BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian
2. Identitas Subjek Penelitian
Identitas masing- masing subjek secara singkat dapat dilihat pada tabel 2
berikut:
No. Data Subjek 1 Subjek 2 Subjek 3
1. Nama LG VE MK
2. Usia 56 tahun 53 tahun 67 tahun
3. Lama menjadi
misionaris
26 tahun 21 tahun 30 tahun
4. Kewarganegaraan Amerika Jerman Jepang
5. Pendidikan
terakhir
Master of Art in religius studies & Master of Art in English Linguistic S3 Teologi di bidang misiologi Master of Theology
6. Pekerjaan Pengajar Pengajar Pengajar
3. Hasil Penelitian
Analisis hasil data wawancara yang secara verbatim telah dilakukan pengkodean untuk ketiga subjek dan dibuat dalam satu skema. Skema ini berguna untuk membantu dan mempermudah dalam melakukan pembahasan penelitian.
Analisis yang ada di dalam skema ini berdasarkan pernyataan dari masing- masing subjek yang berhubungan dengan gambaran kepribadian menurut teori Viktor Frankl.
Gambaran kepribadian ketiga subjek akan dilihat berdasarkan tiga landasan filosofisnya yaitu Kebebasan Berkeinginan, Keinginan Akan Makna, dan Makna Hidup.
a. Kebebasan Berkeinginan
1) Bebas dalam mengambil keputusan tanpa paksaan orang lain a) Keputusan menjadi misionaris
Ketiga subjek adalah individu yang memiliki kebebasan berkeinginan. Hal ini tampak dari sikap mereka yang dapat mengambil keputusan tanpa paksaan orang lain. LG (subjek 1), VE (subjek 2), MK (subjek 3) menjadi misionaris karena panggilan Tuhan, ada kerja Roh Kudus di situ, tidak ada orang lain yang mendorongnya untuk menjadi misionaris.
LG mengungkapkan:
”... Tidak ada orang yang mendorong saya untuk menjadi misionari. Tidak ada misionaris lain yang merekrut.. tidak ada! Jadi saya merasa ini datang dari dalam dan tentu saya yakin itu Roh kudus (tertawa kecil) ya” (K.W.S.1.13Jul07, 396-400)
VE mengungkapkan:
“... Itu biasanya panggilan dari Tuhan... (K.W.S.2.24Jul07,190-191) Mm.. dan ee.. tidak ada dalam pengertian orang lain mendorong saya untuk ee.. memang mereka kuatkan saya tetapi tidak untuk katakan kamu harus jadi misionaris, tidak...” (K.W.S.2.24Jul07, 196-199)
MK menyatakan:
“... Kesadaran pribadi. Tak ada pengaruh… (K.W.S.3.25Jul07, 340-348) …. Pada suatu hari saya membaca Yesaya anam puluh anam ayat sembilan belas ya melalui itu saya tahu bahwa Tuhan memanggil saya keluar negri
… saya tertarik dan dalam proses demikian Tuhan juga memanggil saya untuk menjadi mis ionaris ya… (K.W.S.3.29Aug07, 25-33)
b) Keputusan untuk menjalankan pelayanan dengan konsekuensi tidak menikah (single).
Hidup menjadi wanita single atau tidak menikah bukanlah keputusan
ketiga subjek dari awal menjadi misionaris. Mereka hanya lebih memilih untuk melayani, karena bagi mereka menikah atau tidak menikah bukanlah persoalan melainkan yang terpenting adalah menjalankan satu karya, satu pelayanan di tempat asing. Ketika LG memutuskan untuk menjalankan panggilan hidupnya menjadi misionaris, ia masih berharap untuk menikah jika bertemu dengan laki-laki yang sejalan dengan visinya. Sampai saat ini, LG masih tetap ”terbuka” untuk hal itu. ”Terbuka” maksudnya titdak tertutup untuk menikah, tetapi ia hanya terbuka terhadap laki- laki yang sevisi (melayani dalam menyebarkan Injil) dengannya. Sementara VE dan MK mempunyai pendapat yang sama bahwa mereka berpikir untuk menikah tetapi itu bukan keharusan, bukan tujuan utama dalam hidupnya sehingga VE pun tidak berambisi untuk menikah. MK pun merasa bahwa itu kehendak Tuhan baginya, sehingga ia damai dan menikmatinya.
