• Tidak ada hasil yang ditemukan

KEPEMIMPINAN TRANSFORMASIONAL KEPALA SEKOLAH DAN KINERJA GURU

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "KEPEMIMPINAN TRANSFORMASIONAL KEPALA SEKOLAH DAN KINERJA GURU"

Copied!
52
0
0

Teks penuh

(1)

i

KEPEMIMPINAN TRANSFORMASIONAL KEPALA SEKOLAH DAN KINERJA GURU

TUGAS AKHIR

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan

Program Studi Pendidikan Ekonomi Bidang Keahlian Khusus Pendidikan Ekonomi

Oleh : JUMIATUN NIM : 131324035

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN EKONOMI

BIDANG KEAHLIAN KHUSUS PENDIDIKAN EKONOMI JURUSAN PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA

2019

(2)

ii

(3)

iii

(4)

iv

PERSEMBAHAN

Ku persembahkan hasil karyaku ini untuk:

Tuhan Yang Maha Esa yang selalu menuntun dan memberikan kasih sayang berlimpah di dalam setiap langkah hidupku.

Kedua orang tua ku Bapak Supar Ibu Anisih, serta Suamiku Muhammad Arifin atas bimbingan, kasih sayang, dukungan, dan doa selama ini.

Dosen pembimbing yang telah sabar membimbing saya selama menyelesaikan tugas akhir ini.

(5)

v MOTTO

Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Maka apabila engkau telah selesai (dari sesuatu urusan), tetaplah bekerja keras (untuk urusan yang lain). Dan hanya kepada

Tuhanmulah engkau berharap. (QS. Al-Insyirah, 6-8)“

Memulai dengan penuh keyakinan

Menjalankan dengan penuh kesabaran dan keikhlasan Menyelesaikan dengan kesyukuran

(6)

vi

(7)

vii

(8)

viii

(9)

ix

ABSTRAK

KEPEMIMPINAN TRANSFORMASIONAL KEPALA SEKOLAH DAN KINERJA GURU

Jumiatun

Universitas Sanata Dharma 2019

Tujuan dari penulisan makalah ini adalah menjelaskan peran kepemimpinan transformasional kepala sekolah dalam mendorong kinerja guru. Penulisan makalah ini didasarkan pada studi pustaka yang membahas mengenai kepemimpinan transformasional kepala sekolah dan kinerja guru.

Hasil studi pustaka dapat diringkas sebagai berikut: 1) kepemimpinan transformasional memiliki kemampuan dalam mempengaruhi pengikutnya dengan mengutamakan pemberian kesempatan kepada para guru untuk mengembangkan kemampuan yang dimiliki sehingga dapat meningkatkan kinerjanya dan mendorong perubahan ke arah kepentingan bersama; 2) kepala sekolah memiliki peran penting dan tanggung jawab dalam mendorong serta meningkatkan kinerja guru melalui pengembangan visi bersama bagi sekolah, mendorong terjadinya kerja sama yang baik dalam lingkungan sekolah; dan 3) kinerja guru akan meningkat jika guru mendapat penghargaan (reward system) atas pencapaian yang dilakukan, serta lingkungan kerja yang mendukung, mendapatkan motivasi atau semangat kerja, menjalin hubungan interpersonal yang baik dengan semua guru, memiliki keterampilan yang dapat mengembangkan bakatnya serta didukung dengan kepemimpinan yang dapat meningkatkan kualitas kerja.

Kata kunci: kepemimpinan transformasional, kepala sekolah, kinerja guru.

(10)

x

ABSTRACT

THE SCHOOL PRINCIPAL TRANSFORMATIONAL LEADERSHIP AND TEACHER PERFORMANCE

Jumiatun

University Sanata Dharma 2019

The purpose of this paper is to explain school principal transformational leadership role in affecting teacher performance. The paper is written based on literature review about school principal transformational leadership and teacher performance.

The results of literature review can be summarized as follows: 1) school principal transformational leadership affects teachers by providing opportunity to develop teacher professionalism and stimulateing school change at a common interest; 2) school principal has an important role to encourage as well as to increase teacher performance, school principal has responsibilities to develop teacher performance through fostering and sharing school vision, to encourage teacher to have a good collaboration; and 3) teacher performance would increase if teachers got an award for appraising their achievement, had positif work environment, got work motivation, had positif interpersonal relationship with other teacher, had skills for developing their talents, and had supportif leadership in school.

Keywords: transformational leadership, school principal, in teachers performance

(11)

xi

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala limpahan rahmat, kasih dan karunia-Nya, sehingga saya dapat menyelesaikan tugas akhir ini dengan judul “ Kepemimpinan Transformasional Kepala Sekolah dan Kinerja Guru”

Penulisan tugas akhir ini disusun dalam rangka untuk memenuhi persyaratan akhir mencapai Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Ekonomi BKK Pendidikan Ekonomi, Jurusan Pendidikan Ilmu Sosial, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

Dalam penyusunan tugas akhir ini, penulis banyak menerima bantuan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis ingin mengucapkan rasa syukur dan terima kasih kepada:

1. Bapak Dr. Yohanes Harsoyo, S.Pd., M.Si. selaku Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

2. Bapak Ig. Bondan Suratno, S.Pd., M.Si. selaku Ketua Jurusan Pendidikan Ilmu Sosial Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

3. Ibu Dra. C. Wigati Retno Astuti, M.Si., M.Ed. selaku Ketua Program Studi Pendidikan Ekonomi BKK Pendidikan Ekonomi.

4. Ibu Dra. C. Wigati Retno Astuti, M.Si., M.Ed. selaku dosen pembimbing yang telah sabar membimbing dan meluangkan banyak waktu untuk memberikan bimbingan kepada penulis dalam menyelesaikan skripsi.

(12)

xii

(13)

xiii DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ... i

HALAMAN PENGESAHAN ... ii

HALAMAN PERSEMBAHAN ... iii

MOTTO ... iv

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ... v

PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS ... vi

ABSTRAK ... vii

ABSTRACT... viii

KATA PENGANTAR ... ix

DAFTAR ISI ... xi

BAB I. PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang ... 1

B. Identifikasi Masalah ... 7

C. Batasan Masalah ... 7

D. Rumusan Masalah ... 7

E. Tujuan Penelitian ... 8

F. Manfaat Penelitian ... 8

BAB II. KAJIAN PUSTAKA ... 9

A. Kepemimpinan Transformasional ... 9

1. Pengertian Kepemimpinan ... 9

(14)

xiv

2. Faktor Kepemimpinan ... 10

3. Bentuk dan Gaya Kepemimpinan... 12

4. Kepemimpinan Transformasional ... 15

5. Dimensi-dimensi Kepemimpinan Transformasional ... 17

B. Peran Kepala Sekolah ... 18

C. Kinerja Guru ... 25

1. Pengertian Kinerja Guru ... 25

2. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kinerja Guru ... 27

3. Dimensi-dimensi Kinerja Guru ... 28

D. Peran Kepemimpinan Transformasional Keapala Sekolah dalam Mendorong Kinerja Guru ... 29

BAB III. KESIMPULAN DAN SARAN ... 34

A. Kesimpulan ... 34

B. Saran ... 36

DAFTAR PUSTAKA ... 37

(15)

1 BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Saat ini masalah pendidikan telah menjadi topik pembicaraan yang cukup mendapat perhatian baik dari pemerintah maupun masyarakat. Data yang dikeluarkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, yaitu Ikhtisar Data Pendidikan tahun 2017/2018 melaporkan bahwa jumlah siswa putus sekolah tahun 2017/2018 jenjang SD sebanyak 32.127 anak, jenjang SMP sebanyak 51.190 anak dan jenjang SMA sebanyak 31.123 anak serta jenjang SMK 73.388. Data lain yang dirilis oleh UNESCO pada tahun 2017 menunjukkan Indonesia berada pada pada posisi 108 dari 187 negara di dunia dalam hal pendidikan. Sebanyak 44% penduduk menuntaskan pendidikan menengah dan 11% murid gagal menuntaskan pendidikan atau keluar dari sekolah. Selain itu turunnya peringkat daya saing Indonesia menjadi persoalan yang sedang dihadapi. Pada periode 2015-2016 posisi Indonesia berada pada peringkat ke 37 dari 138 negara, namun pada periode 2016-2017 posisi Indonesia turun ke 41 di bawah Malaysia (18), Singapura (2), dan Thailand (32). Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa mutu pendidikan di Indonesia masih rendah.

