• Tidak ada hasil yang ditemukan

Idayu dan G aleng Pagihari.

Dalam dokumen Pramoedya Ananta Toer – Arus Balik (Halaman 142-167)

Semua orang datang ke alun-alun mem bawa bekal makan.

Pelabuhan sunyi. Jalan-jalan senyap. Semua berkepentingan menyaksikan dan mendengarkan sendiri keputusan Sang Adipati di hadapan para petanding.

Alun-alun lebih ram ai daripada kemarin atau kemarin dulu. Bangsal-bangsal pertunjukan telah terbongkar. D an orang dudu k berbanjar-banjar di atas tanah, tak peduli rakyat biasa saudagar ataupun orang asing.

Pendud uk Tuban punya kepercayaan: meriah-tidaknya penutupan pesta akan jadi petunjuk makmu r-tidaknya Tuban pada tahun mendatang. Orang berkepentingan hadir. Sakit ringan dilupakan. Yang sakit berat digotong dengan tand u beratap kain batik. Seseorang mencarikan bunga- bungaan yang telah luruh dari tubuh para penari dan diobatkan padanya sebagai param atau minuman. Tarian adalah keindah an gerak yang diajarkan oleh dewa kepada manusia. D an bunga yang terhias pada tubuh penari adalah wadah tempat para dewa menurunkan berkahnya.

Barisan kuda telah tiga kali mengedari alun-alun. Para peserta pertandingan telah dud uk di dalam pendopo kadipaten. Canang bertalu satu-satu. Keadaan menjadi sunyi-senyap. Hanya kadang-kadan g, di sana-sini, terdengar tangis bayi. D esau angin dan deburan laut tak digubris orang. Semua yang dud uk di atas rumputan mem usatkan pendengaran pada suara-suara yang akan datang nanti dari dalam kadipaten. D an mata mereka antara sebentar mengawasi gerak-gerak para pejabat yang berdiri di mana- mana, berpakaian serba kuning, juga selendang dan destarnya. D ari kejauhan nampak seperti cuwilan kunyit sedang di jemur. Itulah para peseru yang akan m enyerukan percakapan yang terjadi di pendopo nanti.

D i dalam pendopo sendiri Sang Adip ati telah dud uk di atas tahta gandingann ya. Semua pembesar pribumi duduk bersila di kanan dan kiri belakang tahta. Lain dari

kebiasaan, Tholib Sungkar Az-Zubaid mendapat kursi kayu. Tempatnya ndnlnh di pinggir kanan, hingga lskak tak mendapat kursi. Ia berdiri di tempatnya yang biasa di pinggir kiri, dan dengan demikian mendapat kebebasan menyemburkan pandang kebencian pada oran g Mo ro itu.

Tidak salah lagi, pikir Syahbandar Tuban, semangkin had tangann ya semakin mendekati bandarku juga. D engan dia Sang Adipati takkan bakal melakukan perlawanan terhadap Peranggi dan Ispanya. Hanya segeram an dan kejengkelan berkiprah dalam hatinya sejak orang Arab itu mendarat di Tuban. Sekarang dia mendap atkan bangku pula! Alam at Sang Adipati telah jatuh ke dalam genggam annya. Keparat! Laknat!

D an para punggawa pun sudah yakin sekarang: Sayid itu akan segera jadi pejabat tinggi dan penting. Sebentar nanti mu ngkin akan diumumkan .

Seorang punggawa, yang mewakili dewan penilai, dengan lisan telah mem persembahkan nama para juara yang dibacanya dari lontar. D engan suara lantang para peseru meneruskan bacaan itu ke jurusan alun-alun. Para peseru di alun-alun meneruskan lagi ke tempat-tempat yang lebih jauh. Setiap sesuatu selesai dium umkan sorak-sorai berderaian mengegongi.

G aleng tersebut sebagai juara gulat untuk tahun ini, dengan peringntan, ia haru s bermain lebih patut. Sorak yang mengikuti terdengar ragu-ragu. Seluruh penonton dari Awis Kram bil mem bisu. Seakan semua itu sebagai ucapan ikut berdukacita pada juara gulat dua kali berturut yang bakal kehilangan kekasihnya. Bahkan peringatan itu pun terdengar sebagai pendahu luan bencana atas dirinya.

