BAB IV ANALISA DAN STRATEGI
4.1 Identifikasi Sektor Basis di Kabupaten Sampang
Data yang digunakan untuk mengetahui sektor basis di Kabupaten Sampang adalah data PDRB Kabupaten Sampang tahun 2009-2013 dengan dibandingkan data PDRB Jawa Timur tahun 2009-2013. Metode analisis yang digunakan adalah LQ. Metode analisis Location Quotient (LQ) digunakan untuk mengetahui sektor-sektor ekonomi dalam PDRB yang dapat digolongkan ke dalam sektor basis dan non basis. LQ merupakan suatu perbandingan tentang besarnya peranan suatu sektor di Kabupaten Sampang terhadap besarnya peranan sektor tersebut di tingkat Provinsi Jawa Timur.
Nilai LQ > 1 berarti bahwa peranan suatu sektor di kota lebih dominan dibandingkan sektor ditingkat provinsi dan sebagai petunjuk bahwa kota surplus akan produk sektor tersebut. Sebaliknya bila nilai LQ < 1 berarti peranan sektor tersebutlebih kecil di kota dibandingkan peranannya di tingkat provinsi, lalu jika LQ = 1 berarti laju pertumbuhan sektor i di daerah studi k adalah sama dengan laju pertumbuhan sektor yang sama dalam perekonomian daerah referensi/provinsi.
Nilai LQ dapat dikatakan sebagai petunjuk untuk dijadikan dasar untukmenentukan sektor yang potensial untuk dikembangkan. Karena sektor tersebut tidaksaja dapat memenuhi kebutuhan di dalam daerah, akan tetapi dapat juga memenuhikebutuhan di daerah lain atau surplus. Berikut ini hasil perhitungan sektor basis di Kabupaten Sampang.
Tabel 8 : Hasil Perhitungan Analisis Location Quetient (LQ)
No. Sektor LQ Keterangan
1. Pertanian 3,02 Basis
2. Pertambangan dan Penggalian 4,407 Basis
3. Industri Pengolahan 0,042 Non Basis
4. Listrik, Gas, dan Air Bersih 0,308 Non Basis
5. Bangunan 0,709 Non Basis
6. Perdagangan, Hotel, dan Restoran 0,871 Non Basis
31 | P a g e 8.
Keuangan, Persewaan, dan Jasa Perusahaan
0,689 Non Basis
9. Jasa-jasa 1,38 Basis
Sumber : Hasil Analisa, 2015
Dari hasil analisis LQ di atas, sektor basis di Kabupaten Sampang teridir dari sektor pertanian, pertambangan dan penggalian, dan jasa-jasa. Sektor pertambangan dan penggalian mempunyai nilai LQ tertinggi yaitu sebesar 4,407 dibandingkan dua sektor basis lainnya.
4.1.1 Analisis Komponen Pertumbuhan Wilayah
Untuk mengetahui sumber atau komponen pertumbuhan suatu wilayah maka selanjutnya digunakan analisis Shift Share. Analisis Shift-share digunakan untuk mengetahui proses pertumbuhan ekonomi Kabupaten Sampang dikaitkan dengan perekonomian daerah yang menjadi referensi, yaitu Provinsi Jawa Timur. Analisis Shift-Share dalam penelitian ini menggunakan variabel pendapatan, yaitu PDRB untuk menguraikanpertumbuhan ekonomi Kabupaten Sampang. Dalam analisis shift-share, perubahan ekonomi ditentukan oleh dua komponen, yaitu:
a. Komponen Pertumbuhan Proporsional (Proportional or Industrial Mix Growth Component/PP) b. Komponen Pertumbuhan Pangsa Wilayah (Regional Share Growth Component/PPW)
4.1.1.1 Proporsional Shift (PP)
Proporsional Shift sebuah nilai untuk mengukur perubahan relatif (naik/turun) suatu sektor daerah terhadap sektor yang sama ditingkat nasional. Dengan ketentuan sebagai berikut:
1. Apabila PP > 0 berarti suatu daerah berspesialisasi dalam sektor-sektor yang secara nasional tumbuh secara cepat
2. Apabila PP < 0 berarti suatu daerah tidak memiliki spesialisasi dalam sektor-sektor yang secara nasional tumbuh secara cepat
Adapun hasil analisa Proporsional Shift Kabupaten Sampang dapat dilihat melalui tabel berikut.
