BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
4.5 Kesejahteraan Petani
Kesejahteraan merupakan tujuan akhir dari pembangunan suatu negara.
Pendapatan merupakan salah satu tolak ukur dari kesejahteraan. Semakin tinggi tingkat pendapatan maka semakin tinggi pula tingkat kesejahteraan rumah tangga tersebut, namun seiring dengan pertambahan jumlah anggota rumah tangga pendapatan yang dihasilkan tidak mampu memenuhi kebutuhan anggota rumah tangga tersebut.
Dengan demikian kesejahteraan tidak hanya bisa dilihat dari jumlah pendapatan yang dihasilkan tetapi juga di imbangi oleh jumlah tanggungan di dalam suatu rumah tangga. Untuk melihat tingkat kesejahteraan petani sampel di daerah penelitian digunakan teori kesejahteraan menurut BPS. Menurut Badan Pusat Statistik (2018), kriteria kesejahteraan menurut BPS menganalisis 8 indikator tingkat kesejahteraan diantaranya adalah kependudukan, kesehatan dan gizi, pendidikan, ketenagakerjaan, taraf dan pola konsumsi, perumahan dan lingkungan, kemiskinan dan sosial lainnya. Kriteria kesejahteraan rumah tangga menurut BPS (2018), dapat dilihat dari Lampiran 1 dengan kriteria untuk masing-masing klasifikasi adalah sebagai berikut:
Tingkat Kesejahteraan Kurang : Nilai Skor 43-71
Tingkat Kesejahteraan Cukup : Nilai Skor 72-100
Tingkat Kesejahteraan Baik : Nilai Skor 101-129
Berdasarkan hasil analisis tingkat kesejahteraan berdasarkan indikator kesejahteraan menurut BPS (2018), hasil penelitian dari 72 sampel yang merupakan petani kelapa sawit di Desa Lambur I Kecamatan Muara Sabak Timur Kabupaten Tanjung Jabung Timur (Lampiran 21 sampai Lampiran 23).
4.5.1 Kependudukan
Penduduk merupakan salah satu faktor yang perlu diperhatikan dalam proses pembangunan, karena dengan kemampuannya mereka dapat mengelola sumber daya alam sehingga mampu memenuhi kebutuhan hidup bagi diri dan keluarganya secara berkelanjutan. Jumlah penduduk yang besar dapat menjadi potensi beban dalam proses pembangunan jika berkualitas rendah. Rata-rata pertumbuhan penduduk adalah angka yang menunjukkan tingkat pertumbuhan penduduk per tahun dalam jangka waktu tertentu. Angka dinyatakan sebagai persentase dari penduduk pada tahun tertentu (dasar).
Dapat dilihat hasil indikator kependudukan di Tabel 24.
Tabel 24. Indikator Kesejahteraan Menurut Badan Pusat Statistik (2018) Petani Sampel Berdasarkan Kependudukan Di Daerah Penelitian Tahun 2021-2022
Tingkat Kriteria Jumlah Petani
Petani Persentase (%) 10-12
7-9 4-6
Baik Cukup Kurang
62 10 -
86.11 13.88 -
Jumlah 72 100
Sumber: Hasil Olahan Data Primer 2022
Pada Tabel 24 dapat dilihat hasil indikator kependudukan masyarakat di Desa Lambur I sebagian besar memiliki kesejahteraan dengan Tingkat baik yaitu 62 petani (86.11%). Sedangkan petani yang memiliki kesejahteraan dengan Tingkat cukup sekitar 10 petani (13.88%). Dimana indikator kependudukan ini dilihat dari kategori usia dimana mayoritas kategori usia di Desa Lambur I adalah produktif (15-64 tahun), untuk jumlah anggota keluarga yang ikut tinggal kurang lebih 1-5 orang, jumlah tanggungan dalam
keluarga yaitu 1-4 orang dan untuk status perkawinan rata-rata sudah menikah (Lampiran 25).
4.5.2 Kesehatan dan Gizi
Kesehatan dan Gizi merupakan indikator yang penting untuk menggambarkan mutu pembangunan manusia suatu wilayah. Semakin sehat kondisi suatu masyarakat, maka akan semakin mendukung proses dan dinamika pembangunan sehingga perekonomian suatu negara atau wilayah pun akan menjadi semakin baik. Kesehatan dan gizi merupakan bagian dari indikator kesejahteraan penduduk dalam hal kualitas fisik.
Kesehatan dan gizi berguna untuk melihat gambaran tentang kemajuan upaya peningkatan dan status kesehatan masyarakat dapat dilihat dari penolong persalinan bayi, perilaku hidup bersih, ketersediaan sarana kesehatan, dan jenis pengobatan yang dilakukan. Dapat dilihat hasil indikatorKesehatan dan Gizi di Tabel 25.
