PENGARUH KEPEMIMPINAN TRANSFORMASIONAL KEPALA SEKOLAH DAN MOTIVASI BERPRESTASI GURU TERHADAP KINERJA MENGAJAR GURU PADA SMK NEGERI DI WILAYAH KABUPATEN BANDUNG BARAT.

52  12  Download (1)

Teks penuh

(1)

PENGARUH KEPEMIMPINAN TRANSFORMASIONAL

KEPALA SEKOLAH DAN MOTIVASI BERPRESTASI GURU

TERHADAP KINERJA MENGAJAR GURU PADA SMK

NEGERI DI WILAYAH KABUPATEN BANDUNG BARAT

T E S I S

Diajukan untuk Memenuhi Sebagian dari Syarat Memperoleh Gelar Magister Pendidikan

Program Studi Administrasi Pendidikan

Oleh: Dadang Gumilar

1009592

PROGRAM MAGISTER

PROGRAM STUDI ADMINISTRASI PENDIDIKAN

SEKOLAH PASCASARJANA

(2)

PENGARUH KEPEMIMPINAN TRANSFORMASIONAL KEPALA SEKOLAH DAN MOTIVASI BERPRESTASI GURU TERHADAP KINERJA MENGAJAR GURU PADA SMK NEGERI DI WILAYAH KABUPATEN BANDUNG BARAT

Disetujui dan Disahkan Oleh:

Pembimbing I

Prof. Dr. H. Johar Permana, M.A NIP. 195908141985031004

Pembimbing II

Dr. Cicih Sutarsih, M.Pd NIP.197009291998022001

Mengetahui,

Ketua Program Studi Administrasi Pendidikan Sekolah Pascasarjana

Universitas Pendidikan Indonesia

Prof. H. Udin Syaefudin Sa’ud, Ph.D

(3)

PENGARUH KEPEMIMPINAN TRANSFORMASIONAL KEPALA SEKOLAH DAN MOTIVASI BERPRESTASI GURU TERHADAP KINERJA MENGAJAR GURU PADA SMK NEGERI DI WILAYAH KABUPATEN BANDUNG BARAT

Dadang Gumilar (1009592)

ABSTRAK

Guru sebagai tenaga pendidik merupakan salah satu komponen yang memiliki peranan penting dalam proses pendidikan, guru dituntut agar memiliki kinerja mengajar yang baik. Kinerja mengajar guru sering menjadi tumpuan dalam mencapai harapan kualitas lulusan lembaga pendidikan. Oleh karena itu kehadiran guru dalam proses belajar mengajar masih tetap memegang peranan penting. keberhasilan dalam upaya peningkatan kinerja guru dipengaruhi oleh berbagai faktor di antaranya adalah kepemimpinan transformasional kepala sekolah dan motivasi berprestasi guru.

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui seberapa besar pengaruh kepemimpinan transformasional kepala sekolah dan motivasi berprestasi guru terhadap kinerja mengajar guru pada SMK Negeri di Wilayah Kabupaten Bandung Barat. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis deskriptif dengan pendekatan kuantitatif, untuk uji hipotesis digunakan analisis korelasi sederhana, uji analisis korelasi ganda, dan analisis regresi. Data diambil dengan menggunakan angket atau kuesioner. Populasi dalam penelitian ini yaitu guru-guru pada SMK Negeri di Wilayah Kabupaten Bandung Barat yang berjumlah 123 orang, dengan jumlah sampel penelitian berjumlah 56 responden.

Berdasarkan hasil analisis data ditemukan bahwa pengaruh kepemimpinan transformasional kepala sekolah terhadap kinerja mengajar guru pada SMK Negeri di Wilayah Kabupaten Bandung Barat sebesar 0,641 (41,1%). Pengaruh motivasi berprestasi guru terhadap kinerja mengajar guru pada SMK Negeri di Wilayah Kabupaten Bandung Barat sebesar 0,561 (31,5%). Sedangkan pengaruh kepemimpinan transformasional kepala sekolah dan motivasi berprestasi guru terhadap kinerja mengajar guru pada SMK Negeri di Wilayah Kabupaten Bandung Barat sebesar 0,730 (53,3%). Pada persamaan regresi pada penelitian ini diperoleh Ŷ = 0,341 + 0,452 x1 + 0,473 x2, yang bertandapositif dan menunjukan

adanya pengaruh, artinya jika terjadi perubahan satu unit variabel kepemimpinan transformasional kepala sekolah (X1) dan motivasi berprestasi guru (X2), maka

akan diikuti oleh perubahan pada kinerja mengajar guru (Y).

(4)

DAFTAR ISI

HALAMAN PENGESAHAN ... i

SURAT PERNYATAAN... ii

KATA PENGANTAR ... iii

UCAPAN TERIMA KASIH ... iv

ABSTRAK ... vi

DAFTAR ISI ... vii

DAFTAR TABEL ... xii

DAFTAR GAMBAR ... xiv

DAFTAR LAMPIRAN ... xv

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A.Latar Belakang Penelitian... 1

B. Identifikasi Masalah ... 7

C.Perumusan Masalah ... 9

D.Tujuan Penelitian ... 10

E. Manfaat Penelitian ... 10

F. Struktur Organisasi Tesis ... 11

BAB II KAJIAN PUSTAKA. KERANGKA PEMIKIRAN, DAN HIPOTESIS ... 13

A.Kajian Pustaka ... 13

1. Kinerja Mengajar Guru ... 13

a. Kinerja Mengajar Guru dalam Konteks Administrasi Pendidikan ... 13

b. Konsep Kinerja ... 15

c. Konsep Kinerja Mengajar Guru ... 16

(5)

2. Kepemimpinan Transformasional Kepala Sekolah

dalam Konteks Administrasi Pendidikan ... 24

a. Konsep Kepemimpinan ... 24

b. Konsep Kepemimpinan Transformasional Kepala Sekolah ... 28

c. Dimensi dan Indikator Kepemimpinan Transformasional Kepala Sekolah ... 32

3. Motivasi Berprestasi dalam Konteks Administrasi Pendidikan ... 34

a. Konsep Motivasi ... 34

b. Teori Motivasi ... 35

c. Unsur-Unsur Penggerak Motivasi ... 39

d. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Motivasi ... 40

e. Model Pengukuran Motivasi Berprestasi ... 41

B. Kerangka Pemikiran ... 46

C.Hipotesis Penelitian ... 48

BAB III METODOLOGI PENELITIAN ... 50

A.Lokasi, Populasi dan Sampel Penelitian ... 50

1. Lokasi Penelitian ... 50

2. Populasi Penelitian ... 50

3. Sampel Penelitian ... 51

B. Metode Penelitian ... 53

1. Pendekatan Kuantitatif ... 53

2. Metode Deskriptif ... 53

3. Studi Kepustakaan (Studi Bibliografi) ... 54

C.Definisi Operasional ... 54

1. Kepemimpinan Transformasional Kepala Sekolah (X1) ... 54

(6)

3. Kinerja Mengajar Guru (Y) ... 55

D.Instrumen Penelitian ... 56

1. Skala Pengukuran ... 56

2. Penyusunan Instrumen ... 56

3. Uji Coba Instrumen ... 59

E. Teknik Pengumpulan Data ... 68

1. Studi Dokumentasi ... 68

2. Teknik Angket/Kuesioner ... 68

F. Teknik Analisis Data ... 69

1. Analisis Data Deskriptif ... 69

2. Pengujian Persyaratan Analisis ... 69

3. Menguji Hipotesis Penelitian ... 70

4. Alat Bantu ... 75

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 76

A.Hasil Penelitian ... 76

1. Deskripsi Variabel Penelitian ... 76

a. Kepemimpinan Transformasional Kepala Sekolah pada SMKN di Wilayah KBB (X1) ... 76

b. Motivasi Berprestasi Guru pada SMKN di Wilayah KBB (X2)... 78

c. Kinerja Mengajar Guru pada SMKN di Wilayah KBB (Y) ... 81

d. Kinerja Mengajar Guru Normatif pada SMKN di Wilayah KBB (Y) ... 83

e. Kinerja Mengajar Guru Produktif pada SMKN di Wilayah KBB (Y) ... 85

(7)

2. Pengujian Persyaratan Analisis ... 89

a. Uji Normalitas ... 90

b. Uji Linieritas ... 91

3. Pengujian Hipotesis ... 92

a. Analisis Korelasi ... 92

1) Kepemimpinan Transformasional Kepala Sekolah (X1) terhadap Kinerja Mengajar Guru (Y)... 93

2) Motivasi Berprestasi Guru (X2) terhadap Kinerja Mengajar Guru (Y) ... 95

3) Kepemimpinan Transformasional Kepala Sekolah (X1) dan Motivasi Berprestasi Guru (X2) terhadap Kinerja Mengajar Guru (Y) ... 96

b. Analisis Regresi ... 98

1) Kepemimpinan Transformasional Kepala Sekolah (X1) terhadap Kinerja Mengajar Guru (Y)... 98

2) Motivasi Berprestasi Guru (X2) terhadap Kinerja Mengajar Guru (Y) ... 100

3) Kepemimpinan Transformasional Kepala Sekolah (X1) dan Motivasi Berprestasi Guru (X2) terhadap Kinerja Mengajar Guru (Y) ... 102

