BAB I. PENDAHULUAN
B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, masalah yang dapat teridentifikasi adalah sebagai berikut:
1. Daya saing pendidikan di Indonesia masih rendah
2. Hasil UKG tahun 2015 yang masih berada di bawah standar kompetensi ninimal (SKM)
C. Pembatasan Masalah
Agar pembahasan dalam penulisan ini tidak terlalu luas dan tujuan dari penulisan dapat terfokus dan terarah, maka perlu ada batasan masalah, adapun batasan masalah tersebut adalah kepemimpinan transformasional kepala sekolah dan kinerja guru.
D. Rumusan Masalah
Adapun perumusan masalahnya adalah:
Bagaimana peran kepemimpinan transformasional kepala sekolah dalam mendorong kinerja guru?
E. Tujuan Penulisan
Penulisan ini dilakukan dengan tujuan untuk:
Menjelaskan peran kepemimpinan transformasional kepala sekolah dalam mendorong kinerja guru.
F. Manfaat Penulisan
Adapun manfaat penulisan ini yaitu:
Tulisan ini diharapkan memberi manfaat bagi beberapa pihak, yaitu 1. Bagi Penulis
a. Menambah wawasan mengenai peran kepemimpinan transformasional kepala sekolah dan kinerja guru.
2. Bagi Pihak Lain
a. Memperoleh informasi mengenai pengertian, tujuan kepemimpinan transformasional kepala sekolah serta pengertian kinerja guru.
b. Menjadi referensi ilmiah untuk penulisan yang relevan.
9 BAB II
KAJIAN TEORETIK
A. Kepemimpinan Transformasional 1. Pengertian Kepemimpinan
Kepemimpinan sangat diperlukan dalam sebuah organisasi, seperti halnya organisasi sekolah. Sekolah disebut sebagai suatu organisasi karena di dalamnya terdapat unsur manusia yang saling bekerjasama untuk mencapai tujuan yakni tujuan pendidikan. Unsur kelompok yang bekerja sama dalam organisasi sekolah meliputi kepala sekolah, kelompok guru, kelompok karyawan dan kelompok siswa. Kepemimpinan adalah proses mempengaruhi sekelompok individu untuk mencapai tujuan bersama (Northouse, 2013: 5). Pemimpin yang baik adalah yang mampu mempengaruhi para bawahan untuk mencapai tujuan organisasi.
Kepemimpinan memiliki arti yang sangat luas, namun dalam penelitian ini kepemimpinan yang dimaksud adalah kemampuan memberi pengaruh baik kepada bawahan dalam mencapai tujuan. Artinya pemimpin dianggap lebih baik dari pengikutnya dan dianggap mampu mempengaruhi bawahannya untuk melakukan pekerjaan yang berhubungan dengan pencapaian tujuan. Danim (2010: 6) mengatakan kepemimpinan adalah setiap tindakan yang dilakukan oleh individu atau kelompok untuk mengkoordinasi dan memberi arah kepada individu atau kelompok lain yang
bergabung dalam wadah tertentu untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya.
Wahjosumidjo (2001: 134) mengatakan bahwa seorang atau mereka yang bertanggung jawab atau diberi tugas untuk memimpin, dalam hal ini adalah kepala sekolah. Dengan demikian kepemimpinan di sekolah terjadi karena ada hubungan, yakni “antara kepala sekolah sebagai orang yang bertanggung jawab untuk memimpin dengan kelompok-kelompok guru, tenaga administratif, orang tua siswa dan para siswa, kelompok yang di pimpin” (Wahjosumidjo, 2001: 135)
Dengan demikian dapat disimpulkan kepemimpinan adalah kemampuan seseorang untuk membimbing dan mempengaruhi orang lain agar dapat bekerja sama dengan baik guna mewujudkan tujuan bersama yang sudah ditetapkan serta bertanggung jawab atas tugasnya dalam memimpin. Kepemimpinan kepala sekolah dapat diartikan sebagai kemampuan seorang guru untuk memimpin sekolah dalam membimbing serta memberikan contoh yang baik dalam membimbing bawahannya serta dapat mempengaruhi bawahannya agar dapat bekerja sama dengan baik dalam mencapai tujuan pendidikan yaitu meningkatkan kualitas pendidikan.
