PENGAWAS H. jamaluddin
H. Sere Hasan Catuo
V. HASIL DAN PEMBAHASAN
5.1 Identitas Responden
Responden pada penelitian ini merupakan petani yang menjadi nasabah koperasi gapoktan di Desa Benteng Paremba Kecamatan Lembang Kabupaten Pinrang. Karakteristik responden dapat dilihat dari segi jenis kelamin, umur, pendidikan, pengalaman berusahatani, tanggungan keluarga dan luas lahan. Adapun kerekteristik responden sebagai berikut :
5.1.1 Identitas Responden Berdasarkan Jenis Kelamin
Gambaran mengenai jenis kelamin responden dapat dilihat pada tabel 2.
Tabel 2. Identitas Responden Berdasarkan Jenis Kelamin di Desa Benteng Paremba Kecamatan Lembang Kabupaten Pinrang, 2015
No. Jenis Kelamin Jumlah Persentase (%)
1. Laki-laki 25 83,33
2. Perempuan 5 16,67
Total 30 100
Sumber : Data Primer Setelah Diolah, 2015
Pada Tabel 2 menunjukkan bahwa jumlah petani responden yang berjenis
kelamin laki-laki lebih dominan dibanding perempuan yakni sebanyak 25
responden yang berjenis kelamin laki-laki (83,33 %) dan 5 responden yang
berjenis kelamin perempuan (16,67 %). Hal ini menunjukkan bahwa lebih banyak
41
5.1.3 Umur Responden
Petani responden dalam mengelola usahataninya memiliki tingkat umur yang berbeda-beda. Berdasarkan hasil pengumpulan data yang diperoleh menunjukkan umur responden bervariasi, mulai dari umur 25 - 70 tahun, komposisi responden disajikan pada Tabel 3.
Tabel 3. Identitas Responden Berdasarkan Tingkat Umur di Desa Benteng Paremba Kecamatan Lembang Kabupaten Pinrang, 2015
Umur (Tahun) Jumlah (Orang) Persentase (%) 25 – 37 38 – 50 51 – 64 7 12 11 23,33 40,00 36,67 Total 30 100
Sumber : Data Primer Setelah diolah, 2015
Pada Tabel 3 menunjukkan bahwa jumlah petani responden yang berada pada kelompok umur 25 – 37 tahun jumlah petani responden sebanyak 7 orang dengan persentase 23,33 %, kelompok umur 38 – 50 tahun sebanyak 12 petani responden dengan persentase 40 %, dan kelompok umur 51 – 64 tahun berjumlah 11 petani responden dengan persentase 36,67 %. Responden didominasi oleh kelompok umur 38 – 50 tahun yaitu terdiri 12 orang (40 %) dari 30 responden dengan umur paling muda adalah 25 tahun dan umur yang tertua adalah 63 tahun . Melihat komposisi umur tersebut di atas menunjukkan bahwa responden didominasi oleh petani yang masih tergolong dalam kategori umur produktif sehingga dapat dikatakan bahwa petani responden masih potensial untuk mengelola usahataninya. Hal ini sesuai dengan UU No. 13 tahun 2003 Bab I pasal 1 ayat 2 disebutkan bahwa tenaga kerja adalah setiap orang yang mampu
42
melakukan pekerjaan guna menghasilkan barang dan atau jasa baik untuk memenuhi kebutuhan sendiri maupun untuk masyarakat. Secara garis besar penduduk suatu negara dibedakan menjadi dua kelompok, yaitu tenaga kerja dan bukan tenaga kerja. Penduduk tergolong tenaga kerja jika penduduk tersebut telah memasuki usia kerja. Batas usia kerja yang berlaku di Indonesia adalah berumur 15 tahun – 64 tahun (Anonim, 2014).
5.1.4 Tingkat Pendidikan Responden
Latar belakang pendidikan seseorang akan mempengaruhi dalam kehidupannya di masyarakat. Di samping itu latar belakang pendidikan akan menjadi dasar berpikir dan mengungkapkan pendapat dalam mengambil keputusan termasuk di dalamnya menjadi nasabah. Pada Tabel 3 dapat dilihat identitas responden berdasarkan pendidikan.