4. Interpretasi Hasil Analisis ... 106

B. Pembahasan ... 108

1. Kepemimpinan Transformasional Kepala Sekolah pada SMK Negeri di Wilayah KBB ... 108

2. Motivasi Berprestasi Guru pada SMK Negeri di Wilayah KBB ... 112

3. Kinerja Mengajar Guru pada SMK Negeri di Wilayah KBB ... 115

(8)

5. Kinerja Mengajar Guru Produktif pada SMK Negeri

di Wilayah KBB ... 122

6. Kinerja Mengajar Guru Adaptif pada SMK Negeri di Wilayah KBB ... 124

7. Pengaruh Kepemimpinan Transformasional Kepala Sekolah terhadap Kinerja Mengajar Guru pada SMK Negeri di Wilayah KBB ... 126

8. Pengaruh Motivasi Berprestasi Guru terhadap Kinerja Mengajar Guru pada SMK Negeri di Wilayah KBB ... 127

9. Pengaruh Kepemimpinan Transformasional Kepala Sekolah dan Motivasi Berprestasi Guru terhadap Kinerja Mengajar Guru pada SMK Negeri di Wilayah KBB ... 128

BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI ... 131

A.Kesimpulan ... 131

B. Rekomendasi ... 132

DAFTAR PUSTAKA ... 134

(9)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Penelitian

Peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) merupakan salah satu

syarat mutlak dalam mencapai tujuan pembangunan Nasional. Salah satu upaya

pemerintah di dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia adalah melalui

pendidikan, karena pendidikan dipandang sebagai salah satu kunci utama dalam

mengatasi masa depan. Dengan demikian kualitas pendidikan harus dilaksanakan

secara sistematis serta terarah berdasarkan kepentingan yang mengacu pada kemajuan

ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) yang dilandasi oleh keimanan dan

ketakwaan (IMTAK).

Akan tetapi pada kenyataannya pendidikan di Indonesia hingga saat ini

sedang dalam kondisi kritis. Hal ini didasarkan atas kajian hasil survey yang

dilakukan United Nations Educational Scientific and Cultural Organization

(UNESCO) pada tahun 2011 terhadap kualitas pendidikan di negara-negara

berkembang di Asia Pacific, salah satu hasilnya adalah Indonesia menempati

peringkat 10 dari 14 negara (Bappenas, 2012). Maka, untuk itu Sekolah Menengah

Kejuruan harus mampu berperan sebagai salah satu lembaga pendidikan yang

bermutu dan berkualitas.

Menelusuri krisis pendidikan nasional yang bermutu rendah sulit rasanya kita

menetapkan salah satu penyebabnya yang pasti, tetapi penulusurannya akan sampai

pada bagian terpenting kegiatan di sekolah, yaitu penyelenggaraan belajar yang

ditangani oleh guru harus diperhatikan. Guru sebagai tenaga pendidik merupakan

salah satu komponen dalam proses pendidikan dituntut agar memiliki kinerja yang

(10)

lembaga pendidikan. Oleh karena itu kehadiran guru dalam proses belajar mengajar

masih tetap memegang peranan penting.

Dalam sistem pendidikan dan pembelajaran dewasa ini kehadiran guru dalam

proses belajar mengajar masih tetap memegang peranan penting. Peran guru dalam

proses belajar mengajar belum dapat digantikan sekalipun oleh komputer yang paling

modern (Udin Syaefudin Saud, 2011:43).

Kualitas pendidikan salah satunya dipengaruhi oleh kinerja mengajar guru

dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya, salah satu cermin peningkatan

mutu pendidikan di sekolah adalah prestasi guru dalam meningkatkan mutu lulusan

yang produktif, dengan semangat kinerja mengajar guru yang tinggi akan

menciptakan lulusan dengan kualitas yang bagus (Mulyasa, 2003:140).

Kinerja atau performance diartikan sebagai prestasi kerja, pelaksanaan kerja,

pencapaian kerja, hasil kerja, atau unjuk kerja (Mulyasa, 2003:136). Sedangkan

Nanang Fatah (2001:19) menyatakan kinerja sebagai ungkapan kemampuan yang

didasari oleh pengetahuan, sikap, keterampilan, serta motivasi dalam menghasilkan

sesuatu.

Dari beberapa pengertian tersebut di atas, maka dapat disimpulkan bahwa

kinerja merupakan pelaksanaan kerja, unjuk kerja, serta hasil kerja yang dicapai oleh

seseorang berdasarkan tugas dan tanggung jawabnya dalam mencapai tujuan

organisasi. Sedangkan Kinerja mengajar guru adalah kemampuan seorang guru untuk

melaksanakan pekerjaan sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan.

Dalam proses belajar mengajar guru berperan sebagai perancang, pelaksana,

pengawas sekaligus evaluator pembelajaran, artinya bahwa guru bertanggung jawab

merencanakan dan melaksanakan pembelajaran di sekolah. Melalui guru akan

dihasilkan peserta didik yang berkualitas, baik secara akademis, kematangan

emosional, keterampilan, dan moral spiritual. Menurut Jean D. Grambs dan C.

(11)

persons who consciously direct the experiences and behavior of an individual so that

education takes places."

Pada kenyataannya kinerja mengajar guru masih perlu dikembangkan dan

ditingkatkan, hal ini diperkuat dari hasil survey yang dilakukan oleh UNESCO, untuk

kualitas guru di Indonesia berada pada level 14 dari 14 negara berkembang. Hal itu

menunjukkan bahwa kompetensi dan kinerja guru di Indonesia jauh dari harapan

sosok pendidik yang mampu membawa siswanya berkualitas (Bappenas, 2012).

Dengan demikian maka guru adalah orang yang secara sadar bertanggung

jawab untuk mendidik, mengajar, dan membimbing peserta didik. Guru harus

memiliki kemampuan merancang program pembelajaran serta mampu mengelola

kelas agar peserta didik dapat belajar dan pada akhirnya dapat mencapai tingkat

kedewasaan sebagai tujuan akhir dari proses pendidikan.

Berkenaan dengan hal tersebut, Gibson et al. dalam Sunarjono (2012:5) secara

lebih komprehensif mengemukakan adanya tiga kelompok variabel sebagai faktor

yang dapat mempengaruhi kinerja dan potensi individu dalam organisasi, yaitu:

pertama, variabel individu yang meliputi: (a) kemampuan/keterampilan, (b) latar

belakang (keluarga, tingkat sosial, pengalaman); kedua variabel organisasi, yang

meliputi (a) sumber daya, (b) kepemimpinan, (c) imbalan, (d) struktur, (e) desain

pekerjaan; ketiga variabel individu (psikologis), meliputi: (a) mental/intelektual, (b)

persepsi, (c) sikap, (d) kepribadian, (e) belajar, (f) motivasi.

Di samping itu Sutermeister dalam Sunarjono (2012:6) juga mengemukakan

faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kinerja seseorang, di antaranya: latihan dan

pengalaman kerja, pendidikan, sikap kepribadian, organisasi, para pemimpin, kondisi

sosial, kebutuhan individu, kondisi fisik tempat kerja, kemampuan, motivasi kerja

dan sebagainya.

Oleh karena itu, jika sekolah menginginkan guru dapat menjalankan

(12)

faktor organisasi (kepemimpinan) dan faktor psikologis (motivasi). Dalam hal ini,

peneliti ingin fokus pada kepemimpinan transformasional sebagai model

kepemimpinan dan motivasi berprestasi guru sebagai bagian dari motivasi kerja.

Kepemimpinan transformasional kepala sekolah secara langsung maupun

tidak langsung berperan bagi kinerja mengajar guru. Melalui kepemimpinan

transformasional kepala sekolah, maka seluruh sumber daya yang dimiliki dapat

tergerakkan dengan baik termasuk kinerja mengajar guru. Dalam menjalankan

kepemimpinannya di sekolah, kepala sekolah berperan sebagai pembimbing dan

pendidik yang baik bagi warga sekolah, khususnya bagi guru dalam menjalankan

kinerja mengajar guru.

Kepemimpinan tersebut harus mampu memberi semangat atau memotivasi

kepada para bawahannya dengan cara memberikan inspirasi kreativitas mereka dalam

bekerja. Pemimpin dalam hal ini kepala sekolah harus mampu mempraktikan

inovasi-inovasi, mampu memberdayakan seluruh bawahannya dan sekolah sebagai organisasi

pendidikan ke dalam suatu perubahan cara berpikir, pengembangan visi dan misi

dengan memanfaatkan bakat, keahlian, dan kemampuan bawahannya.

Kepemimpinan (Leadership) menurut Gary Yukl (2001:345) merupakan

proses mempengaruhi orang lain agar bekerja untuk pencapaian tujuan organisasi.

Dalam kepemimpinan terdapat model-model kepemimpinan sebagai alat dalam

mengelola organisasi, di antaranya model kepemimpinan transformasional.

Kepemimpinan transformasional digambarkan sebagai gaya kepemimpinan yang

dapat membangkitkan atau memotivasi karyawan, sehingga dapat berkembang dan

mencapai kinerja pada tingkat yang tinggi, melebihi dari apa yang mereka perkirakan

sebelumnya. Selain itu, gaya kepemimpinan tranformasional dianggap efektif dalam

situasi dan budaya apapun (Bass dalam Gary Yukl, 2010:306). Selanjutnya

Engkoswara dan Aan (2010:193) yang menjelaskan bahwa pemimpin

(13)

berusaha memberikan reaksi yang menimbulkan semangat dan daya kerja cepat dan

semaksimal mungkin, selalu tampil sebagai pelopor dan pembawa perubahan.