2. Faktor Kepemimpinan
Danim (2010: 11) menyatakan kepemimpinan merupakan fenomena unik, meski kehadirannya tidak pernah di area yang kosong sudah diterima secara universal. Kepemimpinan sering diberi makna sebagai derajat
keberpengaruhan, sedangkan pemimpin adalah orang yang paling potensial memberi pengaruh. Berikut ini empat faktor kepemimpinan menurut Danim (2010: 11):
1. Pemimpin
Pemimpin harus memiliki pemahaman yang jujur mengenai siapa dirinya sendiri. Kejujuran itu mahal karena harus mengombinasikan apa yang dikatakan dan apa yang diperbuat, apa yang tertuang dalam dokumen resmi dengan apa yang benar-benar nyata di balik dokumen itu, apa yang nampak dipermukaan dengan apa yang tersembunyi di balik layar, apa yang diketahui dengan apa yang dikomunikasikan. Klaim sukses seorang pemimpin sejati bukan berasal dari dirinya, melainkan menurut pengakuan pengikut atau masyarakat.
2. Pengikut
Berbeda pengikut berbeda pula karakternya,. Dengan demikian pengikut yang berbeda memerlukan gaya kepemimpinan yang berbeda pula. Seorang pemimpin harus mengenal orang-orang yang dipimpin atau pengikutnya.
3. Situasi
Kepemimpinan tidak berada pada situasi yang kosong. Dia selalu berada dalam situasi, meski nyaris semua situasi berbeda. Apa yang efektif di lakukan oleh pimpinan dalam situasi tidak akan selalu, bahkan hampir pasti tidak efektif dalam situasi lain. Disinilah esensi pemimpin memerlukan kecerdasan adversial, yaitu kemampuan diri untuk cepat
keluar dari situasi sulit dengan tindakan yang benar atau beresiko paling kecil.
4. Komunikasi
Pemimpin yang baik adalah komunikator yang andal. Sebagian besar waktu yang terpakai untuk kerja kepemimpinan adalah berkomunikasi, baik internal maupun eksternal. Aktivitas memimpin dilakukan melalui komunikasi dua arah. Komunikasi itu bisa verbal bisa juga nonverbal.
3. Bentuk atau Gaya Kepemimpinan
Kepemimpinan memiliki banyak gaya kepemimpinan dan jenisnya semua tergantung dari seorang pemimpin itu sendiri. Menurut beberapa ahli gaya kepemipinan adalah sebagai berikut:
a) Robbins (2006) mengidentifikasi empat gaya atau perilaku pemimpin dalam menghadapi pengikutnya, yaitu:
1. Kepemimpinan Karismatik
Seorang pemimpin karismatik dengan menggunakan pesona dan kemampuannya untuk membuat orang lain merasa penting, menggunakan kata-kata cerdas untuk mengatasi masalah dan mampu mengumpulkan banyak pengagum. Orang-orang tertarik ke arahnya dan dengan demikian ingin bekerja untuknya.
2. Kepemimpinan Transaksional
Kepemimpinan ini bekerja pada prinsip bahwa mereka menandatangani kontrak untuk berpartisipasi dalam proyek tertentu, mereka mengikuti semua keputusan pemimpin sebagai otoritas tertinggi. Jika kinerja bawahan baik, mereka akan dihargai dan jika kinerja mereka di bawah standar yang diharapkan mereka akan terkena sanksi sesuai kontrak tertulis.
3. Kepemimpinan Transformasional
Pemimpin menjual visinya kepada bawahanya dengan cara yang paling menarik dalam kepemimpinan dan organisasi yang bersifat transformasional memotivasi bawahannya dalam bekerja untuk tugas yang diberikan dengan antusiasme yang besar. Pemimpin benar-benar peduli untuk kesejahteraan anak buahnya dan ingin mereka untuk mempelajari hal-hal baru sesuai visinya.