Salah satu penyebab rendahnya mutu pendidikan di Indonesia adalah rendahnya kualitas sumber daya manusia yang pada akhirnya menghambat pembangunan dan perkembangan ekonomi nasional. Hal ini dapat dilihat dari hasil UKG tahun 2015. Menurut Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

(16)

untuk kompetensi bidang pedagogik nilai rata-rata nasional hanya 48,94, berada di bawah standar kompetensi minimal (SKM), yaitu 55. Bahkan untuk bidang pedagogik ini, hanya ada satu provinsi yang nilainya di atas rata-rata nasional sekaligus mencapai SKM, yaitu Daerah Istimewa Yogyakarta (56,91).

Dari data tersebut dapat dilihat bahwa kompetensi di bidang pedagogik yang meliputi kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran yang terdiri dari pemahaman terhadap siswa, perencanaan, implementasi pembelajaran, evaluasi hasil belajar dan mengaktualisasikan potensi siswa masih belum baik.

Untuk meningkatkan kompetensi guru, perlu dilakukan pelatihan dan pendidikan yang lebih terarah sehingga perlu diupayakan program-program demi penataan sumber daya manusia. Penataan sumber daya manusia perlu diupayakan secara bertahap dan berkesinambungan melalui sistem pendidikan yang berkualitas, baik pada jalur pendidikan formal, informal maupun non formal, mulai dari pendidikan dasar sampai pendidikan tinggi (Mulyasa 2004:4).

Guru merupakan sumber daya yang sangat menentukan keberhasilan pendidikan di sekolah karena guru berperan penting dalam menciptakan sumber daya manusia yang berkualitas. Guru memiliki peran yang penting dalam melaksanakan pendidikan serta dalam pencapaian visi, misi dan fungsi sekolah. Dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, pasal 1, ayat (1) menjelaskan bahwa:

“Guru adalah pendidik profesional dengan tugas utamanya mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai

(17)

dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini, jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah”.

Guru yang profesional adalah orang yang terdidik dan terlatih dengan baik, serta memiliki pengalaman di bidangnya (Kunandar, 2011).

Profesionalitas guru atau tenaga pendidik akan memberikan manfaat yang besar bagi peserta didiknya. Salah satu faktor guru yang memberikan pengaruh sangat besar adalah kinerja guru.

Berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia (Permendiknas) Nomor 16 tahun 2007 tentang Standar Kompetensi Guru dinyatakan bahwa kompetensi guru meliputi kompetensi pedagogik, kepribadian, sosial, dan profesional. Ke empat aspek tersebut haruslah dimiliki oleh seorang guru. Apabila ke empat aspek tersebut telah dikuasai oleh tenaga pendidik atau guru maka akan tercipta guru yang profesional. Glickman (Darmansiah, 2008) menegaskan bahwa seseorang akan bekerja secara profesional bilamana orang tersebut memiliki kemampuan dan kinerja.

Kinerja guru di sekolah dapat dilihat dari perilaku guru dalam melaksanakan pekerjaannya, yang salah satunya yaitu mengajar. Kinerja guru berkaitan erat dengan apa yang dilakukan guru di dalam kelas dan bagaimana hal itu dapat berpengaruh terhadap kegiatan belajar mengajar di kelas. Kinerja guru meliputi seluruh kegiatan yang menyangkut tugas profesionalnya sebagai guru. Kinerja guru yang baik dapat dipengaruhi oleh pemimpin yang mampu memberikan pengaruh positif terhadap bawahannya.

(18)

Dalam pencapaian sebuah tujuan sangat diperlukan pemimpin yang mampu memotivasi bawahannya serta memberikan contoh yang baik terhadap bawahannya. Kepala sekolah sebagai pemimpin di sekolah memiliki peran yang sangat penting dalam keberhasilan sekolah dan dalam mencapai tujuan yang akan dicapai. Apabila kepala sekolah dapat mengelola tenaga pendidik dengan baik, maka kualitas sekolah tersebut dapat semakin baik. Kepala sekolah bertanggung jawab atas penyelenggaraan kegiatan pendidikan, administrasi sekolah, pembinaan tenaga kependidikan lainnya dan pendayagunaan serta pemeliharaan sarana dan prasarana (Mulyasa, 2004) Kriteria keberhasilan sekolah diperlukan kepemimpinan yang mampu meningkatkan kinerja guru.

Tercapainya kinerja yang baik tidak terlepas dari campur tangan seorang pemimpin. Banyak organisasi maupun institusi yang sukses karena mempunyai seorang pemimpin yang mumpuni dan berkualitas. Pemimpin yang baik ad alah pemimpin yang mampu memberikan pengaruh positif terhadap para bawahannya karena pemimpin merupakan tulang punggung dalam organisasi.

Tanpa kepemimpinan yang baik maka organisasi atau institusi akan sulit mencapai tujuannya, bahkan untuk menyesuaikan d engan perubahan yang sedang terjadi di dalam maupun di luar organisasi itu sendiri. Oleh karena itu perlu pendekatan ekstra yang harus dilakukan seorang pemimpin kepada para bawahannya agar semua tujuan dapat terwujud dengan baik. Banyak gaya kepemimpinan yang dapat diimplementasikan seorang pemimpin organisasi salah satunya gaya kepemimpinan transformasional. Ismail, dkk (2011)

(19)

menyatakan bahwa pada era persaingan global, banyak organisasi menggeser paradigma gaya kepemimpinan mereka dari kepemimpinan transaksional ke kepemimpinan transformasional sebagai cara untuk mencapai strategi dan tujuan. Yukl (Priyanto, 2013) mendefinisikan kepemimpinan transformasional merupakan pengaruh pemimpin atau atasan terhadap bawahan, di mana bawahan merasakan kepercayaan, kebanggaan, loyalitas dan rasa hormat kepada atasan dan mereka dimotivasi untuk berbuat melebihi yang ditargetkan atau diharapkan.

Kepemimpinan transformasional pada prinsipnya mampu mempengaruhi pengikutnya dan memberikan dorongan kepada bawahannya untuk berbuat lebih dari pada yang bisa dilakukan, dengan kata lain dapat meningkatkan kepercayaan atau keyakinan dari bawahan yang akan berpengaruh terhadap kinerja. Jika seorang pemimpin mempunyai karakter kepemimpinan transformasional maka akan memicu bawahannya untuk lebih meningkatkan kinerjanya. Hal ini didukung penelitan yang dilakukan oleh Isnawati (2016) yang menyatakan kepemimpinan transformasional kepala sekolah berpengaruh terhadap kinerja guru. Pemimpin juga memiliki peranan peting bagi individu suatu organisasi untuk membangun kerjasama, memupuk semangat kerja, dan mewujudkan tujuan. Praktik gaya kepemimpinan transformasional mampu membawa perubahan-perubahan yang lebih mendasar, seperti perubahan nilai- nilai, tujuan, dan kebutuhan bawahan serta yang paling penting adalah meningkatkan kinerja pegawai.

(20)

Guru yang memiliki kinerja baik menunjukkan perilaku yang profesional dalam proses belajar mengajar, kejujuran, kedisiplinan (tepat waktu), kemampuan kerja sama dan hubungan antar siswa dan guru. Selain itu, guru juga menunjukkan kinerjanya dengan pembuatan program tahunan, program semester, Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), daftar hadir, daftar nilai, dan daftar portofolio siswa (Azwar, Yuzrizal, & Murniati, 2015). Keadaan ini dapat berkontribusi terhadap hasil belajar siswa karena guru merupakan seseorang yang merencanakan, melaksanakan, dan mengevaluasi hasil belajar siswa. Apabila kinerja guru baik maka akan terwujud pendidikan yang berkualitas. Hal tersebut perlu didukung oleh kemampuan seorang pemimpin (kepala sekolah) yang dapat mempengaruhi pengikutnya, mengutamakan pemberian kesempatan kepada pengikutnya dan mendorong perubahan ke arah kepentingan bersama, kepemimpinan yang demikian disebut sebagai, pemimpin transformasional. Kepemimpinan transformasional tidak hanya memiliki visi, tetapi memiliki kemampuan untuk membuat pengikutnya menerima visi dan meningkatkan komitmen untuk merealisasikan visi yang ada.

