GAMBARAN UMUM
IDENTIFIKASI BAHAYA, PENILAIAN RISIKO DAN PENGENDALIAN RISIKO
NO AKTIVITAS LOKASI BAHAYA
INITIAL RISK
KONTROL AWAL
RESIDUAL RISK
KONTROL TAMBAHAN
Legal Kemung Kepa Nilai Kemung Kepa Nilai
kinan rahan kinan rahan
Ya/ tdk a b axb a b axb
1 Repair/Perbaikan dinding Dalam bangunan - Menghirup debu semen - Luka ringan Ya 3 1 3 - Memakai APD (helm, sepatu safety, kacamata dan sarung tangan) 1 1 1 - Jatuh dari scaffolding - Luka ringan 1.13 - Memakai safety harness
- Catwalk penyangga kuat dan tidak sempit
- Memastikan scaffolding terpasang dengan kuat dan rapi
Kulit luar - Jatuh dari ketinggian - Luka berat/meninggal Ya 2 3 6 - Gondola dilengkapi dengan life line/tambang pengaman 2 1 2 1.13 - Memakai Safety Harness, sepatu dan helm
- Ketika bekerja harus memakai Rope Grad - Memastikan gondola terpasang dengan kuat
2 Memasang Bracket & Trim Kulit luar - Hirup udara kotor / debu - Sesak nafas Ya 3 1 3 - Memakai masker 1 1 1
Aluminium 1.13
- Tersengat listrik - Kematian Ya 2 3 6 - Mengikuti IK P6-K3LM-13-02 1 1 1 1, 10
- Jatuh dari ketinggian - Luka berat/meninggal Ya 2 3 6 - Gondola dilengkapi dengan life line/tambang pengaman 2 1 2 1.13 - Memakai Safety Harness, sepatu dan helm
- Ketika bekerja harus memakai Rope Grad - Memastikan gondola terpasang dengan kuat
3 Mengecat Dalam - Tersandung material - Luka ringan Ya 3 1 3 - Menempatkan material terlokalisir 1 1 1 bangunan - Hirup udara kotor / debu - Sesak nafas 1,4,7 - Menggunakan sarung tangan
- Tangan kena bahan kimia - Luka ringan - Memakai masker - Memakai sepatu kerja. - Mengikuti IK P6-K3LM-13-03
Pasang lbh dr - Jatuh dari ketinggian - Luka berat Ya 2 3 6 - Scaffolding terpasang dg kuat & rapi 1 1 1 1,5m & tepi - Perancah roboh - Kematian 1.13 - Pijakan utk andang kuat dan tdk sempit
bangunan - Memasang rambu atau pagar
pengaman utk tepi bangunan. - Memasang jaring pengaman - Pasang lampu penerangan cukup - Gunakan sabuk pengaman - Memakai sepatu kerja. - Memakai helm pengaman - Mengikuti IK P6-K3LM-13-06
- Ijin kerja sebelum melakukan pekerjaan
Kulit luar - Jatuh dari ketinggian - Luka berat/meninggal Ya 2 3 6 - Gondola dilengkapi dengan life line/tambang pengaman 2 1 2 1.13 - Memakai Safety Harness, sepatu dan helm
DESKRIPSI KONSEKUENSI
NO AKTIVITAS LOKASI BAHAYA
INITIAL RISK
KONTROL AWAL
RESIDUAL RISK
KONTROL TAMBAHAN
Legal Kemung Kepa Nilai Kemung Kepa Nilai
kinan rahan kinan rahan
Ya/ tdk a b axb a b axb
DESKRIPSI KONSEKUENSI
- Ketika bekerja harus memakai Rope Grad - Memastikan gondola terpasang dengan kuat
4 Perapihan kusen jendela Kulit luar - Jatuh dari ketinggian - Luka berat/meninggal Ya 2 3 6 - Gondola dilengkapi dengan life line/tambang pengaman 2 1 2 1.13 - Memakai Safety Harness, sepatu dan helm
- Ketika bekerja harus memakai Rope Grad - Memastikan gondola terpasang dengan kuat
