BAB II TINJAUAN PUSTAKA
A. Peran Kepemudaan Orang Muda Katolik (OMK)
3. Identitas
a. Pengertian Identitas Diri
Berbicara mengenai identitas, konsep identitas dalam ilmu psikologi umumnya menunjukkan pada suatu kesadaran akan kesatuan dan kesinambungan pribadi, pada keyakinan yang pada dasarnya tetap tinggal sama seluruh jalan perkembangan hidup kendati pun segala macam perubahan (Erikson, 1989).
Menurut Moore (dalam Gunarsa, 2000), identitas adalah proses identifikasi. Identifikasi adalah proses menjadi (becoming) seorang subyek, dan ia melibatkan identifikasi diri seseorang dengan seseorang atau sesuatu yang lain sedemikian rupa sehingga subyektivitas (ke-diri-an) dikonstitusikan melalui serangkaian identifikasi tersebut.
Identitas diri menurut Marcia (1980) adalah suatu organisasi yang dinamis, dari dorongan-dorongan, kemampuan-kemampuan, keyakinan-keyakinan yang terstruktur dengan sendirinya dalam diri individu. Sedangkan Gunarsa (2000) berpendapat bahwa identitas diri adalah inti pribadi yang tetap ada, suatu cara tertentu yang sudah terbentuk sebelumnya yang menentukan peran sosial yang harus dilakukan.
Identitas dapat didefinisikan secara ringkas dan kira-kira sebagai suatu kesatuan yang unik yang memelihara kesinambungan arti masa lampaunya sendiri bagi orang lain dan bagi diri sendiri; yang mengintegrasikan segala gambaran diri yang dihadiahkan atau dipaksakan
padanya oleh orang lain bersama perasaan-perasaannya sendiri tentang siapakah dia dan apakah yang dapat dibuatnya (Erikson, 1989).
Dari beberapa pendapat para ahli mengenai definisi identitas diri, maka dapat disimpulkan bahwa identitas diri merupakan pemahaman yang berkesinambungan tentang siapa dirinya, kemana arah tujuan, serta menyadari peran-peran sosial yang akan dilakukan dalam masyarakat.
Identitas didefinisikan oleh Erikson sebagai “kesamaan dirinya dalam waktu, serta pengamatan yang berhubungan dengannya, yaitu bahwa orang lain pun mengakui kesamaan dan kontinuitas itu” (Erikson, 1989).
Erikson mengetengahkan sekurang-kurangnya empat aspek pokok kepribadian yang termuat dalam identitas itu, yakni:
a. Satu kesadaran akan identitas pribadi
“Identitas pribadi” seseorang berpangkal pada pengalaman langsung bahwa dia selama sekian banyak tahun yang lewat tetap tinggal sama. Rasa identitas pribadi ini juga berkaitan dengan “identitas ego”, dan identitas pribadi bisa disebut sebagai identitas ego apabila identitas itu menyangkut kualitas “eksistensial” dari subyek, yang berarti bahwa subyek itu mandiri dengan suatu gaya pribadi yang khas. Maka identitas ego yang dimaksud adalah mempertahankan “suatu gaya individualitasnya sendiri”. Namun kesamaan batiniah dengan diri sendiri serta gaya hidup pribadi yang unik harus diterima dan diteguhkan oleh orang lain dan masyarakat.
b. Suatu usaha tak sadar untuk mencapai suatu kesinambungan watak pribadi
Suatu proses pembentukan identitas dimana daya upaya tak sadar untuk mencapai suatu kontinuitas watak pribadi yang memainkan peranan penting. Merupakan suatu proses perkembangan yang pada dasarnya pelan-pelan terjadi secara tak sadar dalam inti diri individu. Jadi identitas adalah satu proses restrukturasi segala identifikasi dan gambaran diri terdahulu, dimana seluruh identitas fragmenter yang terdahulu (pun yang negatif) diolah dalam perspektif suatu masa depan yang diantisipasi.
