• Tidak ada hasil yang ditemukan

Lampiran 16. Kuesioner pengunjung

I. IDENTITAS PENGUNJUNG

Nama :

Usia/ Jenis Kelamin : …… tahun/ (L/ P)

Kota Asal Kedatangan : ……….. lama perjalanan: …….jam.

jarak tempuh: …… km.

Pendidikan Terakhir : a. SMP c. Diploma

b. SMA d. Sarjana/ pascasarjana

Pekerjaan : a. Mahasiswa/ pelajar e. Pegawai negeri

b. Ibu RT/ tidak bekerja f. ABRI

c. Wiraswasta g. Pensiunan

d. Pegawai swasta h. Lainnya : …………..

1. Maksud kunjungan ke Desa ……… (*) :

a. Rekreasi b. Ingin tahu c. Study tour

Objek yang di kunjungi berupa ……… di ……….. 2. Kunjungan ke Desa ……… (*) :

a. Pertama kali b. Ke-2 kali

c. Ke- lebih dari 2 kali

Jika menjawab (c) berapa frekuensi kunjungan:

a. 2 kali/ tahun c. 1 kali/ bulan

b. 3 kali/ tahun d. > 1 kali/ bulan

3. Bersama siapa sekarang melakukan kunjungan ke Desa ……… (*) :

a. Sendiri

b. Berkelompok

c. Rombongan besar sekolah kantor kampung/desa

(Jumlah rombongan : ………… orang)

4. Menggunakan kendaraan: a. Motor b. Mobil c. Bis d. Lainnya:…………

5. Lama kunjungan : ……… jam. Dari pukul ……… hingga pukul ……… Atau : ……… hari. Dari hari ……… hingga hari ……… Jika kunjungan > 1 hari, menginap di :

a. Villa b. Rumah warga c. Lainnya: ………. 6. Berapa pengeluaran anda untuk wisata per bulan :

a. < 10.000 rupiah c. 50.000 – 100.000 rupiah

b. 10.000 -50.000 rupiah d. > 100.000 rupiah

7. Aktifitas yang dilakukan di Desa ……… (*) :

a. Piknik d. Berolah raga g. Belanja j. Makan-makan

b. Bermain e. Foto-foto h. Belajar k. Jalan-jalan

c. Menikmati pemandangan f. Out bond i. Meneliti l. Bersepeda

8. Apakah kesan anda melihat pemandangan Desa ………(*) dan sekitarnya :

a. Sangat indah c. Jelek

b. Indah d. Sangat jelek

9. Bagaimana kesan anda terhadap kenyamanan Desa ………(*):

a. Sangat nyaman c. Tidak Nyaman

b. Nyaman d. Sangat tidak nyaman

10. Bagaimana kesan anda terhadap keamanan Desa ………(*):

a. Sangat aman c. Tidak aman

b. Aman d. Sangat tidak aman

11. Bagaimana derajat pengalaman mengunjungi Desa ………(*):

a. Sangat banyak pengalaman baru c. Sedikit pengalaman baru

b. Banyak pengalaman baru d. Sangat sedikit pengalaman baru

12. Menurut anda bagaimana kondisi Desa ………(*):

a. Sangat bersih b. Bersih c. Kotor d. Sangat kotor

13. Apakah kesan anda ketika mengunjungi Desa ………(*) dan sekitarnya:

a. Sangat menyenangkan c. Tidak menyenangkan

b. Menyenangkan d. Sangat tidak menyenangkan

14. Penduduk Desa ………(*) menunjukan sikap:

a. Sangat ramah b. Ramah c. Tidak ramah

a. Sangat terbuka b. Terbuka c. Tertutup

15. Dari mana anda mengetahui informasi tentang Desa ……….(*):

a. Keluarga c. Selebaran e. Lainnya:………

b. Teman d. Diri sendiri

16. Kondisi jalan menuju Desa ……….(*):

a. Sangat baik b. Baik c. Buruk

Kondisi jalan di dalam Desa ... (*):

15. Apabila Desa ………. (*)dan sekitarnya dikembangkan menjadi kawasan obyek agrowisata (wisata pertanian), obyek agrowisata apa yang anda inginkan:

a. Pertanian pangan d. Peternakan g. Agroindustri

b. Perkebunan e. Kehutanan

c. Perikanan f. Hortikultura

16. Apa aktifitas agrowisata yang anda inginkan:

a. Pertanian pangan : Mempersiapkan lahan Lainnya ...