LG mengungkapkan:
“… sebenarnya waktu saya memilih untuk tetap ee.. menjalankan panggilan hidup, saya tetap berharap akan menikah. Jadi bukan saya memilih untuk tidak menikah, saya cuma memilih untuk saya hidup saya untuk melayani.. kalo dalam perjalanan ini saya ketemu dengan orang yang sa.. satu jalan, ya.. saya juga masih ingin menginginkan hal itu ...”
(K.W.S.1.13Jul07, 623-630)
VE mengatakan:
“Tidak, ... saya tidak terlalu memikirkan itu ... saya kesannya seperti semua wanita, saya pikir ada kemungkinan saya menikah, tapi saya tidak mati-matian mo menikah, saya ee.. saya pikir ya.. kalo Tuhan mau, itu pasti Dia
akan jelaskan itu kepada saya. Tetapi itu tidak menjadi salah satu tujuan utama di dalam kehidupan saya. ... menikah itu bukan segala -galanya ya.. berarti orang yang menikah pun banyak tantangan dan juga tidak sering dipikirkan orang sehingga kalo saya menikah, semua kebutuhan saya tercukupi. Saya tidak punya perasaan seperti ini...” (K.W.S.2.24Jul07, 618-641)
MK menuturkan:
“... bukan karna saya memutuskan saya hidup single ya.. tapi lewat pengalaman-pengalaman semacam itu ya saya makin lama makin memahami kalo hidup single itu kehendak Tuhan. Itu juga saya nikmati ya.. Ada orang yang memutuskan ya.. saya tidak ya.. tapi saya ndak belum pernah, tapi lewat pengalaman-pengalaman saya juga melihat ya fakta bahwa nikah itu bukan sesuatu yang kita harus ya …” (K.W.S.3.25Jul07, 826-835)
2) Tanggung jawab menghadapi konsekuensi atas pilihannya
a) Tidak menyesali keputusannya meskipun menghadapi situasi yang berat
Kebebasan berkeinginan ketiga subjek juga terlihat dari adanya tanggung jawab menghadapi konsekuensi atas pilihannya walaupun itu berat. Hal ini seperti yang dialami oleh LG, karena memilih menjalankan panggilan hidupnya untuk menjadi seorang misionaris, ia pun harus mengambil keputusan untuk berpisah dan tidak menikah dengan tunangannya. VE pun juga harus mengambil keputusan yang berat karena harus meninggalkan ibunya yang sedang sakit dan orang tuanya tidak merestui kemauannya tersebut. MK juga mengalami hal yang sama dengan VE, bagi MK itu bukanlah sesuatu yang gampang untuk meninggalkan orang tua, negara, dan teman-teman.
Namun, dalam menghadapi situasi yang berat seperti itu, ketiga subjek tetap memilih menjalankan panggilan hidupnya sebagai misionaris dan tidak pernah menyesali keputusannya tersebut.