Tabel 25. Indikator Kesejahteraan Menurut Badan Pusat Statistik (2018) Petani Sampel Berdasarkan Kesehatan dan Gizi Di Daerah Penelitian Tahun 2021-2022
Tingkat Kriteria Jumlah Petani
Petani Persentase (%) 24-30
17-23 10-16
Baik Cukup Kurang
27 45 -
37.5 62.5 -
Jumlah 72 100
Sumber: Hasil Olahan Data Primer 2022
Berdasarkan Tabel 25 dilihat hasil indikator kesehatan dan gizi, sebagian besar petani kelapa sawit di Desa Lambur I memiliki kesejahteraan dengan Tingkat cukup yaitu sebanyak 45 petani (62.5%). Selebihnya memiliki kesejahteraan dengan Tingkat baik yaitu sebanyak 27 petani (37.5 %). Kesehatan dan gizi dinilai dari kondisi kesehatan keluarga dimana kondisi kesehatan keluarga cukup sehat semua, untuk kondisi asupan gizi keluarga cukup terpenuhi (nasi, sayur, lauk dan buah), untuk sarana kesehatan yang ada yaitu sudah terdapat puskesmas atau klinik/rumah bidan, untuk tenaga kesehatan yang biasa digunakan keluarga yaitu biasanya bidan, untuk tempat persalinan bayi itu sendiri rata-rata di klinik/bidan, untuk tempat memperoleh obat diperoleh di obat warung atau apotek, untuk biaya berobat cukup terjangkau, untuk jaminan pelayanan kesehatan
itu menggunakan biaya pribadi, untuk akte kelahiran rata-rata keluarga memiliki akte semua, dan untuk penerapan imunisasi pada balita itu sering dilakukan oleh masyarakat di Desa Lambur I (Lampiran 25).
4.5.3 Pendidikan
Pendidikan adalah aktivitas dan usaha manusia untuk meningkatkan kepribadiannya dengan jalan membina potensi-potensi pribadinya, yaitu rohani (pikir, karsa, rasa, cipta, dan budi nurani). Dapat dilihat hasil indikatorPendidikan di Tabel 26.
Tabel 26. Indikator Kesejahteraan Menurut Badan Pusat Statistik (2018) Petani Sampel Berdasarkan Pendidikan di Daerah Penelitian Tahun 2021-2022
Tingkat Kriteria Jumlah Petani
Petani Persentase (%) 13-15
9-12 5-8
Baik Cukup Kurang
67 5 -
93.05 6.94 -
Jumlah 72 100
Sumber: Hasil Olahan Data Primer 2022
Berdasarkan Tabel 26 dilihat hasil indikator pendidikan, sebagian besar petani kelapa sawit memiliki kesejahteraan baik yaitu sejumlah 67 petani (93.05%). Sedangkan petani yang memiliki kesejahteraan dengan Tingkat cukup sebanyak 5 petani (6.94%).
Dimana indikator kependudukan ini dilihat dari dimana anggota keluarga rata-rata dalam keluarga lancar membaca dan menulis, untuk mengenai pendidikan itu sangat penting untuk anak-anaknya mereka, untuk saran pendidikan sangat memadai (transpotasi dan sekolah), dan untuk pendidikan di luar itu juga sangat penting untuk anak-anak mereka (sekolah mengaji/madrasah dan ekstrakurikuler). Pendidikan bagi petani kelapa sawit di Desa Lambur I sangat penting bagi keberlangsungan anak-anak mereka untuk mencari ilmu dan pengetahuan yang bermanfaat sejalan dengan perkembangan zaman (Lampiran 25).
4.5.4 Ketenagakerjaan
Penduduk usia kerja adalah penduduk berumur 15 tahun dan lebih. Penduduk yang termasuk angkatan kerja adalah penduduk usia kerja (15 tahun dan lebih) yang bekerja, atau punya pekerjaan namun sementara tidak bekerja dan pengangguran.
Penduduk yang termasuk bukan angkatan kerja adalah penduduk usia kerja (15 tahun dan lebih) yang masih sekolah, mengurus rumah tangga atau melaksanakan kegiatan lainnya.
Kegiatan yang terbanyak dilakukan adalah kegiatan yang menggunakan waktu terbanyak dibandingkan dengan kegiatan lainnya. Bekerja adalah kegiatan ekonomi yang dilakukan oleh seseorang dengan maksud memperoleh atau membantu memperoleh pendapatan atau keuntungan, paling sedikit 1 jam (tidak terputus) dalam seminggu yang lalu. Dapat dilihat hasil indikator ketenagakerjaan di Tabel 27.