Untuk mewujudkan pendidikan yang berkualitas, Indonesia masih menghadapi beberapa kendala, yaitu daya saing pendidikan di Indonesia masih rendah dan rendahnya kualiatas SDM yang dapat dilihat dari hasil UKG tahun 2015 yang masih berada di bawah standar kompetensi minimal (SKM).

(21)

Berdasarkan uraian di atas, maka penulis ingin melakukan studi pustaka dengan judul “Kepemimpinan Transformasional Kepala Sekolah dan Kinerja Guru”

B. Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, masalah yang dapat teridentifikasi adalah sebagai berikut:

1. Daya saing pendidikan di Indonesia masih rendah

2. Hasil UKG tahun 2015 yang masih berada di bawah standar kompetensi ninimal (SKM)

C. Pembatasan Masalah

Agar pembahasan dalam penulisan ini tidak terlalu luas dan tujuan dari penulisan dapat terfokus dan terarah, maka perlu ada batasan masalah, adapun batasan masalah tersebut adalah kepemimpinan transformasional kepala sekolah dan kinerja guru.

D. Rumusan Masalah

Adapun perumusan masalahnya adalah:

Bagaimana peran kepemimpinan transformasional kepala sekolah dalam mendorong kinerja guru?

(22)

E. Tujuan Penulisan

Penulisan ini dilakukan dengan tujuan untuk:

Menjelaskan peran kepemimpinan transformasional kepala sekolah dalam mendorong kinerja guru.

F. Manfaat Penulisan

Adapun manfaat penulisan ini yaitu:

Tulisan ini diharapkan memberi manfaat bagi beberapa pihak, yaitu 1. Bagi Penulis

a. Menambah wawasan mengenai peran kepemimpinan transformasional kepala sekolah dan kinerja guru.

2. Bagi Pihak Lain

a. Memperoleh informasi mengenai pengertian, tujuan kepemimpinan transformasional kepala sekolah serta pengertian kinerja guru.

b. Menjadi referensi ilmiah untuk penulisan yang relevan.

(23)

9 BAB II

KAJIAN TEORETIK

A. Kepemimpinan Transformasional 1. Pengertian Kepemimpinan

Kepemimpinan sangat diperlukan dalam sebuah organisasi, seperti halnya organisasi sekolah. Sekolah disebut sebagai suatu organisasi karena di dalamnya terdapat unsur manusia yang saling bekerjasama untuk mencapai tujuan yakni tujuan pendidikan. Unsur kelompok yang bekerja sama dalam organisasi sekolah meliputi kepala sekolah, kelompok guru, kelompok karyawan dan kelompok siswa. Kepemimpinan adalah proses mempengaruhi sekelompok individu untuk mencapai tujuan bersama (Northouse, 2013: 5). Pemimpin yang baik adalah yang mampu mempengaruhi para bawahan untuk mencapai tujuan organisasi.

Kepemimpinan memiliki arti yang sangat luas, namun dalam penelitian ini kepemimpinan yang dimaksud adalah kemampuan memberi pengaruh baik kepada bawahan dalam mencapai tujuan. Artinya pemimpin dianggap lebih baik dari pengikutnya dan dianggap mampu mempengaruhi bawahannya untuk melakukan pekerjaan yang berhubungan dengan pencapaian tujuan. Danim (2010: 6) mengatakan kepemimpinan adalah setiap tindakan yang dilakukan oleh individu atau kelompok untuk mengkoordinasi dan memberi arah kepada individu atau kelompok lain yang

(24)

bergabung dalam wadah tertentu untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya.

Wahjosumidjo (2001: 134) mengatakan bahwa seorang atau mereka yang bertanggung jawab atau diberi tugas untuk memimpin, dalam hal ini adalah kepala sekolah. Dengan demikian kepemimpinan di sekolah terjadi karena ada hubungan, yakni “antara kepala sekolah sebagai orang yang bertanggung jawab untuk memimpin dengan kelompok-kelompok guru, tenaga administratif, orang tua siswa dan para siswa, kelompok yang di pimpin” (Wahjosumidjo, 2001: 135)

Dengan demikian dapat disimpulkan kepemimpinan adalah kemampuan seseorang untuk membimbing dan mempengaruhi orang lain agar dapat bekerja sama dengan baik guna mewujudkan tujuan bersama yang sudah ditetapkan serta bertanggung jawab atas tugasnya dalam memimpin. Kepemimpinan kepala sekolah dapat diartikan sebagai kemampuan seorang guru untuk memimpin sekolah dalam membimbing serta memberikan contoh yang baik dalam membimbing bawahannya serta dapat mempengaruhi bawahannya agar dapat bekerja sama dengan baik dalam mencapai tujuan pendidikan yaitu meningkatkan kualitas pendidikan.

2. Faktor Kepemimpinan

Danim (2010: 11) menyatakan kepemimpinan merupakan fenomena unik, meski kehadirannya tidak pernah di area yang kosong sudah diterima secara universal. Kepemimpinan sering diberi makna sebagai derajat

(25)

keberpengaruhan, sedangkan pemimpin adalah orang yang paling potensial memberi pengaruh. Berikut ini empat faktor kepemimpinan menurut Danim (2010: 11):

1. Pemimpin

Pemimpin harus memiliki pemahaman yang jujur mengenai siapa dirinya sendiri. Kejujuran itu mahal karena harus mengombinasikan apa yang dikatakan dan apa yang diperbuat, apa yang tertuang dalam dokumen resmi dengan apa yang benar-benar nyata di balik dokumen itu, apa yang nampak dipermukaan dengan apa yang tersembunyi di balik layar, apa yang diketahui dengan apa yang dikomunikasikan. Klaim sukses seorang pemimpin sejati bukan berasal dari dirinya, melainkan menurut pengakuan pengikut atau masyarakat.

2. Pengikut

Berbeda pengikut berbeda pula karakternya,. Dengan demikian pengikut yang berbeda memerlukan gaya kepemimpinan yang berbeda pula. Seorang pemimpin harus mengenal orang-orang yang dipimpin atau pengikutnya.

3. Situasi

Kepemimpinan tidak berada pada situasi yang kosong. Dia selalu berada dalam situasi, meski nyaris semua situasi berbeda. Apa yang efektif di lakukan oleh pimpinan dalam situasi tidak akan selalu, bahkan hampir pasti tidak efektif dalam situasi lain. Disinilah esensi pemimpin memerlukan kecerdasan adversial, yaitu kemampuan diri untuk cepat

(26)

keluar dari situasi sulit dengan tindakan yang benar atau beresiko paling kecil.

4. Komunikasi

Pemimpin yang baik adalah komunikator yang andal. Sebagian besar waktu yang terpakai untuk kerja kepemimpinan adalah berkomunikasi, baik internal maupun eksternal. Aktivitas memimpin dilakukan melalui komunikasi dua arah. Komunikasi itu bisa verbal bisa juga nonverbal.

3. Bentuk atau Gaya Kepemimpinan

Kepemimpinan memiliki banyak gaya kepemimpinan dan jenisnya semua tergantung dari seorang pemimpin itu sendiri. Menurut beberapa ahli gaya kepemipinan adalah sebagai berikut:

a) Robbins (2006) mengidentifikasi empat gaya atau perilaku pemimpin dalam menghadapi pengikutnya, yaitu:

1. Kepemimpinan Karismatik

Seorang pemimpin karismatik dengan menggunakan pesona dan kemampuannya untuk membuat orang lain merasa penting, menggunakan kata-kata cerdas untuk mengatasi masalah dan mampu mengumpulkan banyak pengagum. Orang-orang tertarik ke arahnya dan dengan demikian ingin bekerja untuknya.

