspekti f Charles Sanders Peirce

kajian analisis semiotika men urut perspektif Charles Sander s Peirce

model kajian analisis semiotika Ferdinand De Saussure

a menurut pers pektif Charles Sanders Peirce

Kesimpula n

Penelitian

a. Tanda

Tanda dalam logo Milanisti

Indonesia Sezione Bandung terbagi dalam 3

komponen yaitu qualisign, sinsigns, legisingns.

Qualisign disini merupakan elemen-elemen yang terdapat dalam Logo Milanisti Bandung itu sendiri,

pembahasan ikon dalam penelitian ini adalah bagaimana keseluruhan dari semua simbol yang ada di dalam

a.Ground, tanda yang ada pada Logo Puspa Sari dengan lokasi perusahaannya berada

didaerah Ciater, Kabupaten Subang, Provinsi Jawa Barat ini menandakan bahwa Logo Puspa Sari tersebut merupakan suatu simbol yang identik dengan Puspa Sari itu

sendiri. Tanda- tanda yang terdapat pada

a.Penanda merupakan suatu bentuk/wuju d fisik yang dapat dikenal melalui wujud karya Trans TV dalam Logo Trans TV periode 2013 tersebut.

Dimana logo baru

terkunci dengan simbol dan logotype horizontal.

Pada logo menggunaka n berlian pada huruf

1.Ground Logo SMKN 2 Subang oleh Pierce dibagi menjadi 3 (tiga) yaitu Qualisign, Sinsign,Legisig n.a. Qualisign (Kualitas) yang terkandung dalam Logo SMKN 2 Subang diantaranya ada bumi, laut dan layar yang mengandung filosofi mengenai kehidupan yang mengarah pada akhirat dengan berpegangan

(10)

elemen-elemen dasar Milanisti Bandung yang memiliki makna ikatan dan simbolisasi persaudaraan yang erat.

Komponen yang kedua adalah sinsigns, sinsigns disini adalah hubungan antara para pembuat logo dengan filosofi yang ada di dalam Logo Milanisti Indonesia.

Komponen tanda yang terakhir adalah legisigns, legisigns disini adalah merupakan kesepakatan secara serempak oleh para pembuat logo dalam memaknai setiap elemen-elemen yang ada di dalam

Logo Puspa Sari berupa bentuk, warna dan tulisan dengan kandungan kesan didalamnya dapat menjadi sebuah

cerminan perusahaan.

Logo Puspa Sari

merupakan suatu tanda yang

mencerminkan alam dan lingkungan serta

menggambark an aksi ketika konsumen atau pelanggan merasakan produk Puspa Sari,

diantaranya merasakan

“A” yang dipadukan dengan campuran warna kuning, hijau, biru dan ungu dengan maksud me- refresh logo lama yang hanya didominasi warna biru.

b.Petanda pada Logo Trans TV periode 2013 adalah makna yang terungkap melalui konsep, fungsi dan/atau nilai-nilai yang terkandung di dalam

teguh pada Tuhan yang Maha Esa.

Sinsign (Eksistensi) yang terkandung dalam Logo SMKN 2 Subang adalah kehidupan yang berlanjut dengan adanya sumber-sumber penunjang seperti yang ada di laut dan di darat.

c.Legisign (Norma) yang terkandung dalam Logo SMKN 2 Subang adalah Taruna

Stempert dituntut untuk memiliki kepribadian yang

(11)

Logo Milanisti Bandung b. Objek

Objek dalam teori dari Pierce yang diaplikasikan dalam bentuk logo terbagi atas 3 komponen, yaitu konsep, abstraksi dan arti.

Pengertian konsep disini merupakan suatu pemahaman awal dari bentuk elemen-elemen yang terdapat dalam Logo Milanisti Bandung, pembahasan konsep dalam penelitian ini adalah

pemahaman arti dari elemen- elemen dalam membentuk suatu citra baru didalam Logo Milanisti

suasana alam yang ada di Puspa Sari, sikap bersahabat dengan Puspa Sari,

merasakan kesan romantisme, suasana keakraban, fleksible terhadap kebijakan, dan merasakan produk perusahaan yang

berkarakter.

Pembelajaran yang dapat diambil dari Logo Puspa Sari ialah perlu dilakukan kegiatan pemeliharaan dan pelestarian alam.

logo tersebut.

Makna yang terungkap diantaranya berupa gambaran kekuatan, keabadian, kebaruan, kemewahan dan

kreatifitas yang tercermin dalam program baru yang lebih fenomenal untuk menghibur dan

memenuhi kebutuhan masyarakat sebagai khalayak penontonnya .

berkarakter, inisiatif, idealisme, memiliki cita- cita dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.

2.Komponen yang kedua yaitu Objek (Object) dalam Logo SMKN 2 Subang oleh Pierce dibagi menjadi 3 (tiga) yaitu Icon, Index, Symbol.

a.Icon (tanda dan objek yang bersifat

kemiripan) yang terkandung dalam Logo SMKN 2 Subang sebagai berikut:

(12)

Bandung.

Komponen yang kedua adalah abstraksi, abstraksi adalah suatu proses dimana terdapat pertukaran ide-ide dalam pembuatan logo Milanisti Bandung, pembahasan abstraksi dalam penilitian ini adalah simbolisasi karakter Milanisti yang terbentuk karena adanya kedekatan,

kebersamaan, dan persahabatan dalam sebuah organisasi / komunitas penggemar klub sepakbola.

Komponen terakhir dalam objek adalah arti.

Arti adalah suatu

b.Object, objek yang ada pada Logo Puspa Sari menandakan adanya unsur- unsur

pembentukan logo berupa bentuk, warna dan tulisan.

Unsur-unsur tersebut terlihat menyerupai matahari terbenam, pohon-pohon, pegunungan, awan, dataran tanah, burung terbang, rumah atau hunian, dan kata Puspa Sari. Jika unsur-unsur tersebut disatukan akan menjadi subuah gambar

c.Logo merupakan corporate identity perubahan Logo Trans TV masih mempertaha nkan bentuk berlian namun visualisasiny a berubah dari fokus bentuk menjadi lebih tertuju pada esensi warna dan kilauan berlian yang mempresent asikan keragaman karakter dan program Trans TV.

Upaya ini dilakukan sebagai

1.Segi empat sebagai bentuk dasar

2.Dua buah kata satu angka (SMKN 2 Subang) sebagai penegas 3.Lingkaran sebagai bumi 4.Setengah lingkaran sebagai laut 5.Tiga buah segitiga dengan ukuran yang berbeda sebagai layar 6.Warna sebagai petunjuk makna b.Index (Hubungan alamiah antara tanda dan petanda bersifat kausal) yang

(13)

makna yang terdapat dalam suatu lambang.

c.Interpretant Yang pertama adalah Rheme, rheme disini merupakan pemilihan

pemilihan bentuk elemen-elemen yang dipilih dan digunakan untuk dapat membuat sebuah logo yang baik berdasarkan filosofi yang ada sesuai dengan Milanisti itu sendiri.

Komponen yang kedua adalah dicent sign, dicent sign adalah pembuatan logo berdasarkan kenyataan, yaitu pemilihan bentuk elemen-elemen logo berdasarkan

utuh berupa pemandangan alam yang dapat dinikmati ketika berada di Puspa Sari, dengan kata

“Puspa Sari”

sebagai penjelas berupa nama.

