• Tidak ada hasil yang ditemukan

9 Perencanaan Benar

PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

1.3. Ruang Lingkup

Penelitian ini ditekankan kepada analisis dan rancangan konseptual untuk membangun Sistem Informasi Pencatatan dan Perencanaan Stok Sapi Potong Nasional. Jenis atau bangsa sapi yang dianalisis utamanya adalah Sapi Bali dan Peranakan Ongole (PO). Penelitian ini tidak melakukan implementasi sistem secara penuh. Implementasi dilakukan hanya dalam bentuk sebuah prototipe.

5 Prototipe yang dibangun berdasarkan teknologi world wide web (WWW) serta menggunakan sebuah SMS Gateway. Prototipe dapat menerima SMS dan mengirimkan SMS sesuai dengan spesifikasi yang ditentukan. Laporan dari prototipe sistem dapat berupa data tabular maupun grafik dalam bentuk Portable Document Format (PDF) ataupun berupa file berformat Microsoft Excel (.xls).

1.4. Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah:

1. Mengembangkan desain konseptual Sistem Informasi Pencatatan dan Perencanaan Stok Sapi Potong Nasional

2. Mengimplementasikan prototipe sistem yang dikembangkan.

1.5. Manfaat Penelitian

Beberapa manfaat yang dapat diambil dari pembangunan SIPPS-Sapi adalah: 1. Dapat dilakukan pencatatan yang baik terhadap jumlah sapi sesungguhnya

yang tersedia.

2. Dapat membantu pemerintah dalam mengambil berbagai kebijakan strategis berdasarkan informasi atau report yang berasal dari SIPPS-Sapi, misalnya kebijakan untuk melakukan impor sapi potong.

3. Sistem ini diharapkan mampu menjadi salah satu alternatif bagi pemerintah untuk mengendalikan dan merencanakan stok sapi nasional, sehingga dapat menghindari kekurangan daging sapi, meningkatkan ketahanan pangan, meminimalisasi impor sapi serta mendukung kebijakan swasembada daging sapi pada tahun 2010.

6 BAB II

TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Sistem

Sistem adalah kumpulan komponen-komponen yang saling berintegrasi, bekerja sama untuk mencapai suatu tujuan dengan cara menerima input dan menghasilkan output melalui suatu proses transformasi yang terorganisasi (O’Brien 2005). Komponen- komponen yang dimaksud dalam definisi tersebut dapat berupa fungsi-fungsi, alat-alat atau beberapa sistem lainnya yang lebih kecil, yang biasa disebut sub-sistem.

Sistem secara umum memiliki tiga komponen dasar yang saling terintegrasi, yaitu: input, proses dan output, sistem semacam ini disebut sebagai sistem yang dinamis (dynamic system). Kadangkala, suatu sistem juga memiliki komponen feedback (data tentang kinerja sistem) dan komponen control (memonitor dan mengevaluasi feedback untuk menentukan apakah sistem mencapai tujuannya). Sistem yang memiliki komponen feedback dan control disebut sebagai cybernatic system.

Suatu sistem dapat berinteraksi dengan sistem lain yang berada dalam lingkungannya dan disebut dengan sistem yang terbuka (open system). Ada juga sistem yang memiliki kemampuan untuk mengubah dirinya atau lingkungannya dalam rangka mempertahankan sistem tersebut dari kepunahan, sistem seperti ini disebut dengan sistem yang adaptif (adaptive system).

2.2 Informasi

Informasi adalah data yang sudah diolah dan diorganisasikan sehingga memiliki arti, lebih bermakna dan berguna. Yang dimaksud data dalam hal ini adalah fakta, gambar-gambar, simbol atau angka-angka hasil pengukuran langsung.

Informasi merupakan suatu sumberdaya yang berharga bagi suatu organisasi, sehingga perlu dikelola secara hati-hati seperti halnya sumberdaya yang lain (Kendall KE dan Kendall JE 1999). Pengelolaan informasi ini dimaksudkan untuk memperoleh keuntungan-keuntungan yang potensial muncul bagi kelangsungan suatu organisasi.

