• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

B. Pembahasan

4. Identifikasi Kemampuan Inferensi Peserta Didik selama

Kemampuan inferensi peserta didik diidentifikasi dari hasil pengerjaan LKPD berbasis pemecahan masalah yang kemudian dianalisis masing-masing butir soal nomor untuk setiap indikator kemampuan inferensi berdasarkan jawaban yang telah dikumpulkan.

Butir soal yang disajikan merupakan soal berbasis pemecahan masalah dari sub topik teori asam basa dan indikator asam basa. Semua butir

soal didesain dengan memperhatikan ketiga indikator kemampuan inferensi peserta didik, sehingga soal ini dapat mengukur masing-masing kemampuan inferensi peserta didik yaitu menemukan konsep, mencari pemecahan masalah dan membuat kesimpulan yang tepat.

Butir soal nomor 1 merupakan soal yang dikembangkan dari sub topik teori asam basa. Berdasarkan analisis ketercapaian indikator menemukan konsep, sebanyak 30 orang (B, D, E, F, G, H, I, J, K, L, M N, O, P, Q, R, S, T, U, V, W, X, Y, AA, AB, AC, AD, AE, AF, dan AG) telah mampu menemukan konsep yang tepat dari teori asam basa Arrhenius dan Brønsted Lowry. Konsep yang benar untuk mendefiniskan asam basa berdasarkan butir soal ini yaitu menurut Arrhenius, asam adalah zat yang dilarutkan dalam air akan menghasilkan ion H+ dan basa adalah zat yang dilarutkan dalam air akan melepaskan OH- (Silberg & Amateis, 2012: 68) . Menurut Brønsted Lowry, asam adalah donor proton, sedangkan basa akseptor proton. Tiga orang (A, C dan Z) lainnya hanya mampu menjabarkan konsep dari teori asam basa menurut Arrhenius saja. Kesalahan yang ditemukan dalam soal ini adalah pada bagian menjabarkan pengertian asam dan basa konjugasi. Tiga orang tersebut mengalami kebingungan membedakan asam dan basa konjugasi. Menurut mereka, asam konjugasi terbentuk dari asam yang melepaskan proton dan basa konjugasi terbentuk dari basa yang menerima proton. Muchar dan Harizal (2012) menjelaskan bahwa peserta didik mengalami kebingungan untuk mengklasifikasi asam dan basa konjugasi. Konsep yang tepat adalah asam konjugasi merupakan senyawa yang terbentuk dari basa yang kehilangan proton dan basa konjugasi adalah senyawa yang terbentuk dari asam yang mendapatkan proton (Hardjono, 2010:

154).

Sebanyak 9 orang (A, E, G, H, K, L, M, Z, dan AA) telah mampu menjabarkan pemecahan masalah dengan tepat. Pemecahan masalah yang dilakukan yaitu menuliskan persamaan reaksi dari

kandungan asam askorbat dalam jambu biji ketika dilarutkan dalam air menurut teori asam basa Arrhenius dan Brønsted Lowry.

Persamaan reaksi yang tepat menurut teori asam basa Arrhenius adalah:

C6H8O6(aq) ⇌ C6H7O6-(aq) + H3O+(aq),

sedangkan persamaan reaksi yang tepat menurut Brønsted Lowry adalah:

C6H8O6 (aq) + H2O (l) ⇌ C6H7O6 (aq) + H3O+ (aq) (Clark dan Deswarte, 2019).

Sebanyak 24 orang (B, D, E, F, I, J, N, O, P, Q, R, S, T, U, V, W, X, Y, AB, AC, AD, AE, AG dan AF) masih belum mencari pemecahan masalah yang tepat untuk menjawab perintah soal. Persamaan reaksi masih belum diuraikan secara tepat baik persamaan reaksi asam basa menurut Arrhenius maupun menurut Brønsted Lowry. Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Fajrin dkk. (2020) yaitu peserta belum mampu menerapkan teori asam basa ke dalam persamaan reaksi karena hanya mengingat informasi. Ketika dihadapkan dengan aplikasi teori asam basa masih banyak peserta didik mengalami kesulitan dalam menjawab soal tersebut.

Sebanyak 9 orang (A, E, G, H, K L, M, Z, dan AA) telah membuat kesimpulan secara tepat. Kesimpulan yang dijabarkan yaitu mengenai ion H3O+ yang dihasilkan ketika vitamin C larut dalam air yang menandakan jambu air merupakan asam. Ion H+ dan H3O+ pada dasarnya sama, ion Hidronium merupakan ion positif yang hadir ketika suatu asam Arrhenius larut dalam air. Molekul asam Arrhenius dalam larutan melepaskan sebuah proton (suatu ion hidrogen positif, H+) terhadap molekul air di sekelilingnya (H2O) (Hardjono, 2010:

154). Selain itu, mereka telah mampu menguraikan persamaan reaksi menurut Brønsted Lowry dan menjelaskan secara tepat persamaan reaksi yang telah dibuat seperti molekul yang berperan sebagai asam, basa, asam konjugasi dan basa konjugasi. Kesimpulan yang tepat dari

soal ini adalah C6H8O6 memberikan protonnya kepada H2O, sehingga C6H8O6 berperan sebagai asam dan H2O berperan sebagai basa.

