• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

E. Identifikasi Isolat Bakteri Ketiak

Identifikasi adalah penentuan ciri atau karakter sutu biakan murni hasil isolasi yang ditentukan berdasarkan pada morfologi koloni, morfologi sel dan uji biokimiawi yang dibandingkan dengan suatu spesies tertentu yang digunakan sebagai acuan dan dianggap mewakili ciri-ciri suatu spesies. Morfologi koloni bertujuan untuk melihat sifat pertumbuhan bakteri pada berbagai media (media cair, media agar petri, media agar miring dan media agar tegak) dengan melihat pertumbuhan pada bagian permukaan dan dasar tabung. Pada media cair diamati pertumbuhan koloni pada permukaan media, kekeruhan, bau dan ada tidaknya endapan untuk mengidentifikasi mikroba berdasarkan kebutuhan akan oksigen. Pada media agar agak tegak diamati bentuk pertumbuhan koloninya pada bekas tusukan dan tingkat pertumbuhan merata atau tidak. Pada media agar miring diamati tingkat pertumbuhannya, bentuk pertumbuhan pada goresan, elevasi, topografi, warna dan konsistensinya. Sedangkan

pada media cawan agar diamati bentuk pertumbuhannya, sktruktur dalamnya, tepi, evaluasi dan warna koloninya (Lay, 2004).

1. Pengamatan morfologi koloni bakteri isolat ketiak

Pengamatan morfologi koloni bakteri isolat ketiak dilakukan dengan menginokulasikan pada beberapa media seperti media cair, agak tegak dan media agar miring. Pengamatan dilakukan setelah inkubasi selama 24 jam.

Secara garis besar, parameter yang diamati dari pengamatan morfologi koloni adalah tekstur, bentuk dan warna koloni yang khas pada setiap spesies. Bentuk koloni tergantung pada konsistensi medianya. Pada media cair sifat kebutuhan akan O2

sangat mudah dilihat dan penampakan koloninya dapat dibedakan seperti endapan (sendiment), cincin (ring) dan selaput (pellicle). Demikian pula pada agar tegak atau miring, memiliki bentuk yang spesifik untuk setiap spesies. Bentuk koloni yang diinokulasikan pada agar miring antara lain beaded (menyerupai rantai mutiara atau butir-butir sepanjang bekas inokulasi), echinulate (pertumbuhan sepanjang bekas inokulasi bergerigi), filiform (pertumbuhan sepanjang bekas inokulasi merata),

rhizoid(pertumbuhan dengan cabang-cabang tidak teratur atau seperti susunan akar),

arborescent (menyerupai pohon yang bercabang-cabang) dan spreading

(pertumbuhan merata disekilas bekas inokulasi). Sedangkan bentuk koloni pada media agar tegak yaitubeaded,filiform,villious, rhizoid,arborescentdanechinulate. Bentuk koloni ada yang bulat (round), irregular dan filamentous. Tepi koloni ada yang rata (entire), berlobus (lobate), meruncing (erose) dan berlekuk (undulate) (Wuczkowskiet al., 2007).

Pada media cair, konsistensi media cair digunakan untuk mengamati bentuk pertumbuhan koloni dan sifat koloni berdasarkan kebutuhan O2. Dari hasil pengamatan diperoleh bentuk pertumbuhan koloni bakteri isolat berwarna kuning dan terjadi pertumbuhan di atas dan di dasar media. Hasil tersebut menunjukkan bahwa bakteri isolat bersifat aerobik dan fakultatif anaerobik karena dapat tumbuh di dasar media dan juga pada permukaan media. Hal ini berarti bakteri dapat melakukan fermentasi sehingga dapat digolongkan dalam mikrobia yang bersifat fakultatif anaerobik dan aerobik.

Pada media agar tegak, pengamatan morfologi koloni dilakukan dengan menginokulasikan secara tusukan pada media agar tegak. Dari hasil pengamatan, terlihat bentuk pertumbuhan koloni bakteri berbentuk villous yaitu pendek dan menyerupai rambut di sepanjang bekas inokulasi dengan tingkat pertumbuhan yang tidak merata yang pertumbuhannya lebih banyak pada permukaan media.

Pada media agar miring, pengamatan dilihat dari tingkat pertumbuhan, bentuk, warna, elevasi dan tekstur pertumbuhannya. Dari hasil pengamatan terlihat pertumbuhan bakteri merata di sekitar bekas inolukasi (spreading), berwarna kuning, tingkat pertumbuhan koloni lebat dan elevasi rata (entire).

Dari pengamatan morfologi koloni pada media agar tegak, agar miring dan media cair bakteri isolat ketiak mengarah pada genus Staphylococcus. Tetapi, untuk memastikan bahwa bakteri isolat ketiak tersebut merupakan genus Staphylococcus

perlu dilakukan pengamatan selanjutnya yaitu pengamatan morfologi sel, uji biokimiawi dan dilanjutkan dengan penanaman pada medium selektif.