5 Pembersihan kaca jendela Kulit luar - Jatuh dari ketinggian - Luka berat/meninggal Ya 2 3 6 - Gondola dilengkapi dengan life line/tambang pengaman 2 1 2 1.13 - Memakai Safety Harness, sepatu dan helm
- Ketika bekerja harus memakai Rope Grad - Memastikan gondola terpasang dengan kuat
Disetujui oleh : Dibuat oleh :
( Ir. Ghozy Perdana ) ( Wiyono )
Form.P6. K3LM-01-01 Edisi : 1 Revisi : 0
Revisi : 3
IDENTIFIKASI BAHAYA, PENILAIAN RISIKO DAN PENGENDALIAN RISIKO
KONTROL TAMBAHAN SASARAN
Meningkatkan kesehatan karyawan IR = 0
Meingkatkan kesehatan karyawan
IR = 0
IR = 0
Meningkatkan kesehatan karyawan
Persero
PT.WASKITA KARYA
Proyek Shangri-La Hotel Condominium, Jakarta
DAFTAR LEGISLASI
Yang Berkaitan Dengan Kesehatan Keselamatan Kerja
NO. LEGISLASI TEMA
UNDANG-UNDANG RI
1 UU No. 1 tahun 1970 Keselamatan Kerja
2 UU No. 3 tahun 1992 Jaminan Sosial Tenaga Kerja
3 UU No. 14 tahun 1992 Lalu Lintas Jalan
4 UU No. 23 tahun 1992 Kesehatan
PERATURAN PEMERINTAH & KEPUTUSAN PRESIDEN
5 Peraturan Pemerintah No.: 14 tahun 1993 Penyelenggaraan Program Jaminan Sosial Tenaga Kerja
KEPUTUSAN MENTERI
6 Peraturan Menteri Tenaga Kerja RI No. Per.03/MEN/1999
7 Keputusan Menteri Tenaga Kerja RI No. Kep-187/MEN/1999 Pengendalian Bahan Kimia Berbahaya
8 Keputusan Menteri Tenaga Kerja RI No. Kep-51/MEN/1999 Nilai Ambang Batas Faktor Fisika di Tempat Kerja 9 Keputusan Menteri Tenaga Kerja RI No. Kep-186/MEN/1999 Unit Penanggulangan Kebakaran Di Tempat Kerja
10 Keputusan Menteri Tenaga Kerja dan transmigrasi RI Pemberlakuan standar Nasional Indonesia (SNI) No. SNI-04-0225-2000 No. Kep.75/MEN/2002 mengenai persyaratan umum instalasi listrik 2000 (PUIL 2000) di
tempat kerja.
INSTRUKSI MENTERI
11 Instruksi Menteri Tenaga Kerja No. Ins. 11/M/BW/1997 Pengawasan Khusus K3 Penanggulangan Kebakaran
PERATURAN MENTERI
12 Peraturan Menteri Perburuhan No.7 tahun 1964 Syarat Kesehatan, Kebersihan serta Penerangan dlm Tempat Kerja 13 Peraturan Menteri Tenaga Kerja RI No.: Per.01/MEN/1980 Keselamatan dan Kesehatan Kerja Pada Konstruksi Bangunan 14 Peraturan Menteri Tenaga Kerja RI No.: Per.04/MEN/1980 Syarat Syarat Pemasangan & Pemeliharaan Alat Pemadam Api Ringan 15 Peraturan Menteri Tenaga Kerja RI No.: Per.01/MEN/1981 Kewajban Melapor Penyakit Akibat Kerja
16 Peraturan Menteri Tenaga Kerja RI No.: Per.03/MEN/1982 Pelayanan Kesehatan Tenaga Kerja 17 Peraturan Menteri Tenaga Kerja RI No.: Per.05/MEN/1985 Pesawat Angkat Dan Angkut
18 Peraturan Menteri Tenaga Kerja RI No.: Per.01/MEN/1989 Kualifikasi dan syarat-syarat operator keran angkat 19 Peraturan Menteri Tenaga Kerja RI No.: Per.02/MEN/1989 Pengawasan instalasi penyalur petir
20 Peraturan Menteri Tenaga Kerja RI No.: Per.05/MEN/1996 Sistem Manajemen Keselamatan & Kesehatan kerja
SURAT EDARAN
21 Surat Edaran Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi no.SE. Pengadaan Kantin dan Ruang Makan 01/Men/1979