c. Tindakan-tindakan tersembunyi dari sintesis ego
Manusia menemukan identitasnya apabila dia dapat menggabungkan semua identitasnya, semua identifikasi anaknya terdahulu di dalam suatu susunan baru. Jadi identitas adalah suatu prestasi sintesis pribadi, dimana ego harus mengintegrasikan segala macam identifikasi terdahulu menjadi suatu baru tersendiri yang menggabungkan segala unsure dalam satu kesatuan.
d. Suatu solidaritas batin dengan cita-cita serta identitas kelompoknya (Erikson, 1989)
Pembentukan identitas adalah suatu proses yang terjadi dalam inti dari pribadi,dan juga di tengah-tengah masyarakat, sehingga mengandung dimensi sosial dan budaya. Jadi identitas adalah suatu rasa tetap tinggal sama diri sendiri, yang berkaitan dengan partisipasi tetap pada ciri-ciri
khas watak kelompok tertentu, pada cita-cita kelompok tertentu, atau pada identitas yang sama dari kelompok tertentu.
Pakar psikologi Marcia (dalam Santrock, 1995) menganalisa teori perkembangan identitas Erikson. Fokus dalam penelitiannya adalah seberapa banyak subjek mengeksplorasi pilihan identitas (krisis) dan seberapa luasnya mereka membuat komitmen.
Krisis (crisis) didefinisikan sebagai suatu periode perkembangan identitas selama remaja memilih di antara pilihan-pilihan bermakna. Kata krisis yang dipakai oleh Marcia sebenarnya lebih tepat dikatakan sebagai eksplorasi terhadap peran (Santrock, 2003). Eksplorasi adalah suatu aktivitas yang secara aktif dilakukan individu untuk mencari, menjajaki, mempelajari, mengidentifikasi, mengevaluasi, dan menginterpretasi dengan seluruh kemampuan, akal, pikiran, dan potensi yang dimiliki untuk memperoleh pemahaman yang baik tentang berbagai alternatif peran.
Berlangsungnya eksplorasi dalam pembentukan identitas diri, khususnya yang berkaitan dengan pilihan studi lanjutan, ditandai dengan faktor-faktor berikut:
i. Knowledgeability, yaitu sejauh mana tingkat pengetahuan yang
dimiliki individu yang ditunjukkan oleh keluasan dan kedalaman informasi yang berhasil dihimpun tentang berbagai alternatif pilihan studi lanjutan.
ii. Activity directed toward gathering information, yaitu aktivitas yang terarah untuk mengumpulkan informasi yang menyangkut semua
aktivitas yang dipandang untuk mencari dan mengumpulkan informasi yang dibutuhkan.
iii. Considering alternative potential identity element, yaitu sejauh mana individu mampu mempertimbangkan berbagai informasi yang telah dimiliki tentang berbagai kemungkinan dan peluang dari setiap alternatif yang ada.
iv. Desire to make an early decision, yaitu keinginan untuk membuat
keputusan secara dini yang ditunjukkan oleh sejauh mana individu memiliki keinginan untuk memecahkan keragu-raguan atau ketidakjelasan secepat mungkin secara realistis dan meyakini apa yang dipandang tepat bagi dirinya.
Komitmen (commitment) didefinisikan sebagai bagian dari perkembangan identitas dimana remaja memperlihatkan tanggung jawab pribadi terhadap apa yang akan mereka lakukan. Komitmen ditunjukkan oleh sejauh mana keteguhan pendirian remaja terhadap pilihan-pilihan peran yang dipilihnya yang ditandai oleh faktor-faktor berikut:
i. Knowledgeability, yaitu merujuk pada sejumlah informasi yang
dimiliki dan dipahami tentang keputusan pilihan-pilihan yang telah ditetapkan. Remaja yang memiliki komitmen mampu menunjukkan pengetahuan yang mendalam, terperinci dan akurat tentang hal0hal yang telah diputuskan.
ii. Activity direct toward implementing the chosen identify element, yaitu aktivitas yang terarah pada implementasi elemen identitas yang telah ditetapkan.