Tabel x. Nilai KPP Shift Share di Kabupaten Sampang
No. Sektor KPP (%) Keterangan
1. Pertanian -20,51 Spesialisasi dalam sektor yang secara
32 | P a g e
2. Pertambangan dan Penggalian -8,3 Spesialisasi dalam sektor yang secara nasional tumbuh lambat
3. Industri Pengolahan -6,47 Spesialisasi dalam sektor yang secara nasional tumbuh lambat
4. Listrik, Gas, dan Air Bersih -4,92 Spesialisasi dalam sektor yang secara nasional tumbuh lambat
5. Bangunan 5,15 Spesialisasi dalam sektor yang secara
nasional tumbuh cepat
6. Perdagangan, Hotel, dan Restoran 14,54 Spesialisasi dalam sektor yang secara nasional tumbuh cepat
7. Pengangkutan dan Komunikasi 17,81 Spesialisasi dalam sektor yang secara nasional tumbuh cepat
8. Keuangan, Persewaan, dan Jasa Perusahaan
4,11 Spesialisasi dalam sektor yang secara nasional tumbuh cepat
9. Jasa-jasa -9,41 Spesialisasi dalam sektor yang secara
nasional tumbuh lambat
Sumber: Analisis Penulis, 2015
Berdasarkan tabel diatas, didapatkan bahwa Kabupaten Sampang memiliki nilai PP tertinggi dan menjadi sektor dengan nilai PP positif adalah Pengangkutan dan Komunikasi, sehingga sektor ini merupakan sektor berspesialisasi yang secara nasional tumbuh secara cepat pada Kabupaten ini. Sementara sektor-sektor lainnya memiliki spesialisasi yang secara nasional tumbuh secara lambat.
4.1.1.2 Differential Shift (PPW)
Differential Shift adalah nilai untuk mengetahui seberapa komparatif sektor tertentu daerah dibanding nasional. Pengukuran nilai Differential Shift/PPW ini dikelompokkan dalam dua kategori, yaitu:
a. Jika PPW > 0, maka kota/kabupaten x memiliki daya saing yang baik di sektor i apabila dibandingkan dengan wilayah lain, atau dapat dikatakan kota/kabupaten x memiliki comparative advantage untuk sektor i dibandingkan dengan wilayah yang lain.
b. PPW < 0, maka sektor i pada kota/kabupaten x tidak dapat bersaing dengan baik apabila dibandingkan dengan wilayah lainnya.
33 | P a g e
Berikut merupakan hasil perhitungan Differential Shift pada Kabupaten Sampang.
Tabel x. Hasil Perhitungan KPPW pada Kabupaten Sampang
No. Sektor KPPW (%) Keterangan
1. Pertanian 0,65 Mempunyai daya saing
2. Pertambangan dan Penggalian 4,34 Mempunyai daya saing
3. Industri Pengolahan 1,37 Mempunyai daya saing
4. Listrik, Gas, dan Air Bersih 1,49 Mempunyai daya saing
5. Bangunan 7,26 Mempunyai daya saing
6. Perdagangan, Hotel, dan Restoran 2,01 Mempunyai daya saing 7. Pengangkutan dan Komunikasi -13,62 Tidak mempunyai daya saing 8. Keuangan, Persewaan, dan Jasa
Perusahaan
-1,25 Tidak mempunyai daya saing
9. Jasa-jasa 4,74 Mempunyai daya saing
Sumber : Analisis Penulis, 2015
Dari tabel diatas didapatkan bahwa sektor bangunan memiliki daya saing tinggi apabila dibandingkan dengan wilayah lainnya. Sedangkan sektor pengangkutan dan komunikasi, dan keuangan, persewaan, dan jasa perusahaan tidak memiliki daya saing jika dibandingkan dengan wilayah lainnya di Jawa Timur.