LG mengatakan:
“Saya tidak pernah menyesali menjadi seorang misionaris, selama saya jadi misionaris,… Tapi apa yang sudah saya kerjakan, keputusan untuk jadi misionaris tidak pernah saya sesali. Saya merasa sangat beruntung dengan apa yang selama ini saya alami...” (K.W.S.1.21Nov07, 3-14)
VE mengungkapkan:
“Menyesal mejadi misionaris? Saya sungguh-sungguh menikmati itu walaupun ada situasi-situasi yang sulit... pasti ada situasi yang sulit, tetapi menyesali tidak...” (K.W.S.2.30Aug07, 286-296)
MK mengatakan:
“...itu sesuatu yang… tidak mudah ya. Itu… ee… karena meninggalkan negara sendiri ya, keluarga sendiri ya… (K.W.S.3.25Jul07, 184-186)… Menyesal, tak ada!” (K.W.S.3.29Aug07, 495)
b. Keinginan Akan Makna
1) Keinginan dari dalam diri yang bisa diwujudkan dan dipuaskan oleh dirinya sendiri
a) Pekerjaan misionaris
Keinginan akan makna dapat dilihat dari nilai- nilai yang mendorong ketiga subjek untuk memperoleh makna dalam hidupnya melalui keinginan yang timbul dari dalam diri mereka yang bisa diwujudkan dan dipuaskan oleh diri mereka sendiri. Adapun dorongan tersebut adalah untuk melakukan pelayanan ke luar negeri (menjadi misionaris). Dorongan atau keinginan menjadi misionaris tersebut diyakini sebagai panggilan Tuhan, kehendak Tuhan bagi ketiga subjek yang harus dijalankan tanpa ada perasaan khusus, harus siap berkorban, dan dilakukan dengan sungguh-sungguh.
LG menuturkan:
“...dalam hati saya merasa ee.. ingin mengerjakan sesuatu yang.. ya.. apa yang berbeda atau sudah waktunya untuk saya bisa ee.. mengatakan sesuatu
yang lain nah.. itu di situ saya mulai bertanya what..what is next? What is God’s want? Dan di situ saya cuma mulai ya.. berpikir.. ... ... tentu ee.. pelayanan luar negeri itu juga salah satu yang saya pikirkan, dan semakin saya pikirkan dan saya doakan di situ itu mulai muncul untuk suatu kemungkinan.” (K.W.S.1.13Jul07, 370-386)
VE mengatakan:
“Sebagai panggilan Tuhan yang mm.. itu dijalankan aja.. tanpa perasaan khusus. (K.W.S.2.24Jul07, 103-104) ... setiap pekerjaan itu.. itu ee.. tugas dari Tuhan ... Dan kita tidak bisa katakan misalnya pelayanan sebagai misionaris itu lebih ato kurang ato seperti ini, karna emm.. Tuhan menempatkan kita dan kita terima itu, dan Tuhan tahu paling baik apa yang kita perlu yang kita emm.. harus kerjakan...” (K.W.S.2.24Jul07, 135-146)
MK mengungkapkan:
“...langkah demi satu langkah Tuhan memimpin ya kehidupan saya ee.. dan di dalam proses itu saya tahu bahwa Tuhan menghendaki supaya saya jadi misionaris untuk melayani di luar negri…(K.W.S.3.25Jul07, 18-21) … Memang ada keyakinan yang tak bisa disangkal ya..” (K.W.S.3.29Aug07, 495)
b) Tunjangan bukan hal utama
Bagi VE dan MK, Tuhan mencukupkan semua kebutuhannya meskipun tunjangan yang mereka terima tidak teratur, kadang banyak dan kadang dapat sedikit. Sikap yang tidak ambisius terhadap materi ini menunjukkan bahwa salah satu nilai yang mendorong VE & MK untuk memperoleh makna sebagai seorang misionaris bukanlah ditentukan banyaknya tunjangan yang diperoleh melainkan beriman kepada Tuhan. Seperti yang VE dan MK tuturkan ketika wawancara.
