• Tidak ada hasil yang ditemukan

I Lanjut 2 tahun I

Dalam dokumen Tanggal Desember 2006 (Halaman 27-37)

Tabanan - 60 hari

.

Pegawai - Penyidik

~

,,

Menteri Keselamatan ~ Dalam Negeri ~

•Ir Ir

,,

Be bas Perintah tahanan Perin tab

Sekatan/tahanan rumah

,, i

Perin tab

Perintah tahanan Sekatan/tabanan rumab

l

-(2 ta.bun) (2 tahun)

..

'Ir

Pelanjutan Perintab tahanan

~enteny

Pelanjutan Perintab

·c2 tahun) Sekatan/tahanan rumah

(2 tahun)

,,

Lanjut 2 tahun

,

I

Lanjut 2 tahun

I

Agensi Dadah Kebangsaan merupak.an agensi utama yang bertanggungjawab menjalankan program rawatan dan pemulihan kepada pecandu narkotika di Malaysia.

Tanggungjawab merawat dan pemulihan pecandu narkotika adalah selaras dengan peruntukan Akta Penagih Dadah (Rawatan dan Pemulihan) 1983 berasaskan kepada falsafah bahwa penagih-penagih dadah adalah pesak.it yang memerlukan rawatan dan pemulihan. Oleh karena itu, ADK berpegang kepada dasar yang mewajibkan setiap individu yang telah terbukti sebagai pengguna dadah menjalani program rawatan dan pemulihan sehingga mereka bebas dari ketergantungan fisikal dan psikologikal terhadap dadah dan seterusnya mengintegrasikan kembali mereka ke dalam masyarak.at sebagai seorang insan yang insaf, berguna dan produktif.

Perundang-undangan tentang narkotika di malaysia sudah komprehensif dan menyediak.an satu set hukwn yang mencakup rehabilitasi, perawatan dan pencegahan. Hal ini mencerminkan kesungguhan dari Malaysia untuk mencegah terjadinya perdagangan/peredaran dan penyalahgunaan narkotika. Hukum yang ada telah melalui proses penelitian untuk mengidentifikasi kelemahan dan konsekwensi yang ditimbulkan guna meningkatkan efektivitas

I

dari hukum tersebut. Bagi Malaysia hukum seputar Narkotika dapat ditemukan dalam enam undang-undang berikut, yaitu:

1. Akta Dadah Berbahaya 1952 - Kastam dan Polisi.

2. Akta Racun 1952.

3. Akta Penagih Dadah (Rawatan dan Pemulihan) 1983-Agensi Dadah Kebangsaan).

4. Akta Dadah Berbahaya (langkah-langkah pencegahan khusus) 1985-Polisi.

5. Akta Dadah Berbahaya (penyitaan harta) 1988-Polisi.

1. Akta Dadah/Narkotika Berbahaya 1952 '

Akta Dadah/Narkotika Berbahaya 1952, merupakan undang-undang yang utama dalam mengendalikan narkotika di Malaysia. Dalam undang~undang ini terkandung aspek perlindungan yang sangat luas, prosedur dan barang bukti. Antara lain, tersedianya perintah . hukuman mati untuk pengedar narkotika. Undang-undangan ini telah berkembang beberapa kali dalam rangka mengikuti perkembangan meningkatnya jumlah pengedar dan pengguna narkotika.

Akta Dadah/Narkotika Berbahaya 1952, mulai berlaku di Malaysia pada 1 November 1952 dan meluas ke Sarawak dan Sabah (mencakup Labuan) pada 1 Juni 1978 sebagai produk hukum yang sudah dimodifikasi· (obat berbahaya dan racun) (modifikasi dan perluasan) sejak 1978.

Dalam Akta Dadah/Narkotika Berbahaya 1952, diuraikan bahwa:

(2) "Pengedaran Dadah" adalah semua perbuatan seperti mengilang/mengolah, mengimport, mengeksport, menyimpan, menyembunyikan, membeli, menjual, memberi, menerima, menyetor, mengendalikan, mengangkut, membawa, menghantar, mengirim, mendapatkan, membekal atau mengedar bermacam-macam dadah/narkotika berbahaya.

(3) Seseorang dianggap mengedarkan dadah bila di dapati memiliki:

a. 15 gram atau lebih berat heroin b. 15 gram atau lebih berat morfin

c. 15 gram atau lebih berat monoasetilmorfin

(4) Sejumlah 15 gram atau lebih berat heroin, morfin dan monoasetil morfin atau sejumlah 15 gram atau lebih berat dari keduanya dari dadah berbahaya tersebut.

