kekuatan militer, idak ada negara yang bisa mengalahkan Amerika
Serikat.
Amerika Serikat harus mempunyai kepeningan nasionalnya sendiri ke ika akan menandatangani atau meraiikasi suatu perjanjian
internasional. Di luar itu sulit dilakukan.
Akhirnya, seberapa jauh perjanjian internasional itu mengikat
digantung kan pada komitmen. Maka, dalam sesi konferensi
inter-nasional selalu dimintai komitmennya. Namun, komitmen ini idak memiliki kekuatan mengikat apa pun sehingga menjadi idak jelas.
Ambil contoh dalam soal ruang angkasa. Konvensi internasional me-nentukan bahwa ruang angkasa itu idak ada yang punya dan ia adalah milik bersama. Akan tetapi, hanya Amerika dan Rusia yang memiliki
kemampuan untuk terbang sampai ke sana. Mereka menempatkan
stasiun peneliian, atau malah satelit mata-mata. Garis edar satelit itu sebenarnya terbatas, dia ada di wilayah garis katulisiwa. Namun apakah Indonesia bisa memprotes atau mengajukan tuntutan agar kedua
pihak negara itu membayar karena telah mempergunakan garis edar di
atas wilayah Indonesia? Indonesia mengajukan hal ini di perundingan internasional. Akan tetapi, apakah usulan ini mendapatkan dukungan
dari negara lain? Kemampuan itu bersinggungan erat dengan kapasitas negara.
Oleh karena secara aturan internasional belum jelas, maka REDD di hadapkan pada bagaimana posisi tawar suatu negara pada negara
lain.
Mengenai manfaat REDD, ia jelas memberikan manfaat pada peningkatan ekologi.
Tanggapan pada pertanyaan ketujuh. Narasumber berpendapat proyek CDM pada dasarnya adalah perdagangan atau bisnis. Misalkan
saja, saya menjalankan sebuah pabrik yang mengeluarkan emisi 100
juta ton karbon/ tahun. Kemudian saya berencana membuat indakan tertentu sehingga emisi itu turun menjadi hanya 50 juta saja. Nilai ini
menjadi nilai kredit saya. Proses penurunan emisi karbon itu kemudian
diajukan sebagai proyek CDM. Untuk itu dilakukan proses pendataran
ke PBB atau PDD. Dalam proses PDD ini, ada proses pengumpulan data
terkait indakan yang dilakukan dan penurunan emisi tersebut. PDD ini dijadikan dasar yang akan diveriikasi oleh suatu im independen. Dokumen-dokumen itu kemudian disampaikan ke CDM execuive board di PBB. Execuive board inilah naninya yang akan memvalidasi kebenaran proyek CDM yang saya lakukan. Jika berhasil melewai
70
proses validasi, maka akan dikeluarkan dokumen berupa CER. CER
inilah yang akan diperjualbelikan di perdagangan karbon.
REDD merupakan kegiatan yang berhubungan dengan pengelolaan hutan. Prosesnya kira-kira akan sama. Siapakah pemilik sah hutan itu,
peme rintah atau pemilik izin, atau koperasi? Apakah hutan itu disewa? Kalau bentuknya disewa, maka proses idak akan dilanjutkan. Hal itu terjadi jika sewanya selama 10 tahun, sementara CER-nya baru keluar setelah melewai masa sewanya. Oleh karena itu, CER idak eligible.
Usulan saya jangan menggunakan ini.
Ada satu mekanisme yang bisa dijadikan contoh untuk proses REDD ini, yakni DNS atau DebforNature Swaps. DNS ini merupakan mekanisme hutang digani dengan hutan. Dengan cara ini, hutang bisa dikurangi dan digani dengan komitmen untuk melestarikan hutan. Dalam perkembangannya, DNS ini idak hanya hutan saja, tetapi bisa berupa pendidikan dan kesehatan. Contohnya adalah negara Jerman
yang melakukan debt-swap untuk pendidikan. Dalam debt-swap ini, Indonesia tetap membayar hutang. Akan tetapi, idak ke negara
kreditur, melainkan untuk program pendidikan dan kesehatan.
Dalam CDM, ada konsekuensi jika CER yang dijual idak memenuhi nilai yang sesungguhnya. CER ini akan dihitung pada tahun 2012 saat komitmen pertama negara Annex 1 berakhir. Jika kurang, maka uang
yang sudah diterima harus dikembalikan.
REDD juga kurang lebih sama. Kalau hutan Anda sudah saya ijon, arinya tolong Anda urus semua mulai dari surat apa yang diperlukan. Jika telah lengkap, baru akan saya bayar. Namun begitu selesai, hutan Anda ternyata kebakaran. Uang Anda bisa diminta kembali. Sebenarnya
ada jalan keluar untuk masalah ini, yaitu buat saja kontraknya
pertermin, idak sekaligus sampai 20-30 tahun. Jadi, modelnya seperi cicilan. Jangan sampai kita dituntut untuk bayar di kemudian hari.