2. Pengamatan morfologi sel

Selain morfologi koloni, karakteristik yang penting untuk identifikasi bakteri adalah morfologi sel yang meliputi bentuk sel dan sifat sel berdasarkan pewarnaan, sifat gram dan sifat motilitas. Untuk mengamati bentuk dan morfologi sel diperlukan preparat pulasan bakteri dilanjutkan dengan pengecatan Gram yang diamati di bawah mikroskop.

Menurut Lay (2004), pengecatan merupakan tahap yang penting dalam identifikasi dan pencirian. Pengecatan gram digunakan untuk mengidentifikasi menjadi kelompok bakteri gram positif dan negatif. Dari sisi pewarnaan, mikroba yang termasuk dalam kelompok gram positif memiliki range warna dari ungu sampai kehitaman dan kelompok gram negatif memiliki warna merah.

Bakteri gram positif berwarna ungu karena tetap mengikat kompleks zat warna kristal violet-iodium meskipun diberi decolorasi atau zat peluntur (alkohol 96%). Bakteri gram negatif berwarna merah karena kompleks kristal violet-iodium larut ketika diberikan zat peluntur sehingga dapat diwarnai oleh cat lawan yang berwarna merah (safranin). Pada bakteri gram negatif dinding sel terdiri dari beberapa lapisan peptidoglikan dan membran luar. Peptidoglikan merupakan komponen dinding sel yang peka terhadap pewarnaan Gram. Karena bagian terluar dinding sel bakteri gram negatif adalah membran luar maka pewarnaan gram menghasilkan warna merah yang merupakan warna safranin yang mewarnai membran luar (Purwoko, 2007).

Menurut Jutono dkk (1980), perbedaan sifat Gram positif dan Gram negatif tidak mutlak tegas dan spesifik, tetapi masih bergantung pada beberapa faktor yang dapat menyebabkan variasi dalam pengecatan gram antara lain:

1) Perubahan keasaman. Apabila pH turun kemungkinan sifat Gram positif dapat berubah menjadi Gram negatif. Sebaliknya apabila pH naik ada kemungkinan sifat Gram negatif dapat berubah menjadi Gram negatif.

2) Penyimpangan cara pengecatan. Misalnya, pencucian yang terlalu lama dengan alkohol dapat menyebabkan mikrobia Gram positif memberikan hasil seperti Gram negatif.

3) Faktor medium. Misalnya, mikroba Gram positif yang lemah apabila ditumbuhkan dalam medium yang mengandung bahan yang mudah difermentasikan dapat berubah menjadi Gram negatif.

4) Umur mikrobia. Mikrobia Gram positif yang telah tua atau kekurangan nutrisi dapat berubah menjadi Gram negatif.

3. Pergerakan bakteri (motilitas)

Uji motilitas bertujuan untuk mengetahui sifat motilitas pada bakteri isolat. Pergerakan atau motilitas dapat diamati secara langsung dengan metode tetes gantung (hanging drop). Pengujian motilitas ini dilakukan dengan meletakkan satu ose kultur bakteri isolat pada gelas penutup. Objek gelas yang telah diberi 4 gumpalan vaselin dibalikkan pada gelas penutup dengan hati-hati sedemikian rupa sehingga ujung-ujung vaselin pada objek gelas berlekatan dengan gelas penutup. Kemudian objek

gelas dibalikkan dan diamati sifat motilitasnya. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa bakteri isolat bersifat non-motil.

4. Uji biokimiawi

Sifat-sifat morfologi sel dan morfologi koloni tidak cukup untuk melakukan identifikasi, sifat biokimianya juga perlu diuji. Uji biokimia dilakukan berdasarkan pada berbagai hasil metabolisme mikrobia yang disebabkan oleh kerja enzim. Uji biokimia yang dilakukan meliputi uji oksidase dan katalase.

a. Uji oksidase

Uji oksidase bertujuan untuk mengetahui apakah bakteri yang diidentifikasi memiliki atau membentuk enzim oksidase sitokrom C atau tidak, yang akan mengubah oksidase amin menjadi aldehid, ammonia dan H2O. Reagen yang digunakan dalam tes oksidase ini adalah larutan tetramethyl-paraphenydiamine. Tes oksidase akan berlangsung positif jika timbul warna biru tua (Lay, 1994).

Pada hasil pengamatan didapatkan hasil yang negatif bahwa tidak terdapat perubahan warna pada kertas saring dari coklat menjadi ungu. Hal ini menunjukkan bahwa bakteri isolat tidak dapat mengoksidasi reagen sehingga warna berubah.

b. Uji katalase

Katalase adalah enzim yang mengkataliskan penguraian hidrogen peroksida (H2O2) menjadi air dan O2. Hidrogen peroksida bersifat toksik terhadap sel karena bahan ini mengaktivasi enzim dalam sel (Lay, 1994).

Dari hasil pengamatan menunjukkan hasil yang positif karena adanya buih seketika. Adanya buih disebabkan oleh enzim katalase yang dapat memecah H2O2

menjadi H2O dan O2.

Dokumen terkait