• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Analisis Architecture Vision

4.2 Analisis Business Architecture

4.3.1 Identifikasi Kebutuhan Data dan Informas

SIPPS-Sapi dibangun sebagai alat bantu pemerintah dalam menentukan kebijakan dan melakukan perencanaan stok sapi potong tahunan. Oleh karena itu, untuk membangun SIPPS-Sapi diperlukan data-data tertentu yang terkait dengan sapi potong. Ada beberapa data sapi yang menjadi konsentrasi perhatian dalam SIPPS-Sapi ini, misalnya yaitu:

1. Data sapi yang ada atau sedang dibiakkan 2. Data sapi yang dipotong

3. Data sapi yang mati karena sakit 4. Data sapi yang diekspor secara ilegal 5. Data sapi yang diimpor

Setiap satu data sapi, terdiri atas informasi umur, berat, jenis kelamin, riwayat kesehatan, jenis atau bangsa sapi, pejantan dan induk, asal disnak, dan status (verified, unverified, atau deleted by SMS).

Kendala yang mungkin timbul adalah menentukan sapi manakah yang dipotong atau sapi manakah yang diekspor secara ilegal. Apakah sapi yang sedang dibiakkan, ataukah sapi yang baru saja diimpor. Apakah sapi tersebut berasal dari Jakarta atau dari Surabaya. Dalam hal ini, terlihat bahwa masalahnya adalah masalah identifikasi. Oleh karena itu diperlukan semacam ID bagi setiap sapi yang beredar di seluruh Indonesia. Sehingga proses identifikasi menjadi mudah dan jelas.

Pemberian ID kepada seluruh sapi ini dapat dilakukan secara serentak sebelum SIPPS-Sapi dibuat. Nantinya, Pencatatan dan verifikasi pada sistem juga dilakukan oleh petugas Disnak.

Saat sensus dilakukan, maka pada saat itu pula setiap sapi diberi ID. Format ID yang berikan untuk seluruh sapi dapat diatur sedemikian sehingga mampu menginformasikan tempat sapi tersebut berada, nomor urut sapi, dan lain sebagainya. Misalnya, untuk sapi yang berada di Jakarta diberi kode awalan JKT dan untuk sapi yang

30 berasal dari Surabaya diberi kode awalan SBY. Sapi juga dapat ditandai dengan berbagai cara untuk menunjukkan ID-nya, misalnya dengan pemberian tato nomor pada telinga (ID Telinga) atau dengan cap pada tubuhnya. Contoh penggunaan nomor pada telinga sapi adalah seperti terlihat pada Gambar 11 di bawah ini.

Gambar 11 Contoh penggunaan nomor pada telinga sapi.

Setelah seluruh sapi diberi ID, maka data setiap sapi ini akan menjadi basis bagi SIPPS-Sapi yang dibuat. Tepat setelah SIPPS-Sapi dibangun, maka saat itulah seluruh Disnak kabupaten/kota memasukkan data yang sudah dihimpunnya ke dalam SIPSS Sapi. Mengingat kondisi geografis Indonesia, maka SIPPS-Sapi harus dibuat sedemikan sehingga proses pemasukkan data menjadi cepat dan mudah. Pilihan yang tepat adalah bahwa SIPPS-Sapi dibangun di atas teknologi internet, sehingga seluruh Disnak kabupaten/kota dapat memasukkan datanya dengan cepat tanpa perlu datang ke pusat. Dengan asumsi, seluruh Disnak kabupaten/kota di Indonesia sudah memiliki seperangkat komputer yang dapat terhubung ke internet.

Selain petugas Disnak, masyarakat awam juga dapat terlibat aktif dalam penyediaan data SIPPS Sapi. Setiap anggota masyarakat dapat memasukkan data sapi, misalnya sapi yang baru lahir, untuk selanjutnya diverifikasi oleh petugas Disnak. Jika daerahnya masih terpencil dan belum terjangkau teknologi internet, maka teknologi Short Message Service (SMS) dapat digunakan.

Ilustrasi langkah-langkah pemanfaatan teknologi SMS oleh anggota masyarakat dalam hal peran sertanya untuk menyediakan data SIPPS Sapi adalah sebagai berikut:

1. Seorang anggota masyarakat, sebutlah bernama X, mengetahui bahwa seekor sapi Y baru saja lahir di Surabaya.

31 2. X akan memasukkan data sapi Y itu dengan cara menuliskan SMS dalam

format tertentu, lalu mengirimkannya kepada SIPPS-Sapi.