4. Kepemimpinan Melayani
Pemimpin bertindak sebagai seorang yang membantu orang lain untuk tumbuh. Dengan bertindak sebagai pemimpin yang melayani, pemimpin memberikan bawahannya kebebasan untuk tumbuh, memelihara semangat mereka dan juga komitmen secara keseluruhan.
b) Sedangkan menurut Hasibuan (2007) ada dua gaya atau perilaku pemimpin dalam menghadapi pengikutnya, yaitu:
1. Kepemimpinan Otokratis
Dalam gaya otokratis, pengambilan keputusan adalah hak prerogatif dari pemimpin. Jadi semuanya langsung dilakukan dan ditentukan oleh pemimpin itu sendiri tanpa adanya masukan dari siapapun.
2. Kepemimpinan Partisipatif
Gaya partisipatif mengarah ke pengembangan dan loyalitas para bawahan kepada pemimpin karena pemimpin membawa mereka ke dalam pertimbangan penuh menggunakan keterampilan dan pengetahuan mereka dan mengambil masukan mereka sebelum tiba pada suatu keputusan.
Dari berbagai bentuk atau gaya kepemimpinan dalam organisasi maka dalam penulisan yang digunakan penulis adalah kepemimpinan transformasional. Kepemimpinan transformasional menurut Avolio dan Bass (1994) merupakan interaksi antara pemimpin dan karyawan yang ditandai oleh pengaruh pemimpin untuk mengubah perilaku karyawan menjadi seorang yang merasa mampu dan bermotivasi tinggi dan berupaya mencapai prestasi tinggi dan bermutu. Kusumah (2014) mengatakan bahwa kepemimpinan transformasional kepala sekolah berpengaruh positif terhadap organisasi. Kepemimpinan transformasional berarti kepemimpinan yang menumbuhkan ekspektasi akan performa yang tinggi bukan semata-mata hanya menghabiskan waktu dalam menggerakkan pengikutnya.
Demikian pula, Leithwood (dalam Deria 1994) memperlihatkan bahwa kepemimpinan transformasional bisa menggerakkan para pengikutnya
melampaui performa yang diharapkan. Kepemimpinan transformasional tidak hanya mengandalkan kharisma personalnya, tapi harus mencoba untuk memberdayakan staffnya serta melaksanakan fungsi-fungsi kepemimpinan.
4. Kepemimpinan Transformasional
Kepemimpinan transformasional menurut para ahli didefinisikan sebagai gaya kepemimpinan yang mengutamakan pemberian kesempatan yang mendorong semua unsur atau elemen sekolah (guru, siswa, pegawai, orang tua siswa, masyarakat dan lainnya) untuk bekerja atas dasar nilai luhur, sehingga semua unsur yang ada di sekolah bersedia berpartisipasi secara optimal dalam mencapai visi sekolah (Firman: 2008).
Burns (Danim, 2010:95) mengatakan beberapa jenis pemimpin yang bergaya transaksional dan transformasional, perbedaan antara pemimpin transaksional dan pemimpin transformasional, untuk jenis kepemimpinan transaksional antara lain:
a) Opinion leaders atau pemimpin opini, yaitu pemimpin dengan kemampuan untuk mempengaruhi opini publik.
b) Bureaucratic leaders atau pemimpin birokrasi, dimana posisi yang memegang kekuasaan atas pengikut mereka.
c) Party leaders atau pemimpin partai, yaitu kepemimpinan politik yang bekerja di belakang layar.
d) Executive leaders atau pemimpin eksekutif, yaitu sering digambarkan sebagai presiden sebuah negara, tidak harus terikat dengan partai politik atau legislator.
Sedangkan untuk jenis kepemimpinan tranformasional, yaitu:
1) Intelellectual leaders atau pemimpin intelektual, yaitu pemimpin dengan kemampuan mentransformasi masyarakat melalui kejelasan visi.
2) Reform leaders atau pemimpin reformasi, yaitu pemimpin bagi perubahan masyarakat dengan mengatasi satu masalah moral.
3) Revolutionary leaders atau pemimpin revolusioner, yaitu pemimpin yang membawa perubahan dalam masyarakat setempat melalui transformasional.
4) Charismatic leaders atau pemimpin kharismatik, yaitu pemimpin yang menggunakan pesona pribadi untuk membawa perubahan.