Menanam Memanen hasil Belanja hasil pertanian Makan olahan hasil pertanian

b. Perkebunan : Menanam Lainnya ...

Mengikuti kegiatan produksi

c. Perikanan : Mengikuti kegiatan budidaya Lainnya ...

Memberi makan ikan Memancing ikan Melihat ikan hias

Makan hasil pancingan (bakar ikan, dll)

d. Peternakan : Memberi makan ternak Lainnya ...

Memerah susu Memandikan ternak

Membuat kompos dari kotoran ternak

e. Kehutanan : Tracking Lainnya ...

Menanam pohon

Mengenal vegetasi dan satwa hutan

f. Hortikultura : Membuat media tanam Lainnya ...

Mengikuti kegiatan budidaya

Belanja produk hortikultur (buah/ sayuran/ bunga) Memetik buah/ sayuran/ bunga

17. Sedangkan, aktifitas wisata umum yang anda inginkan:

a. Foto-foto c. Bermain e. Kemah

b. Piknik d. Berolahraga f. Out bond 

   

18. Sarana prasarana/ fasilitas yang seperti apa yang sesuai dengan daerah tujuan agrowisata/ perdesaan:

• Tempat parkir : Terpusat Lainnya ...

Berkelompok (tergantung objek agrowisata) Di luar kawasan

• Warung makan : Lesehan Di saung petani

Tenda Lainnya ...

Di atas air/ kolam

• Kios cendera mata : Terpusat

Tersebar sesuai objek agrowisata Lainnya ...

• Toilet : Terpisah antara Lk dan Pr

Suasana perdesaan (air berlimpah/ pancuran) Bentuk & bahan bangunan dgn suasana perdesaan Lainnya ...

• Tempat ibadah : Bentuk & bahan bangunan dengan suasana perdesaan

Bertingkat / tidak bertingkat *) Lainnya ...

• Papan informasi : Terbuat dari bahan yg sesuai suasana perdesaan

Memberi informasi tentang objek agrowisata Ukuran besar / sedang / kecil *)

• Tempat sampah : Terpusat (TPS)

Tersebar di pusat keramaian Lainnya ...

• Tempat istirahat/shelter : Tersebar di tiap objek agrowisata

Terpusat di lokasi tertentu

Berbentuk panggung dengan naungan Lainnya ...

• Penginapan : Berbentuk hall/ aula

Berbentuk kamar-kamar ukuran kecil Berbentuk kamar-kamar ukuran besar Lainnya ... • Kolam pemancingan : Terdiri dari lapak-lapak

Berperahu

• Pemandu wisata/ guide : per individu Lainnya ... per kelompok (... org)

• Transportasi desa : andong/ delman Lainnya ...

sepeda motor

• Pasar desa : Terpusat Lainnya ...

Tersebar di beberapa desa Menjual hasil pertanian desa 19. Apakah anda bersedia untuk ditarik biaya masuk:

a. Bersedia, dengan kisaran:

Rp. 5000 – 10000 Rp. 10000 – 50000 > Rp. 50000

b. Tidak bersedia

20. Menurut anda objek agrowisata apa yang ada di Desa …………(*) & bagaimana kesan anda terhadap objek agrowisata tersebut:

a. Pertanian pangan : Sangat menarik Menarik Kurang menarik

b. Perkebunan : Sangat menarik Menarik Kurang menarik

c. Perikanan : Sangat menarik Menarik Kurang menarik

d. Peternakan : Sangat menarik Menarik Kurang menarik

e. Kehutanan : Sangat menarik Menarik Kurang menarik

f. Hortikultura : Sangat menarik Menarik Kurang menarik

g. Agroindustri : Sangat Menarik Menarik Kurang Menarik

21. Menurut anda langkah-langkah apa yang perlu dilakukan agar pengunjung lebih tertarik untuk berkunjung ke Desa …………(*) sebagai kawasan obyek agrowisata: ……… ……… ……… ……… ………