N am a para juara telah selesai disebutkan. Orang masih juga tak dengar nam a Idayu. Seluruh hadirin sunyi

mem bisu dalam kecucukan dan ketegangan. Idayu! mengapa dia? Mengapa tak disebut? Apa sedang terjadi? Tapi akhirnya nama itu disebutkan juga: “Juara tiga kali berturut untuk tari, Idayu, dari desa perbatasan Awis Kram bil!” Para peseru meneruskan ke seluruh alun-alun. Sorak sorai gegap-gempita, berderai-derai seperti gelom bang semudra, bergulung seperti hendak m embenam bumi.

“Setelah dua puluh tahun ini, mu ncul, sekarang juara tiga kali berturut! D ua puluh tahun! Ingat-ingat. D an nam anya: Idayu. D esanya Awis Krambil! Tenang. Sang Adip ati Tuban berkenan bertitah….” Sunyi-senyap.

D i dalam pendopo, Syahbandar Tuban tak henti- hentinya m elirik pada T holib Sungkar Az-Zubaid. Orang itu sedang dud uk tenang menikmati kegembiraan yang berlangsung di depan matanya sambil mencicipi kehorm atan yang semakin meningkat juga: mendapat kursi kayu satu-satunya! N ampaknya ia tak peduli oran g senang atau tidak terhadap dirinya, asal Sang Adipati berkenan, dan semu a sudah be res. Apa peduli yang lain-lain?

”]uara tiga kali berturut” Sang Adipati mem ulai dengan suara pelahan, kata demi kata. “I-da-yu!” ia menyebut nam a itu dengan perasaan meresap seakan sedang mencicipi madu.

Kata-katanya, dengan gaya dan nada sama, berkumandang melalui para peseru ke seluruh alun-alun.

“Ketahu ilah, juara kesayangan seluruh Tuban. Tak pernah ada kecuali kau: satu perpaduan antara keindahan tubuh, kecantikan wajah, keagungan tari. Hanya kau! Seluruh Tuban berbahagia dapat menyaksikan dalam hidupnya seorang dewi tiada tandingan.”

D an kata-kata penguasa Tuban itu lebih mendekati rayuan dan pada am anat. Juga sampai sejauh itu Sang

Adip ati tak juga menyebut-nyebut kebesaran nama Tuhan, atau Allah, atau Maha D ewa atau Maha Budha atau Sang Hyang W idhi. la sengaja hendak m enenggang semua agama rakyatnya. Ia hadapi mereka semua sebagai kawula atau tam u, bukan sebagai pem eluk sesuatu agama.

“Sang Adipati Tuban,” ia meneruskan, “dan seluruh negeri Tuban. Idayu, memuja kau. Kami dapat mengerti mengapa m ereka semua m enghendaki agar kau selalu dapat dikagumi dan dipuja di ibukota ini”

Sang Adipati berhenti bicara, mem berikan kesempatan pada para peseru untuk melakukan kewajibannya. Orang bersorak ragu, kemudian menggelimbang sejadi-jadinya, kemudian ragu-ragu lagi. Sorak itu panjang panjang sekali, sehingga canang kadipaten dipukul tiga-tiga untuk mem beri peringatan. Lambat-lam bat sorak itu mereda.

Sang Adipati tersenyum puas-puas dan mengerti: ia mendapat sokongan rakyatnya wajahnya berseri-seri. Ia pandangi Idayu di tempat duduknya dan sedang mengangkat sembah. G adis perbatasan itu selalu tunduk menekuri lantai.

“Kau dengar sendiri bagaiman a mereka menyetujui,” Sang Adipati meneruskan. “Pastilah kau sendiri juga setuju.”

Idayu tetap menekuri lantai.

“Orang tua-tu a mengerti, Idayu, dan kami, Adipati Tuban juga mengetah ui, ada aturan khusus bagi juara tiga kali berturut. Idayu! Mengapa kau m enggigil?”

Kata-kata Sang Adipati, juga turun-naiknya nada, berpendar-pendar ke alun-alun melalui para peseru. Sebentar sorak-sorai meledak, kemudian m endadak padam. Sunyi-senyap.

“D engarkan baik-baik. Usahakan jangan menggigil. Siapa pun mengerti kebahagiaanmu, Idayu. Kebahagiaan yang terlalu am at sangat, yang bisa kau dap atkan hanya di bum i Tuban ini. Berbahagialah orangtua yang pernah melahirkan kau. Berbahagialah anak-anak yang bakal jadi keturunanm u. D engarkan baik-baik, kau. Idayu, juara tiga kali berturut, kau m endapatkan….”

