Identitas responden merupakan keadaan yang menggambarkan kondisi umum dari responden pada sentra industri kecil kerupuk rambak berkualitas sayur dari kulit kerbau di Kabupaten Boyolali yang masih aktif berproduksi pada saat dilakukannya penelitian. Identitas responden dalam penelitian ini meliputi: umur, tingkat pendidikan, jumlah anggota keluarga, jumlah anggota yang aktif dalam usaha, jumlah tenaga kerja luar dan lama mengusahakan. Identitas responden pada sentra industri kecil
kerupuk rambak berkualitas sayur dari kulit kerbau di Kabupaten Boyolali dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 14. Identitas Responden Pada Sentra Industri Kecil Kerupuk Rambak Berkualitas Sayur dari Kulit Kerbau di Kabupaten Boyolali.
No Uraian Rata–rata
1. Umur responden (tahun) 48,83
2. Tingkat pendidikan (tahun) 9,67
3. Jumlah anggota keluarga (orang) 5
4. Jumlah anggota keluarga yang aktif dalam usaha (orang) 2 5.
6.
Jumlah tenaga kerja luar (orang) Lama mengusahakan (tahun)
8 5,3
Sumber : Diadopsi dan diolah dari lampiran 1
Berdasarkan Tabel 14. dapat diketahui bahwa umur rata–rata pengusaha adalah 48,83 tahun yang masih termasuk dalam umur produktif sehingga produktivitas kerja pengusaha kerupuk rambak berkualitas sayur dari kulit kerbau masih cukup tinggi. Umur pengusaha pada usaha ini tidak terlalu berpengaruh, sebab biasanya pengusaha hanya bertindak sebagai pengawas saja atau melakukan pekerjaan menjual produk ke pasar, sedangkan yang menjalankan pekerjaan berat adalah tenaga kerjanya. Dengan kondisi umur tersebut diharapkan usaha industri kerupuk rambak kulit kerbau berkualitas sayur masih dapat terus dikembangkan karena para pengusaha masih memiliki produktivitas dan kemampuan bekerja yang tinggi.
Sebagian besar pengusaha kerupuk rambak berkualitas sayur dari kulit kerbau pernah mengenyam pendidikan secara formal, walaupun pada tingkatan yang berbeda–beda. Rata-rata pendidikan formal yang ditempuh oleh responden adalah 9,67 tahun. Hal itu menunjukkan bahwa hampir sebagian besar responden sudah mengenyam pendidikan sampai pada tingkat SLTP/SMP. Dengan demikian wawasan ataupun pengetahuan yang dimiliki oleh pengusaha kerupuk rambak berkualitas sayur dari kulit kerbau sudah cukup memadai dan paling tidak akan mempengaruhi pola pikir dan cara kerja mereka dalam mengelola usaha. Semakin tinggi pendidikan para pengusaha maka mereka lebih bisa berpikir secara
rasional dalam menetapkan strategi usaha yang harus diambil, dan pada akhirnya akan mempengaruhi tingkat keuntungan yang akan diperoleh.
Jumlah rata–rata anggota keluarga yang dimiliki oleh pengusaha adalah sebanyak 5 orang. Hal ini akan berpengaruh pada ketersediaan tenaga kerja, terutama tenaga kerja yang berasal dari keluarga yang ikut dalam proses produksi. Jumlah rata–rata anggota keluarga yang aktif dalam usaha ini adalah 2 orang. Rata–rata jumlah tenaga kerja luar yang dipekerjakan oleh masing-masing pengusaha adalah 8 orang. Biasanya anggota keluarga yang aktif adalah suami dan istri. Anggota keluarga yang lain bekerja pada sektor lain, masih menempuh pendidikan, atau termasuk usia non produktif (anak-anak).
