• Tidak ada hasil yang ditemukan

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.2. Identitas Petani di Daerah Penelitian

D. Agama

Sarana keagamaan penting bagi pemeluk agama di suatu tempat. Selain sebagai simbol keberadaan, rumah peribadatan juga sebagai tempat untuk melakukan ibadah. Tempat ibadah diharapkan dapat memberi dorongan yang kuat dan ter arah bagi jamaahnya, agar kehidupan spiritual keberagaman bagi pemeluk agama tersebut menjadi lebih baik. Sarana tempat beribadah di Desa Jujun hanya terdapat Masjid sebanyak 1 unit. Hal ini menunjukkan bahwa di Desa Jujun masyarakatnya hanya memeluk agama Islam.

E. Lainnya

Sarana lainnya merupakan sarana yang disediakan untuk masyarakat melakukan aktifitas lain seperti pekerjaan. Pada Tabel 7 saran lainnya yang terdapat di Desa Jujun adalah Penggilingan Padi sebanyak 1 unit. Adanya penyediaan penggilingan padi tersebut agar masyarakat di Desa Jujun lebih mudah dalam melakukan penggilingan padi yang begitu banyak.

4.2.1. Umur Petani

Umur merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi terhadap kemampuan petani dalam melakukan usahataninya. Secara umum, usia produktif petani maksimal 65 tahun dalam melaksanakan usahataninya. Petani yang melakukan usahatani di umur produktif mampu mengelola usahataninya dengan baik sehingga menghasilkan produktivitas yang tinggi. Berdasarkan hasil penelitian bahwa umur petani yang terlibat dalam kegiatan pemasaran jeruk Siam madu di Desa Jujun berkisar antara 25 tahun hingga 64 tahun. Berikut ini adalah distribusi umur responden petani berdasarkan golongan umur menurut BPS yang dapat dilihat pada Tabel 8 sebagai berikut.

Tabel 8. Distribusi Responden Petani Berdasarkan Umur Di Desa Jujun Tahun 2022

Golongan Umur

Frekuensi (Orang)

Persentase (%)

25-29 2 10,5

30-34 1 5,3

35-39 0 0

40-44 3 15,8

45-49 4 21,1

50-54 5 26,3

55-59 2 10,5

60+ 2 10,5

Jumlah 19 100,0

Sumber: Hasil Olahan Data Primer, 2022

Berdasarkan pada Tabel 8 menunjukkan bahwa umur responden di Desa Jujun paling banyak berkisar 25 hingga 60+ Tahun. Umur responden petani jeruk Siam madu di Desa Jujun tergolong masih produktif yang artinya petani masih aktif dalam melakukan kegiatan usahatani dan pemasaran jeruk Siam madu. Frekuensi rentang umur petani paling banyak yaitu kisaran 50-54 Tahun sebanyak 5 petani.

4.2.2. Tingkat Pendidikan Terakhir

Tingkat pendidikan merupakan suatu tingkat yang diperoleh seseorang dalam menempuh jenjang pendidikan. Pendidikan seseorang dapat mempengaruhin jenis pekerjaan dan pembentukan pola pikir seseorang. Pendidikan juga berpengaruh terhadap setiap keputusan yang diambil oleh petani seperti menemukan inovasi dan kreatifitas, penerapan teknik budidaya yang baik, melakukan usahatani yang menguntungkan, dan memilih alur pemasaran yang tepat. Berikut ini adalah tingkat pendidikan terakhir responden petani di Desa Jujun yang dapat dilihat pada Tabel 9 di bawah ini.

Tabel 9. Distribusi Responden Petani Berdasarkan Tingkat Pendidikan Di Desa Jujun Tahun 2022

Tingkat Pendidikan

Frekuensi (Orang)

Persentase (%)

SD 3 15,8

SMP 2 10,5

SMA 12 63,2

D3/S1 2 10,5

Jumlah 19 100,0

Sumber: Hasil Olahan Data Primer,2022

Pada Tabel 9 menunjukkan bahwa responden petani jeruk Siam madu di Desa Jujun memiliki tingkat pendidikan dari jenjang SD,SMP,SMA hingga D3/S1.