Tabel 4. Identitas Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan di Desa Benteng Paremba Kecamatan Lembang Kabupaten Pinrang, 2015
No. Tingkat Pendidikan Jumlah (Org) Persentase (%) 1. Tidak Tamat SD 6 20,00 2. SD 14 46,67 3. SMP 6 20,00 4. SMA 3 10,00 5. PERGURUAN TINGGI 1 3,33 Jumlah 30 100
Sumber : Data Primer Setelah diolah, 2015
Dari Tabel 4 menunjukkan bahwa persentase tertinggi pada tingkat pendidikan adalah responden tingkat pendidikan Sekolah Dasar yang jumlahnya 14 orang dengan persentase sebesar 46,67 % dan yang kedua adalah tingkat pendidikan yang Tidak Tamat SD dan SMP masing-masing sebanyak 6 orang
43
dengan persentase 20 %, Tingkat Sekolah Menengah Atas yang jumlahnya 6 orang dengan persentase 20 %. Selanjutnya, tingkat pendidikan Sekolah Menengah Atas sebanyak 3 orang dengan persentase 10 %. Kemudian persentase terendah berada pada tingkat pendidikan Perguruan Tinggi yaitu 3,33 % dengan jumlah 1 orang.
Hal di atas menunjukkan bahwa tingkat pendidikan formal petani responden tergolong rendah karena sebagian besar petani hanya mampu mengeyam pendidikan selama 6 tahun. Rendahnya tingkat petani dan keterbatasan teknologi modern merupakan dua faktor penyebab utama yang menyebabkan kemiskinan di sektor pertanian di Indonesia. Keterbatasan dua faktor produksi tersebut yang sifatnya komplementer satu sama lain mengakibatkan rendahnya tingkat produktivitas yang pada akhirnya membuat rendahnya tingkat pendapatan riil petani sesuai mekanisme pasar yang sempurna. (Tambunan, 2003).
5.1.5 Pengalaman Berusahatani Responden
Lama berusahatani petani responden mempengaruhi perilakunya dalam mengelola usahataninya. Bagi petani yang memiliki pengalaman berusahatani lebih lama atau banyak, cenderung memiliki banyak pengetahuan berusahatani di banding yang tidak, sehingga mereka lebih berhati-hati untuk mengambil keputusan. Komposisi petani responden yang didasarkan pada pengalaman dalam berusahatani, dapat dilihat pada Tabel 5.
44
Tabel 5. Identitas Petani Responden Berdasarkan Pengalaman Berusahatani di Desa Benteng Paremba Kecamatan Lembang Kabupaten Pinrang, 2015 Pengalaman Berusahatani
(tahun)
Jumlah (orang) Persentase (%) 1-13 14-27 28-40 9 10 11 30,00 33,33 36,67 Total 30 100,00
Sumber: Data Primer Setelah Diolah, 2015
Berdasarkan dari hasil pengumpulan data yang diperoleh data pada tabel 5 menunjukkan bahwa petani responden memiliki pengalaman dalam berusahatani yang cukup lama. Sebagian besar petani responden di Desa Benteng Paremba Kecamatan Lembang Kabupaten Pinrang, memiliki pengalaman dalam melakukan usahatani selama 28-40 tahun berjumlah 11 orang dengan persentase 36,67 %, pengalaman usahatani 14-27 tahun berjumlah 10 orang dengan persentase 33,33 % dan pengalaman usahatani 1-13 tahun berjumlah 9 orang dengan persentase 36,67 %.
Semakin banyak pengalaman usahatani yang dimiliki seorang petani, maka akan semakin efektif pengelolaan usahataninya, termasuk semakin selektif dalam memilih lembaga keuangan untuk memperoleh kredit yang paling menguntungkan bagi usahataninya.