VE mengatakan:
“Saya tidak dapat tunjangan teratur, kami hanya dapat apa yang Tuhan berikan kepada kami lewat ee.. gereja ato lewat teman-teman... itu Tuhan yang akan nanti mencukupi dan ada waktu dimana saya dapat banyak dan ada waktu dimana saya dapat sedikit. ... dan juga sungguh mengalami bagaimana Tuhan mencukupi. .... kami hidup ee.. beriman dan ada sewaktu-waktu Tuhan kasih banyak, sewaktu-waktu Tuhan kasih sedikit.” (K.W.S.2.24Jul07, 253-272)
MK mengungkapkan:
“Ya sudah cukup ya…cukup ya, tidak ee… Cukup he..he (tertawa). Memang ada saat dimana pas-pasan ya…itu, tetapi ya… itu pun Tuhan selalu ya… memberikan ya, lewat orang lain juga ya, maka itu selalu cukup.” (K.W.S.3.25Jul07, 395-399)
Sedikit berbeda dengan kedua rekannya, LG merasa puas dengan tunjangan yang selama ini diperolehnya. Nilai yang dipegang oleh LG adalah hidup sederhana. Seperti yang diungkapkanya:
“Ee.. saya sebenarnya orang yang suka hidup sederhana dan saya sudah sebelum masuk ke pelayanan misioneri saya.. sudah siap untuk ya.. hidup sederhana....jadi bagi saya kadang-kadang hidup sederhana, saya juga menyenangkan. ... saya sangat puas dengan tunjangan.” (K.W.S.1.13Jul07, 509-544)
2) Mengarahkan diri sendiri menuju tujuan tertentu yang penting bagi dirinya
a) Relasi pribadi dengan Tuhan
Ketiga subjek menyadari bahwa hal utama yang penting dan memberi nilai khusus bagi kehidupannya adalah relasi atau hubungan pribadi dengan Tuhan. LG mengatakan bahwa agama bukanlah sekedar aturan hidup tetapi suatu relasi dengan Tuhan.
LG mengungkapkan:
“...Tapi bagi saya, ee.. saya bukan orang yang beragama tapi saya orang yang mengenal Kristus secara pribadi. Jadi, akhirnya satu ee.. bukan hanya peraturan hidup tapi suatu ee.. ya relationship with God ya.. Jadi bagi saya tu sangat sama sekali berbeda...(K.W.S.1.13Jul07, 93-97)
Bagi VE peranan Tuhan dan hubungan dengan Tuhan sangat penting. Ia menempatkan Tuhan pada posisi pertama dalam hidupnya. Hal ini seperti yang diungkapkannya:
“... Tuhan menjadi lebih penting lagi daripada kalo kita hidup di tengah-tengah keluarga, di tengah-tengah-tengah-tengah ee.. misalnya ee.. bangsa yang kita kenal
ato seperti ini ee.. peranan yang penting bagi saya itulah Tuhan, dan saya bergumul supaya itu sungguh-sungguh Tuhan yang menjadi nomor satu, bukan jabatan, bukan hal-hal seperti panggilan misionaris pun itu semua toh hanya ee.. hal kedua, yang paling penting itu toh Tuhan, hubungan kita dengan Tuhan...” (K.W.S.2.24Jul07, 459-468)
Agak berbeda dengan LG dan VE, MK tidak mengungkapkan secara langsung hubungan pribadi dengan Tuhan yang paling penting. Namun, MK menuturkan bahwa hidup MK sepenuhnya berada di bawah tangan Tuhan, percaya Tuhan selalu menyertai dan memberkati serta melakukan yang terbaik baginya. MK mengungkapkan:
“... Maka itu saya hidup ini di bawah tangan Tuhan sepenuhnya, bersandar
kepada… Tuhan ya selalu. Karna begitu ya… Tuhan melakukan sesuatu yang ajaib melalui saya, saya yakin ya... (K.W.S.3.25Jul07, 558-561) ...
b) Tujuan hidup
Keinginan ketiga subjek untuk memperoleh makna dalam hidup dapat dilihat bahwa dalam menjalani kehidupan ini mereka memiliki tujuan yaitu menjalankan kehendak Tuhan, menyenangkan, memuliakan, mengenal Tuhan, dan memiliki relasi yang dalam dengan Dia. Hal ini menunjukkan bahwa ketiga subjek mengarahkan diri mereka kepada Tuhan yang berarti bagi dirinya. VE dan MK memiliki tujuan menjadi misionaris sama dengan tujuan hidupnya. Namun, tujuan pelayanan VE adalah menantang orang Indonesia untuk misi.
