• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengertian Pancasila Sebagai Dasar Negara

172

Muh. Yamin, Naskah Persiapan Undang-Undang Dasar 1945, Jld, 1, h. 402 – 410. Lihat juga Boland B.J. The Stuggle of Islam in Modern indonesia, h. 37

Pancasila sebagai konsep modern dalam kehidupan berbangsa dan bernegara173, memiliki akar yang jauh ke belakang dalam sejarah bangsa Indonesia. Pancasila merupakan konsep baru sebagai sistem ideologi untuk men-design kehidupan dalam tatanan negara Indonesia yang modern. Pancasila pada awalnya dipakai Soekarno dalam pidatonya 1 Juni 1945 sebagai nama dari lima sila174. Jika ditinjau dari aspek proses pertumbuhannya akan ditemukan sekurang-kurangnya tiga pengertian.

Pertama; Penggunaan Pancasila dalam realitas sejarah. Dalam konteks ini dapat dijelaskan bahwa Pancasila bukanlah istilah baru bagi rakyat Indonesia. Sejak Budhisme memasuki wilayah Nusantara ( Indonesia ) dari India dan Burma ( Miyanmar ) telah dikenal perkataan Pancasila yang artinya lima prinsip moral ( five moral principles ) atau lima aturan tingkah laku. Di dalam literatur Budhisme perkataan Pancasila biasanya disingkat menjadi Pansil. Dalam ajaran Budha menurut bahasa aslinya terdapat lima prinsip ( Code of morality ), yaitu;

1. Panatipata veramani sikkhapadan samadiyani, artinya; kami berjanji untuk menghindari pembunuhan,

2. Adinnaandana veramani sikkhapadan samadiyani artinya; kami berjanji untuk menghindari pencurian,

3. Kamesu micehara veramani sikkhapadan samadiyani, artinya; kami menghindari untuk menghindari perzinaan,

4. Mussavada veramani sikkhapadan samadiyani, artinya; kami berjanji untuk menghindari perbuatan dusta,

5. Sura meraya majja pamadatthana veramani sikkhapadan samadiyani, artimya; kami berjanji untuk menghindari makanan dan minuman yang memabukkan dan menjadikan ketagihan175. Dalam konteks ini Prawoto menegaskan; Inilah Pancasila asli yang lahir di India sebagai ciptaan Gautama Budha; Raja Agoka yang melihat Pancasila ini sebagai dasar moral ( code of morality ) bagi rakyatnya. Oleh karenanya Pancasila ini diciptakan menjadi peraturan tetap untuk mencapai tingkat kemajuan rohani rakyat Kemaharajaan

173

Lihat, Sayidiman Suryohadiprojo, Pancasila, Islam dan ABRI ( Jakarta: PT. Penebar Swadaya, T. Tahun ), h. 15

174

Lihat, Muh. Yamin, Pembahasan Undang-Undang Dasar Republik Indonesia, h. 437

175

Prawoto Mangkusasmito, Pertumbuhan Historis Rumus Dasar Negara dan Sebuah Proyeksi, hlm. 13 – 14, Lihat juga Noor Ms. Bakry, Pancasila Yuridis Kenegaraan, h. 9

Agoka176. Perkembangan selanjutya, Pancasila memasuki khazanah kesusastraan Jawa kuno pada zaman Kemaharajaan Majapahit pada masa Pemerintahan Raja Hayam Wuruk dan Perdana Mentrinya; Gajahmada di sekitar tahun 1364 M. Istilah Pancasila ditemukan dalam buku keropak Negarakertagama yang berupa syair pujian yang ditulis oleh seorang pujangga Istana bernama Empu Prapanca. Syair pujian tersebut berbunyi; Yatnanggegwani Pancasyila kertasangkarabhisekakrama, artinya; ( Raja ) menjalankan dengan setia kelima pantangan atau larangan itu, begitu pula upacara-upacara dan penobatan177. Selain terdapat dalam buku Negarakertagama pada zaman Majapahit, istilah Pancasila juga ditemukan dalam buku Sutasoma karya Empu Tantular178. Di dalam buku Sutasoma ini, Pancasila disamping mempunyai arti batu sendi lima, juga mempunyai arti pelaksanaan kesucian lima, yaitu;

1. Tidak boleh melakukan kekerasan, 2. Tidak boleh mencuri,

3. Tidak boleh berjiwa dengki, 4. Tidak boleh berbohong,

5. Tidak boleh mabuk minuman keras179.

Demikian perkembangan istilah Pancasila yang berasal dari bahasa Sansekerta, kemudian memasuki khazanah kesusastraan Jawa kuno pada zaman Kerajaan Majapahit. Setelah runtuhnya Pemerintahan Majapahit dan agama Islam telah tersebar luas ke seluruh pelosok bumi Indonesia waktu itu, pengaruh ajaran Budhisme turut pula ditela waktu180. Pada perkembangan selanjutnya lahirlah dalam masyarakat Jawa istilah yang dikenal Ma Lima; kepanjangan dari lima larangan. Dalam bahasa Jawa disebut Mo Limo atau Lima M, yaitu;

1. Mateni, artinya; membunuh,

176

Prawoto Mangkusasmito, Pertumbuhan Historis Rumus Dasar Negara dan Sebuah Proyeksi, h. 14