Danim (2005:56) mengatakan dengan melalui model kepemimpinan transformasional, segala potensi organisasi pembelajaran dapat ditransformasionalkan menjadi aktual dalam rangka mencapai tujuan lembaga. Di sisi lain hal ini akan menjadi berbahaya, jika ia bekerja semata-mata karena keinginan untuk memperoleh keuntungan atau setiap pekerjaan yang akan maupun yang sedang dilakukan dilihat dari aspek untung ruginya saja. Pemimpin transformasional cenderung memanusiakan manusia melalui berbagai cara memotivasi dan memberdayakan fungsi dan peran karyawan untuk mengembangkan organisasi dan pengembangan diri menuju aktualisasi diri yang nyata (Wutun, 2001: 351).
Dari berbagai pengertian kepemimpinan transformasional dapat ditarik kesimpulan bahwa kepemimpinan transformasional adalah kemampuan seorang pemimpin dalam mempengaruhi pengikutnya, mengutamakan pemberian kesempatan kepada pengikutnya dan mendorong perubahan ke arah kepentingan bersama. Kepemimpin trasformasional tidak hanya memiliki visi, tetapi memiliki kemampuan untuk membuat pengikutnya menerima visi dan meningkatkan komitmen untuk merealisasikan visi yang ada.
5. Dimensi-dimensi Kepemimpinan Transformasional
Leithwood (Deria 2017) mengatakan ada delapan dimensi kepemimpinan Transformasional
a) Mengembangkan visi bersama bagi sekolah
Perilaku pemimpin yang dimaksudkan untuk mengembangkan, mengartikulasi dan menyalurkan visi serta membuat mereka memahami dan melakukan visi tersebut
b) Membangun konsensus tentang tujuan prioritas sekolah
Perilaku yang mampu mendorong terjadinya kerja sama di antara para staff dan bekerjasama untuk mencapai tujuan
c) Menciptakan ekspektasi kinerja yang tinggi
Perilaku yang menunjukkan ekspektasi yang tinggi terhadap para staf f supaya mampu bekerja secara inovatif serta profesional demi mendapatkan hasil maksimal.
d) Menjadi panutan atau model
Perilaku dan tindakan kepala sekolah bisa menjadi teladan atau contoh yang baik untuk para staff.
e) Memberi support atau dukungan
Perilaku kepala sekolah dengan memahami kemampuan dan ketertarikan para staff serta mencari tahu pemahaman para guru terhadap suatu masalah serta memberi penghargaan atas kerja keras mereka.
f) Menyediakan Stimulasi intelektual
Perilaku kepala sekolah mengajak para staff untuk mencoba sesuatu yang baru serta mengkaji kembali asumsi-asumsi tentang pekerjaan mereka dan memikirkan kembali bagaimana mewujudkan asumsi tersebut.
g) Perilaku kultur sekolah
Perilaku kepemimpinan kepala sekolah yang mampu membangun norma sekolah, nilai, keyakinan dan sikap yang mendorong terciptanya sikap saling percaya dan perhatian antara para staff.
h) Membangun struktur kolaborasi
Perilaku kepemimpinan kepala sekolah dengan memberi kesempatan kepada para guru dalam pengambilan keputusan terkait tugas-tugas guru dan memberitahukan permasalahan yang terdapat di sekolah tersebut.
B. Peran Kepala Sekolah
Saat ini pendidikan di Indonesia menjadi salah satu topik pembicaraan yang cukup mendapat perhatian baik dari pemerintah maupun masyarakat ,
pendidikan dipandang sebagai salah satu tempat utama pengembangan bagi para peserta didik. Kepala sekolah merupakan salah satu komponen pendidikan yang sangat berperan dalam meningkatkan kualitas pendidikan. Seperti yang diungkapkan Supriadi (Mulyasa: 25) bahwa: “Erat hubungan antara mutu kepala sekolah dengan berbagai aspek kehidupan sekolah seperti disiplin, iklim budaya sekolah, dan menurun perilaku nakal anak didik”. Selain itu, kepala sekolah bertanggung jawab atas manajemen pendidikan secara mikro, yang secara langsung berkaitan dengan proses pembelajaran di sekolah.