VE mengungkapkan:
“...untuk ee.. menjalankan panggilan Tuhan dong..Tugas saya ya.. ee.. sebagai hamba Tuhan adalah melaksanakan kehendak Tuhan. Selain itu tidak ada tujuan lagi dong ... ... Tujuan selain panggilan Tuhan tidak ada. Tapi mungkin tujuan pelayanan saya itu beda ya.., karna selain ee.. melaksanakan kehendak Tuhan, tidak boleh ada tujuan lagi ya.. Saya adalah di awal untuk tantang orang Indonesia untuk ee.. misi...” (K.W.S.2.24Jul07, 433-454)
MK mengatakan:
“...hidup saya menyenangkan hati Tuhan ya… supaya melalui hidup saya memuliakan nama Tuhan karna… karna Tuhan kehendaki saya jadi misionaris makanya saya jadi... Ya maka itu… tadi itu… memang memuliakan nama Tuhan menyenangkan… karna Tuhan mati untuk saya ya. Saya pantas ya untuk hidup untuk Dia. Karna itu tujuan hidup saya ya... Saya juga merasa bahwa Tuhan sudah rencanakan, ya… apa yang saya kerjakan, itu memang betul-betul saya mau selesaikan itu ya. Itu hidup saya tujuan. Dengan demikian baru saya bisa memuliakan nama Tuhan.” (K.W.S.3.25Jul07, 614-615; 621-624)
LG selain tujuan di atas, dia juga memiliki tujuan agar orang yang tidak mengenal Kristus menjadi kenal, orang yang kris ten-kristenan menjadi pengikut Kristus dengan sepenuh hati, sungguh mengalami hubungan dengan Kristus dan memilih untuk mentaati Kristus. Hal ini seperti yang diungkapkan oleh LG:
”Tujuan saya pertama, untuk ee.. ya.. mentaati Tuhan, ya.. Tuhan juga memanggil kita untuk melayani. Yang ke dua, tujuannya lebih spesifik untuk saya ingin orang yang tidak mengenal Kristus akan mengenal Kristus. Terus yang ke tiga, saya ingin orang yang kristen-kristenan, itu benar-benar akan ee.. menjadi pengikut Kristus dengan sepenuh hati, bukan hanya main-main agama, tapi benar-benar ee.. mengalami hubungan dengan Kristus dan ee.. memilih untuk mentaati Kristus, mengikut Kristus dengan sepenuh hati. (K.W.S.1.13Jul07, 780-790) ...tujuan hidup itu untuk menyenangkan hati Tuhan, untuk mengenal Dia, untuk mempunyai relasi dengan Dia yang semakin dalam, sehingga hidupNya Dia itu juga semakin nyata dalam dalam kehidupan saya yak.. itu!” (K.W.S.1.13Jul07, 762-789)
c) Iman pada Tuhan
Nilai lain yang mendukung tujuan hidup ketiga subjek adalah adanya keyakinan dan iman setiap subjek kepada Tuhan. Setiap subjek memiliki pandangan sendiri tentang Tuhan, LG menganggap Tuhan sebagai pribadi yang Esa, sahabat, Bapak, Tuhan memberi masukan, kekuatan dan kemampuan ketika subjek bekerja. VE menganggap Tuhan sebagai kekasih, luar biasa, Abba, karena sangat luar biasanya Tuhan bagi subjek, VE tidak tahu harus menjelaskan Tuhan.
Yesus sebagai sebagai Juruselamat yang mati berkorban dan bangkit bagi MK. Hal itu membuat MK bersyukur dan mau melayani Tuhan sepanjang umurnya. Bagi LG, hidupnya adalah milik Kristus maka ia ingin hidupnya melayani Kristus. Sebelum menjadi misionaris, setelah menjadi misionaris, dan kalau nanti pensiun, pandangan hidup subjek tetap Tuhan Yesus, meskipun tugas-tugasnya berubah tetapi tetap memuliakan dan mengenal Kristus. Sementara bagi VE, imannya terhadap Yesus tidak akan berubah dimanapun berada, Yesus akan selalu ada di hatinya. VE meletakkan seluruh harga dirinya bergantung pada Yesus Kristus.