Usaha pada sentra industri kecil kerupuk rambak berkualitas sayur dari kulit kerbau di Kabupaten Boyolali ini belum berlangsung lama, karena pengalaman usaha yang dimiliki oleh para pengusaha yaitu rata- rata berkisar 5,3 tahun. Hal ini menunjukkan bahwa responden belum cukup lama dalam menjalankan usahanya. Ada sebagian besar responden yang sebelum menggeluti usaha ini sudah membantu orang tua atau saudaranya yang juga mengusahakan industri ini, maka setelah mempunyai pengalaman tersebut mereka masing-masing mendirikan usaha ini sendiri. Sebenarnya mereka belum lama mendirikan usaha ini tetapi sudah mempunyai pengalaman yang cukup mengenai segala sesuatu tentang usaha ini, sehingga mereka sudah bisa mengatasi berbagai kendala usaha yang mereka hadapi.
Usaha pembuatan kerupuk rambak berkualitas sayur dari kulit kerbau ini ada yang termasuk pekerjaan pokok dan ada juga yang merupakan pekerjaan sampingan pengusaha. Status usaha pada sentra industri kecil kerupuk rambak berkualitas sayur dari kulit kerbau di Kabupaten Boyolali ini dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 15. Status Usaha Pada Sentra Industri Kecil Kerupuk Rambak Berkualitas Sayur dari Kulit Kerbau di Kabupaten Boyolali No Status Usaha Jumlah (orang) Prosentase(%)
1. 2. Pekerjaan Pokok Pekerjaan Sampingan 4 2 66,67 33,33 Total 6 100,00
Sumber: Diadopsi dan diolah dari lampiran 1
Berdasarkan Tabel 15. dapat diketahui bahwa mayoritas status usaha industri kecil kerupuk rambak berkualitas sayur dari kulit kerbau dijadikan sebagai pekerjaan pokok yaitu sebanyak 4 orang atau 66,67%, sedangkan yang dijadikan sebagai pekerjaan sampingan sebanyak 2 orang atau 33,33%. Responden yang menjadikan usaha ini menjadi pekerjaan sampingan karena sudah memiliki pekerjaan pokok sebagai pedagang dan petani. Mereka mengusahakan kerupuk rambak berkualitas sayur dari kulit kerbau sebagai penambah penghasilan dari pekerjaan utama yang telah dimilikinya.
Ada berbagai macam alasan yang mendasari pengusaha industri kecil kerupuk rambak berkualitas sayur dari kulit kerbau dalam menjalankan usahanya, diantaranya yaitu pengalaman sebelumnya dari ikut usaha orang tua dan saudara, faktor lingkungan (ikut-ikutan), dan untuk menambah penghasilan. Alasan responden dalam menjalankan usahanya sebagai pengusaha kerupuk rambak berkualitas sayur dari kulit kerbau dapat dilihat pada tabel berikut ini.
Tabel 16. Alasan Mengusahakan Industri Kecil Kerupuk Rambak Berkualitas Sayur dari Kulit Kerbau di Kabupaten Boyolali
No. Alasan Usaha Jumlah
(orang) Prosentase (%) 1. 2 3 4
Pengalaman sebelumnya dari ikut usaha orang tua
Pengalaman sebelumnya dari ikut usaha saudara
Faktor lingkungan Menambah penghasilan 2 1 1 2 33,33 16,67 16,67 33,33 Total 6 100
Sumber: Diadopsi dan diolah dari lampiran 1
Tabel 16. dapat diketahui bahwa alasan responden mengusahakan industri kerupuk rambak berkualitas sayur dari kulit kerbau karena telah mempunyai pengalaman dari ikut usaha orang tua yaitu sebanyak 2
responden (33,33%). Sebelumnya orang tua mereka sudah sukses dalam mengembangkan usaha ini, kemudian mereka berdiri sendiri dengan mendirikan usaha baru ini. Alasan yang berikutnya yaitu untuk menambah penghasilan dari pekerjaan utama yang telah mereka miliki, yaitu sebanyak 2 responden (33,33%). Alasan lain adalah pengusaha sudah mempunyai pengalaman dari ikut usaha yang dijalankan oleh saudaranya sendiri, yaitu ada 1 responden (16,67%). Alasan berikutnya yaitu faktor lingkungan (ikut-ikutan), ada 1 responden (16,67%). Pengusaha tertarik untuk ikut-ikutan menjadi pengusaha kerupuk rambak berkualitas sayur dari kulit kerbau karena melihat pengusaha lain yang sudah sukses (secara materi kehidupanya lebih baik dan usaha yang semakin maju) dalam menjalankan usaha ini.