Sebagaimana yang tertulis dalam bab VI Permendikbud pasal 15 nomor 6 tahun 2018 bahwa: “Beban kepala sekolah sepenuhnya melaksanakan tugas pokok manajerial, pengembangan kewirausahaan, dan supervisi kepada tenaga pendidik”. Kemudian mengembangkan sekolah dan meningkatkan mutu sekolah berdasarkan delapan standar nasional pendidikan.
Apa yang diungkapkan di atas menjadi lebih penting, sejalan dengan semakin kompleks tuntutan tugas kepala sekolah, yang menghendaki dukungan kinerja yang semakin efektif dan efisien. Wahjosumidjo (1995: 81) mengungkapkan bahwa kepala sekolah yang berhasil apabila mereka memahami keadaan sekolah sebagai organisasi yang kompleks dan unik, serta mampu melaksanakan peran kepala sekolah sebagai seseorang yang diberi tanggung jawab untuk memimpin sekolah.
Mulyasa (2009:98-122) mengacu pada ketetapan Mendiknas tentang peran seorang kepala sekolah, ia pun mengembangkan sebuah paradigma baru tentang peran kepala sekolah, yang disingkatnya dengan EMASLIM. Kepala
sekolah harus berfungsi sebagai educator, manager, administrator, supervisor, leader, innovator, dan motivator.
a) Kepala Sekolah Sebagai Edukator
Dalam melaksanakan fungsinya sebagai edukator, kepala sekolah harus memiliki strategi yang tepat untuk meningkatkan profesionalisme tenaga kependidkan di sekolah, menciptakan iklim sekolah kondusif, memberikan nasihat kepada warga sekolah, memberikan dorongan kepada seluruh tenaga pendidik, serta melaksanakan model pembelajaran yang menarik. Kepala sekolah harus berusaha menanamkan, memajukan, meningkatkan sedikitnya empat macam nilai, yakni pembinaan, mental, moral, fisik, dan artistik.
b) Kepala sekolah Sebagai Manajer
Manajemen adalah proses merencanakan, mengorganisasikan, memimpin dan mengendalika usaha anggota-anggota dalam organisasi serta pendayagunaan seluruh sumber daya organisasi dalam rangka pencapaian tujuan yang telah ditetapkan. Wahjosumidjo (2002: 94) tiga hal yang perlu diperhatikan kepala sekolah sebagai manajer sebagaimana dengan maksud tersebut yaitu proses, pendayagunaan seluruh sumber organisasi dan pencapaian tujuan organisasi yang telah ditetapkan.
1. Proses adalah suatu cara yang sistematik dalam mengerjakan sesuatu.
2. Sumber daya suatu sekolah, meliputi dana, perlengkapan, informasi, maupun sumber daya manusia, yang masing-masing berfungsi sebagai pemikir, perencana, pelaku, serta pendukung untuk mencapai tujuan.
3. Mencapai tujuan organisasi yang telah ditetapkan sebelumnya. Bahwa kepala sekolah berusaha mencapai tujuan akhir yang bersifat khusus (specific ends). Tujuan akhir yang spesifik ini berbeda dengan organisasi
yang lain tujuan ini bersifat khusus dan unik.
Dalam rangka melaksanakan peran dan fungsinya sebagai manajer, kepala sekolah harus memiliki strategi yang tepat untuk memberdayakan tenaga kependidikan melalui kerjasama yang kooperatif, memberikan kesempatan kepada para tenaga pendidik untuk meningkatkan profesional, dan mendorong keterlibatan seluruh tenaga kependidikan dalam berbagai kegiatan yang menunjang program sekolah.
c) Kepala Sekolah Sebagai Administrator
Kepala sekolah sebagai administrator memiliki hubungan yang erat dengan berbagai aktivitas pengelolaan administrasi yang bersifat pencatatan, penyusunan, dan pendokumenan seluruh program sekolah. Secara spesifik kepala sekolah harus memiliki kemampuan mengelola kurikulum, mengelola administrasi peserta didik, mengelola administrasi pendid ik, administrasi sarana prasarana, administrasi kearsipan dan mengelola administrasi keuangan.