3. SIPPS-Sapi akan mencatat data sapi Y tersebut, dan menuliskan statusnya sebagai unverified.

4. Seluruh pengguna SIPPS-Sapi dapat membuka dan melihat data sapi Y, hanya saja statusnya masih unverified.

5. Secara simultan, SIPPS-Sapi juga akan mengirimkan SMS kepada petugas Disnak Surabaya bahwa sebuah data sapi Y baru saja masuk ke dalam sistem. 6. Petugas Disnak Surabaya akan melakukan verifikasi mengenai data sapi Y.

Verifikasi dapat dilakukan dengan cara menelpon si pengirim data, datang ke lokasi, atau dengan cara lainnya.

7. Jika setelah diverifikasi data sapi Y itu benar adanya, maka petugas Disnak dapat segera mengubah data sapi Y dari semula unverified, menjadi verified. Serta melakukan beberapa perubahan yang diperlukan.

Langkah-langkah di atas juga dilakukan jika anggota masyarakat memasukkan datanya melalui internet. Hanya saja, pada Langkah 2, anggota masyarakat memasukkan data sapi Y dengan cara mengetikkannya langsung di dalam SIPPS-Sapi.

Agar masyarakat atau instansi tertentu, misalnya Rumah Potong Hewan (RPH) atau Balai Penelitian Ternak Unggul (BPTU), dapat memasukkan banyak data sapi secara sekaligus, maka disediakan pula fasilitas upload file melalui sistem. Dalam hal ini, masyarakat atau instansi tersebut cukuplah memasukkan data-data sapi ke dalam file teks berformat .csv, kemudian mengirimkan file tersebut ke petugas disnak atau ke pusat. Selanjutnya, petugas disnak atau petugas di pusat dapat meng-upload file tersebut melalui sistem.

Jika masyarakat atau instansi tertentu memasukkan data sapi yang sama baik melalui SMS atau melalui upload file, maka kegiatan tersebut akan dianggap sebagai pengubahan data sapi. Setiap proses pengubahan data sapi dapat di-forward kepada petugas disnak yang terkait jika diperlukan.

Jika masyarakat atau instansi tertentu menghapus data sapi melalui SMS, maka data sapi tersebut akan diberi status deleted by SMS. Petugas Disnak harus melakukan

32 verifikasi ke lapangan mengenai kebenaran penghapusan data ini untuk selanjutnya di- update dalam sistem.

Jika data yang dimasukkan belum memiliki ID Telinga, maka sistem harus dapat membangkitkan sembarang ID Telinga sementara bagi data sapi tersebut. Petugas disnak harus segera melakukan verifikasi ke lapangan menganai data sapi baru ini, agar dapat segera di-update dalam sistem.

Setelah seluruh data sapi terisi dalam SIPPS-Sapi, maka seiring berjalannya waktu sistem akan melakukan beberapa perhitungan otomatis. Misalnya:

1. Selama tidak ada perubahan, sistem secara otomatis akan menambah berat sapi perhari. Hal ini merujuk kepada apa yang diungkapkan oleh Sudarmono & Sugeng (2008), bahwa berat atau bobot sapi akan bertambah setiap harinya melalui persentasi tertentu. Secara umum pertambahan bobot sapi mengikuti kurva sigmoid. Contohnya seperti terlihat dalam Gambar 12 yang menggambarkan kurva pertumbuhan sapi bali.

Gambar 12 Grafik pertumbuhan bobot sapi bali (Sudarmono & Sugeng 2008). Namun, untuk kemudahan perhitungan sistem, diambil nilai gradian dari garis singgung terhadap titik tengah kurva tersebut. misalnya seperti yang terlihat dalam Tabel 4.

Tabel 4 Contoh Pertambahan Bobot Sapi perhari

Bangsa Sapi Murni Tropis (lokal) Pertambahan Bobot (kg/hari)

Ongole 0.81 Bali 0.35

33 Sebagai catatan, karena umumnya pertumbuhan sapi tropis berhenti setelah berumur 4 tahun (Sudarmono & Sugeng 2008), maka sistem tidak akan melakukan penambahan berat lagi setelah 4 tahun. Sistem akan mengubah status sapi menjadi unverified agar pihak administrator tingkat Disnak melakukan verifikasi ke lapangan untuk memeriksa status sapi tersebut.

