Chapter 1 PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
1.1.3 Identifikasi dan Perumusan Masalah
Secara umum, nilai rata-rata indeks reformasi birokrasi untuk tingkat tingkat kementerian/lembaga (K/L) di Indonesia mengalami proses peningkatan. Di tingkat K/L meningkat dari 65,78 pada tahun 2015 menjadi 71,91 pada tahun 2017. Hasil tersebut salah satunya berhasil mendongkrak berbagai indeks kebangsaan Indonesia di mata dunia, seperti World Economic Forum yang mencatat indeks daya saing nasional naik 5 peringkat dari ranking 41 (2016) ke ranking 36 (2017).
Sementara Bank Dunia mencatat indeks kemudahan berusaha naik 19 peringkat dari ranking 91 (2016) ke ranking 72 (2017). Bank Dunia juga mencatat indeks efektivitas pemerintahan tahun 2016 naik 17 peringkat dibandingkan tahun 2015. Sementara Transparency International mencatat indeks persepsi korupsi tetap stabil pada skor 37.
(https://www.menpan.go.id/site/berita-terkini/sejumlah-capaian-reformasi-birokrasi-2014-2018).Namun demikian, posisi Kementerian ATR/BPN masih berada di kisaran dibawah 70 (Mendapat Nilai B) yang masih diperlukan pembenahan yang signifikan dalam rangka menghadirkan pelayanan prima.
(http://keuda.kemendagri.go.id/berita/detail/3291-ini-hasil-evaluasi-kementerian-lembaga-siapa-dapat-rapor-merah)Terkait dengan data dan informasi yang terbatas dalam melihat tingkat kinerja Direktorat Binda, khususnya subdit wilayah 1, maka dilakukan identifikasi dan pemetaan masalah dengan mengacu kepada benchmarking yang telah dilakukan dalam proses pelaksanaan kegiatan DIKLAT PIM IV. Pemetaan Masalah berdasarkan kondisi eksisting di subdit Wilayah 1 dibandingkan dengan institusi dalam kegiatan Benchmarking ditambah dengan beberapa best practices di luar Negara.
https://www.cityofsydney.nsw.gov.au/development/planning-controls
(https://urbanrisklab.org/).
Dengan memperhatikan posisi Kementerian ATR/BPN yang masih berada dibawah nilai < 70, maka informasi tersebut dijaddikan pijakan awal untuk melihat tingkat kinerja subdit wilayah 1. Secara lebih detail, PERTAMA dilakukan pemetaan permasalahan yang dihadapi di subdit wilayah 1 terkait dengan Tingkat Pelayanan dari sisi efektifitas dan efisiensi pelaksanaan kegiatan di subdit wilayah 1 dengan melibatkan seluruh ASN/Staf/Personil yang bertugas di Subdit wilayah 1. Kuisioner sederhana menggunakan Google Forms for Survey yang berisi beberapa list pertanyaan dibuat (lihat lampiran kuisioner) untuk memahami dan memetakan permasalahan yang dihadapi di subdit ini.
JABATAN JUMLAH
KASUBDIT WILAYAH 1 1
KASI BINA KABUPATEN & PROVINSI 1
KASI BINA KOTA DAN PERKOTAAN 1
ASN JABATAN
FUNGSIONAL/ANALISIS/PELAKSANA 3
ASN PEGAWAI PEMERINTAH DENGAN
PERJANJIAN KERJA 1
TENAGA AHLI (KONSULTAN INDIVIDUAL) 6 KASUBID PROV LAMPUNG (sedang
PERSUB) 1
TOTAL RESPONDENT 14
Table 1 : Jabatan dan Jumlah Responden
Figure 1 : Rencana aksi Reformasi Birokrasi Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional
KEMENTERIAN ATR/BPN NILAI B < 70
KEMENTERIAN KEUANGAN NILAI A
JAKARTA SMART CITY, MALL PELAYANAN PUBLIK PEMDA DKI
Dari hasil kuisioner secara umum dapat dilihat bahwa hampir 80%
responden menyatakan bahwa tingkat pelayanan di Binda masih belum optimal, baik dari sisi efektifitas (e.g. waktu) dan efisiensi pelaksanaan (e.g.
biaya). Lebih jauh, jika respondent diberikan pilihan “ya” atau “Tidak” maka 100% responden menyatakan bahwa kinerja dan pelayanan di subdit Wilayah 1 belum berjalan secara optimal dari sisi efektifitas dan efisiensi pelaksanaan. Ketika responden ditanyakan saran dan masukan terkait dengan bagaimana cara meningkatkan tingkat kinerja dan pelayanan, maka seluruh responden setuju bahwa penggunaan teknologi informasi akan sangat membantu untuk memberikan tingkat kinerja dan pelayanan yang lebih berkualitas.
KEDUA dilakukan pemetaan terhadap urutan prioritas Tugas dan Fungsi (Tusi) di subdit wilayah 1 dalam rangka untuk memetakan Tusi yang paling berkontribusi untuk mencapai indikator kinerja Utama Direktorat Pembinaan Perencanaan Tata Ruang dan Pemanfaatan Ruang Daerah (e.g. IKU Dit Binda : Tingkat Pemenuhan RTR/RRTR dan Peningkatan Kapasitas ASN Tata Ruang di daerah).