Juga G aleng menggigil. Ia rasai pedalaman dirinya menggeletar, karena cemburu, karena geram, karena ketiadaan daya mengh adapi penguasa m utlak negeri Tuban, karena tak sudi kehilangan amarah-sendiri. Ia rasai kata- kata manis Sang Adipati sebagai rayuan dan sebagai pemula kehancuran kebahagiaan dan impiannya. Itukah arti kekuasaan Sang Adipati yang diejek dan ditertawakan oleh Rama Cluring? D engan kekuatan batin luar biasa ia tindas semua perasaann ya. Dan setelah semua tertindas, dengan malu-m alu mu ncul ketakutan: ketakutan pada hukum an yang diancam kan oleh kepala desa. Apakah yang harus ditakuti oleh seorang yang akan kehilangan harapan? Ia tertawakan dirinya sendiri. Segala macam hukum an takkan berarti. Kalau soalnya hanya mati, berapa kali saja ia telah hadapi maut panggung gulat! Ketakutannya hilang. Yang mu ncul sekarang kekuatiran: jangan-jangan Idayu sendiri setuju dan dengan sukarela menerima tangan Sang Adip ati.

Keringat dingin mu lai bermanik-manik pada tengkuknya.

Sorak-sorai telah padam. Sang Adip ati meneruskan: “Pertam a, dengarkan baik-baik, Idayu dan semua kawula Tuban. Pertama, hak menerima dan mengenakan cindai penari yang tak pernah dikenakan penari siapa pun selam a dua puluh tahun ini….”

Sorak-sorai. G aleng mengangkat pandan g menetak wajah Sang Adipati.

“… D an perhiasan serta pakaian pribadi, perhiasan serta pakaian penari, seluruhnya dari emas dan kain pilihan… perm ata….” Sorak-sorai!

“Terimalah sendiri karunia Adipati Tuban ini, kau, pujaan Tuban! Maju, jangan ragu-ragu, jangan gentar… Ayoh!”

G aleng bukan hanya mengangkat pandang ia mengangkat kepala untuk m elihat kekasihnya di depan sana menerima karunia langsung dari penantangnya, penguasa Tuban. Ah, Tuban dan hati pujaan itu! Kembali. Cem buru menyam bar hati dan mem butakan pandang. Ia angkat kedua belah tangan dan ditutupkan pada matanya. Ia tak mau melihat itu. Idayu! Jangan sentuh tangan berkarunia itu. Jangan biarkan kulitmu terkena olehnya, Idayu. N afasnya pengap. Cepat tangan kanann ya menggerayang pada pinggangnya. Tak ada keris di situ. D an ia lihat Idayu merangkak maju dan beringsut sambil sebentar-sebentar mengangkat sembah.

D i alun-alun para hadirin tak lagi dapat tenang pada tempatnya. Mereka tak puas hanya mendengar. Sekiranya tak ada aturan tak boleh lebih tinggi dari kepala Sang Adip ati, mereka sudah berlarian mencari poho n dan naik ke atasnya.

“D engan kejuaraanm u, dengan kecantikan, dengan segala keluw esan dan daya tarik yang ada padamu, kami ada rencana untukm u.”

Sunyi-senyap.

Tiba-tiba para peseru meneruskan ke alun-alun: “Yang terhormat tamu G usti Adipati Tuban, bernam a Sayid

Habibullah Almasawa dari negeri Andalusia berkenan bersembah .”

“Ya, G usti jadikanlah bunga itu hiasan kadipaten!” Sunyi-senyap. Tak ada sorak. Tiba-tiba menyusul dengun g yang tak dapat difahami dari seluruh alun-alun.

“Biar dia tinggal jadi penari untuk seluruh Tuban!” seseoran g m emekik.

D an suara pekikan itu dapat makian dari para peseru. “Titah G usti Adipati selanjum ya,” peseru meneruskan, “hak kedua bagi juara tiga kali berturut, dengarkan, Idayu, hak bagi penari terbaik di seluruh negeri,” sunyi-senyap, “hak kehorm atan yang tak dipcroleh oleh siapa pun: hak mengajukan permo honan apa saja yang sesuai dengan kepatuhan yang berlaku.”