iii. Emotional tone, yaitu nada emosi yang merujuk kepada berbagai
perasaan yang dirasakan individu baik dalam penetapan keputusan maupun dalam mengimplementasikan keputusan tersebut. Nada emosi terungkap dalam bentuk keyakinan diri, stbilitas dan optimisme masa depan.
iv. Identification with significant other, yaitu identifikasi dengan orang-orang yang dianggap penting yang ditunjukkan sejauh mana remaja mampu membedakan aspek positif dan negatif dari figur yang dianggap ideal olehnya.
v. Projecting one’s personal future, yaitu kemampuan memproyeksikan
kemampuan dirinya ke masa depan dengan ditandai oleh kemampuan mempertautkan rencananya dengan aspek lain dalam kehidupan masa depan yang mereka cita-citakan.
vi. Resistence to being swayed, yaitu sejauh mana individu memiliki
ketahanan terhadap godaan-godaan yang bermaksud untuk mengalihkan keputusanyang telah mereka tetapkan. Mereka tetap teguh pada keputusannya, tetapi mereka bukan anti perubahan. Mereka mampu menghargai berbagai kemungkinan perubahan, mereka mengkaitkannya dengan kemampuan pribadi dan peluang yang ada (Marcia, 1993).
b. Pengertian Status Identitas
Pandangan-pandangan kontemporer tentang pembentukan identitas pada prinsipnya merupakan elaborasi dari teori psikososial Erikson. Marcia juga percaya bahwa pembentukan identitas merupakan tugas utama yang harus diselesaikan selama masa remaja. Dalam hal ini Marcia menulis: The formation of an ego identity is a major event in the development of personality. Occuring during late adolescence, the consolidation of identity marks the end of childhood and the beginning of adulthood” (Marcia dalam Desmita, 2005).
Proses pencapaian status identitas yang diawali dengan masa eksplorasi dimulai pada masa remaja. Diharapkan pada masa perkembangan selanjutnya individu telah memiliki suatu komitmen yang menandakan dimilikinya suatu identitas tertentu. Archer (dalam Santrock, 2003), mengungkapkan, banyak peneliti status identitas yakin bahwa pola umum individu yang mengembangkan identitas-identitas yang positif mengikuti siklus “MAMA” moratorium-achiever-moratorium-achiever. Siklus ini dapat diciptakan sepanjang hidup (Francis, Fraser, dan Marcia, dalam Santrock, 2003). Perubahan-perubahan pribadi, keluarga dan masyarakat tidak dapat dihindari, dan ketika perubahan-perubahan itu terjadi, fleksibilitas dan ketrampilan individu sangat berperan penting dalam memfasilitasi perubahan-perubahan tersebut. Alan Waterman (dalam Santrock, 2003) mengungkapkan, beberapa peneliti meyakini
perubahan-perubahan identitas yang paling penting terjadi di masa muda daripada di masa remaja awal.
Marcia (dalam Santrock, 2003), mengembangkan metode interview untuk mengukur ego identity. Seperti yang telah dipaparkan diatas, Marcia menggunakan dua kriteria, yaitu krisis dan komitmen. Dalam penelitian itu, Marcia melakukan proses wawancara tentang status identitas yang meliputi pertanyaan-pertanyaan dalam tiga area (namun dapat dimodifikasi sesuai dengan usia interviewee), yaitu pekerjaan, ideologi, dan nilai hubungan antar pribadi.
Marcia mendefinisikan 4 model status identitas, yaitu (1) Identity Foreclosure, (2) Identity Diffusion, (3) Identity Moratorium, (4) Identity Achievement. Keempat hal ini dijelaskan sebagai berikut:
1. Identity Foreclosure (Pencabutan Identitas)
Status dari orang-orang yang telah membuat suatu komitmen tanpa pemikiran atau pertimbangan yang matang disebut foreclosure. Komitmen ini dibuat tanpa melalui tahap krisis (exploration). Mereka telah memilih suatu pekerjaan, agama, atau pandangan ideologi. Tetapi pemilihan ini dibuat terlalu awal (tanpa pertimbangan dan keputusan sendiri). Pilihan-pilihan tersebut lebih ditentukan oleh orang tua daripada oleh mereka sendiri. Misalnya, memutuskan untuk menjadi seorang dokter bedah karena ayah dan kakeknya adalah seorang dokter
bedah. Mereka membuat suatu keputusan tanpa mengetahui apa akibatnya di masa yang akan datang.