Berikut ketentuan pidana yang terdapat dalam Akta Dadah/Narkotika Berbahaya 1952, yaitu:

.Pas al

93B • Memiliki 15 gram atau lebih dan/atau morfin

• Memiliki 1.000 gram atau lebih candu masak atau mentah

• Memiliki 40 gram atau lebih kokain

• Memiliki 40 gram atau lebih ganja

• Memiliki 200 gram ·atau lebih kokain

• Memiliki 2.000 gram atau lebih daun koka

Memilik~ 50 gram atau lebih Amphetamine tipe Stimulants (A TS contoh: shabu atau il ektasi

Mati

(kategori pengedar)

39(A)(2)

39(A)(l)

6B

• Memiliki 5-15 gram heroin atau morfin

• Memiliki 250-1.000 gram candu

• Memiliki 50-200 gram ganja

• Memiliki lebih 15-40 gram kokain

• Memiliki lebih 750 gram daun koka

• Memiliki 30-50 gram Amphetamine tipe Stimulants (ATS) contoh: shabu atau pil ektasi

• Memiliki 2-5 gram heroin,atau morfin

• Memiliki 100-250 gram ca'ndu

• Memiliki 20-50 gram ganja

• Memiliki 5-15 gram kokain

• Memiliki 250-750 gram daun koka

• Memiliki 5-30 gram Amphetamine tipe (A TS) contoh: shabu atau pil ektasi

Menanam atau mengusahakan pokok ganja

9 Memiliki kurang 100 gram candu masak sama

10 Alat-alat menghisap dadah/narkotika sama

12(2) • Memiliki kurang 2 gram heroin atau morfin Sama dan dirotan

15(A)

15(B)

• Memiliki jenis lain-lain dadah/narkotika kurang dari tidak lebih dari 3 ketentuan pada Pasal 39(a)(l)

• Petugas yang bertugas di penjara, pusat pemulihan, sabetan/pukulan tempat tahanan yang ada di kantor polisi atau tempat

tahanan dimanapun dan memiliki dadah di tempat terse but.

Memasukkan dadah/narkotika ( dadah-dadah dijualkan) ke dalam badan/tubuh.

yang Penjara tidak kurang 2 tahun atau denda tidak lebih RM 5.000 (± Rp 12.500.000) Berada dalam keadaan menggunakan tempat hisap Penjara tidak kurang dadah.

2 tahun atau denda tidak lebih RM 5.000 (± Rp 12.500.000)

2. Akta Racun 1952

Akta Racun 1952, ditujukan untuk pengontrolan terhadap import dan penjualan racun/bahan yang berbahaya. Kategori 'racun/bahan yang berbahaya' terdapat pada daftar bahan berbahaya dan campurannya, olahannya, caranya atau unsur alami yang terkandung didalamnya kecuali bahan olahan atau buatan/rekayasa, olahan yang kedua kali di diatur pula dalam undang-undang. Undang-undang ini mulai berlaku di Malaysia pada tanggal 1 September 1952 dan disebarluaskan ke Sabah dan Sarawak pada tanggal 1 Juni 1978.

Jenis bahan berbahaya yang diatur dalam undang-undang ini meliputi unsur yang digunakan untuk industri, pertanian dan obat/kedokteran. Beberapa bahan berbahaya ini termasuk dalam golongan psychotropic dan hanya boleh didapat dengan resep dokter, dokter gigi.

atau dokter hewan. Seorang Apoteker yang berlisensi/terdaftar dapat pula menjual atau menyediakan golongan psychotropic dan dokter dapat memberikan golongan psychotropic ini untuk perawatan pasiennya.

Dalam rangka meningkatkan kontrol terhadap prekursor, bagian farmasi dari Kementerian Kesehatan telah mengusulkan perubahan dari Akta Racun 1952. Dalam lamandemen yang diusulkan, petugas penyelenggara diijinkan untuk ikut serta meneliti, menangkap dan mengambil contoh dari barang~barang yang kirim. Dalam amandemen yang diusulkan ditambahkan pula beberapa klausul agar memudahkan dalam pelaksanaan undang-undang tersebut.