LG mengungkapkan:
““Bagi saya Tuhan itu Esa, Tuhan itu pribadi, Tuhan itu ee.. oknum yang dapat berkomunikasi...dengan setiap ... orang, ato ciptaannya.. Jadi Allah itu ee.. oknum yang yang sangat pribadi ya ... tapi Dia itu sahabat, Dia juga.. tapi.. ee.. Dia juga Tuhan ... Dia juga Bapak jadi saya bisa mengenal Dia, ... kita harus selalu bersandar pada Dia, ... Dia berjalan bersama kita, sambil kita mengerjakan tugas, Dia juga mo kasih in put, mo kasih tunjuk, mo kasih kekuatan, mo kasih kemampuan, jadi itu sesuatu yang kontinyu dan selalu ada... (K.W.S.1.13Jul07, 858-899)
VE mengungkapkan:
“...Bagi saya Tuhan itu kekasih saya, Tuhan adalah Abba saya yang memperhatikan saya tidak tau sesuatu yang saya lebih bisa banggakan daripada Tuhan yang lebih berharga yang lebih indah saya tidak tau bagaimana saya harus jelaskan Tuhan lagi. Bagi saya itu luar biasa bahwa Allah mengutus Tuhan Yesus untuk ee.. kita bisa percaya, Dia mau memperhatikan kita, dan begitu kasih kepada kita...” (K.W.S.2.24Jul07, 495-505)
MK mengungkapkan:
“Tuhan Yesus itu Juruselamat yang mati untuk saya, mati dan bangkit jadi Juruslamat saya maka itu saya Dia mengorbankan diri begitu karna saya juga patut ya melayani Dia. Maka itu dengan ucapan syukur mau melayani sepanjang umur Dia ya. (K.W.S.3.25Jul07, 767-772)…Tuhan adalah penulis story ya, story untuk kita. … Tuhan punya hikmat yang luar biasa merencanakan semua, penulis story kehidupan kita…” (K.W.S.3.29Aug07, 113-117)
c. Makna Hidup -Wujud Nilai Daya Cipta (Kreatif)
1) Usaha memberikan sesuatu yang berguna bagi orang lain a) Melayani orang lain
Wujud nilai daya cipta atau kreatif dari ketiga subjek adalah melayani orang lain seperti mengajar mahasiswa, menjadi penginjil, pelayanan di gereja-gereja, menjadi kepala administrator, konselor, dan pelaya nan kepemimpinan. Tugas-tugas yang dijalankan ketiga subjek ini memberikan sesuatu yang berguna bagi sesamanya, dimana mahasiswa yang dulunya sekuler bisa bertobat, mahasiswa bisa menang dari pergumulannya, mulai setia, hidup baik, dan beretika tinggi serta persekutuan orang Jepang yang mulai bertumbuh menjadi murid Tuhan yang sungguh-sungguh. Bentuk pelayanan lain yang MK berikan kepada sesamanya adalah mengajar sekolah minggu, kumpul kolekte dan menyambut tamu di gereja, serta mendoakan adiknya yang masih menganut Buddha agar dapat seperti dirinya merasakan kasih Tuhan.