Sorak-sorai bergu lung-gulung.

Rangga Iskak tak mampu mengikuti seluruh jalannya perishya. Mu ngkin inilah untuk pertam a kali dalam jabatann ya selam a sekian belas tahu n ia tidak dap at menyimak dengan baik. Melihat orang M oro itu m asih juga dud uk dengan senangnya, bahkan berani-berani mem persembahkan saran yang sangat mem alukan sebagai orang yang mengaku keturunan N abi, saran terhadap seorang penguasa kafir, kukuh dan semakin kukuh pendapamya: dengan menyingkirkannya dari bum i yang sedang diislamkan ini aku akan mendap at pahala besar. Untukm u, Moro, hanya kematian saja yang terbaik. Segala yang telah terhina di sini tak boleh susut, tak boleh berkurang, apa lagi rusak. Awas, kau, Moro!

D i tempat duduknya, di belakang Idayu. G aleng merasa seperti menduduki bara. Beberapa peserta dari Awis Kram bil beringsut mendekatinya.

“Aku ikut mem ohon untuk kebahagiaanmu, Kang G aleng” teman di sampingnya berbisik dan dipegangnya lengan juara gulat itu.

G aleng mem balas hiburan dengan meletakkan tangan pada lengan oran g itu. Berbisik mem balas: “Hidup atau mati, takkan dapat aku lupakan kebaikanmu.”

D an Idayu masih juga belum kembali ke tempatnya. Ia masih dud uk menundu k di bawah kaki Sang Adipati. Semua m ata, kecuali R angga Iskak, tertuju padan ya.

D ari atas kursinya Tholib Sungkar Az-Zubaid mem andangi gadis itu dengan m ata m enyala-nyala menelan seluruh kehadiran nya. Mata itu besar bulat, hitam-lekam diwibawai oleh alis dan bulu mata tebal serta rongga mata yang dalam dan gelap. D an mata yang menyala-nyala itu mem ancarkan kepongah an, gila hormat tanpa batas, rakus, bernafsu, tanpa kesabaran dan tidak menenggang, dan lebih daripada itu licik: yang ada hanya aku, semu a untuk aku.

Hening, tenang. Hanya nafas manusia terdengar. Kemu dian: “Mengapa kau menan gis, Idayu?” para peseru meneruskan. “Betapa besar kebahagiaan yang sedang berbunga dalam hatimu. Adipati Tuban bersabar m enunggu perm ohonanmu . Kami bersabar. Keringkan airmatamu, puaskan tangismu, juara, karena kebahagiaan yang lebih besar lagi sedang menunggum u. Juga semua kawula Tuban ikut bersabar. Juga mereka yang sedang diganggang terik matari di alun-alun sana, Idayu!”

G aleng mem usatkan pandan g pada Sang Adipati, penantan g tiada terlawan itu, dan melihat pada punggung Idayu yang tersengal-sengal. Kalau Idayu menyerahkan dirinya, ia akan lompat, mem atahkan lehernya, dan merangsan g Sang Adipati untuk menerima ujung-ujung tom bak yang menunggu. Idayu takkan menyerahkan

dirinya, ia yakinkan dirinya, dia juga tahu harga diri dan kehorm atan. “Kau berdua akan jadi sepasang merpati,” Rama Cluring merestui sebelum meninggalnya. “Semoga keturunan kalian akan bercipta dan mencipta, mampu mengem balikan kebesaran dan kejayaan yang telah hilang.” Rama Cluring lebih berharga dari pada kekuasaan mu tlak yang kini dihadapin ya.

Para punggawa tersenyum -senyum dalam hati, juga para pembesar, mengetahui betapa ramah dan manis Sang Adip ati sekarang dan sekali I ini. Betapa pemurah dengan kata dan senyum orangtua yang sudah serba putih itu.

”Sudah siapkah kau, Idayu?” Sang Adipati bertanya lemah-lembut. “Mendekat sini, oran g cantik mengapa menjauh lagi? Apakah perlu Adip ati Tuban menyekakan airmatamu?!”

Peseru-peseru meneruskan. D an keheningan kembali menyusul. “Ayoh persembahkan perm ohon an.”

“Ampun! G usti Adipati Tuban sesembahan patik,” akhirnya keluar juga kata-kata Idayu yang menggigil tersendat-sendat. Para peseru meneruskan dengan terbata- bata. “Apa yang patik akan persembahkan,… sebagai perm ohonan….”