7 2.3 Sistem Informasi

Sistem informasi adalah suatu sistem yang merupakan kombinasi dari orang- orang, perangkat keras, perangkat lunak, jaringan komunikasi dan data yang terorganisasi untuk mengumpulkan atau mentransformasi berbagai informasi dalam suatu organisasi (O’Brien 2005). Sistem informasi terdiri atas 5 komponen penyusun utama, yaitu: sumberdaya manusia (brainware), sumberdaya perangkat keras (hardware), sumberdaya perangkat lunak (software), sumberdaya jaringan (netware), dan sumberdaya data (dataware). Jika salah satu dari 5 komponen tersebut tidak ada dalam suatu sistem, maka sistem tersebut bukanlah sistem informasi.

Secara umum, sistem informasi dapat dibagi menjadi delapan buah kategori seperti berikut (Kendall KE & Kendall JE 1999):

„ Transaction processing systems (TPS) „ Office automation systems (OAS) „ Knowledge work systems (KWS)

„ Management information systems (MIS) „ Decision support systems (DSS)

„ Expert systems (ES)

„ Group decision support systems (GDSS) „ Executive support systems (ESS)

2.4 Metode Pengembangan Sistem Waterfall

Metode Waterfall merupakan salah satu metode pengembangan sistem yang dapat dijadikan dasar dalam pembangunan sistem informasi. Model dari metode ini diilustrasikan pada Gambar 1. Metode Waterfall dibagi menjadi 5 (lima) tahapan utama, tahap-tahapan utama dari model ini memetakan kegiatan-kegiatan perkembangan dasar yaitu:

1 Analisis dan definisi persyaratan.

Pelayanan, batasan, dan tujuan sistem ditentukan melalui konsultasi dengan user sistem. Persyaratan ini kemudian didefinisikan secara rinci dan berfungsi sebagai spesifikasi sistem.

8 2 Perancangan sistem dan perangkat lunak.

Proses perancangan sistem membagi persyaratan dalam sistem perangkat keras atau perangkat lunak. Kegiatan ini menentukan arsitektur sistem secara keseluruhan. Perancangan sistem melibatkan identifikasi dan deskripsi abstraksi sistem perangkat lunak yang mendasar beserta hubungannya.

3 Implementasi dan pengujian unit.

Pada tahap ini, perancangan perangkat lunak direalisasikan sebagai serangkaian program atau unit program. Pengujian unit melibatkan verifikasi bahwa setiap unit telah memenuhi spesifikasinya.

4 Integrasi dan pengujian sistem.

Unit program diintegrasikan dan diuji sebagai sistem yang lengkap untuk menjamin bahwa persyaratan sistem telah dipenuhi. Setelah pengujian sistem, perangkat lunak dikirim kepada pelanggan.

5 Operasi dan pemeliharaan.

Tahap ini merupakan fase siklus hidup yang paling lama. Pemeliharaan mencakup koreksi dari berbagai error yang tidak ditemukan pada tahap-tahap terdahulu, perbaikan atas implementasi unit sistem dan pengembangan pelayanan sistem, sementara persyaratan-persyaratan baru ditambahkan.

9 2.5 Diagram Konteks

Suatu sistem atau sub-sistem yang berada dalam suatu organisasi dapat ditampilkan secara grafis dalam beberapa cara. Bermacam-macam model grafis tersebut menunjukkan batasan-batasan suatu sistem dan informasi yang digunakan di dalamnya. Model grafis yang pertama ialah context level data flow diagram (disebut juga diagram konteks).

Diagram konteks merupakan bagian dari suatu data flow diagram (DFD). Diagram konteks memfokuskan pada aliran data yang menuju ke dalam sistem dan yang keluar dari sistem serta pemrosesan data tersebut.

Diagram konteks terdiri atas tiga simbol, yaitu persegi panjang, bujur sangkar dan anak panah. Persegi panjang mewakili proses atau sistem. Bujur sangkar mewakili entitas yang berinteraksi langsung dengan sistem. Sedangkan anak panah menunjukkan aliran data yang masuk ke dalam sistem, atau keluar dari sistem (Kendall KE & Kendall JE 1999).

Dalam diagram konteks, hanya ada satu proses yang merepresentasikan sistem secara keseluruhan. Proses tersebut umumnya diberi indeks nomor 0. Seluruh entitas yang ada dalam diagram konteks terhubung langsung dengan proses. Entitas dapat memberikan aliran data ke dalam proses atau menerima aliran data dari proses.