22 Surat Edaran Menteri Tenaga Kerja no.SE.01/ MEN/1997 Nilai Ambang Batas Faktor Kimia di Udara Lingkungan Kerja Syarat-syarat Keselamatan dan Kesehatan Kerja Lift untuk pengangkutan orang dan barang
Persero Form.P6.K3LM-15-10
PT. Waskita Karya Edisi : 1 Revisi : 0
Proyek Shangri-La Hotel Condominium
Revisi 3
EVALUASI PENERAPAN LEGISLASI
Yaag Berkaitan Dengan Kesehatan Keselamtan Kerja
No. Legislasi Status Kesesuaian
No. Legislasi Deskripsi Legislasi Ya (100%) Tidak (0%) Sebagian
UNDANG-UNDANG RI
1 UU No. 1 tahun 1970 Keselamatan Kerja
BAB III Syarat-Syarat Keselamatan Kerja
Pasal 3 √
Dengan peraturan perundangan ditetapkan syarat-syarat keselamata kerja HIRARC dan OTP untuk ;
a. Mencegah dan mengurangi kecelakaan
b. Mencegah, mengurangi dan memadamkan kebakaran c. Mencegah dan mengurangi bahaya peledakan
e. Memberi pertolongan pertama pada kecelakaan f. Memberi alat-alat perlindungan diri pada para pekerja
i. Memperoleh penerangan yang cukup dan sesuai j. Menyelenggarakan suhu dan lembab udara yang cukup k. Menyelenggarakan penyegaran udara yang cukup l. Memelihara kebersihan, kesehatan dan ketertiban
o. Mengamankan dan memelihara segala jenis bangunan.
q. Mnecegah terkena aliran listrik yang berbahaya
Keterangan (Tindak Lanjut)
d. Memberi kesempatan atau jalan menyelamatkan diri pada waktu kebakaran atau kejadian-kejadian lain yang berbahaya
g. Mencegah dan mengendalikan timbul atau menyebarl uasnya suhu, kelembaban, debu, kotoran, asap, uap, gas, hembusan angin, cuaca, sinar atau radiasi, suara dan getaran.
h. Mencegah dan mengendalikan timbulnya penyakit akibat kerja baik physik maupun psychis, peracunan, infeksi dan penularan.
m. Memperoleh keserasian antara tenaga kerja, alat kerja, lingkungan, cara dan proses kerjanya.
n. Mengamankan dan memperlancar pengangkutan orang, binatang, tanaman atau barang.
p. Mengamankan dan memperlancar pekerjaan bongkar muat, perlakuan dan penyimpanan barang
No. Legislasi Status Kesesuaian
No. Legislasi Deskripsi Legislasi Ya (100%) Tidak (0%) Sebagian
Keterangan (Tindak Lanjut)
Pasal 4 √ Penyediaan APD
2. Syarat-syarat tersebut memuat prinsip-prinsip teknis ilmiah menjadi suatu kumpulan ketentuan yang disusun secara teratur, jelas dan praktis yang mencakup bidang konstruksi, bahan, pengolahan dan pembuatan , perlengkapan alat-alat perlindungan, pengujian dan pengesahan, pengepakan atau
pembungkusan, pemberian tanda-tanda pengenal atas bahan, barang, produk teknis, atau aparat produksi guna menjamin keselamatan barang-barang itu sendiri, keselamatan tenaga kerja yang melakukannya dan keselamatan umum. 3. Dengan peraturan perundangan dapat dirubah perincian tersebut dalam ayat (1) dan (2) , dengan peraturan perundangan ditetapkan siapa yang berkewajiban memenuhi dan menaati syarat-syarat keselamatan tersebut.