3. Akta Penagih Dadah (Rawatan dan Pemulihan) 1983

Akta Penagih Dadah (Rawatan dan Pemulihan) 1983 adalah suatu undang-undang komprehensif yang mencakup semua aspek rehabilitasi dan perawatan. Tindakan ini mulai berlaku pada tanggal 15 april 1983.

Akta Penagih Dadah (Rawatan dan Pemulihan) 1983 mengatur tentang rehabilitasi dan perawatan bagi setiap orang yang mendaftarkan diri secara sukarela/atas kemauan sendiri mengikuti rehabilitasi dan perawatan. Pelaksanaan rehabilitasi dan perawatan pada pusat rehabilitasi memakan waktu dua tahun. Kegiatan rehabilitasi dan perawatan ini kemudian diikuti dengan kegiatan yang lainnya selama dua tahun.

Bagian Satu Pasal 2 menyatakan bahwa Penagih/pengguna dadah adalah: "seseorang yang terbukti menggunakan dadah/narkotika, mengalami suatu keadaan psikis dan kadangkala keadaan fisik yang dicirikan dengan gerak gerik tingkah laku dan gerak gerik lain yang meliputi keinginan kuat selalu menggunakan dadah secara terusmenerus atau berkala untuk memenuhi kebutuhan psikisnya dan untuk ~engatasi ketagihan karena tindakannya (sakau)."

Berikut beberapa klausul yang terdapat dalam Akta Penagih Dadah (Ra~atan dan

Penahanan terhadap orang yang dicurigai pengguna dadah untuk tujuan ujian-ujian (tes):

(1) Petugas Polisi boleh menahan seseorang yang dicurigai sebagai penagih dadah.

(2) Petugas Polisi boleh menahan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) selama tidak lebih dari 24 'am untuk tu'uan men'alani u'ian.

Membawa ke hadapan Hakim jika tes tidak dapat dilaksanakan dalam waktu 24 jam:

(1) Ujian/tes tidak dapat dilaksanakan dalam waktu 24 jam:

• Orang itu boleh dilepaskan dengan jaminan, tanpa penjamin, oleh seorang petugas supaya hadir pada masa dan ditempat yang dinyatakan dalam bon (wajib lapor).

• Seorang itu boleh dibawa dihadapan Hakim, hakim boleh dengan kuasanya/kewenangannya menahan seseorang itu selama 14 hari untuk men· alani u · ian/tes.

Obligasi/Hasil pengguna dadah yang dicurigai untuk menjalani prosedur-prosedur ujian:

(1) Bagi maksud (sebagaimana dimaksud pada) Pasal 3 atau 4, orang itu dikehendaki hadir menjalani pemeriksaan oleh petugas perubatan kerajaan (yang dilakukan oleh petugas kesehatan)

(2) Jika orang itu tidak mematuhi ~hendak Pasal 5 ayat (1)/sebagaimana dimaksud pada ayat ( 1) dia melakukan kesalahan boleh/dapat dihukum

en· ara 3 bulan.

Perintah Hakim terhadap pengguna dadah:

( 1) Jika seseorang itu telah menjalani ujian-ujian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 dan 4, ujian telah dilakukan oleh petugas pengobatan/kesehatan.

Petugas/petugas itu haendaklah membawa orang itu dihadapan hakim, hakim boleh memerintahkan:

• Orang itu perlu menjalani perawatan dan pemulihan/rehabilitasi di pusat pemulihan/rehabilitasi, tinggal dipusat selama 2 tahun dan setelah selesai akan menjalani penahanan lanjutan.

• Orang itu boleh diletakkan dibawah pengawasan seorang petugas emulihan/rehabilitasi selama 2 tahun dan tidak lebih dari 3 tahun.

7 Melanggari/pelanggaran termal-termal bon yang disempurnakan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 (l) (6). _

Seorang petugas mempunyai sebab bahwa terma bon sebagaimana dimaksud Pasal 6 ayat (1) paragrat/huruf (b), telah dilanggar dan dibawa ke hadapan hakin. Hakim boleh memerintah orang itu tinggal di pusat

emulihan/rehabilitasi selama 2 tahun.

19 Penahanan yang sah menurut undang-undang:

1) Seseorang berada dalam penahanan yang sah menurut undang-undang:

• Ia ditahan dalam penahanan oleh seorang petugas sebagaimana dimaksud dalam undang-undang/akta ini.