2.6 Data Flow Diagram (DFD)

DFD merupakan suatu diagram yang menggambarkan aliran data. Pengertian lain dari DFD adalah sebuah teknis grafis yang menggambarkan aliran informasi yang diaplikasikan pada saat data bergerak dari input menjadi output (Pressman 2001). DFD terdiri dari empat komponen, yaitu: entitas eksternal, penjelasan perpindahan data, proses, dan data store.

Entitas eksternal atau biasa disebut entitas saja disebut juga sumber atau tujuan data, dan dianggap berada di luar sistem yang dideskripsikan. Setiap entitas diberi label dengan nama yang representatif. Meskipun berinteraksi dengan sistem, entitas dianggap di luar batasan sistem. Entitas diberi nama dengan kata benda. Entitas yang sama dapat digunakan lebih dari satu kali pada DFD untuk menghindari garis aliran data yang bersilangan. Entitas biasanya digambarkan dalam bentuk persegi.

10 Penjelasan mengenai perpindahan atau aliran data dalam DFD digambarkan oleh suatu anak panah. Anak panah menunjukkan perpindahan data dari satu titik ke titik lain, dengan ujung anak panah menunjuk pada tujuan data. Aliran data yang muncul secara bersamaan dapat digambarkan melalui penggunaan anak panah sejajar. Karena anak panah merepresentasikan tentang seseorang, tempat, atau suatu benda, sebaiknya penamaannya juga menggunakan kata benda.

Suatu proses dalam DFD biasanya digambarkan dalam bentuk persegi panjang yang sudut-sudutnya tumpul. Proses selalu menunjukkan perubahan atau transformasi dari data, sehingga, aliran data yang meninggalkan suatu proses selalu diberi label yang berbeda dari aliran data yang memasuki proses tersebut. Proses menggambarkan pekerjaan dilaksanakan dalam sistem dan sebaiknya diberi nama menggunakan salah satu dari format berikut. Nama yang jelas akan memudahkan dalam memahami apa yang proses lakukan.

1. Beri nama seluruh sistem ketika memberi nama proses yang ber-level tinggi. Misalnya SISTEM KONTROL INVENTORI.

2. Untuk memberi nama sub-sistem utama, gunakan nama seperti SUBSISTEM LAPORAN INVENTORI.

3. Gunakan format kata kerja-kata benda-kata sifat untuk proses yang detail. Kata kerja mendeskripsikan jenis aktivitas, misalnya MENGHITUNG. Kata benda menunjukkan apa hasil utama dari proses, misalnya LAPORAN. Kata sifat mengilustrasikan output yang spesifik, misal INVENTORI yang dihasilkan. Contoh nama proses yang lengkap ialah: MENGHITUNG PAJAK PENJUALAN. Data store biasanya digambarkan dalam bentuk persegi panjang terbuka di ujung kanan. Dalam DFD, tipe dari penyimpanan fisik (misalnya disket, dll) tidak perlu dijelaskan. Pada titik ini simbol penyimpanan data secara sederhana menunjukkan penyimpanan data yang memungkinkan penambahan dan pengambilan data. Penyimpanan data dapat merepresentasikan penyimpanan manual, seperti filling cabinet, atau file dan basis data yang ada dalam komputer. Karena penyimpanan data berupa orang, tempat, atau benda, maka sebaiknya diberi nama dengan kata benda. Berikan setiap penyimpanan data angka yang unik, misalnya D1, D2, atau D3. Beberapa simbol penyusun suatu DFD dapat dilihat dalam Gambar 2.

11 Gambar 2 Simbol-simbol yang digunakan dalam menyusun DFD (Pressman 2001). 2.7 Entity Relationship Diagram (ERD)

Entity Relationship Diagram (ERD) adalah dokumentasi data dengan mengidentifikasi jenis entitas dan hubungannya (McLeod 2004). ERD adalah alat komunikasi antara perancang basis data dengan user pada tahap analysis. ERD sifatnya independen terhadap software yang dikembangkan, merupakan data model yang akan digunakan dalam implementasi basis data.