177

Noor Ms. Bakry, Pancasila Yuridis Kenegaraan, hlm. 437. Lihat juga Muh. Yamin, Pembahasan Undang-Undang Dasar Republik Indonesia, h. 10

178

Muh. Yamin, Pembahasan Undang-Undang Dasar Republik Indonesia, h. 437

179

Noor Ms. Bakry, Pancasila Yuridis Kenegaraan, h. 110

180

Prawoto Mangkusasmito, Pertumbuhan Historis Rumus Dasar Negara dan Sebuah Proyeksi, hlm. 14, Lihat Juga Noor Ms. Bakry, Pancasila Yuridis Kenegaraan, h. 10

2. Maling, artinya; mencuri, 3. Madon, artinya; berzina,

4. Madat, artinya; menghisap candu, 5. Main, artinya; berjudi

Dalam konteks ini, Noor Ms. Bakry menyatakan bahwa lima larangan moral ini yang disingkat M – Lima dalam masyarakat Jawa dikenal dan juga masih menjadi pedoman moral, tetapi namanya sudah bukan lagi Pancasila yang berasal dari faham Budha itu, tetapi M – Lima181.

Kedua; Pengertian Pancasila dari segi etimologi. Pancasila yang pada awalnya berasal dari bahasa Sansekerta ( bahasa kasta Brahmana ), menurut Muh. Yamin, adalah merupakan paduan dari dua kata, yaitu; Panca dan Syila. Panca, artinya lima dan Syila ( dengan huruf I pendek ), artinya batu sendi, alas atau dasar. Dengan demikian Pancasila ( Pancasyila ) berdasarkan pengertian ini bermakna batu sendi yang lima ( consisting of five rocks ). Sementara Syila ( dengan huruf I panjang ), artinya peraturan tingkah laku yang penting, baik dan senonoh.182 Dengan demikian, Pancasila ( Pancasyila ) menurut pengertian ini bermakna lima peraturan perilaku yang penting. Jadi, Pancasila dari segi etimologi ialah lima sendi, dasar atau lima peraturan perilaku ( tingkah laku ) yang penting.

Ketiga; Pengertian Pancasila dari segi terminologi. Secara terminologi atau berdasarkan istilah yang dipakai di Indonesia sejak sidang pertama Badan Penyelidik pada 1 Juni 1945, istilah Pancasila dipergunakan oleh Soekarno untuk nama lima dasar atau prinsip Negara Indonesia merdeka yang diusulkannya. Pada sidang pertama BPUPKI itu, Soekarno setelah menyampaikan usulan-usulannya berupa lima prinsip untuk Negara Indonesia merdeka, Soekarno kemudian menawarkan sebuah nama untuk lima prinsip itu. Hal ini sebagaimana Soekarno nyatakan . . . namanya bukan Panca Dharma, tetapi saya namakan dengan petunjuk seorang teman kita ahli bahasa, namanya ialah Pancasila. Panca artinya lima, Sila artinya dasar, dan di atas lima dasar itulah kita mendirikan Negara Indonesia, kekal dan abadi183.

181

Noor Ms. Bakry, Pancasila Yuridis Kenegaraan, h. 11

182

Muh. Yamin, Pembahasan Undang-Undang Dasar Republik Indonesia, h. 473

183

Berdasarkan pernyataan Soekarno di atas, dapat dimengerti bahwa Pancasila digunakan Soekarno sebagai nama untuk lima prinsip kenegaraan. Dan setelah kemerdekaan Indonesia, Pancasila yang terkandung di dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 itu telah memperoleh pengesahannya yang terakhir dalam sidang PPKI pada 18 Agustus 1945. Jadi, semenjak itu istilah Pancasila secara resmi telah dipakai oleh rakyat Indonesia, maka Pancasila mempunyai arti lima dasar ( prinsip ). Dalah hubungan ini Prawoto menegaskan bahwa Pancasila pada asalnya dipergunakan untuk tuntutan moral ( code of morality ) sebagaimana berkembang di dalam ajaran Budhisme, tetapi kemudian Soekarno mempergunakannya sebagai nama dari lima dasar kenegaraan Indonesia184 . Dengan demikian, Pancasila diposisikan sebagai dasar bagi Negara Republik Indonesia.

Demikianlah perkembangan pengertian Pancasila yang awalnya berasal dari bahasa Sansekerta dalam paham atau ajaran Budhisme yang mengandungi lima aturan perilaku ( code of morality ). Kemudian Pancasila memasuki khazanah kesusteraan Jawa kuno yang diberi arti lima larangan. Selanjutnya ajaran ini hilang dari permukaan seiringa dengan perubahan zaman sebagai akibat logis dari perubahan rakyat dalam beragama, yaitu penerimaan Islam sebagai agama rakyat, maka kemudian muncul sebagai gantinya istilah M- lima. Terakhir istilah Pancasila lahir kembali dengan kemasan baru dan pengertian yang baru pula, maka Pancasila semenjak 1 Juni 1945 menjadi bahasa Indonesia yang digunakan untuk nama dari dasar dan filsafat Negara Republik Indonesia hingga hari ini.