2. Modal Industri kerupuk Rambak Berkualitas Sayur dari Kulit Kerbau Para pengusaha kerupuk rambak berkualitas sayur dari kulit kerbau dalam menjalankan usahanya pasti membutuhkan modal, baik untuk membeli peralatan maupun bahan-bahan yang dibutuhkan. Modal yang digunakan dapat berupa modal sendiri maupun modal pinjaman yang berasal dari luar. Hal ini dapat dilihat dari tabel berikut.
Tabel 17. Sumber Modal Usaha Pada Sentra Industri Kecil Kerupuk Rambak Berkualitas Sayur dari Kulit Kerbau di Kabupaten Boyolali
No Sumber Modal Jumlah
(orang) Prosentase(%) 1. 2. Modal sendiri Modal pinjaman 6 0 100 0 Total 6 100
Sumber: Diadopsi dan diolah dari lampiran 1
Berdasarkan Tabel 17. diketahui bahwa semua pengusaha industri kecil kerupuk rambak berkualitas sayur dari kulit kerbau dalam menjalankan usahanya menggunakan modal sendiri yang berasal dari modal pribadi. Hal ini dikarenakan belum banyak lembaga yang mau memberikan pinjaman dengan bunga pinjaman yang cukup ringan. Pada awalnya pengusaha hanya memiliki sedikit modal, mereka lebih memilih
menggunakan modal sendiri dengan memproduksi dalam skala kecil dan dengan menggunakan tenaga kerja yang sedikit. Setelah memperoleh keuntungan maka pengusaha menambah kapasitas produksinya.
3. Pengadaan Bahan Baku
Bahan baku utama yang digunakan dalam industri kecil kerupuk rambak berkualitas sayur dari kulit kerbau adalah kulit kerbau kering yang diperoleh dari luar jawa, yaitu dari Toraja Sulawesi. Di daerah Sulawesi khususnya Toraja banyak menghasilkan kulit kerbau karena disana terdapat upacara adat untuk menghormati dan mengantarkan arwah orang yang meninggal dunia menuju alam roh (Upacara Adat Rambu Solo) dengan penyembelihan kerbau dalam jumlah yang banyak, sehingga kulit kerbau yang dihasilkan juga banyak. Cara untuk mendapatkan bahan baku ini para pengusaha kerupuk rambak berkualitas sayur dari kulit kerbau di Kabupaten Boyolali harus memesan terlebih dahulu kepada pengepul kulit kerbau di Toraja melalui via telepon. Biasanya mereka sudah mempunyai langganan pengepul sendiri-sendiri. Cara penyaluran bahan baku oleh pengusaha yaitu diambil pelabuhan Tanjung Perak Surabaya yang dikirimkan lewat ekspedisi kargo (2 orang pengusaha). Ada yang diantar langsung sampai rumah (3 orang pengusaha), selain itu ada juga seorang pengusaha yang membeli kulit kerbau dari seorang pengepul di Solo Baru.
Keuntungan jika pengusaha mengambil sendiri ke Pelabuhan maka bisa memilih kulit kerbau yang bagus dengan ciri-ciri kulitnya bersih, bulunya masih utuh (tidak brodol), tidak ada flek/luka pada kulit dan baunya masih segar (bau khas kerbau), namun harus mengeluarkan biaya tambahan untuk ongkos transportasi sekitar Rp 225.000,00–Rp 400.000,00. Harga kulit kerbau tersebut Rp 40.000,00/kg. Bahan baku yang diantar sampai rumah biasanya kulit kerbau yang diterima ada bagian yang cacat sehingga harus dibuang karena rasanya pahit. Ada juga pengusaha yang membeli kulit kerbau dari pengepul di Solo Baru, tetapi tidak semua kulit kerbau yang diterima dalam kondisi baik.