(27)

2. Kepemimpinan Transaksional

Kepemimpinan ini bekerja pada prinsip bahwa mereka menandatangani kontrak untuk berpartisipasi dalam proyek tertentu, mereka mengikuti semua keputusan pemimpin sebagai otoritas tertinggi. Jika kinerja bawahan baik, mereka akan dihargai dan jika kinerja mereka di bawah standar yang diharapkan mereka akan terkena sanksi sesuai kontrak tertulis.

3. Kepemimpinan Transformasional

Pemimpin menjual visinya kepada bawahanya dengan cara yang paling menarik dalam kepemimpinan dan organisasi yang bersifat transformasional memotivasi bawahannya dalam bekerja untuk tugas yang diberikan dengan antusiasme yang besar. Pemimpin benar-benar peduli untuk kesejahteraan anak buahnya dan ingin mereka untuk mempelajari hal-hal baru sesuai visinya.

4. Kepemimpinan Melayani

Pemimpin bertindak sebagai seorang yang membantu orang lain untuk tumbuh. Dengan bertindak sebagai pemimpin yang melayani, pemimpin memberikan bawahannya kebebasan untuk tumbuh, memelihara semangat mereka dan juga komitmen secara keseluruhan.

b) Sedangkan menurut Hasibuan (2007) ada dua gaya atau perilaku pemimpin dalam menghadapi pengikutnya, yaitu:

(28)

1. Kepemimpinan Otokratis

Dalam gaya otokratis, pengambilan keputusan adalah hak prerogatif dari pemimpin. Jadi semuanya langsung dilakukan dan ditentukan oleh pemimpin itu sendiri tanpa adanya masukan dari siapapun.

2. Kepemimpinan Partisipatif

Gaya partisipatif mengarah ke pengembangan dan loyalitas para bawahan kepada pemimpin karena pemimpin membawa mereka ke dalam pertimbangan penuh menggunakan keterampilan dan pengetahuan mereka dan mengambil masukan mereka sebelum tiba pada suatu keputusan.

Dari berbagai bentuk atau gaya kepemimpinan dalam organisasi maka dalam penulisan yang digunakan penulis adalah kepemimpinan transformasional. Kepemimpinan transformasional menurut Avolio dan Bass (1994) merupakan interaksi antara pemimpin dan karyawan yang ditandai oleh pengaruh pemimpin untuk mengubah perilaku karyawan menjadi seorang yang merasa mampu dan bermotivasi tinggi dan berupaya mencapai prestasi tinggi dan bermutu. Kusumah (2014) mengatakan bahwa kepemimpinan transformasional kepala sekolah berpengaruh positif terhadap organisasi. Kepemimpinan transformasional berarti kepemimpinan yang menumbuhkan ekspektasi akan performa yang tinggi bukan semata- mata hanya menghabiskan waktu dalam menggerakkan pengikutnya.

Demikian pula, Leithwood (dalam Deria 1994) memperlihatkan bahwa kepemimpinan transformasional bisa menggerakkan para pengikutnya

(29)

melampaui performa yang diharapkan. Kepemimpinan transformasional tidak hanya mengandalkan kharisma personalnya, tapi harus mencoba untuk memberdayakan staffnya serta melaksanakan fungsi-fungsi kepemimpinan.

4. Kepemimpinan Transformasional

Kepemimpinan transformasional menurut para ahli didefinisikan sebagai gaya kepemimpinan yang mengutamakan pemberian kesempatan yang mendorong semua unsur atau elemen sekolah (guru, siswa, pegawai, orang tua siswa, masyarakat dan lainnya) untuk bekerja atas dasar nilai luhur, sehingga semua unsur yang ada di sekolah bersedia berpartisipasi secara optimal dalam mencapai visi sekolah (Firman: 2008).

Burns (Danim, 2010:95) mengatakan beberapa jenis pemimpin yang bergaya transaksional dan transformasional, perbedaan antara pemimpin transaksional dan pemimpin transformasional, untuk jenis kepemimpinan transaksional antara lain:

a) Opinion leaders atau pemimpin opini, yaitu pemimpin dengan kemampuan untuk mempengaruhi opini publik.

b) Bureaucratic leaders atau pemimpin birokrasi, dimana posisi yang memegang kekuasaan atas pengikut mereka.

c) Party leaders atau pemimpin partai, yaitu kepemimpinan politik yang bekerja di belakang layar.

(30)

d) Executive leaders atau pemimpin eksekutif, yaitu sering digambarkan sebagai presiden sebuah negara, tidak harus terikat dengan partai politik atau legislator.

Sedangkan untuk jenis kepemimpinan tranformasional, yaitu:

1) Intelellectual leaders atau pemimpin intelektual, yaitu pemimpin dengan kemampuan mentransformasi masyarakat melalui kejelasan visi.

2) Reform leaders atau pemimpin reformasi, yaitu pemimpin bagi perubahan masyarakat dengan mengatasi satu masalah moral.

3) Revolutionary leaders atau pemimpin revolusioner, yaitu pemimpin yang membawa perubahan dalam masyarakat setempat melalui transformasional.

4) Charismatic leaders atau pemimpin kharismatik, yaitu pemimpin yang menggunakan pesona pribadi untuk membawa perubahan.

Danim (2005:56) mengatakan dengan melalui model kepemimpinan transformasional, segala potensi organisasi pembelajaran dapat ditransformasionalkan menjadi aktual dalam rangka mencapai tujuan lembaga. Di sisi lain hal ini akan menjadi berbahaya, jika ia bekerja semata- mata karena keinginan untuk memperoleh keuntungan atau setiap pekerjaan yang akan maupun yang sedang dilakukan dilihat dari aspek untung ruginya saja. Pemimpin transformasional cenderung memanusiakan manusia melalui berbagai cara memotivasi dan memberdayakan fungsi dan peran karyawan untuk mengembangkan organisasi dan pengembangan diri menuju aktualisasi diri yang nyata (Wutun, 2001: 351).

(31)

Dari berbagai pengertian kepemimpinan transformasional dapat ditarik kesimpulan bahwa kepemimpinan transformasional adalah kemampuan seorang pemimpin dalam mempengaruhi pengikutnya, mengutamakan pemberian kesempatan kepada pengikutnya dan mendorong perubahan ke arah kepentingan bersama. Kepemimpin trasformasional tidak hanya memiliki visi, tetapi memiliki kemampuan untuk membuat pengikutnya menerima visi dan meningkatkan komitmen untuk merealisasikan visi yang ada.

5. Dimensi-dimensi Kepemimpinan Transformasional

Leithwood (Deria 2017) mengatakan ada delapan dimensi kepemimpinan Transformasional

a) Mengembangkan visi bersama bagi sekolah

Perilaku pemimpin yang dimaksudkan untuk mengembangkan, mengartikulasi dan menyalurkan visi serta membuat mereka memahami dan melakukan visi tersebut

b) Membangun konsensus tentang tujuan prioritas sekolah

Perilaku yang mampu mendorong terjadinya kerja sama di antara para staff dan bekerjasama untuk mencapai tujuan

c) Menciptakan ekspektasi kinerja yang tinggi

Perilaku yang menunjukkan ekspektasi yang tinggi terhadap para staf f supaya mampu bekerja secara inovatif serta profesional demi mendapatkan hasil maksimal.

(32)

d) Menjadi panutan atau model

Perilaku dan tindakan kepala sekolah bisa menjadi teladan atau contoh yang baik untuk para staff.

e) Memberi support atau dukungan

Perilaku kepala sekolah dengan memahami kemampuan dan ketertarikan para staff serta mencari tahu pemahaman para guru terhadap suatu masalah serta memberi penghargaan atas kerja keras mereka.

f) Menyediakan Stimulasi intelektual

Perilaku kepala sekolah mengajak para staff untuk mencoba sesuatu yang baru serta mengkaji kembali asumsi-asumsi tentang pekerjaan mereka dan memikirkan kembali bagaimana mewujudkan asumsi tersebut.

g) Perilaku kultur sekolah

Perilaku kepemimpinan kepala sekolah yang mampu membangun norma sekolah, nilai, keyakinan dan sikap yang mendorong terciptanya sikap saling percaya dan perhatian antara para staff.

h) Membangun struktur kolaborasi

Perilaku kepemimpinan kepala sekolah dengan memberi kesempatan kepada para guru dalam pengambilan keputusan terkait tugas-tugas guru dan memberitahukan permasalahan yang terdapat di sekolah tersebut.