Sebuah ERD minimal terdiri dari dua buah simbol, yaitu simbol yang menggambarkan entitas dan simbol yang menggambarkan relationship. Dalam ERD, elemen yang membangun sistem organisasi dapat disebut sebagai entity (entitas). Suatu entitas dapat berupa seseorang, suatu tempat, atau suatu benda, misalnya penumpang dan pesawat. Alternatifnya, suatu entitas dapat juga suatu event (kejadian/peristiwa), misalnya akhir bulan dan periode penjualan. Interaksi antar entitas-entitas tersebut kemudian dideskripsikan oleh suatu relationship (relasi/hubungan). Sebuah entitas umumnya digambarkan dalam bentuk persegi, sedangkan relationship digambarkan dalam bentuk belah ketupat.

Setiap relationship memiliki sifat tertentu. Ada yang bersifat satu ke banyak atau banyak ke banyak. Setiap sifat ini diindetifikasi oleh simbol-simbol khusus pada garis yang menghubungkan entitas dengan relationship. Simbol-simbol ini menunjukkan kardinalitas masing-masing entitas. Dalam Gambar 3 diperlihatkan beberapa simbol yang sering digunakan dalam ERD.

Entitas Proses

Aliran Data

12 Gambar 3 Simbol-simbol yang digunakan dalam menyusun ERD (McLeod 2004).

2.8 Basis data

Basis data adalah koleksi data yang saling terkait secara logika (beserta deskripsinya), yang dirancang dan diorganisasikan untuk pengambilan informasi yang dibutuhkan. Semua data dalam basis data saling terintegrasi sehingga jumlah duplikasi data dapat diminimalkan (Connolly & Begg 2002).

Di dalam basis data terdapat satu atau lebih entitas. Entitas adalah objek di dunia nyata yang dapat dibedakan dengan objek lainnya. Di dalam basis data juga terdapat atribut. Atribut adalah properti deskriptif yang dimiliki oleh suatu entitas, contohnya kunci (key). Key merupakan suatu atribut yang unik yang dapat membedakan antara entitas yang satu dengan entitas yang lainnya.

2.9 Database Management Systems (DBMS)

Sistem Manajemen Basis Data atau Database Management Systems (DBMS) adalah sistem perangkat lunak yang memungkinkan pengguna untuk mendefinisikan, menciptakan dan memelihara basis data, juga menyediakan akses terkontrol pada basis data. Salah satu jenis DBMS yang populer pada dewasa ini berupa Relational Database Management System (RDBMS), yang menggunakan model basis data relasional atau dalam bentuk tabel-tabel yang saling terhubungkan (Connolly & Begg 2002). Beberapa DBMS yang sering digunakan saat ini adalah Microsoft Access, Oracle, SQL Server, MySQL, PostgreSQL, dan lain sebagainya.

13 1. Mengurangi pengulangan data

2. Mencapai independensi data

3. Mengintegrasikan data

4. Mengambil data secara cepat

5. Meningkatkan keamanan data

2.10 Pengujian white-box dan black-box

Pengujian white-box atau disebut juga glass-box testing adalah metode desain pengujian kasus yang menggunakan struktur kendali pada desain prosedural untuk memperoleh pengujian kasus. Metode white-box digunakan agar perancangan perangkat lunak dapat memperoleh pengujian kasus, yaitu:

1. Menjamin bahwa semua alur yang bebas di dalam suatu modul telah melakukan percobaan sedikitnya sekali.

2. Melatih semua logika keputusan pada sisi benar atau salah.

3. Mengeksekusi semua pengulangan pada batasan dan di dalam batas operasional.

4. Melatih struktur data internal untuk memastikan validasinya.

Pengujian black-box berfokus pada persyaratan fungsional perangkat lunak. Dengan demikian, pengujian black-box memungkinkan perekayasa perangkat lunak mendapatkan serangkaian kondisi input yang sepenuhnya menggunakan semua persyaratan fungsional untuk sutau program.

Pengujian black-box berusaha menemukan kesalahan dalam kategori sebagai berikut (Pressman 2001):

(1) fungsi-fungsi yang tidak benar atau hilang,

(2) kesalahan interface,

(3) kesalahan dalam struktur data atau akses basis data eksternal,

(4) kesalahan kinerja,

14 Tujuan utama pengujian adalah untuk meningkatkan kepercayaan kepada pengguna terhadap sistem, bahwa sistem yang dibangun telah sesuai dengan kebutuhan pengguna. Pengujian ini dapat ditentukan dengan cara mempelajari masukan dan keluaran yang terjadi. Pengujian Black Box didasarkan pada spesifikasi sistem, penguji tidak mempunyai pengetahuan tentang implementasi perangkat lunak tersebut (Sommerville 2001).

