• Tidak ada hasil yang ditemukan

The trend of Ammonia Deposition in Serpong and Bandung

3. Hasil dan Pembahasan 1. Konsentrasi Ion Amonium

3.3. HYSPLIT Model

Keberadaan NH3 di atmosfer

mempunyai umur yang cukup singkat, yaitu kurang dari 5 hari. Namun, jika amonia sudah berubah bentuk menjadi aerosol amonium dimana amonia bereaksi dengan SO2, NO3 dan Cl- menghasilkan aerosol amonium sulfat, amonium nitrat dan amonium klorida, umurnya menjadi lebih panjang yaitu sekitar 10 hari dan dapat berpindah dan terdeposisi jauh ke tempat lain (Phan, 2013).

Model HYSPLIT dijalankan untuk melihat posisi sumber polutan sebelumnya dengan menggunakan backward trajectory. Input data meteorologi yang digunakan yaitu

Global Data Assimilation System (DGAS)

dengan resolusi 0,50 dan 10. Model HYSPLIT biasanya digunakan untuk membantu memodelkan transbondary pollution dan

long range transport air pollution (Báez,

2007) seperti halnya aplikasi trayektori polutan untuk pengelolaan polusi udara di Indonesia (Sumaryati, 2019). Dalam penelitian ini, model HYSPLIT dijalankan selama 72 jam yang disesuaikan dengan umur amonia di atmosfer, pada bulan kering yang berkesesuaian dengan musim kemarau dan bulan basah yang berkesesuaian dengan musim penghujan, dengan 3 interval waktu, yaitu pukul 06.00 WIB, 12.00 WIB, dan 20.00 WIB dan ketinggian 500, 1000 dan 1500 di atas permukaan tanah. Pemilihan interval waktu berhubungan dengan ketinggian lapisan inversi yang berhubungan dengan

proses penyebaran polutan (Sumaryati, Indrawati & Tanti, 2020).

Model HYSPLIT dijalankan pada bulan dengan nilai konsentrasi ion amonium terendah dan tertinggi dalam kurun waktu 2000 – 2018. Hal ini berhubungan dengan fenomena yang terkait dengan transboundary

pollutant, yaitu zat pencemar yang dapat

melintasi batas wilayah atau negara, yang mempengaruhi besar kecilnya konsentrasi emisi NH3. Untuk Serpong, aplikasi model dijalankan pada bulan Januari 2017 dan bulan September 2015, sedangkan untuk Bandung dilakukan pada bulan Desember 2012 dan Agustus 2018.

Berdasarkan Gambar 4, terlihat bahwa

backward trajectory untuk bulan yang

berkesesuaian dengan musim hujan, yaitu Januari dan Desember, mempunyai sumber kontribusi polutan yang berbeda dengan bulan yang berkesesuaian dengan musim kemarau, yaitu September dan Agustus. Berdasarkan Gambar 4 (A-C) dan (G-I), untuk musim penghujan, baik untuk Serpong maupun Bandung, sumber polutan berasal dari lautan. Pada musim kemarau untuk Serpong seperti yang terlihat pada Gambar 4 (D-F), sumber polutan amonia dapat berasal dari wilayah timur Indonesia, sekitar daerah Bali bahkan Nusa Tenggara. Sedangkan untuk Bandung yang diperlihatkan pada Gambar 4 (J-L), sumber polutan dapat berasal dari Australia. Berdasarkan informasi yang dirilis oleh ABC

News (www.abc.net.au) pada bulan Agustus

2018, di Australia terjadi kebakaran hutan yang cukup besar, sehingga diperkirakan terjadi transportasi polusi udara jarak jauh yang berkontribusi terhadap besarnya nilai deposisi amonium pada bulan Agustus 2018 di Bandung. Hal serupa juga didapatkan pada penelitian di Bandung pada musim kemarau polutan bergerak dari arah tenggara yaitu wilayah Australia, melewati celah dataran rendah yang ada di Bandung untuk selanjutnya bergerak menuju Kota Bandung (Nurlatifah & Driejana, 2019).