Berdasarkan wawancara selama penelitian yang dilakukan oleh Marcia, orang-orang yang tergolong foreclosure memiliki hubungan yang lebih dekat dengan orang tuanya. Kedekatan dengan orang tua atau keluarganya ini termasuk dalam hal membuat suatu keputusan yang penting bagi hidupnya. Masa kanak-kanaknya sampai remaja dilalui dengan lancar dan sedikit konflik. Hal inilah yang menyebabkan krisis identitas tidak muncul.
Dari penjelasan di atas maka dapat disimpulkan bahwa Identity Foreclosure memiliki indikator sebagai berikut:
a) Sudah memiliki komitmen pada area tertentu berdasarkan keputusan yang ada tanpa pemikiran yang matang.
b) Belum pernah mengalami tahap krisis dalam menentukan pilihan dalam area tertentu.
c) Orang tua otoriter, sehingga individu tidak mampu membuat pilihan pada area tertentu.
d) Individu tidak mampu mengeksplorasi potensi atau kemampuan yang dimilikinya.
2. Identity Diffusion (Penyebaran Identitas)
Seorang dengan Identity Diffusion tidak memiliki tahap krisis dan tidak pula membuat suatu komitmen. Hal ini mungkin terjadi karena mereka belum memasuki tahap krisis ataupun karena mereka seakan-akan menjauh dari pencarian identitas. Ada 2 bentuk Identity Deffusion yaitu (1) apatis, hal ini menyebabkan mereka merasa tidak memiliki tempat dan mengalami isolasi sosial, (2) cenderung kompulsif (Berzonsky, Nelmeyer, dan Donovan dalam Ginanjar & Bernadetta, 2001).
Dari wawancara penelitian Marcia, diketahui bahwa orang yang memiliki status identitas ini memiliki jarak dengan orang tua mereka. Hal ini menunjukkan adanya masalah dalam perkembangan psikososial yang pertama yaitu Basic Trust. Ciri-ciri orang yang memiliki Identity Diffusion adalah sulit berfikir di bawah tekanan dan mengikuti harapan-harapan lingkungan (dengan kata lain mudah terpengaruh).
Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan, Identity Diffusion mempunyai indikator sebagai berikut:
a) Belum mampu membuat komitmen. b) Mudah putus asa.
c) Cenderung kompulsif.
d) Memiliki jarak dengan orang tuanya (baik fisik maupun psikis).
e) Mengalami isolasi sosial.
f) Tidak memiliki minat terhadap pekerjaan dan ideologi tertentu.
g) Sulit berfikir di bawah tekanan.
h) Individu mudah terpengaruh lingkungan berhubungan dengan harga dirinya.
3. Identity Moratorium (Penundaan Identitas)
Seseorang yang mempunyai identitas moratorium adalah seorang yang sekarang ini tengah mengalami krisis. Mereka belum membuat komitmen tetapi mereka sekarang sedang berjuang secara aktif untuk mencapainya. Ciri-ciri orang dengan status identitas moratorium adalah mereka memiliki kemampuan untuk berfikir secara jernih dalam kondisi stres dan tahan terhadap pengaruh lingkungan yang dapat mengubah harga dirinya.
Dari penjelasan di atas maka dapat disimpulkan Identity Moratorium memiliki indikator sebagai berikut:
a) Belum memiliki komitmen pada area tertentu tapi berjuang secara aktif untuk mencapainya.
b) Berada dalam masa krisis menentukan komitmen atau pilihan.
c) Individu berusaha membentuk komitmen dengan cara kompromi menyatukan pendapat lingkungan (orang tua, teman, dan lain-lain) dengan potensi yang dimilikinya.
