• Tidak ada hasil yang ditemukan

III. METODE PENELITIAN

3.1. Ruang Lingkup Penelitian

Penelitian ini dilakukan di Desa Jujun Kecamatan Keliling Danau Kabupaten Kerinci. Penentuan lokasi penelitian ini dilakukan secara sengaja (Purposive) dikarenakan mengikut Program MBKM Hibah Riset Keilmuan Agribisnis - Paket Skripsi yang ditetapkan oleh Komisi Magang Fakultas Pertanian Universitas Jambi yang diiringi dengan dilakukan kegiatan beberapa mata kuliah yang direkognisi yaitu Magang, Budidaya Tanaman Hortikultura, dan Karakteristik Bahan Hasil Pertanian. Pertimbangan daerah program ini adalah Desa Jujun yang merupakan salah satu sentra produksi jeruk Siam madu serta memiliki jumlah petani jeruk Siam madu paling banyak daripada Desa lainnya di Kecamatan Keliling Danau Kabupaten Kerinci.

Jenis penelitian yang dilakukan dalam penelitian ini adalah penelitian survei.

Objek penelitian ini akan dilakukan kepada petani yang berbudidaya jeruk Siam madu, mengalami panen dan melakukan pemasaran jeruk Siam madu pada tahun 2022. Batasan dalam pengambilan data petani yaitu produksi panen terakhir. Objek penelitian ini juga akan dilakukan kepada lembaga pemasaran jeruk Siam madu yang terlibat dalam saluran pemasaran jeruk Siam madu berdasarkan informasi dari petani. Batasan lokasi pengambilan sampel lembaga pemasaran yaitu pedagang yang berada di dalam Provinsi Jambi dikarenakan keterbatasan tenaga, waktu, dan uang. Oleh karena itu, batasan saluran pemasaran yang dianalisis yaitu saluran pemasaran dari produsen hingga konsumen akhir di dalam Provinsi Jambi. Waktu pengambilan data dilaksanakan pada bulan Juni sampai Juli Tahun 2022.

Adapun data yang akan dikumpulkan untuk analisis saluran pemasaran jeruk Siam madu di Desa Jujun adalah :

1. Identitas Petani, meliputi nama, umur, tingkat pendidikan, lama pengalaman usahatani, luas lahan.

2. Identitas Lembaga Pemasaran, meliputi nama, umur, tingkat pendidikan, lama pengalaman berdagang.

3. Jumlah produksi terakhir panen (Kg/Panen) 4. Saluran Pemasaran yang digunakan oleh petani.

5. Lembaga pemasaran yang digunakan oleh setiap petani 6. Volume buah jeruk Siam madu yang dipasarkan (Kg/Panen)

7. Biaya keseluruhan yang dikeluarkan setiap lembaga pemasaran (Rp/Kg/panen) 8. Harga Jual dan harga beli buah jeruk Siam madu (Rp/Kg/panen)

9. Data-data relevan lainnya yang dibutuhkan dalam penelitian.

3.2. Sumber Data dan Metode Pengumpulan Data

Sumber data penelitian ini yaitu data primer dan data sekunder yang diperoleh dari berbagai metode pengumpulan data. Data primer dapat diperoleh dengan survei ke lahan atau rumah petani jeruk Siam madu, gudang jeruk, warung buah jeruk, dan pasar. Adapun data yang diambil kepada petani yaitu identitas petani, dan kegiatan pemasaran yang dilakukan serta data yang diambil kepada lembaga pemasaran yaitu identitas lembaga pemasaran dan kegiatan pemasaran yang meliputi sistem pembelian dan sistem penjualan. Metode pengumpulan data primer ini dilakukan dengan wawancara langsung dengan narasumber aslinya sebagai objek penelitian melalui daftar pertanyaan (kuesioner) yang telah

dipersiapkan sebagai sarana untuk mendapatkan informasi dan data, serta dokumentasi sebagai bukti pelaksanaan dalam penelitian.

Data sekunder merupakan data yang berperan sebagai data pendukung data primer yang diperoleh dan dikumpulkan dari studi literatur yang berkaitan dengan penelitian ini. Data sekunder yang diperoleh dari studi literatur yang terkait seperti laporan penelitian terdahulu, jurnal, Badan Pusat Statistik, Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Jambi dan Kabupaten Kerinci, Programa Balai Penyuluhan Pertanian, dan Profil Desa Jujun. Data yang diambil yaitu data luas panen, produksi dan produktivitas Jeruk Siam dan data lainnya yang terkait dalam penelitian ini.

3.3. Metode Penarikan Responden

Penelitian ini memiliki dua sampel yang dijadikan responden yaitu petani jeruk Siam madu dan lembaga pemasaran yang terlibat dalam memasarkan jeruk Siam madu. Jumlah populasi responden petani yang melakukan budidaya jeruk Siam madu di Desa Jujun pada Tahun 2022 sebanyak 46 orang (Lampiran 3).