Latar Belakang

Indonesia dengan posisi geografis di khatulistiwa serta kondisi alam, hayati, dan budaya yang beragam, merupakan negara agraris dengan keanekaragaman hayati (biodiversity) nomor tiga terbesar di dunia. Kekayaan alam yang melimpah tersebut merupakan potensi yang jika dikelola dengan tepat mampu diandalkan menjadi andalan perekonomian nasional sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Masyarakat di Indonesia sangat beragam, dan sebagian besar masih bekerja dalam sektor pertanian dan menetap menjadi penduduk perdesaan. Walaupun saat ini kondisi pertanian di Indonesia sudah cukup berkembang, namun banyak diantara penduduk perdesaan yang belum menikmati hasil kemerdekaan dan hasil pembangunan, karena pertumbuhan sektor pertanian di Indonesia sangat lambat bila dibandingkan dengan negara tetangga dan/atau negara berkembang lainnya. Diakui bahwa potensi sumberdaya alam dan budaya tersebut banyak yang belum dimanfaatkan dan objek yang sudah dikembangkan juga belum optimal. Hal ini menjadi tantangan sekaligus peluang untuk meningkatkan nilai manfaat sumberdaya dalam bentuk pariwisata nasional, terutama bagi daerah yang sekarang berupaya untuk memacu perkembangan pariwisata dan pembagian hasilnya bagi masyarakat.

Pada dekade terakhir, pembangunan pariwisata di Indonesia maupun di mancanegara menunjukkan kecenderungan terus meningkat. Komoditas pertanian di daerah perdesaan (mencakup tanaman pangan, hortikultura, perkebunan, kehutanan, peternakan dan perikanan) dengan keragaman dan keunikannya yang bernilai tinggi serta diperkuat oleh kekayaan kultural yang sangat beragam merupakan potensi besar untuk pengembangan pariwisata dengan bentuk agrowisata yang diharapkan dapat menjadi alternatif pemanfaatan sumberdaya sekaligus meningkatkan pendapatan masyarakat perdesaan tanpa merusak lingkungan untuk kelestarian sumberdaya alam dan lingkungan bagi generasi di waktu yang akan datang. Untuk itu, peran serta masyarakat sangat dibutuhkan demi terwujudnya suatu keberlanjutan, seperti dalam merencanakan, mengelola dan melaksanakan kegiatan agrowisata itu sendiri.

Desa Sukaharja dan Desa Tajurhalang di Kecamatan Cijeruk, Kabupaten Bogor, memiliki potensi sumber daya alam dan sumber daya manusia yang dapat dikembangkan menjadi objek agrowisata. Desa Sukaharja memiliki potensi objek agrowisata berupa pembibitan tanaman hias (kelompok tani Bunga Desa), lahan sayuran palawija dan padi, serta pembibitan tanaman buah (durian, jambu biji, nanas), sedangkan Desa Tajurhalang memiliki potensi objek agrowisata berupa peternakan dan tanaman hias (kelompok tani Violces). Desa Sukaharja memiliki kelembagaan dalam bentuk beberapa kelompok tani yang masih didominasi oleh kelompok tani pemula serta gabungan kelompok tani (Gapoktan) yang baru dibentuk tahun 2009 lalu. Desa Tajurhalang memiliki beberapa kelembagaan meliputi kelompok tani, Badan Permusyawaratan Desa (BPD) serta Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (PKK). Beberapa Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dan lembaga pemerintah lainnya seperti Unit Penyuluhan Pertanian Daerah (UPTD) juga memiliki kegiatan dalam pengembangan sumberdaya di kedua desa ini. Potensi agrowisata berupa faktor-faktor alam dan sosial ini belum sepenuhnya dikembangkan dan dimanfaatkan secara optimal.