No
JENIS KEGIATAN
NILAI NILAI NILAI NILAI NILAI TOTAL1 PERSUB 6 8 14
2 BIMTEK 6 8 14
3 BANTEK 3 9 1 13
4 SPM 2 4 7 13
5 CAPACITY BUILDING 4 6 4 14
Table 2 : Jumlah Nilai Yang diberikan Responden dalam Google Survey Dengan Menggunakan Skala dan Bobot Penilain Sebagai berikut :
SKALA PENILAIAN 1 2 3 4 5
BOBOT PENILAIAN 0 1 2 3 4
Table 3 : Penentuan Skala dan Bobot Penilaian Dengan Keterangan :
1 = Sangat Tidak Penting 2 = Tidak Penting
3 = Biasa Saja 4 = Penting
5 = Sangat Penting
No
JENIS KEGIATAN
NILAI NILAI NILAI NILAI NILAI TOTAL1 PERSUB 0 0 0 18 32 50
2 BIMTEK 0 0 0 18 32 50
3 BANTEK 0 0 6 27 4 37
4 SPM 0 0 8 21 0 29
5 CAPACITY
BUILDING 0 0 8 18 16 42
Table 4 : Jumlah Bobot Penilaian
Setelah masing-masing kegiatan dihitung total bobot penilaiannya, maka kontribusi masing-masing kegiatan yang berkontribusi untuk mendorong tercapainya kinerja utama adalah sebagai berikut yang dapat dilihat pada gambar :
NO JENIS KEGIATAN Bobot (%)
1 Persetujuan Substansi 24%
2 Bimbingan Teknis 24%
3 Bantuan Teknis 18%
4 Standard Pelayanan Minimal 14%
5 Peningkatan Kapasitas 20%
Table 5 : bobot % Kegiatan untuk menunjang Pencapaian IKU
Hasil bobot % kegiatan yang diarahkan untuk menunjang pencapaian Indikator Kinerja Utama (IKU) ini kemudian selanjutnya di analisis kembali
Figure 2 :Penilain Tugas dan Fungsi Binda untuk mendukung IKU 24%
24%
18%
14%
20%
1 PERSUB 2 BIMTEK 3 BANTEK 4 SPM 5 CAPACITY BUILDING
menggunakan pendekatan metode pendekatan Urgency, Serioussness dan Growth yang akan dijelaskan di halaman selanjutnya.
Identifikasi potensi masalah yang dilakukan dengan pendekatan USG (Urgency, Seriousness, and Growth) (e.g. Sejauh mana potensi masalah akan muncul terkait dengan 5 kegiatan tersebut jika tidak dilakukan) yang dipetakan berdasarkan masing-masing tugas dan fungsi seperti yang telah diuraikan dalam uraian tugas dan fungsi Subdirektorat Pembinaan Wilayah I yang kemudian secara lebih khusus dengan tugas dan fungsi Seksi Bina Kota dan Perkotaan Subdit Wilayah 1 seperti yang dapat dilihat pada table 1 dibawah ini.
No JENIS KEGIATAN % U S G
TOTAL%
1 PERSUB 24% 5 5 5 15 28%
2 BIMTEK 24% 5 4 5 14 26%
3 BANTEK 18% 4 4 3 11 15%
4 SPM 14% 4 3 3 10 11%
5 CAPACITY BUILDING 20% 4 5 4 13 20%
Table 6 : Tingkat Prioritas Kegiatan berdasarkan Tugas dan Fungsi untuk Mencapai Indikator Kinerja Utama (IKU) mengacu kepada hasil Figure 2
Catatan dan Asumsi yang digunakan terkait dengan Indikator Kinerja : U : Urgency = Kegiatan tersebut Sangat Mendesak untuk
dilaksanakan
S : Seriousness = Kegiatan tersebut memiliki dampak yang serius jika tidak dilaksanakan
G : Growth = Kegiatan tersebut akan memiliki akumulasi dampak yang signifikan jika tidak dilaksanakan
Pembobotan dilakukan berdasarkan pertimbangan kontribusi
masing-masing kegiatan untuk mencapai indikator utama
dari kinerja subdit wilayah 1 (Disepakati dalam FGD
bersama seluruh personil di subdit Wilayah 1).
Berdasarkan Figure 3, maka dapat dilihat dan disimpulkan bahwa urutan kegiatan prioritas yang paling berkontribusi untuk meningkatkan nilai IKU adalah : 1) Evaluasi Persub, 2) Bimbingan Teknis (Bimtek), 3) Peningkatan Kapasitas (Capacity Building), 4) Bantuan Teknis (Bantek) dan terakhir 5) Standar Pelayanan Minimum (SPM).
Setelah dilakukan identifikasi potensi masalah dari masing-masing kegiatan sesuai dengan tugas dan fungsi di subdit wilayah 1, maka kemudian potensi permasalahan yang timbul dari masing-masing kegiatan tersebut di atas didetailkan menggunakan pendekatan “Fish Bone” diagram untuk melihat penyebab (cause) ada akibat (effect) dari masalah yang telah dipetakan mengacu kepada target subdit wilayah 1 yang belum optimal.
Figure 4 : Fish Bone Diagram list Pemetaan Masalah sesuai Tugas dan Fungsi Mengacu Pada Figure 3
Figure 3 : Hasil Uji Tingkat Prioritas Kegiatan yang Paling berkontribusi untuk Meningkatkan IKU di Subdit Wilayah 1
1) PERSUB 2) BIMTEK
3) CAPACITY BUILDING 4) BANTEK
5) SPM
Dalam dokumen
LAPORAN PELAKSANAAN IMPLEMENTASI PROYEK PERUBAHAN
(Halaman 14-20)