Tampilan logo yang demikian diciptakan karena dapat mewakili eksistensi dari perusahaan dan dikenal sebagai logo yang

mencerminkan keadaan alam atau

lingkungan Puspa Sari.

c.Interpretant, kesan dinamis karena adanya

rebranding yang berfokus pada dua hal yaitu adanya kepemimpin an baru dan analisa prospektif pasar akibat adanya pesaing baru yaitu NET TV.

terkandung dalam Logo SMKN 2 Subang adalah tampilan Logo SMKN 2 Subang yang diciptakan oleh Bapak

Priyanto.

c.Symbol (Hubungan alamiah antara penanda dan petanda bersifat

arbiter/semena) yang

terkandung dalam Logo SMKN 2 Subang adalah Logo SMKN 2 Subang sendiri yang dikenal sebagai sekolah yang memiliki disiplin tinggi.

3.Komponen

(14)

kenyataan dan filosofi yang ada dan diaplikasikan dalam bentuk Logo Milanisti Indonesia Sezione Bandung dan komponen interpretant yang terakhir adalah argument, argument adalah tanda yang infers seseorang

terhadap sesuatu berdasarkan alasan tertentu.

Pembahasannya argument dalam penelitan ini adalah memberikan makna secara langsung namun kembali lagi kepada nilai akan suatu isi pesan yang disampaikan oleh pembuat logo yang

unsur-unsur pembentuk logo pada Logo Puspa Sari dapat menjadikan logo tersebut mempunyai banyak makna, salah satu maknanya dapat digunakan oleh Puspa Sari yang merupakan perusahaan berjenis perhotelan dengan lokasi yang berada dikawasan pegunungan daerah Ciater.

Puspa Sari menempatkan posisinya sebagai suatu destinasi, oleh karena itu

yang ketiga yaitu Interpretasi (Interpretant) dalam Logo SMKN 2 Subang oleh Pierce dibagi menjadi 3 (tiga) yaitu Rheme, Dicentsign, Argument.

a.Rheme (Penafsiran seseorang berdasarkan pilihan) yang terkandung dalam Logo SMKN 2 Subang, apa yang

divisualisasika n serta ada dalam logo misalnya setengah lingkaran yang berwarna biru

(15)

menghasilkan suatu bentuk visualisasi elemen-elemen logo pada saat pembuatan logo.

tampilan Logo Puspa Sari dapat mewakili posisinya tersebut.

Tanda-tanda sebagai unsur pembentuk logo sesuai dengan keadaan Puspa Sari karena tanda-tanda tersebut dapat ditemukan di Puspa Sari.

muda

memvisualisasi kan sebagai laut.

b.Dicent sign (Tanda yang menginformasi kan sesuatu) yang

terkandung dalam Logo SMKN 2 Subang biasanya berbentuk proposisi yang ditandakan dengan adanya tulisan “SMKN 2 SUBANG”.

c.Argument (Tanda yang langsung memberikan alasan tentang sesuatu) yang terkandung dalam Logo SMKN 2 SUBANG

(16)

adalah logo yang

menginformasi kan arti dari visualisasi atau icon-icon yang ada dalam Logo SMKN 2 SUBANG.

Persamaan Objek penelitianya adalah logo yang diteliti makna yang terkandung didalam logo tersebut

Objek penelitianya adalah logo yang diteliti makna yang terkandung didalam logo tersebut

Objek penelitianya adalah logo yang diteliti makna yang terkandung didalam logo tersebut

Objek penelitianya adalah logo yang diteliti makna yang terkandung didalam logo tersebut Perbedaan Subjek dan Objek

penelitiannya.

Peneliti ini meneliti logo komunitas pecinta sepakbola

sedangkan penelitian yang peneliti lakukan saat ini meneliti logo Lembaga Pendidikan

Subjek dan Objek

penelitiannya.

Peneliti ini meneliti logo perusahaan swasta dibidang produk jasa perhotelan sedangkan penelitian yang peneliti

Metode penelitian studi kualitatif analisis semiotika Ferdinand De Saussure yang terbagi atas penanda dan petanda sedangkan teori yang di

Subjek dan Objek yang digunakan oleh peneliti yaitu Logo yang digunakan oleh SMKN 2 Subang.

(17)

lakukan saat ini meneliti logo Lembaga Pendidikan

gunakan peneliti yaitu teori Charles Sanders Pierce yang berfokus pada makan Ground, Object dan Interpretant

2.2 Komunikasi

2.2.1 Pengertian Komunikasi

Komunikasi merupakan sebuah kegiatan yang dilakukan oleh dua orang atau lebih. Dalam hal ini, pengertian komunikasi banyak peneliti temukan diberbagai sumber seperti buku, internet, jurnal dan lain sebagainya. Definisi komunikasi menurut para ahli sangat beragam dilihat dari konten serta konteksnya, sesuai dengan disiplin ilmu yang ada diantaranya seperti psikologi, sosiologi, antropologi, manajem en, linguistik, ilmu politik, elektronik, matematika dan disiplin ilmu lainnya.

Dapat peneliti sampaikan bahwa Logo SMKN 2 Subang mempunyai suatu pesan tersirat atau pesan nonverbal yang didalamnya mengandung makna dan gambaran mengenai SMK Negeri 2 Subang. Sehingga peneliti setuju dengan pernyataan, dibawah ini:

Komunikasi menyarankan bahwa suatu pikiran, suatu makna, atau suatu pesan dianut secara sama. (Dedi Mulyana, 2017:46)

(18)

Dalam proses komunikasi verbal maupun nonverbal seorang komunikan harus mampu memahami pesan yang disampaikan oleh komunikator. Selain itu, komunikan dituntut untuk memahami makna yang terkandung dalam pesan.

Rohim (2016:14) menyatakan bahwa Makna merupakan sesuatu yang diambil seseorang dari suatu pesan. Dalam komunikasi pesan dapat memiliki lebih dari satu makna dan bahkan berlapis-lapis makna, tanpa berbagi makna kata-kata semua akan mengalami kesulitan dalam menggunakan bahasa yang sama atau dalam menginterpretasikan suatu kejadian yang sama.

Makna dapat terbentuk dari simbol-simbol yang diciptakan oleh komunikator serta dapat di interpretasikan. Makna merupakan bagian yang sangat penting dalam komunikasi. Menurut Richard West dan Lyn H. Turner (2007) memberikan batasan bahwa komunikasi (communication) adalah proses sosial dimana individu-individu menggunakan simbol-simbol untuk menciptakan dan menginterpretasikan makna dalam lingkungan mereka. (Rohim, 2016:11)

Simbol menjadi salah satu media seorang komunikator dalam menyampaikan pesan yang mengandung makna kepada komunikan. Theodorson (1969) Mengemukakan bahwa Komunikasi adalah proses pengalihan informasi dari satu orang atau sekelompok orang dengan menggunakan simbol-simbol tertentu kepada satu orang atau kelompok lain. (Rohim, 2016:11)

Dari teori diatas peneliti dapat menyimpulkan bahwa adanya suatu pesan yang disampaikan melalui berbagai media seperti simbol-simbol yang mengandung makna kepada satu orang atau lebih. Melihat dari pernyataan diatas dan dikaitkan dengan Logo SMKN 2 Subang peneliti menitik beratkan pada makna yang dibuat oleh pembuat Logo SMKN 2 Subang adalah berusaha menyampaikan gambaran mengenai identitas, tujuan dan karakter SMK Negeri 2 Subang. Gambaran tersebut dapat dilihat

(19)

dari tampilan visual Logo SMKN 2 Subang. Sehingga pemikiran yang dibangun mengenai makna Logo SMKN 2 Subang harus sama dengan kondisi SMKN 2 Subang.