Oleh karena itu, untuk mewujudkan suatu daerah perdesaan dengan objek agrowisata yang menarik dan sekaligus mampu melestarikan sumber daya lahan yang ada maka perlu dirumuskan langkah-langkah yang terukur dan rasional serta kajian yang mendalam (Damanik 2006). Dalam hal ini perencanaan menjadi tahap awal yang menentukan tercapainya keberhasilan pengembangan objek agrowisata tersebut. Pengembangan objek agrowisata harus memperhatikan faktor-faktor keserasian alam, sosial, ekonomi dan budaya, serta dibutuhkan kerjasama sinergis diantara pelaku yang terlibat baik dalam perencanaan maupun pengelolaan agrowisata, yaitu masyarakat, swasta dan pemerintah. Harapan dan keinginan pengunjung juga sepenuhnya menjadi perhatian bagi pengembangan agrowisata. Sehingga tidak hanya kegiatan pengembangan dan hasil yang diharapkan dapat disusun secara sistematis, tetapi metode pemantauan terhadap perkembangan agrowisata juga dapat dirancang sedemikian rupa, dan dapat menjamin apa yang kita sebut dengan prinsip-prinsip pengembangan agrowisata berkelanjutan (sustainable agrotourism development).

Tujuan Penelitian

1) Mengidentifikasi karakter lanskap perdesaan, potensi dan berbagai permasalahan dalam perencanaan agrowisata di Desa Sukaharja dan Desa Tajurhalang, Kecamatan Cijeruk, Kabupaten Bogor

2) Mengidentifikasi kondisi sosial ekonomi dan kelembagaan masyarakat yang mempunyai potensi untuk pengembangan agrowisata perdesaan 3) Membuat perencanaan lanskap agrowisata berkelanjutan di Desa

Sukaharja dan Desa Tajurhalang, Kecamatan Cijeruk, Kabupaten Bogor.

Manfaat

Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan dalam pengembangan lanskap agrowisata yang memperhatikan aspek keberlanjutan sumber daya. Serta menjadi alternatif yang dapat dipertimbangkan dan diterapkan oleh pemerintah Kabupaten Bogor untuk memulai perencanaan dengan titik-tolak faktor potensi, kekuatan, kelemahan, hambatan dan peluang pengembangan agrowisata yang memperhatikan inspirasi dan aspirasi masyarakat demi keberlanjutan sumber daya.

Desa Sukaharja dan Desa Tajurhalang memiliki faktor-faktor penyusun lanskap perdesaan berupa lahan pertanian serta sosial budaya masyarakat yang berpotensi untuk dikembangkan menjadi kawasan agrowisata. Analisis terhadap beberapa faktor tersebut merupakan upaya untuk mendapatkan penilaian berupa potensi dan kendala yang dikaji dari aspek ekologis, sosial, dan estetika yang mencakup penilaian keberlanjutan masyarakat untuk selanjutnya diterjemahkan dalam bentuk pembagian ruang. Konsep agrowisata berkelanjutan merupakan upaya pengembangan kawasan dengan memanfaatkan ragam komoditas pertanian, bentukan lanskap perdesaan dan peran aktif masyarakat untuk dapat menarik pengunjung serta menyejahterakan masyarakat perdesaan tanpa merusak lingkungan alami pedesaan sehingga tetap lestari hingga waktu yang akan datang. Berdasarkan pembagian ruang dan konsep tersebut akan menghasilkan rencana lanskap agrowisata. Kerangka pikir terdapat pada Gambar 1.