LG mengungkapkan:
“…melayani mahasiswa kalau dari segi bantu mahasiswa dalam ee.. mengalami kehidupan rohani yang... yang riil, yang ee... berkembang trus, itu juga menyenangkan skali ya, dalam arti ya kalau ada satu orang yang dia bisa menang di atas pergumulannya, dia bisa mengijinkan Tuhan untuk ee... untuk benar-benar berdaulat dalam hidupnya, dia bisa ee.. mulai untuk setia, bisa hidup yang... yang baik dan... beretika tinggi wah itu... kalau kita bisa menolong untuk itu, itu sesuatu hal yang... yang sangat memuaskan ya....” (K.W.S.1.13Jul07, 259-272)
VE mengatakan:
“Saya mengajar, mm.. selain itu saya pelayanan di gereja, pembina dan kounseling. Dan sering mm.. bawa tim ke ee.. daerah yang krisis. (K.W.S.2.24Jul07, 22-24)
MK mengungkapkan:
“...melihat mahasiswa ya itu bertumbuh secara rohani atau secara ee.. intel juga, saya merasa senang itu di dalam persekutuan orang Japan juga ada yang diselamatkan bisa bertumbuh itu sangat sangat senang...” (K.W.S.3.25Jul07, 906-910)
2) Usaha memberikan sesuatu yang berguna bagi diri sendiri a) Keuntungan menjadi misionaris yang lajang
Keadaan ketiga subjek yang tidak menikah atau single bukanlah
penghalang untuk memberi usaha yang berguna bagi kehidupan setiap mereka. Dalam situasi seperti itu pun, ada keuntungan yang mereka peroleh dan itu merupakan salah satu hal yang memperlihatkan bahwa walaupun mereka adalah
misionaris yang single, mereka tetap bisa memberikan sesuatu yang berguna bagi
kehidupan mereka. Keuntungan menjadi single missionary adalah mengabdi
dengan sungguh-sungguh pada Yesus, melihat sisi positif bahwa mempunyai kesempatan, lebih fleksibel, luwes, bisa pelayanan lebih luas, konsentrasi penuh pada pelayanan dan tidak perlu memikirkan masalah- masalah yang dialami dalam sebuah keluarga. Hal ini seperti yang mereka ungkapkan.
LG mengungkapkan:
“...dimana saya punya kesempatan yang luar biasa... ... Jadi saya juga diberkati. Jadi saya mengorbankan sesuatu tapi saya juga dapat banyak berkat yang ee.. yang.. luar biasa ya.. untuk untuk dalam hidupku.... ... semakin lama saya sadar juga banyak hal yang saya alami yang juga indah, yang menjadi bagian saya karna karna jalan yang ditentukan Tuhan bagi saya....” (K.W.S.1.13Jul07, 664-665; 667-670; 679-688)
MK mengungkapkan:
“Memang saya bisa konsentrasi kan, karna seandainya saya punya rumah tangga ya… saya harus melayani mereka ya, itu tugas utama kan.. Masa meninggalkan mereka? Bantu suami ya, melayani suami dan anak-anak juga, apalagi anak-anak kecil ya saya… diberi tugas untuk membina ya, memberi makan dan sebagainya itu tugas… seorang ibu kan. Itu saya tidak perlu untuk itu ya. Selama ini saya bisa betul-betul bisa konsentrasi untuk
mengajar atau meng…khotbah dan sebagainya.” (K.W.S.3.25Jul07, 549-556)
Tidak jauh berbeda dengan kedua rekannya LG dan MK, VE juga menuturkan keuntunga nnya menjadi seorang misionaris, hanya saja VE juga
mengatakan sisi bahaya menjadi single missionary. Hal ini seperti yang dituturkan
oleh VE:
“... ...Saya lebih untung karna lebih fleksibel, lebih luwes lebih bisa ee.. bisa pelayanan kemana-mana tapi juga ada bahayanya ya.. coba liat yang menikah, mereka selalu dikoreksi ya.. oleh suaminya ato anaknya dan sebagainya nah saya tidak ada yang dari dulu sampai sekarang yang kenal saya tau kelemahan saya seperti itu ya... ...keuntungan saya, saya rasa saya bisa kuliah, saya bisa mengajar, saya bisa pelayanan luas, saya bisa kemarin untuk selama setengah dua minggu pergi ke RRC satu keluarga tidak mungkin dong.. itulah banyak untungnya.” (K.W.S.2.24Jul07, 920-927; 940-944)
b) Pengaruh menjadi misionaris dalam kehidupan sehari -hari