akif lagi dan masih masuk tanah desa. Sekarang ini, karetnya masuk masa produksi. Akan tetapi, idak diperbolehkan. Padahal, metode pemanfaatannya hanya disadap untuk mengambil getahnya dan idak
ditebang.
Tanggapan Narasumber
Kontrak ini tampaknya adalah kontrak jual beli. Ada beberapa
kondisi, antara lain masyarakat harus bisa masuk untuk menyadap getah karet. Di sisi lain, ada penebangan hutan yang berujung pada
jual kayu. Dengan adanya REDD, idak akan ada lagi penebangan. Kalaupuan ada yang ditebang, maka akan ditanam kembali. Di wilayah
yang ditunjuk menjadi REDD tersebut, akan ada konsultasi dan lembaga
veriikasi. Jika idak ada penebangan, maka berdasarkan veriikasi karbon bisa dijual. Dalam hal pemantauan agar idak terjadi pelepasan karbon, masyarakat selaku pemilik memasikan idak akan terjadi penebangan kayu. Oleh karena itu, dalam kesepakatan kontrak antara lain dicantumkan bahwa masyarakat diberi peningkatan kapasitas yang memasikan hutan idak ditebang. Dalam 25 hingga 30 tahun ke depan wilayah ini idak dapat melakukan penebangan. Selain itu, masyarakat harus memasikan idak ada kebocoran. Keika masyarakat
bisa menunjukkan itu, maka akan ada yang mau membeli. Kalau ada
penebangan, maka masya rakatnya wanprestasi. Arinya, masyarakat mungkin idak akan memperoleh beneit.
Namun, jika kebocoran dilakukan di luar wilayah proyek, maka
meto dologi nya harus diputuskan. Kalau baseline-nya nasional, maka
untuk wilayah proyek REDD, masyarakatlah yang menjaga hutan. Sementara, pemerintah harus memasikan secara nasional idak terjadi kebocoran di luar wilayah proyek.
Oleh karena itu, bisa dilihat bahwa kelemahan dari kontrak REDD di wilayah yang dipunyai masyarakat adalah jika sebelumnya masyarakat punya kewenangan atas wilayah, di bawah kontrak REDD kewenangan mereka justru berkurang. Pengurangan itu digani oleh sharing beneit. Selain itu, syarat-syarat untuk mengamankan wilayah harus dipenuhi oleh masyarakat. Masyarakat idak boleh membiarkan
orang lain menebang untuk menjamin haknya atas beneit tetap
terjaga. Isu berikutnya adalah bagaimana memenuhi syarat-syarat kontrak tersebut dengan pembeli. Andaikan perjanjiannya 30 tahun,
tetapi di tengah jalan masyarakat merasa harga karbon terlalu rendah.
Lalu mereka memutuskan untuk melakukan penebangan. Di sini terjadi wanprestasi.
104
Tanggapan Peserta
Skema di atas dianggap idak adil. Perusahaan hampir idak
merugi. Dia menjual saham dan kemudian membeli kembali. Sedang masyarakat butuh bayaran untuk melindungi hutan.
Tanggapan lain mengenai penyelesaian sengketa. Jika meng_
gunakan hukum arbitrase, pemilihan hukumnya bagaimana. Apalagi bila pembelinya orang asing. Bisa saja menggunakan hukum Indonesia, tetapi belum tentu dia mau. Namun yang menjadi masalah besar, dalam pemilihan tersebut masyarakat idak dilibatkan.
Dari segi mekanisme mengikatkan diri, ada kesulitan memasikan
semua orang mengikatkan diri pada satu kontrak. Barangkali perlu ada
mekanisme monitoring seperi menggunakan mekanisme adat.
Tanggapan Narasumber
Ada dua isu yang mempengaruhi kontrak kredit karbon. Pertama, REDD akan disepakai atau ditolak di ingkat internasional. Di sana ada
aturan mainnya sehingga si pembeli dan masyarakat hanya memiliki sedikit keleluasaan karena sudah dibatasi dengan peraturan. Kedua,
ada harga karbon premium untuk kredit karbon yang dilakukan lewat masyarakat. Saat ini ada pasarnya, tetapi idak besar.
Presentasi Kelompok 2
Contoh kasus yang diambil adalah di Jambi , yang sudah ada
pengakuan hak masyarakat adat. Di dalam masyarakat sendiri, sampai saat ini sudah ada mekanisme sendiri. Diantaranya ada hak untuk
memanfaatkan fungsi lain dari hutan adat seperi air. Selain itu,
masyarakat adat memanfaatkan kayu untuk pembuatan rumah dan
105
Masyarakat adat sendiri sudah menyebutkan batas-batas hutannya dan mereka mensosialisasikan ke masyarakat adat yang
lain dan pemerintah. Ada monitoring yang ruin. Selengkapnya ada di
matriks, di atas.