Sumber: Indrawati et al. (2020)

Gambar 4. Hasil Aplikasi Model HYSPLIT di Serpong pada Januari 2017 pukul 06.00 WIB (A), 12.00 WIB (B), 20.00 WIB (C) dan September 2015 pukul 06.00 WIB (D), 12.00 WIB (E), 20.00 WIB (F); di Bandung Desember 2012 pukul 06.00 WIB (G), 12.00 WIB (H), 20.00 WIB (I) dan Agustus 2018 pukul

4. Simpulan

Hasil penelitian menunjukkan kenaikan tren konsentrasi ion amonium dan fluks deposisi amonium dari tahun 2000‒2018 untuk Serpong dan Bandung. Karakteristik musiman terlihat jelas untuk Bandung karena adanya pengaruh faktor topografi dalam penyebaran polutan yang terjadi di Bandung.

Transboundary pollutant berkontribusi

terhadap kenaikan konsentrasi ion amonium di Serpong dan Bandung. Kenaikan yang cukup signifikan untuk konsentrasi ion amonium dan fluks deposisi amonium menunjukkan kebutuhan mengenai regulasi yang berkaitan tentang emisi NH3 yang dilepaskan ke atmosfer.

5. Ucapan Terima Kasih

Ucapan terimakasih kepada LAPAN dan P3KLL yang telah mendanai penelitian serta kepada tim pelaksana kegiatan pemantauan deposisi asam di kedua instansi. 6. Kepengarangan

Penulis pertama bertanggung jawab terhadap pengolahan data deposisi amonium dan menjalankan aplikasi model HYSPLIT, interpretasi hasil pengolahan data, dan penyusunan tulisan. Penulis kedua bertanggung jawab terhadap analisis laboratorium dan kualitas data untuk deposisi amonium Bandung dan Serpong, serta membantu dalam penulisan dan interpretasi data, sedangkan penulis ketiga bertanggungjawab terhadap data analisis laboratorium deposisi amonium untuk Bandung. Ketiga penulis merupakan suatu kesatuan tim yang tidak terpisahkan.

Daftar Pustaka

Asman, W. A. H., & Hans A. van Jaarsveld. (1994). A variable-resolution transport model applied for NHχ in Europe.

Atmospheric Environment. Part A. General Topics, 26(3), 445-464. doi:https://doi.

org/10.1016/0960-1686(92)90329-J.

Báez A., R. B., R. García, H. Padilla, M.C. Torres. (2007). Chemical composition of rainwater collected at a southwest site of Mexico City, Mexico. Atmospheric

Research, 86(1), 61-75. doi:https://doi.

org/10.1016/j.atmosres.2007.03.005.

Bappeda. (2016). Rencana pembangunan jangka menengah daerah (RPJMD) Kota Tangerang Selatan 2016 – 2021. Retrieved from https://bappeda.tangerangselatankota. go.id/ uploads/perwal/3.pdf.

Behera, S. N., Sharma, M., Aneja, V. P., & Balasubramanian, R. (2013). Ammonia in the atmosphere: a review on emission sources, atmospheric chemistry and deposition on terrestrial bodies. Environ

Sci Pollut Res Int, 20(11), 8092-8131.

doi:10.1007/s11356-013-2051-9.

BPN. (2019). Cekungan Bandung. Retrieved from https://sifataru.atrbpn.go.id/kawasan/ Cekungan-Bandung.

Butler, T., Vermeylen, F., Lehmann, C. M., Likens, G. E., & Puchalski, M. (2016). Increasing ammonia concentration trends in large regions of the USA derived from the NADP/AMoN network. Atmospheric

Environment, 146(Desember 2016),

132-140.

Chao, G., Zi-fa, W., & Gbaguidi, E. A. (2010). Ammonium Variational Trends and the Ammonia Neutralization Effect on Acid Rain over East Asia. Atmospheric and

Oceanic Science Letters, 3, 120 - 126.

Conradie, E. H., Van Zyl, P. G., Pienaar, J. J., Beukes, J. P., Galy-Lacaux, C., Venter, A. D., & Mkhatshwa, G. V. (2016). The chemical composition and flukses of atmospheric wet deposition at four sites in South Africa.