B. Peran Kepala Sekolah

Saat ini pendidikan di Indonesia menjadi salah satu topik pembicaraan yang cukup mendapat perhatian baik dari pemerintah maupun masyarakat ,

(33)

pendidikan dipandang sebagai salah satu tempat utama pengembangan bagi para peserta didik. Kepala sekolah merupakan salah satu komponen pendidikan yang sangat berperan dalam meningkatkan kualitas pendidikan. Seperti yang diungkapkan Supriadi (Mulyasa: 25) bahwa: “Erat hubungan antara mutu kepala sekolah dengan berbagai aspek kehidupan sekolah seperti disiplin, iklim budaya sekolah, dan menurun perilaku nakal anak didik”. Selain itu, kepala sekolah bertanggung jawab atas manajemen pendidikan secara mikro, yang secara langsung berkaitan dengan proses pembelajaran di sekolah.

Sebagaimana yang tertulis dalam bab VI Permendikbud pasal 15 nomor 6 tahun 2018 bahwa: “Beban kepala sekolah sepenuhnya melaksanakan tugas pokok manajerial, pengembangan kewirausahaan, dan supervisi kepada tenaga pendidik”. Kemudian mengembangkan sekolah dan meningkatkan mutu sekolah berdasarkan delapan standar nasional pendidikan.

Apa yang diungkapkan di atas menjadi lebih penting, sejalan dengan semakin kompleks tuntutan tugas kepala sekolah, yang menghendaki dukungan kinerja yang semakin efektif dan efisien. Wahjosumidjo (1995: 81) mengungkapkan bahwa kepala sekolah yang berhasil apabila mereka memahami keadaan sekolah sebagai organisasi yang kompleks dan unik, serta mampu melaksanakan peran kepala sekolah sebagai seseorang yang diberi tanggung jawab untuk memimpin sekolah.

Mulyasa (2009:98-122) mengacu pada ketetapan Mendiknas tentang peran seorang kepala sekolah, ia pun mengembangkan sebuah paradigma baru tentang peran kepala sekolah, yang disingkatnya dengan EMASLIM. Kepala

(34)

sekolah harus berfungsi sebagai educator, manager, administrator, supervisor, leader, innovator, dan motivator.

a) Kepala Sekolah Sebagai Edukator

Dalam melaksanakan fungsinya sebagai edukator, kepala sekolah harus memiliki strategi yang tepat untuk meningkatkan profesionalisme tenaga kependidkan di sekolah, menciptakan iklim sekolah kondusif, memberikan nasihat kepada warga sekolah, memberikan dorongan kepada seluruh tenaga pendidik, serta melaksanakan model pembelajaran yang menarik. Kepala sekolah harus berusaha menanamkan, memajukan, meningkatkan sedikitnya empat macam nilai, yakni pembinaan, mental, moral, fisik, dan artistik.

b) Kepala sekolah Sebagai Manajer

Manajemen adalah proses merencanakan, mengorganisasikan, memimpin dan mengendalika usaha anggota-anggota dalam organisasi serta pendayagunaan seluruh sumber daya organisasi dalam rangka pencapaian tujuan yang telah ditetapkan. Wahjosumidjo (2002: 94) tiga hal yang perlu diperhatikan kepala sekolah sebagai manajer sebagaimana dengan maksud tersebut yaitu proses, pendayagunaan seluruh sumber organisasi dan pencapaian tujuan organisasi yang telah ditetapkan.

1. Proses adalah suatu cara yang sistematik dalam mengerjakan sesuatu.

2. Sumber daya suatu sekolah, meliputi dana, perlengkapan, informasi, maupun sumber daya manusia, yang masing-masing berfungsi sebagai pemikir, perencana, pelaku, serta pendukung untuk mencapai tujuan.

(35)

3. Mencapai tujuan organisasi yang telah ditetapkan sebelumnya. Bahwa kepala sekolah berusaha mencapai tujuan akhir yang bersifat khusus (specific ends). Tujuan akhir yang spesifik ini berbeda dengan organisasi

yang lain tujuan ini bersifat khusus dan unik.

Dalam rangka melaksanakan peran dan fungsinya sebagai manajer, kepala sekolah harus memiliki strategi yang tepat untuk memberdayakan tenaga kependidikan melalui kerjasama yang kooperatif, memberikan kesempatan kepada para tenaga pendidik untuk meningkatkan profesional, dan mendorong keterlibatan seluruh tenaga kependidikan dalam berbagai kegiatan yang menunjang program sekolah.

c) Kepala Sekolah Sebagai Administrator

Kepala sekolah sebagai administrator memiliki hubungan yang erat dengan berbagai aktivitas pengelolaan administrasi yang bersifat pencatatan, penyusunan, dan pendokumenan seluruh program sekolah. Secara spesifik kepala sekolah harus memiliki kemampuan mengelola kurikulum, mengelola administrasi peserta didik, mengelola administrasi pendid ik, administrasi sarana prasarana, administrasi kearsipan dan mengelola administrasi keuangan.

d) Kepala Sekolah Sebagai Supervisor

Supervisi merupakan suatu proses yang dirancang oleh kepala sekolah untuk membantu para guru dalam mempelajari tugas sehari-hari dari sekolah agar dapat menggunakan pengetahuan dan kemampuannya untuk memberikan layanan yang lebih baik pada orang tua murid, peserta didik

(36)

dan sekolah. Pengawas dan pengendalian yang dilakukan kepala sekolah terhadap tenaga kependidikannya khususnya guru, bertujuan untuk meningkatkan kemampuan profesional guru dan meningkatkan kualitas pembelajaran melalui pembeljaran yang efektif.

e) Kepala Sekolah Sebagai Leader

Kepala sekolah sebagai leader harus mampu memberikan petunjuk dan pengawasan, meningkatkan kemampuan tenaga pendidik, membuka komunikasi dua arah, dan mendelegasikan tugas. Wahjosumidjo (2002: 110) mengemukakan bahwa kepala sekolah sebagai leader harus memiliki karakter khusus yang mencakup kepribadian, keahlian dasar, pengalaman dan pengetahuan profesional, serta pengetahuan administrasi dan pengawasan. Kemampuan yang harus diwujudkan kepala sekolah sebagai leader dapat dianalisis dari kepribadian, pengetahuan terhadap tenaga

kependidikan, visi dan misi sekolah. Kemampuan mengambil keputusan dan kemampuan berkomunikasi.

f) Kepala Sekolah sebagai Innovator

Dalam rangka melakukan peran dan fungsinya sebagai innovator, kepala sekolah harus memiliki strategi yang tepat untuk menjalin hubungan yang harmonis dengan lingkungan, mencari gagasan baru, mengintegrasikan setiap kegiatan, memberikan teladan kepada seluruh tenaga kependidikan di sekolah, dan mengembangkan model-model pembelajaran yang inovatif.