 

Gambar 1 Kerangka pikir perencanaan Analisis dan Penataan Bio-Fisik,

SDA dan Lingkungan

Analisis Keberlanjutan Masyarakat

Penilaian dan Konsep Pengembangan Agrowisata 

Perencanaan Lanskap Perdesaan untuk Pengembangan Agrowisata Berkelanjutan  Karakteristik Lanskap Pertanian

dan Perdesaan

Lanskap Perdesaan

Karakteristik Sosial, Ekonomi, Budaya Masyarakat

Lanskap

Pengertian Lanskap

Menurut Rachman (1984) dalam lanskap adalah wajah dan karakter lahan atau tapak bagian dari muka bumi ini dengan segala kehidupan dan apa saja yang ada didalamnya, baik yang bersifat alami maupun buatan manusia beserta makhluk hidup lainnya, sejauh mata memandang, sejauh segenap indera kita dapat menjangkau dan membayangkan.

Arsitektur Lanskap

Pada hakikatnya Arsitektur Lanskap adalah ilmu dan seni perencanaan (planning) dan perancangan (design) serta pengaturan daripada lahan, penyusunan elemen-elemen alami dan buatan melalui aplikasi ilmu pengetahuan dan budaya, dengan memperhatikan keseimbangan kebutuhan pelayanan dan pemeliharaan sumber daya, hingga pada akhirnya dapat tersajikan suatu lingkungan yang fungsional dan estetis (Hakim 2003).

Agrowisata

Pengertian Agrowisata

Agrotourism, agrowisata, wisata agro atau wisata pertanian

merupakan penggabungan antara aktivitas wisata dengan aktivitas pertanian (Nurisjah 2001). Secara spesifik, wisata agro atau wisata pertanian adalah rangkaian aktivitas perjalanan wisata yang memanfaatkan lokasi atau kawasan dan sektor pertanian mulai dari awal sampai dengan produk pertanian dalam berbagai sistem, skala dan bentuk dengan tujuan untuk memperluas pengetahuan, pemahaman, pengalaman, dan rekreasi di bidang pertanian ini. Sajian yang diberikan pada wisatawan tidak hanya pemandangan kawasan pertanian yang panoramik dan kenyamanan di alam pertanian, tetapi juga aktivitas petani beserta teknologi khas yang digunakan dan dilakukan dalam lahan pertanian dimana wisatawan juga dapat mengikuti aktivitas ini, ketersediaan produk segar pertanian yang dapat

dinikmati wisatawan, nilai historik lokasi, arsitektur, atau kegiatan tertentu, budaya pertanian yang khas, dan kombinasi dari berbagai ciri tersebut.

Berdasarkan Surat Keputusan (SK) bersama Menteri Pariwisata No. KM.47/PW.DOW/MPPT-89 dan No. 204/KPTS/HK/050/4/1989, agrowisata sebagai bagian dari obyek wisata diartikan sebagai suatu bentuk kegiatan yang memanfaatkan usaha agro sebagai obyek wisata dengan tujuan untuk memperluas pengetahuan, pengalaman rekreasi, dan hubungan usaha di bidang pertanian (Tirtawinata 1996).

Ruang Lingkup dan Potensi Agrowisata

Ismaun (1990) mengungkapkan secara umum, lingkup dan potensi agrowisata yang dapat dikembangkan adalah: 1) wisata di daerah perkebunan, 2) wisata di daerah pertanian tanaman pangan, 3) wisata di daerah peternakan, dan 4) wisata di daerah perikanan.

Manfaat Agrowisata

Beberapa manfaat agrowisata menurut Titawinata (1996) antara lain: 1) meningkatkan konservasi lingkungan, 2) meningkatkan nilai estetika dan keindahan alam, 3) memberikan nilai rekreasi, 4) meningkatkan kegiatan ilmiah dan pengembangan ilmu pengetahuan, dan 5) meningkatkan keuntungan ekonomi.