Atmospheric Environment, 146, 113.

doi:10.1016/j.atmosenv.2016.07.033. Du, E., de Vries, W., Galloway, J. N., Hu, X., &

Fang, J. (2014). Changes in wet nitrogen deposition in the United States between 1985 and 2012. Environmental Research

Letters, 9(9), 095004.

Duan, L., Q. Yu, Q. Zhang, Z. Wang, Y. Pan, T. Larssen, J. Tang & J. Mulder. (2016). Acid deposition in Asia: Emissions, deposition, and ecosystem effects. Atmospheric

Environment, 146, 55-69. doi:https://doi.

org/10.1016/j.atmosenv.2016.07.018 EANET. (2010). Technical documents for

wet deposition monitoring in East Asia.

Niigata.

EANET. (2018). Data report of acid deposition

in East Asia 2018. Retrieved from Niigata:

Keresztesi, A., Sandor, P., Ghita, G., Dumitru, F.D., Moncea, M.A., Ozunu, A. & Szep, R. (2018). Ammonium neutralization effect on rainwater chemistry in the basins of the Eastern Carpathians - Romania. Revista de

Chimie, 69(1), 57-63.

Lestari, R. P., Nasution, R. I., Budiwati, T., Rachmawati, E., & Indrawati, A. (2018). Status deposisi basah di beberapa wilayah pemantauan di Indonesia periode 2008-2015. Ecolab, 12(2), 71-82.

Li, Y., Schwab, J. J., & Demerjian, K. L. (2006). Measurements of ambient ammonia using a tunable diode laser absorption spectrometer: Characteristics of ambient ammonia emissions in an urban area of New York City. Journal of Geophysical

Research: Atmospheres, 111(D10).

doi:10.1029/2005jd006275.

Liu, M., Huang, X., Song, Y., Tang, J., Cao, J., Zhang, X., . . . Zhu, T. (2019). Ammonia emission control in China would mitigate haze pollution and nitrogen deposition, but worsen acid rain. Proceedings of the

National Academy of Sciences, 116(16),

7760-7765. doi:10.1073/pnas.1814880116. Löflund, M., Kasper-Giebl, A., Stopper, S.,

Urban, H., Biebl, P., Kirchner, M., . . . Puxbaum, H. (2002). Monitoring ammonia in urban, inner alpine and pre-alpine ambient air. J Environ Monit, 4(2), 205-209. doi:10.1039/b109727j.

News, A. (2018). NSW bushfires: Bega, Ulladulla and Nowra fires downgraded but still out of control. Retrieved from https://www.abc.

net.au/news/2018-08-15/bushfire-out-of-control-fire-near-ulladulla/10122034.

Nurlatifah, A., & Driejana, R. (2019). Penelusuran trajektori aerosol di kota Bandung menggunakan HYSPLIT-4 back

trajectory model studi kasus: kejadian

kabut asap tanggal 23-28 oktober 2015.

Jurnal Meteorologi dan Geofisika, 20(2),

91-99.

Phan, N.-T., Kim, Ki-Hyun, Shon, Zang-Ho,Jeon, Eui-Chan,Jung, Kweon & Kim, Nam-Jin. (2013). Analysis of ammonia variation in the urban atmosphere. Atmospheric

Environment, 65, 177–185. doi:10.1016/j.

atmosenv.2012.10.049

Singh, S. P., Satsangi, Gursumeeran, Khare, Puja, Lakhani, Anita, Kumari, K. & Srivastava, S.S. (2001). Multiphase measurement of atmospheric ammonia. Chemosphere

- Global Change Science, 3, 107-116.

doi:10.1016/S1465-9972(00)00029-5. Sumaryati. (2011). Polusi udara di kawasan

cekungan Bandung. Berita Dirgantara, 12, 83-89.

Sumaryati. (2019). Aplikasi trayektori polutan untuk pengelolaan polusi udara.

ANTASENA, 4, 15 - 17.