2.2.2 Prinsip Komunikasi

Dalam kehidupan sehari-hari manusia menentukan hidupnya tergantung pada prinsip setiap individu. Begitupun dengan komunikasi yang harus memiliki prinsip agar dapat mencapai tujuanyang diharapkan oleh komunikator.

Prinsip menurut KBBI berarti:

Asas (kebenaran yang menjadi pokok dasar berpikir, bertindak, dan sebagainya);

dasar. (https://kbbi.kemdikbud.go.id)

Sedangkan prinsip dalam komunikasi menurut Dedi Mulyana (2017:92) bahwa:

Komunikasi adalah proses simbolik salah satu kebutuhan pokok manusia, seperti dikatakan Sussanne K. Langer adalah kebutuhan-kebutuhan simbolisasi atau pen ggunaan lambang. Lambang atau simbol adalah sesuatu yang digunakan untuk m enunjuk suatu lainnya, berdasarkan kesepakatan sekelompok orang. Lambang me liputi kata-kata (pesan verbal), perilaku nonverbal dan objek maknanya disepakat i bersama.

Peneliti sepakat dengan pernyataan diatas, menurut peneliti Logo merupakan sebuah lambang atau simbol yang digunakan untuk menunjukan wajah suatu lembaga atau sebagai wakil dari lembaga tersebut.

Prinsipnya selanjutnya yang dikatakan oleh Dedi Mulyana (2017:111) sebagai berikut:

Komunikasi berlangsung dalam tingkat kesengajaan setiap tindakan komunikasi yang dilakukan seseorang bisa terjadi mulai dari tingkat kesengajaan yang rendah artinya tingkat komunikasi yang tidak direncanakan.

(20)

Logo SMKN 2 Subang dibuat dengan sengaja untuk menggambarkan kondisi SMKN 2 Subang dengan tampilan visual yang didalamnnya mengandung pesan yang bermakna dari komunikator.

2.2.3 Fungsi Komunikasi

Mulyana (2017:5-6) dalam bukunya Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar menjelas kan bahwa fungsi komunikasi sebagai komunikasi sosial setidaknya mengisyaratkan bahwa komunikasi itu penting untuk membangun konsep-konsep diri kita, aktualisasi diri, untuk kelangsungan hidup untuk memperoleh kebahagiaan, terhendar dari tekana n dan ketegangan antara lain melalui komunikasi yang bersifat menghibur dan memu puk hubungan orang lain.

Diantara fungsi komunikasi yaitu konsep diri, pernyataan eksistensi diri, kelangs ungan hidup, memupuk hubungan dan memperoleh kebahagiaan.

Menurut William I. GordenFungsi komunikasi sebagai berikut:

1. Sebagai Komunikasi Sosial, mengisyaratkan bahwa komunikasi penting untuk membangun konsep diri kita, aktualisasi diri, untuk kelangsungan hidup, untu k memperoleh kebahagian, terhindar dari tekanan dan ketegangan, antara lain lewat komunikasi yang menghibur, dan memupuk hubungan dengan orang lai n. (Dedi Mulyana,2017:5-6)

2. Sebagai Komunikasi Ekspresif, untuk menyampaikan perasaan-perasaan (emo si) kita. Pesan-pesan tersebut terutama dikomunikasikan melalui pesan-pesan nonverbal. (Dedi Mulyana,2017:24)

(21)

3. Sebagai Komunikasi Ritual, suatu komunitas sering melakuakan upacara-upac ara berlainan sepanjang tahun dan sepanjang hidup, yang disebut para antropo log sebagai rite of passage, mulai dari upacara kelahiran, dll. (Dedi Mulyana,2 017:27)

4. Sebagai Komunikasi Instrumental, komunikasi instrumental mempunyai beber apa tujuan umum yaitu, menginformasikan, mengajar, mendorong, mengubah sikap, menggerakan tindakan, dan juga menghibur. (Dedi Mulyana,2017:33)

2.3 Komunikasi Non Verbal

Dalam proses komunikasi ada dua macam bentuk komunikasi yaitu komunikasi v erbal dan komunikasi nonverbal. Komunikasi verbal merupakan komunikasi yang me nggunakan kata-kata, bisa berbentuk lisan maupun tulisan. Sedangkan komunikasi no nverbal merupakan komunikasi yang tidak berbentuk lisan maupun tulisan melainkan gerakan tubuh, ekspresi wajah dan lain sebagainya. Sehingga dalam kenyataannya ba hwa kedua bentuk komunikasi ini saling jalin menjalin, saling melengkapi dalam kehi dupan sehari-hari.

Disadari atau tidak Komunikasi nonverbal tidak kalah penting dari komunikasi v erbal, karena dalam komunikasi nonverbal terkandung pesan yang tersirat dan memili ki makna tertentu yang diberikan komunikator kepada komunikan. Dalam hal ini kom unikan dituntut untuk mampu memahami makna apa yang terkandung dalam pesan n onverbal agar komunikasi yang dilakukan dapat berjalan sesuai dengan yang diharapk an. Pengertian menurut salah satu ahli sebagai berikut:

(22)

Menurut Mark L. Knapp (Mulyana,2017:384) Mengatakan bahwa Komunikasi N onverbal adalah komunikasi yang menggunakan pesan-pesan nonverbal. Istilah no nverbal biasanya digunakan untuk melukiskan semua peristiwa komunikasi diluar kata-kata terucap dan tulisan.

Komunikasi nonverbal merupakan informasi yang tersirat yang diberikan oleh komunikator kepada komunikan tanpa menggunakan bahasa. Sehingga penelitipun setuju dengan pernyataan dibawah ini:

Menurut Budyatna dan Ganiem (2011:110) Komunikasi Nonverbal adalah setiap i nformasi atau emosi dikomunikasikan tanpa menggunakan kata-kata atau nonling uistik.

Komunikasi nonverbal juga dapat dilakukan oleh seorang komunikator secara sengaja maupun tidak disengaja, disadari maupun tidak pesan-pesan nonverbal akan bermakna bagi komunikan. Seperti yang dikatakan oleh ahli dibawah ini:

Menurut Larry A. Samovar dan Richard E. Porter (Dedi Mulyana,2017:343) Kom unikasi Nonverbal mencangkup semua rangsangan (kecuali rangsangan verbal) da lam suatu setting komunikasi, yang dihasilkan oleh individu dan penggunaan ling kungan oleh individu, yang mempunyai nilai pesan potensial bagi pengirim atau p enerima, jadi definisi ini mencakup perilaku yang disengaja juga tidak disengaja s ebagai bagian dari peristiwa komunikasi secara keseluruhan, kita mengirim banya k pesan nonverbal tanpa menyadari bahwa pesan-pesan tersebut bermakna bagi or ang lain.

Melihat dari definisi diatas dapat peneliti simpulkan bahwa komunikasi nonverbal memiliki peranan penting dalam proses komunikasi, selain itu komunikasi nonverbal juga menjadi pelengkap dari komunikasi verbal agar pesan yang disampaikan sesuai d engan yang diharapkan oleh komunikator.

Adapun jenis pesan nonverbal yang dianggap penting oleh peneliti dalam melaku kan penelitian mengenai Makna Logo SMKN 2 Subang, sebagai berikut:

(23)

a. Warna, warna sering digunakan untuk menunjukan suasana emosional, cit a rasa, afiliasi politik, dan bahkan keyakinan agama. Contohnya, warna m erah muda adalah warna feminim, warna biru adalah warna maskulin (Mul yana, 2017:427).

b. Artefak, artefak adalah benda apa saja yang dihasilkan oleh kecerdasan ma nusia. Benda-benda yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup ma nusia dan dalam interaksi manusia, sering menggunakan makna-makna ter tentu.

c. Penampilan, identitas seseorang biasanya terbaca dari penampilan, sehing ga penampilan terkadang membantu seseorang dalam memberikan kesan (Suminar,2013:87).