d) Kepala Sekolah Sebagai Supervisor
Supervisi merupakan suatu proses yang dirancang oleh kepala sekolah untuk membantu para guru dalam mempelajari tugas sehari-hari dari sekolah agar dapat menggunakan pengetahuan dan kemampuannya untuk memberikan layanan yang lebih baik pada orang tua murid, peserta didik
dan sekolah. Pengawas dan pengendalian yang dilakukan kepala sekolah terhadap tenaga kependidikannya khususnya guru, bertujuan untuk meningkatkan kemampuan profesional guru dan meningkatkan kualitas pembelajaran melalui pembeljaran yang efektif.
e) Kepala Sekolah Sebagai Leader
Kepala sekolah sebagai leader harus mampu memberikan petunjuk dan pengawasan, meningkatkan kemampuan tenaga pendidik, membuka komunikasi dua arah, dan mendelegasikan tugas. Wahjosumidjo (2002: 110) mengemukakan bahwa kepala sekolah sebagai leader harus memiliki karakter khusus yang mencakup kepribadian, keahlian dasar, pengalaman dan pengetahuan profesional, serta pengetahuan administrasi dan pengawasan. Kemampuan yang harus diwujudkan kepala sekolah sebagai leader dapat dianalisis dari kepribadian, pengetahuan terhadap tenaga
kependidikan, visi dan misi sekolah. Kemampuan mengambil keputusan dan kemampuan berkomunikasi.
f) Kepala Sekolah sebagai Innovator
Dalam rangka melakukan peran dan fungsinya sebagai innovator, kepala sekolah harus memiliki strategi yang tepat untuk menjalin hubungan yang harmonis dengan lingkungan, mencari gagasan baru, mengintegrasikan setiap kegiatan, memberikan teladan kepada seluruh tenaga kependidikan di sekolah, dan mengembangkan model-model pembelajaran yang inovatif.
Kepala sekolah sebagai innovator akan tercermin dari cara ia melakukan
pekerjaannya secara konstruktif, kreatif, delegatif, rasional, dan objektif, pragmatis, keteladanan, serta adaptable dan fleksibel.
g) Kepala Sekolah Sebagai Motivator
Sebagai motivator, kepala sekolah harus memiliki strategi yang tepat untuk memberikan motivasi kepada para tenaga pendidikan dalam melakukan berbagai tugas fungsinya. Motivasi ini dapat ditumbuhkan melalui pengaturan lingkungan fisik, pengaturan suasana kerja, disiplin, dorongan, penghargaan secara efektif, dan penyediaan berbagai sumber belajar melalui pengembangan pusat sumber belajar. Wahjosumidjo menambahkan fungsi-fungsi seorang pemimpin adalah:
1. Dalam menghadapi warga sekolah yang beragam, kepala sekolah harus bertindak arif, bijaksana dan adil. Dengan kata lain, kepala sekolah harus dapat memperlakukan semua warga sekolah sama sehingga dapat menciptakan semangat kebersamaan diantara guru, staff, dan para siswa (arbitrating);
2. Kepala sekolah memberi saran atau sugesti, anjuran sehingga dengan saran tersebut selalu dapat memelihara dan meningkatkan semangat, rela berkorban, rasa kebersamaan, dalam melaksanakan tugas masing-masing (suggesting);
3. Kepala sekolah memenuhi atau menyediakan dukungan yang diperlukan oleh para guru, staff, dan siswa, baik berupa dana, peralatan, waktu, maupun suasana yang mendukung (supplying objectives);
4. Kepala sekolah harus mampu memunculkan dan menggerakkan semangat guru, staff, dan siswa dalam pencapaian tujuan yang telah ditetapkan (catalyzing);
5. Kepala sekolah harus dapat menciptakan rasa aman di dalam lingkungan sekolah sehingga para guru, staff, dan siswa dalam melaksanakan tugasnya merasa aman, bebas dari perasaan gelisah, kekhawatiran, serta memperoleh jaminan keamanan dari kepala sekolah (providing security);
6. Kepala sekolah harus menjaga integritasnya sebagai orang yang menjadi pusat perhatian karena akan menjadi orang yang mewakili kehidupan sekolah di mana dan dalam kesempatan apapun (representating);
7. Kepala sekolah adalah sumber semangat bagi para guru, staff, dan siswa sehingga mereka memahami dan menerima tujuan sekolah secara antusias, bekerja secara bertanggung jawab ke arah tercapainya tujuan sekolah (inspiring);
8. Kepala sekolah harus dapat menghargai apapun yang dihasilkan oleh bawahannya (praising);
Menyadari akan fungsinya dan perannya dalam mengembangkan kinerja, setiap kepala sekolah dihadapkan pada tantangan untuk melaksanakan pengembangan pendidikan secara terarah, berencana dan berkesinambungan untuk meningkatkan kinerja dan kualitas pendidikan.
