• Tidak ada hasil yang ditemukan

4. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.3. Identifikasi Karakter Morfologi

Hingga saat ini, pada pelaksanaan proses identifikasi dan klasifikasi kepiting bakau masih terdapat perdebatan di antara para ahli mengenai pembagian jumlah

spesies kepiting bakau. Menurut Stephenson & Campbell (1960) in Fushimi & Watanabe (2001) keempat spesies kepiting bakau tersebut merupakan satu spesies kepiting bakau berdasarkan kesimpulan yang diambil dari sampel yang berasal dari Queensland dan New South Wales (Australia). Stephenson dan Campbell menduga bahwa perbedaan karakter morfologis tersebut diperoleh dari perbedaan lingkungan habitat kepiting bakau. Akan tetapi Stephenson dan Campbell tidak secara spesifik menyebutkan kondisi lingkungan yang dapat membuat perbedaan morfologi dari ketiga spesies kepiting bakau tersebut. Sedangkan menurut Estampador (1949) in Fushimi & Watanabe (2001) kepiting bakau diklasifikasikan menjadi tiga spesies dan satu varietas, yaitu Scylla serrata, Scylla tranquebarica, Scylla oceanica, dan

Scylla serrata var. paramamosain dengan menggunakan spesimen yang

dikumpulkan dari Filipina berdasarkan perbedaan morfologi eksternal (warna karapas dan pleopod, gigi anterolateral pada karapas, dan duri luar pada cheliped

carpus).

Selanjutnya terdapat ahli lainnya, yaitu Fuseya (1998) in Fushimi & Watanabe (2001) yang melakukan analisis morfometrik antar spesies pada genus Scylla yang berasal dari daerah sebaran geografis kepiting bakau yang luas. Fuseya pun melakukan uji karakteristik morfologi pada pleopod pertama dan kedua dari kepiting bakau jantan. Berdasarkan analisisnya, spesies Scylla serrata, Scylla tranquebarica, dan Scylla oceanica benar-benar dapat dibedakan dan karaketristik morfologi yang telah ditemukan dari ketiga spesies tersebut sesuai dengan deskripsi yang dijabarkan oleh Estampador. Kemudian dilakukan penelitian genetika kepiting bakau di mana informasi genetik merupakan hal penting dalam mengindentifikasi ketiga spesies kepiting bakau dari genus Scylla. Pada bulan Juni 1994 hingga Mei 1995, Fuseya dan Watanabe (1996) in Fushimi & Watanabe (2001) telah mengumpulkan dan mengindentifikasi 342 kepiting bakau yang berasal dari 7 lokasi (Danau Hamana dan Okinawa (Jepang), Bali dan Cilacap (Indonesia), Chantaburi dan Surat Thani (Thailand), dan Madagaskar). Fuseya dan Watanabe mengklasifikasi kepiting bakau menjadi 3 spesies, yaitu Scylla serrata, Scylla tranquebarica, dan Scylla oceanica, berdasarkan klasifikasi Estampador.

Keenan et al. (1998) in Watanabe et al. (2002) melakukan revisi spesies kepiting bakau menjadi empat spesies. Hal ini berdasarkan analisis mt-DNA

kepiting bakau yang menyatakan bahwa terdapat empat spesies dalam genus Scylla, yaitu S. serrata (S. oceanica Estampador), S. olivacea (S. serrata Estampador), S.

tranquebarica (S. serrata var. paramamosain Estampador), serta S. paramamosain

(S. tranquebarica Estampador). Akan tetapi Klinbunga et al. (2000) in Watanabe et

al. (2002) melakukan riset genetika terhadap kepiting bakau yang berasal dari

Thailand dan menyatakan bahwa terdapat tiga spesies kepiting bakau dengan menggunakan analisis RAPD dari genomik DNA kepiting bakau. Ketiga spesies tersebut adalah Scylla serrata, Scylla tranquebarica, dan Scylla oceanica berdasarkan kriteria Estampador.

Berdasarkan riset para ahli di atas, Penulis menggunakan identifikasi dan klasifikasi berdasarkan Estampador pada tahun 1949, yaitu Scylla serrata: duri

frontal margin tumpul berukuran sama dan duri anterolateral berjumlah 9 dengan

gigi yang bergerigi tajam dan berukuran sama. Scylla tranquebarica: duri frontal

margin tajam dengan duri berukuran sama dan duri anterolateral berjumlah 9 dengan

gigi yang bergerigi tajam dan berduri. Scylla oceanica: duri frontal margin tajam berukuran sama dan duri anterolateral berjumlah 9 dengan gigi yang bergerigi tajam. Berdasarkan hasil penelitian, diperoleh identifikasi karakter morfologis untuk membedakan ketiga jenis kepiting bakau, yaitu Scylla serrata, Scylla tranquebarica, dan Scylla oceanica berdasarkan warna karapas, bentuk alur “H”, bentuk duri frontal

margin, duri pada cheliped carpus (inner carpal), serta corak pada pleopod

masing-masing spesies.