Tabel 27. Indikator Kesejahteraan Menurut Badan Pusat Statistik (2018) Petani Sampel Berdasarkan Ketenagakerjaan Di Daerah Penelitian Tahun 2021-2022
Tingkat Kriteria Jumlah Petani
Petani Persentase (%) 13-15
9-12 5-8
Baik Cukup Kurang
- 26 46
- 36.11 63.88
Jumlah 72 100
Sumber: Hasil Olahan Data Primer 2022
Pada Tabel 27 dapat dilihat hasil indikator ketenagakerjaan menunjukan bahwa petani yang memiliki kesejahteraan dengan Tingkat cukup hanya terdapat 26 petani (36.11%). Sebagian besar petani memiliki kesejahteraan dengan Tingkat kurang yaitu sebanyak 46 petani (63.88%). Ketenagakerjaan petani kelapa sawit di Desa Lambur I sebagian besar pada setiap keluarga memiliki 1 atau 2 orang yang bekerja sebagai petani kelapa sawit dan terkadang mereka memiliki pekerjaan tambahan walaupun tidak menentu (wiraswasta, buruh dan lain-lain).
4.5.5 Taraf dan Pola Konsumsi
Pola konsumsi rumah tangga merupakan salah satu indikator kesejahteraan rumah tangga atau keluarga. Selama ini berkembang pengertian bahwa besar kecilnya proporsi pengeluaran untuk konsumsi makanan terhadap seluruh pengeluaran rumah tangga dapat memberikan gambaran kesejahteraan rumah tangga tersebut. Rumah tangga dengan proporsi pengeluaran yang lebih besar untuk konsumsi makanan mengindikasikan rumah tangga yang berpenghasilan rendah. Makin tinggi tingkat penghasilan rumah tangga, makin kecil proporsi pengeluaran untuk makanan terhadap seluruh pengeluaran rumah
tangga. Dengan kata lain dapat dikatakan bahwa rumah tangga atau keluarga akan semakin sejahtera bila persentase pengeluaran untuk makanan jauh lebih kecil dibandingkan persentase pengeluaran untuk non makanan. Dapat dilihat hasil indikator taraf dan pola konsumsi di Tabel 28.
Tabel 28. Indikator Kesejahteraan Menurut Badan Pusat Statistik (2018) Petani Sampel Berdasarkan Taraf dan Pola Konsumsi di Daerah Penelitian Tahun 2021-2022
Tingkat Kriteria Jumlah Petani
Petani Persentase (%) 10-12
7-9 4-6
Baik Cukup Kurang
66 6 -
91.66 8.33 -
Jumlah 72 100
Sumber: Hasil Olahan Data Primer 2022
Pada Tabel 28 dapat dilihat hasil indikator taraf dan pola konsumsi terdapat sebanyak 66 petani (91.66%) yang memiliki kesejahteraan dengan Tingkat baik sedangkan yang lainnya memiliki tingkat kesejahteraan cukup yaitu sebanyak 6 petani (8.33%). Taraf dan Pola Konsumsi dinilai dari jumlah pengeluaran untuk konsumsi dalam satu bulan dimana rata-rata jumlah pengeluaran untuk konsumsi keluarga di Desa Lambur I dalam kondisi baik yaitu sebesar kurang lebih Rp. 1.000.000,00 dan pola konsumsi beras dalam satu hari yaitu sebanyak 3 kali sehari (Lampiran 25).
4.5.6 Perumahan dan Lingkungan
Keadaan tempat tinggal merupakan salah satu indikator untuk mengukur tingkat kesejahteraan masyarakat, dilihat dari apakah tempat tinggal tersebut telah layak huni atau masih bersifat non permanen. Artinya bahwa masyarakat yang sejahtera tentu saja akan memiliki tempat tinggal yang tergolong luas dan mewah, karena hal tersebut akan menjadi tolak ukur sampai sejauh mana masyarakat tersebut akan dipandang sejahtera oleh masyarakat lainnya. Secara umum, kualitas rumah tinggal menunjukkan tingkat kesejahteraan suatu rumah tangga, dimana kualitas tersebut ditentukan oleh fisik rumah tersebut yang dapat terlihat dari fasilitas yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari.
Berbagai fasilitas yang mencerminkan kesejahteraan rumah tangga tersebut diantaranya dapat terlihat dari kondisi rumah dan segala fasilitas yang berada di lingkungan
perumahan. Dalam hal ini, keadaan tempat tinggal tersebut diukur berdasarkan luas bangunan, jenis atap, jenis lantai, dan jenis dinding. Dapat dilihat hasil indikator perumahan dan lingkungan di Tabel 29.