Kepala sekolah sebagai innovator akan tercermin dari cara ia melakukan

(37)

pekerjaannya secara konstruktif, kreatif, delegatif, rasional, dan objektif, pragmatis, keteladanan, serta adaptable dan fleksibel.

g) Kepala Sekolah Sebagai Motivator

Sebagai motivator, kepala sekolah harus memiliki strategi yang tepat untuk memberikan motivasi kepada para tenaga pendidikan dalam melakukan berbagai tugas fungsinya. Motivasi ini dapat ditumbuhkan melalui pengaturan lingkungan fisik, pengaturan suasana kerja, disiplin, dorongan, penghargaan secara efektif, dan penyediaan berbagai sumber belajar melalui pengembangan pusat sumber belajar. Wahjosumidjo menambahkan fungsi-fungsi seorang pemimpin adalah:

1. Dalam menghadapi warga sekolah yang beragam, kepala sekolah harus bertindak arif, bijaksana dan adil. Dengan kata lain, kepala sekolah harus dapat memperlakukan semua warga sekolah sama sehingga dapat menciptakan semangat kebersamaan diantara guru, staff, dan para siswa (arbitrating);

2. Kepala sekolah memberi saran atau sugesti, anjuran sehingga dengan saran tersebut selalu dapat memelihara dan meningkatkan semangat, rela berkorban, rasa kebersamaan, dalam melaksanakan tugas masing-masing (suggesting);

3. Kepala sekolah memenuhi atau menyediakan dukungan yang diperlukan oleh para guru, staff, dan siswa, baik berupa dana, peralatan, waktu, maupun suasana yang mendukung (supplying objectives);

(38)

4. Kepala sekolah harus mampu memunculkan dan menggerakkan semangat guru, staff, dan siswa dalam pencapaian tujuan yang telah ditetapkan (catalyzing);

5. Kepala sekolah harus dapat menciptakan rasa aman di dalam lingkungan sekolah sehingga para guru, staff, dan siswa dalam melaksanakan tugasnya merasa aman, bebas dari perasaan gelisah, kekhawatiran, serta memperoleh jaminan keamanan dari kepala sekolah (providing security);

6. Kepala sekolah harus menjaga integritasnya sebagai orang yang menjadi pusat perhatian karena akan menjadi orang yang mewakili kehidupan sekolah di mana dan dalam kesempatan apapun (representating);

7. Kepala sekolah adalah sumber semangat bagi para guru, staff, dan siswa sehingga mereka memahami dan menerima tujuan sekolah secara antusias, bekerja secara bertanggung jawab ke arah tercapainya tujuan sekolah (inspiring);

8. Kepala sekolah harus dapat menghargai apapun yang dihasilkan oleh bawahannya (praising);

Menyadari akan fungsinya dan perannya dalam mengembangkan kinerja, setiap kepala sekolah dihadapkan pada tantangan untuk melaksanakan pengembangan pendidikan secara terarah, berencana dan berkesinambungan untuk meningkatkan kinerja dan kualitas pendidikan.

Kepala sekolah tidak menjadi satu-satunya penguasa di sekolah, jika kepala sekolah menjadi satu-satunya penguasa, tidak mungkin kepala sekolah mampu mengoptimalkan dan menyelesaikan tugas-tugas institusionalnya.

(39)

Untuk mengoptimalkan tugas pokok dan fungsinya, kepala sekolah harus mampu bekerjasama dengan para guru dan staff yang dapat bekerja sesuai bidang dan pembagian kerja yang ada, sehingga tujuan pendidikan dapat tercapai.

C. Kinerja Guru

1. Pengertian Kinerja Guru

Endarmoko (2009: 325) mengatakan bahwa kinerja dapat diartikan dengan kemampuan, penampilan, prestasi maupun kapasitas. Pengertian kinerja sering diidentikkan dengan prestasi kerja karena ada persamaan antara kinerja dengan prestasi kerja. Kinerja lebih sering disebut dengan prestasi yang merupakan ‘hasil’ atau ‘apa yang keluar’ (outcomes) dari sebuah pekerjaan dan kontribusi sumber d aya manusia terhadap organisasi (Supardi, 2013). Setiap individu yang diberi tugas atau kepercayaan untuk bekerja pada suatu organisasi diharapkan mampu menunjukkan kinerja yang baik serta memberikan kontribusi yang maksimal terhadap pencapaian tujuan organisasi tersebut. Kinerja merupakan suatu kegiatan yang dilakukan untuk melaksanakan, menyelesaikan tugas dan tanggung jawab sesuai dengan harapan dan tujuan yang telah ditetapkan (Supardi, 2014: 45).

Kinerja sering disebut dengan prestasi yang merupakan hasil atau apa yang keluar (outcomes) dari sebuah pekerjaan dan kontribusi sumber daya manusia terhadap organisasi.

(40)

Menurut Undang-Undang No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen Pasal 1 ayat (1), guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan usia dini, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah. Sagala (2013: 6) mengatakan guru sebagai pendidik adalah tokoh yang paling banyak bergaul dan berinteraksi dengan para murid dibandingkan dengan para personel lainnya di sekolah. Guru bertugas merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, melakukan bimbingan dan pelatihan, melakukan penelitian dan pengkajian, dan membuka komunikasi dengan masyarakat.

Kinerja guru dapat dilihat saat guru melaksanakan kegiatan belajar mengajar di kelas termasuk persiapan baik dalam bentuk program semester maupun persiapan mengajar di kelas. Berkenaan dengan kepentingan penilaian terhadap kinerja guru. Georgia Departemen of Education telah mengembangkan teacher performance assessment instrument yang kemudian dimodifikasi oleh Depdiknas menjadi Alat Penilaian Kemampuan Guru (APKG). Alat penilaian kemampuan guru, meliputi: (1) rencana pembelajaran (teaching plans and materials) atau disebut dengann RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran), (2) prosedur pembelajaran (classroom procedure), dan (3) hubungan antar pribadi (interpersonal skill).

Dengan demikian dapat disimpulkan kinerja guru adalah kemampuan kerja seorang guru dan hasil pekerjaan atau prestasi kerja yang dilakukan oleh guru berdasarkan kemampuan mengelola kegiatan belajar mengajar,

(41)

yang meliputi perencanaan pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran dan evaluasi pembelajaran.

2. Faktor- faktor yang Mempengaruhi Kinerja Guru

Jelantik (2015) menyatakan bahwa faktor yang memberikan pengaruh pada kinerja guru adalah motivasi, penghargaan, dan lingkungan kerja.

Pertama, motivasi kerja guru adalah proses yang dilakukan untuk menggerakkan guru agar perilaku mereka dapat diarahkan pada upaya- upaya yang nyata untuk mencapai tujuan yang ditetapkan. Motivasi kerja guru dapat berupa tanggung jawab guru dalam melaksanakan tugasnya, prestasi yang diraih, pengembangan diri, dan kemandirian dalam bertindak.

Kedua, penghargaan adalah proses timbal balik antara prestasi kerja dengan hasil yang didapatkan seseorang baik dalam hubungannya dengan penghargaan materi maupun penghargaan dalam bentuk penghormatan.

Penghargaan materi dapat berupa intensif beasiswa untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi bagi guru yang berhasil meraih prestasi, memberikan tunjangan profesi yang layak, memberikan THR, dan lain sebagainya. Sedangkan penghargaan penghormatan dapat dilakukan dengan memberikan kesempatan kepada guru berprestasi untuk melakukan tatap muka dengan pejabat terkait.

Ketiga, lingkungan kerja yang terdapat di dalam kelas dan di luar sekolah. Seorang guru akan merasa tidak nyaman apabila menjalankan tugas dengan baik jika suasana di dalam kelas kurang mendukung, misalnya

(42)

ventilasi ruangan yang tidak optimal dapat menyebabkan ruang kelas menjadi pengap. Sedangkan lingkungan luar berkaitan dengan terciptanya hubungan yang harmonis antara sekolah dengan lingkungan sekitarnya.

Guru akan menjalankan tugasnya dengan maksimal apabila lingkungan di sekitar mendukung serta dukungan dari pihak-pihak terkait.

Penjelasan lain mengenai faktor yang berpengaruh terhadap kinerja dijelaskan oleh Mulyasa. Menurut Mulyasa (2007:227) sedikitnya terdapat sepuluh faktor yang dapat meningkatkan kinerja guru, bukan faktor internal atau eksternal. Faktor-faktor tersebut adalah sebagai dorongan untuk bekerja, tanggung jawab terhadap tugas, minat terhadap tugas, penghargaan terhadap tugas, peluang untuk berkembang, perhatian kepala sekolah atau pemimpin, hubungan interpersonal dengan semua guru, MGMP dan KKG, kelompok diskusi bimbingan dan layanan perpustakaan.