Teknik yang digunakan untuk menentukan responden petani jeruk Siam madu di Desa Jujun yaitu purposive sampling. Menurut Sugiyono (2017), purposive sampling merupakan teknik penentuan sampel dengan pertimbangan tertentu.

Responden petani jeruk Siam madu ditentukan dengan pertimbangan bahwa petani yang berusahatani jeruk Siam madu dan melakukan pemasaran jeruk Siam madu pada Tahun 2022. Oleh karena itu, jumlah responden petani jeruk Siam madu yang digunakan penelitian ini sebanyak 19 petani dari 46 orang dikarenakan 27 petani jeruk Siam madu belum mengalami panen pada Tahun 2022 yang dimana umur tanaman jeruk Siam madu belum memasuki usia panen yaitu 3 tahun sehingga jeruk

Siam madu belum berproduksi dan tidak dapat melakukan pemasaran jeruk Siam madu.

Populasi responden lembaga pemasaran yang terlibat dalam pemasaran jeruk Siam madu di Desa Jujun tidak diketahui, maka dari itu teknik penarikan sampel yang digunakan untuk lembaga pemasaran dengan teknik Snowball Sampling. Menurut Sugiyono (2017), Snowball Sampling merupakan teknik

penarikan sampel seperti bola salju yang menggelinding yang dimana mula-mula jumlah sampel yang kecil dan kemudian jumlah sampel menjadi besar. Snowball Sampling digunakan untuk mengambil responden lembaga pemasaran yang terlibat

dalam saluran pemasaran jeruk Siam madu dari produsen hingga konsumen akhir berada di dalam Provinsi Jambi. Responden lembaga pemasaran ditentukan berdasarkan informasi yang diberikan oleh petani jeruk Siam madu di Desa Jujun, konsumen dari lembaga pemasaran, dan lembaga pemasaran yang berhadapan langsung ke konsumen akhir.

3.4. Metode Analisis Data

Analisis data yang digunakan pada penelitian ini adalah analisis deskriptif dan analisis kuantitatif. Analisis deskriptif digunakan untuk menjawab tujuan penelitian yang pertama yaitu, mendeskripsikan pola saluran pemasaran yang digunakan petani jeruk Siam madu di Desa Jujun Kecamatan Keliling Danau Kabupaten Kerinci.

Analisis kuantitatif digunakan untuk menjawab tujuan penelitan kedua, ketiga, dan keempat yaitu menghitung marjin pemasaran setiap pola saluran pemasaran, menghitung bagian yang ditingkat petani/ farmer’s share, menghitung rasio keuntungan dengan biaya yang dikeluarkan pada lembaga pemasaran dan

menghitung tingkat efisiensi pemasaran pada saluran pemasaran jeruk Siam madu.

Berikut ini beberapa metode yang digunakan untuk analisis kuantitatif dalam penelitian ini.

3.4.1. Analisis Marjin Pemasaran

Menurut Anindita dan Baladina (2017), Analisis marjin pemasaran dapat dilakukan dengan dua tahap yaitu dengan menghitung selisih antara harga jual dengan harga beli yang disebut marjin kotor dan menghitung penjumlahan antara keuntungan dengan keseluruhan biaya pemasaran yang disebut marjin bersih yang secara matematis dengan rumus sebagai berikut:

A. Marjin Kotor (Gross Margin) Mki = hj – hb

Keterangan:

Mi = Marjin kotor pemasaran pada lembaga pemasaran ke – i (Rp/Kg/panen) hj = Harga jual pada lembaga pemasaran ke – i (Rp/Kg/panen)

hb = Harga beli pada lembaga pemasaran ke – i (Rp/Kg/panen) i = Tingkat saluran pemasaran.

B. Marjin Bersih

Mbi = Bi +

π

i

Keterangan :

Mi = Marjin bersih pada lembaga pemasaran ke – i (Rp/Kg/panen) Bi = Biaya Pemasaran pada lembaga pemasaran ke – i (Rp/Kg/panen) πi = Keuntungan pada lembaga pemasaran ke - i (Rp/Kg/panen) i = Tingkat saluran pemasaran.

Adapun total marjin pemasaran merupakan selisih antara harga di tingkat produsen dengan harga di tingkat konsumen akhir sama dengan jumlah keseluruhan marjin kotor yang secara matematis sebagai berikut:

Mt = Pri – Pfi = ƩMki

Keterangan :

Mt = Total Marjin pemasaran (Rp/Kg/panen) Pfi = Harga di tingkat petani ke – i (Rp/Kg/panen)

Pri = Harga di tingkat konsumen akhir ke – i (Rp/Kg/panen) i = Tingkat saluran pemasaran.