Pasal 8 √
3. Norma-norma mengenai pengujian kesehatan ditetapkan dengan peraturan perundangan.
Bab V. Pembinaan
Pasal 9 √
1. Pengurus diwajibkan menunjukkan dan menjelaskan pada tiap tenaga kerja baru tentang :
a. kondisi - kondisi dan bahaya - bahaya serta yang dapat timbul dalam tempat kerjanya.
b. Semua pengamanan dan alat - alat perlindungan yang diharuskan dalam tempat kerjanya.
r. Menyesuaikan dan menyempurnakan pengamanan pada pekerjaan yang bahaya kecelakaannya menjadi bertambah tinggi.
2. Dengan peraturan perundangan dapat di ubah perincian tersebut dalam ayat (1) sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan, teknik dan teknologi serta pendapatan-pendapatan baru dikemudian hari.
1. Dengan peraturan perundangan ditetapkan syarat-syarat keselamatan kerja dalam perencanaan, pembuatan pengankutan, peredaran, perdagangan, pemasangan, pemakaian, penggunaan, pemeliharaan dan penyimpanan bahan, barang, produk teknis dan aparat produksi yang mengandung dan dapat menimbulkan bahaya kecelakaan.
MSDS Kompartemen / gudang penyimpanan
bahan/ material
Pemeriksaan dari Jamsostek 1. Pengurus diwajibkan memeriksakan kesehatan badan, kondisi mental dan
kemampuan fisik dari tenaga kerja yang akan diterimanya maupun akan dipindahkan sesuai dengan sifat-sifat pekerjaan yang akan diberikan padanya. 2. Pengurus diwajibkan memeriksakan semua tenaga kerja yang berada dibawah pimpinannya, secara berkala pada dokter yang ditunjuk oleh pengusaha dan dibenarkan oleh direktur.
Induksi, Briefing pagi/safety morning
Penyediaan APD bagi pekerja
No. Legislasi Status Kesesuaian
No. Legislasi Deskripsi Legislasi Ya (100%) Tidak (0%) Sebagian
Keterangan (Tindak Lanjut)
c. Alat - alat perlindungan diri bagi tenaga kerja yang bersangkutan. d. Cara - cara dan sikap yang aman dalam melaksanakan pekerjaan. 2. Pengurus hanya dapat mempekerjakan tenaga kerja yang bersangkutan setelah ia yakin bahwa tenaga kerja tersebut telah memahami syarat - syarat tsb di atas.
3. Pengurus diwajibkan menyelenggarakan pembinan bagi semua tenaga Pengadaan P3K
kerja yang berada di bawah pimpinannya, dalam pencegahan kebakaran dan klinik
dan pemberantasan kebakaran serta peningkatan keselamatan dan kesehatan kerja, pula dalam pemberian pertolongan pertama pada kecelakaan.
4. Pengurus diwajibkan memenuhi dan menaati semua syarat -syarat dan Pemenuhan legislasi ketentuan - ketentuan yang berlaku bagi usaha dan tempat kerja
yang dijalankan.
BAB VII Kecelakaan
Pasal 11 √ Laporan tahap awal
1. Pengurus diwajibkan melaporkan tiap kecelakaan yang terjadi dalam tempat kerja yang dipimpinnya, pada pejabat yang ditunjuk oleh Menteri tenaga Kerja.
2. Tata cara pelaporan dan pemeriksaan kecelakaan oleh pegawai termaksud dalam ayat (1) di atur dengan peraturan perundangan.
BAB VIII Kewajiban dan Hak Tenaga Kerja
Pasal 12 √ Pengadaan APD bagi
Dengan peraturan perundangan diatur kewajiban dan atau hak tenaga kerja pekerja
untuk :
a. Memberikan keterangan yang benar bila diminta oleh pegawai pengawasan atau ahli keselamatan kerja.
b. Memakai alat - alat pelindung diri yang diwajibkan.
c. Memenuhi dan menaati semua syarat - syarat keselamatan dan kesehatan kerja yang diwajibkan.
d. Meminta para pengurus agar dilaksanakan semua syarat - syarat keselamatan dan kesehatan kerja yang diwajibkan.
e. Menyatakan keberatan kerja pada pekerjaan dimana syarat keselamatan dan kesehatan kerja serta alat - alat pelindung diri yang diwajibkan diragukan olehnya kecuali dalam hal-hal khusus ditentukan lain oleh pegawai pengawas dalam batas -batas yang masih dapat dipertanggung-jawabkan.