• Semasa dia menjadi penghuni di Pusat pemulihan/pusat penahanan lanjutan.

• Semasa dia sedang dibawa dati tempat, sedang melibatkan aktivitas pusat pemulihan/rehabilitasi.

2) Setiap orang yang lari dari tahanan yang sah sesuai dengan undang-undang adalah melakukan kesalahan, semua kesalahan dikenakan denda atau penjara tidak lebih 3 tahun atau kedua-duan a.

4. Akta Dadah Berbahaya (langkah-la~gkah pencegahan khusus) 1985

· Hukum pencegahan ini mulai berlaku pada tanggal 15 juni 1985. Undang-undang ini memberikan kewenangan pada Pemerintah untuk menangkap seseorang yang dicurigai sebagai pengedar tanpa keharusan untuk membawa orang yang dicurigai tersebut ke pengadilan. Selama lima tahun yaitu dari 15 juni 1990 sampai 15 juni 1995, undang-undang ini bagaikan 'matahari terbenam', yang telah memberikan awal kehidupan. Sampai Desember 2002, terdapat 25.908 orang yang sudah ditangkap berdasarkan undang-undang ini.

Berikut beberapa klausul yang terdapat dalam Akta Dadah Berbahaya (langkah-langkah pencegahan khusus) 1985, yaitu:

(1) Petugas Polisi boleh menangkap tanpa surat perintah/penangkapan, menahan, untuk tujuan penyidikan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (1).

(2) Penahanan dalam penjara Polisi selama waktu tertentu dan tidak melebihi 60 hari sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (1). Dengan syarat:

• Tidak boleh · ditahan selama 24 jam seorang petugas polisi berpangkat Inspektur atau lebih tinggi.

• Tidak boleh ditahan selama ~8 jam kecuali pada seorang petugas polisi .berpangkat Asisten Superintenden Polis (ASP) atau lebih

• Tidak boleh ditahan selama 14 hari kecuali pada seorang petugas polisi yang berpangkat Deputi Superintenden Polis (DSP) atau lebih tinggi dan telah melaporkan hal ini pada Ketua Polisi Negara dan Menteri.

(3) Laporan lengkap penyidikan hendaknya dikemukan:

• Kepada seorang petugas polisi yang dilantik/ditunjuk sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat (1)

• Kepada Menteri.

Pemeriksaan orang-orang yang mengetahui fakta dan keadaan kasus.

(1) Seorang petugas polisi yang melakukan penyidikan boleh memeriksa secara lisan pada setiap orang yang mengetahui fakta-fakta kasus

(2) Orang itu harus menjawab semua pertanyaan yang berhubungan dengan kasus

(3) Orang itu adalah sebagaimana dimaksud dalam undang-undang harus menyatakan yang sebenarnya

(4) Petugas polisi yang memeriksa seseorang itu sebagaimana dimaksud pada ayat ( 1) hendaknya . ter!.~bih dahulu memberitahu orang itu tentang peruntukan/tujuannya sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan (3).

Penyidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) hendaklah mempunyai tanggal, waktu dan ditandatangani orang tersebut. Selepas penyidikan itu dibacakan kepadanya dan diberi peluang untuk pembetulan.

5 Petugas Penyidik.

(1) Petugas penyidik dilantik oleh Menteri

(2) Petugas penyidik boleh mengeluarkan kebijaksanaan:

• Menghendald seseorang yang ditahan sebagaimana dimaksud Pasal 3 hadir dihadapannya

• Mendapat dan menerima semua keterangan, sama ada keterangan itu di terima atau tidal<.

• Memanggil dan memeriksa saksi-saksi

• Menghendaki supaya dikemukakan dokumen-dokumen vang ada

(3) Seorang petugas penyidik harus mengemuk.akan laporan secara tertulis kepada Menteri.

6 Perintah tahanan dan pembatasan (tahanan rumah/bebas bersyarat) 1) Jika Menteri berpuas hati,

7

9 .

• Laporan lengkap yang dikemukakan sebagaimana dimaksud dalarn Pasal 3 ayat ayat (3)

• Laporan petugas penyidik yang dikemuk.akan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat ayat(4).

Menteri berpuas hati yang melibatkan pemgedar dadah seseorang itu dikenakan 'Perintah tahanan' ditahan selama tidak lebih 2 tahun.

