BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
4.2. Identitas Petani Sampel
Gedung Sekolah TK sebanyak 1 unit, Gedung Sekolah Dasar (SD) sebanyak 2 unit, dan Gedung SMP/mts sebanyak 1 unit.
3. Prasarana Keagamaan
Sarana keagamaan penting bagi pemeluk agama di suatu tempat. Selain sebagai simbol keberadaan, rumah peribadatan juga sebagai tempat untuk melakukan ibadah.
Tempat ibadah diharapkan dapat memberi dorongan yang kuat dan terarah bagi jamaahnya, agar kehidupan spiritual keberagamaan bagi pemeluk agama tersebut menjadi lebih baik. Untuk lebih jelas dapat dilihat pada Tabel 11.
Tabel 11. Prasarana Keagamaan Yang Tersedia Di Desa Lambur I
Sumber: Profil Desa Lambur I 2022
Dilihat pada Tabel 11 di Desa Lambur I terdapat tempat ibadah seperti Masjid sebanyak 5 unit, Musholla/Langgar sebanyak 11 unit dan Gereja 1 unit. dan Desa Lambur I hanya memeluk agama islam 97% dan kristen 3%.
Kemajuan dan perkembangan sarana dan prasarana merupakan suatu hal yang penting dalam pengembangan wilayah untuk menaikan nilai ekonomi dan nilai fisik khususnya untuk mengupayakan kelancaran di sektor pertanian. Sarana dan prasarana dalam proses pembangunan pertanian dapat mempengaruhi pendapatan ekonomi pertanian dalam usahataninya. Tersedianya sarana dan prasarana yaitu sarana ekonomi, kesehatan, infrastruktur, transportasi, peribadatan, serta berbagai kegiatan sosial dan ekonomi petani.
4.2. Identitas Petani Sampel
non produktif pertimbangan dalam pengambilan keputusannya lebih lama. Penjelasan lebih lengkapnya dapat dilihat pada Tabel 12 di bawah ini.
Tabel 12. Distribusi Petani Sampel Berdasarkan Kelompok Umur Di Daerah Penelitian Tahun 2021-2022
Umur Petani Jumlah Petani
Petani Persentase (%)
20-29 1 1.38
30-39 14 19.44
40-49 13 18.05
50-59 20 27.77
60-69 23 31.94
70-79
>80
1 0
1.38 0
Jumlah 72 100
Sumber: Hasil Olahan Data Primer 2022
Tabel 12 menunjukan keadaan umur petani responden di daerah penelitian. Rata-rata umur petani di daerah penelitian berusia 54 tahun. Seluruh petani kelapa sawit di daerah berusia produktif yaitu berusia berkisar antara kelompok umur antara 50-59 tahun merupakan jumlah persentase terbesar dengan jumlah 20 petani. Sedangkan persentase terendah pada kelompok umur di atas 20-29 tahun dengan jumlah 1 petani dan kelompok umur di atas 70-79 tahun dengan jumlah 1 petani. Semakin produktif umur petani maka daya fisik untuk bekerja akan semakin tinggi serta produksi yang dihasilkan juga akan meningkat. Dengan meningkatnya produksi maka pendapatan petani juga akan meningkat dan sebaliknya, jika umur petani tidak produktif maka daya fisik untuk bekerja akan lebih rendah dibandingkan dengan umur yang produktif. Petani yang rata-rata berada pada usia produktif diharapkan mampu mengelola usaha taninya secara efektif dan efisien guna meningkatkan produksi usaha taninya serta dapat meningkatkan pendapatan total yang diterima oleh petani dan akan berdampak pada kesejahteraan petani di daerah penelitian.
4.2.2 Tingkat Pendidikan Petani
Pendidikan sangat penting untuk memperoleh pengetahuan dan keterampilan.
Tingkat pendidikan dalam bidang pertanian akan berpengaruh terhadap kreativitas dan kemampuan petani dalam menerima inovasi baru serta akan berpengaruh terhadap perilaku petani dalam mengambil berbagai keputusan dalam mengelola usahataninya.
Tingkat pendidikan akan berpengaruh terhadap cara berfikir, menerima atau mencoba hal-hal baru (Hernanto, 1996). Semakin tinggi pendidikan yang ditempuh oleh petani, maka akan lebih baik dalam mengelola usahataninya yang nantinya akan berpengaruh terhadap produksi yang dihasilkan. Pendidikan dapat diperoleh melalui pendidikan formal dan pendidikan non formal. Pendidikan petani yang diukur dalam penelitian ini adalah pendidikan formal yang pernah ditempuh oleh petani. Penjelasan lebih lengkapnya dapat dilihat pada Tabel 13 di bawah ini.