Aktivitas Agrowisata

Nurisjah (2001) berpendapat bahwa dalam aktivitas agrowisata ini wisatawan diajak berjalan-jalan untuk menikmati dan mengapresiasi kegiatan pertanian dan kekhasan serta keindahan alam binaannya sehingga daya apresiasi dan kesadaran untuk semakin mencintai budaya dan melestarikan alam semakin meningkat. Dalam aktivitas agrowisata ini, petani yang berada dalam kawasan wisata agro, dapat menjadi obyek atau bagian dari sistem pertanian yang ditawarkan pada aktivitas wisata tetapi juga dapat bertindak sebagai pemilik atau pengelola kawasan wisata ini. Sarana dan Prasarana Penunjang Agrowisata

Tirtawinata (1996) menjelaskan bahwa agrowisata sebagai obyek wisata selayaknya memberikan kemudahan bagi wisatawan dengan cara melengkapi kebutuhan prasarana dan sarananya. Fasilitas pelayanan

didirikan di lokasi yang tepat dan strategis sehingga dapat berfungsi secara maksimal. Dalam hal penyediaan fasilitas, hendaknya dilakukan dua pendekatan. Pendekatan pertama dengan memanfaatkan semua obyek, baik prasarana, sarana, dan fasilitas lingkungan yang masih berfungsi baik dan melakukan perbaikan bila diperlukan. Langkah kedua yakni membangun prasarana, sarana, dan fasilitas yang masih dianggap kurang. Sarana dan fasilitas yang dibutuhkan ialah seperti berikut: a) jalan menuju lokasi, b) pintu gerbang, c) tempat parkir, d) pusat informasi, e) papan informasi, f) jalan dalam kawasan agrowisata, g) shelter, h) menara pandang, i) pesanggrahan/pondok wisata/guest house, j) sarana penelitian, k) toilet, l) tempat ibadah, m) tempat sampah.

Perencanaan Agrowisata

Berdasarkan Tirtawinata (1996) ada beberapa prinsip yang harus dipegang dalam sebuah perencanaan agrowisata yaitu: 1) sesuai dengan rencana pengembangan wilayah tempat agrowisata itu berada; 2) dibuat secara lengkap, tetapi sesederhana mungkin; 3) mempertimbangkan tata lingkungan dan kondisi sosial masyarakat di sekitarnya; 4) selaras dengan sumber daya alam, sumber tenaga kerja, sumber dana, dan teknik-teknik yang ada; 5) perlu evaluasi sesuai dengan perkembangan yang ada.

Pengembangan Agrowisata

Upaya pengembangan agrowisata secara garis besar mencakup aspek pengembangan sumberdaya manusia, sumberdaya alam, promosi, dukungan sarana dan kelembagaan (Deptan 2008). Menurut Nurisjah (2001), kawasan agrowisata dapat ditata dan dikembangkan dengan menggunakan lima konsep sebagai berikut: 1) mengakomodasi kepentingan dan keinginan serta kepuasan wisatawan, 2) meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan wilayah yang terkait dengan kegiatan agrowisata yang akan dikembangkan, 3) melestarikan budaya pertanian tradisional dan juga lingkungan alaminya, 4) diarahkan untuk suatu kegiatan rekonstruksi dan penataan suatu kawasan sebagai suatu aset budaya pertanian wilayah, dan 5) sebagai sarana introduksi dan pasar dari teknologi dan produk pertanian unggulan daerah.

Wilayah kawasan wisata agro awalnya adalah perdesaan karena secara tradisional merupakan daerah produksi pertanian, tetapi saat ini dapat berkembang kemana saja tergantung bentuk pertanian yang ditawarkan. Berdasarkan pendapat E.Salim pada Nurisjah (2001) untuk pengembangan wisata agro ini ada tiga hal yang harus diketahui dan diperhatikan yaitu: 1) wisata agro merupakan suatu kegiatan yang didasarkan pada keaslian agro- ekosistem; 2) dalam mengembangkan aktivitas wisata agro harus bersendi pada riset ilmiah; 3) wisata agro merupakan suatu pemandangan alamiah yang bertumpu pada bentuk lanskap regional. Selanjutnya ada dua azas yang harus diakomodasikan pada aktivitas dan pengembangannya, yaitu (1) azas manfaat, dalam arti penyelenggaraan program wisata agro dapat memberikan manfaat politik, ekonomi, sosial, budaya maupun lingkungan; (2) azas pelestarian dalam arti penyelenggaraan program wisata agro diarahkan berperan guna meningkatkan pelestarian plasma nutfah sebagai sumberdaya utama bagi kelestarian alam dan lingkungan.