Dalam sistem pengadaan bahan baku ini biasanya para pengusaha membeli kulit kerbau untuk digunakan lebih dari satu kali produksi (penimbunan) dengan membeli dalam jumlah yang banyak. Mereka melakukan penimbunan untuk mencegah kehabisan stok karena produksi dilakukan setiap hari, dan untuk menghemat biaya ongkos transportasi karena letak sumber bahan baku yang jauh. Mereka membeli bahan baku kulit kerbau setiap 1 sampai 2 bulan sekali, yaitu sekitar 20–40 kuintal untuk memproduksi kerupuk rambak kulit kerbau 1-2 bulan kedepan.
Bahan baku kulit kerbau ini sudah berbentuk lembaran-lembaran kulit kering, sehingga bisa disimpan lama. Satu lembar kulit kerbau beratnya bisa mencapai 15-20 kg, tergantung besar kecilnya ukuran lembaran. Biasanya untuk 1 kg kulit kerbau mentah bisa menghasilkan 0,8 kg kerupuk rambak kulit kerbau atau sekitar 80%nya. Proses produksi dari kulit kerbau mentah menjadi kerupuk rambak hasilnya menyusut sampai 20%, karena bulu yang melekat pada kulit kerbau harus dihilangkan dan menyusut karena penjemuran.
Cara pembayaran dalam melakukan pembelian bahan baku kulit kerbau ini ada 2 cara yaitu secara kontan dan kredit. Ada 5 orang pengusaha (83,33%) yang melakukan pembayaran secara kontan. Mereka melakukan cara ini untuk menghindari adanya hutang kepada pengepul bahan baku. Namun ada seorang pengusaha (16,67%) yang melakukan pembayaran secara kredit, jangka waktu pembayaran sesuai perjanjian yang telah disepakati sebelumnya. Sistem ini harus dilandasi dengan sikap saling percaya antar pengusaha dengan pengepul bahan baku.
4. Peralatan Industri Kecil Kerupuk Rambak Berkualitas Sayur dari Kulit Kerbau
Pengusaha kerupuk rambak berkualitas sayur dari kulit kerbau selain membutuhkan bahan baku dan bahan penolong untuk menjalankan usahanya, juga memerlukan peralatan yang digunakan dalam proses produksi. Alat-alat yang digunakan dalam proses produksi usaha ini masih
sederhana, karena menggunakan teknologi manual. Peralatan yang digunakan meliputi :
a. Arit, digunakan untuk memotong-motong kulit kerbau kering menjadi bagian yang kecil-kecil agar mudah dimasukkan dalam drum perebus. b. Tungku, merupakan alat untuk merebus kulit kerbau dengan bahan
bakar kayu. Proses perebusan membutuhkan api yang besar sehingga tidak bisa direbus memakai kompor. Biasanya tungku ini dibuat sendiri oleh pengusaha dengan menggunakan pasir dan semen, sehingga bersifat permanen.
c. Drum perebus, berfungsi untuk merebus kulit kerbau yang terbuat dari besi. Drum ini biasanya bekas minyak yang kemudian dipotong menjadi 2 bagian yang sama besar untuk mempermudah proses pengadukan.
d. Sekop, untuk memperbaiki dan mengambil bara api.
e. Solet, berfungsi untuk mengaduk-aduk kulit kerbau pada waktu direbus, untuk mengangkat kulit kerbau yang sudah matang dan untuk membalik-balikan rajangan kulit kerbau pada proses pengungkepan. Solet ini berupa batang bambu panjang yang sudah dibelah.
f. Ember, digunakan untuk merendam kulit kerbau yang sudah matang selesai direbus dan untuk mengangkat-angkat kulit tersebut ketempat perajangan.
g. Alas perajang yang berupa bambu atau bongkok (batang daun) kelapa, berfungsi sebagai alas untuk merajang kulit kerbau
h. Pisau, digunakan untuk merajang kulit kerbau menjadi ukuran yang lebih kecil ± 1x5 cm.