Sumaryati, A. Indrawati, D. A. Tanti. (2020). Kondisi Gradien temperatur terhadap proses pengenceran smog fotokimia di cekungan Bandung. Jurnal Teknologi

Lingkungan, 21(2), 219 - 226.

Wang, Z., Akimoto, H., & Uno, I. (2002). Neutralization of soil aerosol and its impact on the distribution of acid rain over east Asia: Observations and model results. Journal of Geophysical Research:

Atmospheres, 107(D19), ACH 6-1-ACH

Aditya Pandu Nugraha, 31 Agung Ghani, 53

Ahmad Erlan Afiuddin, 137 Alfonsus H. Harianja, 43, 111 Alfrida E. Suoth, 43

Andriantoro, 1 Asri Indrawati, 147 Bagus Sentosa Parhusip, 1 Bambang Hindratmo, 101 Budi Kurniawan, 125 Budi Purwanto, 91 D. D. Lestiani, 63 D. K. Sari, 63 Dewi Ratnaningsih, 21, 125 Didin Agustian Permadi, 53 Dyah Aries Tanti, 147 E. Damastuti, 63 Edy Junaidi, 43 Endah K., 21 Ernawita Nazir, 125 Hartrisari Hardjomidjojo, 31 Hesti Yulianingrum, 79 I. Kusmartini, 63

Ika Ferry Yunianti, 79 Jono M. Munandar, 31 M H Saputra, 11 M. Santoso, 63

Melania Hanny Aryantie, 91 Mila Dirgawati, 53

Miranti Ariani, 79

Muhamad Yusup Hidayat, 91 Muhammad Rusydi Arif, 137 N. Adventini, 63

Prayoto, 11

Resi Gifrianto, 101

Retno Puji Lestari, 1, 101, 125, 147 Ricky Nelson, 101

Ridwan Fauzi, 91, 125 S. Kurniawati, 63 Siti Masitoh, 43 Sri Unon Purwati, 43 Tarikh Azis Ramadani, 137 Widi Hermawan, 53 Y. Rosalin, 11 Yunesfi Syofyan, 21 Yuriska A., 21

AAN, 63 Air bersih, 111 Amonia, 147 Amonium, 147 Bahan organik, 79 Cerobong, 137 Daphnia sp., 1 DAS Ciliwung, 125 Deforestasi, 11 Deposisi, 147 Ekonomi, 91 Emisi metana, 79 Emisi SO2, 137 Emisi, 91 Fiber keramik, 1

Gaussian Dispersion Model 137

GCMS, 21 Genset, 101 Geologi, 63

Grey water, 111 Hotspot, 11

Hutan tanaman industri, 11 IKA-INA, 125 Indeks, 125 Inventarisasi emisi, 53 Kalimantan Tengah, 43 Keberlanjutan. 11 Komunikasi, 91 Konsentrasi, 147 Konvensi Stockholm, 21 Korelasi, 31 Kurva kombinasi, 125 LC50, 1 Limbah, 1 Lingkungan, 63 Media lingkungan, 43 Medium perambatan, 91 Merkuri, 43 Model Maxent, 11 Musim kemarau, 137

National implementation plan, 21

NSF-WQI, 125 Oksida-oksida sulfur, 91 Organochlorines, 21 Pemilik lahan, 11 Pemodelan, 111 Pencemar Udara, 53 Pencemaran, 43 Penghalang bunyi, 91

Persistent organic pollutant, 21 PIXE, 63

PLTU, 137 Produksi padi, 79 Peduksi timbulan, 31

Rencana aksi udara bersih, 53 Sampah padat, 31

Sawah tadah hujan, 79 Simulasi, 31

SOx, 91

Sumber bergerak, industry, 43 Sumber emisi, 53

Sumber tidak bergerak, 91

System dinamics, 111

Tangerang Selatan, 111 Teknik analisik nuklir, 63 Tren, 147

Uji toksisitas, 1 XRF, 63

Dewan Redaksi mengucapkan terima kasih kepada: 1. Prof. (r) Dr. Yanni Sudiyani - LIPI

2. Prof. (r) Dr. Gustan Pari - Badan Litbang Inovasi, KLHK

3. Prof. (r) Dr. Chairil Anwar Siregar - Badan Litbang Inovasi, KLHK 4. Prof. (r) Dr. Muhayatun Sentosa (Udara, B3 - BATAN)

5. Prof. Dr. Hefni Effendi - IPB

6. Dr. Ir. Subarudi, M.Wood.Sc. - Badan Litbang Inovasi, KLHK

Sebagai Mitra Bestari atas kesediannya melakukan review pada Ecolab Volume 14 Nomor 2, November 2020.