Gambar 4 menjelaskan model pengujian sebuah sistem yang diasumsikan menggunakan Black Box. Penguji menggunakan nilai masukan ke dalam sistem dan memeriksa kecocokkan keluaran. Jika keluaran tidak valid, berarti pengujian telah berhasil mendeteksi kesalahan yang terdapat pada sistem ini.

Gambar 4 Diagram black-box testing (Pressman 2001).

2.11 Enterprise Architecture

Enterprise adalah kumpulan dari beberapa organisasi yang memiliki tujuan umum dan atau garis-garis besar yang sama. Sedangkan Enterprise Architecture adalah sebuah koherensi dari keseluruhan prinsip-prinsip, metode-metode dan model-model yang digunakan dalam desain dan realisasi dari sebuah struktur organisasi enterprise, proses bisnis, sistem informasi, dan infrastruktur ([The Open Group] 2002).

15 Enterprise Architecture mampu menangkap dan menyajikan unsur-unsur paling esensial dari suatu proses bisnis dan teknologi informasi dan komunikasi. Karakteristik paling utama dari sebuah enterprise architecture adalah bahwa ia menyediakan pandangan menyeluruh (holistic) dari sebuah enterprise. Untuk menciptakan perspektif yang terintegrasi dari sebuah enterprise, diperlukan teknik untuk menggambarkan arsitektur dalam bahasa yang mudah dipahami dan teknik untuk mengkomunikasikannya kepada stakeholder.

Salah satu cara yang dapat digunakan untuk menjembatani antara seorang arsitek, dalam hal ini arsitek bidang teknologi informasi dan komunikasi, adalah dengan menggunakan pendekatan model, view, presentation dan analysis seperti yang diungkapkan oleh Lankhorst et al. (2005). Pendekatan tersebut disajikan dalam Gambar 5.

Gambar 5 Tatacara mengkomunikasikan enterprise architecture (Lankhorst et al. 2005). Dewasa ini, enterprise architecture adalah salah satu instrumen utama dalam manajemen sebuah enterprise. Strategi, visi dan misi suatu enterprise disusun dari dua buah bagian, yaitu bagian keras (hard) dan bagian lunak (soft). Yang dimaksud bagian keras dalam hal ini adalah enterprise architecture. Sedangkan yang dimaksud bagian lunak adalah kultur dan kepemimpinan suatu enterprise. Lankhorst et al. (2005) menggambarkan hal ini dalam sebuah piramida seperti tersaji dalam Gambar 6.

16 Gambar 6 Enterprise architecture sebagai salah satu instrumen manajemen enterprise

(Lankhorst et al. 2005).

2.12 The Open Group Architecture Framework

The Open Group Architecture Framework (TOGAF) biasa dikenal juga dengan nama Architecture Development Methode (ADM). TOGAF adalah salah satu metode untuk membangun enterprise architecture. TOGAF terdiri atas 8 (delapan) fase yang berbentuk siklus (cycle), dimana dalam fase ke-4 difokuskan pada pengembangan arsitektur teknologi (dalam hal ini teknologi informasi dan komunikasi). Fase ke-4 ini terdiri atas 8 (delapan) tahapan yang juga berupa cycle. Fase-fase dalam metode TOGAF dapat dilihat pada Gambar 7.

17 Gambar 7 Arsitektur TOGAF ([The Open Group] 2002).

2.13 Sapi

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, Sapi adalah binatang memamah biak, bertanduk, berkuku genap, berkaki empat, bertubuh besar dan dipelihara untuk diambil daging dan susunya. Sapi biasa juga disebut lembu.

Sapi yang khusus dipelihara untuk kemudian dipotong dan diambil dagingnya disebut sebagai sapi potong. Sedangkan sapi yang khusus dipelihara untuk kemudian diambil susunya disebut sebagai sapi perah.