Dari penjelasan mengenai jenis-jenis pesan nonverbal diatas maka dapat peneliti simpulkan bahwa pesan-pesan nonverbal tersebut merupakan jenis tanda/simbol yang hendak diberi makna atau peneliti sebut dengan bentuk komunikasi visual. Komunika si visual merupakan salah satu bentuk komunikasi yang digunakan untuk menyampai kan pesan berupa gambar-gambar, grafik-grafik, lambang-lambang, atau simbol-simb ol (Suminar,2013:91).

2.4 Desain Komunikasi Visual

2.4.1 Pengertian Desain Komunikasi Visual

(24)

Desain komunikasi visual sebagaimana disampaikan oleh Kusriyanto dalam buku Pengantar Desain Komunikasi Visual (2007) adalah suatu disiplin ilmu yang bertujuan mempelajari konsep-konsep komunikasi serta ungkapan kreatif melalui berbagai media untuk menyampaikan pesan dan gagasan secara visual dengan mengelola elemen-elemen grafis yang berupa bentuk dan gambar, tatanan huruf, serta komposisi warna dan layout (tata letak/perwajahan). Dengan demikian gagasan bisa diterima oleh orang atau kelompok yang menjadi sasaran penerima pesan. (Sriwitari dan Widnyana, 2014:vi)

Desain Komunikasi visual (DKV) sebelumnya dikenal dengan desain grafis merupakan cabang ilmu seni rupa dan seni grafis. Jangkauan desain grafis yang hanya berorientasi pada grafis dwimatra dianggap kurang pas untuk mendefinisikan semakin beragamnya media yang menggunakan komunikasi visual berbasis IT. Perkembangan teknologi dan komunikasi yang semakin pesat mempengaruhi tumbuhnya bermacam kebutuhan informasi dan media visual (multimedia) yang memerlukan keterampilan dibidang komunikasi visual. (Sriwitari dan Widnyana, 2014:1)

Karya dari Desain Komunikasi Visual dapat kita jumpai dimana-mana dalam keseharian kita, seperti iklan, internet, poster, signboard, katalog. Brosur, kartu nama, kemasan, baliho, logo, hingga animasi dan lain sebagainya. Berikut adalah beberapa bidang-bidang keahlian yang berada dalam ruang lingkup DKV yang peneliti rangkum menurut Kusriyanto (2007):

a. Desain Grafis (graphic Design), membutuhkan keahlian untuk memanajemen gambar menjadi alat komunikasi yang efektif dengan berbasis teknologi komputer grafis. (Sriwitari dan Widnyana, 2014:9)

(25)

Gambar 2.1 Contoh Desain Grafis

Sumber: Google.com (Data telah diolah oleh peneliti)

b. Perancangan identitas visual (visual identity), desain identitas sebuah perusahaan yang terdiri dari perlengkapan stationary (logo, kop surat, amplop dan kartu nama). (Sriwitari dan Widnyana, 2014:10)

Gambar 2.2 Contoh Perancangan Identitas Visual

Sumber: Google.com (Data telah diolah oleh peneliti)

c. Logo dan logotype (Corporate identity), desain identitas sebuah perusahaan yang terdiri dari perlengkapan stationary (logo, kop surat, amplop dan kartu nama).

(Sriwitari dan Widnyana, 2014:11)

(26)

d. Pendesain huruf (typeface designer), salah satu jenis huruf Sans Serif yang bisa ditemukan pada koleksi front computer. (Sriwitari dan Widnyana, 2014:13)

Gambar 2.3 Contoh Pendesain Huruf

Sumber: Google.com (Data telah diolah oleh peneliti)

2.5 Logo

2.5.1 Pengertian Logo

Ada beberapa pengertian Logo yang peneliti tulisakan untuk membantu peneliti dalam mengupas Makna Logo SMKN 2 Subang, diantaranya:

Logo adalah penyingkatan dari logotype. Istilah logo baru muncul tahun 1937 dan kini istilah logo lebih populer dari pada logotype. Logo bisa menggunakan elemen apa saja, seperti tulisan, logogram, gambar, ilustrasi dan lain-lain. Ada juga yang mengatakan logo adalah elemen gambar/simbol pada identitas visual. (Surianto Rustan, 2017:13)

Sedangkan Menurut KBBI Logo adalah huruf atau lambang yang mengandung makna, terdiri atas satu kata atau lebih sebagai lambang atau nama perusahaan dan sebagainya. (https://kbbi.web.id/logo diakses pada tanggal 3 Desember 2018 pk 16.38 WIB)

(27)

Menurut Mikke Susanto (2002), logo adalah tanda yang berfungsi sebagai identitas. Dapat sebagai identitas lembaga, perorangan, perusahan, identitas asal daerah, dll. Terbentuknya logo bisa sajakarena ada nya latar belakang kultur, produk yang dihasilkan, citra atau image (modern, canggih, klasik, futuris, dll.). (Sriwitari dan Widnyana, 2014:98)

Pujiyanto (2013) mengatakan bahwa logo berasal dari kata Yunani yaitu Logos, yang berarti kata pikiran, pembicaraan, dan akal budi. Pada awalnya yang lebih dulu popular adalah istilah logotype, dan bukan logo. (Sriwitari dan Widnyana, 2014:98)

Dari penjelasan diatas peneliti dapat simpulkan bahwa Logo merupakan kumpulan dari simbol-simbol yang memiliki makna tertentu sehingga dapat menjadi identitas sebuah lembaga. Oleh Karena itu menurut Sriwitari dan Widnyana (2014:105) dilihat dari tampilannya, logo dapat dibedakan atas lima yaitu:

1. Logotype, yaitu sebuah logo yang dibentuk dari nama produk atau perusahan secara lengkap seperti: CocaCola, Adidas, Puma, Pepsi, dll.

Gambar 2.4 Contoh Logotype

Sumber: Google.com (Data telah diolah oleh peneliti)

2. Logotype, yaitu sebuah logo yang hanya mendeformasi huruf pertamanya saja dari produk atau perusahan seperti: S (uperman), M (ac donal).

(28)

Gambar 2.5 Contoh Logotype

Sumber: Google.com (Data telah diolah oleh peneliti)

3. Logogram/Pictorial Visual, yaitu sebuah logo yang dengan mempresentasi objek untuk menggambarkan citra produk, perusahan, atau organisasi berupa gambar tertentu seperti contoh: logo Playboy yang menggambarkan seekor kelinci memakai dasi kupu-kupu.

Gambar 2.6 Logogram/Pictorial Visual

Sumber: Google.com (Data telah diolah oleh peneliti)

4. Abstrak Visual, yaitu sebuah logo yang memakai bentuk visual yang abstrak yang dapat mencitrakan produk, jasa, perusahan, atau organisasi.

Gambar 2.7 Contoh Abstrak Visual

(29)

Sumber: Google.com (Data telah diolah oleh peneliti)

5. Kombinasi/Gabungan Bentuk-Bentuk, yaitu sebuah logo yang memanfaatkan berbagai bentuk sebagai unsur pembentuk logo. Dimana dalam logo tersebut bisa saja ada unsur huruf, angka, gambar, wama, dll.