BAB IX Kewajiban Bila Memasuki Tempat Kerja
Pasal 13 √ Induksi & Inspeksi
Barang siapa akan memasuki sesuatu tempat kerja, diwajibkan menaati semua oleh security petunjuk keselamatan kerja dan memakai alat-alat perlindungan diri yang
No. Legislasi Status Kesesuaian
No. Legislasi Deskripsi Legislasi Ya (100%) Tidak (0%) Sebagian
Keterangan (Tindak Lanjut) BAB X Kewajiban Pengurus
Pasal 14 √ Papan informasi &
Pengurus diwajibkan ; Rambu-rambu K3LM
a. Secara tertulis menempatkan dalam tempat kerja yang dipimpinnya, semua syarat keselamatan kerja yang diwajibkan, sehelai Undang -undang ini dan semua peraturan pelaksanaanya yang berlaku bagi tempat kerja yang bersangkutan, pada tempat - tempat yang mudah dilihat dan terbaca menurut petunjuk pegawai pengawas atau ahli kesehatan kerja.
b. Memasang dalam tempat kerja yang dipimpinnya, semua gambar keselamatan kerja yang diwajibkan dan semua bahan pembinaan lainnya, pada tempat-tempat yang mudah dilihat dan terbaca menurut petunjuk pegawai pengawas atau ahli keselamatan kerja.
c. Menyediakan secara cuma-cuma, semua alat perlindungan diri yang di Pengadaan APD wajibkan pada tenaga kerja yang berada di bawah pimpinannya dan
menyediakan bagi setiap orang lain yang memasuki tempat kerja tersebut, disertai dengan petunjuk-petunjuk yang diperlukan menurut petunjuk pegawai pengawas atau ahli-ahli keselamatan kerja.
2. UU No. 3 tahun 1992 Jaminan Sosial Tenaga Kerja
Pasal 3 √
point 2
setiap tenaga kerja berhak atas jaminan sosial tenaga kerja
Pasal 4 point 1 √ No Pendaftaran Pasal 8 √ point 1 Pasal 10 point 1 √ point 2 √ Pendaftaran Jamsostek
program jaminan sosial tenaga kerja sebagaimana dimaksud pasal 3 wajib dilakukan oleh setiap perusahaan bagi tenaga kerja yang melakukan pekerjaan didalam hubungan kerja sesuai dengan ketentuan undang-undang ini.
tenaga kerja yang tertimpa kecelakaan kerja berhak menerima jaminan kecelakaan kerja
pengusaha wajib melaporkan kecelakaan kerja yang menimpa tenaga kerja kepada kantor departemen tenaga kerja dan Badan Penyelenggara dalam waktu tidak lebih dari 2 X 24 jam
Laporan awal kecelakaan
pengusaha wajib melaporkan kepada kantor departemen tenaga kerja dan badan penyelenggara dalam waktu tidak lebih dari 2 x 24 jam setelah tenaga kerja yang tertimpa kecelakaan oleh dokter yang merawatnya dinyatakan sembuh, cacad atau meninggal dunia.
No. Legislasi Status Kesesuaian
No. Legislasi Deskripsi Legislasi Ya (100%) Tidak (0%) Sebagian
Keterangan (Tindak Lanjut) point 3 √ Pasal 16 √ Pasal 17 √ Pasal 18 √
3. UU No. 14 tahun 1992 Lalu Lintas Jalan √
4. UU No. 23 tahun 1992 Kesehatan
Kesehatan Lingkungan
Pasal 22 √ Pengukuran
1. Kesehatan lingkungan diselenggarakan untuk mewujudkan kualitas lingkungan parameter pencemar yang sehat.
2. Kesehatan lingkungan dilaksanakan terhadap tempat umum, lingkungan pemukiman, lingkungan kerja, angkutan umum dan lingkungan lainnya.
3. Kesehatan lingkungan meliputi penyehatan air dan udara, pengamanan limbah padat, limbah cair, limbah gas, radiasi dan kebisingan, pengendalian faktor penyakit, dan penyehatan atau pengamanan lainnya.