i. Ungkal, digunakan untuk mengasah pisau agar selalu tajam
j. Karung bagor, berfungsi sebagai wadah pada saat merajang dan sebagai tempat untuk menyimpan kerupuk rambak berkualitas sayur dari kulit kerbau yang masih mentah.
k. Tenggok, sebagai alat untuk membawa rajangan kulit kerbau sebelum dijemur.
l. Jrebeng, alas untuk menjemur rajangan kulit kerbau dibawah sinar matahari yang berupa anyaman bambu yang berbentuk persegi panjang, dengan ukuran ± 1x2 m.
m. Wajan, sebagai alat untuk mengungkep dan menggoreng rajangan kulit kerbau yang masih mentah menjadi kerupuk rambak kulit kerbau. n. Irus, digunakan untuk mengaduk-aduk pada saat proses penggorengan. o. Erok-erok, digunakan untuk mengangkat kerupuk rambak kulit kerbau
berkualitas sayur yang sudah matang pada saat penggorengan.
p. Irik, berfungsi sebagai alat untuk meniriskan kerupuk rambak kulit kerbau berkualitas sayur setelah digoreng . Irik terbuat dari bambu yang dianyam kasar (bercelah-celah) yang berbentuk lingkaran.
q. Baskom, sebagai alat untuk meniriskan minyak goreng. Baskom ini diletakkan di bawah irik.
r. Timbangan, digunakan untuk menimbang kerupuk rambak berkualitas sayur dari kulit kerbau yang akan dijual. Terdiri dari timbangan besar, timbangan pasar dan timbangan duduk.
s. Streples, digunakan pada saat pengemasan kerupuk rambak berkualitas sayur dari kulit kerbau bentuk berasan (setengah matang).
5. Proses Produksi Pembuatan Kerupuk Rambak Berkualitas Sayur dari Kulit Kerbau
Proses produksi pembuatan kerupuk rambak berkualitas sayur dari kulit kerbau antara lain :
a. Lembaran kering kulit kerbau mentah dipotong-potong menjadi lebih kecil dengan menggunakan arit, agar mudah dimasukkan ke dalam drum perebus pada saat perebusan.
b. Merebus kulit kerbau mentah tersebut sampai empuk ± 4 jam. Ciri kulit kerbau sudah empuk yaitu bila ditusuk dengan kuku tangan bisa tembus dan warnanya sudah menjadi agak coklat.
c. Setelah kulit kerbau matang/empuk maka diangkat satu-persatu dengan menggunakan solet, kemudian ditaruh di bawah.
d. Mendinginkan kulit kerbau yang sudah matang tersebut dengan cara merendamnya dalam air dingin, kemudian ditiriskan sampai agak kering ± 30 menit-1 jam.
e. Setelah kering kulit kerbau dibersihkan dari bulu yang melekat, sampai kulit kerbau benar-benar bersih tidak ada bulunya.
f. Bila sudah bersih dari bulu, kemudian ditipiskan dengan cara membelah-belah menjadi 3 bagian, yaitu bagian atas, tengah dan bawah. Bagian atas atau 1/3 bagian mempunyai kualitas A sedangkan bagian tengah dan bawah atau 2/3 bagian mempunyai kualitas B. g. Setelah ditipiskan masing-masing bagian kulit kerbau tersebut dirajang
menjadi ukuran persegi panjang kecil-kecil ± 1x5 cm dengan menggunakan pisau dan alas perajang yang berupa bongkok (batang daun) kelapa atau bambu.
h. Setelah dirajang, kemudian potongan kecil kulit kerbau dijemur dibawah sinar matahari dengan beralaskan jrebeng sampai kering ± 2- 3 hari
i. Kemudian rajangan kulit kerbau yang sudah kering tersebut diungkep (digoreng dengan menggunakan minyak goreng yang dingin dan nyala apinya harus kecil, agar kulit kerbau tidak membesar) ± 4-5 jam. Cirinya bila sudah matang yaitu rajangan kulit kerbau warnanya menjadi mengkilap karena sudah menyerap minyak goreng.
