PRAKTEK KEHIDUPAN RAKYAT INDONESIA
5. Ideologi Pancasila dan Eksistensi Kehidupan Sosial Keagamaan Pancasila sebagai ideologi, karena ideologi itu sendir
merupakan rangkaian bangunan idea-idea yang tersusun rapih berdasarkan hasil kajian dan dibuktikan dalam realitas kehidupan. Dalam arti bahwa ideologi menyangkut keseluruhan prinsip atau norma yang berlaku dalam masyarakat dan meliputi berbagai aspek; sosial politik, ekonomi, budaya, pendidikan, hukum dan sebagainya, maka ideologi sebagai acuan untuk menentukan perilaku kehidupan sosial, ekonomi dan politik. Pancasila sebagai dasar negara Indonesia adalah demikian, maka dengan ini dapat dikatakan Ideologi Pancasila283. Pancasila hasil konsensus nasional untuk menjadi ideologi dan dasar negara Republik Indonesia. Sementara agama ( agama dalam pengertian agama samawi; agama yang bersumberkan wahyu Allah, tentu saja dengan tidak menafikan keberadaan agama bumi yang bersumberkan adat istiadat dan budaya ) berasal dari Tuhan ( Allah ) Yang Maha Esa untuk menjadi pedoman hidup bagi umat manusia, termasuk manusia yang hidup di negara Pancasila. Pancasila ( sebagai Ideologi dan Filsafat
283
Lihat, Soerjanto Poepowardojo, Filsafat Pancasila Sebuah Pendekatan Sosio-Budaya ( Jakarta: PT. Gramedia, 1989 ), h. 17
Kenegaraan ) dan agama bisa selaras, jika keduanya tidak bertentangan atau tidak dicari-cari pertentangannya, seperti ditegaskan Ibnu Rushd dalam karyanya; Faslul Maqal Fiyma Bayna al-Hikmah wa al-Shariah Minal Ittishal. Oleh karena itu, Singgih ( Mantan Jaksa Agung RI ) mengesahkan bahwa setiap individu warga Indonesia wajib berpedoman Pancasila, tetapi dalam kehidupan keagamaan tentunya wajib berpedoman Kitab Suci agama masing-masing284.
Oleh karena itu Indonesia bukan negara sekuler. Di negara sekuler agama terpisah dari urusan negara, negara dikondisikan tidak ikut campur dalam urusan agama. Di Indonesia, negara mempunyai peranan dalam pembangunan agama. Dengan demikian agama mempunyai kedudukan tersendiri, tetapi tidak berarti bahwa Indonesia negara teokrasi, karena Indonesia menganut sistem pemerintahan demokrasi, di mana kedaulatan berada di tangan rakyat dan direpresentasikan melalui wakil-wakilnya di Parlemen ( DPR / MPR ).
Kehidupan sosial keagamaan di Indonesia sudah berkembang sejak masuknya agama Hindu, Budha, kemudian diikuti agama Islam, Kristen Katholik, Protestan. Kelima-lima agama tersebut berkembang subur dan hidup berdampingan antara satu dengan yang lainnya dalam kondisi rukun dan damai, kecuali jika ada pihak-pihak yang mempolitisir agama untuk kepentingan sesaat, bisa terjadi konflik antara sesama pemeluk agama yang berbeda, seperti yang pernah terjadi di awal-awal era Reformasi di Poso, Sampit dan tempat-tempat lain. Menurut Singgih di dalam makalahya “ Pembinaan Aliran-Aliran Keagamaan Di Indonesia“ menegaskan bahwa kerukunan hidup antar umat beragama di Indonesis dapat tercipta dengan baik, karena adanya budaya toleransi dalam masyarakat, antaranya sifat gotong royong dan mufakat yang kemudian dirumuskan dalam filsafat negara, yaitu Pancasila pada sila pertama; Ketuhanan Yang Maha Esa285.
Kerukunan hidup antar umat beragama merupakan fenomena yang berkelanjutan sejalan dengan pertumbuhan masyarakat itu sendiri286. Hidup rukun berarti adanya kondisi yang harmoni dan damai
284
Lihat Singgih, Pembinaan Aliran Keagamaan Di Indonesia ( Makalah dipresentasikan pada 18 / 12 / 1996 dalam Seminar Internasional di Hotel Kota Makasar, Sulawesi ) h. 7
285
Ibid. h. 4
286
Majlis Ulama Indonesia, Kerukunan Hidup antar Umat Beragama, ( Solo: CV Ramadhani, 1987 ), h. 7
antara sesama anggota masyarakat yang berbeda etnik dan agama. Ini artinya bahwa hidup rukun menghendaki adanya;
a. Saling hormat menghormati,
b. Menghargai sesama pemeluk agama yang berbeda,
c. Adanya saling pengertian antara sesama pemeluk agama yang berbeda.