2.14 Program Swasembada Daging Sapi 2010

Secara resmi Departemen Pertanian telah menyatakan Program Swasembada Daging Sapi (PSDS) 2010 (Boediyana 2007). Program tersebut dicanangkan untuk mengantisipasi kebutuhan daging sapi yang terus meningkat dari tahun ketahun serta untuk mewujudkan ketahanan pangan nasional, karena ketergantungan terhadap pihak lain secara berkesinambungan akan merugikan bangsa dan negara.

Departemen Pertanian menyatakan bahwa buku Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Sapi dan buku pelengkapnya antara lain buku Rencana Aksi Pemantapan Ketahanan Pangan 2005 – 2010 yang disusun oleh Badan Litbang Departemen Pertanian sebagai acuan dan pedoman dalam implementasi PSDS 2010.Mempelajari roadmap atau buku pedoman PSDS

18 tersebut dapat ditarik beberapa substansi bahwa untuk tercapainya PSDS digunakan asumsi dan indikator sebagai berikut (Boediyana 2007) :

1. Dibutuhkan dukungan investasi Rp. 24 Triliun dengan rincian bersumber dari Pemerintah 10% ( Rp. 2,4 Triliun ) yang diperlu kan untuk menunjang PSDS, masyarakat/petani 50 - 60% ( Rp. 13,5 Triliun ), dan swasta 30% (Rp. 8 Triliun ).

2. Pada tahun tahun 2006 dan 2007 ditingkatkan populasi dengan penambahan bibit sapi muda impor sejumlah 1 ( satu) juta ekor yang dapat segera menghasilkan anak turunan pada tahun yang bersangkutan.

3. Adanya asesibilitas kredit perbankan (bagi swasta) dan kredit program (bagi petani peternak) dengan tingkat bunga sekitar 6 persen/tahun.

4. Perkiraan pertumbuhan ekonomi nasional 6,1 persen/tahun, berat sapi genetik lokal 123,9 kg , berat sapi genetik impor 198,85 kg, tingkat kelahiran 65% dari betina produktif. 5. Peningkatan populasi sapi 5,82% per tahun, konsumsi daging sapi 5% ,jumlah penduduk

1,49 persen.

2.15 Populasi Sapi Potong

Berdasarkan data yang dilansir oleh Departemen Pertanian melalui Basis Data Statistik Pertanian, diketahui bahwa populasi sapi potong nasional pada tahun 2008 adalah 12.256.604 ekor (Gambar 8). Dapat dihitung bahwa rata-rata peningkatan populasi sapi potong nasional adalah 156.073 ekor pertahun.

Populasi terendah dalam kurun waktu tahun 2000 sampai dengan tahun 2008 adalah 10.215.193 ekor sapi potong pada tahun 2001. Populasi sapi potong kemudian meningkat pada tahun 2002 dan menurun kembali pada tahun 2003. Kemudian, sejak tahuan 2004 mengalami peningkatan sampai dengan tahun 2008 seperti terlihat dalam Gambar 8.

Populasi sapi potong terbesar adalah terletak di propinsi Jawa Timur dengan total populasi sebesar 3.384.902 Ekor. Sedangkan populasi terendah adalah terletak di propinsi Kepulauan Riau dengan total populasi sebesar 7.893 ekor, seperti terlihat dalam Tabel 1.

19 Gambar 8 Populasi Sapi Potong Nasional Tahun 2000 – 2008 ([Departemen Pertanian]

2010)

Tabel 1 Populasi Sapi Potong Nasional per Propinsi Tahun 2008 ([Departemen Pertanian] 2010)

Propinsi Populasi (dalam Ekor) Nanggroe Aceh Darussalam 641.093,00

Sumatera Utara 388.240,00 Sumatera Barat 469.859,00 Riau 161.202,00 Jambi 149.042,00 Sumatera Selatan 336.295,00 Bengkulu 93.219,00 Lampung 425.526,00 Bangka Belitung 9.373,00 Kepulauan Riau 7.893,00 Jawa Barat 295.554,00 Jawa Tengah 1.442.033,00

Daerah Istimewa Yogyakarta 269.927,00

Jawa Timur 3.384.902,00

Banten 60.680,00

Bali 668.065,00

Nusa Tenggara Barat 546.114,00

Nusa Tenggara Timur 573.461,00

Kalimantan Barat 168.053,00

20 Propinsi Populasi (dalam Ekor)

Kalimantan Selatan 210.633,00 Kalimantan Timur 90.028,00 Sulawesi Utara 108.332,00 Sulawesi Tengah 203.893,00 Sulawesi Selatan 703.303,00 Sulawesi Tenggara 237.360,00 Gorontalo 227.690,00 Sulawesi Barat 98.182,00 Maluku 74.654,00 Papua 56.064,00 Maluku Utara 51.485,00 Papua Barat 35.297,00