3.4.2. Analisis Farmer’ Share

Menurut Nasrudin dan Musyadar (2018), Farmer’s share atau penerimaan petani merupakan rasio antara harga ditingkat petani dengan harga ditingkat konsumen akhir. Secara matematis, Farmer’s share dapat dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut:

FSi = X 100%

Keterangan:

FSi = bagian yang diterima petani ke – i (%)

Pfi = Harga di tingkat petani ke – i (Rp/Kg/panen)

Pri = Harga di tingkat konsumen akhir ke – i (Rp/Kg/panen) i = Tingkat saluran pemasaran

Menurut Sumarni (2021), kaidah keputusan farmer’s share yaitu:

Jika FS > 50% maka dikatakan efisien.

Jika FS < 50% maka dikatakan tidak efisien.

Pfi

Pri

3.4.3. Rasio Keuntungan dengan Biaya Pemasaran

Menurut Situmorang, et.al (2015), rasio keuntungan dengan biaya digunakan untuk mengetahui sebaran keuntungan dan biaya pemasaran. Keuntungan dan biaya pemasaran yang dianalisis dari lembaga pemasaran yang terlibat setiap saluran pemasaran jeruk Siam madu di Desa Jujun. Secara matematis, rasio keuntungan dengan biaya pemasaran dapat digunakan rumus di bawah ini:

(

π

/C) ratio = Keterangan:

π

i = Keuntungan pada lembaga pemasaran ke – i (Rp/Kg/panen) Bi = Biaya pemasaran setiap lembaga pemasaran ke – i (Rp/Kg/panen) i = Tingkat saluran pemasaran

Kaidah keputusan rasio keuntungan dengan biaya pemasaran yaitu:

Jika

π

/C > 1, maka kegiatan pemasaran menguntungkan dan efisien.

Jika

π

/C < 1, maka kegiatan pemasaran tidak menguntungkan dan tidak efisien.

3.4.4. Analisis Efisiensi Pemasaran

Metode analisis efisiensi pemasaran ini digunakan untuk mengetahui efisien atau tidak saluran pemasaran yang terjadi dalam kegiatan pemasaran. Pengukuran efisiensi pemasaran yang digunakan untuk mengetahui efisien atau unefisien saluran pemasaran jeruk Siam madu di Desa Jujun yaitu efisiensi secara operasional. Menurut Nasrudin dan Musyadar (2018), efisiensi operasional merupakan pengukuran efisiensi kegiatan pemasaran yang memiliki tolak ukur yang berkaitan dengan fisik pemasaran dan pelaksanaan fungsi pemasaran.

π

i

Bi

Analisis efisiensi pemasaran secara operasional memiliki 3 indikator yang digunakan dalam penelitian ini yaitu, selisih harga di tingkat petani dan harga ditingkat konsumen akhir atau marjin pemasaran, farmer’s share, serta rasio keuntungan terhadap biaya pemasaran. Kaidah keputusan saluran pemasaran jeruk Siam madu dikatakan efisien apabila saluran pemasaran memiliki marjin pemasaran yang rendah, nilai farmer’s share yang tinggi, dan rasio keuntungan terhadap biaya lebih dari satu. Saluran pemasaran jeruk Siam madu di Desa Jujun yang memiliki kriteria paling mendekati ketiga indikator kaidah keputusan efisiensi pemasaran menjadi alternatif petani jeruk Siam madu untuk menggunakan saluran pemasaran tersebut.

3.5.Konsepsi Pengukuran

1. Responden adalah Produsen/Petani jeruk Siam madu, Pedagang Pengumpul Luar Desa (PPLD), Pedagang Besar (PB), dan Pedagang Pengecer (PP).

2. Saluran pemasaran merupakan alur pemasaran jeruk Siam madu yang dilakukan lembaga dengan semua kegiatan dari fungsi pemasaran yang digunakan untuk menyalurkan produk dan status kepemilikannya dari produsen ke konsumen akhir di dalam Provinsi Jambi.

3. Lembaga pemasaran adalah orang atau badan ataupun perusahaan yang terlibat dalam menyalurkan jeruk Siam madu dari produsen hingga ke konsumen.

(Orang).

4. Produsen jeruk Siam madu adalah petani yang telah berproduksi dan melakukan pemanenan jeruk Siam madu yang kemudian hasil panennya dijual ke lembaga pemasaran (Orang).

5. Pedagang pengumpul luar Desa (PPLD) merupakan lembaga pemasaran yang berlokasi di luar Desa Jujun yang membeli jeruk Siam madu dari produsen dan kemudian menyalurkannya ke pedagang besar/pedagang pengecer/konsumen akhir (Orang).