(2) Menteri boleh membuat 'perintah batasan' (tahanan rumah/bebas bersyarat) \

• Pengawasan polisi tidak lebih dari 2 tahun

• Tinggal di kawasan dalam jangka waktu yang sudah ditentuk.an

• Tidak boleh menukar kediamannya tanpa kebenaran tertulis dari Ketua Polisi

• Tidak boleh meninggalkan kawasan tanpa ketentuan tertulis dari petugas polisi

• Dia harus memastikan petugas polisi mengetahui tempat kediamannya

• Dia harus melaporkan diri ke kantor polisi yang terdekat

• Dia harus berada di rumah selama masa perintah pembatasan/tahanan rum ah

• Dia tidak boleh memasuki wilayah/tempat-tempat yang dinyatakan dalam perintah bpembatasan

• Dia harus menjaga keamanan dan kelakuan baik Perintah Penggantungan pada Tahanan.

(l) Menteri boleh, pada suatu waktu mengarahkan untuk tahanan dijatuhkan huk.uman gantung atau tahanan rumah dan syarat sesuai dengan ketentuan dalam Pasal 6 ayat (3) yang berisikan perintah pada tahanan, dan harus dilaksanakan bila Menteri mengarahkan demikian. Putusan yang berisi perintah pada tahanan dituangkan dalam suatu bon/tertulis sebagaimana tertuang dalam Pasal 6 ayat ( 4)

(2) Jika suatu perintah pada tahanan untuk. digantung sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat ( 6) hendaklah putusan seolah-olah sekatan-sekatan (pembatasan) dan syarat-syarat dari perintah digantung pada tahanan itu adalah sekatan-sekatan dan syarat-syarat yang dikebakan oleh suatu perintah sekatan.

(3) Menteri boleh membatalkan penggantungan yang dijatuhkan pada tahanan jika dia berpuas hati bahwa orang yang mendapat putusan itu tidak mematuhi sekatan dan syarat yang dikenakan atasnya atau putusan penggantungan itu perlu dibatalkan demi kepentingan ketentraman tertentu dan dalam keataan tertentu dilakuk.an pembatalan demi kepentingan tertentu dan dalam keadaan pembatalan penggantungan tersebut harus memberikan alasan yang mencuk.upi kepada petugas polisi yang menangkap tanpa waran orang terhadapnya. Perintah tahanan itu dibuat dan orang itu harus dikembalikan dengan segera mungkin ke tempat tahanannya yang <lulu atau jika diarahkan/atas petunjuk Menteri dihantar ke suatau tempat tahanan lain.

( 4) Perintah penggantungan terhadap tahanan sebagaimana terse but dahulu, harus mengacu pada pada Pasal 6 ayat (6) sebagaimana tertuang pada ayat (3 ), kemudian bagi yang belum berakhir masa penahanannya sebagaimana dimaksud dalam·Pasal 6 ayat (1) atau ayat 1 lA.

Representasi-representasi terhadap perintah tahanan.

(1) Satu salinan setiap perintah yang dibuat oleh Menteri sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (1) harus segera disampaikan pada orang yang terkait/mendapat perintah tersebut. setelah putusan dijatuhkan, dan

setiap orang yang sedemikian berhak membuat presentasi-presentasi pada lembaga penasehat.

(2) Sebagaimana dibolehkannya seseorang membuat representasi-representasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1 ), pada saat disampaikan kepadanya harus:

• Diberitahu haknya membuat representasi-representasi pada suatu lembaga penasihat sebagaimana dimaksud pada ayat (1 ); dan

• Diberi oleh Menteri suatu pernyataan tertulis:

I. Mengenai alasan-alasan putusan itu dij~tuhkan terhadap dirinya;

II. Mengenai temuan-temuan fakta yang mendasari putusan tersebut;

dan

III. Mengenai butir-butir lain, jika ada, yang berisi rekmendasi/catatan Menteri mungkin diperlukan untuk membuat representasi-representasi terhadap putusan yang dijatuhkan pada dirinya kepada lembaga penasehat.

(3) Yang dipertuan Agung boleh membuat kaedah-kaedah mengenai bagaimana caranya representasi-representasi/perwakilan-perwakilan boleh dibuat dan prosedur pendampingan oleh lembaga penasehat.

1

s.