Diskusi kelompok
Diskusi kelompok dibagi dua:
Dalam pembicaraan sebelumnya sudah dibicarakan tantangan serta dampak yang mungkin lahir keika perusahaan bertemu dan
Kelompok 1
Peluang dan tantangan hukum internasional terhadap perlindungan masyarakat adat.
Peluang dan tantangan hukum internasional terhadap keberlanjutan hutan.
71
melakukan kontrak dengan masyarakat. Dalam diskusi kelompok
kita kali ini, kita akan lihat bagaimana memperkecil dampak itu dan mencari peluang penyelesaiannya. Kita akan diskusi setengah jam saja. Setelah itu kita akan ada presentasi. Diakhir, kita akan mengkonirmasi
ke narasumber jika ada permasalahan yang dirasa belum/kurang jelas dibahas dalam diskusi kelompok.
Presentasi diskusi kelompok
Kelompok I
Peluang dan Tantangan Hukum Internaional Masyarakat Adat
Penjelasan Tambahan Kelompok I
Selain yang disebutkan di atas, sebagai peluang, ada yang
namanya Hak sipil dan Poliik dalam ECOSOC yang juga secara jelas memposisikan masyarakat adat seperi apa. Mengenai tantangan, memang betul di Indonesia itu hukumnya sangat normaif. Kalau idak ada penjelasan rinci dalam pelaksanaan, itu menjadi sia-sia.
Di level internasional, memang ada pengakuan masyarakat adat,
tetapi di ingkat nasional/Indonesia banyak yang idak sejalan. Oleh karena itu, Kon vensi ILO idak diraiikasi. Usaha pengakuan menjadi berbelit-belit. Peraturan pelaksananya susah. Syaratnya hampir idak terpenuhi karena bicara soal kepeningan nasional. Ini sederhana,
tetapi sangat berat. Kalau kita relasikan dengan internasional, dari
level internasional sudah ada, tetapi ingkat raiikasinya yang sangat
Peluang :
• Saat ini sudah ada UNDRIP (UN Declaraion on the Rights Of Indigenous Peop-les)-2007
• Sudah ada Konvensi ILO 169-Bangsa Pribumi dan Masya rakat adat di negara merdeka
• Konvensi Internasional ten-tang Hak Sipil dan Poliik dan Ekonomi, Sosial dan Budaya.
Tantangan :
• Pengakuan keberadaaan IP’s di Indonesia sangat normaif, belum ada pe-ngakuan substanif • Hingga kini Indonesia
belum meraiikasi kon-ven si ILO 169
• Ada persoalan keidak-mampuan memahami dan mengimplementasikan instru ment hukum inter-nasional (bukan subjek hukum)
72
idak menggembirakan. Persoalan di depan mata, misalnya akan ada
persengketaan soal kontrak. Masyarakat adat akan meminta pihak
keiga sebagai perwakilannya. Itu mungkin berhasil di satu komunitas,
tetapi bagaimana dengan ribuan komunitas lainnya.
Tambahan, terkait soal deinisi. Masyarakat adat menurut hukum
nasional kita berbeda dengan hukum internasional. Masyarakat adat
yang kita pahami dalam UU masih menggunakan deinisi masyarakat hukum adat. Ada kesulitan untuk mengembangkan deinisi itu ke ingkat lokal. Pengalaman kita keika mendorong rancangan perda
tentang masyarakat adat itu, lima tahun yang lalu saja sampai sekarang
idak jalan. Peluang untuk intervensi di level kabupaten sebenarnya lebih cepat dibandingkan dengan di provinsi.
Ada kesenjangan pemahaman antara pemerintah, masyarakat
adat, dan organisasi masyarakat sipil untuk memahami bagaimana
sebetulnya hukum internasional yang diberlakukan. Ini akan menjadi masalah yang rumit jika idak ada peningkatan kapasitas.
Presentasi Kelompok II
Terkait dengan peluang dan tantangan terhadap keberlanjutan hutan, pertama, untuk peluang kami melihat ada dukungan dan
pengawasan dari dunia internasional terkait dengan pengelolaan
Tantangan
- Perjanjian internasional hanya bersifat komitmen
- Minimnya pemahaman masyarakat tentang perjanjian internasional - Masih adanya tumpang indih peraturan perundang-undangan yang
mengatur tentang perlindungan hutan - Deforestasi masih terjadi di Indonesia
- REDD bisa memberikan manfaat sekaligus ancaman. Misalkan ada sumber pembiayaan dan pelestarian hutan, sekaligus ada ancaman hak-hak kelola masyarakat yang dirampas.
- Banyak provinsi yang belum punya tata batas hutan yang jelas. Peluang
- Ada dukungan dan pengawasan dari dunia internasional - Parisipasi masyarakat dalam upaya pengelolaan hutan
- Adanya mekanisme penyelesaian sengketa antarnegara dalam pe-ngelolaan hutan
Kelompok II,