Berdasarkan penjelasan yang dikemukakan di atas, faktor-faktor yang dapat menentukan tingkat kinerja guru dapat disimpulkan yaitu: (1) tingkat penghargaan (reward system), (2) lingkungan kerja, (3) jabatan guru, (4) motivasi atau semangat kerja, (5) hubungan interpersonal dengan semua guru, (6) keterampilan, (7) karakter pribadi, (8) kepemimpinan.

3. Dimensi- dimensi Kinerja Guru

Penelitian yang dilakukan Amin, Shah, Ayaz dan Atta (2013) menyatakan ada empat dimensi kinerja guru.

(43)

a) Keterampilan mengajar

Bagaimana cara mengajar guru dapat memuaskan peserta didik dengan keterampilan yang dimiliki seperti gaya mengajar serta kualitas pengajaran yang di lakukan oleh guru.

b) Keterampilan manajemen

Selain terampilan dalam mengajar kinerja guru juga berasal dari bagaimana kemampuan guru tersebut dalam mencapai tujuan dari tugas yang diberikan oleh kepala sekolah dan departemen.

c) Kedisiplinan dan keteraturan

Yaitu kinerja guru juga dapat dilihat dari kedisiplinan dalam mengelola kelas, meningkatkan motivasi dalam pencapaian prestasi siswa, serta kinerja guru yang dilakukan secara reguler atau teratur.

d) Hubungan Interpersonal

Yaitu bagaimana interaksi guru yang dilakukan dengan siswa, orang tua, rekan kerja, dan pejabat tinggi.

D. Peran Kepemimpinan Transformasional Kepala Sekolah dalam Mendorong Kinerja Guru

Kinerja guru ditentukan oleh banyak faktor dan salah satunya yaitu kepemimpinan transformasional kepala sekolah. Keberhasilan sekolah dalam melaksanakan segala aspek yang telah direncanakan perlu didukung oleh pemimpin yang dapat mengembangkan visi bersama bagi sekolah. Bahkan tidak hanya mampu mengembangkan visi bersama namun juga harus bisa

(44)

membuat para bawahan memahami dan melakukan visi tersebut. Pemimpin juga harus memiliki perilaku yang mampu mendorong terjadi kerjasama yang baik di antara para staff sehingga dapat mencapai tujuan yang sudah ditetapkan. Selain itu, perilaku dan tindakan pemimpin hendaknya bisa menjadi teladan dan contoh bagi para staff.

Pemimpin transformasional memiliki beberapa karakteristik diantaranya proaktif, mampu meningkatkan kesadaran para pengikutnya akan kepentingan- kepentingan kolektif, dan membantu pengikutnya meraih hasil-hasil performa yang luar biasa tinggi. Selain itu, pemimpin transformasional dapat menumbuhkan kepercayaan dan penghormatan pada para pengikut sekaligus memberikan landasan agar para bawahan dapat menerima perubahan- perubahan gagasan ataupun prinsip terhadap cara-cara individu dan organisasi dalam mengerjakan pekerjaan mereka. Pemimpin menunjukkan standar perilaku etis dan moral yang tinggi, berbagi resiko bersama dengan para pengikut di dalam peraturan dan pencapaian tujuan, serta mengutamakan kepentingan umum dibandingkan kepentingan pribadi dan memanfaatkan kekuasaan untuk menggerakkan individu ataupun kelompok menuju pencapaian visi, misi, dan perjuangan mereka, namun tidak sekalipun demi keuntungan pribadi.

Kepemimpinan transformasional harus bisa memberikan contoh yang baik serta dapat memberikan makna dan tantangan bagi para pengikut dalam setiap perilakunya. Para pemimpin transformasional mendorong manusia dengan memberikan gambaran masa depan yang menarik dan optimis,

(45)

menekankan tujuan-tujuan yang ambisius, dan menciptakan visi-visi ideal bagi organisasi sekaligus berkomunikasi secara jelas dengan para pengikut bahwa visinya bisa diwujudkan. Dari sinilah, semangat tim, antusias, optimis, komitmen tujuan, dan visi bersama muncul d an menyebar dalam kelompok kerja atau organisasi sehingga kinerja para setiap pengikut bisa meningkat dan mencapai tujuan yang sudah ditentukan. Hal ini didukung penelitian yang dilakukan Werang (2014) yang menyatakan kepemimpinan transformasional kepala sekolah berpengaruh terhadap kinerja guru.

Para guru dituntut untuk berpikir kreatif dan inovatif sehingga mampu menyeimbangi dengan kemajuan zaman. Pemimpin transformasional harus bisa merangsang para pengikutnya agar inovatif dan kreatif tanpa meninggalkan asumsi, tradisi, dan kepercayaan lama. Misalkan kepala sekolah membimbing para guru untuk mengidentifikasi masalah serta mendekati situasi-situasi lama dengan cara-cara baru. Sehingga para guru tertantang untuk berpikir secara kreatif, merancang prosed ur, dan program baru, dan dapat memecahkan masalah-masalah yang sulit, memacu untuk terus belajar serta menghapus keterpakuan pada cara-cara lama dalam mengerjakan segala sesuatu. Hal ini didukung oleh penelitian yang dilakukan Gumilar (2014) yang menyatakan bahwa ada hubungan positif kepemimpinan transformasional kepala sekolah terhadap kinerja mengajar guru. Pemimpin dapat menahan diri dan menerima kritikan dari luar yang tertuju pada anggota-anggota dan idividu- individu atas kesalahan yang dilakukan.

(46)

Pemimpin transformasional juga harus bisa mempertimbangkan setiap individu. Kepala sekolah memberikan perhatian khusus pada masing-masing kebutuhan guru akan prestasi dan pencapaian yang telah dicapai. Tujuan dari pertimbangan pada setiap individu untuk melihat kebutuhan serta potensi yang ada di dalam diri para guru sehingga dapat dikembangkan dan meningkatkan kinerja guru tersebut. Dengan memanfaatkan ilmu pengetahuan yang dimiliki serta bertindak sebagai pembimbing, kepala sekolah membatu para guru dan rekan kerja yang lain untuk menuju tingkat potensi yang semakin tinggi dan dapat mempertanggung jawabkan atas perkembangan atau potensi yang dimiliki. Penciptaan kesempatan belajar yang baru di dalam iklim yang mendukung, pengakuan serta penerimaan bermacam perbedaan kebutuhan dan nilai pada setiap individu, penggunaan komunikasi dua arah, dan interaksi dengan orang lain secara pribadi merupakan perilaku yang diperlukan untuk mewujudkan pertimbangan setiap individu. Pemimpin yang memiliki pertimbangan individual akan menyimak secara aktif dan efektif.

Dengan berbagai upaya tersebut diharapkan para guru dapat mempersembahkan kinerjanya melebihi apa yang diharapkan oleh pemimpin sekolah. Dengan demikian kepemimpinan transformasional kepala sekolah tentunya juga akan berdampak pada perkembangan kinerja organisasi sekolah yang dipimpinnya antara lain dengan memberikan kesempatan kepada para guru dalam pengambilan keputusan terkait tugas-tugasnya yang menurut para guru hal tersebut memberi sumbangsih pada perkembangan belajar peserta

(47)

didik misalnya melalui metode pembelajaran yang di gunakan guru dalam proses belajar mengajar.

(48)

34 BAB III

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

1. Kepemimpinan transformasional adalah kemampuan seorang pemimpin dalam mempengaruhi pengikutnya, mengutamakan pemberian kesempatan kepada pengikutnya. Kepemimpin trasformasional tidak hanya memiliki visi, tetapi memiliki kemampuan untuk membuat pengikutnya menerima visi dan meningkatkan komitmen untuk merealisasikan visi yang ada. Selain memiliki kemampuan dalam mempengaruhi pengikutnya dengan mengutamakan pemberian kesempatan kepada para guru kepemimpinan transformasional juga memberikan kesempatan kepada para bawahannya untuk mengembangkan kemampuan yang dimiliki sehingga dapat meningkatkan kinerjanya dan mendorong perubahan ke arah kepentingan bersama.