C6H8O6 dengan C6H7O6- merupakan pasangan asam basa konjugasi, sedangkan H2O dengan H3O+ merupakan pasangan basa asam konjugasi. Sebanyak 24 orang (B, D, E, F, I, J, N, O ,P, Q, R, S, T, U, V, W, X, Y, AB, AC, AD, AE, AG dan AF ) belum mampu membuat kesimpulan dengan tepat. Hal ini terjadi karena pemecahan masalah belum dijabarkan. Istiqomah dkk. (2017) mengungkapkan bahwa peserta didik tidak mampu membuat kesimpulan dengan tepat jika belum menjabarkan pemecahan masalah.

Butir soal nomor 2 merupakan soal berbasis pemecahan masalah dari sub topik teori asam basa yang dikaitkan dengan topik pergeseran kesetimbangan. Teori asam basa yang digunakan dalam menyelesaikan soal ini merupakan kombinasi dari tiga teori asam basa, sehingga dapat dihubungkan dengan pergeseran kesetimbangan pada sub topik faktor- faktor dari pergeseran kesetimbangan. Butir soal nomor 2 merupakan butir soal paling sulit untuk dikerjakan. Hal ini dibuktikan dengan hanya 1 orang (Z) saja yang dapat menjawab perintah soal secara tepat. Sebanyak 7 orang (A, H, K, L, M, AA, dan AC) telah mampu menjabarkan konsep teori asam basa yang digunakan dalam menjawab soal ini. Konsep yang benar untuk menjawab soal ini adalah amonia bersifat basa dalam air karena melepaskan ion OH-. Hal ini sesuai dengan teori asam basa Arrhenius (Braddy, 2010 : 156). Sesuai dengan teori Asam Basa Brønsted Lowry, pasangan basa dan asam konjugasi adalah NH3 dan NH4+ dan pasangan asam – basa konjugasi adalah H2O dan OH (Brady, 2010:

157). Sebanyak 26 orang (B, C, D, E, F, G, I, J, N, O, P, Q, R, S, T, U, V, W, X, Y, AB, AC, AD, AE, AG, dan AF) belum mampu menemukan konsep dengan benar. konsep yang digunakan oleh peserta didik masih belum lengkap. Mereka hanya menjelaskan teori

asam basa menurut Arrhenius, ada juga yang hanya menjelaskan konsep asam basa menurut Brønsted Lowry.

Hanya satu orang (Z) yang mampu mencari penyelesaian pemecahan dengan baik. Pemecahan masalah yang digunakan untuk menyelesaikan soal dijabarkan secara benar dan runtut, mulai dari persamaan reaksi amonia yaitu :

NH3(aq) + H2O(l) ⇌ NH4+ (aq) + OH-(aq) (Chang, 2015 : 245) teori- teori asam basa yang mendukung penyelesaian dalam soal yaitu teori asam basa menurut Arrhenius yaitu amonia bersifat basa dalam air karena melepaskan ion OH, menurut teori Asam Basa Brønsted Lowry yaitu pasangan basa dan asam konjugasi adalah NH3 dan NH4+

dan pasangan asam – basa konjugasi adalah H2O dan OH serta pengaruh penambahan asam yang dikaitkan dengan teori asam basa Lewis yaitu ion H+ dari asam tersebut akan diikat oleh NH3. Hal ini sesuai dengan teori asam basa Lewis yaitu NH3 memiliki satu pasangan elektron bebas yang dimiliki oleh atom N (Chang, 2012 : 245).

Sebanyak 32 orang (A, B ,C, D, E, F, G ,H ,I, J, K, L, M, N, O, P, Q, R, S, T, U, V, W, X, Y, AA, AB, AC, AD, AE, AF, dan AG) belum menjabarkan pemecahan masalah untuk menyelesaikan soal yang digunakan pada butir soal nomor 2. Kesalahan yang terjadi seperti penulisan reaksi amonia dalam air yang masih keliru dan mengemukan teori asam basa yang digunakan untuk mendukung penyelesaian soal belum mendukung penyelesaikan masalah. Begitu juga dengan mengaitkan persamaan reaksi amonia dengan teori Lewis dengan hubungannya dengan pergeseran kesetimbangan, sehingga konsep yang telah didapat tidak dapat diaplikasikan untuk menjawab soal tersebut. Nahkleh (1992) menjelaskan bahwa ketidakmampuan peserta didik menyelesaikan permasalahan soal kimia yaitu karena rendahnya pemahaman konsep dasar, sehingga sulit bagi peserta didik untuk memahami materi yang selanjutnya.