Gambar 2.8 Contoh Kombinasi/Gabungan Bentuk-Bentuk

Sumber: Google.com (Data telah diolah oleh peneliti)

2.5.2 Unsur Pembentuk Logo

Dalam dunia desain grafis dua dimensi berlaku juga demikian. Yang paling cepat dilihat oleh otak manusia pertama kali adalah bentuk dasar (basic shapes/

primitive shapes) contohnya lingkaran, segitiga, kotak, dan lain-lain. Kedua adalah warna. Ketiga adalah huruf/teks, karena huruf/teks sebenarnya dibangun dari berbagai bentuk dasar sehingga otak perlu proses untuk menerjemahkannya terlebih dulu. (Rustan, 2012:46)

(30)

2.5.2.1 Bentuk dasar

Untuk mengetahui bentuk dari Logo maka seorang komunikan harus mengetahui terlebih dahulu hubungan antara bentuk dasar dan sifat yang terkandung didalamnya. Adapun bentuk logo yang dimaksud, peneliti beracuan pada Rustan (2017:47)

a. Hubungan arah garis dan sifatnya sebagai berikut:

1) Garis mendatar/ Harisontal mengandung arti pasif, statis, berhenti, tenang/tentram, rasional, formal, basis/dasar, dataran, negatif/minus, pembatalan.

2) Garis tegak/vertikal, yang berarti aktif, tinggi, agung/mulia, megah, angkuh, spiritual, kesatuan, tunggal, kepemilikan, kekuatan, absolut, terkemuka.

3) Garis miring/diagonal, yang berati dinamis, bergerak mengarah, informal, tidak stabil, larangan, pembatalan.

Menurut Adi Kusrianto (2007), goresan suatu garis memiliki arti / kesan berikut:

1) Garis Tegak: Kuat, kokoh, tegas, dan hidup 2) Garis Datar: Lemah, tidur, dan mati

3) Garis Lengkung: Lemah, lembut, mengarah 4) Garis Miring: Sedang, menyudut

5) Garis Berombak: Halus, lunak, berirama

b. Hubungan bentuk dasar dan sifatnya sebagai berikut:

1) Lingkaran, yang berarti dinamis, bergerak, kecepatan, berulang, tak terputus, tak berawal dan tak berakhir, abadi, kualitas, dapat diandalkan,

(31)

sempurna, matahari, kehidupan semesta.

2) Segi empat, yang berarti stabil, diam, kokoh, tangguh, rasional, keunggulan, teknis, formal, sempurna, dapat diandalkan, kejujuran, integritas.

3) Segitiga, yang berarti diam, kokoh, megah, teguh, rasional, tritunggal, api, kekuatan, gunung, harapan, terarah, progres, bernilai, suci, sukses, sejahtera, keamanan.

2.5.2.2 Warna

Warna menjadi salah satu unsur penting dalam pembuatan logo. Disadari atau tidak warna memainkan peran yang sangat besar dalam pengambilan keputusan untuk memilih suatu benda.

Penelitian yang dilakukan oleh institute for Color Research di Amerika (sebuah istitut penelitian tentang warna) menemukan bahwa seseorang dapat mengambil keputusan terhadap orang lain, lingkungan maupun produk dalam waktu hanya 90 detik saja dan 90%-nya didasari oleh warna. Warna juga meningkatkan brand recognition sebanyak 80% menurut penelitian yang dilakukan oleh University of Loyola, Chicago, Amerika. (Rustan,2017:72)

Menurut Rustan Berikut ini adalah daftar warna dan maknanya (2009:73):

a) Abu-abu: dapat diandalkan, keamanan, elegan, rendah hati, rasa hormat, stabil, kehalusan, bijaksana, masa lalu, bosan, kebusukan, renta, polusi, urban, emosi yang kuat, seimbang, netral, perkabungan, formal, bulan Maret.

b) Putih: rendah hati, suci, netral, tidak kreatif, masa muda, bersih, netral, cahaya, penghormatan, kebenaran, salju, damai, innocence, simpel, aman, dingin,

(32)

penyerahan, takut, tanpa imajinasi, udara, kematian (tradisi Timur), kehidupan, perkawinan (tradisi Barat), harapan, lemah lembut, kosong, bulan Januari.

c) Hitam: klasik, baru, ketakutan, depresi, kemarahan, kematian (tradisi Barat), kecerdasan, pemberontakan, misteri, ketiadaan, modern, kekuatan, hal-hal duniawi, formal, elegan, kaya, gaya, kejahatan, serius, mengikuti, kecenderungan sosial, anarki, kesatuan, duka cita, profesional.

d) Merah: perayaan, kekayaan, nasib baik (Cina), suci, tulus, perkawinan (India), perkabungan (Afrika Selatan), setan, (tradisi modern Barat), gairah, kuat, energi, api, cinta, roman, gembira, cepat panas, sombong, ambisi, pemimpin, maskulin, tenaga, bahaya, menonjol, darah, perang, marah, revolusi, radikal, sosialisme, komunisme, agresi, penghormatan, martir, roh kudus.

e) Biru: laut, manusia, produktif, isi dalam, langit, damai, kesatuan, harmoni, damai, tenang, percaya, sejuk, kolot, air, es, setia, bersih, teknologi, musim dingin, depresi, dingin, idealisme, udara, bijaksana, kerajaan, bangsawan, bumi, zodiak Virgo, Pisces, Aquarius, kuat, tabah, cahaya, ramah, perkabungan (Iran), kebenaran, cinta, keagamaan, mencegah roh jahat, kebodohan dan kesialan.

f) Hijau: kecerdasan tinggi, alam, musim semi, kesuburan, masa muda, lingkungan hidup, kekayaan, uang (Amerika), nasib baik, giat, murah hati, korupsi (Afrika Utara), abadi, udara, tanah, turus, zodiac Cancer, pembaruan, pertumbuhan, kesehatan, bulan Agustus, keseimbangan, harmoni, stabil, tenang, kreatif, Islam.

g) Kuning: sinar matahari, gembira, bahagia, tanah, optimis, cerdas, idealisme, kaya (emas), musim panas, harapan, udara, liberalisme, pengecut, sakit

(33)

(karantina), takut, bahaya, tidak jujur, serakah, lemah, feminism, persahabatan, zodiak Gemini, Taurus, Leo, April, bulan September, kematian (abad pertengahan), perkabungan (Mesir), berani (Jepang), tuhan (kuning emas).

h) Purple: bangsawan, iri, sensual, spiritual, kreativitas, kaya, kerajaan, upacara, misteri, bijaksana, pencerahan, sombong, flamboyan, menonjol, perkabungan, berlebihan, tidak senonoh, biseksual, kebingungan, harga diri, zodiak Skorpio, bulan Mei, November, kaya, romantis, kehalusan, penebusan dosa.

i) Jingga: Hinduisme, Buddhisme, kebahagiaan, energi, keseimbangan, panas, api, antusiasme, flamboyan, kesenangan, agresi, sombong, menonjol, emosi berlebih, peringatan, bahaya, musim gugur, hasrat, zodiak Sagitarius, bulan September, kerjaan (Belanda), Protestanisme (Irlandia).

j) Coklat: tenang, berani, kedalaman, makhluk hidup, alam, kesuburan, desa, stabil, tradisi, ketidaktepatan, fasisme, tidak sopan, bosan, cemar, berat, miskin, kasar, tanah, bulan Oktober, zodiak Capricorn, Skorpio, membumi, selera makan, menyehatkan, tabah, simpel, persahabatan, ketergantungan.

k) Pink: musim semi, rasa syukur/terima kasih, penghargaan, kagum, simpati, feminin, kesehatan, cinta, roman, bulan Juni, perkawinan suka cita, innocence, kekanakan.