j. Setelah diungkep kemudian ditiriskan sampai kering. Hasil dari proses pengungkepan ini adalah kerupuk rambak kulit kerbau berkualitas sayur setengah matang atau biasanya disebut berasan dan langsung bisa dijual.
k. Sedangkan bagian kulit dengan kualitas B digoreng sampai menjadi kerupuk rambak bentuk gorengan. Pada saat penggorengan nyala api harus selalu besar agar bisa mengembang sempurna. Pada waktu proses penggorengan ini hendaknya minyak goreng yang digunakan harus selalu baru agar warna menjadi bagus (kuning bening). Hasil kerupuk rambak gorengan ini beratnya bisa naik 2 ons (dalam 1 kg) karena
kerupuk mengembang menyerap minyak goreng. Dan hasil dari penggorengan ini disebut gorengan.
l. Jika sudah digoreng kemudian kerupuk rambak berkualitas sayur dari kulit kerbau tersebut dikemas ukuran 1 kg dengan menggunakan plastik. Plastik kerupuk rambak kulit kerbau berasan berukuran 20x40 cm. Plastik untuk kerupuk rambak kulit kerbau gorengan berukuran 45x60 cm.
m.Kerupuk rambak berkualitas sayur dari kulit kerbau sudah siap dijual. Biasanya para pengusaha menjual rambak sayur ini dalam 2 bentuk, yaitu bentuk berasan (setengah matang) dan bentuk gorengan. Bentuk berasan dan gorengan dijual dengan ukuran 1 kg. Bentuk berasan dijual dengan harga Rp 73.000,00 – 75.000,00, sedangkan bentuk gorengan dijual dengan harga Rp 62.000,00 – 65.000,00.
Tahapan proses produksi pembuatan kerupuk rambak berkualitas sayur dari kulit kerbau di Kabupaten Boyolali dapat digambarkan dalam skema berikut ini.
Kulit kerbau kering
Dipotong (menjadi agak kecil)
Direbus (± 4 jam)
Didinginkan (dengan air dingin)
Ditiriskan
Ditipiskan (3 belahan: atas, tengah, bawah)
Dirajang (± 1x5 cm)
Dijemur (± 2-3 hari)
Diungkep (± 4-5 jam)
Berasan Digoreng → Gorengan
( 1/3 bagian / grade A) ( 2/3 bagian/ grade B)
Dikemas/ dibungkus
Kerupuk rambak kulit kerbau siap dijual
Gambar 2. Proses Produksi Kerupuk Rambak Berkualitas Sayur dari Kulit Kerbau di Kabupaten Boyolali
6. Aspek Sosial
Industri kecil kerupuk rambak berkualitas sayur dari kulit kerbau ini bisa memberikan manfaat bagi masyarakat Kabupaten Boyolali khususnya Kecamatan Banyudono dimana sentra usaha ini berada. Manfaat yang diperoleh masyarakat yaitu, usaha ini bisa menyerap tenaga kerja yang lumayan banyak sehingga bisa mengurangi pengangguran. Usaha ini membutuhkan banyak tenaga kerja karena banyaknya pekerjaan yang harus dilakukan. Pada usaha ini jumlah tenaga kerja yang digunakan yaitu 10 orang tenaga kerja keluarga dan 45 orang tenaga kerja luar. Kebanyakan tenaga kerja luar tersebut merupakan ibu-ibu rumah tangga yang tidak mempunyai pekerjaan, pemuda-pemuda desa yang tidak mempunyai pekerjaan karena tidak dibekali pendidikan dan ketrampilan yang cukup, dan beberapa orang bapak-bapak yang sudah bekerja sejak
usaha ini didirikan. Dengan demikian usaha ini bisa memberikan pendapatan bagi warga masyarakat. Manfaat lainnya yaitu para tenaga kerja dan warga desa sekitar juga bisa membeli kerupuk rambak berkualitas sayur dari kulit kerbau dengan harga yang lebih murah bila dibanding membeli sendiri di pasar.