4. Setiap tempat atau sarana pelayanan umum wajib memelihara dan meningkatkan lingkungan yang sehat sesuai dengan standar dan persyaratan.
Kesehatan Kerja
Pasal 23 √ Pengadaa Klinik &
1. Kesehatan kerja diselenggarakan untuk mewujudkan produktivitas yang Prasarana olah raga
optimal bagi karyawan
2. Kesehatan kerja meliputi pelayanan kesehatan kerja, pencegahan penyakit akibat kerja dan syarat kesehatan kerja.
3. Setiap tempat kerja wajib menyelenggarakan kesehatan kerja.
pengusaha wajib melaporkan kepada kantor departemen tenaga kerja dan badan penyelenggara dalam waktu tidak lebih dari 2 x 24 jam setelah tenaga kerja yang tertimpa kecelakaan oleh dokter yang merawatnya dinyatakan sembuh, cacad atau meninggal dunia.
pengusaha wajib mengurus tenaga kerja yang tertimpa kecelakaan kerja kepada badan penyelenggara sampai memperoleh hak-haknya.
tenaga kerja, suami atau istri dan anak berhak memperoleh jaminan pemeliharaan kesehatan
pengusaha dan tenaga kerja wajib ikut serta dalam program jaminan sosial tenga kerja
pengusaha wajib memiliki daftar tenaga kerja beserta keluarganya, daftar upah beserta perubahan-perubahan dan daftar kecelakaan kerja di perusahaan atau bagian perusahaan yang berdiri sendiri.
No. Legislasi Status Kesesuaian
No. Legislasi Deskripsi Legislasi Ya (100%) Tidak (0%) Sebagian
Keterangan (Tindak Lanjut)
PERATURAN PEMERINTAH & KEPUTUSAN PRESIDEN
5. Peraturan Pemerintah No.: 14 tahun 1993 Penyelenggaraan Program Jaminan Sosial Tenaga Kerja
pasal 2 √
point 1
b. jaminan berupa pelayanan yaitu jaminan pemeliharaan kesehatan. P3K
Pasal 2 √ point 3 pasal 5 √ point 1 pasal 18 point 1 √
point 2 √ Laporan awal
pasal 19 √
KEPUTUSAN MENTERI
Program jaminan sosial tenaga kerja sebagaimana dimaksud dalam Peraturan
Pemerintah ini, terdiri: Kerjasama dengan Jamsostek
a. jaminan berupa uang yang meliputi : jaminan kecelakaan kerja, jaminan kematian, jaminan hari tua
Pengusaha yang mempekerjakan tenaga kerja sebanyak 10 orang atau lebih, atau membayar upah minimal Rp. 1.000.000 sebulan, wajib mengikutsertakan tenaga kerjanya dalam program jaminan sosial tenaga kerja.
Pengusaha sebagaimana dimaksud dalam pasal 2 ayat 3 wajib mendaftarkan perusahaan dan tenaga kerjanya sebagai peserta program jaminan sosial tenaga kerja pada badan penyelenggara dengan mengisi formulir yang disediakan oleh badan penyelenggara.
Pengusaha wajib memberikan pertolongan pertama pada kecelakaan bagi tenaga kerja yang tertimpa kecelakaan.
Pengusaha wajib melaporkan setiap kecelakaan kerja yang menimpa tenaga kerjanya kepada kantor departemen tenaga kerja dan badan penyelenggaraan setempat/terdekat sebagai laporan kecelakaan tahap I, dalam waktu tidak lebih 2 x 24 jam terhitung terjadinya kecelakaan.
Pengusaha wajib melaporkan penyakit yang timbul karena hubungan kerja, dalam waktu tidak lebih 2 x 24 jam setelah ada hasil diagnosis dari dokter periksa.
No. Legislasi Status Kesesuaian
No. Legislasi Deskripsi Legislasi Ya (100%) Tidak (0%) Sebagian
Keterangan (Tindak Lanjut) 6 Peraturan Menteri Tenaga Kerja RI No. Per.03/MEN/1999
BAB II Syarat-syarat Keselamatan dan Kesehatan Kerja Lift BAGIAN 1 UMUM
Pasal 3 √ Pemasangan rambu
BAGIAN 2 BAGIAN-BAGIAN LIFT DAN PEMASANGANNYA
Pasal 4 √
PARAGRAF 1 MESIN DAN KAMAR MESIN
Pasal 5 √
(3) Mesin harus dilengkapi dengan rem yang bekerja dengan tenaga pegas.