2. Kinerja guru adalah kemampuan kerja seorang guru dan hasil pekerjaan atau prestasi kerja yang dilakukan oleh guru berdasarkan kemampuan mengelola kegiatan belajar mengajar, yang meliputi perencanaan pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran dan evaluasi pembelajaran. Kinerja guru dapat dilihat saat guru melaksanakan kegiatan belajar mengajar di kelas termasuk persiapan baik dalam bentuk program semester maupun persiapan mengajar di kelas.

(49)

3. Kepemimpinan transformasional kepala sekolah memiliki peran penting dalam mendorong serta meningkatkan kinerja guru, kepala sekolah memiliki tanggung jawab dalam mendorong kinerja guru melalui pengembangan visi bersama bagi sekolah, mampu mendorong agar terjadi kerja sama yang baik dalam lingkungan sekolah baik dengan para guru, staff dan peserta didik, menciptakan ekspektasi kerja yang tinggi, serta dapat menjadi model atau panutan bagi warga sekolah, memberikan support dan dukungan kepada para staff serta memiliki kemampuan mencari tahu permasalahan yang sedang dihadapi oleh para guru serta bisa memberi penghargaan atas kerja keras para staff, serta dapat menciptakann kebiasaan yang baik dalam sekolah sehingga mendorong terciptanya rasa saling percaya dan peduli antar para staff dan kepala sekolah memberikan kesempatan kepada para guru dalam pengambilan keputusan guna meningkatkan kinerjannya.

Kinerja guru akan meningkat jika guru mendapat penghargaan (reward system) atas pencapaian yang dilakukan serta lingkungan kerja yang mendukung, mendapatkan motivasi atau semangat kerja, terjalin dengan baik hubungan interpersonal dengan semua guru, memiliki keterampilan yang dapat mengembangkan bakatnya di dukung dengan kepemimpinan yang dapat meningkatkan kualitas kerja. Oleh karena itu tugas kepala sekolah selaku manager adalah melakukan penilaian terhadap kinerja guru. Penilaian ini penting untuk dilakukan mengingat fungsinya sebagai alat motivasi atau teladan bagi pimpinan kepada guru maupun bagi guru itu sendiri.

(50)

B. SARAN

Berdasarkan kesimpulan di atas, maka penulis membuat saran sebagai berikut:

1. Kepala sekolah diharapkan dapat menyadari dan tanggung jawab atas tugas yang sudah diemban, sehingga dapat menjalankan tugas dan fungsi kepemimpinan secara profesional serta berorientasi pada kemajuan pendidikan alangkah baiknya Kepala Sekolah lebih meningkatkan kepemimpinan transformasional sehingga para guru dapat lebih meningkatkan kinerjanya. Kepala sekolah juga perlu mengupayakan terciptanya relasi yang baik dengan para guru, staff, peserta didik, sehingga akan tercipta lingkungan sekolah yang kondusif demi terlaksananya kegiatan pembelajaran secara baik dan sesuai dengan tujuan pendidikan serta merencanakan pengembangan kompetensi bagi para guru dan peserta didik.

2. Guru diharapkan tidak cepat puas dengan ilmu yang sudah dimiliki, harus tetap berusaha meningkatkan kompetensinya guna menjadi guru yang profesional dan berkinerja yang baik (disiplin, jujur, dedikasi dan profesional). Guru diharapkan selalu mengupdate ilmu pengetahuannya karena kita ketahui ilmu pengetahuan selalu terus berkembang sesuai perkembangan zaman serta guru diharapkan lebih meningkatkan semangat dan motivasi dalam menjalankan tugas sebagai guru yang profesional maka alangkah baiknya guru lebih meningkatkan kinerjanya dan menjalin hubungan yang harmonis dengan kepala sekolah dan rekan kerjanya.

(51)

DAFTAR PUSTAKA

Azwar, Y. M. (2015). Pengaruh sertifikasi dan kinerja guru terhadap peningkatan hasil belajar siswa di SMP Negeri 2 Banda Aceh. Jurnal Administrasi Pendidikan. 3 (2), 144-145.

Danim, S.( 2010). Kepemimpinan Pendidikan. Bandung: Alfabeta

Djatmiko, E. Pengaruh kepemimpinan kepala sekolah dan sarana prasarana terhadap kinerja guru SMP Negeri Kota Semarang. Jurnal Fokus Ekonomi.

1, 19-30.

Jelantik, K. A. A. (2015). Menjadi Kepala Sekolah Yang Profesional: Panduan Menuju PKKS. Yogyakarta: Deepublish

Hastuti, W. Hasil kerjasama tim dan perbaikan berkesinambungan. Jurnal Riset Ekonomi dan Bisnis. 9.

Hoy, K.W, Cecil, Miskel. ADMINISTRASI PENDIDIKAN: Teori,Riset, dan Praktik. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Kadafi, M. Pentingnya kerjasama tim dan orientasi hasil terhadap kinerja karyawan. Jurnal Eksis. 6, 1440-1605.

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. (2017). Ikhtisar Data Pendidikan Tahun2016/2017. Jakarta: Depdikbud.

Kusuma, F (2014). Pengaruh Kepemimpinan Transformasional Kepala Sekolah, Kompensasi Terhadap Komitmen Organisasi. Skripsi. Universitas Pendidkan Indonesia, Bandung.

Leithwood, K. (1994). Leadership For School Restructing, Educatioal Administration Quarterly, 30(4): 507

Mulyasa, (2004). Menjadi Kepala Sekolah Profesional dalam Konteks Menyukseskan MBS dan KBK (cet.4). Bandung: Remaja Rosdakarya.

Northouse, P. (2013). Kepemimpinan: Teori Praktik (edisi keenam). Jakarta: PT.

Indeks.

Othiel, D. (2015). Kepemimpinan Transformasional Pada Pemimpin Organisasi Kemahasiswaan Universitas Sanata Dharma. Skripsi. Yogyakarta:

Universitas Sanata Dharma.

S. Husnaini Mailisa, Amir, Shabri. “Pengaruh gaya kepemimpinan, kerjasama tim, dan gaya komunikasi terhadap kepuasan kerja serta dampaknya terhadap kinerja pegawai pada sekretariat daerah kota sabang”. Jurnal Ilmu Manajemen Pascasarjana Universitas Syiah Kuala. 1, 1-17.

(52)

Supardi, 2013. Kinerja Guru. Jakarta: Rajawali Pers.

Undang-Undang Republik Indonesia NO 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen.

Wahjosumidjo.(2001). Kepemimpinan dan Motivasi. Jakarta: Ghalia Indonesia.

Referensi

Dokumen terkait

Hipotesis yang penulis ajukan adalah ada hubungan positif antara kepemimpinan transformasional kepala sekolah dengan kompetensi pedagogik guru. Populasi dalam penelitian ini

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui seberapa besar pengaruh kepemimpinan transformasional kepala sekolah dan motivasi berprestasi guru terhadap kinerja

Hasil penelitian menunjukkan dengan menggunakan PAP II bahwa peran kepemimpinan transformasional kepala sekolah sudah berjalan dengan baik (58,30% dari 108 guru)

Penelitian ini bertujuan untuk menguji dan menganalisis: (1) pengaruh kepemimpinan transformasional kepala sekolah terhadap profesionalisme guru; (2) pengaruh

Sehingga peneliti dapat menyelesaikan skripsi ini dengan judul Hubungan Antara Persepsi Guru Tentang Kepemimpinan Transformasional Kepala Sekolah Dengan Kinerja Guru SMK

Intrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah angket untuk teknik pengumpulan data kepemimpinan transformasional kepala sekolah dan kinerja guru.. Teknik

Analisis ini digunakan untuk menguji besarnya kontribusi perilaku kepemimpinan transformasional kepala sekolah dan kinerja komite sekolah baik secara parsial maupun

Prediksi tingkat pengaruh persepsi guru tentang kepemimpinan transformasional kepala sekolah terhadap kompetensi profesional guru menggunakan analisis regresi dengan persamaan ̂ yang