Responden petani mayoritas memiliki jenjang pendidikan terakhir pada tingkat SMA sebanyak 12 orang dengan persentase sebesar 63,2%. Kemudian tingkat SD sebanyak 3 orang dengan persentase 15,8%, serta tingkat SMP dan D3/S1 masing-masing sebanyak 2 orang dengan persentase 10,5%. Hal ini menunjukkan bahwa tingkat pendidikan responden petani masih tergolong menengah yang pola pikir petani jeruk Siam madu dalam kegiatan usahatani hingga menentukan pemasaran jeruk Siam madu berjalan dengan baik. Hal ini dibuktikan petani melakukan

usahatani jeruk Siam madu dengan bibit yang bersertifikat/bibit unggul jeruk Siam madu.

4.2.3. Jumlah Anggota Keluarga

Jumlah anggota keluarga mempengaruhi dalam penjualan jeruk Siam madu.

Semakin banyak jumlah anggota keluarga menuntut petani untuk mendapatkan uang yang lebih banyak untuk memenuhi kebutuhannya. Jumlah anggota keluarga terdiri dari bapak, ibu dan anak. Jumlah anggota keluarga responden petani jeruk Siam madu di Desa Jujun dapat dilihat pada Tabel 10.

Tabel 10. Distribusi Responden Petani Berdasarkan Jumlah Anggota Keluarga Di Desa Jujun Tahun 2022

Jumlah Anggota Keluarga

Frekuensi (Orang)

Persentase (%)

2 3 15,8

3 5 26,3

4 8 42,1

5 2 10,5

6 1 5,3

Jumlah 19 100,0

Sumber: Hasil Olahan Data Primer, 2022

Berdasarkan pada Tabel 10 menunjukkan bahwa jumlah anggota keluarga setiap responden petani berkisar antara 2-6 anggota keluarga. Jumlah anggota keluarga terbanyak yaitu berjumlah 4 anggota keluarga sebanyak 8 petani dengan persentase sebesar 42,1%. Hal ini menunjukkan bahwa jumlah anggota keluarga responden petani dapat mempengaruhi kegiatan penjualan jeruk Siam madu. Petani jeruk Siam madu membutuhkan uang untuk memenuhi kebutuhan dirinya dan keluarga dengan melakukan kegiatan pemasaran jeruk Siam madu agar memperoleh penerimaan dari hasil penjualan produknya sehingga dapat memenuhi kebutuhan hidupnya.

4.2.4. Pengalaman Usahatani

Pengalaman usahatani merupakan salah satu tolak ukur keberhasilan suatu usahatani yang dilakukan oleh petani jeruk Siam madu. Lama pengalaman usahatani yang dilakukan petani dipengaruhi oleh pengetahuan dan keterampilan petani dalam melakukan usahataninya. Hal ini juga berdampak terhadap keputusan petani dalam menentukan saluran pemasaran jeruk Siam madu agar memperoleh keuntungan hasil penjualan yang maksimal. Berikut ini adalah distribusi pengalaman usahatani responden petani jeruk Siam madu di Desa Jujun yang dapat dilihat pada Tabel 11,

Tabel 11. Distribusi Responden Petani Berdasarkan Pengalaman Berusahatani Jeruk Siam Madu Di Desa Jujun Tahun 2022

Lama Berusahatani

Frekuensi (Orang)

Persentase (%)

3,0-3,5 6 31,6

3,6-4,1 7 36,8

4,2-4,7 0 0,0

4,8-5,3 2 10,5

5,4-6,0 4 21,1

Jumlah 19 100,0

Sumber: Hasil Olahan Data Primer,2022

Berdasarkan pada Tabel 11 menunjukkan bahwa lama pengalaman usahatani responden petani berkisar selama 3-6 tahun. Responden petani jeruk Siam madu mayoritas memiliki lama berusatani jeruk Siam madu yaitu berkisar 3,6-4,1 tahun sebanyak 7 orang dengan persentase sebesar 46,2%. Hal ini menunjukkan bahwa responden petani memiliki lama berusahatani tergolong rendah. Hal ini disebabkan usahatani jeruk Siam madu merupakan alih fungsi lahan dari perkebunan yang dimiliki oleh petani karena melakukan usahatani jeruk Siam madu membutuhkan waktu panen yang relatif lebih cepat dibandingkan dengan usahatani perkebunan.