2.16 Produksi Daging Sapi

Berdasarkan data yang dilansir oleh Departemen Pertanian melalui Basis Data Statistik Pertanian, diketahui bahwa produksi daging sapi nasional pada tahun 2008 adalah 392.500 ton (Gambar 9). Dapat dihitung bahwa rata-rata peningkatan produksi daging sapi nasional adalah 6.570 ekor pertahun.

Produksi daging sapi tertinggi dalam kurun waktu tahun 2000 sampai dengan tahun 2008 adalah 447.570 ton pada tahun 2004. Sedangkan produksi daging sapi terendah adalah pada tahun 2002 yaitu sebesar 330.290 ton seperti terlihat dalam Gambar 9.

Produksi daging sapi terbesar adalah berasal dari propinsi Jawa Timur dengan total produksi daging sapi sebesar 85.170 ton. Sedangkan produksi daging sapi terendah adalah berasal dari propinsi Kepulauan Riau dengan total produksi daging sapi sebesar 790 ton, seperti terlihat dalam Tabel 2.

21 Gambar 9 Produksi Daging Sapi Nasional Tahun 2000 – 2008 ([Departemen Pertanian]

2010).

Tabel 2 Produksi Daging Sapi Nasional per Propinsi Tahun 2008 ([Departemen Pertanian] 2010)

Propinsi  Produksi (dalam 000 ton)  Nanggroe Aceh Darussalam  7,32 Sumatera Utara  16,26 Sumatera Barat  16,02 Riau  6,22 Jambi  3,55 Sumatera Selatan  9,63 Bengkulu  1,90 Lampung  10,67 Bangka Belitung  1,65 Kepulauan Riau  0,79 Daerah Khusus Ibukota Jakarta  8,56 Jawa Barat  70,01 Jawa Tengah  45,73 Daerah Istimewa Yogyakarta  4,62 Jawa Timur  85,17

Banten  25,88

Bali  8,35

Nusa Tenggara Barat  6,76 Nusa Tenggara Timur  8,13

22 Propinsi  Produksi (dalam 000 ton) 

Kalimantan Barat  6,76 Kalimantan Tengah  4,89 Kalimantan Selatan  5,79 Kalimantan Timur  7,14 Sulawesi Utara  4,32 Sulawesi Tengah  2,64 Sulawesi Selatan  9,50 Sulawesi Tenggara  3,55 Gorontalo  2,89 Sulawesi Barat  1,59 Maluku  1,26 Papua  2,13 Maluku Utara  1,11 Papua Barat  1,59 2.17 Bangsa Sapi

Bangsa sapi yang cukup populer dan terdapat di Indonesia adalah sapi bali, sapi madura, dan ongole (Sudarmono & Sugeng 2008). Berat rata-rata sapi bali jantan adalah 450 Kg, sedangkan betina adalah 300-400 kg, dengan hasil karkas 57%. Berat badan sapi madura adalah skitar 350 kg dengan hasil karkas sekitar 48%. Sedangkan berat sapi ongole jantan adalah sekitar 550 kg dan betina adalah sekitar 350 kg.

23 BAB III

METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Kerangka Pemikiran

Metodologi yang diusulkan dalam penelitian ini mengacu pada kerangka pemikiran dalam Gambar 10.

Gambar 10 Blok diagram kerangka pemikiran.

Berdasarkan Gambar 10 di atas, terdapat delapan tahapan utama yang dilakukan. Delapan tahapan utama tersebut adalah:

• Studi pustaka dan riset jurnal.

• Identifikasi masalah.

• Perumusan tujuan serta manfaat.

• Analisis dan rancangan konseptual

• Pengambilan kesimpulan, dan

• Penyusunan laporan.

Tahap studi pustaka dan riset jurnal dilakukan untuk menentukan serta mempertajam topik penelitian. Selain itu, tahap ini juga digunakan untuk mengumpulkan

Dokumen terkait