4.3.1. Scylla serrata

Menurut Estampador (1949) in Kathirvel & Srinivasagam (1992) Scylla

serrata termasuk ke dalam kelompok “Mamosain”, di mana spesies tersebut hidup

meliang di area hutan mangrove, berwarna coklat kehitaman, dan tidak memiliki corak pada pleopodnya. Sedangkan menurut Kathirvel & Srinivasagam (1992)

Scylla serrata memiliki warna karapas coklat kemerahan dengan bentuk alur “H”

tidak dalam dan tidak memiliki corak pada pleopodnya.

Berdasarkan hasil penelitian pada Gambar 16, diketahui bahwa Scylla serrata memiliki warna karapas coklat kehitam-hitaman dengan bentuk alur H pada karapas tidak dalam. Menurut Moosa et al. (1985) S. serrata termasuk kelompok yang

berwarna dasar hijau-merah-kecoklatan. Warna karapas pada S. serrata berhubungan dengan habitatnya, yaitu hidupnya meliang di daerah mangrove (Moosa et al. (1985); Kathirvel & Srinivasagam (1992)). Bentuk duri frontal

margin tumpul dan duri inner carpal (duri pada cheliped carpus) berjumlah satu dan

tidak tumpul serta pleopod pada S. serrata tidak bercorak. Estampador (1949) in Siahainenia (2008) menyatakan bahwa Scylla serrata memiliki warna karapas coklat merah seperti karat dengan bentuk alur H pada karapas tidak dalam, memiliki bentuk duri depan (frontal margin) tumpul, serta tidak memiliki duri pada fingerjoint (duri pada cheliped carpus) yang berubah menjadi vestigial.

Gambar 16. Scylla serrata (jantan).

4.3.2. Scylla tranquebarica

Menurut Estampador (1949) in Kathirvel & Srinivasagam (1992) Scylla

berenang bebas di sekitar perairan pesisir, berwarna hijau, dan memiliki corak pada pleopodnya. Begitu pula dengan Scylla oceanica, kedua spesies ini memiliki ciri-ciri yang hampir mirip, kecuali pada bagian alur “H” dan duri pada cheliped carpus, dapat dilihat pada Gambar 17.

Gambar 17. Scylla tranquebarica (jantan).

Berdasarkan hasil penelitian, pada Gambar 17, terlihat bahwa Scylla

tranquebarica memiliki warna karapas coklat kehijau-hijauan dengan bentuk alur H

pada karapas dalam. Bentuk duri frontal margin tajam dan duri inner carpal (duri pada cheliped carpus) berjumlah dua dengan salah satu duri berduri tajam, sedangkan duri lainnya agak tumpul serta pleopod pada S. tranquebarica bercorak.

Estampador (1949) in Siahainenia (2008) menyatakan bahwa Scylla

tranquebarica memiliki warna karapas hijau buah zaitun dengan bentuk alur H pada

karapas dalam, memiliki bentuk duri depan (frontal margin) tajam, serta bentuk kedua duri pada fingerjoint (duri pada cheliped carpus) jelas, dimana salah satunya agak tumpul. Moosa et al. (1985) menyatakan bahwa kepiting bakau genus Scylla

di Indonesia memiliki dua warna dasar berbeda, yaitu yang termasuk warna kehijauan atau hijau keabuan (S. oceanica dan S. tranquebarica) serta kelompok yang berwarna dasar hijau-merah-kecoklatan (S. serrata dan S. serrata var.

paramamosain). Jenis S. oceanica dan S. tranquebarica biasanya ditemukan pada

perairan terbuka.

4.3.3. Scylla oceanica

Menurut Estampador (1949) in Kathirvel & Srinivasagam (1992) Scylla

oceanica termasuk ke dalam kelompok “Banhawin”, sama halnya dengan Scylla tranquebarica, di mana spesies tersebut berenang bebas di sekitar perairan pesisir,

berwarna hijau, dan memiliki corak pada pleopodnya. Sedangkan menurut Kathirvel & Srinivasagam (1992) Scylla oceanica memiliki warna karapas hijau keabu-abuan, dengan bentuk alur “H” yang dalam, serta memiliki corak pada kaki jalan dan pleopodnya, dapat dilihat pada Gambar 18.

Berdasarkan hasil penelitian, pada Gambar 18, terlihat bahwa Scylla oceanica memiliki warna karapas coklat kehijau-hijauan dengan bentuk alur H pada karapas dalam. Bentuk duri frontal margin tajam dan duri inner carpal (duri pada cheliped carpus) berjumlah dua dan berduri tajam serta pleopod pada Scylla oceanica bercorak. Hal di atas sesuai dengan deksripsi yang dijelaskan oleh Moosa et al. (1985). Estampador (1949) in Siahainenia (2008) menyatakan bahwa Scylla

oceanica memiliki warna karapas hijau keabu-abuan dengan bentuk alur H pada

karapas dalam, memiliki bentuk duri depan (frontal margin) tajam, serta memiliki bentuk duri pada fingerjoint (duri pada cheliped carpus) keduanya tajam.

Dokumen terkait