Berdasarkan itu, kepala sekolah sebagai pemimpin, harus memiliki strategi

yang tepat untuk meningkatkan profesionalisme tenaga kependidikan di sekolahnya

untuk mencapai tujuan sekolah. Menciptakan iklim sekolah yang kondusif, memberi

nasehat kepada warga sekolah, memberi dorongan kepada seluruh tenaga

kependidikan, dan seterusnya. Kepala sekolah juga harus berusaha menanamkan,

memajukan dan meningkatkan sedikitnya empat nilai, yaitu pembinaan mental,

pembinaan moral, pembinaan fisik, pembinaan artistik (Wahjusumidjo, 2003:95).

Di samping kajian teori dan fakta lapangan di atas, penelitian terdahulu

menguatkan asumsi peneliti bahwa kepemimipinan transformasional kepala sekolah

berpengaruh terhadap kinerja mengajar guru. Misalnya yang dilakukan oleh

Munawaroh (2011:143), dimana hasil penelitiannya menjelaskan bahwa Gaya

kepemimpinan transformasional secara parsial berpengaruh signifikan terhadap

kinerja guru.

Melalui kepemimpinan transformasional kepala sekolah pada SMK Negeri di

Kabupaten Bandung Barat diharapkan dapat memfasilitasi guru untuk

mengembangkan kompetensinya, serta mampu memotivasi kinerja mengajar guru

menjadi lebih baik lagi.

Selain kepemimpinan transformasional kepala sekolah, faktor lain yang dapat

mempengaruhi kinerja mengajar guru adalah motivasi berprestasi guru. Diasumsikan

bahwa motivasi berprestasi yang baik dari guru akan menghasilkan kinerja mengajar

guru yang baik pula. Menurut Cascio dalam Sunarjono (2012:5) abilitas dan motivasi

adalah sebagai faktor-faktor yang berinteraksi dengan kinerja. Abilitas seseorang

(14)

kecakapan. Kepribadian dan pengetahuan dapat dipengaruhi oleh pendidikan,

pengalaman latihan dan minat.

Motivasi pada dasarnya dapat bersumber pada diri seseorang atau yang

sering dikenal sebagai motivasi internal dan dapat pula bersumber dari luar diri

seseorang atau disebut juga motivasi eksternal. Faktor-faktor motivasi tersebut dapat

berdampak positif atau dapat pula berdampak negatif bagi seorang guru.

Mangkunegara (2005:61) menyatakan bahwa motivasi terbentuk dari sikap

(attitude) karyawan dalam menghadapi situasi kerja di perusahaan (situation).

Motivasi merupakan kondisi atau energi yang menggerakkan diri karyawan yang

terarah atau tertuju untuk mencapai tujuan organisasi perusahaan. Sikap mental

karyawan yang pro dan positif terhadap situasi kerja itulah yang memperkuat

motivasi kerjanya untuk mencapai kinerja maksimal.

Motivasi berprestasi guru bisa diartikan sebagai dorongan mental yang tinggi

yang dimiliki oleh seorang guru dalam melakukan pekerjaan untuk mencapai tujuan

sekolah. Kaitannya dengan kinerja mengajar guru, motivasi yang tinggi dan baik

memiliki peran penting untuk membantu guru dalam melaksanakan kegiatan belajar

menagajar di kelas, sehingga mutu lulusan yang berkualitas tercapai.

Kunci keberhasilan seorang pemimpin dalam menggerakkan para guru atau

bawahannya terletak pada kemampuannya untuk memahami faktor-faktor motivasi

kerja sedemikian rupa sehingga menjadi daya pendorong yang efektif (Siagian,

2006:139). Kebutuhan yang dimaksud merupakan suatu petunjuk bagi kepala sekolah

untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan guru seefektif mungkin. Secara teoritik

hubungan kepemimpinan kepala sekolah itu apabila dibina dan dilaksanakan dengan

baik, maka motivasi berprestasi guru akan terpenuhi. Dengan motivasi yang baik dan

(15)

melaksanakan perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi pembelajaran akan selalu

terlaksana.

Pengaruh motivasi berprestasi guru terhadap kinerja mengajar guru dikuatkan

oleh penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Ryssa Marlyana (2012:115)

membuktikan bahwa motivasi berprestasi guru berpengaruh terhadap kinerja

mengajar guru. Ryssa menjelaskan bahwa motivasi merupakan faktor utama yang

mendukung berhasilnya kinerja guru, dengan adanya motivasi yang tinggi dalam diri

seorang guru maka kinerja mengajar guru akan meningkat.

Berdasarkan kajian teori dan penelitian terdahulu di atas, maka peneliti ingin

mengungkapkan juga seberapa besar pengaruh kepemimpinan transformasional

kepala sekolah dan motivasi berprestasi guru terhadap kinerja mengajar guru pada

SMK Negeri di Wilayah Kabupaten Bandung Barat.

B. Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah di atas dan pengalaman historis yang

telah diungkapkan melalui berbagai kerja ilmiah, peneliti dapat mengidentifikasi

masalah yang berkaitan dengan kinerja mengajar guru pada SMK Negeri di Wilayah

kabupaten Bandung Barat.

Hampir semua usaha dalam upaya peningkatan mutu pendidikan seperti

pembaharuan kurikulum, penerapan metode mengajar baru serta penggunaan

teknologi canggih pun, pada akhirnya bergantung kepada guru. Artinya guru

memegang peranan penting dalam proses belajar mengajar. Di dalam proses belajar

mengajar guru berperan sebagai perancang, pelaksana, sekaligus evaluator

pembelajaran, artinya bahwa guru bertanggung jawab merencanakan dan

melaksanakan pembelajaran di sekolah. Sehingga melalui guru akan dihasilkan

peserta didik yang berkualitas, baik secara akademis, kematangan emosional,

(16)

Namun kenyataannya kinerja mengajar guru masih perlu dikembangkan dan

ditingkatkan, hal ini diperkuat dari hasil survey yang dilakukan oleh UNESCO, untuk

kualitas guru di Indonesia berada pada level 14 dari 14 negara berkembang. Hal itu

menunjukkan bahwa kompetensi dan kinerja guru di Indonesia jauh dari harapan

sosok pendidik yang mampu membawa siswanya berkualitas (Bappenas, 2012).

Keberhasilan dalam upaya meningkatkan kinerja mengajar guru dipengaruhi

oleh berbagai faktor, baik secara langsung maupun tidak langsung. Dalam hal ini,

peneliti ingin mengetahui pengaruh kepemimpinan transformasional kepala sekolah

dan motivasi berprestasi guru terhadap kinerja mengajar guru pada SMK Negeri di

Wilayah kabupaten Bandung Barat. Karena berdasarkan hasil studi awal di lapangan,

kedua variabel tersebut memiliki pengaruh dalam meningkatkan kinerja mengajar

guru pada SMK Negeri di Wilayah kabupaten Bandung Barat.

Hal itu diperkuat dengan pendapatnya Sutermeister dalam Sunarjono (2012:6)

bahwa faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kinerja seseorang sangatlah

kompleks, diantaranya: latihan dan pengalaman kerja, pendidikan, sikap kepribadian,

organisasi, para pemimpin, kondisi sosial, kebutuhan individu, kondisi fisik tempat

kerja, kemampuan, motivasi kerja dan sebagainya.

Dalam penelitian ini yang menjadi fokus masalahnya adalah faktor

kepemimpinan dan motivasi. Kepemimpinan transformasional kepala sekolah

merupakan kemampuan pemimpin dalam mengelola sekolah berdasarkan

keterampilan yang dimilikinya sebagai proses untuk merubah dan mentrasformasikan

individu guru agar mau mengembangkan dan meningkatkan kinerjanya. Sehingga

melalui kepemimpinan transformasional kepala sekolah tersebut, kinerja mengajar

guru diharapkan dapat meningkat dan mampu menciptakan mutu lulusan yang baik.

Selain faktor kepemimpinan transformasional kepala sekolah, motivasi

(17)

Melalui motivasi berprestasi guru yang tinggi, maka akan mendorong guru untuk

melaksanakan kinerja mengajar yang baik.

Ryssa Marlyana (2012:115) dalam penelitiannya menjelaskan bahwa motivasi

merupakan faktor utama yang mendukung berhasilnya kinerja guru, dengan adanya

motivasi yang tinggi dalam diri seorang guru maka kinerja mengajar guru akan

meningkat.

Oleh karena itu, melalui kepemimpinan transformasional kepala sekolah dan

motivasi berprestasi guru diharapkan mampu meningkatkan kinerja mengajar guru

pada SMK Negeri di Wilayah kabupaten Bandung Barat, dengan demikian akan

terwujud pendidikan yang berkualitas.

C. Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah, identifikasi dan batasan masalah

tersebut, maka dapat dirumuskan masalah dalam penelitian ini, yaitu seberapa

besar pengaruh kepemimpinan transformasional kepala sekolah dan motivasi

berprestasi guru terhadap kinerja mengajar guru pada SMK Negeri di Wilayah

Kabupaten Bandung Barat? Rumusan masalah penelitian tesebut dapat dirinci

sebagai berikut:

1. Bagaimana kepemimpinan transformasional kepala sekolah pada SMK Negeri di

Wilayah Kabupaten Bandung Barat.