Kepala sekolah tidak menjadi satu-satunya penguasa di sekolah, jika kepala sekolah menjadi satu-satunya penguasa, tidak mungkin kepala sekolah mampu mengoptimalkan dan menyelesaikan tugas-tugas institusionalnya.
Untuk mengoptimalkan tugas pokok dan fungsinya, kepala sekolah harus mampu bekerjasama dengan para guru dan staff yang dapat bekerja sesuai bidang dan pembagian kerja yang ada, sehingga tujuan pendidikan dapat tercapai.
C. Kinerja Guru
1. Pengertian Kinerja Guru
Endarmoko (2009: 325) mengatakan bahwa kinerja dapat diartikan dengan kemampuan, penampilan, prestasi maupun kapasitas. Pengertian kinerja sering diidentikkan dengan prestasi kerja karena ada persamaan antara kinerja dengan prestasi kerja. Kinerja lebih sering disebut dengan prestasi yang merupakan ‘hasil’ atau ‘apa yang keluar’ (outcomes) dari sebuah pekerjaan dan kontribusi sumber d aya manusia terhadap organisasi (Supardi, 2013). Setiap individu yang diberi tugas atau kepercayaan untuk bekerja pada suatu organisasi diharapkan mampu menunjukkan kinerja yang baik serta memberikan kontribusi yang maksimal terhadap pencapaian tujuan organisasi tersebut. Kinerja merupakan suatu kegiatan yang dilakukan untuk melaksanakan, menyelesaikan tugas dan tanggung jawab sesuai dengan harapan dan tujuan yang telah ditetapkan (Supardi, 2014: 45).
Kinerja sering disebut dengan prestasi yang merupakan hasil atau apa yang keluar (outcomes) dari sebuah pekerjaan dan kontribusi sumber daya manusia terhadap organisasi.
Menurut Undang-Undang No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen Pasal 1 ayat (1), guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan usia dini, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah. Sagala (2013: 6) mengatakan guru sebagai pendidik adalah tokoh yang paling banyak bergaul dan berinteraksi dengan para murid dibandingkan dengan para personel lainnya di sekolah. Guru bertugas merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, melakukan bimbingan dan pelatihan, melakukan penelitian dan pengkajian, dan membuka komunikasi dengan masyarakat.
Kinerja guru dapat dilihat saat guru melaksanakan kegiatan belajar mengajar di kelas termasuk persiapan baik dalam bentuk program semester maupun persiapan mengajar di kelas. Berkenaan dengan kepentingan penilaian terhadap kinerja guru. Georgia Departemen of Education telah mengembangkan teacher performance assessment instrument yang kemudian dimodifikasi oleh Depdiknas menjadi Alat Penilaian Kemampuan Guru (APKG). Alat penilaian kemampuan guru, meliputi: (1) rencana pembelajaran (teaching plans and materials) atau disebut dengann RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran), (2) prosedur pembelajaran (classroom procedure), dan (3) hubungan antar pribadi (interpersonal skill).
Dengan demikian dapat disimpulkan kinerja guru adalah kemampuan kerja seorang guru dan hasil pekerjaan atau prestasi kerja yang dilakukan oleh guru berdasarkan kemampuan mengelola kegiatan belajar mengajar,
yang meliputi perencanaan pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran dan evaluasi pembelajaran.
2. Faktor- faktor yang Mempengaruhi Kinerja Guru
2. Faktor- faktor yang Mempengaruhi Kinerja Guru