2. Sistem secara otomatis akan menghitung persentase karkas dari setiap sapi. Perhitungan ini didasarkan pada sebuah tabel acuan, misalnya seperti Tabel 5 berikut ini:

Tabel 5 Contoh Persentase Berat Karkas per Sapi

Bangsa Sapi Tropis (lokal) Persentase Karkas (per berat sapi) Bali 57% Madura 48%

Perhitungan persentase karkas diperlukan untuk menduga berat bagian daging yang bisa dikonsumsi. Sehinga sistem dapat melaporkan dugaan total berat daging atau jeroan yang siap dikonsumsi di seluruh Indonesia

3. Sistem secara otomatis akan menghitung persentase daging dari karkas setiap sapi. Perhitungan ini didasarkan pada sebuah tabel acuan, misalnya seperti Tabel 6 berikut ini:

Tabel 6 Contoh Persentase Daging Per Berat Karkas

Bangsa Sapi Tropis (lokal) Persentase Daging (per berat karkas) Bali 50% Madura 48%

SIPPS-Sapi harus dapat menyajikan berbagai macam informasi yang berguna untuk mendukung pengambilan keputusan pemerintah pusat. Informasi yang disajikan dapat berbentuk laporan (report) yang mudah dipahami. Secara umum, informasi minimal yang harus dapat disajikan oleh SIPPS-Sapi adalah:

1. Total sapi yang ada atau sedang dibiakkan di seluruh Indonesia. Laporan dapat ditampilkan berdasarkan kriteria tertentu, baik berupa tabular maupun grafik.

34 2. Total sapi yang ada atau sedang dibiakkan di Disnak tertentu. Laporan dapat

ditampilkan berdasarkan riteria tertentu, baik berupa tabular maupun grafik.

Laporan dapat disajikan dalam bentuk detail ataupun dalam bentuk ringkasan (summary). Laporan dalam bentuk detail umumnya ditujukan untuk keperluan operasional. Sedangkan laporan dalam bentuk ringkasan digunakan untuk pengambilan keputusan manejerial atau strategis.

Ada dua jenis grafik yang akan disajikan dalam laporan, yaitu grafik pie dan grafik batang. Grafik pie menyajikan persentase jumlah sapi berdasarkan kriteria tertentu (misalnya berdasakan bangsa sapi). Sedangkan grafik batang menyajikan total sapi berdasarkan kriteria tertentu.

Selain mencatat dan menyajikan laporan, SIPPS-Sapi juga diharapkan mampu menghitung dan menyajikan semacam saran mengenai perencanaan neraca stok sapi potong nasional. Saran dari sistem ini dihitung berdasarkan data-data yang berhasil tercatat di dalam sistem, serta data-data yang dimasukkan dari luar sistem. Kalkulasi yang dilakukan dalam neraca sapi untuk penentuan saran yang diberikan didasarkan kepada hasil diskusi dengan pakar.

Ada 5 (lima) variabel yang terlibat di dalam kalkulasi, yaitu:

1. Total ketersedian daging sapi di seluruh indonesia (diambil dari hasil pencatatan sistem)

2. Total populasi penduduk Indonesia (dimasukkan dari luar sistem).

3. Bobot daging sapi yang semestinya dikonsumsi per penduduk (dimasukkan dari luar sistem).

4. Correction Factor (dimasukkan dari luar sistem). Faktor koreksi ini diperlukan mengingat ada beberapa masyarakat yang tidak memakan daging (vegetarian) atau memang tidak menyukai daging sapi.

Rumus yang digunakan dalam kalkulasi ini adalah sebagai berikut: Misalkan,

x = Total ketersedian daging sapi di seluruh indonesia y = Total populasi penduduk Indonesia

a = Bobot daging sapi yang semestinya dikonsumsi per penduduk b= correction factor

35 maka

jumlah stok = x – ((a*y) - ( a *y* b))

Jika jumlah stok < 0, maka sistem akan munjukkan nilai negatif dan disarankan untuk segera menambah stok sapi potong nasional.

Variabel total populasi penduduk Indonesia dan bobot daging sapi yang semestinya dikonsumsi per penduduk juga sebaiknya dapat diisi melalui pembacaan langsung pada sistem informasi lain. Sehingga, pengguna tidak perlu memasukkan lagi secara manual.

Dokumen terkait