2. Bagaimana motivasi berprestasi guru pada SMK Negeri di Wilayah Kabupaten

Bandung Barat.

3. Bagaimana kinerja mengajar guru pada SMK Negeri di Wilayah Kabupaten

Bandung Barat.

4. Seberapa besar pengaruh kemimpinan transformasional kepala sekolah terhadap

(18)

5. Seberapa besar pengaruh motivasi berprestasi guru terhadap kinerja mengajar

guru pada SMK Negeri di Wilayah Kabupaten Bandung Barat?

6. Seberapa besar pengaruh kepemimpinan transformasional kepala sekolah dan

motivasi berprestasi guru terhadap kinerja mengajar guru pada SMK Negeri di

Wilayah Kabupaten Bandung Barat?

D. Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kepemimpinan

transformasional kepala sekolah dan motivasi berprestasi guru terhadap kinerja

mengajar guru pada SMK Negeri di Wilayah Kabupaten Bandung Barat. Adapun

tujuan khusus penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan dan menganalisis:

1. Kemimpinan transformasional kepala sekolah pada SMK Negeri di Wilayah

Kabupaten Bandung Barat.

2. Motivasi berprestasi guru pada SMK Negeri di Wilayah Kabupaten Bandung

Barat.

3. Kinerja mengajar guru pada SMK Negeri di Wilayah Kabupaten Bandung Barat.

4. Seberapa besar pengaruh kemimpinan transformasional kepala sekolah terhadap

kinerja mengajar guru pada SMK Negeri di Wilayah Kabupaten Bandung Barat.

5. Seberapa besar pengaruh motivasi berprestasi guru terhadap kinerja mengajar

guru pada SMK Negeri di Wilayah Kabupaten Bandung Barat,

6. Seberapa besar pengaruh kemimpinan transformasional kepala sekolah dan

motivasi berprestasi guru terhadap kinerja mengajar guru pada SMK Negeri di

Wilayah Kabupaten Bandung Barat.

(19)

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat untuk kepentingan

teoritis dan praktis.

Secara teoritis penelitian ini dapat bermanfaat antara lain:

1. Menambah wawasan dan pengetahuan (knowledge) tentang pengaruh

kepemimpinan transformasional kepala sekolah dan motivasi berprestasi guru

terhadap kinerja mengajar guru.

2. Penelitian ini diharapkan dapat menambah pengetahuan (knowledge) baru bagi

pengembangan ilmu pengetahuan terutama yang berhubungan dengan jurusan dan

program Administrasi Pendidikan.

Secara praktis hasil penelitian ini diharapkan bermanfaat untuk dijadikan:

a. Bagi Peneliti

Sebagai prasyarat untuk memenuhi tugas akhir pada studi peneliti untuk

memperoleh gelar Magister Administrasi Pendidikan di Sekolah Pascasarjana

Universitas Pendidikan Indonesia. Serta hasil penelitian ini diharapkan dapat

menambah pengetahuan tentang pengaruh kepemimpinan transformasional kepala

sekolah dan motivasi berprestasi guru terhadap kinerja mengajar guru pada SMK

Negeri di Wilayah Kabupaten Bandung Barat.

b. Bagi SMK Negeri di Wilayah Kabupaten Bandung Barat

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan Informasi bagi para

pengelola pendidikan dalam upaya memperbaiki, meningkatkan, serta

mengembangkan kinerja mengajar guru pada SMK Negeri di Wilayah Kabupaten

Bandung Barat.

F. Struktur Organisasi Tesis

Untuk memudahkan pemahaman dan pemecahan masalah secara lebih

terstruktur dan sistematis, maka penulis menyusun suatu bentuk penulisan sebagai

(20)

Bab I: Pendahuluan. Pada bab ini berisi tentang latar belakang penelitian,

identifikasi masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, dan

struktur organisasi tesis.

Bab II: Kajian Pustaka, Kerangka Pemikiran, Dan Hipotesis. Pada bagian ini

memaparkan landasan teori berupa uraian mengenai teori-teori yang mendukung

penelitian ini sebagai dasar pemikiran dan pemecahan masalah yang kemudian

dijadikan kerangka pikir penilitian untuk selanjutnya diperoleh hipotesis penelitian.

Bab III: Metodologi Penelitian. Bab ini berisi tentang lokasi dan subjek

populasi/sampel penelitian, pendekatan dan metode penelitian, definisi operasional,

instrumen penelitian, teknik pengumpulan data, dan analisis data.

Bab IV: Hasil Penelitian dan Pembahasan. Bagian ini berisi keseluruhan data

dari hasil observasi dan kuesioner. Memaparkan hasil pengolahan data berdasarkan

prosedur yang telah ditetapkan serta memaparkan hasil analisis data yang dilakukan.

Hasil analisis ini kemudian dilakukan pembahasan berkaitan dengan permasalahan

penelitian.

Bab V: Kesimpulan dan Saran. Bab ini berisi penafsiran dan pemaknaan

peneliti terhadap hasil temuan penelitian, implikasi. Saran atau rekomendasi yang

dihasilkan ditujukan kepada para pengguna hasil penelitian dan kepada peneliti

(21)

50

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

A.Lokasi, Populasi dan Sampel Penelitian

1. Lokasi Penelitian

Lokasi dalam penelitian ini dilakukan pada SMK Negeri se Kabupaten

Bandung Barat. Dalam penelitian ini, lokasi dipilih secara keseluruhan

berdasarkan informasi dari Kabid SMA/SMK Disdikpora Kab. Bandung Barat,

yaitu berjumlah 3 (Tiga), diantaranya: SMKN 1 Cihampelas, SMKN 4

Padalarang, SMKN 1 Cipeundeuy.

2. Populasi Penelitian

Menurut Arikunto (1998:115) populasi adalah keseluruhan subyek

penelitian. Sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti (Arikunto,

1998:117). Sementara menurut Sugiyono (2008:57) mengemukakan bahwa

populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek/subyek yang

mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang diterapkan oleh peneliti untuk

dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya.

Berdasarkan pendapat di atas, maka faktor yang perlu diperhatikan dalam

populasi adalah unsur yang dapat diamati. Untuk itu, penentuan karakteristik

populasi yang tepat merupakan faktor penting dalam suatu penelitian, karena

sejatinya suatu permasalahan itu baru akan memiliki makna apabila dikaitkan

dengan populasi yang relevan. Jadi populasi bukan hanya orang, tetapi juga obyek

dan benda-benda alam yang lain. Populasi juga bukan hanya jumlah yang ada

pada obyek-obyek yang dipelajari, namun meliputi seluruh karakteristik/sifat yang

dimiliki oleh subyek atau obyek itu.

Berdasarkan hasil prasurvey diseluruh SMK Negeri di Wilayah Kabupaten

Bandung barat tersebut diperoleh jumlah populasi sebanyak 123 guru yang

(22)

51

Tabel. 3.1. Jumlah Guru SMK Negeri di Wilayah Kabupaten Bandung Barat

No Nama Sekolah Jumlah Guru

1 SMKN 1 Cihampelas 43

2 SMKN 4 Padalarang 54

3 SMKN 1 Cipeundeuy 26

Jumlah 123

Sumber: Kabid SMA/SMK Disdikpora Kab. Bandung Barat

3. Sampel Penelitian

Arikunto (2004:117) mengatakan bahwa: “Sampel adalah bagian dari populasi.” Sample penelitian adalah sebagian dari populasi yang diambil sebagai

sumber data dan dapat mewakili seluruh popoulasi. Berkaitan dengan teknik

pengambilan sampel, Moh. Nazir (2003:18) menyatakan bahwa:”mutu penelitian

tidak selalu ditentukan oleh besarnya sampel, akan tetapi oleh kokohnya

dasar-dasar teorinya, oleh desain penelitianya (asumsi-asumsi statistik), serta mutu

pelaksanaan dan pengelolahanya.” Berkaitan dengan teknik pengambilan sampel,

Arikunto (2005:120) mengemukakan bahwa: Unuk sekedar encer-encer maka

apabila subjek kurang dari 100, maka lebih baik diambil semua, sehingga

penelitiannya merupakan penelitian populasi. Selanjutnya jika subjeknya besar,

dapat diambil antara 10%-15% atau 20%-30% atau lebih.

Memperhatikan pernyataan tersebut, maka jumlah populasi lebih dari 100

orang, maka penarikan sampel dalam penelitian ini menggunakan sampel secara

acak (Random sampeling). Sedangkan Teknik pengambilan sampel menggunakan

rumus dari Taro Yamane atau Solvin (dalam Riduwan 2007:65) sebagai berikut:

Keterangan:

n = jumlah sampel

N = Jumlah populasi

(23)

52

Dalam penelitian sosial besarnya presesi biasanya antara 5% sampai

dengan 10%, pada penelitian ini peneliti mengambil presesi 10% sehingga

diperoleh nilai n sebagai berikut:

Jadi jumlah sampel penelitian ini sebanyak 55 orang (dibulatkan), jumlah

ini menjadi responden penelitian. Jumlah sampel tersebut jika diprosentasekan

adalah 55/123 x 100% = 44,72%.

