• Tidak ada hasil yang ditemukan

I NFLASI BERDASARKAN KELOMPOK BARANG DAN JASA

BOX 1 : KARAKTERISTIK INVESTASI GORONTALO

BAB 2 : P ERKEMBANGAN INFLASI

2.2 I NFLASI BERDASARKAN KELOMPOK BARANG DAN JASA

2.2.1 INFLASI TAHUNAN (Y.O.Y)

Secara tahunan, inflasi Gorontalo tahun 2009 sebesar 4,35% (y.o.y) lebih rendah dibandingkan tahun 2008 sebesar 9,20% (y.o.y). Tendensi penurunan harga terutama

terjadi pada kelompok bahan makanan dan kelompok transport, komunikasi, dan jasa keuangan.

Tabel 2.1

Inflasi Tahunan Kelompok Barang dan Jasa (y.o.y)

Sumber : BPS Provinsi Gorontalo

Hampir sepanjang tahun 2009 barang dan jasa kelompok transportasi, komunikasi, dan jasa keuangan mengalami deflasi. Pada triwulan-IV 2009, kelompok transportasi,

komunikasi, dan jasa keuangan deflasi sebesar -2,50% (y.o.y) lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya mengalami inflasi sebesar 3,48% (y.o.y). Penurunan tekanan harga dalam kelompok ini terutama disebabkan oleh penurunan kebijakan harga BBM sebanyak dua kali yaitu pada Desember 2008 dan Januari 2009.

I II III IV I II III IV I II III IV

Umum 3.55 5.07 5.97 7.02 8.33 9.58 12.26 9.20 10.54 7.22 3.97 4.35 1

Bahan makanan 5.09 10.34 10.62 13.09 13.25 18.05 21.69 8.56 21.05 14.59 5.50 7.70 2

Makanan Jadi, Minuman, Rokok dan Tembakau 9.10 5.69 8.41 6.41 5.47 5.79 9.36 14.51 21.08 12.39 12.03 7.73 3

Perumahan, Air, Listrik, Gas dan Bahan Bakar 0.07 1.03 1.36 1.70 6.85 4.50 12.43 14.02 14.74 5.57 3.38 2.84 4

Sandang 2.41 2.11 2.16 4.63 6.81 4.29 3.40 2.63 6.36 2.53 2.80 3.06 5

Kesehatan 3.34 3.80 1.90 4.65 6.35 7.10 4.66 3.95 3.42 3.41 8.59 8.22 6

Pendidikan, Rekreasi dan Olahraga 0.29 0.30 8.84 9.11 9.39 10.65 4.52 4.34 4.27 4.24 0.44 0.57 7

Transpor, Komunikasi dan Jasa Keuangan 0.21 0.91 0.97 0.95 1.39 3.37 6.14 3.48 (0.37) (5.15) (5.35) (2.50)

No Kelompok 2007 2008 2009

Grafik 2.5 Indeks Keyakinan Konsumen Grafik 2.6 Realisasi Kapasitas Produksi per Sektor Ekonomi 2009

20 Bank Indonesia │Kajian Ekonomi Regional Provinsi Gorontalo Triwulan IV-2009 Grafik 2.7

Perkembangan Harga BBM

Sumber : Departemen ESDM

Bila diuraikan lebih dalam, subkelompok transportasi merupakan penyumbang terbesar terjadinya deflasi pada kelompok transportasi, komunikasi, dan jasa keuangan. Subkelompok transportasi pada periode laporan mengalami deflasi sebesar -3.06% (y.o.y) jauh lebih rendah dibandingkan subkelompok lainnya yang pergerakan harganya relatif stabil. Kebijakan pemerintah untuk menurunkan harga BBM bersubsidi pada awal Desember 2008 memberikan efek sepanjang tahun 2009.