November 2020 Dewan Redaksi

(Times new roman 14 pt, Italic, Sentence case, Bold, centered) (Kosong 1 space )

Penulis Pertama 1, Penulis Kedua2 dan Penulis Ketiga3( Times new roman, 11 pt, Bold, centered)

(Kosong 1 space )

1Afiliasi penulis pertama, Alamat, Nama Kota, Kode Pos ( Times new roman, 10 pt, centered)

2Afiliasi penulis kedua, Alamat, Nama Kota, Kode Pos

3Afiliasi penulis ketiga, Alamat, Nama Kota, Kode Pos E-mail: untuk koresponden

(Kosong 2 space )

Diterima tanggal..., Direvisi tanggal….. Disetujui tanggal... (Kosong 3 space )

ABSTRAK (Uppercase, space 1, Times new roman, 12pt, Bold) (Kosong 1 space)

Judul Makalah Ditulis Ulang dengan Huruf Kapital Diawal Kata, Bold, Tegak, Jenis Huruf Times New Roman, Ukuran 11pt. Abstrak ditulis dalam dua bahasa (Indonesia dan Inggris). Jika makalah ditulis dalam bahasa Indonesia, maka abstrak berbahasa Indonesia ditulis terlebih dahulu, dan abstrak bahasa Inggris ditulis Italic. Sebaliknya, apabila makalah ditulis dalam bahasa Inggris maka Abstrak berbahasa Inggris ditulis terlebih dahulu, abstrak bahasa Indonesianya ditulis italic. Abstrak ditulis antara 250-300 kata dalam satu alenia, menggunakan format satu kolom. Abstrak berisi uraian singkat tentang 5 komponen karya tulis ilmiah (KTI), yakni: pendahuluan, tujuan, metodologi, hasil dan pembahasan, dan simpulan. Kelima komponen tersebut harus dinyatakan secara eksplisit dalam abstrak. Abstrak ditulis menggunakan jenis huruf Time New Roman, ukuran 11pt, tegak, Sentence case dan 1 spasi. Abstrak tidak perlu mencantumkan gambar, tabel, rumus, atau kutipan pustaka. Sedangkakn kata kunci merupakan kata yang paling menentukan dalam karya tulis ilmiah dan mengandung perngertian suatu konsep, cukup informasi untuk indeks, dan membantu dalam penelusuran. Kata kunci dapat berupa kata tunggal dan majemuk, terdiri dari 3 sampai 5 kata.

(Kosong 1 space)

Kata kunci: kata kunci dalam abstrak terdiri atas 3-5 frasa (Sentence case, Times new roman, 10 pt)

(Kosong 2 space, Times new roman, 10 pt)

ABSTRACT (Uppercase, space 1, Times new roman, 12pt, Bold) (Empty 1 space)

The title of the paper is rewritten with capital letters at the beginning of the word, bold, upright, times new Roman font, size 11pt. Abstracts are written in two languages (Indonesian and English). If papers are written in Indonesian, Indonesian abstracts are written first, and English abstracts are written in Italic. Conversely, if the paper is written in English then the English-language abstract is written first, the Indonesian abstract is written italically. Abstracts are written between 250-300 words in one alenia, using one column format. The abstract contains a brief description of the 5 components of scientific papers (KTI), namely: introduction, objectives, methodology, results and discussion, and conclusions. The five components must be stated explicitly in the abstract. Abstract written using Time New Roman font, size 11pt, upright, Sentence case and 1 space. Abstract does not need to include pictures, tables, formulas, or library citations. Keywords are the most decisive words in scientific papers and contain a conceptual understanding, enough information to index, and help in searching. Keywords can be single or compound words, consisting of 3 to 5 words.