Penentuan anggota sampel adalah sebesar 44,72% dari populasi.

Penyebaran sampel pada tiap sekolah berikut ini:

1) SMK Negeri 1 Cihampelas:

n = 19,22 dibulatkan = 19 responden

Setelah dihitung secara keseluruhan didapat data sebagai berikut :

Tabel 3.2. Penyebaran Sampel

No Nama Sekolah Jumlah

Populasi

Sampel

(44,72%)

Jumlah

Sampel

1 SMKN 1 Cihampelas 43 19,22 19

2 SMKN 4 Padalarang 54 24,15 24

3 SMKN 1 Cipeundeuy 26 11,63 12

Jumlah 123 55 55

Karena adanya proses dan hasil pembulatan maka sampel ditambah 1

sehingga setelah ditambah, sampel pada penelitian ini berjumlah 56 orang. 56

guru yang menjadi sampel pada penelitian ini adalah guru yang berkualifikasi

pendidikan S1. Tujuannya untuk mendapatkan responden yang memahami konsep

(24)

53

B.Metode Penelitian

Permasalahan yang akan dibahas dalam penelitian ini yaitu bagaimana

pengaruh kepemimpinan transformasional kepala sekolah dan motivasi berprestasi

guru terhadap kinerja mengajar guru pada SMK Negeri di Wilayah Kabupaten

Bandung Barat. Untuk itu, peneliti berusaha menggunakan metode yang sesuai

dengan permasalahan yang diteliti. Sebagaimana mestinya bahwa sebuah

penelitian tidak akan mencapai kriteria penelitian sesungguhnya apabila tidak

menggunakan sebuah metode penelitian yang tepat. Dengan metode penelitian

yang tepat, diharapkan sebuah penelitian nantinya akan menjadi penelitian yang

ilmiah, logis, sistematis dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

Berikut merupakan metode yang digunakan peneliti dalam melaksanakan

penelitian ini:

1. Pendekatan Kuantitatif

Arikunto (2002:86) mengatakan bahwa pendekatan kuantitatif merupakan

pendekatan yang digunakan oleh peneliti dalam penelitian dengan cara mengukur

indikator-indikator variabel sehingga dapat diperoleh gambaran umum dan

kesimpulan masalah penelitian.

Pendekatan kuantitatif merupakan metode pemecahan masalah yang

terencana dan cermat, dengan desain yang terstruktur ketat, pengumpulan data

secara sistematis terkontrol dan tertuju pada penyusunan teori yang disimpulkan

secara induktif dalam kerangka pembuktian hipotesis secara empiris. Pendekatan

kuantitatif merupakan upaya mengukur variabel-variabel yang ada dalam

penelitian (variabel X1, X2 dan variabel Y) untuk kemudian dicari hubungan antar

variabel-variabel tersebut.

2. Metode Deskriptif

Metode deskriptif merupakan metode yang ditujukan untuk memecahkan

masalah yang terjadi pada masa sekarang. Sebagaimana yang dikemukakan oleh

Arikunto (2002:86) bahwa: “Metode deskriptif adalah metode penelitian yang

digunakan dalam mengkaji permasalahan-permasalahan yang terjadi saat ini atau

(25)

54

data yang relevan dengan masalah yang diteliti melalui penelaahan berbagai

konsep atau teori yang dikemukakan oleh para ahli.

Metode deskriptif dalam penelitian ini sesuai digunakan, karena masalah

yang diambil terpusat pada masalah aktual dan berada pada saat penelitian

dilaksanakan dengan melalui prosedur pengumpulan data, mengklasifikasi data

kemudian dianalisis dan ditarik kesimpulan.

3. Studi Kepustakaan (Studi Bibliografi)

Studi Bibliografi sering disebut juga studi kepustakaan, digunakan untuk

melengkapi metode deskriptif. Studi bibliografi merupakan proses penelusuran

sumber-sumber tertulis berupa buku-buku, laporan-laporan penelitian, jurnal, dan

sejenisnya yang berkaitan dengan masalah yang diteliti.

Melalui studi bibliografi ini, penulis akan memperoleh tambahan informasi

dan pengetahuan dalam bentuk teori-teori yang dapat dijadikan landasan berfikir

dalam mengkaji, menganalisis, dan memecahkan permasalahan yang diteliti.

C.Definisi Operasional

Singarimbun dan Effendi (2003:46-47) menjelaskan bahwa definisi

operasional merupakan unsur penelitian yang memberitahukan cara mengukur

satu variabel. Artinya bahwa definisi operasional dimaksudkan untuk menjelaskan

sebuah makna dalam variabel yang sedang diteliti. Berikut ini definisi operasional

dari penelitian ini:

1. Kepemimpinan Transformasional Kepala Sekolah (X1)

Kepemimpinan transformasional kepala sekolah dalam penelitian ini

adalah kemampuan kepala sekolah dalam mengelola sekolah berdasarkan

keterampilan yang dimilikinya dalam bekerja sebagai proses untuk merubah dan

mentransformasikan individu guru agar mau mengembangkan dan meningkatkan

dirinya.

Dimensi dan indikator kepemimpinan transformasional kepala sekolah

dalam penelitian ini adalah: (a) idealized influence (kharisma), sebagai perilaku

(26)

55

terus membangkitkan antusiasme dan optimisme bawahan; (c) intelectual

stimulation, sikap dan perilaku kepemimpinannya didasari oleh ilmu pengetahuan

yang berkembang; (d) Individualized Consideration, pemimpin yang selalu

mendengarkan dan memberikan dengan penuh perhatian.

2. Motivasi Berprestasi Guru (X2)

Motivasi Berprestasi merupakan daya dorong yang mempengaruhi,

membangkitkan, mengarahkan dan memelihara perilaku seorang guru untuk

melakukan tugasnya sebagai pendidik dan pengajar dengan segala kemampuan

dan keahliannya dalam upaya mewujudkan tujuan pendidikan yang telah

ditentukan.

Dimensi dan indikator motivasi berprestasi guru dalam penelitian ini

adalah: (a) Memiliki tingkat tanggung jawab pribadi yang tinggi, (b) Berani

mengambil dan memikul resiko, (c) Memiliki tujuan realistik, (d) Memiliki

rencana kerja yang menyeluruh dan berjuang untuk merealisasikan tujuan,

(e)Memanfaatkan umpan balik yang konkrit dalam semua kegiatan yang

dilakukan, dan (f) Mencari kesempatan untuk merealisasikan rencana yang telah

diprogramkan.

3. Kinerja Mengajar Guru (Y)

Kinerja mengajar guru adalah kemampuan seorang guru untuk

melaksanakan tugas dan tanggung jawab pekerjaan sesuai dengan tujuan yang

telah ditetapkan.

Indikator kinerja mengajar guru yang telah dikembangkan dan

dimodifikasi dari berbagai pemikiran yaitu: (a) merencanakan proses belajar

mengajar (b) melaksanakan proses belajar mengajar; serta (c) mengevaluasi atau

(27)

56

D.Instrumen Penelitian

1. Skala Pengukuran

Dalam menyusun kuesioner ini peneliti menggunakan skala. Menurut

Sugiyono (2008:93) skala digunakan untuk mengukur sikap, pendapat dan

persepsi seseorang atau sekelompok orang tentang fenomena tertentu. Jadi dengan

skala ini peneliti ingin mengetahui bagaimana kepemimpinan transformasional

kepala sekolah, motivasi berprestasi guru dan kinerja mengajar guru pada SMK

Negeri di Wilayah Kabupaten Bandung Barat.

Instrumen yang digunakan dalam pengumpulan data ketiga variabel

penelitian ini adalah skala likert dengan lima alternatif jawaban, yaitu: Selalu

(SL), Sering (SR), Kadang-kadang (KD), Jarang (JR), dan Tidak Pernah (TP).

Pemberian bobot masing-masing kontinum atau berturut-turut, untuk pernyataan

positif diberi bobot : 5 – 4 – 3 – 2 – 1, sedangkan bobot untuk pernyataan negatif

diberi bobot : 1 – 2 – 3 – 4 – 5.

2. Penyusunan Instrumen

Instrumen penelitian ini disusun berdasarkan indikator-indikator

masing-masing variabel. Untuk mendapatkan kesahihan konstruk dilakukan melalui

pendefinisian dan studi kepustakaan.

Instrumen pada masing-masing indikator disusun dengan langkah-langkah

sebagai berikut: (1) membuat kisi-kisi berdasarkan indikator variabel, (2)

menyusun butir-butir pernyataan sesuai dengan indikator variabel, (3) melakukan

analisis rasional untuk melihat kesesuaian dengan indikator serta ketepatan dalam

menyusun angket dari aspek yang diukur. Berikut ini merupakan kisi-kisi

(28)

57

Tabel 3.3. Kisi-Kisi Instrumen Penelitian Variabel Kepemimpinan Transformasional Kepala Sekolah (X1)

Variabel Sub Variabel Indikator No. Item

Kepemimpinan

1. Menimbulkan rasa hormat (respect).

2. Menimbulkan rasa percaya diri

(trust).

3. Saling berbagi resiko, melalui

pertimbangan atas kebutuhan para

2. Sikap dan perilakunya didasarkan

pada ilmu pengetahuan yang

berkembang.