Responden petani melakukan usahatani jeruk Siam madu dengan alasan mencoba

hal yang baru dan rata-rata usahatani jeruk Siam madu merupakan pekerjaan sampingan petani responden di Desa Jujun. Pengalaman usahatani yang tergolong rendah juga mempengaruhi keputusan petani dalam memilih alur pemasaran hasil panennya yang dimana petani menjual hasil produksi ke pedagang berdasarkan kepercayaan transaksi tanpa mengetahui permintaan tujuan pasar penjualan jeruk Siam madu oleh pedagang.

4.2.5. Luas Lahan

Luas lahan merupakan suatu garapan lahan yang dimiliki oleh petani untuk melakukan kegiatan usahataninya. Luas lahan ini dapat mempengaruhi jumlah produksi yang dihasilkan. Apabila luas lahan yang dimiliki oleh petani memiliki lahan yang besar maka produksi yang dihasilkan juga besar sehingga petani memperoleh penerimaan yang tinggi dari hasil penjualan hasil produksi dan sebaliknya. Berikut ini adalah distribusi luas lahan yang dimiliki responden petani jeruk Siam madu di Desa Jujun yang dapat dilihat pada Tabel 12 di bawah ini.

Tabel 12. Distribusi Responden Petani Berdasarkan Luas Lahan Di Desa Jujun Tahun 2022

Luas Lahan (Ha)

Frekuensi (Orang)

Persentase (%)

0,25-0,79 9 47,4

0,80-1,34 9 47,4

1,35-1,89 0 0

1,90-2,44 0 0

2,45-3,00 1 5,2

jumlah 19 100,0

Sumber: Hasil Olahan Data Primer, 2022

Berdasarkan pada Tabel 12 menunjukkan bahwa responden petani jeruk Siam madu di Desa Jujun memiliki luas lahan berkisar antara 0,25-3 Ha. Mayoritas responden petani memiliki luas lahan yaitu 0,25-0,79 Ha sebanyak 9 petani dengan persentase 47,4% dan 0,80-1,34 Ha sebanyak 9 petani dengan persentase 47,4 %.

Hal ini menunjukkan bahwa luas lahan yang dimiliki petani jeruk Siam madu di Desa Jujun tergolong relatif kecil dikarenakan lahan untuk usahatani jeruk Siam madu yang dimiliki responden petani berlokasi di daerah perbukitan dengan akses jalan yang sulit dijangkau. Status kepemilikan lahan seluruh responden petani adalah milik sendiri yang diperoleh dari alih fungsi lahan perkebunan sebelumnya atau lahan kosong menjadi lahan usahatani jeruk Siam madu.

Beberapa petani jeruk Siam madu di Desa Jujun memiliki luas lahan yang tergolong rendah namun produksi jeruk Siam madu yang dihasilkan waktu terakhir panen cukup tinggi yang dapat dilihat dari Lampiran 6. Hal ini disebabkan kualitas bibit jeruk Siam madu yang digunakan telah bersertifikat yang menjamin berpotensi produksi jeruk Siam madu pada waktu panen berbuah banyak setiap pohonnya dan pemeliharaan dalam usahatani jeruk Siam madu yang dilakukan petani jeruk Siam madu yang sudah intensif. Kemudian ada petani jeruk Siam madu yang memiliki luas lahan yang tinggi namun produksi yang rendah disebabkan pendataan produksi jeruk Siam madu terakhir panen dilakukan waktu panen kedua yang dimana panen pertama produksinya banyak namun produksi kedua sedikit.