7 Keputusan Menteri Tenaga Kerja RI No. Kep-187/MEN/1999 Pengendalian Bahan Kimia Berbahaya
Pasal 4 √ MSDS
a. identitas bahan dan perusahaan; b. komposisi bahan;
c. identifikasi bahaya;
d. tindakan pertolongan pertama pada kecelakaan (P3K); e. tindakan penanggulangan kebakaran;
f. tindakan mengatasi kebocoran dan tumpahan; g. penyimpanan dan penanganan bahan;
h. pengendalian pemajanan dan alat pelindung diri; i. sifat fisik dan kimia;
j. stabilitas dan reaktivitas bahan;
Syarat-syarat Keselamatan dan Kesehatan Kerja Lift untuk pengangkutan orang dan barang
(1) Kapasitas angkut lift harus dicantumkan dan dipasang dalam kereta serta dinyatakan dalam jumlah orang dan atau jumlah bobot muatan yang diangkut dalam kilogram (kg).
(2) Kapasitas angkut sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus sesuai dengan kapasitas angkut yang dinyatakan dalam ijin pemakaian lift.
(3) Penetapan jumlah orang yang dapat diangkut sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berdasarkan Standar Nasional Indonesia yang berlaku.
(1) Bagian-bagian lift harus kuat, tidak cacat, aman dan memenuhi syarat-syarat keselamatan dan kesehatan kerja.
(1) Mesin dan konstruksinya harus memenuhi Standar Nasional Indonesia yang berlaku
(2) Apabila lift akan bergerak, rem membuka dengan tenaga magnet listrik dan harus dapat memberhentikan mesin secara otomatis dan pada saat arus listrik putus.
(1) Lembar data keselamatan bahan sebagaimana dimaksud dalam pasal 3 huruf a meliputi keterangan tentang:
No. Legislasi Status Kesesuaian
No. Legislasi Deskripsi Legislasi Ya (100%) Tidak (0%) Sebagian
Keterangan (Tindak Lanjut) k. informasi toksikologi; l. informasi ekologi; m. pembuangan limbah; n. pengangkutan bahan;
o. informasi peraturan perundang-undangan yang berlaku; p. informasi lain yang diperlukan.
Pasal 5 √ Papan informasi
Label sebagaimana dimaksud dalam pasal 3 huruf a meliputi keterangan mengenai: a. nama produk;
b. identifikasi bahaya; c. tanda bahaya dan artinya;
d. uraian resiko dan penanggulangannya; e. tindakan pencegahan;
f. instruksi dalam hal terkena atau terpapar; g. instruksi kebakaran;
h. instruksi tumpahan atau bocoran; i. instruksi pengisian dan penyimpanan; j. referensi;
k. nama, alamat dan nomor telepon pabrik pembuat atau distributor.
Pasal 6 √
Pasal 9 √
a. bahan beracun; b. bahan sangat beracun; c. cairan mudah terbakar; d. cairan sangat mudah terbakar; e. gas mudah terbakar;
f. bahan mudah meledak; g. bahan reaktif; h. bahan oksidator.
8 Keputusan Menteri Tenaga Kerja RI No. Kep-51/MEN/1999 Nilai Ambang Batas Faktor Fisika di Tempat Kerja
Pasal 3 √
(1) NAB kebisingan ditetapkan sebesar 85 desi Bell A (dBA).
Lembar data keselamatan Bahan sebagaimana dimaksud dalam pasal 4 dan Label sebagaimana dimaksud dalam pasal 5 diletakkan di tempat yang mudah diketahui oleh tenaga kerja dan Pegawai Pengawas Ketenagakerjaan.
Kriteria bahan kimia berbahaya sebagaimana dimaksud dalam pasal 8 ayat (3) terdiri dari:
(2) Kebisingan yang melampaui NAB, waktu pemajanan ditetapkan sebagaimana tercantum dalam lampiran II.