1. Pendahuluan (capitalize each word, Times new roman, 12 pt, Bold, space 1,5)

Makalah ditulis menggunakan Microsoft Word, jenis huruf Times new roman ukuran 12pt, space 1,5. (format doc) pada kertas ukuran A4 (210x297mm) dengan margin atas-bawah-kiri-kanan adalah 2,54 cm.

Tubuh paragraf ditulis menjorok ke dalam 5 ketukan, justify, menggunakan format satu kolom. Jumlah halaman dalam satu makalah 10±2 halaman termasuk gambar, tabel dan lampiran. Aturan penulisan ini berlaku untuk keseluruhan dalam bagian makalah ini. Ketentuan penulisan ini dibuat untuk menyeragamkan format penulisan dan memudahkan proses penerbitan naskah.

Pendahuluan berisi latar belakang penelitian, permasalahan atau rumusan masalah yang akan diselesaikan, tinjauan pustaka singkat untuk mengetahui perkembangan dan status subyek penelitian terkini (state of the art), tujuan penelitian, ruang lingkup atau batasan penelitian dan hipotesis atau teori pendahuluan yang digunakan, metode yang digunakan, dan manfaat yang diharapkan dari penelitian (outcome).

Pendahuluan dibuat dalam satu bab, tidak perlu dibagi dalam sub-bab dan hindari penggunaan gambar. Apabila penggunaan sub judul diperlukan, sub judul ditulis dengan huruf besar di awal kata, dibold, 12pt dan diberi nomor bertingkat dengan angka Arab (1.1., 1.2. … dan seterusnya).

Notasi sebaiknya ringkas dan jelas serta konsisten dengan cara penulisan yang baku. Simbol/lambang ditulis dengan jelas dan dapat dibedakan seperti penggunaan angka 1 dan huruf l (juga angka 0 dan huruf O). Penggunaan singkatan harus dituliskan secara lengkap pada saat disebutkan pertama kali. Istilah asing ditulis dengan huruf italic. Satuan, dan cara penulisan lainnya mengacu kepada Ejaan Yang Disempurnakan (EYD).

Jika didalam naskah terdapat formula atau rumus matematika maka dapat menggunakan

feature Microsoft Equation Editor atau Math Type. Letak rumus tersebut menjorok seperti

penulisan alinea baru (5 ketukan masuk). Diujung rumus diberikan tanda titik-titik dan diakhiri dengan nomor rumus yang berurutan, apabila penulisan persamaan lebih dari satu baris maka penulisan nomor diletakkan pada baris terakhir. Keterangan rumus yang merupakan simbol disampaikan setelah rumus tersebut. Penggunaan huruf sebagai simbol matematis dalam naskah ditulis dengan huruf miring, Times New romans, italic, 10pt, Contohnya sebagai berikut:

) 1 0 , 1 0 (; ) , (x yxM − ≤yNp ...(1) Dimana p : probabilitas p M : probalitias M (kosong 1 space 1, times new roman 10 pt)

Penurunan persamaan matematis atau formula tidak perlu dituliskan keseluruhannya secara detil, cukup diberikan bagian yang terpenting, metode yang digunakan dan hasil akhirnya.

Tabel diletakkan berjarak satu space 1 di bawah judul tabel dan ditulis dengan huruf

Times new roman berukuran 11 pt. Tulisan Tabel dan penomorannya di bold, sedangkan judul

tabel ditulis kapital pada setiap kata kecuali kata penghubung, ditulis dengan huruf Times

new roman, 11pt. Penomoran tabel menggunakan angka Arab. Jarak tabel dengan paragraf

dibawahnya adalah satu space. Tabel diletakkan di dalam naskah setelah penunjukkannya. Kerangka tabel menggunakan garis setebal 1 pt, bagian dalam tabel tidak diberi garis, sumber tabel ditulis menggunakan font 10 pt. Contoh Tabel seperti terlihat pada Contoh 2. berikut ini:

(kosong 1 space 1, Times new roman 10 pt)