Keberlanjutan (sustainability)

Pembangunan berkelanjutan (sustainable development) dalam Laporan Brutland tahun 1987 dijelaskan sebagai pembangunan yang memenuhi kebutuhan saat ini tanpa harus berkompromi dengan kemampuan generasi selanjutnya dalam memenuhi kebutuhannya. World Summit on Social Development tahun 1955 menjelaskan definisi pembangunan berkelanjutan adalah suatu kerangka kerja dalam upaya memperoleh kualitas hidup seluruh umat manusia yang lebih tinggi, dimana pembangunan ekonomi, pembangunan sosial dan perlindungan alam saling ketergantungan sebagai komponen yang saling memperkuat satu sama lain.

Keberlanjutan merupakan upaya menyediakan keluaran atau hasil terbaik bagi manusia maupun lingkungan pada masa sekarang dan masa yang akan datang tanpa batas waktu yang ditentukan. Keberlanjutan berhubungan dengan kontinuitas dari aspek sosial, ekonomi, institusi dan lingkungan dalam masyarakat, demikian pula dengan lingkungan non-manusia. Keberlanjutan bertujuan membentuk peradaban dan kegiatan manusia, dimana setiap anggota masyarakatnya dapat memenuhi berbagai kebutuhannya dan menuangkan potensi

terbesarnya di masa sekarang sementara keragaman biota dan ekosistem alami terlindungi. Masyarakat yang berkelanjutan merencanakan dan bertindak agar mampu mencapai idealisme di atas dalam jangka panjang. Suatu keberlanjutan dapat dijelaskan dari sisi kualitatif secara deskriptif dan kuantitatif yang berwujud kenaikan secara eksponensial dari kehidupan seseorang atau organism dalam suatu sistem (Wikimedia Foundation 2010).

Lanskap berkelanjutan (sustainable landscape) menurut Nurisjah (2008) dimengerti sebagai suatu lanskap yang tidak hanya produktif, fungsional dan dapat dimanfaatkan oleh penggunanya di saat ini tetapi juga tetap dijaga produktifitas dan fungsinya sehingga terus dapat dimanfaatkan oleh para penggunanya pada masa yang akan datang. Rencana perubahan dan pemanfaatan yang dilakukan pada sumberdaya lanskap seharusnya tetap menjaga dan mempertahankan keberlangsungan produksi dan fungsi lanskap ini sehingga kesejahteraan yang potensial dimiliki oleh sumberdaya tersebut dapat tetap dimiliki dan dikendalikan. Untuk mendukung konsep keberlanjutan ini maka pada setiap rencana perubahan dan penataan lanskap, tidak hanya bentuk dan karakternya tetapi juga key factors dan key elements pembentuk lanskap tersebut (baik lanskap alami maupun binaan) perlu untuk diketahui sehingga keberlanjutannya secara fisik dan konsepsional dapat diwujudkan.

Pengembangan konsep keberlanjutan memiliki faktor kunci yang berpengaruh (Wikimedia Foundation 2010) sebagai berikut :

1.Hak kepemilikan dan partisipasi

2.Kapasitas pembangunan dan pelatihan (capacity building & training) 3.Kebijakan pemerintah