2.5.2.3 Huruf/Teks (Typografi)

Teks merupakan bagian penting dalam sebuah desain grafis. Rangkaian huruf dalam sebuah kata atau kalimat bukan saja bisa berarti suatu makna yang mengacu pada sebuah objek ataupun gagasan tapi juga memiliki kemampuan untuk

(34)

menyuarakan suatu citra ataupun kesan secara visual.

Menurut Adi Kusrianto (2009) didalam desain grafis tipografi didefinisikan sebagai suatu proses seni untuk menyusun bahan publikasi menggunakan huruf cetak (Sriwitari dan Widnyana, 2014:62).

Tipografi yang dibahas dalam hal ini ada dua macam, yaitu tipografi dalam logo (letter marks), dan tipografi yang digunakan dalam media-media aplikasi logo (corporate typeface / corporate typography). Karena memiliki fungsi yang berbeda, karakteristik huruf yang digunakan pada letter marks dengan corporate typeface juga berbeda. Misalnya bila sebuah logo menggunakan jenis huruf Futura, bukan berarti corporate typeface-nya harus menggunakan huruf Futuraiuga (Rustan,2017:78).

Pada letter marks, keunikan menjadi hal yang paling utama dalam logo, maka jenis hurufnyapun harus unik. Biasanya jenis huruf letter marks dirancang khusus atau menggunakan jenis huruf yang sudah ada namun diubah bentuknya. Sedangkan corporate typeface Iebih bertujuan untuk menjaga kesatuan desain / unity antar media-media / aplikasi desain perusahaan. Juga memiliki fungsi-fungsi tipografi pada umumnya, yaitu penyampai informasi yang harus nyaman dibaca dengan segala kriteria-kriterianya (legible, readable, dan lain-lain) (Rustan,2017:78).

Berikut peneliti sajikan gambar letter marks dan corporate typeface:

Gambar 2.9 Letter Marks

(35)

Sumber: Google.com (Data telah diolah oleh peneliti)

Gambar 2.10 Corporate Typeface

Sumber: Google.com (Data telah diolah oleh peneliti)

2.6 Simbol

Simbol merupakan label arbiter atau representasi dari fenomomena. Kata adalah simbol untuk konsep dan benda. Menurut peneliti simbol muncul dalam konteks yang sangat beragam dan digunakan untuk berbagai tujuan.

Menurut Hartoko & Rahmanto (1998) secara etimologis, simbol (symbol) berasal dari kata Yunani “sym-ballein” yang berarti melemparkan bersama suatu (benda, perbuatan) dikaitkan dengan suatu ide. (Sobur 2016:155). Sedangkan Herusato

(36)

(2000) menyebutkan bahwa “symbolos” yang berarti tanda atau ciri yang memberi tahukan sesuatu hal kepada seseorang (Sobur 2016:155).

Dalam Kamus Bahasa Indonesia karagan WJS Poerwadarminta disebutkan, simbol atau lambang semacam tanda, lukisan, perkataan, lencana, dan sebagainya yang menyatakan suatu hal atau mengandung maksud tertentu. Dalam Bahasa komunikasi, simbol sering kali diistilahkan sebagai lambang (Sobur 2016:156).

Simbol tidak dapat disikapi secara isolatif, terpisah dari hubungan asosiatifnya dengan simbol lainnya. Walaupun demikian berbeda dengan tanda (sign), symbol merupakan kata atau sesuatu yang bisa dianalogikan sebagai kata yang telah terkait dengan (1) penafsiran pemakai, (2) kaidah pemakaian sesuai dengan jenis wacananya, dan (3) kreasi pemberian makna sesuai dengan intensi pemakainya. Simbol yang ada dalam dan berkaitan dengan ketiga butir tersebut disebut bentuk simbolik (Sobur 2016:156).

Sedangkan dalam “bahasa” komunikasi, simbol sering kali diistilahkan sebagai lambang. Simbol atau lambang adalah sesuatu yang digunakan untuk menunjuk sesuatu lainnya, berdasarkan kesepakatan kelompok orang. Lambang meliputi kata- kata (pesan verbal), perilaku nonverbal, dan objek yang maknanya disepakati bersama (Sobur, 2016:157)

Kemudian menurut Harsoyo (1977) mengatakan bahwa lambang adalah objek atau material yang nilai atau arti yang ada padanya ditetapkan oleh yang menggunakan objek itu sebagai lambang. Lambang dapat berupa Bahasa, gerak, bunyi, cahaya, gambar, warna dan media lainnya. Masing-masing lambang dipilih tergantung dari jenis media komunikasi yang digunakan (Rohim,2016:5)

(37)

2.7 Makna

Menurut Kincaid dan Schramm (1984) Pesan-pesan dalam komunikasi merupakan hal yang lahiriah yang terlepas dan sama sekali tidak bermakna sampai ada yang menafsirkan makna kedalamnya. Makna baru timbul jika seseorang mengamati pesan itu dan kemudian menafsirkannya dengan jalan menerapkan konsep-konsep yang dimiliki terhadapnya (Rohim, 2016:7).

Kata-kata tidak memiliki makna tertentu kecuali kita sebagai komunikator atau komunikan yang memaknainya sendiri. Menurut Hirsch (2000) mengatakan bahwa Kata adalah kata, maknanya ambigu dan tidak persis (Sobur, 2016:245).

Konsep makna telah menarik perhatian disiplin komunikasi, psikologi, sosiologi, antropologi, dan linguistik. Seperti menurut Stewart L. Tubbs dan Sylvia Moss (Sobur,2016:255) mengatakan bahwa “Komunikasi adalah proses pembentukan makna diantara dua orang atau lebih”. juga Judy C. Pearson dan Paul E. Nelson mengatakan bahwa “Komunikasi adalah proses memahami dan berbagi makna”.

Sedangkan Penjelasan dari Umberto Eco (1999) bahwa makna dari sebuah wahana tanda (sign-vechicle) adalah satuan kultural yang diperagakan oleh wahana- wahana tanda yang lainnya serta dengan begitu, secara secara semantik mempertunjukan pula ketidaktergantungannya pada wahana tanda yang sebelumnya (Sobur, 2016:256).

Kemson berpendapat bahwa untuk menjelaskan istilah makna harus dilihat dari segi: (1) kata: (2) kalimat; dan (3) apa yang dibutuhkan pembicara untuk berkomunikasi (Sobur, 2016:256).

(38)

Ferdinand de Saussure menyebutkan istilah tanda linguistik (Prancis: signe’

linguistique). Menurut Saussure, setiap tanda linguistik terdiri atas 2 unsur, yakni (1) yang diartikan (Prancis: signifie’, Inggris: signified=unsur makna) dan (2) yang mengartikan (Prancis: signifiant’, Inggris: signifier=unsur bunyi). Yang diartikan (signifie’, signified) sebenarnya tidak lain dari konsep atau makna dari sesuatu tanda- bunyi.

Sedangkan yang mengartikan (signifiant atau signifier) itu adalah tidak lain dari bunyi-bunyi itu, yang terbentuk dari fenom-fenom bahasa yang bersangkutan. Jadi, dengan kata lain tanda linguistik terdiri dari unsur bunyi dan makna. Kedua unsur ini adalah unsur dalam-bahasa (intralingual) yang biasanya merujuk atau mengacu kepada sesuatu referen yang merupakan unsur luar-bahasa (ekstralingual) (Sobur, 2016:257).