G aleng mengepalkan tinjunya. Kembali tubuhnya menggigil. Otot-otot yang kukuh ternyata tak kuasa menah an gelom bang perasaan yang mem ukul menggebu- gebu. Mengapa lama betul Idayu menyelesaikan kata- katanya?

“Harapan patik… semoga permohonan patik… yang tiada sepertinya takkan m enggusarkan G usti Adipati Tuban sesembahan patik.” Kata-kata Idayu tersekat m acat.

Rangga lskak sekali lagi m elirik pada m usuhnya. Ia telah serahkan cepuk tem bikar itu pada Yakub. Terserah pada dia bagaimana akan menggunakannya, apakah melalui kulit, mu lut atau usussi durhaka itu. Terserah. Racun campuran bisa ular, yang biasa dibawa ke m ana-mana oleh petualang- petualang Benggala dan selalu jadi kegentaran perantau- perantau lain, sekarang datang waktunya untuk dicoba keampuhan nya. Sayid Habibullah Almasawa akan hanya sebentar terkejut, kemu dian seluruh jaringan syarafnya akan lumpuh, tanpa sakit, dan … tiada lagi masalah Syahbandar lama atau baru, karena ia tetap dan akan tetap jadi Syahbandar Tuban. Tetapi di m ana Yakub? Mengapa ia tak juga nampak dan melapor? Bagaimana ia akan menjalankan tugasnya?

Ham pir pada banjar terakhir di alun-alun seseorang peseru meneruskan: “Ayoh, Idayu…!”

Sekarang Idayu berdatang sembah: “Ampunilah patik, ya G usti sesembahan patik. Bukan maksud patik hendak menggusarkan G usti. Permohon an patik yang tidak sepertinya adalah…”

“Betapa susah berhadapan dengan G usti Adipati” seseoran g m enyeletuk.

“D iam!” bentak seorang peseru.

“N ah, aku teruskan persembahan Idayu. D engarkan… adalah… adalah… G usti Adipati Tuban sendiri.. adalah… Kakang G aleng… Juara gulat!”

Sekarang G usti Adip ati Tuban bertanya: “Kami tidak mengerti, Idayu. Apa maksudmu!?”

Tetapi para hadirin di seluruh alun-alun m engerti belaka. Sorak-sorai meledak sejadi-jadinya. Hadirin di alun-alun lupa daratan, lupa pada semua aturan. Mereka

berlompatan, berjingkrak, kegiran gan. Para peseru tak mampu mem adam kan keriuhan. Juga yang sakit di atas tand u-tandu mem erlukan tersenyum dan bersyukur pada Hyang W idhi. Mereka dap at menangkap maksud Idayu. Ah, perawan mulia itu! D an rakyat Tuban sejak dahulu juga mem uja cinta yang berpribadi, disemerbaki kesetiaan dan ketabahan mengh adapi hidup dan mati. Mereka bersorak untuk kemenangan cinta. Udara menggeletar seakan tiada kan habis-habisnya. Canan g peringatan bertalu tanpa hasil.

D i dalam pendopo sendiri orang melihat wajah Sang Adip ati tiba-tiba merah padam. Suaranya agak sengit: “Apa maksudm u? Katakan yang jelas!”

G aleng tak mampu lagi mendengarkan. Tanpa disadarainya airmata haru an telah meleleh jatuh setelah menyeberan gi pipinya, mem basahi lengan tern an yang mengh iburnya.

Teman itu melihat pada airmata itu dan dengan diam - diam mengecupnya dengan bibir sebagai berkah dari Hyang Kamajaya, untuk m endapatkan kekuatan cinta semacam itu juga. Kemu dian ia belai-belai punggung G aleng.

“Patik memo hon, ya G usti Adipati Tuban sesembahan patik,’ mendadak suara Idayu menjadi keras, kuat dan tabah setelah diberanikan oleh sorak-sorai, “semoga G usti Adip ati Tuban berkenan, G usti Adipati Tuban sendiri, merestui patik dan Kakang G aleng sebagai istri dan suami.” Idayu telah mempersembahkan keinginannya sebagai hak yang telah dikaruniakan padanya. D an Sang Adipati semakin m emahami persembahan itu. Kedua belah kakinya yang tidak bergerak selam a ini dilemp angkan kejang. Matanya m embeliak. T angan kanannya berayun, kemudian mencengkam hulu keris. D adan ya terengah-engah.