3. Secara intelektual ia mampu

menerjemahkannya dalam bentuk

1. Penuh perhatian terhadap staf.

2. Memberikan perhatian khusus kepada

kebutuhan prestasi dan kebutuhan

para staf.

23,24

(29)

58

Tabel 3.4. Kisi-Kisi Instrumen Penelitian Variabel Motivasi Berprestasi Guru (X2)

Variabel Sub Variabel Indikator No. Item

Motivasi Berprestasi

1. Bertanggungjawab 1. Melaksanakan pekerjaan

dengan sungguh-sungguh.

1,2,3

2. Pengambil Resiko 1. Berani melakukan pekerjaan

yang mengandung resiko.

4,5

3. Memiliki tujuan

yang berkelanjutan

1. Memiliki tujuan yang jelas.

2. Menyelesaikan tugas untuk

5. Kreatif dan Inovatif 1.Menggunakan cara baru

dalam melakukan pekerjaan.

2.Tidak malas melakukan

dengan cara yang berbeda.

20

21,22

6. Percaya diri 1. Mampu melaksanakan

pekerjaan.

23,24

7. Berpikir dan

berkonsep diri yang

positif

1.Tidak marah jika dikritik.

2.Bersikap wajar jika

pekerjaannya dipuji.

25,26

(30)

59

Tabel 3.5. Kisi-Kisi Instrumen Penelitian Variabel Kinerja Mengajar Guru (Y)

Variabel Sub Variabel Indikator No. Item

Kinerja

Instrumen penelitian yang telah disusun diuji cobakan terlebih dahulu untuk

mengetahui kesahihan dan kehandalannya. Jumlah responden uji coba sebanyak

10 (sepuluh) orang guru SMK Negeri di Wilayah Kabupaten Bandung Barat, di

luar populasi dan sampel yang ditentukan. Jumlah ini dianggap sudah memenuhi

(31)

60

pengisian angket, (c) para guru melakukan pengisian angket, dan (d) setelah guru

selesai mengisi angket, segera dikumpulkan kembali.

Pelaksanaan uji coba ini dimaksudkan untuk mengetahui kelemahan dan

kekurangan yang mungkin terjadi pada item-item pernyataan angket, baik dalam

hal redaksi, alternatif jawaban yang tersedia, maupun dalam pernyataan dan

jawaban tersebut. Uji coba dilakukan untuk analisis terhadap instrumen sehingga

diketahui sumbangan butir-butir pernyataan terhadap indikator yang telah

ditetapkan pada masing-masing variabel. Selanjutnya untuk memperoleh butir

pernyataan pada valid dan reliabel dilakukan pengujian validitas dan reliabilitas.

a. Uji Validitas Instrumen

Pengujian validitas instrumen dapat diketahui melalui perhitungan dengan

menggunakan rumus Pearson Product Moment terhadap nilai-nilai antara variabel

X dan variabel Y. Seperti yang diungkapkan Sugiyono, (2008:95):

Keterangan:

n = Jumlah responden

XY = Jumlah perkalian X dan Y

X = Jumlah skor tiap butir

Y = Jumlah skor total

X2 = Jumlah skor X dikuadratkan

Y2 = Jumlah skor Y dikuadratkan

Selanjutnya dihitung dengan uji t atau uji signifikansi. Uji ini adalah untuk

menentukan apakah variabel X tersebut signifikan terhadap variable Y. Uji

signifikasi ini dengan menggunakan rumus yang dikemukakan oleh Arikunto

(32)

61

1) Variabel Kepemimpinan Transformasional Kepala Sekolah (X1)

Untuk mengetahui tingkat validitas pada item pertanyaan variabel

kepemimpinan transformasional kepala sekolah (X1), yaitu dengan

membandingkan nilai rhitung dengan rtabel. Jika nilai rhitung lebih besar daripada nilai

rtabel, maka item pertanyaan tersebut dinyatakan valid. Adapun perbandingannya

adalah sebagai berikut:

Tabel 3.6. Kepemimpinan Transformasional Kepala Sekolah (X1)

(33)

62

25 -0,203 < 0,632 Tidak Valid

26 0,749 > 0,632 Valid

27 0,686 > 0,632 Valid

2) Variabel Motivasi Berprestasi Guru (X2)

Untuk mengetahui tingkat validitas pada item pertanyaan variabel motivasi

berprestasi guru (X2), yaitu dengan membandingkan nilai rhitung dengan rtabel. Jika

nilai rhitung lebih besar daripada nilai rtabel, maka item pertanyaan tersebut

dinyatakan valid. Adapun perbandingannya adalah sebagai berikut:

Tabel 3.7. Uji Validitas Variabel Motivasi Berprestasi Guru (X2)

(34)

63

3) Variabel Kinerja Mengajar Guru (Y)

Untuk mengetahui tingkat validitas pada item pertanyaan variabel kinerja

mengajar guru (Y), yaitu dengan membandingkan nilai rhitung dengan rtabel. Jika

nilai rhitung lebih besar daripada nilai rtabel, maka item pertanyaan tersebut

dinyatakan valid. Adapun perbandingannya adalah sebagai berikut:

Tabel 3.8. Uji Validitas Variabel Kinerja Mengajar Guru (Y)

(35)

64

Menurut Suharsimi Arikunto (2002:170) bahwa: “Reliabilitas menunjuk

pada pengertian bahwa cukup dapat dipercaya untuk digunakan sebagai alat

pengumpul data karena instrument tersebut sudah cukup baik.” Maksud dapat

“dipercaya” disini bahwa data yang dihasilkan harus memiliki tingkat

kepercayaan yang tinggi.

Dalam penelitian ini, langkah-langah pengujian reliabilitas angket

dilakukan dengan bantuan SPSS 17.0. Adapun kaidah pengambilan keputusan

adalah: jika r hitung > r tabel maka instrumen reliabel, dan jika rhitung < rtabel maka

instrumen tidak reliabel.

1) Variabel Kepemimpinan Transformasional Kepala Sekolah (X1)

Tabel 3.9.

Uji Reliabilitas Variabel Kepemimpinan Transformasional Kepala Sekolah

Reliability Statistics

Correlation Between Forms .787

(36)

65

a. The items are: q1, q2, q3, q4, q5, q6, q7, q8, q9, q10, q11,

q12, q13, q14.

b. The items are: q15, q16, q17, q18, q19, q20, q21, q22,

q23, q24, q25, q26, q27.

Pengujian reliabilitas pada variabel kepemimpinan transformasional

kepala sekolah (X1) ini dengan melihat nilai korelasi gutman split-half coefficient

yaitu sebesar 0,880. Korelasi berada pada kategori sangat kuat. Bila dibandingkan

dengan rtabel 0,632 maka rhitung lebih besar daripada rtabel.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa item pertanyaan pada variabel

kepemimpinan transformasional kepala sekolah (X1) reliabel.

2) Variabel Motivasi Berprestasi Guru (X2)

Tabel 3.10.

Motivasi Berprestasi Guru (X2)

Reliability Statistics

Cronbach's Alpha Part 1 Value .935

N of Items 15a

Part 2 Value .913

N of Items 14b

Total N

of Items

29

(37)

66

Spearman-Brown

Coefficient

Equal Length .964

Unequal

Length

.964

Guttman Split-Half Coefficient .940

a. The items are: q1, q2, q3, q4, q5, q6, q7, q8, q9, q10,

q11, q12, q13, q14, q15.

b. The items are: q16, q17, q18, q19, q20, q21, q22, q23,

q24, q25, q26, q27, q28, q29.

Pengujian reliabilitas pada variabel motivasi berprestasi guru (X2) ini

dengan melihat nilai korelasi gutman split-half coefficient yaitu sebesar 0,940.

Korelasi berada pada kategori sangat kuat. Bila dibandingkan dengan rtabel 0,632

maka rhitung lebih besar daripada rtabel.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa item pertanyaan pada variabel

motivasi beprestasi guru (X2) reliabel.

3) Variabel Kinerja Mengajar Guru (Y)

Tabel 3.11.

Kinerja Mengajar Guru (Y)

Reliability Statistics

Cronbach's Alpha Part 1 Value .939

N of Items 17a

Part 2 Value .942

N of Items 16b

Total N

of Items

(38)

67

Correlation Between Forms .949

Spearman-Brown

Coefficient

Equal Length .974

Unequal

Length

.974

Guttman Split-Half Coefficient .959

a. The items are: q1, q2, q3, q4, q5, q6, q7, q8, q9, q10,

q11, q12, q13, q14, q15, q16, q17.

b. The items are: q18, q19, q20, q21, q22, q23, q24, q25,

q26, q27, q28, q29, q30, q31, q32, q33.

Pengujian reliabilitas pada variabel kinerja mengajar guru ini dengan

melihat nilai korelasi gutman split-half coefficient yaitu sebesar 0,959. Korelasi

berada pada kategori sangat kuat. Bila dibandingkan dengan rtabel 0,632 maka

rhitung lebih besar daripada rtabel.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa item pertanyaan pada variabel

kinerja mengajar guru (Y) reliabel.

E.Teknik Pengumpulan Data

Moh. Nazir (2003:328) mengatakan bahwa teknik pengumpulan data

merupakan alat-alat ukur yang diperlukan untuk melaksanakan suatu penelitian.