Sehingga dapat peneliti sampaikan bahwa untuk memahami makna kita sebagai komunikan harus memiliki pengalaman yang sama mengenai suatu tanda. Seperti yang dikatakan oleh Schramm (Efendy, 1981) bahwa bidang pengalaman (field of experience) merupakan faktor yang penting dalam komunikasi. Jika bidang pengalaman komunikator sama dengan bidang pengalaman komunikan, komunikasi akan berlangsung dengan lancar. Sebaliknya bila pengalaman komunikan berlainan akan terdapat kesukaran untuk mengerti satu sama lain (Rohim, 2016:7).

2.8 Semiotika

Menurut Sobur (2016:16) secara etimologi, kata “semiotika” berasal dari bahasa Yunani, semeion, yang berarti “tanda” (Sudjiman dan van Jansz dalam Alex Sobur)

(39)

atau seme, yang berarti “penafsir tanda” (Cobley dan Jansz dalam Alex Sobur).

Semiotika berasal dari studi klasik dan skolastik atas seni logika, retorika, dan poetika. Tanda pada masa itu masih bermakna sesuatu hal yang menunjukan pada adanya hal lain. Contohnya, asap menandakan adanya api.

Semiotika adalah sebuah ilmu atau metode analisis untuk mengkaji tanda. Tanda- tanda adalah perangkat yang kita pakai dalam upaya berusaha mencari jalan didunia ini, ditengah-tengah manusia dan bersama-sama manusia (Sobur, 2016:15).

Dalam kehidupan sehari-hari tanda hadir dalam bentuk yang beraneka ragam, bisa berwujud simbol, lambang, kode, ikon, isyarat, sinyal, dan lain sebagainya.

Bahkan segala aspek kehidupan ini penuh dengan tanda. Dengan sarana tandalah manusia bisa berpikir, dan tanpa adanya tanda kita tidak dapat berkomunikasi.

Menurut Saussure (Sobur, 2016: vii) mengatakan bahwa kerangka langue, menjelaskan ‘tanda’ sebagai kesatuan yang tidak dapat dipisahkan dari dua bidang seperti halnya selembar kertas yaitu bidang penanda (signifier) untuk menjelaskan bentuk dan bidang petanda (signified), untuk menjelaskan konsep atau makna relasi ini disebut sebagai signifikasi (Signification). Dengan demikian semiotika signifikasi adalah semiotika yang mempelajari relasi elemen-elemen tanda didalam sebuah sistem, berdasarkan aturan main dan konvensi tertentu.

Sedangkan Menurut Peirce (Sobur, 2016:17) mengatakan bahwa tanda dalam pandangan Piece adalah sesuatu yang hidup dan dihidupi (cultivated), ia hadir dalam proses interpretasi (semiosis) yang mengalir. Pada dasarnya, semiosis dapat dipandang sebagai suatu proses tanda yang dapat diberikan dalam istilah semiotika sebagai suatu hubungan antara lain istilah:

(40)

S (s.i.e.r.c)

a. S adalah semiotic relation (hubungan semiotik), b. s untuk sign (tanda),

c. i untuk interpreter,

d. e untuk effect atau pengaruh, e. r untuk reference (rujukan), dan

f. c untuk context (konteks) atau conditions (kondisi).

Begitulah semiotika berusaha menjelaskan jalinan tanda atau ilmu tentang tanda, secara sistematik menjelaskan esensi, ciri-ciri, dan bentuk suatu tanda, serta proses signifikasi yang menyertanya.

Mempelajari semiotika sama dengan kita mempelajari tentang berbagai tanda.

Misalnya cara kita berpakaian, apa yang kita makan, dan cara kita bersosialisasi sebetulnya juga mengkomunikasikan hal-hal mengenai diri kita, dan dengan mempelajari semua hal itulah dapat kita pelajar semuanya sebagai tanda. Tanda itu sebenarnya bertebaran dimana-mana mulai dari sekujur tubuh kita, ketika kita berkata, ketika kita tersenyum, ketika kita menangis, ketika kita cemberut dan lain sebagainya.

2.9 Semiotika Charles Sanders Pierce

Charles Sanders Pierce lahir pada 10 September 1839 di Cambridge, Massachusetts, Amerika Serikat. Dia adalah seorang ilmuwan dibidang matematika dan fisika, Charles Sanders Peirce nyatanya lebih terkenal sebagai seorang filsuf dan ahli semiotika yang berperan besar dalam pengembangan ilmu pengetahuan baik ilmu

(41)

eksakta maupun ilmu sosial. Teori-teori dan konsep-konsep yang ia gagas banyak dijadikan rujukan bagi para akademisi untuk menganalisis berbagai fenomena yang ada di masyarakat.

Dalam ilmu sosial sendiri, Peirce adalah salah satu tokoh yang turut mengembangkan ilmu semiotika. Konsepnya mengenai tanda seringkali dijadikan rujukan dalam menginterpretasikan semua tanda yang ada didunia ini. Menurut Peirce, Semiotika bersinonim dengan logika, manusia hanya berpikir dalam tanda.

Tanda dapat dimaknai sebagai tanda hanya apabila ia berfungsi sebagai tanda. Fungsi esensial tanda menjadikan relasi yang tidak efisien menjadi efisien baik dalam komunikasi orang dengan orang lain dalam pemikiran dan pemahaman manusia tentang dunia. Tanda menurut Pierce kemudian adalah sesuatu yang dapat ditangkap, representatif, dan interpretatif.

Secara etimologis semiotik berasal dari kata Yunani semeion yang berarti

“tanda”. Tanda itu sendiri didefinisikan sebagai sesuatu yang atas dasar konvensi sosial yang terbagun sebelumnya, dapat dianggap mewakili sesuatu yang lain.

Sedangkan secara terminologis, semiotics dapat diartikan sebagai ilmu yang mempelajari sederetan objek-objek, peristiwa-peristiwa, seluruh kebudayaan tanda (Alex Sobur, 2016:17).

Tidak berbeda jauh dengan Charles Sanders Peirce yang mendefinisikan semiotika sebagai studi tentang tanda dan segala sesuatu yang berhubungan dengannya, yakni cara berfungsinya, hubungannya dengan tanda-tanda lain, pengirimannya, dan penerimaanya oleh mereka yang mempergunakannya.

(42)

Metode yang digunakan dalam penelitian ini berhubungan dengan “Analisis Semiotika Logo SMKN 2 Subang adalah metode semiotika. Sebab dengan menggunakan metode ini peneliti dapat mengetahui tanda dan lambang yang ada pada Logo SMKN 2 Subang.

Semiotika dan semiologi sesungguhnya memiliki arti yang sama. Namun pemakaian salah satu istilah ini biasanya didasarkan pada pemikiran pemakainya, mereka yang bergabung dengan Pierce menggunakan kata semiotika, dan mereka bergabung dengan Saussure menggunakan kata semiologi.

Teori dari Peirce menjadi Grand Theory dalam semiotik. Gagasanya bersifat menyeluruh, deskripsi struktural dari semua sistem penandaan. Peirce ingin mengidentifikasikan partikel dasar dari tanda dan menggabungkan kembali semua komponen dalam struktur tunggal.