6. Pedagang besar (PB) merupakan lembaga pemasaran yang berlokasi di dalam Kabupaten Kerinci yang membeli jeruk Siam madu dari produsen/pedagang pengumpul yang kemudian memasarkan jeruk Siam madu ke pedagang besar luar Provinsi/pedagang pengecer/konsumen akhir (Orang).

7. Pedagang pengecer merupakan lembaga pemasaran yang membeli jeruk Siam madu dari produsen/pedagang pengumpul/pedagang besar kemudian menyalurkan buah jeruk Siam madu ke konsumen akhir (Orang).

8. Pedagang besar luar Provinsi (PBLP) merupakan lembaga pemasaran yang membeli jeruk Siam madu dari pedagang besar dalam Kabupaten Kerinci dengan jumlah yang besar kemudian memasarkan jeruk Siam madu ke kawasan pasar masing-masing. PBLP tidak diteliti dikarenakan lokasi lembaga ini berada di luar batasan penelitian.

9. Konsumen akhir merupakan orang yang membeli jeruk Siam madu dari pedagang pengecer untuk dikonsumsi dan tidak melakukan penjualan jeruk Siam madu yang berada di kawasan Pasar Siulak Deras, pasar atas Muara Bungo, dan pasar angso duo Kota Jambi. Pelaku konsumen akhir dalam penelitian ini yaitu Rumah Tangga Konsumsi.

10. Biaya pemasaran adalah semua pengeluaran yang dinyatakan dengan uang yang diperlukan oleh lembaga pemasaran untuk kegiatan menyalurkan buah jeruk Siam madu sampai ke konsumen akhir. Biaya pemasaran meliputi, biaya tenaga

kerja, biaya pengemasan, biaya pengangkutan, biaya penyimpanan, biaya retribusi, dan biaya resiko penyusutan. Biaya pemasaran untuk grade A dan grade B diasumsikan memiliki biaya yang sama (Rp/Kg/panen).

11. Grading jeruk Siam madu merupakan kegiatan sortiran untuk mengelompokkan kelas pada jeruk Siam madu berdasarkan ukuran, warna, dan kualitas yang bagus dalam memasarkan jeruk Siam madu dengan tujuan agar transaksi terhindar dari praktik kecurangan. Dilihat dari permintaan pasar, grading jeruk Siam madu terdiri dari dua kelompok berdasarkan jumlah buah per kg yaitu:

Grade A: berukuran besar dan berisi 7-8 buah per kg Grade B: berukuran sedang dan berisi 10-11 buah per kg

Kriteria warna matang kedua kelompok jeruk Siam madu dijual dari petani ke lembaga pemasaran yaitu:

PPLD: Hijau sedikit kekuningan hingga kekuningan PB: Hijau sedikit kekuningan hingga kekuningan PP: Hijau kekuningan hingga orange

12. Terakhir panen merupakan waktu dalam banyaknya hasil panen atau produksi yang diperoleh petani jeruk Siam madu dalam waktu sekali panen dan waktu kegiatan dalam memasarkan jeruk Siam madu baik dilakukan oleh petani maupun lembaga pemasaran secara borongan dalam waktu sekali transaksi.

Satuan waktu terakhir panen dalam penelitian ini yaitu per panen (Kg/Panen).

13. Volume beli buah jeruk Siam madu merupakan jumlah buah yang dibeli oleh lembaga pemasaran dari produsen atau lembaga lainnya (Kg/Panen)

14. Volume jual buah jeruk Siam madu merupakan jumlah buah yang dijual oleh produsen atau lembaga pemasaran (Kg/Panen).

15. Harga Jual buah jeruk Siam madu merupakan harga yang diterima oleh lembaga pemasaran dalam menjual buah jeruk siam madu (Rp/Kg/panen)

16. Harga beli buah jeruk Siam madu harga yang diterima oleh lembaga pemasaran dalam membeli buah jeruk Siam madu (Rp/Kg/panen)

17. Margin pemasaran merupakan perbedaan antara harga yang dibayarkan konsumen dengan harga yang diterima petani (Rp/Kg/panen).

18. Farmer’s share atau penerimaan petani merupakan rasio antara harga ditingkat petani dengan harga ditingkat konsumen akhir (%).

19. Keuntungan merupakan selisih antara marjin pemasaran dengan biaya yang dikeluarkan oleh lembaga pemasaran (Rp/Kg/panen).

20. Rasio Keuntungan dengan Biaya Pemasaran merupakan perbandingan antara keuntungan yang diperoleh lembaga dengan biaya yang dikeluarkan dalam kegiatan pemasaran (Rp/Kg/panen).

21. Efisiensi pemasaran merupakan pengukuran efisiensi melalui pendekatan rasio input pemasaran dengan output pemasaran yang berkaitan dengan fungsi-fungsi pemasaran jeruk Siam madu (%)