No. Legislasi Status Kesesuaian
No. Legislasi Deskripsi Legislasi Ya (100%) Tidak (0%) Sebagian
Keterangan (Tindak Lanjut)
Pasal 4 √
9 Keputusan Menteri Tenaga Kerja RI No. Kep-186/MEN/1999 Unit Penanggulangan Kebakaran Di Tempat Kerja
Pasal 2 √ Training ERP
a. pengendalian setiap bentuk energi;
b. penyediaan sarana deteksi, alarm, pemadam kebakaran dan sarana evakuasi; c. pengendalian penyebaran asap, panas dan gas;
d. pembentukan unit penanggulangan kebakaran di tempat kerja;
e. penyelenggaraan latihan dan gladi penanggulangan kebakaran secara berkala
a. informasi tentang sumber potensi bahaya kebakaran dan cara pencegahannya;
d. prosedur dalam menghadapi keadaan darurat bahaya kebakaran.
10.
Pemberlakuan standar Nasional Indonesia (SNI) No. SNI-04-0225-2000 mengenai persyaratan umum instalasi listrik 2000 (PUIL 2000) di tempat kerja
Pasal 2 √
(1) NAB getaran alat kerja yang kontak langsung maupun tidak langsung pada lengan dan tangan tenaga kerja ditetapkan sebesar 4 meter per detik kuadrat (m/det2)
(2) Getaran yang melampaui NAB, waktu pemajanan ditetapkan sebagaimana tercantum dalam lampiran III.
(1) Pengurus atau pengusaha wajib mencegah, mengurangi dan memadamkan kebakaran, latihan penanggulangan kebakaran di tempat kerja
(2) Kewajiban mencegah, mengurangi dan memadamkan kebakaran di tempat kerja sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi:
f. memiliki buku rencana penanggulangan keadaan darurat kebakaran, bagi tempat kerja yang mempekerjakan lebih dari 50 (lima puluh) orang tenaga kerja dan atau tempat kerja yang berpotensi bahaya kebakaran sedang dan berat.
(3) Pengendalian setiap bentuk energi, penyediaan sarana deteksi, alarm, pemadam kebakaran dan sarana evakuasi serta pengendalian penyebaran asap, panas dan gas sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf a, huruf b dan huruf c dilaksanakan sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku.
(4) Buku rencana penanggulangan keadaan darurat kebakaran sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf f, memuat antara lain:
b. jenis, cara pemeliharaan dan penggunaan sarana proteksi kebakaran di tempat kerja;
c. prosedur pelaksanaan pekerjaan berkaitan dengan pencegahan bahaya kebakaran;
Keputusan Menteri Tenaga Kerja dan transmigrasi RI No. Kep.75/MEN/2002
(1) Perencanaan, pemasangan, penggunaan, pemeriksaan dan pengujian instalasi listrik di tempat kerja harus sesuai dengan ketentuan-ketentuan yang ditetapkan dalam Standar Nasional Indonesia (SNI) No. SNI 04-0225-2000 mengenai Persyaratan Umum Instalasi Listrik 2000 (PUIL 2000) di Tempat Kerja.
No. Legislasi Status Kesesuaian
No. Legislasi Deskripsi Legislasi Ya (100%) Tidak (0%) Sebagian
Keterangan (Tindak Lanjut)
Pasal 3 √
INSTRUKSI MENTERI
11 Instruksi Menteri Tenaga Kerja No. Ins. 11/M/BW/1997 Pengawasan Khusus K3 Penanggulangan Kebakaran √
Pemeriksaan dan Pengujian:
1. Klasifikasi Umum
2. Sumber ignition
3. Bahan-bahan yang mudah terbakar /meledak
4. Kompartemen
5. Pintu darurat
6. Alat pemadam api ringan
(2) Pengurus bertanggungjawab terhadap ditaatinya dan wajib melaksanakan ketentuan Standar Nasional Indonesia (SNI) No. SNI 04-0225-2000 mengenai Persyaratan Umum Instalasi Listrik 2000 (PUIL 2000) di Tempat Kerja.
(3) Instalasi Listrik yang telah terpasang sebelum diberlakukannya Keputusan ini,