Akta Dadah Berbahaya (penyitaan harta) 1988

Perdagangan narkotika di dalam negeri tetap merajalela meskipun hukuman mati untuk peredaran narkotika sudah ditetapkan. Oleh karena itu, Pemerintah memperkenalkan Akta Dadah Berbahaya (penyitaan harta) 1988, yang mulai berlaku pada tanggal 10 juni 1988. Kebijakan hukum ini memberikan kewenangan/otoritas untuk melacak, pembekukan dan penyitaan harta • sebagai konsekuensi dari hukum peredaran narkotika.

Berikut beberapa klausul yang terdapat dalam Akta Dadah Berbahaya (penyitaan harta) 1988, yaitu:

Pasal KesaI11han/jenis na'rl{' • ~' , 'L<;1t;;·~t:~~~~kuman';i

1---+---...;.;.;..__....;_· ....;_'". -··i ~-· _ _ _ ....;;.,;·...;.;&>~:.;..:·~~.:#}=~; ,~;·,.>+ .. /·:::\,:'~:;.~:~:r>·· ,! ·• _, '),, , .••• ·:,··._~·'"::

2 Pasal 2 undang-undang ini telah menguraikan arti dari

"harta yang menyalahi bndang-undang" menjadi 7 bagian dimana harta irii diperoleh dari kegiatan pengedaran termasuk saham, uang simpanan, rumah, tanah, kendaraan, perniagaan dan lain-lain harta alihan atau tak alihan.

3 Penggunaan harta untuk menjalarl<.an aktivitas-aktivitas Penjara tidak kurang dari yang salah menurut akta dadah berbahaya 1952 atau 5 tahun dan tidak lebih semua undang-undang asing yang bersamaan dengan dari 20 tahun.

akta ini baik yang telah dilakukan atau sedang di· alankan.

4 Setiap orang yang terlibat dalam pem1agaan, Penjara tidak kurang dari menggunakan, memegang, menerima atau 5 tahun dan tidak lebih menyembunyikan setiap harta yang dia ketahui atau dari 20 tahun.

mempunyai sebab untuk mempercayai bahwa harta itu adalah harta yang menyalahi undang-undang. Pemulihan, kantor polisi atau setiap tempat tahanan dan memiliki narkotika di tern at tersebut.

21 ( 1) Keenangan khusus mengenai penyidikan.

Semak akaun/catatan.

Memulai perintah secara tertulis membenarkan setiap petugas polisi tertentu yang diperintahkan untuk men" alankan en idikan.

24(7) Melanggar larangan perintah mahkamah yang telah Denda tidak lebih dari diberitakan/diwnumkan atau menyembunyikan atau RM

500.000,-memusnahkan dan mengubah seti~p benda atau harta yang terjejas/diterima secara tdk baik oleh putusan itu atau mengeluarkan harta yang terieias dariMalaysia.

25(1) Penyitaan harta alih

Harta alih yang keberadaannya dicurigai oleh seorang petugas polisi berwenang dalam hal perkara tersebut sesuai undang-undang ini atau harta-harta yang telah digunakan untuk melakukan kesalahan/menyalahi undang-undang, boleh disita.

26(4) Peruntukan lanjut berhubungan dengan penyitaan harta alih.

27(1)

Sita Akuan.

Penyitaan dilaksanakan oleh petugas polisi yang berwenang dengan menyampaikan satu perintah pada orang itu dimana melarang menggunakan, memindahkan hak milik atau mengurusniagakan harta itu serta menyerahkan harta kepada petugas polisi yang berwenang dalam jangka waktu yang telah ditetapkan putusan ini.

Peruntukan khusus yang berhubungan dengan penyitaan sesuatu pemiagaan

Jika keberadaannya dicurigai oleh seorang petugas polisi berwenang yang ditunjuk (superintenden) bahwa setiap

,

perniagaan yang sedang dijalankan oleh atau bagi setiap orang yang didakwa karena suatu kesalahan sebagaimana dimaksud diam Pasal 3, Pasal 4 atau Pasal 24, 27 undang-undang ini atau suatu pemiagaan yang didalamnya terlibat orang itu atau saudaranya atau sekutunya mempunyai kepentingan dalam jwnlah tertentu atau memberikan hak tidak kurang 30% dari semua pemiagaan itu, maka petugas polisi yang berwenang yang ditunjuk boleh melakukan suatu tindakan atau didasarkan pada:

Melalui Perintah tertulis

• Mengarahkan tujuan dan cara perniagaan itu yang boleh dijalankan

• Mengarahkan atau mengawal/mengawasi perniagaan itu atau sebagian yang dinyatakan

• Mengarahkan semua atau sebagian hasil atau keuntungan perniagaan dibayar kepada pemegang Amanah Raya untuk disimpan sementara sambil menunggu arahan selanjutnya.