Hanya 1 orang (Z) yang membuat kesimpulan dengan tepat pada butir soal nomor 2 yaitu mengenai komposisi basa konjugasi ketiga ditambahkan asam dalam reaksi yang sedang berlangsung.

Peserta didik tersebut mampu membuat kesimpulan yang tepat karena telah menjabarkan pemecahan masalah dengan tepat dengan mengaitkan semua konsep yang ada baik teori asam basa dan kaitannya dengan pergeseran kesetimbangan. Kesimpulan yang tepat yaitu komposisi dari basa konjugasi yaitu OH- bertambah karena pergeseran kesetimbangan akan bergeser ke arah kanan karena NH3

yang mengingat ato H terletak dibagian reaktan. Sebanyak 32 orang belum mampu membuat kesimpulan dengan tepat, hal ini disebabkan oleh ketidakmampuan peserta didik mencari pemecahan masalah untuk menjawab perintah dalam soal.

Butir soal nomor 3 merupakan soal dari larutan indikator asam basa. Saat menjawab soal nomor 3, peserta didik harus mampu menghitung pH dari kandungan asam askorbat yang hanyak diketahui derajat ionisasinya, kemudian memprediksi perubahan warna dari kandungan asam askorbat dari buah tomat pada masing-masing indikator alami. Pada soal ini, sebanyak 31 orang (A, B , D, E, F, G ,H ,I, J, K, L, M, N, O, P, Q, R, S, T, U, V, W, X, Y, Z, AB, AC, AD, AE, AF dan AG) orang telah mampu menemukan konsep dengan baik untuk menjawab soal yang ditanyakan. Konsep yang dijelaskan untuk menjawab soal tersebut adalah mencari dan menghitung H+ dan pH dari kandungan asam askorbat yang ada dalam buah tomat. Sebanyak dua orang (C dan AA) belum mampu menemukan konsep untuk menghitung H+ dan pH dari kandungan asam yang terdapat dalam buah tomat. Kesalahan yang terjadi adalah mereka belum menggunakan rumus yang tepat untuk menjawab soal yang ditanyakan. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Buchori dkk. (2013) yaitu kesalahan dalam soal perhitungan terjadi karena peserta didik kurang mampu mengaplikasikan rumus sesuai dengan perintah soal.

Sebanyak 15 orang (A, D, E, F, G, I, J, N, O, P, Q, R, S, Z, dan, AB) telah mampu menjabarkan pemecahan masalah secara tepat, mulai dari perhitungan H+ sampai dengan perhitungan pH. Pemecahan masalah yang digunakan untuk menjawab permasalah pada soal ini adalah menghitung Ka dari asam askorbat, kemudian menghitung konsentasi H+ dan menghitung pH dari asam askorbat. Sebanyak 18 orang (B, C, H, I, K, L, M, T, U, W, X, Y, AA, AC, AD, AE, AF dan AG) tidak menjabarkan pemecahan masalah secara tepat. Kesalahan yang ditemukan yaitu adanya kekeliruan menghitung H+ dan pH. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan Lathifa dkk. (2015) yang menjelaskan bahwa kesalahan dapat terjadi karena minimnya pemahaman konsep perhitungan pH, peserta didik melakukan generalisasi aturan atau teori untuk menyelesaikan permasalahan tanpa memahami secara mendalam rumus tersebut.

Sebanyak 10 orang (A, C, D, E, I, J, Q, R, S, dan Z) telah membuat kesimpulan dengan tepat untuk memprediksi perubahan warna yang terjadi pada asam askorbat pada buah tomat dari masing-masing indikator alami yang ditanyakan pada butir soal nomor 3. Jika ditetesi indikator bunga kembang sepatu, asam askorbat dalam tomat akan berwarna merah karena pHnya (≤4,8), asam askorbat dalam tomat akan berwarna kuning jika ditetesi indikator kunyit, karena pHnya (≤6,3). Sebanyak 5 orang (T, AD, AE, AF, dan AG) telah membuat kesimpulan untuk menjawab perintah dalam soal, tetapi masih kurang tepat, ada beberapa kesalahan yang ditemukan yaitu dalam memprediksi warna asam askorbat dalam tomat dari masing-masing indikator alami yang ditanyakan belumsempurna. Sebanyak 18 orang (B, H, K, L ,M ,N, O, P, T, U, V, W, X, Y, AA, AB, AC) tidak membuat kesimpulan secara tepat sesuai dengan perintah soal, hal ini terjadi karena pemecahan masalah untuk menjawab isi perintah soal tidak dijabarkan sehingga kesimpulan akhir sesuai dengan pertanyaan tidak dibuat. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Fajrin dkk.