Dengan demikian, hidup rukun terkait dengan sikap dan perilaku dari setiap individu pemeluk agama, dan ini tidak dapat terpisah dari etika atau moral yang erat hubungannya dengan agama yang dianut, karena agama membentuk sikap setiap penganutnya. Ini disebabkan rakyat Indonesia adalah rakyat yang religius. Tidak dapat dinafikan bahwa keberadaan agama-agama dalam kehidupan umat yang multi etnik merupakan sesuatu yang sensitif.
Semua agama yang hidup dan berkembang di Indonesia secara sosiologis mengajarkan ajaran-ajaran yang baik, membimbing umatnya masing-masing agar berbudi luhur, berbakti ( beribadah kepada Tuhannya ) berdasarkan pemahaman agama masing-masing, serta mengajarkan kepada umatnya agar senantiasa menyayangi sesama umat manusia tanpa membedakan antara satu dari lainnya. Walaupun demikian, kehidupan sosial keagamaan harus mendapatkan perhatian dari waktu ke waktu, karena hubungan setiap individu pemeluk agama dengan agama yang dipeluknya merupakan hubungan atas dasar keyakinan dan emosional, lebih-lebih jika fenomena keagamaan didasarkan pada fanatisme agama. Kondisi ini sangat sensitive bila dihubungkan dengan persoalan interaksi antar umat beragama yang berbeda, bisa dimungkinkan memunculkan konflik dan perpecahan antara sesama pemeluk agama yang berbeda jika salah satu pihak dari penganut agama lain menganggap pihak tertentu melakuklan penghinaan atau pelecehan terhadap agama yang dipeluknya. Oleh karena itu ajaran agama-agama, terutama agama Islam yang dilaksanakan dengan benar ( dalam konteks negara Indonesia yang berdasarkan Pancasila ) akan berperan sebagai daya perekat bagi bangsa Indonesia yang plural, sama-sama membangun bangsa dan negara yang lebih baik ke depan. Tetapi jika ajaran agama dilaksanakan tidak benar, lebih-lebih jika didasarkan pada sikap saling mencurigai, akan memunculkan gesekan-gesekan yang bisa mengancam keutuhan bangsa287.
287
Fenomena kehidupan sosial keagamaan masyarakat Indonesia, baik dahulu ataupun sekarang akan menunjukkan adanya realitas bahwa agama memiliki pengaruh yang sangat kuat terhadap pembentukan karakter dan kehidupan umat manusia. Agama menjadi motivasi atas lahirnya berbagai pergerakan menentang penjajah, tidak sedikit tokoh-tokoh nasional seperti Dipenegoro, Imam Bonjol, Ki Ageng Tirtayasa dan sebagainya, umur mereka dihabiskan demi mempertahankan kedaulatan rakyat dan bangsa. Demikian juga dengan berdirinya Organisasi-organisasi Islam, seperti Syarekat Islam ( SI ), Syarekat Dagang Islam ( SDI ), Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama ( NU ), Majlis Islam A`la Indonesia ( MIAI ), Majlis Syuro Muslimin Indonesia ( Masyumi ), dan sebagainya. Para tokoh tersebut dan organisasi-organisasi Islam ini memiliki pengaruh besar dalam peta perpolitikan di Indonesia, semua aktifitasnya didorong oleh ajaran agama, baik dalam rangka membebaskan diri dari keterpurukan, kezaliman, eksploitasi, ketertindasan dan sebagainya.