4. Identity Achievement (Pencapaian Identitas)
Identity Achievement adalah status dari seseorang yang telah menyelesaikan periode eksplorasi (krisis) dan telah membuat komitmen dalam berbagai area tertentu. Ciri-ciri orang yang memiliki status identitas ini adalah mantap, mampu memberikan alasan untuk pilihan mereka dalam berbagai area, mampu menggambarkan bagaimana komitmen tersebut dapat dipilih, mampu menghadapi stres, tahan terhadap pengaruh lingkungan yang dapat mengubah harga dirinya, telah menginternalisasi proses pengaturan diri sendiri, peka terhadap harapan lingkungan. Atau dengan kata lain, mereka membuat komitmen tentang pilihan ini berdasarkan self constructed, yaitu identitas yang ditemukan ini bukanlah identitas yang terakhir, tetapi mereka akan berusaha memodifikasinya terus-menerus sesuai dengan pengalaman mereka.
Dari penjelasan di atas maka dapat disimpulkan Identity Achievement memiliki indikator sebagai berikut:
a) Mampu membuat pilihan dengan mantap dan mampu memberikan alasan untuk pilihan tersebut di berbagai area.
b) Mempunyai komitmen.
c) Mampu memberikan alasan untuk pilihannya. d) Mampu menghadapi stres.
e) Mampu bertahan terhadap pengaruh lingkungan yang dapat mengubah harga dirinya.
Dengan demikian pengertian Status Identitas dalam penelitian ini adalah suatu keadaan dimana seseorang mampu membuat pilihan dalam berbagai area kehidupan (kesehatan, pekerjaan, seksual, pendidikan, hubungan interpersonal), mempunyai komitmen dengan baik terhadap area kehidupan tersebut, mampu menghadapi stres saat mengalami permasalahan dalam hidup, selalu dapat berproses ke arah yang lebih positif, serta mampu bertahan dari pengaruh negatif lingkungan.
c. Identitas dalam tahap perkembangan teori Psikososial Erikson
Dalam penelitian ini memakai subjek dengan rentang umur 13-35 tahun, dimana rentang ini masuk dalam dua tahap perkembangan, yaitu masa remaja dan dewasa awal. Maka dari itu dibawah ini dijelaskan dinamika dari dua tahap perkembangan tersebut.
Dalam tahap perkembangan teori Psikososial Erikson (dalam Hall & Lindzey, 1993), dari delapan tahap jadwal keseluruhan, remaja masuk dalam tahap V, yaitu Identitas versus Kekacauan Identitas. Erikson menekankan secara khusus pada masa remaja karena pada masa ini merupakan peralihan dari masa kanak-kanak ke masa dewasa. Apa yang
terjadi pada tahap ini sangat penting bagi kepribadian dewasa. Pada tahap Identitas versus Kekacauan Identitas ini individu memiliki kapasitas untuk memilih mengintegrasikan bakat-bakat dan kemampuan-kemampuan dalam melakukan identifikasi dengan orang-orang yang sependapat, dan dalam melakukan adaptasi dengan lingkungan sosial, serta menjaga pertahanan-pertahanannya terhadap berbagai ancaman dan kecemasan, karena ia telah mampu memutuskan kebutuhan-kebutuhan, peranan-peranan manakah yang paling cocok dan efektif. Jika individu tidak mampu berproses dengan baik pada masa ini, maka yang terjadi adalah kekacauan identitas. Keadaan ini dapat menyebabkan individu merasa terisolasi, hampa, cemas, dan bimbang.
Menurut Erikson (dalam Hall & Lindzey, 1993), pada masa dewasa awal individu masuk dalam tahap VI yaitu Keintiman versus Isolasi. Masa ini adalah masa dimana individu siap dan ingin menyatukan identitasnya dengan orang lain. Mereka mendambakan hubungan yang intim-akrab, dan persaudaraan, serta siap mengembangkan daya-daya yang dibutuhkan untuk memenuhi komitmen-komitmen ini meskipun mereka harus berkorban.