Tabel 2.2

Inflasi Sub kelompok Transportasi, Komunikasi, dan Jasa Keuangan tahun 2009 (y.o.y)

Sumber : BPS Provinsi Gorontalo 2.2.2 INFLASI TRIWULANAN (QTQ)

Secara triwulanan, inflasi Gorontalo pada triwulan IV-2009 sebesar 0.53% (qtq) lebih rendah dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar 0.85% (qtq). Penurunan tingkat

harga barang dan jasa didorong oleh deflasi pada kelompok makanan jadi, minuman rokok, dan tembakau, kelompok perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar, kelompok sandang, dan kelompok transportasi, komunikasi, dan jasa keuangan. Sedangkan sumber tekanan inflasi terutama disumbangkan oleh inflasi kelompok bahan makanan.

Tabel 2.3

Kelompok Barang dan Jasa (qtq)

Kelompok / Sub kelompok JAN FEB MAR APR MEI JUNI JULI AUG SEPT OCT NOV DEC

TRANSPOR, KOMUNIKASI & JASA KEUANGAN 0.52 -0.36 -0.37 2.39 0.80 -5.15 -5.16 -5.27 -5.35 -4.88 -4.84 -2.5

Transpor 5.11 3.79 3.77 3.26 0.98 -7.36 -7.37 -7.39 -7.31 -6.33 -6.33 -3.06

Komunikasi dan Pengiriman -12.80 -12.80 -12.80 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 -0.69 -1.91 -1.83 -1.83 Sarana dan Penunjang Transpor 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0 0.4 0.4

Jasa Keuangan 2.74 2.74 2.74 2.74 2.74 2.74 2.74 0.34 0.34 0.34 0.34 0.34

Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q4

Umum -1.24 0.46 1.66 2.96 -0.04 3.83 4.01 0.16 2.33 0.59 0.85 0.53

Bahan makanan -4.86 0.19 2.10 10.48 -4.72 4.73 7.89 -1.44 6.83 0.88 -0.67 0.62 Makanan Jadi, Minuman, Rokok dan Tembakau 2.86 0.24 2.77 -0.24 1.96 4.01 2.32 4.46 3.15 1.93 2.00 -5.18 Perumahan, Air, Listrik, Gas dan Bahan Bakar 0.13 0.73 0.88 -0.07 5.20 1.36 4.40 1.34 -0.14 -0.07 2.23 -8.16

Sandang 0.24 0.90 0.41 1.90 2.33 -0.67 -0.04 1.14 2.52 -1.08 0.22 -1.61

Kesehatan 0.12 0.90 0.26 1.11 1.74 1.34 0.56 0.42 0.62 1.77 5.59 0.08

Pendidikan, Rekreasi dan Olahraga 0.00 0.12 7.44 0.05 0.26 0.47 3.98 -0.12 0.17 0.20 0.19 0.01 Transpor, Komunikasi dan Jasa Keuangan 0.16 0.74 0.11 -0.59 0.60 8.37 0.13 -3.09 -2.39 0.14 -0.08 -0.17

Kelompok 2007 2008 2009

Bank Indonesia │Kajian Ekonomi Regional Provinsi Gorontalo Triwulan IV-2009 21 Inflasi kelompok bahan makanan tetap menunjukkan peningkatan di tengah kecenderungan penurunan inflasi daerah. Hasil Survei Pemantauan Harga menunjukkan

bahwa beberapa komoditas utama dalam kelompok bahan makanan yaitu cabai, bawang merah, beras, dan gula pasir mengalami peningkatan.

Hasil Survei Pemantauan Harga menunjukkan bahwa beras sebagai komoditas utama penyumbang inflasi mengalami kenaikan harga. Harga beras jenis IR-64 pada

minggu-I September 2009 sebesar Rp5500/kg naik menjadi Rp6.000/kg pada minggu-IV Desember 2009. Sementara, harga beras jenis Dolog relatif stabil. Harga gula pasir pada minggu-I September 2009 sebesar Rp9700/kg naik menjadi Rp11.000/kg pada minggu-IV Desember 2009. Sedangkan harga bawang merah pada minggu-I September 2009 sebesar Rp14.000/kg naik menjadi Rp16.000/kg pada minggu-IV Desember 2009.