Sepanjang kehidupan umat manusia, baik dahulu ataupun sekarang, agama dipandang sebagai sesuatu yang sensitif. Hal ini dikarenakan agama terkait dengan eksistensi manusia, bahkan agama dipandang sebagai bagian terdalam dalam diri manusia. Oleh karenanya di Indonesia agama merupakan bagian dari masalah-masalah SARA ( Suku, Agama dan Ras ) dan hubungan antar golongan288. Dengan demikian, masalah SARA merupakan masalah sensitif dan tidak bisa dianggap ringan, maka umat beragama semuanya dituntut untuk mencari solusi dalam setiap masalah yang muncul. Jika gagal menangani masalah, tentu umat beragama akan dihadapkan pada ledakan-ledakan sosial yang bisa mengganggu keharmonian kehidupan, dan bahkan akan mengganggu kestabilan politik Nasional. Masalah ini bisa jadi dieksploitasi oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab untuk kepentingan-kepentingan pribadi atau kelompok. Ledakan dan goncangan yang diakibatkan masalah-masalah SARA seringkali terjadi dalam situasi suhu politik memanas. Kondisi akan bertambah parah jika gagal menangani masalah-masalah tersebut. Kondisi seperti ini dapat dirasakan ketika Indonesia dilanda krisis ekonomi sekitar tahun 1997–an dan berimplikasi terjadinya krisis kepimpinan, sosial dan agama, mengakibatkan terjadinya demonstrasi besar-besaran di
288
Lihat Martin Sardy ( Pnyt. ), Agama Multi Dimensional ( Bandung: Alumni, 1987 ), h. 23 - 24
mana-mana, tidak luput tejadinya konflik antar umat beragama di beberapa tempat, seperti di Ambon Maluku, Lombok, Sampit di Kalimantan dan sebagainya. Berdasarkan pandangan beberapa kalangan bahwa masalah agama sebenarnya dieksploitasi untuk memperparah keadaan oleh pihak-pihak yang merasa kecewa terhadap kebijakan politik saat itu dengan motif-motif tertentu.
Beragama merupakan fitrah bagi setiap manusia hidup di atas bumi ini, kecuali di beberapa belahan bumi yang memaksakan penduduknya untuk tidak beragama atau melepaskan agama dari kehidupan publik, maka menjadi keharusan untuk mewujudkan kondisi yang rukun, tenteram dan damai, agar dapat membangun masa depannya lebih baik, karena itu menjadi kewajiban bagi semua pihak, baik pemerintah atau rakyat untuk mengumandangkan seruan-seruan hidup rukun di kalangan umat beragama. Tanpa kerukunan hidup, stabilitas politik akan terganggu, maka kerukunan hidup menjadi prasyarat bagi keberhasilan pencapaian pembangunan, karena bagaimana mungkin pembangnan dapat berjalan dengan efektif kalau negara selalu diganggu oleh ledakan-ledakan konflik antar sesama umat beragama.
Berdasarkan paparan di atas, Pemerintah Indonesia sejak era Orde Baru sebenarnya sudah melakukan berbagai langkah setrategis dalam mewujudkan kondisi hidup rukun, harmoni dan tenteram. Berbagai pendekatan dan upaya telah dilakukan; dialog, musyawarah, seminar dan sebagainya289. Hal ini harus dipastikan dari waktu ke waktu agar efektifitas upaya-upaya tersebut benar-benar melahirkan hasil maksimal. Dari sini muncul pemikiran tentang pembinaan kerukunan hidup antar umat beragama, yaitu; upaya yang dilaksanakan secara sadar, terencana, terarah, teratur dan bertanggung jawab untuk meningkatkan kesatuan dan solidaritas antar umat beragama290. Oleh karena itu pembinanaan kerukunan hidup antar umat beragama harus selalu dievaluasi dari waktu ke waktu.
Kerukunan secara umum dapat diartikan sebagai kondisi hidup dan kehidupan yang damai, tertib, tentram, sejahtera, hormat menghormati, harga menghargai, tenggang rasa, gotong royong sesuai
289
Martin Sardy ( penyt. ), Agama Multidimensional. h. 24
290
dengan tuntutan ajaran agama dan kepribadian Pancasila291. Hidup beragama adalah pengamalan ajaran agama sebagai bukti ketaatan kepada Allah ( Tuhan ) dalam kehidupan umat manusia yang menjadikannya saleh dalam perilaku dan perangai. Oleh karena itukesalehan manusia adalah sebagai implikasi dari pengamalan ajaran agama baik sebagai unsur individu ataupun sebagai unsur sosial. Pengamalan tersebut secara riil tercermin baik secara pribadi di dalam golongan maupun antar golongan di tengah-tengah masyarakat292. Dengan demikian kerukunan hidup umat beragama dapat diartikan sebagai kondisi hidup dan kehidupan yang harmonis.
Kerukunan hidup akan mudah diwujudkan apabila ada persamaan dan kesamaan latar belakang sejarah, penderitaan, cita-cita dan keserasian dalam banyak hal293, maka agar kerukunan hidup umat beragama dapat direalisasikan dengan baik dan efektif sesuai dengan semangat kebersamaan, perlu diperhatikan beberapa langkah strategis sebagaimana dijelaskan di bawah ini.
6. Kerukunan Umat Beragama Berdampak Positif Terhadap