Mati kau, Idayu! Mati kau di ujung keris, pikir orang. D an para punggawa dan pembesar mengangkat kepala untuk mengagumi perawan desa yang gagah berani itu. Tholib Sungkar Az-Zibaid menjatuhkan tinju pada telapak tangan kiri, meringis.

D i alun-alun suasana kembali mem buncah riuh-rendah. Tangan Sang Adipati terhenti pada hulu keris itu. N am pak ia sedang bergulat mengu asai diri. Cengkam an pada hulu senjata itu terurai dan tangannya jatuh lesu di samp ing badan . Ia mencoba tersenyum sambil mempeibaiki letak kaki.

G elom bang sorak-sorai: masih membeludag mem andangi gunu ng melerus. Canang peringatan yang makin bertalu tenggelam dalam lautan sorak-sorai: I-da-yu, I-d a-yu, I-da-yu-I-da-yu! Beberapa orang nampak seperti kesetanan, mengangkat naik pacamya tinggi-tinggi, lupa, tak ada orang lebih tinggi dari kepala Sang Adipati.

Banyak di antara wanita mengh apus airmata, tersedan- sedan terharu, menem ukan seseoran g yang mewakilinya sebagai makhluk pilihan para dewa.

D i tengah-tengah keriuhan itu seorang nenek menutup mata, menundu k sampai-sampai ke tanah. Mem ohon: “Berbahagialah kau, wanita pilihan. Kahyangan terbukalah bagi cinta setia. Kau pilih petani desa daripada adipati berkuasa. Ya dewa batara: Betapa berbahagia ada jaman seindah ini.”

Mendadak keriuhan reda. Suasana baru mengu asai keadaan. Orang duduk kembali di tempat masing-masing dengan tertib. Pada suatu jarak seseoran g berdiri, tak peduli pada larangan, suaranya lantang menyanyikan nyanyi pujaan untuk kebesaran D ewa Kamajaya dan D ewa Kamaratih. Setiap oran g ikut menyanyi, tak peduli apa

agam a mereka: Syiwa. Buddha. W isynu. Islam. Kesyahduan m enguasai bumi, langit dan manusia Tuban.

D i pendopo Sang Adipati bermandi keringat. M endengar mazmur menggelora di alun-alun, dan mengikuti tradisi lama, ia pun berdiri, turun dari tahta dan berlutut di hadapan Idayu. D an waktu m azmu r selesai ia angkat kedua belah tangan ke atas sambil berdiri. Semua mata bertemu pada tangan berkuasa itu.

Orang telah bayangkan Idayu mati di ujung keris, menjelemp ah bermandi darah, karena demikian mem ang adat raja-raja Jawa. D alam bayangan orang, G aleng akan maju beringsut bersujud pada kaki Sang Adipati untuk juga menerima tikaman keris. Pada pinggangnya. Jantu ng orang berdebaran kencang.

Temyata lain lagi yang terjadi: “Restu untukmu , Idayu, wanita utama Awis Kram bil dan Tuban. Seluruh Tuban bangga padamu. D engarlah oran g melagukan nyanyian puja untukku…, D engarkan orang bersorak-sorai untukm u….” kata-kata Sang Adip ati tersekat pada tenggorokan.

Orang melihat penguasa itu menelan ludah, sekali, dua kali – suatu pantangan bagi orang yang sedan g dihadap.

Kembali nyanyi puja untuk cinta menggema menyarati langit Tuban. D alam keadaan seperti itu Sang Adipati meneruskan, tanpa dud uk di atas tahta: “Idayu, kekasih Tuban, hari ini akan kami kawinkan kau dengan G aleng.”

Sorak-sorai gila di alun-alun.

“G aleng! Maju kau, juara gulat yang berbahagia!” G aleng maju dengan waspada, berjalan merangkak seperti katak, menyembah beberapa kail Kemu dian dud uk di samp ing kekasihnya.

“Benarkah ini yang bernam a G aleng, Idayu? Pria yang engkau cintai?”

“Benar, G usti Adipati Tuban sesembahan patik.”

Dalam dokumen Pramoedya Ananta Toer – Arus Balik (Halaman 142-167)

Dokumen terkait