(2020) menyatakan bahwa ketidaksanggupan peserta didik membuat kesimpulan untuk menjawab soal mengenai indikator asam basa karena ketidaktahuan peserta didik mengartikan trayek perubahan warna.

Butir soal nomor 4 merupakan soal berbasis pemecahan masalah dari sub topik indikator asam basa. Soal ini disajikan dalam bentuk tabel yang berisi beberapa larutan indikator asam basa yang akan digunakan untuk menguji pH dari air sumur X dan Y. Peserta didik memprediksi pH dari setiap air sumur, kemudian menganalisis perubahan warna dari setiap air sumur pada larutan indikator yang ditanyakan. Sebanyak 31 orang (A, C, D, E, F, G ,H ,I ,J, K, L, M, N, O, P, Q, R, S, T, U, V, W, X, Y, Z, AA, AB, AD, AE, AF dan AG) telah menemukan konsep untuk menyelesaikan soal dengan tepat.

Penjabaran konsep yang digunakan seperti membuat trayek pH atau dengan cara mendeskripsikan pH dari air sumur dengan kalimat yang jelas. Konsep Sebanyak dua orang (B dan AC) tidak mampu menemukan konsep yang tepat untuk menjawab soal yang diperintah.

Peserta didik hanya menuliskan saja pH dari masing-masing air sumur tanpa ada penjelasan lanjut.

Sebanyak 14 orang (A, D, E, F, G, I, J, N, O, P, Q, R, Z, dan, AB) telah mampu mencari pemecahan masalah pada butir soal nomor 4.

Peserta didik tersebut menjelaskan secara runtut dan tepat penyelesaian soal untuk memprediksi pH dan masing-masing air sumur X dan Y.

Pemecahan masalah dijabarkan adalah pH dari masing-masing larutan indikator dari masing-masing air sumur X dan Y, sehingga diperoleh rentang pH dari air sumur X adalah 6,3 ≤ pH ≤ 8,0 dan trayek pH dari air sumbu Y adalah ≥ 10,0. Sebanyak 19 orang (B, C, H, K, L, M, N, O, S, T, U, V, X, Y, AA, AC, AD, AE, dan AG) tidak menguraikan pemecahan masalah secara tepat, baik untuk memprediksi rentang pH dari masing-masing air sumur X dan Y. Hal ini dikarenakan ketidaktahuan siswa dalam mengartikan trayek perubahan warna

berbagai indikator asam dan basa. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Fajrin dkk. (2020) kesalahan peserta didik untuk menyelesiakan soal indikator asam basa adalah ketidakmampuan peserta didik dalam menggunakan garis bilangan untuk memperkirakan pH.

Sebanyak 15 orang (A, D, E, F, G, I, J, N, O, P, Q, R, S, Z, dan, AB) telah mampu membuat kesimpulan dengan tepat untuk memprediksi perubahan warna yang terjadi pada masing-masing sumbu X dan Y. Jika air sumur X ditetesi larutan indikator BTB, warna larutannya diprediksi berada di antara warna kuning, biru atau hijau karena trayek pH dari air sumbu X adalah 6,3 ≤ pH ≤ 8,0.

Sedangkan jika air sumbu Y ditetesi larutan indikator metil merah, maka diprediksikan menghasilkan perubahan warna kuning karena trayek pH dari air sumur Y adalah ≥10,0.

Sebanyak 18 orang (B, C, D, H, K, L ,M, T, U, W, X, Y, AA, AC, AD, AE, AF dan AG) tidak mengambil kesimpulan dengan tepat, baik untuk memprediksi pH air sumur X dan Y maupun menganalisis perubahan warna dari larutan indikator yang ditanyakan pada setiap air sumur. Hal ini dikarenakan, peserta didik tidak menjabarkan pemecahan masalah untuk menyelesaian soal baik untuk memprediksi pH maupun menganalisis perubahan warna dari setiap untuk air sumur.

Kesalahan yang terjadi adalah beberapa peserta didik mampu memprediksikan pH yang tepat dari masing-masing sumur X dan Y, sehingga analisis warna indikator juga akan salah. Jika trayek pH dari masing-masing sumur telah dipecahkan, akan mudah mengambil kesimpulan untuk menganalisis perubahan warna indikator yang ditanyakan pada air sumur X dan Y. Menurut Istiqomah dkk. (2017) pengerjaan soal esai yang dijabarkan secara sistematis akan memudahkan peserta didik dalam pengambilan kesimpulan akhir sesuai dengan perintah soal.

Dokumen terkait