Data yang dikumpulkan dapat berupa angka-angka, keterangan tertulis, informasi

lisan dan beragam fakta yang berhubungan dengan fokus penelitian yang

diteliti. Maka dalam penelitian ini digunakan dua teknik utama pengumpulan data,

yaitu studi dokumentasi dan teknik angket.

1. Studi Dokumentasi

Menurut Sugiyono (2008:98) Studi dokumentasi dalam pengumpulan data

(39)

68

untuk memperoleh data langsung dari instansi atau lembaga meliputi buku-buku,

laporan kegiatan yang releven.

2. Teknik Angket / Kuesioner

Kuesioner/angket secara umum sering disebut sebagai daftar pertanyaan.

Menurut Moh. Nazir (2003:203) kuesioner adalah daftar pertanyaan yang cukup

terperinci dan lengkap.

Angket disebarkan pada responden dalam hal ini sebanyak 56 responden.

Pemilihan dengan model angket ini, didasarkan atas alasan bahwa: (a) responden

memiliki waktu untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan atau

pernyataan-pernyataan, (b) setiap responden menghadapi susunan dan cara pengisian yang

sama atas pertanyaan yang diajukan, (c) responden mempunyai kebebasan

memberikan jawaban, dan (d) dapat digunakan untuk mengumpulkan data atau

keterangan dari banyak responden dan dalam waktu yang tepat.

Indikator-indikator yang merupakan jabaran dari variabel kepemimpinan transformasional

kepala sekolah dan motivasi berprestasi guru terhadap kinerja mengajar guru

merupakan materi pokok yang diramu menjadi sejumlah pernyataan didalam

angket.

F. Teknik Analisis Data

Langkah-langkah pengolahan data yang akan digunakan dalam penelitian

ini adalah sebagai berikut:

1. Analisis Data Deskriptif

Analisis deskriptif dimaksudkan untuk melihat kecenderungan distribusi

frekuensi variabel dan menentukan tingkat ketercapaian responden pada

masing-masing variabel. Gambaran umum setiap variabel digambarkan oleh skor rata-rata

yang diperoleh dengan menggunakan teknik Weighted Means Scored (WMS),

(40)

69

Keterangan:

= skor rata-rata yang dicari

X = jumlah skor gabungan (hasil kali frekuensi dengan bobot nilai untuk setiap

alternatif jawaban)

N = jumlah responden

Hasil kali perhitungan dikonsultasikan dengan tabel 5 kriteria dan

penafsiran seperti dibawah ini:

Tabel 3.12. Kriteria dan Penafsiran

Rentang Nilai Pilihan Jawaban Kriteria

4,01 – 5,00 Selalu Sangat tinggi

3,01 – 4,00 Sering Tinggi

2,01 – 3,00 Kadang-kadang Cukup

1,01 – 2,00 Jarang Rendah

0,01 – 1,00 Tidak pernah Sangat rendah

2. Pengujian Persyaratan Analisis

Ada tiga syarat yang harus dipenuhi sebelum melakukan analisis regresi,

baik regresi linier sederhana maupun regresi ganda. Persyaratan tersebut adalah

syarat normalitas dan syarat kelinieran regresi Y atas X.

a. Uji Normalitas Distribusi Data

Uji normalitas data dimaksudkan untuk mengetahui dan menentukan

analisis dan menentukan apakah pengolahan data menggunakan parametrik atau

non parametrik. Untuk pengolahan data parametrik, data yang dianalisis harus

berdistribusi normal, sedangkan pengolahan data non parametrik data yang

dianalisis berdistribusi tidak normal. Pengujian ini bertujuan untuk apakah ketiga

variabel penelitian tersebut memiliki penyebaran data yang normal atau tidak. Uji

normalitas data dapat dilakukan dengan menggunakan program komputer

(41)

70

Keterangan:

X2 = Chi Kuadrat yang dicari

O1 = Frekuensi hasil penelitian

E1 = Frekuensi

b. Uji Linieritas Data

Uji linieritas dapat dilihat dari signifikasi dari deviation of linierity untuk

X1 terhadap Y serta X2 terhadap Y. Apabila nilai signifikasi < 0,05 dapat

disimpulkan bahwa hubungannya bersifat linier.

3. Menguji Hipotesis Penelitian

Teknik yang digunakan dalam melakukan pengujian hipotesis adalah:

a. Hipotesis 1 dan 2 diuji dengan menggunakan teknik korelasi dan regresi

sederhana.

b. Hipotesis 3 diuji dengan menggunakan teknik korelasi dan regresi ganda.

a. Analisis Korelasi

1) Analisis Korelasi Sederhana

Analisis korelasi dimaksudkan untuk mengetahui derajat hubungan antara

variabel X dan variable Y. Ukuran yang digunakan untuk mengetahui derajat

hubungan dalam penelitian ini adalah koefisien korelasi (r) dengan menggunakan

rumus sebagai berikut:

Keterangan:

n = Jumlah responden

XY = Jumlah perkalian X dan Y

X = Jumlah skor tiap butir

Y = Jumlah skor total

X2 = Jumlah skor X dikuadratkan

Y2 = Jumlah skor Y dikuadratkan

(42)

71

rhitung dengan rtabel pada tingkat kepercayaan 95%. Bila rhitung > rtabel dan bernilai

positif, maka terdapat pengaruh yang positif.

2) Analisis Korelasi Ganda

Korelasi ganda merupakan angka yang menunjukkan arah dan kuatnya

hubungan antara dua variabel independen secara bersama-sama atau lebih dengan

satu variabel dependen. Berikut ini merupakan rumus korelasi ganda (Sugiyono,

2011: 233):

RyX1X2 =

Keterangan :

Ryx1x2 : Korelasi antara X1 dan X2 bersama-sama dengan Y

ryx1 : Korelasi Product Moment Y dengan X1

ryx2 : Korelasi Product Moment Y dengan X2

rx1x2 : Korelasi Product Meoment X1 dengan X2

Untuk lebih memudahkan dalam menafsirkan harga koefisien korelasi,

menurut Sugiyono (2011:231) sebagai berikut:

Tabel 3.13. Tolok Ukur Koefisien Korelasi

(43)

72

Uji signifikasi ini adalah untuk menentukan apakah variabel X tersebut

signifikan terhadap variabel Y. Rumus uji signifikansi adalah ((Field, 2000: 46):

Jika Signifikansi > 0,05 maka Ho diterima

Jika Signifikansi < 0,05 maka Ho ditolak dan Ha diterima

4) Uji Koefisien Determinasi

Mencari derajat hubungan berdasarkan Koefisien Determinasi (KD)

dengan maksud sejauh mana pengaruh yang diberikan oleh variabel X terhadap

variabel Y, dengan menggunakan rumus sebagai berikut:

Keterangan:

KD = Koefisien Determinasi yang dicari

r2 = Koefisien Korelasi

b. Analisis Regresi

1) Analisi Regresi Sederhana

Analisis regresi sederhana dimaksudkan untuk mengetahui hubungan

fungsional ataupun kausal satu variabel independen dengan satu variabel

dependen. Berikut ini merupakan rumus persamaan umum analisis regresi linier

sederhana (Sugiyono, 2011:261):

Keterangan:

= Nilai taksir Y (variabel terikat) dari regresi

a = Konstanta, apabila harga X = 0

b = Koefisien regresi, yaitu besarnya perubahan yang terjadi pada Y

jika satu unit perubahan yang terjadi pada X

X = Harga variabel X

- Uji t

Untuk mengetahui apakah variabel independen berpengaruh secara

(44)

73

menggunakan tingkat signifikansi 0,05 dan 2 sisi. Uji t pada regresi ini

menggunakan rumus yang dikemukakan oleh Akdon (2008:144), yaitu:

Keterangan:

t = nilai thitung

r = Koefisien korelasi hasil rhitung

n = Jumlah responden

Menguji taraf signifikansi yaitu dengan membandingkan harga thitung

dengan ttabel dengan tingkat kepercayaan tertentu dan dengan dk = n – 2. Koefisien

dikatakan signifikan atau memiliki arti apabila harga thitung > ttabel.

- Uji Signifikansi

Uji signifikansi ini adalah untuk menentukan apakah variabel X tersebut

signifikan terhadap variabel Y. Rumus uji signifikansi adalah (Sugiyono, 2011):

Jika Signifikansi > 0,05 maka Ho diterima

Jika Signifikansi < 0,05 maka Ho ditolak dan Ha diterima

2) Analisis Regresi Ganda

Analisis regresi ganda adalah alat peramalan pengaruh dua variabel bebas

atau lebih terhadap variabel terikat untuk membuktikan ada atau tidaknya

hubungan fungsi kausal antara dua variabel bebas atau lebih dengan variabel

terikat. Analisis regresi berganda menggunakan rumus:

Untuk mengetahui pengaruh antara variabel bebas terhadap variabel terikat

yang dikontrol oleh variabel bebas lainnya, atau secara bersama-sama digunakan

rumus analisis regresi ganda sebagai berikut:

Keterangan:

= Nilai taksir Y (variabel terikat) dari persamaan regresi

a = Nilai konstanta

(45)

74

X1 = variabel bebas

X2 = Nilai koefisien regresi X2

E = Prediktor (pengganggu)

- Uji t

Uji t atau uji koefesien regresi secara parsial digunakan untuk mengetahui

apakah secara parsial variabel independen berpengaruh secara signifikan atau

tidak terhadap variabel dependen, karena itu maka dilakukan analisis regresi linier

ganda dengan melakukan uji t. Pengujian dilakukan menggunakan tingkat

signifikansi 0,05 dan 2 sisi. Uji t pada regresi ini menggunakan rumus yang

dikemukakan oleh Akdon (2008:144), yaitu:

Keterangan:

t = nilai thitung

r = Koefisien korelasi hasil rhitung

n = Jumlah responden

Menguji taraf signifikansi yaitu dengan membandingkan harga thitung

dengan ttabel dengan tingkat kepercayaan tertentu dan dengan dk = n – 2. Koefisien

dikatakan signifikan atau memiliki arti apabila harga thitung > ttabel.