Tabel 13. Distribusi Petani Sampel Berdasarkan Tingkat Pendidikan Petani Di Daerah Penelitian Tahun 2021-2022
Tingkat Pendidikan Jumlah Petani
Petani Persentase (%)
Belum Sekolah SD
SMP SMA
18 30 18 6
25 41.66 25 8.33
Jumlah 72 100
Sumber: Hasil Olahan Data Primer 2022
Diketahui dari Tabel 13 bahwa tingkat pendidikan petani di daerah penelitian cukup bervariasi, dengan rata-rata tingkat pendidikan petani terbanyak berada pada tingkat Sekolah Dasar (SD) dengan persentase sebesar 41.66 persen atau sebanyak 30 orang. Sedangkan persentase terendah pada tingkat pendidikan yang belum sekolah dengan persentase sebesar 25 persen atau sebanyak 18 orang, diikuti tingkat pendidikan Sekolah Menengah Pertama (SMP) dengan persentase 25 persen atau sebanyak 18 orang, Sekolah Menengah Atas (SMA) dengan persentase sebesar 8.33 persen atau sebanyak 6 orang. Hal ini sangat penting bila petani bersekolah akan memudahkan petani dalam menerima informasi yang diberikan karena petani bisa membaca dan menulis.
4.2.3 Jumlah Anggota Rumah Tangga
Jumlah anggota rumah tangga adalah banyaknya orang yang menjadi beban atau tanggungan rumah tangga. Banyaknya jumlah orang dalam rumah tangga erat kaitannya dengan penggunaan pendapatan terutama untuk konsumsi rumah tangga dan keperluan lainnya. Peningkatan anggota rumah tangga berhubungan negatif dengan kesejahteraan rumah tangga. Semakin banyak anggota dalam suatu rumah tangga maka semakin banyak
pula kebutuhan yang harus dipenuhi. Jumlah anggota rumah tangga yang semakin besar tanpa diimbangi dengan meningkatnya pendapatan akan menyebabkan menurunnya kesejahteraan dalam rumah tangga tersebut.Untuk lebih jelas dapat dilihat pada Tabel 14.
Tabel 14. Distribusi Petani Sampel Berdasarkan Jumlah Anggota Rumah Tangga Petani Di Daerah Penelitian Tahun 2021-2022
Jumlah Anggota Rumah Tangga
Jumlah Petani
Petani Persentase (%)
1 2 3 4 5 6
4 16 29 16 5 2
5.55 22.22 40.27 22.22 6.94 2.77
Jumlah 72 100
Sumber: Hasil Olahan Data Primer 2022
Dari Tabel 14 terlihat bahwa sebagian besar anggota rumah tangga petani sampel didaerah penelitian dengan rata-rata berjumlah 3 anggota keluarga dengan persentase sebesar 40.27 persen atau sebanyak 29 orang. Sedangkan persentase terendah berjumlah 6 anggota keluarga dengan persentase sebesar 2.77 persen atau sebanyak 2 orang.
4.2.4 Pengalaman Berusahatani
Pengalaman berusahatani kelapa sawit adalah lamanya seseorang berusahatani kelapa sawit atau lamanya menjadi petani kelapa sawit. Pengalaman berusahatani kelapa sawit yang dimiliki petani sampel diukur sejak petani mulai pertama kali mengusahakan kelapa sawit. Petani yang memiliki pengalaman lebih lama dalam berusahatani mempunyai kapasitas pengelolaan yang lebih baik sehingga bersikap hati-hati dalam mengambil resiko dan menerima inovasi yang dianggap baru. Penjelasan lebih lengkapnya dapat dilihat pada Tabel 15 berikut ini.
Tabel 15. Distribusi Petani Sampel Berdasarkan Pengalaman Berusahatani Petani Di Daerah Penelitian Tahun 2021-2022
Pengalaman Berusahatani Jumlah Petani
Petani Persentase (%)
10 - 11,4 11,5 - 12,9
13 - 14,4 14,5 - 15,9
16 - 17,4 17,5 - 18,9
19 - 20,4
36 0 1 27 5 2 1
50 0 1.38 37.5 6.94 2.77 1.38
Jumlah 72 100
Sumber: Hasil Olahan Data Primer 2022
Berdasarkan Tabel 15 dapat diketahui bahwa pengalaman berusahatani kelapa sawit terbanyak pada tingkat 10-11,4 tahun sebanyak 36 orang atau sebesar 50 persen.
Hal ini menunjukkan petani bahwa petani di daerah penelitian telah cukup memiliki pengalaman dalam berusahatani kelapa sawit sehingga cenderung memahami kondisi usahataninya dalam pengambilan keputusan. Pengalaman berusahatani merupakan faktor yang menentukan keberhasilan suatu usaha karena akan berpengaruh terhadap pertimbangan usaha dan pengambilan keputusan pada proses produksi, pengelolaan dan pemasaran hasil. Pengalaman usahatani dapat mengembangkan kegiatan usahatani dimasa yang akan datang karena semakin lama bekerja seseorang akan lebih banyak mendapatkan pembelajaran dan diharapkan akan lebih baik dalam melaksanakan tugasnya.
4.3 Keadaan Umum Usahatani Kelapa Sawit