Tabel 29. Indikator Kesejahteraan Menurut Badan Pusat Statistik (2018) Petani Sampel Berdasarkan Perumahan dan Lingkungan Di Daerah Penelitian Tahun 2021-2022
Tingkat Kriteria Jumlah Petani
Petani Persentase (%) 24-30
17-23 10-16
Baik Cukup Kurang
61 11 -
84.72 15.27 -
Jumlah 72 100
Sumber: Hasil Olahan Data Primer 2022
Pada Tabel 29 dilihat hasil indikator perumahan dan lingkungan sebagian besar petani memiliki tingkat kesejahteraan dengan Tingkat baik yaitu sebanyak 61 petani (84.72%). Sedangkan pada tingkat kesejahteraan dengan Tingkat cukup terdapat hanya 11 petani (15.27%). Petani kelapa sawit di Desa Lambur I sebagian besar memiliki rumah sendiri dengan jenis lantai dari semen, atap rumah terbuat dari seng, dinding dari tembok dan penerangan bersumber dari listrik PLN untuk sumber bahan bakar masak menggunakan elpiji.
4.5.7 Kemiskinan
Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), kemiskinan adalah ketidakmampuan memenuhi standar minimum kebutuhan dasar yang meliputi kebutuhan makan maupun non makan. Dapat dilihat hasil indikator Kemiskinan di Tabel 30.
Tabel 30. Indikator Kesejahteraan Menurut Badan Pusat Statistik (2018) Petani Sampel Berdasarkan Kemiskinan di Daerah Penelitian Tahun 2021-2022
Tingkat Kriteria Jumlah Petani
Petani Persentase (%) 3
2 1
Baik Cukup Kurang
72 - -
100 - -
Jumlah 72 100
Sumber: Hasil Olahan Data Primer 2022
Berdasarkan pada Tabel 30 dilihat pada hasil indikator kemiskinan terdapat 72 petani (100%) memiliki kategori tidak miskin atau dengan kata lain kesejahteraan dengan Tingkat baik. Hal ini dikarenakan pendapatan petani cukup untuk memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari (Lampiran 25).
4.5.8 Sosial Lainnya
Indikator sosial lainnya yang mencerminkan kesejahteraan adalah persentase penduduk yang melakukan pekerjaan wisata, persentase yang menikmati informasi dan hiburan meliputi menonton televisi, mendengarkan radio, membaca surat kabar, dan mengakses internet. Dapat dilihat hasil indikator Sosial Lainnya di Tabel 31.
Tabel 31. Indikator Kesejahteraan Menurut Badan Pusat Statistik (2018) Petani Sampel Berdasarkan Sosial Lainnya di Daerah Penelitian Tahun 2021-2022
Tingkat Kriteria Jumlah Petani
Petani Persentase (%) 13-15
9-12 5-8
Baik Cukup Kurang
3 69 -
4.16 95.83 -
Jumlah 72 100
Sumber: Hasil Olahan Data Primer 2022
Pada Tabel 30 dilihat pada hasil indikator sosial lainnya sebagian besar petani memiliki kesejahteraan dengan tingkat baik yaitu sebanyak 3 petani (4,16%). Sedangkan pada tingkat kesejahteraan dengan tingkat cukup terdapat hanya 69 petani (95,83%).
Masyarakat petani kelapa sawit di Desa Lambur I hidup di wilayah pedesaan yang jaraknya agak jauh dari pusat kota, menyebabkan teknologi dan informasi tertinggal.
Sehingga tidak heran jika akses media informasi kurang terpenuhi.
Berdasarkan beberapa pemaparan di atas maka dapat ditarik kesimpulan bahwa masyarakat petani kelapa sawit di Desa Lambur I Kecamatan Muara Sabak Timur Kabupaten Tanjung Jabung Timur memiliki tingkat kesejahteraan dengan Tingkat baik.
Tabel 32. Pengelompokan Petani Berdasarkan Tingkat Kesejahteraan BPS (2018) Tahun 2021-2022
Tingkat Kesejahteraan Nilai Skor Jumlah Petani
Petani Persentase (%) Tingkat Kesejahteraan Kurang
Tingkat Kesejahteraan Cukup Tingkat Kesejahteraan Baik
43-71 72-100 101-129
0 15 57
0 20.83 79.16
Jumlah 72 100
Sumber: Hasil Olahan Data Primer 2022
Dari Tabel 32 di atas dapat disimpulkan bahwa berdasarkan kategori kesejahteraan BPS (2018), sebagian besar petani kelapa sawit berada pada tingkat kesejahteraan baik sebanyak 57 petani atau 79.16%. sedangkan pada tingkat kesejahteraan cukup sebanyak 15 petani atau 20.83% (Lampiran 23 dan 25).
Tinggi rendahnya tingkat kesejahteraan petani kelapa sawit dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu kependudukan, kesehatan dan gizi, pendidikan, ketenagakerjaan, taraf dan pola konsumsi, perumahan dan lingkungan, kemiskinan dan sosial lainnya (BPS, 2018).
4.6 Analisis Hubungan Pendapatan Usahatani Terhadap Tingkat Kesejahteraan