- Uji Signifikansi

Uji signifikansi ini adalah untuk menentukan apakah variabel X tersebut

signifikan terhadap variabel Y. Rumus uji signifikansi adalah (Sugiyono, 2011):

Jika Signifikansi > 0,05 maka Ho diterima

Jika Signifikansi < 0,05 maka Ho ditolak dan Ha diterima

- Uji f

Sedangkan untuk mencari signifikansi pada uji f digunakan rumus fhitung

yang kemudian dibandingkan dengan ftabel. Untuk mencari kesimpulan, jika fhitung

ftabel maka Ho ditolak, artinya signifikan, sebaliknya jika fhitung ftabel maka Ho

(46)

75

Untuk membantu analisis data, kegiatan penghitungan statistik

menggunakan program SPSS (Statistical Package of Social Science) 17.0. dan

Microsoft Office Excel 2007 sehingga dapat diperoleh perhitungan statistik

deskriptif seperti mean, deviasi standar, skor minimum, skor maksimum, dan

(47)

BAB V

KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

A. Kesimpulan

1. Kepemimpinan transformasional kepala sekolah pada SMK Negeri di Wilayah

Kabupaten Bandung Barat secara keseluruhan berada pada kategori sangat

tinggi. Hal ini tercermin dari sub variabel kepemimpinan transformasional

kepala sekolah yang meliputi: kharismatik (idealized influence), inspiratif

(inspirasional motivation), stimulasi intelektual (intellectual stimulation), serta

kepekaan individu (individualized consideration). Namun, untuk sub variabel

stimulasi intelektual (intellectual stimulation) dan kepekaan individu

(individualized consideration) berada pada kategori baik.

2. Motivasi berprestasi guru pada SMK Negeri di Wilayah Kabupaten Bandung

Barat secara keseluruhan berada pada kategori sangat tinggi. Hal ini tercermin

dengan terlaksananya sub variabel motivasi berprestasi guru yaitu:

bertanggungjawab, pengambil resiko, memiliki tujuan yang berkelanjutan,

selalu belajar dan menggunakan umpan balik, kreatif dan inovatif, percaya

diri, serta berpikir dan berkonsep diri positif. Namun, untuk sub variabel

pengambilan resiko berada pada kategori baik.

3. Kinerja mengajar guru pada SMK Negeri di Wilayah Kabupaten Bandung

Barat secara keseluruhan berada pada kategori sangat baik. Hal ini tercermin

dari sub variabel kinerja mengajar guru yaitu: merencanakan proses belajar

mengajar, melaksanakan proses belajar mengajar, serta mengevaluasi atau

menilai pembelajaran.

4. Kinerja mengajar guru normatif pada SMK Negeri di Wilayah Kabupaten

Bandung Barat secara keseluruhan berada pada kategori sangat baik. Hal ini

tercermin dari sub variabel kinerja mengajar guru yaitu: merencanakan proses

belajar mengajar, melaksanakan proses belajar mengajar, serta mengevaluasi

(48)

5. Kinerja mengajar guru produktif pada SMK Negeri di Wilayah Kabupaten

Bandung Barat secara keseluruhan berada pada kategori baik. Hal ini tercermin

dari sub variabel kinerja mengajar guru yaitu: merencanakan proses belajar

mengajar, melaksanakan proses belajar mengajar, serta mengevaluasi atau

menilai pembelajaran. Namun untuk sub variabel melaksanakan proses belajar

mengajar terutama pada indikator menutup pelajaran masih berada pada

kategori rendah.

6. Kinerja mengajar guru adaptif pada SMK Negeri di Wilayah Kabupaten

Bandung Barat secara keseluruhan berada pada kategori sangat baik. Hal ini

tercermin dari sub variabel kinerja mengajar guru yaitu: merencanakan proses

belajar mengajar, melaksanakan proses belajar mengajar, serta mengevaluasi

atau menilai pembelajaran.

7. Terdapat pengaruh kepemimpinan transformasional kepala sekolah terhadap

kinerja mengajar guru pada SMK Negeri di Wilayah Kabupaten Bandung

Barat, berdasarkan hasil penelitian pengaruhnya berada pada kategori kuat.

8. Terdapat pengaruh motivasi berprestasi guru terhadap terhadap kinerja

mengajar guru pada SMK Negeri di Wilayah Kabupaten Bandung Barat,

berdasarkan hasil penelitian pengaruhnya berada pada kategori kuat.

9. Terdapat pengaruh kepemimpinan transformasional kepala sekolah dan

motivasi berprestasi guru terhadap kinerja mengajar guru pada SMK Negeri di

Wilayah Kabupaten Bandung Barat, berdasarkan hasil penelitian pengaruhnya

berada pada kategori kuat.

B. Rekomendasi

Berdasarkan kesimpulan di atas, penulis merekomendasikan diantaranya

sebagai berikut:

1. Pada variabel kepemimpinan transformasional kepala sekolah pada SMK

Negeri di Wilayah Kabupaten Bandung Barat berada pada kategori sangat

baik. Hal ini tentunya perlu dipertahankan, sehingga melalui kepemimpinan

(49)

mengajar guru, dengan demikian proses belajar mengajar di sekolah dapat

dilaksanakan secara maksimal dan mutu pendidikan yang baik dapat

terwujud.

2. Pada variabel motivasi berprestasi guru pada SMK Negeri di Wilayah

Kabupaten Bandung Barat sudah berada pada kategori sangat baik, namun hal

ini menjadi sebuah keharusan dari seluruh komponen sekolah terutama

guru-guru dalam upaya mempertahankannya, sehingga melalui motivasi

berprestasi guru diharapkan mampu meningkatkan kinerja mengajar guru,

dengan demikian akan terwujud pendidikan yang berkualitas.

3. Pada variabel kinerja mengajar guru pada SMK Negeri di Wilayah Kabupaten

Bandung Barat sudah berada pada kategori sangat baik, namun hal ini

menjadi sebuah keharusan dari seluruh komponen sekolah terutama

guru-guru dalam upaya mempertahankannya sehingga proses belajar mengajar di

sekolah dapat dilaksanakan secara maksimal dan mutu pendidikan yang baik

dapat terwujud.

4. Pada variabel kinerja mengajar guru produktif pada SMK Negeri di Wilayah

Kabupaten Bandung Barat yang perlu menjadi perhatian adalah sub variabel

melaksanakan proses belajar mengajar terutama pada indikator menutup

pelajaran masih berada pada kategori rendah. Untuk itu perlu adanya upaya

pembinaan baik secara internal maupun eksternal yang mempengaruhi kinerja

mengajar guru produktif, terutama memberikan motivasi untuk selalu

berusaha memperbaiki kekurangan di dalam melaksanakan proses belajar

Figur

Tabel 3.2. Penyebaran Sampel

Tabel 3.2.

Penyebaran Sampel p.23
Tabel 3.3. Kisi-Kisi Instrumen Penelitian Variabel Kepemimpinan Transformasional Kepala Sekolah (X)

Tabel 3.3.

Kisi-Kisi Instrumen Penelitian Variabel Kepemimpinan Transformasional Kepala Sekolah (X) p.28
Tabel 3.4. Kisi-Kisi Instrumen Penelitian Variabel Motivasi Berprestasi  Guru (X2)

Tabel 3.4.

Kisi-Kisi Instrumen Penelitian Variabel Motivasi Berprestasi Guru (X2) p.29
Tabel 3.5. Kisi-Kisi Instrumen Penelitian Variabel Kinerja Mengajar Guru (Y)

Tabel 3.5.

Kisi-Kisi Instrumen Penelitian Variabel Kinerja Mengajar Guru (Y) p.30
Tabel 3.6. Kepemimpinan Transformasional Kepala Sekolah (X1)

Tabel 3.6.

Kepemimpinan Transformasional Kepala Sekolah (X1) p.32
Tabel 3.7. Uji Validitas Variabel Motivasi Berprestasi Guru (X2)

Tabel 3.7.

Uji Validitas Variabel Motivasi Berprestasi Guru (X2) p.33
Tabel 3.8. Uji Validitas Variabel Kinerja Mengajar Guru (Y)

Tabel 3.8.

Uji Validitas Variabel Kinerja Mengajar Guru (Y) p.34
Tabel 3.9.

Tabel 3.9.

p.35
Tabel 3.10.

Tabel 3.10.

p.36
Tabel 3.11.

Tabel 3.11.

p.37
Tabel 3.12. Kriteria dan Penafsiran

Tabel 3.12.

Kriteria dan Penafsiran p.40
Tabel 3.13. Tolok Ukur Koefisien Korelasi

Tabel 3.13.

Tolok Ukur Koefisien Korelasi p.42

Referensi

Memperbarui...