Nama Logam Berat Rerata Logam Berat pada

PM2,5 (ng/m3) Rerata Logam Berat pada PM10 (ng/m3)

Merkuri (Hg) 2.3 7.8

Timbel (Pb) 228.6 331.6

Copper (Cu) 2 6.3

Mangan (Mn) 2.8 12.5

Kromium (Cr) 1.9 2.6

Sumber Data : ....(Times new roman, 9 pt) (kosong satu space 1.5, 10 pt)

Gambar diletakkan simetris dalam kolom yang berjarak satu space 1.5 dari paragraf di atasnya. Gambar diletakkan pada posisi paling atas atau paling bawah dari setiap halaman dan jangan diapit oleh kalimat. Gambar diletakkan setelah penunjukkannya dalam naskah dan disajikan dalam hitam putih atau berwarna, dalam format file .jpg, jpeg, atau .tif. Untuk gambar berwarna yang mengandung arti tertentu harus beresolusi minimal sebesar 300 dpi. Tulisan gambar dan penomorannya di bold, sedangkan judul gambar ditulis Times new roman, 11pt, kapital pada setiap kata kecuali kata penghubung. Adapun sumber gambar ditulis 10 pt. Seluruh gambar yang ditampilkan harus di-refer di dalam tubuh tulisan atau disebutkan gambar tersebut terkait dengan kalimat/paragraf yang mana. Keterangan gambar diletakkan di bawah gambar dan berjarak satu space dari gambar. Penulisan keterangan gambar menggunakan huruf berukuran 10 pt. Jarak keterangan gambar dengan paragraf di bawahnya adalah satu space 1,5. Contoh Gambar seperti terlihat pada Contoh 3. berikut:

Contoh 3:

Sumber : ...

Gambar 1. Peta Kecamatan Sekotong

(kosong satu space 1.5, 10 pt)

Grafik termasuk kategori Gambar. Grafik dibuat dengan latar belakang putih. Grafik yang memuat lebih dari satu garis dibedakan dengan bentuk titik yang berbeda atau bentuk garis yang berbeda (misalnya dengan – atau .... atau -.-.-. . Grafik batang dibuat dengan latar belakang putih. Grafik batang yang memuat lebih dari satu batang dibuat dengan corak, jika menggunakan

Sumber Data : Rita, dkk., 2008(Times new roman, 10pt) (kosong 1space 1, time new roman 10 pt)

Gambar 2. Grafik Kandungan PM2,5 dan PM10 di Serpong Pada Bulan September 2008

(kosong 1 space 1,5, time new roman 10 pt)

Sumber pustaka berjumlah paling sedikit 30 (tiga puluh) dan acuan primer dianjurkan paling sedikit 80 persen dari total daftar pustaka. Format penulisan daftar pustaka menggunakan

American Psychological Association (APA) atau disebut Gaya Harvard. Sedangkan kutipan

tulisan sendiri dari karya tulis ilmiah dibatasi paling banyak 30 persen dari total jumlah daftar pustaka. Minimal 2 kutipan berasal dari artikel yang berkaitan dengan tema artikel yg disubmit dan telah dimuat di jurnal ecolab.

(Times new roman, 12 pt, 1,5space)

(Kosong1 space 1, Times new roman, 10 pt)

2. Metodologi (capitalize each word, Times new roman, 12 pt, Bold, space 1,5)

Metodologi mencakup lokasi sampling, prosedur kerja atau analisis, alat, bahan, teknik pengumpulan data, metode analisis data dan atau termasuk perangkat lunak yang digunakan untuk memecahkan permasalahan yang telah di definisikan pada bagian Pendahuluan. Penjabaran metodologi menggunakan narasi berurutan dalam kelompok alinea, tidak menggunakan penomoran.

Bagian ini dibuat sejelas mungkin sehingga memungkinkan peneliti lain untuk melakukan pengulangan.

(Times new roman, 12 pt, 1,5space)

(Kosong1 space 1, Times new roman, 10 pt)

3. Hasil dan Pembahasan (capitalize each word, Times new roman, 12 pt, Bold, space 1,5)

Dokumen terkait