4.1.2 Analisa Persoalan Ekonomi Wilayah
Berdasarkan analisis PP maka sektor-sektor di Kabupaten Sampang yang secara nasional tumbuh secara cepat didominasi oleh sektor pengangkutan dan komunikasi dengan nilai PP tertinggi, namun juga diikuti oleh sektor-sektor lainnya yang secara nasional tumbuh secara cepat pula yaitu sektor bangunan, perdagangan, hotel, dan restoran, dan keuangan, persewaan, dan jasa perusahaan
Sementara itu, untuk mengetahui potensi perkembangan masing-masing sub sektor maka berikut ini adalah peta klasifikasi sub sektor maka dilakukan perhitungan dengan kriteria:
1. LQ > 1; PP + PPW > 0, Sektor basis dengan pertumbuhan cepat. 2. LQ > 1; PP + PPW < 0, Sektor basis dengan pertumbuhan lambat. 3. LQ < 1; PP + PPW > 0, Sektor non basis dengan pertumbuhan cepat.
34 | P a g e
4. LQ < 1; PP + PPW < 0, Sektor non basis dengan pertumbuhan lambat
KRITERIA KPPW (+) KPPW (-)
KPP (+) Sektor tersebut secara Nasional
tumbuh cepat dan memiliki daya saing keunggulan komparatif
Sektor tersebut secara Nasional tumbuh cepat tetapi tidak memiliki daya saing keunggulan komparatif.
KPP (-) Sektor tersebut secara Nasional
tumbuh lambat tetapi memiliki daya saing keunggulan komparatif
Sektor tersebut secara Nasional tumbuh lambat dan tidak memiliki daya saing keunggulan komparatif.
Berdasarkan pemetaan diatas, didapatkan hasil sebagai berikut.
No Sektor KPP (%) KPPW (%) PB Keterangan
1 Pertanian -20,51 0,65 -19,86 Mundur
2 Pertambangan & Penggalian -8,3 4,34 -3,95 Mundur
3 Industri Pengolahan -6,47 1,37 -5,09 Mundur
4 Listrik Gas dan Air Bersih -4,92 1,49 -3,42 Mundur
5 Bangunan/Konstruksi 5,15 7,26 11,42 Maju
6 Perdagangan, Hotel & Restoran 14,54 2,01 16,56 Maju 7 Angkutan & Komunikasi 17,81 -13,62 4,19 Maju 8 Keuangan Persewaan & Js Per 4,11 -1,25 2,86 Maju
9 Jasa-jasa -9,41 4,74 -4,66 Mundur
Sumber : Hasil Analisa, 2015
Dan peta klasifikasi sektor berdasarkan hasil analisis LQ dan PB sebagai berikut.
35 | P a g e
1 Pertanian 3,02 -19,86
2 Pertambangan & Penggalian 4,407 -3,95
3 Industri Pengolahan 0,042 -5,09
4 Listrik Gas dan Air Bersih 0,308 -3,42
5 Bangunan/Konstruksi 0,709 11,42
6 Perdagangan, Hotel & Restoran 0,871 16,56
7 Angkutan & Komunikasi 0,331 4,19
8 Keuangan Persewaan & Js Per 0,689 2,86
9 Jasa-jasa 1,38 -4,66
Sumber : Hasil Analisa, 2015
KRITERIA PB >0 PB<0
LQ <1 Merupakan sektor non basis
dengan pertumbuhan cepat.
(Listrik, Gas dan Air Bersih)
Merupakan sektor non basis dengan dan pertumbuhan lambat.
(Pertanian, Pertambangan dan Penggalian)
LQ ≥ Merupakan sektor basis dengan
dan pertumbuhan cepat.
(Bangunan/Konstruksi)
Merupakan sektor basis dengan dan pertumbuhan lambat.
(Industri Pengolahan,Agkutan dan Komunikasi, Keuangan Persewaan dan Jasa Perusahaan)
36 | P a g e