Semiotika bagi Pierce adalah suatu tindakan (action), pengaruh (influence), atau kerja sama tiga subjek, yaitu sign (representament), objek (object), dan interpretan (interpretant). Yang dimaksud subjek pada semiotik Peirce bukan subjek manusia, tetapi tiga entitas yang sifatnya abstrak sebagaimana yang disebutkan diatas, yang tidak dipengaruhi kebiasaan berkomunikasi secara konkret. Peirce melihat tanda (representament) sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari objek referensinya serta pemahaman subjek atas tanda (interpretant).

Tujuan dari analisis semiotik adalah upaya untuk menemukan makna tanda yang tersembunyi di balik sebuah tanda. Menurut Peirce (Berger, 2000 b:14, dalam Sobur, 2016:34-35) Menandaskan bahwa tanda-tanda berkaitan dengan objek-objek yang menyerupainya, keberadaannya memiliki hubungan sebab akibat dengan tanda-tanda

(43)

atau karena ikatan konvensional dengan tanda-tanda tersebut. Ia menggunakan istilah ikon untuk kesamaannya, indeks untuk hubungan sebab akibat, dan simbol untuk asosiasi konvensional.

Atas dasar hubungan triadik tersebut, Peirce mengadakan klasifikasi tanda.

Tanda yang dikaitkan dengan ground baginya menjadi qualisign, sinsign, dan legisign. Tanda berdasarkan objeknya dibagi atas icon, index, dan symbol. Sedangkan berdasarkan interpretant tanda dibagi atas rheme, dicent sign, atau decisign dan argument.

Berikut penjelasan dari masing-masing istilah tersebut Peirce dalam Sobur (2016:41-42):

a. Ground, yaitu sesuatu yang digunakan agar tanda bisa berfungsi.

1) Qualisign, adalah kualitas yang ada pada tanda; misalnya kata-kata kasar, keras, lemah, lembut, lembut, merdu.

2) Sinsign, adalah eksistensi actual benda atau peristiwa yang ada pada tanda; misalnya kata kabur atau keruh yang ada pada urutan kata air sungai keruh yang menandakan ada hujan dihulu sungai.

3) Legisign, adalah norma yang dikandung oleh tanda; misalnya rambu- rambu lalu lintas yang menandakan hal-hal yang boleh atau tidak boleh dilakukan manusia.

b. Object, yaitu sesuatu yang dirujuk tanda.

1) Icon, adalah tanda yang hubungan antara penanda dan petandanya bersifat persamaan (kemiripan) bentuk alamiah, misalnya potret dalam peta.

(44)

2) Index, adalah tanda yang menunjukan adanya hubungan alamiah

antara tanda dan petanda yang bersifat kasual atau hubungan sebab akibat; misalnya asap sebagian tanda adanya api.

3) Symbol, adalah tanda yang menunjukan adanya hubungan alamiah

antara penanda dengan petandanya. Hubungan diantaranya bersifat arbiter atau semena, hubungan berdasarkan konvensi (perjanjian) masyarakat.

c. Interpretant, yaitu tanda yang ada dalam benak seseorang tentang objek yang dirujuk sebuah tanda.

1) Rheme, adalah tanda yang memungkinkan orang menafsirkan

berdasarkan pilihan; misalnya orang yang marah matanya dapat saja menandakan bahwa orang itu baru menangis atau menderita penyakit mata, kemasukan serangga, atau baru bangun tidur.

2) Dicent sign atau Decisign, adalah tanda sesuai kenyataan; misalnya

jika suatu jalan sering terjadi kecelakaan, maka ditepi jalan dipasang rambu lalu lintas yang menyatakan bahwa disitu sering terjadi kecelakaan.

3) Argument, adalah tanda yang langsung memberikan alasan tentang sesuatu, misalnya gelap, Sesorang berkata gelap karena ini menilai ruangan itu cocok dikatakan gelap.

(45)

2.10 Kerangka Pemikiran

Bagan 2.1 Kerangka Pemikiran

Sumber: Hasil Olahan Peneliti

Kerangka pemikiran yang peniliti buat, bukanlah untuk menguji teori melainkan untuk membantu peneliti dalam menemukan makna Logo SMKN 2 Subang sehingga

SEMIOTIKA CHARLES S.

PIERCE

Ground

Interpretant Object

MAKNA LOGO S MKN 2 SUBANG

(46)

peneiti jadikan panduan agar penelitian ini lebih terarah kepada fokus masalah yang akan diteliti.

Peneliti berpikir bahwa apabila peneliti ingin mengetahui makna yang terkandung dalam Logo SMKN 2 Subang maka peneliti harus mengetahui siapa pembuat Logo SMKN 2 Subang tersebut atau dalam teori semiotika Charles S. Pierce disebut dengan Penanda (signifier) untuk menjelaskan secara terperinci mulai dari bentuk, warna, typografi dan penjelasan tentang petandanya (signified).

Dalam menjelaskan makna yang terkandung dalam Logo SMKN 2 Subang peneliti berangkat dengan acuan teori semiotika dari Charles S. Pierce yaitu model triadic. Model triadic ini mengungkapkan proses interpretasi (semiosis) atas penanda dan petanda yang dilakukan oleh interpretant. Logo SMKN 2 Subang akan dapat dimaknai oleh masing-masing orang apabila logo tersebut dapat ditafsirkan yang artinya harus memiliki penafsir.

Charles Sanders Peirce dalam Sobur (2016-41-42) menyatakan teori tandanya (hubungan triadic tanda) bahwa sesuatu yang digunakan agar tanda bisa berfungsi, oleh Pierce disebut Ground. Konsekuensinya, tanda (sign atau representamen) selalu terdapat dalam hubungan triadic yakni ground, object dan interpretant.

Dari model triadic tersebut peneliti akan mengupas tuntas makna apa yang terkandung dalam Logo SMKN 2 Subang, adapun penemuan penemuan yang tidak sesuai dengan realita maka peneliti akan mengembalikannya pada pembuat Logo untuk mencari kebenarannya.

Gambar

Gambar 2.2 Contoh Perancangan Identitas Visual
Gambar 2.3 Contoh Pendesain Huruf
Gambar 2.4 Contoh Logotype
Gambar 2.6 Logogram/Pictorial Visual
+3

Referensi

Dokumen terkait

yang dinyatakan dalam Y.. Variabel bebas yaitu variabel yang mendahului atau mempengaruhi.. variabel terikat. Variabel bebas

Isi modul ini : Ketakbebasan Linier Himpunan Fungsi, Determinan Wronski, Prinsip Superposisi, PD Linier Homogen Koefisien Konstanta, Persamaan Diferensial Linier Homogen

Pihak PLN membudayakan penyelesaian secara administrative berupa penetapan tagihan susulan sebagai suatu bentuk ancaman hukuman terhadap pencurian tenaga listrik

Tujuan Penelitian ini adalah mengetahui tingkat keterlaksanaan Program Pendidikan Sistem Ganda (PSG) pada tahapan 1) masukan (antecedents), 2) proses (transactions), 3)

Tata Usaha pada UPTD Tindak Darurat Dinas Cipta Karya dan Tata Kota Samarinda Eselon

Hasil rekapitulasi di tingkat PPK Kecamatan Samarinda yang ditolak oleh para saksi dari partai-partai politik termasuk PDK, tidak pernah diperbaiki dan hal ini telah

Materi Debat Bahasa Indonesia Siswa SMK Tingkat Nasional Tahun 2016 adalah isu-isu yang aktual tentang kebahasaan dan tentang hal umum yang ada di masyarakat. Isu-isu

Media seni batik diharapkan dapat menjadi inspirasi oleh guru-guru di Indonesia sebagai inovasi pendidikan dalam membentuk karakter peserta didik.. Kata Kunci