Dampak negatif dari usaha ini yaitu menimbulkan pencemaran udara di sekitar tempat produksi. Kulit kerbau basah mempunyai bau amis, apalagi waktu proses perajangan dan penjemuran pertama. Bau amis yang muncul bisa tercium sampai kemana-mana. Hal itu tidak menjadi masalah karena usaha ini sudah berlangsung cukup lama sehingga warga masyarakat juga sudah terbiasa dengan bau amis ini, selain itu warga desa juga banyak yang bekerja di sektor ini dan mereka mendapatkan pendapatan dari sektor ini. Selama ini belum ada keluhan masyarakat tentang adanya bau amis ini.
7. Penanganan Limbah
Setiap usaha pasti menghasilkan limbah, tak terkecuali dengan usaha ini. Usaha pada industri kecil kerupuk rambak berkualitas sayur dari kulit kerbau di Kabupaten Boyolali ini menghasilkan limbah padat, yaitu berupa bulu kulit kerbau. Bulu-bulu tersebut dikeringkan dulu 1-2 hari kemudian bisa laku dijual. Bulu ini biasa dijual Rp 1.000,00 – 1.100,00 per kg. Dalam satu bulan pengusaha bisa mengumpulkan bulu kulit kerbau ini ± 20–50 kg. Jumlah ini hanya menjadi 1-3 karung bagor saja karena setiap 1 karung bagor memuat 15 kg bulu kering. Bulu ini bisa digunakan untuk tambahan pakan lele atau diproduksi kembali menjadi makanan camilan bagi orang yang bisa mengolahnya kembali. Kebanyakan orang yang membeli bulu ini berasal dari daerah Klaten.
Ada seorang pengusaha kerupuk rambak berkualitas sayur dari kulit kerbau yang juga berprofesi sebagai petani menggunakan bulu kulit kerbau untuk meningkatkan produktivitas tanaman padinya, karena bisa mencegah serangan binatang-binatang yang bisa merusak tanaman padi misalnya tikus dan kambing. Caranya adalah mula-mula bulu kulit kerbau
dijemur sampai kering ± 2 hari, kemudian bulu tersebut disebar pada lahan sawah tanaman padi. Jika luas sawah ± 2000 m2 membutuhkan bulu ±10 karung bagor @ 15 kg, tapi syarat penyebaran bulu ke sawah dilakukan pada musim hujan dan tanaman padi sudah berumur 1 bulan. Penyebaran bulu pada musim kemarau atau umur tanaman padi kurang dari 1 bulan maka mengakibatkan tanaman padi bisa kepanasan. Sawah yang sudah disebari bulu maka selang 2 hari akan menimbulkan bau yang sangat menyengat dilahan dan sekitarnya, sehingga tidak ada binatang yang berani mendekat untuk merusak tanaman padi khususnya binatang tikus. Bau ini baru akan menghilang setelah 6-7 hari kemudian, setelah baunya menghilang maka lahan sawah bisa disebar bulu lagi tapi cukup pada pinggir-pinggir sawah saja dengan jumlah yang sedikit juga, hal tersebut dilakukan seterusnya sampai panen tiba. Dengan demikian tanaman padi akan terhindar dari serangan binatang-binatang yang bisa merusak tanaman padi, sehingga produktivitas tanaman padi bisa ditingkatkan. 8. Pemasaran
Kerupuk rambak berkualitas sayur dari kulit kerbau yang diproduksi di Kabupaten Boyolali ini ada yang dipasarkan didalam kota yaitu di Kabupaten Boyolali, namun ada juga yang dipasarkan diluar kota. Daerah pemasaran di dalam kota meliputi pasar-pasar yang ada di Kabupaten Boyolali, yaitu Pasar Ampel, Pasar Sunggingan, Pasar Boyolali Kota, Pasar Pengging, Pasar Simo, Pasar Klego, Pasar Karanggede dan Pasar Ngemplak. Sedangkan daerah pemasaran diluar kota meliputi, Pasar Legi, Pasar Kartasura, Pasar Gawok, daerah Klaten dan daerah Salatiga.