Presentasi kelompok 3 (Kontrak REDD di hutan adat nonperda) Menurut kelompok kami, dalam tahap prakontrak, kita harus
memasikan pengakuan hukum masyarakat adat atas hutan (lihat box).
Subjek hukum Hak Kewajiban Catatan
Masyarakat adat
Pemerintah desa
Pemberi hibah, pemberi kredit atau pembeli
Hak untuk memanfaatkan hutan adat
• Memanfaatkan air di
kawasan hutan adat
• Pemanfaatan hutan
bukan kayu, seperi
buah-buahan, madu
• Memanfaatkan hasil hutan berupa kayu, akan tetapi hanya sesuai kebutuhan, misalnya untuk rumah
( idak boleh di jual)
Memberikan
perlindu-ngan terhadap kawa san
hutan adat, misal nya
idak boleh
melaku-kan penebangan
ke-cuali sesuai dengan
kebutuhan.
• Penetapan batas
wi-layah hutan adat.
• M e n s o s i a l i s a s i ka n hasil hutan adat ke masyarakat luas. • Melakukan patrol ruin di kawasan hutan adat • Pembuatan Mekanis-me sanksi adat. • Mengatur kebutuhan administrasi hutan adat • Bertanggung jawab mengoordinasikan dengan semua • pihak yang berhubungan pengelolaan hutan adat.
• Penetapan batas wilayah
hukum adat dilakukan
secara parisipaif, yang
melibatkan semua pihak ( Masyarakat adat, dinas kehutanan, dll.)
• Pelanggaran adat dan pe nyelesaian sengketa
di wilayah hukum adat
diselesaikan melalui pe-radilan adat.
• Hasil pemanfaatan hu-tan yang didapatkan dibagi untuk pengelola
40 %, 20 persen untuk
pemdes, 20 %BPD, dan 20 % masyarakat adat
• Sanksi adat diberikan dalam bentuk semanis mung kin berdasarkan jenis dan bentuk pelang-garannya
• Menfasilitasi pem buatan
regulasi dengan bupai
106
Bentuk pengakuan bisa MoU, Perda, SK, atau terobosan hukum
lainnya. Pengakuan tersebut akan membuat masyarakat setara dengan para pembeli.
107
Selanjutnya kami mencatat hal sebagai berikut: Tanggapan Peserta
Dalam pertanyaan mengenai siapa yang menjadi representasi, jika ko munitas nya adalah adat, maka lembaga adat itu yang menjadi
representasi. Ini menjadi isu kunci dalam kontrak. Akan tetapi karena berkaitan dengan kontrak, maka ketentuan internal masyarakat idak cukup. Maka, perlu ada perlindungan hukum dari Perda. Dalam konteks Hkm, dia bisa berbentuk badan hukum yang mewakili masyarakat
dalam berhubungan dengan pem beli.
Satu kelompok masyarakat sudah bisa membuat perjanjian dengan
108
Mengenai isu parisipasi, barangkali bukan di kontraknya, tetapi di manajemen. Bahwa ada parisipasi masyarakat adat, harus ada semacam kontrak sosial dan kontrak poliik. Dalam hal ini, pemerintah desa dan pemerintah adat akan memegang mandat untuk memasikan
aturannya berjalan.
Komentar Fasilitator
Ada beberapa ulasan yang tampak dari diskusi ini, yakni: 1. kepasian hukum tentang wilayah hutan.
2. pemerintah adat atau masyarakat harus punya kapasitas untuk menjalan kan REDD.
Selanjutnya mengenai risiko, pertanyaannya adalah siapa yang akan me nanggung. Misalnya, risiko yang sifatnya force major. Selain
itu, risiko bila harga karbon luktuaif sehingga bagi masyarakat idak lagi menguntungkan. Kemudian kalau ada kebocoran, siapa yang akan kena penali. Hal-hal seperi ini akan mejadi bagian perjanjian. Dalam hukum perdata biasa, kewajiban-kewajiban untuk memasikan objek yang dijual tetap memiliki kualitas yang sama, merupakan kewajiban
penjual. Pembeli membayar berdasarkan kualitas objek.
Tanggapan Narasumber
Kalau mengikui model penjualan saham, harga karbon bisa mengikui harga saham. Kalau pembeli idak datang langsung ke masyarakat, di bursa saham ada pihak keiga yang akan menjual saham.
Kontraknya adalah antara penjual dengan pihak yang lain. Menjadi
catatan adalah menyangkut pembagian keuntungan. Ada berbagai perhitungan, termasuk pajak. Secara fair, harusnya ada pembagian biaya antara pihak penjual dan pembeli. Jika menggunakan skema pasar,
pemerintah idak banyak terlibat, tetapi hanya memperhitungkawan awal produksi. Oleh karena itu, perlu diperiksa benar mana model