4.Keuangan

5.Pengelolaan dan kelembagaan

6.Kebudayaan, karakter sosial dan gender 7.Teknologi

8.Lingkungan

9.Faktor politik dan ekonomi eksternal

Damanik (2006) mengungkapkan konsep pariwisata berkelanjutan adalah pembangunan sumberdaya (atraksi, aksesibilitas, amenitas) pariwisata yang bertujuan untuk memberikan keuntungan optimal bagi pemangku kepentingan (stakeholders) dan nilai kepuasan optimal bagi wisatawan dalam jangka panjang. Kepuasan tersebut terwujud dalam bentuk pengalaman yang lengkap (total experience). Pariwisata hanya dapat berkelanjutan apabila komponen-komponen subsistem pariwisata, terutama pelaku pariwisata, mendasarkan kegiatannya pada pencarian hasil (keuntungan dan kepuasan) yang optimal dengan tetap menjaga agar semua produk dan jasa wisata yang digunakan tersebut lestari dan berkembang dengan baik.

Perencanaan

Perencanaan Lanskap

Perencanaan lanskap adalah salah satu bentuk produk utama dalam kegiatan arsitektur lanskap. Perencanaan lanskap ini merupakan suatu bentuk kegiatan penataan yang berbasis lahan (land based planning) melalui kegiatan pemecahan masalah yang dijumpai dan merupakan proses untuk pengambilan keputusan berjangka panjang guna mendapatkan suatu model lanskap atau bentang alam yang fungsional, estetik dan lestari yang mendukung berbagai kebutuhan dan keinginan manusia dalam upaya meningkatkan kenyamanan dan kesejahteraan, termasuk kesehatannya (Nurisjah 2008). Tirtawinata (1996) mengatakan bahwa dalam perencanaan dikumpulkan sejumlah data-data yang berguna bagi persiapan dan pengembangan suatu kawasan agrowisata.

Perencanaan Kawasan Wisata

Menurut Nurisjah (2008) merencanakan suatu kawasan wisata adalah upaya untuk menata dan mengembangkan suatu areal atau jalur pergerakan pendukung kegiatan wisata sehingga kerusakan lingkungan akibat pembangunannya dapat diminimumkan tetapi pada saat yang bersamaan kepuasan wisatawan dapat terwujudkan.

Wisata

Pengertian Wisata

Wisata merupakan rangkaian kegiatan yang terkait dengan pergerakan manusia yang melakukan perjalanan dan persinggahan sementara dari tempat tinggalnya ke satu atau beberapa tempat tujuan diluar dari lingkungan tempat tinggalnya, yang didorong oleh berbagai keperluan dan tanpa bermaksud untuk mencari nafkah tetap (Nurisjah 2008).

Aktivitas Wisata

Nurisjah (2001) menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan aktvitas wisata adalah kegiatan berjalan-jalan ke luar dari ruang dan lingkup pekerjaannya sambil menikmati pemandangan atau hal-hal lain yang tidak terkait dengan pekerjaan yang dimiliki wisatawan.

Produk Wisata

Menurut Freyer (1993) dalam Damanik (2006) produk wisata adalah semua produk yang diperuntukkan bagi atau dikonsumsi oleh seseorang selama melakukan kegiatan wisata.

Obyek dan Atraksi Wisata

Yoeti (1997) berpendapat bahwa atraksi wisata dibedakan dengan obyek wisata, karena obyek wisata dapat dilihat atau disaksikan tanpa membayar. Sedangkan atraksi wisata adalah sesuatu yang dapat dilihat atau disaksikan melalui suatu pertunjukan (shows) yang khusus diselenggarakan untuk para wisatawan. Selain itu, dalam atraksi wisata untuk menyaksikannya harus dipersiapkan terlebih dahulu, sedangkan obyek wisata dapat dilihat tanpa dipersiapkan terlebih dahulu.

Obyek wisata adalah sesuatu yang menjadi pusat daya tarik wisatawan dan dapat memberikan kepuasan kepada wisatawan (Wardiyanta 2006). Menurut Damanik (2006) atraksi dapat diartikan sebagai obyek wisata (baik yang bersifat tangible maupun intangible) yang memberikan kenikmatan kepada wisatawan. Atraksi dapat dibagi menjadi tiga, yakni alam, budaya,

Dokumen terkait