Cabai sebagai komoditas dengan tingkat volatilitas tinggi mengalami kenaikan harga. Harga cabai keriting pada minggu-I September 2009 sebesar Rp9800/kg naik menjadi

Rp20.000/kg pada minggu-IV Desember 2009. Sementara itu, harga cabai merah biasa pada minggu-I September 2009 sebesar Rp11.500/kg naik menjadi Rp19.000/kg pada minggu-IV Desember 2009. Bila kita telusuri lebih dalam, pada bulan November 2009 harga cabai kriting dan cabai merah mengalami kenaikan yang drastis hingga mencapai Rp.37.000/kg untuk cabai kriting dan Rp.40.000/kg untuk cabai merah. Hal ini disebabkan karena pada saat itu stok cabai hilang di pasaran Gorontalo karena banyak dialihkan ke Manado. Pada saat yang sama Manado sedang mengalami kekurangan pasokan cabai, sehingga banyak pasokan cabai Gorontalo yang dialihkan oleh para pedagang besar untuk memenuhi kebutuhan pasokan di Manado karena harga cabai di Manado sudah jauh lebih tinggi.

Grafik 2.8 Perkembangan Harga Bawang dan Cabai 2009

Grafik 2.9 Perkembangan Harga Beras dan Gula Pasir 2009

22 Bank Indonesia │Kajian Ekonomi Regional Provinsi Gorontalo Triwulan IV-2009 Permasalahan distribusi, pembentukan harga, dan struktur pasar menjadi sorotan

ditengah melambungnya harga komoditas kelompok bahan makanan. Hasil penelitian

Bank Indonesia dan konfirmasi dengan berbagai dinas serta pelaku usaha terkait menunjukkan bahwa terdapat permasalahan mendasar pada tata niaga barang dan jasa terutama komoditas pada kelompok bahan makanan. Peran pedagang besar sangat dominan dalam mempengaruhi jalur distribusi dan struktur pasar. Sementara, margin harga yang mereka bebankan kepada konsumen sangat tinggi sehingga pembentukan harga di Gorontalo seringkali tidak selalu sesuai dengan mekanisme permintaan dan penawaran. Hasil pertemuan Tim Pengendalian Inflasi dan Pemberdayaan Ekonomi Daerah (TPIPED) juga mengidentifikasi terdapat permasalahan distribusi yang menghambat kelancaran pasokan barang dan jasa. Tentunya hal ini memperkuat perilaku persistensi tinggi inflasi Provinsi Gorontalo.

Tabel 2.4

Hasil Rapat Tim Pengendalian Inflasi dan Pemberdayaan Ekonomi Daerah

31 Agustus 2009 21 Desember 2009

Keterbatasan kapasitas infrastruktur. Distribusi barang dan jasa seringkali terganggu karena terjadi penumpukan antrian kapal di Pelabuhan Gorontalo. Sementara itu, terdapat alternatif Pelabuhan Anggrek namun kurang diminati oleh pedagang karena jaraknya yang lebih jauh. Pemda tengah membangun dermaga III di Pelabuhan Gorontalo sebagai salah satu solusi permasalahan tersebut yang diperkirakan selesai pada tahun 2010.

Peranan Pedagang Besar dalam perniagaan komoditas. Peranan pedagang besar sangat dominan di Gorontalo, kondisi ini didukung analisis lapangan dari Dinas Pertanian dan Dinas Perikanan dimana Pemerintah Provinsi telah mencoba beberapa upaya untuk

meminimalisir hal tersebut melalui program Taksi Mina Bahari (perikanan) maupun sentra usaha KIAT

(pertanian). Namun upaya dimaksud belum sepenuhnya optimal, karena cukup sulit melawan dominasi tengkulak terkait keterbatasan modal pemerintah daerah.

Bank Indonesia │Kajian Ekonomi Regional Provinsi Gorontalo Triwulan IV-2009 23

BOX II : IDENTIFIKASI JALUR DISTRIBUSI KOMODITAS

Dokumen terkait