5.1.6 Jumlah Tanggungan Keluarga Responden
Jumlah tanggungan keluarga mempengaruhi pendapatan petani. Semakin besar jumlah tanggungannya, semakin besar pula pengaruhnya terhadap pendapatan yang di terima petani tersebut. Semakin besar jumlah tanggungan keluarganya, maka mereka semakin bersemangat dalam mengelola usahataninya
45
karena adanya dorongan untuk rasa tanggung jawab terhadap keluarga, untuk mengetahui penyebaran jumlah tanggungan keluarga dari petani responden dapat dilihat pada Tabel 6.
Tabel 6. Identitas Petani Responden Berdasarkan Jumlah Tanggungan Keluarga di Desa Benteng Paremba Kecamatan Lembang Kabupaten Pinrang, 2015
Sumber: Data Primer Setelah Diolah, 2015
Dari Tabel 6 dapat dilihat bahwa jumlah tanggungan keluarga yang mendominasi yaitu 4 orang. Terdapat 9 kepala keluarga yang memiliki tanggungan keluarga 4 orang dengan persentase sebesar 30 %, kemudian terdapat 8 kepala keluarga yang memiliki jumlah tanggungan keluarga 2 orang dengan persentase sebesar 26,67 %, terdapat masing-masing 6 kepala keluarga yang memiliki jumlah tanggungan keluarga 3 dan 5 orang dengan persentase 20 %. Serta 1 kepala keluarga yang memiliki tanggungan keluarga sebanyak 6 orang dengan persentase 3,33 %.
Banyaknya jumlah tanggungan keluarga mengakibatkan banyaknya pengeluaran terhadap rumah tangganya. Keadaan demikian sangat beralasan, karena tuntutan kebutuhan uang tunai rumah tangga yang besar, sehingga petani harus berhati-hati dalam bertindak. Kegagalan petani dalam berusaha tani akan sangat berpengaruh terhadap pemenuhan kebutuhan keluarga. Jumlah anggota
Jumlah Tanggungan Keluarga (orang) Jumlah (KK) Persentase (%) 2 3 4 5 6 8 6 9 6 1 26,67 20,00 30,00 20,00 3,33 Total 30 100
46
keluarga yang besar seharusnya memberikan dorongan yang kuat untuk berusaha tani secara intensif dengan menerapkan teknologi baru sehingga akan mendapatkan pendapatan (Soekartawi, 2002).
5.1.7 Luas Lahan Responden
Berdasarkan dari hasil pengumpulan yang diperoleh, menunjukkan bahwa petani responden memiliki luas lahan padi sawah yang bervariasi yaitu mulai dari 0,2 sampai 2 ha. Komposisi petani responden yang didasarkan pada jumlah luas lahan dapat disajikan pada Tabel 7.
Tabel 7. Luas Lahan Usahatani dari Petani Responden di Desa Benteng Paremba Kecamatan Lembang Kabupaten Pinrang, 2015
Luas Lahan (ha) Jumlah (Orang) Persentase (%) 0,10 – 0,80 0,81 – 1,50 1,51 – 2,20 13 14 3 43,33 46,67 10,00 Total 30 100,00
Sumber : Data Primer Setelah Diolah, 2015
Tabel 7 menunjukkan bahwa luas lahan usahatani padi sawah yang dimiliki petani responden usahatani sebagian besar memiliki luas lahan 0,81 – 1,50 ha yaitu sebanyak 14 orang dengan persentase 46,67 %, luas lahan 0,10 – 0,80 ha yaitu 13 orang dengan persentase 43,33 %, dan luas lahan 1,51 – 2,20 ha sebanyak 3 orang dengan persentase 10 %.
Ketersediaan lahan garapan yang dimiliki petani yang jauh dibawa skala usaha ekonomi menjadi salah satu penyebab yang membuat rendahnya pendapatan petani di Indonesia. Baik didaerah perkotaan maupun daerah
47
pedesaan, jumlah petani miskin yang tidak memiliki lahan jauh lebih banyak dibandingkan dengan petani miskin yang memiliki lahan (Tambunan, 2003).