• Mengarah atau melarang petugas atau pekerj a yang terlibat dalam bentuk apapun dalam perniagaan.

• Mengarahkan supaya alasan tempat pemiagaan yang dijalankan ditutup dan jika perlu atau sesuai dengan manfaat dibawah pengawasan atau jagaan.

28( 1) Penyitaan harta alih

Seorang petugas polisi yang berpangkat Asisten Superintenden Polisi (ASP) atau lebih tinggi didapatkan mecurigai setiap harta tak alih menurut undang-undang ini atau harta yang menyalahi undang-undang, maka harta itu boleh disita.

Pada bulan Juni 1999, didapat 209 orang telah menjalani hukuman gantung sampai mati, sebanyak 270 rakyat Malaysia dan 26 orang rakyat asing masih menunggu untuk dilakukan hukuman gantung sampai mati.

Selain itu, wujud peran serta masyarakat untuk turut serta memerangi kejahatan narkotika mendapat dukungan yang besar dari pihak Pemerintahan. Hal ini terbukti dengan diikutsertakannya lembaga non pemerintahan (PEMADAM) ke dalam satu sistem penanggulangan kejahatan narkotika Pemerintah yang tertuang dalam suatu undang-undang. Hal ini sangat membantu negara dalam upaya menurunkan jumlah pengguna/pecandu narkotika.

Karena pelaksanaan program dari PEMADAM itu sendiri berkesinambungan dengan program Pemerintah.

Program PEMADAM difokuskan pada:

1. Bekerjasama dengan Kerajaan Persekutuan dan Kerajaan Negeri serta agensi-agensi mereka dan lain-lain badan dalam usaha untuk menghapuskan pengeluaran dan perniagaan dadah yang menyalahi undang-undang dan penggunaannya dalam bentuk apapun.

2. Membasmi serta menjalankan penyelidikan mengenai penggunaan dadah dan untuk membantu bekas-bekas penagih dadah melalui JAGAAN LANJUTAN (pengawasan khusus).

3. Menyadarkan masyarakat akan bahaya penggunaan dadah dan melibatkan masyarakat dalam usaha mencegah penyalahgunaan dadah serta bekerjasama dengan Persatuan-persatuan dan badan yang mempunyai tujuan yang sama dengan Persatuan ini.

4. Melancarkan kegiatan-kegiatan Persatuan itu dalam peringkat Negeri dan Daerah dan memberi galakan serta bekerjasama dengan Persatuan-persatuan dan Badan-badan yang mempunyai tujuan yang sama dengan Persatuan ini.

Sumber pembiayaan PEMADAM berasal dari kerajaan dan serikat koorporat (Petronas).

Adapun pelaksanaan programnya dengan mengikutsertakan para perempuan hingga tingkat rumah tangga di wilayahnya masing-masing. Selah satu bentuk pendidikan yang dilakukan PEMADAM adalah dengan menyebarkan informasi kesekolah-sekolah.

III. Kesimpulan

• Malaysia mempunyai kebijakan hukum yang lebih tegas dan rinci dalam memerangi kejahatan peredaran gelap narkotika seperti penegakan hukuman mati serta penanganan terhadap pengguna narkotika yang lebih komprehensif (pengguna dianggap sebagai "pesakit"

bukan "kriminalis"), polisi narkotika mempunyai kewenangan besar sebagai penyidik, dan pengkategorianjenis hukuman berdasarkan berat gram narkotika (kuantiti).

• Dalam pelaksanaan penanggulangan narkotika di Malaysia melibatkan tiga pihak utama, yaitu: kerajaan, anggota kera~aan, dan rakyat.

• · Sumber pembiayaan yang digunakan untuk memberantas kejahatan narkotika di Malaysia berasal dari pihak kerajaan dan Petronas.

• Peran Kastam dalam pencegahan penyelundupan dan pengedaran narkotika mempunyai '

kekuasaan penuh yang tertuang dalam undang-undang seperti melakukan penangkapan,

kekuasaan penuh yang tertuang dalam undang-undang seperti melakukan penangkapan,

Dalam dokumen Tanggal Desember 2006 (Halaman 27-37)

Dokumen terkait